Linggodbawa adalah suatu penggambaran ikonik dari Dewa Siwa dalam kepercayaan Hindu. Linggodbawa menampilkan sosok Siwa yang muncul dari suatu pilar cahaya. Ia berfungsi sebagai penggambaran asal-usul lingga, objek pemujaan Siwa. Kisah Linggodbawa muncul dalam berbagai pustaka Purana.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Linggodbawa | |
|---|---|
Siwa sebagai pilar cahaya | |
| Dewanagari | लिंगोद्भव |
| IAST | Liṅgodbhava |
| Tamil | லிங்கோத்பவா |
| Kepercayaan | Hindu |
| Aliran | Saiwa |
Linggodbawa (Dewanagari: लिंगोद्भव; ,IAST: Liṅgodbhava,; dari kata liṅga dan udbhava, artinya "kemunculan lingga") adalah suatu penggambaran ikonik dari Dewa Siwa dalam kepercayaan Hindu. Linggodbawa menampilkan sosok Siwa yang muncul dari suatu pilar cahaya. Ia berfungsi sebagai penggambaran asal-usul lingga, objek pemujaan Siwa. Kisah Linggodbawa muncul dalam berbagai pustaka Purana.
Dalam legenda di kalangan umat Saiwa, dikisahkan bahwa Dewa Wisnu dan Brahma pernah berdebat tentang keunggulan masing-masing. Untuk mengakhiri debat tersebut, Dewa Siwa muncul di antara mereka berdua dalam wujud pilar cahaya yang sangat besar,[1] lalu menantang mereka untuk menemukan ujung dan pangkal wujud tersebut.[2][3] Brahma mengubah wujudnya menjadi angsa lalu terbang mencari puncak pilar tersebut, sedangkan Wisnu berubah wujud menjadi Waraha (babi hutan) lalu menggali Bumi untuk menemukan dasarnya. Baik Brahma maupun Wisnu tidak mampu menemukan ujung-pangkalnya.
Ketika Wisnu mengakui kekalahannya, Brahma berbohong dan berkata bahwa ia telah mencapai puncaknya. Siwa marah akan bualan Brahma, lalu berubah wujud menjadi Bairawa dan memenggal salah satu kepala Brahma. Sebagai hukuman, Siwa mengutuk bahwa Brahma tidak akan dipuja di kuil manapun. Karena Siwa telah memenggal salah satu kepala Brahma, maka ia melakukan dosa brahmahatyāpāpa (pembunuhan terhadap brahmana atau setingkat dengan itu) sehingga wajib mengembara di tiga dunia sebagai Biksatana (pengemis telanjang) untuk menebus dosanya. Dosa tersebut akhirnya ditebus saat berada di Varanasi, tepatnya di tepi sungai Gangga.[2] Legenda tersebut dinarasikan dalam kitab Wisnupurana.[4]

Citra Linggodbawa dapat ditemukan dalam ruang suci kuil Siwa, tepatnya di belakang arca Siwa dengan Wisnu dan Brahma di sisi kanan-kirinya. Kisah Linggodbawa atau "kemunculan Lingga" tercatat dalam berbagai naskah Purana, merangkul peleburan antara kultus pilar dan pemujaan totem.[5] Gagasan berawal dari keyakinan akan adanya sesosok dewa yang mendiami suatu pilar, kemudian lambat laun dibayangkan sebagai sosok Siwa yang muncul dari suatu Lingga.[6] Siwa dilambangkan sebagai Lingga pada berbagai kuil di seantero India Selatan.
Citra Linggodbawa menggambarkan sosok Siwa muncul dari suatu Lingga dalam wujud yang biasa. Wisnu dalam wujud babi hutan (Waraha) biasanya digambarkan di bawah Lingga, sedangkan Brahma dalam wujud angsa digambarkan di atas Lingga. Di beberapa kuil, Linggodbawa digambarkan dengan Brahma di sisi kanan dan Wisnu di sisi kiri, keduanya memuja Siwa yang muncul dalam pilar api.
Linggodbawa dan Daksinamurti dianggap sebagai wujud umum dari Dewa Siwa di India Selatan sejak zaman kerajaan Chola.[7]