Kecaikhati adalah salah satu dewi Hindu yang masyhur di India Timur Laut. Kuil utamanya ialah Kuil Tamreswari, di dekat kawasan hutan lindung Paya di Arunachal Pradesh, setelah Chunpura, dekat perbatasan Assam melalui rute Sadiya—Tezu. Dia dipuja sebagai Dikkaravasini dalam pustaka Kalikapurana yang kuilnya menandai batas ujung timur Kamarupa. Tidak seperti Dewi Kamakya dan Kuil Kamakhya―yang memeroleh pendeta brahmana dan dikaitkan dengan legenda Narakasura dan para raja Kamarupa yang historis―Kecaikhati berada di luar jangkauan pengaruh brahmana dan berada di bawah naungan para pendeta suku Deori sejak zaman kerajaan Chutia hingga masa kini.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Kecaikhati | |
|---|---|
| Gender | wanita |
| Afiliasi | Dewi, Gramadewata |
| Pustaka | Kalikapurana |
| Pemujaan | |
| Kepercayaan | Hindu tradisional India |
| Etnis | orang Ahom, orang Deori |
| Daerah | Assam, India Timur Laut |
| Kuil utama | Kuil Tamresvari, Assam |
Kecaikhati (Assamese: কেঁচাইখাতীcode: as is deprecated , terj. har. 'Pelahap Daging Mentah') adalah salah satu dewi Hindu yang masyhur di India Timur Laut.[1] Kuil utamanya ialah Kuil Tamreswari, di dekat kawasan hutan lindung Paya di Arunachal Pradesh,[2] setelah Chunpura, dekat perbatasan Assam melalui rute Sadiya—Tezu.[3] Dia dipuja sebagai Dikkaravasini dalam pustaka Kalikapurana (abad ke-9) yang kuilnya menandai batas ujung timur Kamarupa.[4] Tidak seperti Dewi Kamakya dan Kuil Kamakhya―yang memeroleh pendeta brahmana dan dikaitkan dengan legenda Narakasura dan para raja Kamarupa yang historis[5]―Kecaikhati berada di luar jangkauan pengaruh brahmana dan berada di bawah naungan para pendeta suku Deori sejak zaman kerajaan Chutia[6] hingga masa kini.[7]
Dikenal sebagai sosok dewi yang haus darah, Kecaikhati disuguhkan persembahan kurban manusia saat hari raya tahunan dan saat terjadinya bencana,[8] bahkan setelah kerajaan Ahom menaklukkan Chutia pada tahun 1523,[9] hingga akhirnya Raja Ahom bernama Suhitpangphaa (1780–1795) alias Gaurinath Singha melarang praktik tersebut.[10] Kecaikhati merupakan dewi pelindung di kerajaan Chutia[11] dan kerajaan Dimasa.[12] Kerajaan Ahom memperlakukan para pendeta kaum Deori dengan takzim.[13]