Sadasiwa adalah Tuhan dalam aliran Saiwa Siddhanta agama Hindu. Sadasiwa bersifat mahakuasa, halus, bercahaya, dan merupakan wujud tertinggi dari Siwa. Sadasiwa dipercaya memberikan anugraha (rahmat) dan wilaya, yang merupakan bagian keempat dan kelima dari Pancakertya, atau "lima tindakan suci" dari Siwa. Pada umumnya Sadasiwa digambarkan dengan lima wajah dan sepuluh lengan. Dia termasuk salah satu dari 25 wujud Siwa. Dalam pustaka Agama, disimpulkan bahwa lingga—terutama mukalingga—merupakan wujud dari Sadasiwa.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Sadasiwa | |
|---|---|
| Afiliasi | Dewa |
| Kediaman | Kailasa |
| Mantra | Mantra Pancaksara |
| Simbol | Mukalingga |
| Senjata | Trisula |
| Kepercayaan | Hindu |
| Aliran | Saiwa |
| Keluarga | |
| Pasangan | Adiparasakti |
Sadasiwa (Dewanagari: सदाशिव; ,IAST: Sadāśiva, सदाशिव) adalah Tuhan dalam aliran Saiwa Siddhanta agama Hindu. Sadasiwa bersifat mahakuasa, halus, bercahaya, dan merupakan wujud tertinggi dari Siwa. Sadasiwa dipercaya memberikan anugraha (rahmat) dan wilaya (pengikisan pasa atau ego), yang merupakan bagian keempat dan kelima dari Pancakertya, atau "lima tindakan suci" dari Siwa. Pada umumnya Sadasiwa digambarkan dengan lima wajah dan sepuluh lengan. Dia termasuk salah satu dari 25 wujud Siwa. Dalam pustaka Agama, disimpulkan bahwa lingga—terutama mukalingga—merupakan wujud dari Sadasiwa.[1]
Konsep dan bentuk Sadasiwa pada mulanya muncul di India Selatan, meskipun banyak peninggalan arca kuno Sadasiwa dari berbagai tempat di India dan Asia Tenggara.[2] Diyakini bahwa kultus Sadasiwa berkembang luas di kawasan Benggala selama masa Dinasti Sena, yang berakar dari India Selatan.[3] Sadasiwa lazim diwujudkan dalam bentuk Mukalingga, dengan jumlah wajah bervariasi, mulai dari satu hingga lima. Arca Sadasiwa tertua dengan lima wajah ditemukan di Bhita, dekat Prayagraj, dan ditaksir dari abad ke-2 Masehi.[2] Lima wajahnya—Isana, Tatpurusa, Wamadewa, Agora, dan Satyojata—dikenal sebagai Pancabrahma (lima pencipta), perwujudan empat mata angin dan arah atas, dari Parasiwa yang niskala (gaib).