Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Prasejarah Indonesia

Nusantara pada periode prasejarah mencakup suatu periode yang sangat panjang, kira-kira sejak 1,7 juta tahun yang lalu, berdasarkan temuan-temuan yang ada. Pengetahuan orang terhadap hal ini didukung oleh temuan-temuan fosil hewan dan manusia (hominid), sisa-sisa peralatan dari batu, Situs Batu bersejarah, bagian tubuh hewan, logam, Senjata pusaka tradisional Payan (tombak), Laduk (pedang), keris, Adat Istiadat budaya dan tradisi yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi yang hingga saat ini masih di pertahankan, Payun Agung serta gerabah.

Artikel bagian daripada "Sejarah Indonesia" dan "Sejarah Nusantara"
Diperbarui 2 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Prasejarah Indonesia
Bagian dari seri mengenai
Sejarah Indonesia
Prasejarah
Manusia Jawa 1.000.000 BP
Manusia Flores 94.000–12.000 BP
Bencana alam Toba 75.000 BP
Kebudayaan Buni 400 SM
Kerajaan Hindu-Buddha
Kerajaan Kutai 400–1635
Tarumanagara 450–900
Kerajaan Kalingga 500–782
Kerajaan Melayu 671–1347
Sriwijaya 671–1028
Kerajaan Sunda 662–1579
Kerajaan Galuh 669–1482
Kerajaan Bima 709–1621
Mataram Kuno 716–1016
Kerajaan Bali 914–1908
Kerajaan Kahuripan 1019–1046
Kerajaan Janggala 1042–1135
Kerajaan Kadiri 1042–1222
Kerajaan Singasari 1222–1292
Majapahit 1293–1478
Kerajaan Islam
Lihat: Penyebaran Islam di Nusantara
Kesultanan Peureulak 840–1292
Kerajaan Haru 1225–1613
Kesultanan Ternate 1257–1914
Kesultanan Samudera Pasai 1267–1521
Kesultanan Bone 1300–1905
Kerajaan Kaimana 1309–1963
Kesultanan Gowa 1320–1957
Kesultanan Limboto 1330–1863
Kerajaan Pagaruyung 1347–1833
Kesultanan Brunei 1368–1888, sekarang Brunei
Kesultanan Gorontalo 1385–1878
Kesultanan Melaka 1405–1511
Kesultanan Sulu 1405–1851
Kesultanan Cirebon 1445–1677
Kesultanan Demak 1475–1554
Kerajaan Giri 1481–1680
Kesultanan Bolango 1482–1862
Kesultanan Aceh 1496–1903
Kerajaan Balanipa 1511–sekarang
Kesultanan Banten 1526–1813
Kesultanan Banjar 1526–sekarang
Kerajaan Kalinyamat 1527–1599
Kesultanan Johor 1528–1877
Kesultanan Pajang 1568–1586
Kesultanan Mataram 1586–1755
Kerajaan Fatagar 1600–1963
Kesultanan Jambi 1615–1904
Kesultanan Bima 1620–1958
Kesultanan Palembang 1659–1823
Kesultanan Sumbawa 1674–1958
Kesultanan Kasepuhan 1679–1815
Kesultanan Kanoman 1679–1815
Kesultanan Siak 1723–1945
Kesunanan Surakarta 1745–sekarang
Kesultanan Yogyakarta 1755–sekarang
Kesultanan Kacirebonan 1808–1815
Kesultanan Deli 1814–1946
Kesultanan Lingga 1824–1911
Negara lainnya
Lihat: Kerajaan-kerajaan Kristen di Nusantara
Kerajaan Soya 1200–sekarang
Kerajaan Bolaang Mongondow 1320–1950
Kerajaan Manado 1500–1670
Kerajaan Siau 1510–1956
Kerajaan Larantuka 1515–1962
Kerajaan Sikka
Kerajaan Tagulandang 1570–1942
Kerajaan Manganitu 1600–1944
Republik Lanfang 1777–1884
Kerajaan Lore 1903–sekarang
Kolonialisme Eropa
Portugis 1512–1850
VOC 1602–1800
Jeda kekuasaan Prancis dan Britania 1806–1815
Hindia Belanda 1800–1949
Munculnya Indonesia
Kebangkitan Nasional 1908–1942
Pendudukan Jepang 1942–1945
Revolusi Nasional 1945–1949
Republik Indonesia
Awal Kemerdekaan 1945–1949
Republik Indonesia Serikat 1949–1950
Demokrasi Liberal 1950–1959
Demokrasi Terpimpin 1959–1965
Transisi 1965–1966
Orde Baru 1966–1998
Reformasi 1998–sekarang
Menurut topik
  • Arkeologi
  • Mata uang
  • Ekonomi
  • Militer
Garis waktu
 Portal Indonesia
  • l
  • b
  • s

Nusantara pada periode prasejarah mencakup suatu periode yang sangat panjang, kira-kira sejak 1,7 juta tahun yang lalu, berdasarkan temuan-temuan yang ada. Pengetahuan orang terhadap hal ini didukung oleh temuan-temuan fosil hewan dan manusia (hominid), sisa-sisa peralatan dari batu, Situs Batu bersejarah, bagian tubuh hewan, logam (besi dan perunggu), Senjata pusaka tradisional Payan (tombak), Laduk (pedang), keris, Adat Istiadat budaya dan tradisi yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi yang hingga saat ini masih di pertahankan, Payun Agung serta gerabah.

Geologi

Wilayah Nusantara merupakan kajian yang menarik dari sisi geologi karena sangat aktif. Di bagian timur hingga selatan kepulauan ini terdapat busur pertemuan dua lempeng benua yang besar: Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia. Di bagian ini, lempeng Indo-Australia yang bergerak ke utara menghujam ke bawah lempeng Eurasia.[1] Akibat hal ini terbentuk barisan gunung api di sepanjang Pulau Sumatra, Jawa, hingga pulau-pulau Nusa Tenggara. Daerah ini juga rawan gempa bumi sebagai akibatnya.Di bagian timur terdapat pertemuan dua lempeng benua besar lainnya, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik. Pertemuan ini membentuk barisan gunung api di Kepulauan Maluku bagian utara ke arah bagian utara Pulau Sulawesi menuju Filipina.

Nusantara di Zaman Es akhir pernah menjadi bagian dua daratan besar

Wilayah barat Nusantara modern muncul kira-kira sekitar kala Pleistosen terhubung dengan Asia Daratan. Sebelumnya diperkirakan sebagian wilayahnya merupakan bagian dari dasar lautan. Daratan ini dinamakan Paparan Sunda ("Sundaland") oleh kalangan geologi. Batas timur daratan lama ini paralel dengan apa yang sekarang dikenal sebagai Garis Wallace. Wilayah timur Nusantara, di sisi lain, secara geografis terhubung dengan Benua Australia dan berumur lebih tua sebagai daratan. Daratan ini dikenal sebagai Paparan Sahul dan merupakan bagian dari Lempeng Indo-Australia, yang pada gilirannya adalah bagian dari Benua Gondwana.[2]

Di akhir Zaman Es terakhir (20.000-10.000 tahun yang lalu) suhu rata-rata bumi meningkat dan permukaan laut meningkat pesat. Sebagian besar Paparan Sunda tertutup lautan dan membentuk rangkaian perairan Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Selat Karimata, dan Laut Jawa. Pada periode inilah terbentuk Semenanjung Malaya, Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, dan pulau-pulau di sekitarnya. Di timur, Pulau Irian dan Kepulauan Aru terpisah dari daratan utama Benua Australia. Kenaikan muka laut ini memaksa masyarakat penghuni wilayah ini saling terpisah dan mendorong terbentuknya masyarakat penghuni Nusantara modern.

Tumbuhan, hewan, dan hominid

Sejarah geologi Nusantara memengaruhi flora dan fauna, termasuk makhluk mirip manusia yang pernah menghuni wilayah ini. Sebagian daratan Nusantara dulu merupakan dasar laut, seperti wilayah pantai selatan Jawa dan Nusa Tenggara. Aneka fosil hewan laut ditemukan di wilayah ini. Daerah ini dikenal sebagai daerah karst yang terbentuk dari endapan kapur terumbu karang purba.

Endapan batu bara di wilayah Sumatra dan Kalimantan memberi indikasi pernah adanya hutan dari masa Paleozoikum.

Laut dangkal di antara Sumatra, Jawa (termasuk Bali), dan Kalimantan, serta Laut Arafura dan Selat Torres adalah perairan muda yang baru mulai terbentuk kala berakhirnya Zaman Es terakhir (hingga 10.000 tahun sebelum era modern). Inilah yang menyebabkan mengapa ada banyak kemiripan jenis tumbuhan dan hewan di antara ketiga pulau besar tersebut.

Flora dan fauna di ketiga pulau tersebut memiliki kesamaan dengan daratan Asia (Indocina, Semenanjung Malaya, dan Filipina). Harimau, gajah, tapir, kerbau, babi, badak, dan berbagai unggas yang hidup di Asia daratan banyak yang memiliki kerabat di ketiga pulau ini.

Makhluk mirip manusia (hominin) yang pertama ditemukan adalah manusia Jawa, yakni ditemukan pada tahun 1891 oleh Eugene Dubois di Trinil, Kabupaten Ngawi.[3] Antara tahun 1931 sampai 1934, G.H.R. von Koenigswald beserta timnya menemukan serangkaian fosil hominin di lembah Bengawan Solo, dekat Desa Ngandong.[4] Para ahli paleontologi sekarang kebanyakan berpendapat bahwa semua fosil temuan dari Jawa adalah Homo erectus dan merupakan bentuk yang primitif. Semula diduga berumur 1.000.000 sampai 500.000 tahun (pengukuran karbon tidak memungkinkan), kini berdasarkan pengukuran radiometri terhadap mineral vulkanik pada lapisan penemuan diduga usianya lebih tua, yaitu 1,7-1,5 juta tahun.[5][6]

Homo sapiens modern pertama masuk ke Nusantara diduga sekitar 100.000 tahun lalu, melalui India dan Indocina. Fosil Homo sapiens pertama di Jawa ditemukan oleh van Rietschoten (1889), anggota tim Dubois, di Wajak, dekat Campurdarat, Tulungagung, di tepian Sungai Brantas.[7] Ia ditemukan bersamaan dengan tulang tapir, hewan yang pada masa kini tidak hidup di Jawa. Fosil Wajak dianggap bersamaan ras dengan fosil Gua Niah di Sarawak dan Gua Tabon di Pulau Palawan. Fosil Niah diperkirakan berusia 40.000-25.000 tahun (periode Pleistosen) dan menunjukkan fenotipe "Australomelanesoid".[8] Mereka adalah pendukung budaya kapak perimbas (chopper) dan termasuk dalam kultur paleolitikum (Zaman Batu Tua).

Pengumuman pada tahun 2003 tentang penemuan Homo floresiensis yang dianggap sebagai spesies Homo primitif oleh para penemunya memantik perdebatan baru mengenai kemungkinan adanya spesies mirip manusia yang hidup dalam periode yang bersamaan dengan H. sapiens, karena hanya berusia 20.000-10.000 tahun sejak era modern dan tidak terfosilisasi. Hal ini bertentangan dengan anggapan sebelumnya yang menyatakan bahwa hanya H. sapiens yang bertahan di Nusantara pada masa itu. Perdebatan ini belum tuntas, karena penentangnya menganggap H. floresiensis adalah H. sapiens yang menderita penyakit sehingga berukuran katai.

Migrasi manusia

Bukti-bukti Homo sapiens tertua di nusantara diketahui dari tengkorak dan sisa-sisa tulang hominin di Gua Wajak, Kabupaten Tulungagung dan Gua Niah (Sarawak), Pulau Kalimantan.[9][10] Menyusul temuan-temuan baru berikutnya yang telah diidentifikasi sejak awal paruh kedua abad ke-20, salah satunya di Gua Song Terus, ujung timur Pegunungan Sewu, Kabupaten Pacitan.[11] Ras Wajak ini mungkin meliputi juga manusia yang hidup sekitar 25.000-40.000 tahun yang lalu di Asia Tenggara seperti manusia Niah di Sarawak (Malaysia) dan manusia Tabon di pulau Palawan (Filipina).[12] Homo sapiens di Gua Niah menurut penanggalan radiokarbon hidup kira-kira 40.000 tahun yang lalu. Usia fosil utuh di Gua Braholo (Gunungkidul, ditemukan tahun 2002) dan Song (Gua) Keplek dan Terus (Pacitan) berusia lebih muda (sekitar 10.000 tahun sebelum era modern atau tahun 0 Masehi). Pendugaan ini berasal dari bentuk perkakas yang ditemukan menyertainya.

Walaupun berasal dari masa budaya yang berbeda, fosil-fosil itu menunjukkan ciri-ciri Austromelanesoid, suatu subras dari ras Negroid yang sekarang dikenal sebagai penduduk asli Pulau Papua, Melanesia, dan Benua Australia. Teori mengenai asal-usul ras ini pertama kali dideskripsikan oleh Fritz dan Paul Sarasin, dua sarjana bersaudara (sepupu satu sama lain) asal Swiss di akhir abad ke-19. Dalam kajiannya, mereka melihat kesamaan ciri antara orang Vedda yang menghuni Sri Lanka dengan beberapa penduduk asli berciri sama di Asia Tenggara kepulauan dan Australia.

Pada Agustus 2017, jurnal sains internasional The Nature melaporkan temuan fosil gigi Homo sapiens di Gua Lida Ajer, Sumatera Barat yang diyakini berusia antara 73.000–63.000 tahun. Temuan itu berdasarkan kajian tim peneliti internasional yang dipimpin oleh ilmuwan dari Macquarie University.[13][14] Sebelumnya, penyelidikan terhadap gua-gua di Sumatera Barat pernah dilaukan oleh ahli anatomi berkebangsaan Belanda Eugène Dubois pada 1880-an, tapi hasilnya ia hanya menemukan tulang-belulang hewan dan manusia subresen.[15][16]

Periodisasi

Paleolitik

Periode paleolitik di Nusantara diketahui dari alat-alat batu kasar (paleolit) atau terbuat dari cangkang kerang yang ditemukan di berbagai penjuru. Temuan-temuan fosil tengkorak dan tulang-belulang di Jawa menjadi petunjuk penting periode ini. Hingga 2014 telah ditemukan fosil-fosil hominid di Patiayam (Jekulo, Kudus), Miri (Sragen), Sangiran (Sragen), Sambungmacan (Sragen), Trinil (Ngawi), Punung (Pacitan), Ngandong (Kradenan, Blora)), Wajak (Tulungagung), Kedungbrubus (Kabupaten Madiun),[17] dan Perning (Jetis, Mojokerto). Pada 2013 di Pulau Flores, ditemukan fosil kerangka manusia kerdil yang diperdebatkan apakah termasuk Homo erectus atau Homo sapiens.[18] Pada 2006, Dean Falk dari Universitas Negeri Florida memublikasikan penelitiannya yang mengungkapkan bahwa manusia di Flores bukan merupakan manusia modern melainkan merupakan spesies yang berbeda. Manusia Flores adalah spesies baru yang dinamakan Homo floresiensis.[19][20]

Analisis bekas irisan pada fosil tulang mamalia yang berasal dari era Pleistosen mencatat 18 luka bekas irisan akibat alat serpihan cangkang kerang saat menyembelih lembu purba, ditemukan pada formasi Pucangan di Sangiran yang berasal dari kurun 1,6 sampai 1,5 juta tahun lalu. Tanda bekas irisan pada tulang ini menunjukkan penggunaan alat batu pertama yang menunjukkan bukti tertua penggunaan alat serpihan cangkang kerang yang ditajamkan di dunia.[21]

Neolitik

Batu yang diasah adalah bukti peradaban neolitik, misalnya mata kapak batu dan mata cangkul batu yang diasah. Batu yang diasah dan dihaluskan ini dikembangkan oleh orang-orang Austronesia yang menghuni kepulauan Indonesia. Pada periode inilah berkembang tradisi megalitik di Nusantara yang tampaknya berkembang secara independen dari tempat-tempat lain, dan menjadi dasar tradisi asli Indonesia pada masa-masa berikutnya.

Tradisi Megalitik

Artikel utama: Tradisi megalitik
Masyarakat di pulau Nias di Indonesia tengah memindahkan sebuah megalit ke kawasan pembangunan, sekitar tahun 1915.
Monolitik Toraja sekitar tahun 1935.

Nusantara adalah rumah bagi banyak situs megalitik bangsa Austronesia pada masa lalu hingga masa kini. Beberapa struktur megalitik telah ditemukan, misalnya menhir, dolmen, meja batu, patung nenek moyang, dan piramida berundak yang lazim disebut Punden Berundak. Struktur megalitik ini ditemukan di Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Kepulauan Sunda Kecil.

Punden berundak dan menhir ditemukan di situs megalitik di Paguyangan, Cisolok dan Gunung Padang, Jawa Barat.[22] Situs megalitik Cipari yang juga ditemukan di Jawa Barat menunjukkan struktur monolit, teras batu, dan sarkofagus.[23] Punden berundak ini dianggap sebagai strukstur asli Nusantara dan merupakan rancangan dasar bangunan candi pada zaman kerajaan Hindu-Buddha Nusantara setelah penduduk lokal menerima pengaruh peradaban Hindu-Buddha dari India. Candi Borobudur dari abad ke-8 dan candi Sukuh dari abad ke-15 tak ubahnya adalah struktur punden berundak.

Di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah, ditemukan beberapa relik megalitik yang menampilkan patung nenek moyang. Kebanyakan terletak di lembah Bada, Besoa, dan Napu.[24]

Tradisi megalitik yang hidup tetap bertahan di Nias, pulau yang terisolasi di lepas pantai barat Sumatra, Kebudayaan Batak di pedalaman Sumatera Utara, pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur, serta kebudayaan Toraja di pedalaman Sulawesi Selatan.[25] Tradisi megalitik ini tetap bertahan, terisolasi, dan tak terusik hingga akhir abad ke-19.

Zaman Perunggu

Kebudayaan Dong Son menyebar ke Indonesia membawa teknik peleburan dan pembuatan alat logam perunggu, pertanian padi lahan basah, ritual pengorbanan kerbau, praktik megalitik, dan tenun ikat. Praktik tradisi ini ditemukan di masyarakat Batak, Toraja serta beberapa pulau di Nusa Tenggara dan Bali.[26] Artefak peradaban ini berupa kapak perunggu untuk upacara dan gendang perunggu Nekara yang ditemukan di wilayah nusantara.[27][28]

Zaman Besi

Zaman Besi adalah periode akhir dari tiga zaman yang mengklasifikasikan masa prasejarah manusia. Perkakas pada Zaman Besi seperi Pedang, Tombak dan alat pertanian sebenarnya tidak sama pada Zaman Perunggu. Alih-alih berbasis pada suku-suku, Kerajaan sudah mulai terbentuk pada zaman ini yang disertai dengan berbagai penaklukan. Pada zaman besi pertanian dan perternakan sudah berkembang. Rakyat sudah mulai membudidayakan berbagai macam tanaman sekaligus hewan ternak. Zaman Besi berahir pada abad ke-4 SM di sebagian besar dunia dengan penganut kepercayaan animisme.[29]

Sistem kepercayaan

Warga Indonesia purba adalah penganut animisme dan dinamisme yang memuliakan roh alam dan roh nenek moyang. Arwah Leluhur yang telah meninggal dunia dipercaya masih memiliki kekuatan spiritual dan memengaruhi kehidupan keturunannya. Pemuliaan terhadap arwah nenek moyang menyebar luas di masyarakat kepulauan Nusantara, mulai dari masyarakat Nias, Batak, Dayak, Toraja, dan Papua. Pemuliaan ini misalnya diwujudkan dalam upacara sukuran panen yang memanggil roh dewata pertanian, hingga upacara kematian dan pemakaman yang rumit untuk mempersiapkan dan mengantar arwah orang yang baru meninggal menuju alam nenek moyang. Kuasa spiritual tak kasatmata ini dikenali sebagai hyang di Jawa dan Bali dan hingga kini masih dimuliakan dalam agama Hindu Dharma Bali.

Penghidupan

Buni Culture

Mata pencaharian dan penghidupan masyarakat prasejarah di Indonesia berkisar antara kehidupan berburu dan meramu masyarakat hutan, hingga kehidupan pertanian yang rumit, dengan kemampuan bercocok tanam padi-padian, memelihara hewan ternak, hingga mampu membuat kerajinan tenun dan tembikar.

Kondisi pertanian yang ideal memungkinkan upaya bercocok tanam padi lahan basah (sawah) mulai berkembang sekitar abad ke-8 SM.[30] memungkinkan desa dan kota kecil mulai berkembang pada abad pertama Masehi. Kerajaan ini yang lebih mirip kumpulan kampung yang tunduk kepada seorang kepala suku, berkembang dengan kesatuan suku bangsa dan sistem kepercayaan mereka. Iklim tropis Jawa dengan curah hujan yang cukup banyak dan tanah vulkanik memungkinkan pertanian padi sawah berkembang subur. Sistem sawah membutuhkan masyarakat yang terorganisasi dengan baik dibandingkan dengan sistem padi lahan kering (ladang) yang lebih sederhana sehingga tidak memerlukan sistem sosial yang rumit untuk mendukungnya.

Kebudayaan Buni berupa budaya tembikar berkembang di pantai utara Jawa Barat dan Banten sekitar 400 SM hingga 100 M.[31] Kebudayaan Buni mungkin merupakan pendahulu kerajaan Tarumanagara, salah satu kerajaan Hindu tertua di Indonesia yang menghasilkan banyak prasasti yang menandai awal berlangsungnya periode sejarah di pulau Jawa.

Peninggalan masa prasejarah

Peninggalan masa prasejarah Nusantara diketahui dari berbagai temuan-temuan coretan/lukisan di dinding gua atau ceruk di tebing-tebing serta dari penggalian-penggalian pada situs-situs purbakala.

Beberapa lokasi penemuan sisa-sisa prasejarah Nusantara:

  • Situs Batu Brak, Liwa, Sumatra.
  • Situs Gua Putri, Baturaja, Sumatera Selatan
  • Lembah Sangiran, sekarang menjadi Taman Purbakala Sangiran
  • Situs Purbakala Wajak, Tulungagung
  • Liang Bua, Pulau Flores
  • Gua Leang-leang, Sulawesi
  • Situs Gua Perbukitan Sangkulirang, Kutai Timur
  • Situs Pasemah di Lampung
  • Situs Cibedug, Banten[32]
  • Situs Pangguyangan, Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat
  • Situs Cipari, Kuningan, Jawa Barat
  • Situs Goa Pawon, Bandung, Jawa Barat
  • Situs Gunungpadang, Cianjur, Jawa Barat
  • Situs Gunungpadang Cilacap, Cilacap, Jawa Tengah[33]
  • Situs Dusun Mbolu, Desa Ngepo, Kecamatan Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur[34]
  • Situs Gilimanuk, Jembrana, Bali
  • Situs Desa Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Bali[35]
  • Situs Gua-gua Biak, Papua (40.000-30.000 SM)[36]
  • Situs Lukisan tepi pantai di Raja Ampat, Papua Barat
  • Situs Tutari, Kabupaten Jayapura, (periode Megalitikum)[36]
  • Gua Babi di Gunung Batu Buli, desa Randu, Muara Uya, Tabalong

Catatan kaki

  1. ↑ Hannigan 2015, hlm. 13.
  2. ↑ Brown 2003, hlm. 6.
  3. ↑ Bowman, John S. (2000-09-05). Columbia Chronologies of Asian History and Culture (dalam bahasa Inggris). Columbia University Press. ISBN 978-0-231-50004-3.
  4. ↑ Gede A. B. Wiranata, (2011-06-01). Antropologi Budaya. Citra Aditya Bakti. hlm. 50. ISBN 978-979-414-873-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  5. ↑ "The First Humans: Java Man". Diarsipkan dari asli tanggal 2009-12-12. Diakses tanggal 2009-11-17.
  6. ↑ Java Man di Encyclopaedia Brittanica.
  7. ↑ "Foto H. sapiens wadjakensis". Diarsipkan dari asli tanggal 2009-10-12. Diakses tanggal 2009-11-17.
  8. ↑ M.D. Poesponegoro dan N. Notosusanto. 1992. Sejarah Nasional Indonesia 1: Jaman Prasejarah di Indonesia. Balai Pustaka. p.92.
  9. ↑ Setiyabudi, Erick (4 November 2019). "Konservasi Geologi Lokasi Fosil Vertebrata dan Manusia Purba, Daerah Tulungagung Selatan, Jawa Timur". Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral. 20 (4): 193. doi:10.33332/jgsm.2019.v20.4.187-197p.
  10. ↑ ""Deep Skull" Menuliskan Kembali Sejarah Evolusi Manusia - National Geographic". nationalgeographic.grid.id. Diakses tanggal 2020-09-02.
  11. ↑ Suprapta, Blasius (4 Juli 2018). "Pemanfaatan Cagar Budaya Di Kabupaten Pacitan Sebagai Media Penunjang Pendidikan Sejarah". Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia. 1 (1): 98.
  12. ↑ Sejarah nasional Indonesia: Jaman prasejarah di Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1975. hlm. 74. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  13. ↑ Westaway, Kira. "Old teeth from a rediscovered cave show humans were in Indonesia more than 63,000 years ago". The Conversation (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-08-31.
  14. ↑ Westaway, K. E.; Louys, J.; Awe, R. Due; Morwood, M. J.; Price, G. J.; Zhao, J.-x; Aubert, M.; Joannes-Boyau, R.; Smith, T. M. (2017-08). "An early modern human presence in Sumatra 73,000–63,000 years ago". Nature (dalam bahasa Inggris). 548 (7667): 322–325. doi:10.1038/nature23452. ISSN 1476-4687.
  15. ↑ Sejarah nasional Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. 1982. hlm. 61. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  16. ↑ Tony Djubiantono (1990). Lebih dari satu juta tahun yang lalu... Mereka menemukan pulau Jawa. Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 3. ISBN 978-979-8041-13-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  17. ↑ Fosil Manusia dan Hewan Purba Ditemukan di Madiun. Republika Online. Rabu, 27 Juli 2011, 21:36 WIB
  18. ↑ "Hobbit Memancing Kontroversi". Tempo. 2006-05-22. Diakses tanggal 2020-08-31.
  19. ↑ "Hobbit Flores Terbukti Sebagai Spesies Baru". lipi.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-08-31.
  20. ↑ "'Manusia Flores' Spesies Baru". detiknews. Diakses tanggal 2020-08-31.
  21. ↑ Shell tool use by early members of Homo erectus in Sangiran, central Java, Indonesia: cut mark evidence
  22. ↑ Sutarman, Sutarman (November 2016). "Gunung Padang Cianjur : Pelestarian Situs Megalitikum Terbesar Warisan Dunia" (PDF). Jurnal Surya : Seri Pengabdian kepada Masyarakat. 2 (1): 58.
  23. ↑ Diarsipkan 2016-03-03 di Wayback Machine.|Cipari archaeological park discloses prehistoric life in West Java.
  24. ↑ Diarsipkan 2010-02-23 di Wayback Machine.|Lore Lindu National Park, Central Sulawesi.
  25. ↑ Koestoro, Lucas (2 Maret 2016). "Geologi Situs Bawömataluö, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara" (PDF). Berkala Arkeologi Sangkhakala. 19 (1): 54–55.
  26. ↑ Suprapta, Blasius (2016). "Prasejarah Indonesia Dalam Konteks Perkembangan Prasejarah Asia Tenggara: Kajian Arkeologi Pos-Prosesual Perspektif Strukturalisme Levi-Strauss". Jurnal Sejarah dan Budaya. 10 (2): 140. doi:10.17977/um020v10i22016p131.
  27. ↑ Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 53
  28. ↑ Wijaya, Hanny (April 2013). "Nekara: Peninggalan Seni Budaya dari Zaman Perunggu". HUMANIORA. 4 (1): 220. doi:10.21512/humaniora.v4i1.3431.
  29. ↑ https://www.amazine.co/25233/apa-itu-zaman-besi-fakta-sejarah-informasi-lainnya/
  30. ↑ Taylor, Jean Gelman. Indonesia. New Haven and London: Yale University Press. hlm. 8–9. ISBN 0-300-10518-5.
  31. ↑ Zahorka, Herwig (2007). The Sunda Kingdoms of West Java, From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with Royal Center of Bogor, Over 1000 Years of Propsperity and Glory. Yayasan cipta Loka Caraka.
  32. ↑ Ada Lagi Situs Megalitikum, Kali Ini di Cibedug Banten
  33. ↑ Ada Lagi Mirip “Gunung Padang” di Cilacap
  34. ↑ Ratusan Fosil Purba Berusia 40.000 SM Ditemukan di Tulungagung
  35. ↑ Ditemukan Benda Purbakala Sarkofagus & Rangka Manusia Megalitikum di Bali
  36. 1 2 Papua Kaya Situs Arkeologi Kuno Diarsipkan 2009-04-20 di Wayback Machine.. Kompas daring. Edisi 17-04-2009.

Daftar Pustaka

  • Hannigan, Tim (2015). A brief history of Indonesia : sultans, spices, and tsunamis : the incredible story of Southeast Asia's largest nation. Tokyo; Vermont: Singapore: TUTTLE Publishing. ISBN 9781462917167. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Brown Colin (2003). A Short History of Indonesia: The Unlikely Nation?. Australia: Allen&Unwin. ISBN 9781865088389. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Pranala luar

  • P. M. Alhamidi Kerajaan Kandis "Atlantis Nusantara": Antara Cerita dan Fakta (Sebuah Hipotesis Lokasi Awal Peradaban di Indonesia). Makalah Seminar.
  • Kenedi Nurhan. Memburu Jejak Manusia Purba di Tepi Kali Baksoka. Mirror dari Artikel di Kompas daring Edisi 8 Desember 2000
  • l
  • b
  • s
Topik Indonesia
Sejarah Nusantara
(pra-Indonesia)
  • Garis waktu
  • Prasejarah
  • Kerajaan Hindu-Buddha
  • Kerajaan Islam
  • Kerajaan Kristen
  • Era kolonial Portugis
  • Era VOC
  • Era Hindia Belanda
  • Era pendudukan Jepang
Sejarah Indonesia
  • Sejarah nama
  • Proklamasi
  • Era transisi
    • Revolusi nasional
    • KMB
    • Pengakuan Belanda
  • Era RIS
  • Era demokrasi liberal
    • Dekret Presiden 5 Juli 1959
    • Pemilihan Umum 1955
  • Era demokrasi terpimpin
    • Politik Mercusuar
    • Trikora
    • Konfrontasi ke Malaysia
    • G30S
  • Era orde baru
    • Supersemar
    • Pendudukan di Timor Timur
    • Gerakan 1998
  • Era reformasi
    • Referendum Timor Timur
Geografi
  • Air terjun
  • Bendungan dan waduk
  • Danau
  • Pegunungan
    • Gunung berapi
  • Pulau dan kepulauan
    • menurut provinsi
    • abjad A-L
    • M-Z
  • Perairan
    • Laut
    • Pantai
    • Selat
    • Sungai
    • Teluk
  • Tanjung
  • Tempat
  • Titik-titik garis pangkal
  • Wilayah
Politik dan
pemerintahan
  • Ibu kota negara
  • Lembaga negara
  • Pemerintah
  • Presiden
    • Kementerian
  • MPR
    • DPR
    • DPD
  • Kekuasaan kehakiman
    • MA
    • MK
    • KY
  • BPK
  • Perwakilan di luar negeri
  • Kepolisian
  • Militer
  • Administratif (Provinsi
  • Kabupaten/kota
  • Kecamatan dan kelurahan/desa)
  • Hubungan luar negeri
  • Hukum
  • Undang-undang
  • Pemilu
  • Partai politik
  • Kewarganegaraan
Ekonomi
  • APBN
  • APBD
  • Bank
  • Pasar modal
    • IDX
    • JFX
  • Pariwisata
  • Pertanian dan perkebunan
  • Perusahaan
    • BUMN
  • Sains dan teknologi
  • Transportasi
    • Penerbangan
    • Perkeretaapian
Demografi
  • Suku bangsa
  • Bahasa nasional
  • Bahasa daerah
  • Agama
  • Nama orang
  • Tokoh
  • Kesehatan
    • Kesehatan hewan
    • Pelayanan kesehatan
  • Pendidikan
  • Olahraga
Budaya
  • Seni
    • Film
    • Tari
    • Sastra
    • Musik
    • Lagu
    • Teater
    • Bela diri
  • Masakan
  • Mitologi
  • Permainan tradisional
  • Busana daerah
  • Arsitektur
    • Bandar udara
    • Pelabuhan
    • Stasiun kereta api
    • Terminal
    • Pembangkit listrik
  • Warisan Budaya
    • UNESCO
    • Wayang
    • Batik
    • Keris
    • Angklung
    • Tari Saman
    • Noken
Simbol
  • Sang Saka Merah Putih
  • Garuda Pancasila
  • Ibu Pertiwi
  • Nusantara
Flora dan fauna
  • Fauna Indonesia
    • Binatang endemik
    • Identitas nasional dan regional
  • Flora Indonesia
    • Tumbuhan endemik
    • Identitas nasional dan regional
  • Burung
    • endemik
  • Ikan
  • Mamalia
  • Reptil
  • Cagar alam
  • Suaka margasatwa
  • Taman nasional
  • Terumbu karang
Lainnya
  • Media
  • Telekomunikasi
    • Internet
    • Permainan video
  • Penyiaran
    • Televisi
      • Terestrial
      • Berlangganan
    • Radio
  • Tanda kehormatan
  • Kode pos
  • Kode telepon
  • Kode kendaraan
  • Hari penting
Outline Garis besar • Portal Portal

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Geologi
  2. Tumbuhan, hewan, dan hominid
  3. Migrasi manusia
  4. Periodisasi
  5. Paleolitik
  6. Neolitik
  7. Zaman Perunggu
  8. Zaman Besi
  9. Sistem kepercayaan
  10. Penghidupan
  11. Peninggalan masa prasejarah
  12. Catatan kaki
  13. Daftar Pustaka
  14. Pranala luar

Artikel Terkait

Sejarah Nusantara

meliputi zaman prasejarah, protosejarah, dan kolonialisme

Sejarah Nusantara (1800–1942)

di Bima Sunda Kecil

Sejarah Nusantara (1602–1800)

artikel daftar Wikimedia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026