Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Kerajaan Kahuripan

Kerajaan Kahuripan adalah sebuah kerajaan yang terletak di Jawa Timur yang didirikan oleh Airlangga pada tahun 1019 M. Kerajaan ini dibangun sebagai kelanjutan kerajaan Medang yang runtuh tahun 1016 M. Pada tahun 1042 M, wilayah kerajaan dibagi dua oleh Airlangga untuk kedua putranya menjadi kerajaan Panjalu dan kerajaan Janggala.

kerajaan di Asia Tenggara
Diperbarui 31 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kerajaan Kahuripan
Kerajaan Kahuripan

1019–1046
Wilayah Kahuripan sebelum pendirian Janggala dan Panjalu (Kadiri)
Wilayah Kahuripan sebelum pendirian Janggala dan Panjalu (Kadiri)
Ibu kota
  • Wwatan Mas
    (1019-1031)
  • Kahuripan
    (1032-1037)
  • Madander
    (1037-1042)
  • Dahana
    (1042-?)
Bahasa yang umum digunakanJawa Kuno, Sansekerta
Agama
Hinduisme, Buddhisme, Animisme
PemerintahanMonarki
Raja 
• 1019 - 1046
Airlangga
Era SejarahMasa kerajaan klasik awal-klasik tua
• Didirikan
1019
• Airlangga menyatukan kembali bekas kerajaan Medang setelah jatuh di bawah serangan Aji Wurawari dari Lwaram
1019
• Wilayah kerajaan dibagi dua oleh Airlangga menjadi kerajaan Panjalu dan Janggala
1042
• Dibubarkan
1046
Mata uangKoin emas dan perak
Didahului oleh
Digantikan oleh
krjKerajaan
Medang
krjKerajaan
Kadiri
krjKerajaan
Janggala
Sekarang bagian dari Indonesia
Sunting kotak info
Sunting kotak info • Lihat • Bicara
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini
Bagian dari seri mengenai
Sejarah Indonesia
Prasejarah
Manusia Jawa 1.000.000 BP
Manusia Flores 94.000–12.000 BP
Bencana alam Toba 75.000 BP
Kebudayaan Buni 400 SM
Kerajaan Hindu-Buddha
Kerajaan Kutai 400–1635
Tarumanagara 450–900
Kerajaan Kalingga 500–782
Kerajaan Melayu 671–1347
Sriwijaya 671–1028
Kerajaan Sunda 662–1579
Kerajaan Galuh 669–1482
Kerajaan Bima 709–1621
Mataram Kuno 716–1016
Kerajaan Bali 914–1908
Kerajaan Kahuripan 1019–1046
Kerajaan Janggala 1042–1135
Kerajaan Kadiri 1042–1222
Kerajaan Singasari 1222–1292
Majapahit 1293–1478
Kerajaan Islam
Lihat: Penyebaran Islam di Nusantara
Kesultanan Peureulak 840–1292
Kerajaan Haru 1225–1613
Kesultanan Ternate 1257–1914
Kesultanan Samudera Pasai 1267–1521
Kesultanan Bone 1300–1905
Kerajaan Kaimana 1309–1963
Kesultanan Gowa 1320–1957
Kesultanan Limboto 1330–1863
Kerajaan Pagaruyung 1347–1833
Kesultanan Brunei 1368–1888, sekarang Brunei
Kesultanan Gorontalo 1385–1878
Kesultanan Melaka 1405–1511
Kesultanan Sulu 1405–1851
Kesultanan Cirebon 1445–1677
Kesultanan Demak 1475–1554
Kerajaan Giri 1481–1680
Kesultanan Bolango 1482–1862
Kesultanan Aceh 1496–1903
Kerajaan Balanipa 1511–sekarang
Kesultanan Banten 1526–1813
Kesultanan Banjar 1526–sekarang
Kerajaan Kalinyamat 1527–1599
Kesultanan Johor 1528–1877
Kesultanan Pajang 1568–1586
Kesultanan Mataram 1586–1755
Kerajaan Fatagar 1600–1963
Kesultanan Jambi 1615–1904
Kesultanan Bima 1620–1958
Kesultanan Palembang 1659–1823
Kesultanan Sumbawa 1674–1958
Kesultanan Kasepuhan 1679–1815
Kesultanan Kanoman 1679–1815
Kesultanan Siak 1723–1945
Kesunanan Surakarta 1745–sekarang
Kesultanan Yogyakarta 1755–sekarang
Kesultanan Kacirebonan 1808–1815
Kesultanan Deli 1814–1946
Kesultanan Lingga 1824–1911
Negara lainnya
Lihat: Kerajaan-kerajaan Kristen di Nusantara
Kerajaan Soya 1200–sekarang
Kerajaan Bolaang Mongondow 1320–1950
Kerajaan Manado 1500–1670
Kerajaan Siau 1510–1956
Kerajaan Larantuka 1515–1962
Kerajaan Sikka
Kerajaan Tagulandang 1570–1942
Kerajaan Manganitu 1600–1944
Republik Lanfang 1777–1884
Kerajaan Lore 1903–sekarang
Kolonialisme Eropa
Portugis 1512–1850
VOC 1602–1800
Jeda kekuasaan Prancis dan Britania 1806–1815
Hindia Belanda 1800–1949
Munculnya Indonesia
Kebangkitan Nasional 1908–1942
Pendudukan Jepang 1942–1945
Revolusi Nasional 1945–1949
Republik Indonesia
Awal Kemerdekaan 1945–1949
Republik Indonesia Serikat 1949–1950
Demokrasi Liberal 1950–1959
Demokrasi Terpimpin 1959–1965
Transisi 1965–1966
Orde Baru 1966–1998
Reformasi 1998–sekarang
Menurut topik
  • Arkeologi
  • Mata uang
  • Ekonomi
  • Militer
Garis waktu
 Portal Indonesia
  • l
  • b
  • s

Kerajaan Kahuripan adalah sebuah kerajaan yang terletak di Jawa Timur yang didirikan oleh Airlangga pada tahun 1019 M.[1] Kerajaan ini dibangun sebagai kelanjutan kerajaan Medang yang runtuh tahun 1016 M.[1][2] Pada tahun 1042 M, wilayah kerajaan dibagi dua oleh Airlangga untuk kedua putranya menjadi kerajaan Panjalu dan kerajaan Janggala.[1]

Belum ditemukan adanya prasasti yang menyebut Kahuripan sebagai sebuah nama kerajaan mandiri. Namun, Carita Parahyangan berasal dari Sunda menyebut Kahuripan adalah bagian dari wilayah kerajaan Medang.[3] Dalam cerita Panji dan dongeng rakyat, nama kerajaan ini lebih dikenal dengan sebutan Medang Koripan;[3] sedangkan di masa kerajaan Majapahit, Mpu Prapañca menyebutkan wilayah Kahuripan dengan Jiwana, yaitu nama lainnya dalam bahasa Sanskerta.[3]

Latar belakang

Runtuhnya kerajaan Medang

Artikel utama: Perang Medang–Sriwijaya
Lihat pula: Prasasti Pucangan

Raja kerajaan Medang yang terakhir bernama Dharmawangsa Teguh, saingan berat kedatuan Sriwijaya. Pada tahun 1016. Raja Wurawari seorang raja bawahan dari Lwaram sekitar Cepu, Blora bersekutu dengan Sriwijaya untuk menyerang istana Wwatan (sekarang sekitar Maospati, Magetan) ibu kota dari kerajaan Medang, yang pada saat itu tengah mengadakan sebuah pesta pernikahan antara putri Dharmawangsa Teguh dengan Airlangga, raja Dharmawangsa Teguh sendiri tewas dalam serangan tersebut sedangkan keponakannya yang bernama Airlangga berhasil lolos bersama dengan pembantunya Mpu Narotama. Airlangga adalah putra dari pasangan Mahendradatta saudari Dharmawangsa Teguh dengan Udayana raja dari kerajaan Bedahulu, Bali. ia lolos bersama abdi setianya yang bernama Mpu Narotama. Sejak saat itu Airlangga menjalani kehidupan sebagai pertapa di hutan pegunungan (Vana giri) sekarang Wonogiri, dan selanjutnya menuju Sendang Made, Kudu, Jombang.

Berdirinya kerajaan

Lihat pula: Prasasti Cane dan Prasasti Pucangan

Pada saat pelarian dan dalam masa persembunyiannya dengan kalangan pertapa, setelah melewati tiga tahun hidup di dalam hutan pada tahun 1019, Airlangga didatangi utusan rakyat beserta senopati yang masih setia untuk menyampaikan permintaan agar dirinya mendirikan dan membangkitkan kembali sisa-sisa kejayaan kerajaan Medang. Atas dukungan para pendeta dari ketiga aliran yakni (Hindu, Buddha, dan Mahabrahmana) ia kemudian membangun kembali sisa-sisa kerajaan Medang yang istananya telah hancur tersebut. Yang lazim dikenal sekarang dengan kerajaan Medang Koripan atau Medang Kahuripan dengan ibu kota baru yang bernama Wwatan Mas.[3]

15. Kemudian dalam tahun penting yaitu 941 tahun saka, tanggal 13 paro terang, bulan magha, pada hari kamis menghadaplah para abdi dan para Brahmana terpandang kepada raja di raja Erlangga, menunduk hormat disertai harapan tulus. Mereka dengan penuh ketulusan mengajukan permohonan kepadanya: “perintahlah negara ini sampai batas-batas yang paling jauh ! ...”

(Calcutta Stone)

Ibu kota baru bernama Wwatan Mas terletak di dekat sekitar Gunung Penanggungan. Pada mulanya wilayah kerajaan yang diperintah Airlangga hanya meliputi daerah Gunung Penanggungan dan sekitarnya, karena banyak daerah-daerah bawahan kerajaan Medang yang membebaskan diri setelah keruntuhannya. Baru setelah kerajaan Sriwijaya dikalahkan Rajendra Coladewa, raja Colamandala dari kerajaan Chola, wilayah Coromandel, India di tahun 1025, Airlangga baru bisa dengan leluasa membangun kembali dan menegakkan kekuasaan wangsa Isyana di tanah Jawa.

Perluasan wilayah

Lihat pula: Prasasti Baru, Prasasti Terep, Prasasti Kamalagyan, Prasasti Kusambyan, dan Prasasti Pucangan

Sejak tahun 1029, Airlangga mulai memperluas wilayah kerajaannya, peperangan demi peperangan dijalani Airlangga. Satu demi satu kerajaan-kerajaan di Jawa Timur dapat ditaklukkannya. Namun pada tahun 1031 Airlangga kehilangan kota Wwatan Mas karena diserang oleh raja wanita yang kuat bagai raksasa. Raja wanita itu adalah Ratu Dyah Tulodong, yang merupakan salah satu raja Kerajaan Lodoyong (sekarang wilayah Tulungagung, Jawa Timur). Dyah Tulodong digambarkan sebagai ratu yang memiliki kekuatan luar biasa. Salah satu peristiwa sejarah penting adalah pertempuran antara bala tentara Raja Airlangga yang berhasil dikalahkan oleh Dyah Tulodong. Pertempuran tersebut terjadi lantaran Dyah Tulodong berusaha membendung ekspansi Airlangga yang waktu itu sudah menguasai wilayah-wilayah di sekitar kerajaan Lodoyong. Bahkan di beberapa riwayat, diceritakan pasukan khusus yang dibawa Ratu Dyah Tulodong merupakan prajurit-prajurit wanita pilihan, pasukan ini bahkan berhasil memukul mundur pasukan Airlangga dari pusat kota kerajaannya Watan Mas, (Wotanmas Jedong, Ngoro, Mojokerto) di dekat Gunung Penanggungan hingga ke Patakan (Sambeng, Lamongan, Jawa Timur). Namun, satu tahun kemudian di penghujung tahun 1032, Pasukan Airlangga dari arah utara, bergerak ke selatan menuju wilayah Lodoyong. Dyah Tulodong berhasil dikalahkan oleh Airlangga lewat pertempuran sengit. Tidak lama kemudian Airlangga menuju ke arah barat, Raja Wurawari pun dapat dihancurkannya, sekaligus membalaskan dendam Airlangga dan wangsa Isyana. Raja Airlangga juga berhasil mengalahkan raja Wijayawarmman, raja terakhir yang masih belum tunduk pada (bulan Kartika tahun 959 Saka atau 10 November 1037 Masehi).[4] Sejak saat itu wilayah kerajaan Airlangga mencakup hampir seluruh Jawa Timur. Airlangga juga memperluas wilayah kerajaan hingga ke Jawa Tengah, bahkan pengaruh kekuasaannya diakui sampai ke Bali.

Wwatan Mas

Tahun 1021, menurut berita dalam prasasti Cane, menyebutkan pusat pemerintahan pertama kali Airlangga yang berada di Wwatan Mas, Sri Maharaja ri maniratna singhasana Makadatwan ri Wwatan Mas Artinya : Sri Maharaja di singgasana permata berkedaton di Wwatan Mas.

Kahuripan

Tahun 1032, menurut prasasti Terep, Airlangga membangun ibu kota baru di wilayah Janggala Kahuripan i bhumi Janggala, yang diduga berada di daerah Kabupaten Sidoarjo sekarang. Berita ini juga termuat dalam prasasti Kamalagyan tahun 1037, makateweka pandri Sri Maharaja Makadatwan i Kahuripan. Nama Kahuripan inilah yang kemudian lazim dipakai sebagai nama kerajaan yang dipimpin Airlangga, sama halnya nama Singhasari yang sebenarnya adalah nama ibu kota, lazim dipergunakan sebagai nama kerajaan yang dipimpin oleh Kertanagara.

Madander

Di tahun 1037, dikeluarkan prasasti Kusambyan memuat informasi mengenai kedaton "Madander", madwal Makadatwan i Madanḍer yang diperkirakan sebagai lokasi dari istana Airlangga yang terletak di sekitar Kabupaten Jombang.

Dahana

Pada tahun 1042, berdasarkan prasasti Pamwatan dan Serat Calon Arang, di akhir masa pemerintahannya, Airlangga kemudian memindahkan ibukotanya ke Dahana, Kota Kediri.

Perkembangan kerajaan

Lihat pula: Prasasti Kamalagyan, Prasasti Kusambyan, Prasasti Pucangan, dan Prasasti Pamwatan
Candi Gunung Gangsir, peninggalan Kerajaan Kahuripan di daerah Beji, Pasuruan.

Ekonomi, Sastra dan Agama

Kerajaan dengan pusatnya berada di Kahuripan ini, wilayahnya membentang dari Pasuruan di timur hingga Madiun di barat. Daerah pantai utara Jawa, terutama Sidoarjo, Surabaya dan Tuban menjadi pusat perdagangan yang penting untuk pertama kalinya. Airlangga naik takhta dengan bergelar abhiseka (wisuda) Çri Mahãrãja Rakai Halu Çri Lokeçwara Dharmmawamça Airlangga Anãntawikramottunggadewa. Ketika itu, Airlangga dikenal atas toleransi beragamanya, yaitu sebagai pelindung agama Hindu, Siwa dan Buddha. Airlangga juga menaruh perhatian terhadap seni sastra. Tahun 1035, Mpu Kanwa menulis Arjuna Wiwaha yang diadaptasi dari epik Mahabharata. Kitab tersebut menceritakan perjuangan Arjuna mengalahkan Niwatakawaca, sebagai kiasan Airlangga mengalahkan raja Wurawari. Setelah keadaan telah aman, Airlangga mulai mengadakan pembangunan-pembangunan demi kesejahteraan rakyatnya. Pembangunan yang dicatat dalam prasasti-prasasti peninggalannya antara lain;

  • Pada tahun 1036, Airlangga membangun Sri Wijaya Asrama, yang dibangun sebagai pusat pendidikan dan pengajaran keagamaan.
  • Pada tahun 1037, berdasarkan prasasti Kamalagyan, Airlangga membangun bendungan Waringin Sapta untuk mencegah banjir musiman.
  • Memperbaiki pelabuhan Hujung Galuh, yang letaknya di muara sungai Brantas, dekat dengan Surabaya & Sidoarjo sekarang.
  • Membangun jalan-jalan yang menghubungkan daerah pesisir ke pusat kerajaan.
  • Berdasarkan prasasti Pucangan, meresmikan pertapaan Gunung Pucangan tahun 1041.

Pembagian kerajaan

Lihat pula: Prasasti Pandan, Prasasti Gandhakuti, Prasasti Pasar Legi, Prasasti Turun Hyang, dan Prasasti Lawan

Menurut prasasti Turun Hyang (1044 M), pada akhir pemerintahannya tahun 1042, Airlangga berhadapan dengan masalah persaingan perebutan takhta antara kedua putranya, raja yang sebenarnya adalah putri Airlangga. Nama asli dari putri tersebut dalam prasasti Cane (1021 M) sampai prasasti Pasar Legi (1043 M) adalah Sanggramawijaya Tunggadewi, yang menjadi putri mahkota sekaligus pewaris takhta istana, tetapi dirinya memilih untuk mengundurkan diri dan menjalani kehidupan suci sebagai seorang pertapa biksuni dengan bergelar Dewi Kili Suci. Kemudian di tahun yang sama, berdasarkan prasasti Pamwatan (1042 M) dan Serat Calon Arang, Airlangga memindahkan ibukotanya dan mendirikan kota Dahanapura, di wilayah Panjalu atau Kadiri.

Sebelum turun takhta, pada akhir November 1042, atas saran penasihat kerajaan sekaligus gurunya Mpu Bharada, Airlangga terpaksa membagi kerajaannya menjadi dua, bagian barat yaitu wilayah Panjalu beribukota di Daha diberikan kepada Sri Samarawijaya, kemudian wilayah bagian timur yaitu Janggala beribukota di Kahuripan diberikan kepada Mapanji Garasakan. Dalam prasasti Pamwatan yang bertanggal 20 November 1042, Airlangga masih bergelar sebagai Maharaja, sedangkan dalam prasasti Gandhakuti, tertanggal 24 November 1042, ia sudah bergelar Resi Aji Paduka Mpungku. Dengan demikian, peristiwa pembagian kerajaan diperkirakan terjadi di antara kedua tanggal tersebut.

Setelah turun takhta, Airlangga menjalani hidup sebagai pertapa sampai meninggal sekitar tahun 1049. Menurut Serat Calon Arang ia kemudian bergelar Resi Erlangga Jatiningrat, sedangkan menurut Babad Tanah Jawi ia bergelar Resi Gentayu. Namun yang paling dapat dipercaya adalah prasasti Gandhakuti (1042 M) yang menyebut gelar kependetaan Airlangga adalah Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana. Menurut prasasti Pasar Legi (1043 M), baik Airlangga maupun Sanggramawijaya Tunggadewi masih aktif menjalankan pemerintahan, mengikuti penyebutan gelar kependetaan Airlangga yaitu Resi Aji yang juga berarti sebagai pandita raja. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa Airlangga dan putrinya masih memegang kekuasaan tertinggi sekalipun hidupnya sudah terbagi dengan kegiatan non-duniawi.

Saat Kahuripan menjadi bawahan Majapahit

Sejak tahun 1293 M. Kahuripan bersama dengan Daha menjadi negeri bawahan dari kerajaan Majapahit yang paling utama. Penguasa Kahuripan atau raja bawahan yang memimpin wilayah ini bergelar sebagai Bhre Kahuripan. Bhre Kahuripan yang pernah menjabat ialah :

  1. Dyah Gitarja (1309-1328), (1350-1375)
    Kitab Pararaton 27:18,19; 29:32 dan Kakawin Nagarakretagama 2:2.
  2. Hayam Wuruk (1334-1350)
    Prasasti Prapancasarapura (1320 M).
  3. Wikramawardhana (1375-1389)
    Suma Oriental (?).
  4. Surawardhani (1389-1400)
    Kitab Pararaton 29:23,26; 30:37.
  5. Ratnapangkaja (1400-1446)
    Kitab Pararaton 30:5,6; 31:35.
  6. Rajasawardhana (1447-1451)
    Kitab Pararaton 32:11 dan Prasasti Waringin Pitu (1477 M).
  7. Dyah Samarawijaya (1451-1478)
    Kitab Pararaton 32:23.

Situs budaya Kahuripan

Candi belahan pada tahun 2017

Candi

  • Candi Gununggangsir, terletak di Beji, Kabupaten Pasuruan.[butuh rujukan]
  • Candi Watutulis, terletak di daerah Watutulis, Prambon, Sidoarjo.[butuh rujukan]
  • Petirtaan Belahan, terletak di lereng timur Gunung Penanggungan, Kabupaten Pasuruan.[butuh rujukan]

Prasasti

  • Prasasti Cane (1021 M).
  • Prasasti Baru (1030 M).
  • Prasasti Terep (1032 M).
  • Prasasti Kamalagyan (1037 M), Tropodo, Krian, Sidoarjo.
  • Prasasti Kusambyan (1037 M), Kudu, Jombang.
  • Prasasti Pucangan (6 November 1041 M), terletak di lereng barat Gunung Penanggungan, Kabupaten Mojokerto.
  • Prasasti Pandan (10 Juli 1042 M), Kemlagi, Mojokerto.
  • Prasasti Pamwatan (20 November 1042 M), Sambeng, Lamongan.
  • Prasasti Gandhakuti (24 November 1042 M), Kabupaten Sidoarjo.
  • Prasasti Pasar Legi (1043 M), Ngimbang, Lamongan.
  • Prasasti Simanglayang 968 Saka/(1046 M).
  • Prasasti Lawan, Sambeng, Lamongan.
  • Prasasti Patakan, Sambeng, Lamongan.
  • Prasasti Sumbersari, Sambeng, Lamongan.
  • Prasasti Sumbersari II, Sambeng, Lamongan.
  • Prasasti Lemah Abang, Ngimbang, Lamongan.
  • Prasasti Purwokerto, Ngimbang, Lamongan.
  • Prasasti Drujugurit, Ngimbang, Lamongan.
  • Prasasti Wotan, Ngimbang, Lamongan.
  • Prasasti Sendang Gede, Ngimbang, Lamongan.
  • Prasasti Sendangrejo, Ngimbang, Lamongan.
  • Prasasti Sambangan, Sambangan, Babat, Lamongan.

Situs

  • Sendang Made, terletak di Made, Kudu, Jombang.
  • Situs Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang.[butuh rujukan]
  • Situs Pataan, terletak di Pataan, Sambeng, Lamongan.
  • Gua Selomangleng, terletak di Mojoroto, Kediri.[butuh rujukan]

Karya Sastra

  • Kakawin Arjunawiwāha. Karya sastra ini ditulis oleh Mpu Kanwa.

Daftar pustaka

  • H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
  • Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
  • Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.
Didahului oleh:
Kerajaan Medang
Kerajaan Hindu-Buddha
1019 - 1043
Diteruskan oleh:
Kerajaan Janggala dan Panjalu


  • l
  • b
  • s
Negara lampau di Indonesia
Jawa dan Madura
Hindu/Buddha
  • Blambangan
  • Galuh
  • Ishana
  • Janggala
  • Kahuripan
  • Kalingga
  • Kediri
  • Majapahit
  • Mataram
  • Rajasa
  • Sanjaya
  • Shailendra
  • Singhasari
  • Sriwijaya
  • Sunda
  • Tarumanagara
Islam
  • Banten
  • Cirebon
  • Demak
  • Giri Kedaton
  • Kalinyamat
  • Mataram
  • Pajang
  • Sumedang Larang
  • Sumenep
  • Surabaya
  • Surakarta
  • Yogyakarta
Sumatra
Hindu/Buddha
  • Bharadvaja
  • Dharmasraya
  • Heluodan
  • Kantoli
  • Melayu
  • Mauli
  • Pannai
  • Samaskuta
  • Sanfotsi
  • Sriwijaya
Islam
  • Aceh
  • Aru
  • Asahan
  • Bilah
  • Deli
  • Jambi
  • Jambu Lipo
  • Johor
  • Kotapinang
  • Langkat
  • Malaka
  • Palembang
  • Pagaruyung
  • Riau-Lingga
  • Samudera Pasai
  • Serdang
  • Siak
Lainnya (agama asli)
  • Bakkara
Kalimantan
  • Ambawang
  • Banjar
  • Brunei
  • Bulungan
  • Kutai Martapura
  • Kutai Kartanegara
  • Landak
  • Republik Lanfang
  • Mempawah
  • Nan Sarunai
  • Negara Dipa
  • Negara Daha
  • Pontianak
  • Sambas
  • Sarawak
  • Sintang
  • Tanjungpura
Sulawesi
  • Banggai
  • Bantaeng
  • Bolaang Mongondow
  • Bone
  • Bungku
  • Buton
  • Gorontalo
  • Gowa
  • Kulawi
  • Lore
  • Luwu
  • Manado
  • Mori
  • Moutong
  • Pamona
  • Siau
  • Suwawa
  • Tallo
  • Tanette
  • Tolinggula
  • Wajo
Kepulauan Sunda Kecil
  • Bali
  • Bima
  • Larantuka
  • Mengwi
  • Sikka
Timor Barat
  • Amabi
  • Amanatun
  • Amanuban
  • Amarasi
  • Amfoang
  • Malaka
 ** Wehali
 ** Wewiku
  • Mollo
  • Sonbai
 ** Sonbai Besar
 ** Sonbai Kecil
  • Tasifeto
Maluku
  • Bacan
  • Iha
  • Jailolo
  • Kisar
  • Loloda
  • Moro
  • Sahulau
  • Maluku Selatan
  • Ternate
  • Tidore
Papua
  • Arguni
  • Atiati
  • Fatagar
  • Kaibus
  • Kaimana
  • Mapia
  • Rumbati
  • Salawati
  • Sekar
  • Waropen
  • l
  • b
  • s
Kerajaan di Jawa
Sebelum 600 M
(Hindu-Buddha pra-Mataram)
  • Tarumanagara
  • Kalingga
  • Sunda
600–1500 (Hindu-Buddha)
  • Mataram Kuno
    • Syailendra
    • Isyana
  • Kanjuruhan
  • Kahuripan
  • Janggala
  • Kadiri
  • Singasari
  • Majapahit
  • Blambangan
1500–sekarang (Islam)
  • Banten
  • Demak
  • Cirebon
    • Kasepuhan
    • Kanoman
    • Kacirebonan
  • Sumedang Larang
  • Kalinyamat
  • Pajang
  • Mataram Islam
    • Surakarta
    • Yogyakarta
    • Mangkunagaran
    • Pakualaman

Referensi

  1. 1 2 3 Aizid, Rizem (2022-03-25). Pasang Surut Runtuhnya Kerajaan Hindu-Buddha dan Bangkitnya Kerajaan Islam di Nusantara. Anak Hebat Indonesia. hlm. 69–75. ISBN 978-623-400-541-7.
  2. ↑ Mulyono, Otto Sukatno, CR dan Untung (2021-05-01). Pararaton: Naskah Pararaton dan Sistem Pemerintahan Kerajaan Konsentris. Nusamedia. hlm. 6. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  3. 1 2 3 4 Wignjosoebroto, Wiranto. MENCARI JEJAK KAHURIPAN; Kerajaan Hindu Tertua dan Terlama di Tanah Jawa. Penerbit K-Media. ISBN 978-602-6287-19-9.
  4. ↑ "Prasasti Kamalagean dusun Klagen, desa Tropodo, kecamatan Krian, kabupaten Sidoarjo Jaw". Informasi Situs Budaya Indonesia. 2017-09-18. Diakses tanggal 2017-12-15.
Didahului oleh:
Medang
Kerajaan Kahuripan
1019-1042
Diteruskan oleh:
Kadiri dan Janggala

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Latar belakang
  2. Runtuhnya kerajaan Medang
  3. Berdirinya kerajaan
  4. Perluasan wilayah
  5. Wwatan Mas
  6. Kahuripan
  7. Madander
  8. Dahana
  9. Perkembangan kerajaan
  10. Ekonomi, Sastra dan Agama
  11. Pembagian kerajaan
  12. Saat Kahuripan menjadi bawahan Majapahit
  13. Situs budaya Kahuripan
  14. Candi
  15. Prasasti
  16. Situs

Artikel Terkait

Asia Tenggara

bagian tenggara benua Asia

Pesta Olahraga Asia Tenggara

Kompetisi multi-olahraga negara-negara di Asia Tenggara

Kerajaan Sriwijaya sebagai Pusat Pendidikan Buddha di Asia Tenggara

Kerajaan Sriwijaya muncul pada akhir abad ke-7 menandai keberadaannya sebagai salah satu kekuatan maritim tertua dan berpengaruh di Asia Tenggara. Berasal

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026