Kerajaan Moutong adalah sebuah kerajaan yang pernah didirikan pada awal abad ke-19 Masehi di kawasan Teluk Tomini. Pendirinya bernama Magalatung yang merupakan keturunan dari suku Mandar. Penduduk di Kerajaan Moutong berasal dari dari suku Bugis dan suku Mandar. Pemerintahan di wilayah kekuasaan Kerajaan Moutong dibagi ke sejumlah pejabat yang disebut olongian dan marsaoleh serta bawahan dari suku Bugis. Kerajaan Moutong berhasil ditaklukkan oleh Belanda pada tahun 1904 M setelah melalui perlawanan gerilya oleh rakyatnya sendiri dan bantuan dari rakyat Kerajaan Lambuno sejak tahun 1896 dengan dipimpin oleh Tombolotutu.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Kerajaan Moutong adalah sebuah kerajaan yang pernah didirikan pada awal abad ke-19 Masehi di kawasan Teluk Tomini.[1][2] Pendirinya bernama Magalatung yang merupakan keturunan dari suku Mandar.[3] Penduduk di Kerajaan Moutong berasal dari dari suku Bugis dan suku Mandar. Pemerintahan di wilayah kekuasaan Kerajaan Moutong dibagi ke sejumlah pejabat yang disebut olongian dan marsaoleh serta bawahan dari suku Bugis.[2] Kerajaan Moutong berhasil ditaklukkan oleh Belanda pada tahun 1904 M setelah melalui perlawanan gerilya oleh rakyatnya sendiri dan bantuan dari rakyat Kerajaan Lambuno sejak tahun 1896 dengan dipimpin oleh Tombolotutu.[4][3][5]
Kerajaan Moutong didirikan pada awal abad ke-19 Masehi.[1] Berdasarkan silsilah Kerajaan Moutong, raja pertama untuk Kerajaan Mutong bernama Magalatung. Ia berasal dari keturunan suku Mandar. Kedudukannya sebagai raja di Kerajaan Moutong berawal dari pernikahannya dengan seorang putri dari penguasa wilayah Moutong yang bernama Minarang.[3]
Kerajaan Moutong memiliki wilayah yang membentang dari Kecamatan Ampibabo ke Desa Molosifat di kawasan Teluk Tomini.[2] Wilayah kekuasaan Kerajaan Moutong berbatasan dengan kerajaan-kerajaan lain di sekitar lembah Palu yaitu Kerajaan Palu, Kerajaan Tawaeli, Kerajaan Biromaru, Kerajaan Sigi, dan Kerajaan Kulawi.[6] Wilayah Kerajaan Moutong dihuni oleh penduduk pendatang dari suku Bugis dan suku Mandar. Kedatangan orang Bugis ke wilayah Kerajaan Moutong merupakan akibat dari Perang Bone yang dimulai pada tahun 1820 M.[2]
Setelah Magalatung meninggal, kedudukannya sebagai Raja Moutong digantikan oleh salah seorang anaknya yang bernama Pondatu.[7] Pusat pemerintahan Kerajaan Moutong terletak di wilayah Kecamatan Tinombo.[2] Setelah orang Bugis menjadi penduduk pendatang di wilayah Kerajaan Moutong, mereka diberi kekuasaan pada wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Kerajaaan Moutong. Namun orang Bugis tidak memiliki pengaruh yang kuat terhadap struktur utama Kerajaan Moutong. Jabatan tertinggi di wilayah Kerajaan Moutong tetap diberikan kepada sejumlah olongian dan marsaoleh dari Kerajaan Moutong dan orang Bugis menjadi bawahan dari mereka. Penempatan orang Bugis dalam pemerintahan terutama di Tinombo, Tomini, Palasa, Sigenti, Toribulu, dan Ampibabo.[2]
Sejak awal abad ke-19 Masehi, para pejabat Kerajaan Moutong telah mengadakan manipulasi perdagangan emas dengan Belanda.[2] Selama masa pemerintahan Pondatu, pihak Belanda meminta penandatanganan kontrak kerja sama yang selalu ditolak oleh Pondatu.[7] Namun manipulasi perdagangan emas tetap dilakukan oleh para pejabat Kerajaan Moutong.[2] Kondisi tersebut membuat para pendatang dari suku Bugis dan suku Mandar mengakhiri perdagangan dengan Kerajaan Moutong dan mengubah alur perdagangan ke wilayah suku Bugis, suku Mandar dan suku Kaili.[2] Perubahan tersebut membuat Tombolotutu selaku calon penerus Raja Pondatu yang merupakan pamannya,[8][5] menentang para pejabatnya dan mendukung para pendatang dari suku Bugis dan suku Mandar.[8] Pada tahun 1877, ia mulai menentang pihak Belanda.[2]
Pada tahun 1892, Raja Pondatu yang berkuasa di Kerajaan Moutong meninggal. Setelah itu, Tombolotutu menggantikan kedudukan pamannya sebagai Raja Moutong.[5] Ia juga mengangkat seorang penggawa bernama Daeng Malino untuk mengatur pemerintahan di wilayah Tinombo.[7] Pihak Belanda menentang dan tidak mau mengakui suksesi Tombolotutu karena kedekatan hubungannya dengan para pendatang dari suku Mandar dan suku Bugis yang menentang kekuasaan Belanda di Teluk Tomini. Pada tahun 1896 M, pihak Belanda yang bernama E.J. Jellesma mengangkat Daeng Malino sebagai Raja Moutong. Daeng Malino merupakan sekutu Belanda.[5] Belanda akhirnya berhasil menandatangani perjanjian kerja sama perdagangan dengan Kerajaan Moutong pada tahun 1896 M.[6]
Pengangkatan Daeng Malino sebagai Raja Moutong oleh Belanda dan penandatanganan perjanjian kerja sama perdagangan dengan Belanda, membuat perlawanan gerilya terjadi di Kerajaan Moutong.[6][5] Pada tahun 1896 M, rakyat Kerajaan Moutong memulai perlawanannya.[3] Rakyat yang mendukung Tombolotutu sebagai Raja Moutong berperang melawan pasukan Belanda dengan dipimpin oleh Tombolotutu. Selain itu, pasukan Tombolotutu juga menerima bantuan pasukan dari Kerajaan Lambuno.[4] Peperangan berlangsung pada tahun 1900 M hingga tahun 1904 M. Pada akhir peperangan, Belanda memperoleh kemenangan dan merebut kekuasaan atas wilayah Kerajaan Moutong da Kerajaan Lambuno dan menjadikannya bagian dari pemerintahan Hindia Belanda.[5]