Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Imperium Portugal di Nusantara

Bangsa Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang mencapai Kepulauan Nusantara. Pencarian mereka untuk mendominasi sumber perdagangan rempah-rempah yang menguntungkan pada awal abad ke-16 dan usaha penyebaran Katolik Roma mereka yang berbarengan menyaksikan pendirian pos dan benteng perdagangan, serta unsur budaya Portugis yang kuat yang masih tetap penting di Indonesia.

Bayang-bayang Imperium Portugis di Laut Nusantara
Diperbarui 12 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Imperium Portugal di Nusantara
Bagian dari seri mengenai
Sejarah Indonesia
Prasejarah
Manusia Jawa 1.000.000 BP
Manusia Flores 94.000–12.000 BP
Bencana alam Toba 75.000 BP
Kebudayaan Buni 400 SM
Kerajaan Hindu-Buddha
Kerajaan Kutai 400–1635
Tarumanagara 450–900
Kerajaan Kalingga 500–782
Kerajaan Melayu 671–1347
Sriwijaya 671–1028
Kerajaan Sunda 662–1579
Kerajaan Galuh 669–1482
Kerajaan Bima 709–1621
Mataram Kuno 716–1016
Kerajaan Bali 914–1908
Kerajaan Kahuripan 1019–1046
Kerajaan Janggala 1042–1135
Kerajaan Kadiri 1042–1222
Kerajaan Singasari 1222–1292
Majapahit 1293–1478
Kerajaan Islam
Lihat: Penyebaran Islam di Nusantara
Kesultanan Peureulak 840–1292
Kerajaan Haru 1225–1613
Kesultanan Ternate 1257–1914
Kesultanan Samudera Pasai 1267–1521
Kesultanan Bone 1300–1905
Kerajaan Kaimana 1309–1963
Kesultanan Gowa 1320–1957
Kesultanan Limboto 1330–1863
Kerajaan Pagaruyung 1347–1833
Kesultanan Brunei 1368–1888, sekarang Brunei
Kesultanan Gorontalo 1385–1878
Kesultanan Melaka 1405–1511
Kesultanan Sulu 1405–1851
Kesultanan Cirebon 1445–1677
Kesultanan Demak 1475–1554
Kerajaan Giri 1481–1680
Kesultanan Bolango 1482–1862
Kesultanan Aceh 1496–1903
Kerajaan Balanipa 1511–sekarang
Kesultanan Banten 1526–1813
Kesultanan Banjar 1526–sekarang
Kerajaan Kalinyamat 1527–1599
Kesultanan Johor 1528–1877
Kesultanan Pajang 1568–1586
Kesultanan Mataram 1586–1755
Kerajaan Fatagar 1600–1963
Kesultanan Jambi 1615–1904
Kesultanan Bima 1620–1958
Kesultanan Palembang 1659–1823
Kesultanan Sumbawa 1674–1958
Kesultanan Kasepuhan 1679–1815
Kesultanan Kanoman 1679–1815
Kesultanan Siak 1723–1945
Kesunanan Surakarta 1745–sekarang
Kesultanan Yogyakarta 1755–sekarang
Kesultanan Kacirebonan 1808–1815
Kesultanan Deli 1814–1946
Kesultanan Lingga 1824–1911
Negara lainnya
Lihat: Kerajaan-kerajaan Kristen di Nusantara
Kerajaan Soya 1200–sekarang
Kerajaan Bolaang Mongondow 1320–1950
Kerajaan Manado 1500–1670
Kerajaan Siau 1510–1956
Kerajaan Larantuka 1515–1962
Kerajaan Sikka
Kerajaan Tagulandang 1570–1942
Kerajaan Manganitu 1600–1944
Republik Lanfang 1777–1884
Kerajaan Lore 1903–sekarang
Kolonialisme Eropa
Portugis 1512–1850
VOC 1602–1800
Jeda kekuasaan Prancis dan Britania 1806–1815
Hindia Belanda 1800–1949
Munculnya Indonesia
Kebangkitan Nasional 1908–1942
Pendudukan Jepang 1942–1945
Revolusi Nasional 1945–1949
Republik Indonesia
Awal Kemerdekaan 1945–1949
Republik Indonesia Serikat 1949–1950
Demokrasi Liberal 1950–1959
Demokrasi Terpimpin 1959–1965
Transisi 1965–1966
Orde Baru 1966–1998
Reformasi 1998–sekarang
Menurut topik
  • Arkeologi
  • Mata uang
  • Ekonomi
  • Militer
Garis waktu
 Portal Indonesia
  • l
  • b
  • s
Imperium Potugal di Insulindia

ca 1522–1605
Bendera Portuguese rule in the Indonesian archipelago
Bendera
{{{coat_alt}}}
Lambang
Peta kerajaan Portugis di Hindia Timur (termasuk Kepulauan Indonesia), Atlas Miller.
Peta kerajaan Portugis di Hindia Timur (termasuk Kepulauan Indonesia), Atlas Miller.
StatusPemukiman dan jajahan Kekaisaran Portugis
Ibu kota
  • São João Baptista de Ternate di Ternate
    (1523–1575)
  • Nossa Senhora de Anunciada di Kota Ambon
    (1575–1605)
Bahasa yang umum digunakanPortugis, Melayu, Ternate, dan Tidore
PemerintahanMonarki
Raja 
• 1522–1557
João III
• 1598–1605
Felipe II
Gubernur Jenderal 
• 1522–1525 (pertama)
Antonio de Brito
• 1602–1605 (terakhir)
Pedro Alvares de Abreu
Era SejarahModern awal
• Didirikan
ca 1522
• Perjanjian Zaragoza
22 April 1529
• Penaklukan Ambon
22 Februari 1605
Sekarang bagian dariIndonesia
Sunting kotak info
Sunting kotak info • Lihat • Bicara
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini

Bangsa Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang mencapai Kepulauan Nusantara.[1] Pencarian mereka untuk mendominasi sumber perdagangan rempah-rempah yang menguntungkan pada awal abad ke-16 dan usaha penyebaran Katolik Roma mereka yang berbarengan menyaksikan pendirian pos dan benteng perdagangan, serta unsur budaya Portugis yang kuat yang masih tetap penting di Indonesia.

Secara geografis seluruh wilayah Eropa mengalami musim dingin yang akan membuat cara mengelola makanan mereka berbeda. Hampir semua persediaan daging yang mereka miliki didapat dari hewan ternak yang tidak mungkin dipelihara pada musim dingin dan disembelih untuk kemudian disimpan menjadi daging beku. Agar daging tersebut dapat bertahan lama mereka menggunakan garam dan rempah-rempah selama masa penyimpanan. Indonesia merupakan wilayah yang menghasilkan lada, pala, dan cengkih yang menjadi komoditas utama dalam perdagangan rempah-rempah dan beberapa tanaman yang hanya tumbuh di hutan Maluku. Pala memiliki khasiat tidak hanya sebagai penyedap rasa tetapi juga sebagai afrodisiak dan bahan pengawet. Cengkih dan lada juga merupakan komoditas langka dan berharga. Bangsa Portugis selama ini membeli rempah-rempah dari pedagang Arab dengan harga yang sangat tinggi. Oleh karena itulah tujuan bangsa Portugis ke Indonesia selain untuk memanfaatkan sumber dari semua rempah-rempah tersebut juga untuk menguasai perdagangannya meskipun pada awalnya mereka tidak terlalu banyak mengetahui secara rinci letak wilayah Indonesia dan cara menuju kesana.[2]

Awal penjelajahan

Tanaman pala adalah asli Kepulauan Banda di Maluku. Pernah menjadi salah satu komoditas paling berharga di dunia, pala menarik kekuatan kolonial Eropa pertama ke Nusantara.

Bangsa Eropa memajukan teknologi di awal abad ke-16 terutama dalam bidang pelayaran. keahlian baru bangsa Portugis dalam navigasi, pembuatan kapal, dan persenjataan tidak terlepas dari kekuatan besar pengetahuan Bangsa Arab yang sedang berkembang pesat di kawasan Mediterania pada abad ke-15. Mereka mempelajari berbagai ilmu mengenai geografi dan astronomi yang memungkinkan mereka berani mengadakan ekspedisi penjelajahan dan ekspansi.[2][3]

Ketika jalur Laut Tengah terputus akibat jatuhnya Konstatinopel 1453 oleh penguasa Muslim, bangsa Barat mencari jalur alternatif lain untuk mendapatkan komoditas yang diperlukan.[4] Rempah-rempah menjadi komoditas penting ketika itu, khususnya cengkih dan pala. Maluku Tengah dengan palanya dan Maluku Utara dengan cengkihnya. Pada akhirnya bangsa Barat yang diprakarsai Portugis melakukan ekspedisi ke timur. Mereka bertujuan mencari Kepulauan Rempah-Rempah. Setelah menguasai kota Goa di India, Portugis menyadari India bukanlah tempat yang dicari-cari. Akhirnya, Portugis mendengar kota Malaka yang ramai perdagangan.

Malaka terletak di wilayah Semenanjung Malaya. Selat Malaka menjadi salah satu trayek paling menentukan dalam sistem perdagangan internasional yang membentang dari China dan Maluku sampai Afrika Timur dan Malaka di Laut Tengah.[5] Malaka menjadi pusat transit perdagangan pala, cengkih, dan bunga pala dari Maluku ke India.[6] Strategisnya Malaka sebagai pusat perdagangan diincar Portugis. Ketika itu Portugis, yang dipimpin Alfonso de Albuquerque (1509-1515), setelah menaklukkan Goa, langsung mengincar Malaka.[7] Albuquerque memutuskan Malaka harus menjadi pijakan selanjutnya dan pada 1511 dimulailah perjalannya.[8] Dalam dua kali serang, Malaka takluk. Sejak saat ini, Portugis menguasai perdagangan rempah-rempah dari Asia ke Eropa.

Penaklukan Malaka memberi pijakan bagi Portugis untuk lebih melangkah lagi ke timur Nusantara. Tujuannya adalah wilayah Kepulauan Maluku di mana cengkih dan pala tumbuh. Kedua komoditas tersebut dikuasai oleh dua kerajaan Islam, yaitu Ternate dan Tidore. Selain itu, Maluku juga ini menyediakan barang berharga yang menguntungkan jika dijual ke Eropa.[6]

Bermula dengan ekspedisi penjelajahan pertama yang dikirim dari Malaka yang baru ditaklukkan pada tahun 1512, bangsa Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang tiba di Nusantara, dan mencoba mendominasi sumber-sumber rempah-rempah berharga serta berusaha menyebarkan Katolik Roma.[9] Meski begitu, mereka memiliki sedikit pengaruh budaya di kepulauan barat tersebut. Terlebih lagi percobaan awal bangsa Portugis mendirikan koalisi dan perjanjian damai pada tahun 1512 dengan Kerajaan Sunda di Parahyangan,[10] gagal akibat sikap permusuhan yang ditunjukkan oleh sejumlah pemerintahan Islam di Jawa, seperti Demak dan Banten. Sebaliknya, dampak budaya Portugis yang bertahan lama berada di wilayah Indonesia Timur.

Ekspedisi ke Indonesia Timur

Salah satu lokasi rempah-rempah di Indonesia Timur yang terkenal adalah Maluku. Setelah sentral perdagangan rempah-rempah di Melaka berhasil dikuasai, bangsa Portugis segera mengalihkan arah ke Kepulauan Maluku, yang terdiri atas berbagai kumpulan kerajaan (merujuk pada istilah pemberian para pedagang Arab, Jazirah Al-Muluk atau "tanah para raja") yang awalnya berperang satu sama lain tetapi memelihara perdagangan antarpulau dan internasional.[11] Melalui penaklukan militer dan persekutuan dengan penguasa setempat, mereka mendirikan pos, benteng, dan misi perdagangan di Indonesia Timur, termasuk Pulau Ternate, Ambon, dan Solor. Mereka juga telah menyebarkan ajaran katolik hingga ke pulau-pulau paling timur Indonesia. Di abad ke-19 bahasa Portugis sudah menjadi salah satu Bahasa penting di nusantara, bahkan beberapa kata baku dalam bahasa Indonesia saat ini merupakan hasil serapan dari bahasa Portugis.[12]

Namun, puncak kegiatan misi Portugis dimulai pada paruh terakhir abad ke-16, setelah langkah penaklukan militernya di kepulauan tersebut gagal dan kepentingan Asia Timur mereka berpindah ke Jepang, Makau, dan Tiongkok; serta pada gilirannya gula di Brasil dan perdagangan budak Atlantik mengalihkan perhatian mereka dari Nusantara. Di samping itu, bangsa Eropa pertama yang tiba di Sulawesi Utara adalah Portugis.

Upaya Penyebaran Agama

Francisco Xavier terlibat dalam misi Portugis di Tolo, Halmahera. Ia merupakan seorang pionir misionaris Kristen di Maluku. Misi tersebut dimulai pada 1534, tetapi akhirnya menjadi sumber konflik antara Spanyol, Portugis, dan Ternate.[13][14]

Kemunduran dan peninggalan

Keberadaan Portugis berkurang hanya di Solor, Flores dan Timor (lihat Timor Portugis) di Nusa Tenggara Timur sekarang, menyusul kekalahan pada tahun 1575 di tangan penduduk Ternate, penaklukan Belanda di Ambon, Maluku Utara, dan Banda, serta kegagalan umum untuk menopang kendali perdagangan di kawasan ini.[15] Dibandingkan dengan ambisi awalnya mendominasi perdagangan Asia, pengaruh mereka pada budaya Indonesia amat kecil: gitar balada keroncong; sejumlah kata dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Portugis yang pernah menjadi lingua franca di samping Melayu; dan banyak nama keluarga di Indonesia Timur seperti Da Silva, Da Lopez, Da Cunha, Henriquez, Carvallo, Da Costa, Diaz, de Fretes, Gonsalves, dll.[16]

Dampak terpenting kedatangan bangsa Portugis adalah gangguan dan kekacauan jaringan perdagangan yang sebagian besar terjadi akibat penaklukan Malaka, dan penyebaran Kristen awal di Indonesia. Hingga kini, penduduk Kristen banyak ditemui di Indonesia Timur.[17] Di Dusun Baluk Kec. Bola, Kab. Sikka, St. Fransiskus Xaverius, misionaris Katolik yang mengikuti perjalanan orang Portugal, menancapkan sebuah Salib setinggi 3 meter di atas sebuah Batu Karang, yang oleh orang setempat diberi nama "Watu Krus" hal ini terjadi ± pada tahun 1630. Di Manado, pelaut Portugis berhasil berlabuh disana dan mendirikan gereja putih di antara perkebunan sawit penduduk setempat.[18]

Di Kampung Tugu, Koja, Jakarta Utara, terdapat permukiman keturunan Portugis. Mereka adalah keturunan dari bangsa Portugis yang dibawa ke Batavia (sekarang Jakarta) sebagai tawanan perang setelah VOC Belanda menaklukkan Malaka pada tahun 1641.[19]

Adapun keturunan Bangsa Portugis yang beragama Islam dapat ditemukan di Lamno, Aceh.[20]

Lihat juga

  • Mardijkers
  • Sejarah Timor Leste
  • Sejarah Indonesia
  • Garis waktu sejarah Indonesia

Rujukan

  1. ↑ Welianto, Ari. Welianto, Ari (ed.). "Latar Belakang Penjelajahan Samudra Bangsa Eropa sampai ke Indonesia". Kompas.com.
  2. 1 2 Ricklefs 1993, hlm. 22.
  3. ↑ Hannigan 2015, hlm. 67.
  4. ↑ Pradjoko, Didik (2008). Modul I Sejarah Indonesia. Depok: Universitas Indonesia Press. hlm. 5.
  5. ↑ Leirissa, RZ (1999). Ternate Sebagai Bandar Jalur Sutra. jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. hlm. 2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. 1 2 Ricklefs, M. C. (Merle Calvin) (1993). A history of modern Indonesia since c. 1300 (Edisi 2nd ed). Houndmills, Basingstoke, Hampshire: Macmillan. ISBN 0-333-57689-6. OCLC 30320024.
  7. ↑ Hall, DGE (1998). Sejarah Asia Tenggara. Surabaya: Usaha Nasional. hlm. 191. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ↑ Vlekke, Bernard (2016). Nusantara. Jakarta: KPG. hlm. 83. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. ↑ Ricklefs 1993, hlm. 22-24.
  10. ↑ Sumber-sumber asli sejarah Jakarta, Jilid I: Dokumen-dokumen sejarah Jakarta sampai dengan akhir abad ke-16. Cipta Loka Caraka. 1999.;Zahorka, Herwig (2007). The Sunda Kingdoms of West Java, From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with Royal Center of Bogor, Over 1000 Years of Propsperity and Glory. Yayasan Cipta Loka Caraka.
  11. ↑ Ricklefs 1993, hlm. 24.
  12. ↑ Hannigan 2015, hlm. 81.
  13. ↑ E.K.M. Masinambow, ed. (1987). "Halmahera dan Raja Empat Sebagai Kesatuan Majemuk: Studi-Studi Terhadap Suatu Daerah Transisi". Bulletin LEKNAS. 2 (2). Jakarta: LIPI: 279.
  14. ↑ Francis Xavier; His Life, His Times: Indonesia and India, 1545-1549. hlm. 179.
  15. ↑ Miller, George (ed.) (1996). To The Spice Islands and Beyond: Travels in Eastern Indonesia. New York: Oxford University Press. hlm. p.xv. ISBN 967-65-3099-9. ;
  16. ↑ Vickers 2013, hlm. 71.
  17. ↑ Ricklefs (1991), hal. 22-26
  18. ↑ Hannigan 2015, hlm. 149.
  19. ↑ Shahab, Ali (28 Mei 2006). "Kampung Portugis di Tugu". Republika. Diakses tanggal 2009-12-06.[pranala nonaktif permanen]
  20. ↑ Portugal Bangun Puskesmas Dan Madrasah Di Lamno

Daftar Pustaka

  • Hannigan, Tim (2015). A brief history of Indonesia : sultans, spices, and tsunamis : the incredible story of Southeast Asia's largest nation. Tokyo; Vermont: Singapore: TUTTLE Publishing. ISBN 9781462917167. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Ricklefs, Merle Calvin (1993). A History of Modern Indonesia Second Edition. New York: MacMillan Education. ISBN 978-1-349-22700-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Ricklefs, Merle Calvin (2008). A History of Modern Indonesia since c. 1200 (E-Book version) (Edisi 4). New York: Palgrave Macmillan. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Vickers, Adrian (2013). A History of Modern Indonesia, Second Edition. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-01947-8. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • l
  • b
  • s
Orang Indonesia keturunan asing
Afrika
Belanda Hitam
Asia
Arab-Indonesia  · Filipina-Indonesia  · India-Indonesia (Jakarta.Sumatera Utara)  · Jepang-Indonesia  · Korea-Indonesia  · Pakistan-Indonesia · Tionghoa-Indonesia
Eropa
Orang Indo  · Armenia-Indonesia  · Resimen Württemberg  · Portugis-Indonesia
Oceania
Australia-Indonesia  · Timor Leste-Indonesia
Multi-Asal
Cina Benteng  · Mardijkers  · Yahudi-Indonesia

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Awal penjelajahan
  2. Ekspedisi ke Indonesia Timur
  3. Upaya Penyebaran Agama
  4. Kemunduran dan peninggalan
  5. Lihat juga
  6. Rujukan
  7. Daftar Pustaka

Artikel Terkait

Indonesia

negara di Asia Tenggara dan Oseania

Abad Penjelajahan Samudra

periode eksplorasi global bangsa Eropa sejak awal abad ke-15 hingga abad ke-17

Kesultanan Banten

kesultanan yang berlokasi di Jawa barat laut, yang berfungsi sebagai salah satu pusat perdagangan rempah-rempah modern awal

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026