Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Kekaisaran Brunei

Kekaisaran Brunei Atau Kesultanan Brunei merupakan Kerajaan Melayu yang berdiri pada pada awal abad ke-7 terletak dibagian utara pesisir pulau Kalimantan (Borneo), Asia Tenggara. Kekaisaran ini dikuasai oleh raja Yang beragama Hindu dan Buddha yang kemudian berpindah keyakinan menjadi Islam (Muslim). Karena tidak ada sumber lokal mengenai bukti keberadaan Kerajaan Brunei, catatan dari Tionghoa telah digunakan untuk melihat sejarah awal Brunei. Boni dalam naskah Tionghoa kemungkinan merujuk pada seluruh Borneo, dan diklaim oleh pemerintah lokal sebagai Brunei. Hubungan diplomatik awal antara Borneo dan Tionghoa dicatat dalam Taiping huanyuji. Selama kekuasaan Sultan Brunei ke-5, Sultan Bolkiah, Brunei menjadi kerajaan yang kuat dan meliputi seluruh Borneo dan sebagian Filipina, terutama pulau Mindanao.

Kesultanan Melayu yang berpusat di Brunei sejak 1368 hingga 1888
Diperbarui 14 Juli 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kekaisaran Brunei
Kekaisaran Brunei

Kesultanan Brunei
1368–1888
Bendera
Bendera
Luas wilayah kekuasaan maksimum Kekaisaran Brunei (kuning) beserta negara-negara pengikutnya (kuning muda) pada tahun 1521.
Luas wilayah kekuasaan maksimum Kekaisaran Brunei (kuning) beserta negara-negara pengikutnya (kuning muda) pada tahun 1521.
StatusVasal Kerajaan Majapahit (1368-1425)
Negara berdaulat dan Kekaisaran (1425-1888)
Ibu kotaKota Batu
Kampong Ayer
Seri Begawan[1]
Bahasa yang umum digunakanMelayu Brunei, Melayu Kuno, Tagalog Kuno dan Arab
Agama
Islam Sunni
PemerintahanMonarki absolut Islam
Sultan 
• 1368–1402
Sultan Muhammad Shah
• 1425–1432
Sharif Ali
• 1485–1524
Bolkiah
• 1582–1598
Muhammad Hasan
• 1828–1852
Omar Ali Saifuddin II
• 1885–1906[2]
Hashim Jalilul Alam Aqamaddin
Sejarah 
• Kesultanan didirikan
1368
• Menjadi bagian dari protektorat Britania Raya
1888
Mata uangBarter, Cowrie, Piloncitos dan kemudian Brunei pitis
Didahului oleh
Digantikan oleh
Majapahit
kslKesultanan
Sulu
Hindia Timur Spanyol
Hindia Belanda
krjKerajaan
Sarawak
Koloni Mahkota Labuan
Borneo Utara Britania
Protektorat Brunei
Sekarang bagian dari Brunei
 Indonesia
 Malaysia
 Filipina
Sunting kotak info
Sunting kotak info • Lihat • Bicara
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini
Bagian dari seri mengenai
Sejarah Brunei
Pra-Kesultanan
Kekaisaran Brunei
1368
sampai 1888
Wangsa Bolkiah
(abad ke 15–sekarang)
Kesultanan Sulu
1405
sampai 1578
Kerajaan Manila
1500s
sampai 1571
Kerajaan Tondo
1500s
sampai 1571
Perang Kastila 1578
Perang Saudara 1660–1673
Sarawak
Abad ke-15
sampai 1841
Labuan
Abad ke-15
sampai 1846
Sabah (Borneo Utara)
Abad ke-15
sampai 1865
Protektorat Inggris 1888–1984
Pendudukan Jepang 1942–1945
Kampanye Borneo 1945
Pemerintahan Militer Inggris
1945–1946
Revolusi Brunei 1962
  • Garis waktu
  • Sultan
  • l
  • b
  • s
Bagian dari seri mengenai
Sejarah Indonesia
Prasejarah
Manusia Jawa 1.000.000 BP
Manusia Flores 94.000–12.000 BP
Bencana alam Toba 75.000 BP
Kebudayaan Buni 400 SM
Kerajaan Hindu-Buddha
Kerajaan Kutai 400–1635
Tarumanagara 450–900
Kerajaan Kalingga 500–782
Kerajaan Melayu 671–1347
Sriwijaya 671–1028
Kerajaan Sunda 662–1579
Kerajaan Galuh 669–1482
Kerajaan Bima 709–1621
Mataram Kuno 716–1016
Kerajaan Bali 914–1908
Kerajaan Kahuripan 1019–1046
Kerajaan Janggala 1042–1135
Kerajaan Kadiri 1042–1222
Kerajaan Singasari 1222–1292
Majapahit 1293–1478
Kerajaan Islam
Lihat: Penyebaran Islam di Nusantara
Kesultanan Peureulak 840–1292
Kerajaan Haru 1225–1613
Kesultanan Ternate 1257–1914
Kesultanan Samudera Pasai 1267–1521
Kesultanan Bone 1300–1905
Kerajaan Kaimana 1309–1963
Kesultanan Gowa 1320–1957
Kesultanan Limboto 1330–1863
Kerajaan Pagaruyung 1347–1833
Kesultanan Brunei 1368–1888, sekarang Brunei
Kesultanan Gorontalo 1385–1878
Kesultanan Melaka 1405–1511
Kesultanan Sulu 1405–1851
Kesultanan Cirebon 1445–1677
Kesultanan Demak 1475–1554
Kerajaan Giri 1481–1680
Kesultanan Bolango 1482–1862
Kesultanan Aceh 1496–1903
Kerajaan Balanipa 1511–sekarang
Kesultanan Banten 1526–1813
Kesultanan Banjar 1526–sekarang
Kerajaan Kalinyamat 1527–1599
Kesultanan Johor 1528–1877
Kesultanan Pajang 1568–1586
Kesultanan Mataram 1586–1755
Kerajaan Fatagar 1600–1963
Kesultanan Jambi 1615–1904
Kesultanan Bima 1620–1958
Kesultanan Palembang 1659–1823
Kesultanan Sumbawa 1674–1958
Kesultanan Kasepuhan 1679–1815
Kesultanan Kanoman 1679–1815
Kesultanan Siak 1723–1945
Kesunanan Surakarta 1745–sekarang
Kesultanan Yogyakarta 1755–sekarang
Kesultanan Kacirebonan 1808–1815
Kesultanan Deli 1814–1946
Kesultanan Lingga 1824–1911
Negara lainnya
Lihat: Kerajaan-kerajaan Kristen di Nusantara
Kerajaan Soya 1200–sekarang
Kerajaan Bolaang Mongondow 1320–1950
Kerajaan Manado 1500–1670
Kerajaan Siau 1510–1956
Kerajaan Larantuka 1515–1962
Kerajaan Sikka
Kerajaan Tagulandang 1570–1942
Kerajaan Manganitu 1600–1944
Republik Lanfang 1777–1884
Kerajaan Lore 1903–sekarang
Kolonialisme Eropa
Portugis 1512–1850
VOC 1602–1800
Jeda kekuasaan Prancis dan Britania 1806–1815
Hindia Belanda 1800–1949
Munculnya Indonesia
Kebangkitan Nasional 1908–1942
Pendudukan Jepang 1942–1945
Revolusi Nasional 1945–1949
Republik Indonesia
Awal Kemerdekaan 1945–1949
Republik Indonesia Serikat 1949–1950
Demokrasi Liberal 1950–1959
Demokrasi Terpimpin 1959–1965
Transisi 1965–1966
Orde Baru 1966–1998
Reformasi 1998–sekarang
Menurut topik
  • Arkeologi
  • Mata uang
  • Ekonomi
  • Militer
Garis waktu
 Portal Indonesia
  • l
  • b
  • s

Kekaisaran Brunei Atau Kesultanan Brunei merupakan Kerajaan Melayu yang berdiri pada pada awal abad ke-7 terletak dibagian utara pesisir pulau Kalimantan (Borneo), Asia Tenggara. Kekaisaran ini dikuasai oleh raja Yang beragama Hindu dan Buddha yang kemudian berpindah keyakinan menjadi Islam (Muslim). Karena tidak ada sumber lokal mengenai bukti keberadaan Kerajaan Brunei, catatan dari Tionghoa telah digunakan untuk melihat sejarah awal Brunei.[3] Boni dalam naskah Tionghoa kemungkinan merujuk pada seluruh Borneo, dan diklaim oleh pemerintah lokal sebagai Brunei. Hubungan diplomatik awal antara Borneo (Boni - 渤泥) dan Tionghoa dicatat dalam Taiping huanyuji (太平環宇記 - 978). Selama kekuasaan Sultan Brunei ke-5, Sultan Bolkiah, Brunei menjadi kerajaan yang kuat dan meliputi seluruh Borneo dan sebagian Filipina, terutama pulau Mindanao.

Catatan awal mengenai Brunei oleh barat dibuat oleh seorang Bologna, Italia yang bernama Ludovico di Varthema pada tahun 1550.

Sejarah Penamaan

Memahami sejarah Kekaisaran Brunei cukup sulit karena hampir tidak disebutkan dalam sumber-sumber kontemporer pada masanya, serta kurangnya bukti tentang sifatnya. Tidak ada sumber lokal atau asli yang memberikan bukti untuk semua ini. Alhasil, teks Mandarin telah diandalkan untuk membangun sejarah awal Kekaisaraan Brunei.[4] Boni dalam sumber Bahasa Mandarin kemungkinan besar mengacu pada Kalimantan bagian barat, sementara Poli (婆利), mungkin terletak di Sumatera, diklaim oleh otoritas lokal untuk menyebut Brunei juga.

Sejarah

Sejarah pra-kekaisaran

Pada abad ke-14, Brunei tampaknya tunduk pada Pulau Jawa. Naskah Jawa Nagarakretagama, yang ditulis oleh Prapanca pada tahun 1365, menyebutkan Barune sebagai negara bawahan Majapahit,[5] yang harus memberikan upeti tahunan sebanyak 40 kati kamper.

Kesultanan Brunei pada 1521

Pada masa ini, Kesultanan Brunei telah memegang peranan penting dalam hubungan perdagangan dan politik dengan wilayah-wilayah di Laut Cina Selatan. Kota dibangun di dasar air laut, terkecuali rumah raja dan rumah pangeran. Di depan rumah raja, terdapat benteng dari bata besar dengan menara, dilengkapi dengan 56 meriam baja dan 6 meriam besi.[6]

Populasi saat itu diperkirakan 25.000 orang dan rumah-rumah penduduk terbuat dari kayu yang ditumpuk sampai tinggi. Ketika air pasang, para wanita pergi dengan kapal kecil untuk berkeliling kota dan melakukan aktivitas jual beli kebutuhan sehari-hari.[6]

Raja saat itu, Raja Siripada, berusia 40 tahun dan sedikit gemuk yang dilayani oleh putri menteri. Ia memiliki 10 juru tulis yang menulis semua urusan raja di atas kulit kayu tipis. Tamu yang berkunjung tidak diperkenankan berbicara kepada Raja, dan hanya boleh menyampaikan maksud kepada salah satu tetua. Kemudian ia akan menyampaikannya kepada tetua yang lain atau anggota istana yang pangkatnya lebih tinggi. Selanjutnya pesan akan disampaikan ke gubernur yang berada di ruangan lebih kecil melalui pipa yang terletak di celah dinding, kemudian ia akan menyampaikannya ke seseorang yang berada di dekat Raja.[6]

Terdapat tiga penghormatan kepada Raja, yaitu dengan:[6]

  • Mengangkat kedua tangan yang saling menempel di atas kepala
  • Mengangkat satu kaki kemudian kaki lainnya, lalu
  • Mencium tangan Raja

Raja tidak pernah keluar rumah, kecuali untuk berburu. Rumah Raja, dipenuhi oleh pengawal pria sebanyak 300 orang yang memegang belati di atas paha mereka. Terdapat hiasan sutra yang digantung di seluruh ruangan, di antara dua ruangan terdapat tirai brokat dengan dua jendela sebagai jalan masuk cahaya.[6]

Hidangan yang disajikan kepada tamu disajikan dalam nampan kayu berukuran besar berisi 10-12 makanan Cina berupa olahan daging berbagai binatang (daging anak lembu, ayam kebiri, unggas, merak dan lainnya) dan berbagai macam ikan. Semua tamu akan duduk bersila beralas tikar dari palem. Selain itu juga disajikan minuman keras dari sulingan beras, nasi, dan camilan dari gula.[6]

Kebangkitan Kekaisaran Brunei

Menyusul kehadiran Portugis setelah jatuhnya Malaka, para pedagang Portugis berdagang secara teratur dengan Brunei dari tahun 1530 dan menggambarkan ibu kota Brunei dikelilingi oleh tembok batu.[7][8]

Selama pemerintahan Bolkiah, Sultan kelima, kekaisaran memegang kendali atas wilayah pesisir barat laut Kalimantan (sekarang Brunei, Sarawak dan Sabah) dan mencapai Seludong (sekarang Manila), Kepulauan Sulu termasuk bagian dari pulau Mindanao.[9][10][11][12][13][14][15]Pada abad ke-16, pengaruh Kekaisaran Brunei meluas sampai ke delta Sungai Kapuas di Kalimantan Barat.

Kesultanan Sambas di Kalimantan Barat dan Kesultanan Sulu di Filipina Selatan secara khusus mengembangkan hubungan dinasti dengan keluarga Kekaisaran Brunei. Sultan Melayu lainnya dari Pontianak, Samarinda sampai Banjarmasin, memperlakukan Sultan Brunei sebagai pemimpin mereka. Sifat asli hubungan Brunei dengan Kesultanan Melayu lainnya di pesisir Kalimantan dan kepulauan Sulu masih menjadi bahan kajian, apakah itu negara bawahan, aliansi, atau hanya hubungan seremonial. Pemerintahan daerah lain juga menjalankan pengaruhnya atas kesultanan ini. Kesultanan Banjar (sekarang Banjarmasin) misalnya, juga berada di bawah pengaruh Kesultanan Demak di Jawa.

Kemunduran Kekaisaran Brunei

Pada akhir abad ke-17, Brunei memasuki masa kemunduran yang disebabkan oleh perselisihan internal atas suksesi kerajaan, ekspansi kolonial kekuatan Eropa, dan pembajakan.[16]Kekaisaran Brunei kehilangan sebagian besar wilayahnya karena kedatangan kekuatan barat seperti Spanyol di Filipina, Belanda di Kalimantan Selatan dan Inggris di Labuan, Sarawak, dan Kalimantan Utara. Hingga pada tahun 1725, banyak jalur perdagangan Brunei telah diambil alih oleh Kesultanan Sulu.[17]

Pada tahun 1888, Sultan Hashim Jalilul Alam Aqamaddin kemudian meminta Britania untuk menghentikan perambahan lebih lanjut.[18] Pada tahun yang sama Britania menandatangani "Perjanjian Perlindungan" dan menjadikan Kekaisaran Brunei sebagai protektorat Britania.[16] Hingga pada tahun 1984, waktu dimana Kekaisaran Brunei mendapatkan kemerdekaan.[19][20]

Pemerintahan

Kekaisaran dibagi menjadi tiga sistem tanah tradisional yang dikenal sebagai Kerajaan (Properti Mahkota), Kurina (properti resmi) dan Tulin (properti pribadi turun-temurun).[21]

Referensi

Catatan kaki

  1. ↑ Hussainmiya 2010, hlm. 67.
  2. ↑ Yunos 2008.
  3. ↑ Jamil Al-Sufri, Tarsilah Brunei: The Early History of Brunei up to 1432 AD (Bandar Seri Begawan: Brunei History Centre, 2000)
  4. ↑ Mohd. Jamil Al-Sufri, Pehin Orang Kaya Amar Diraja Dato Seri Utama Haji Awang (2000). Tarsilah Brunei : the early history of Brunei up to 1432 AD. Mohd. Amin Hassan, Belia dan Sukan Brunei. Kementerian Kebudayaan (Edisi English ed). Brunei Darussalam: Brunei History Centre, Ministry of Culture, Youth and Sports. ISBN 99917-34-03-1. OCLC 61282373.
  5. ↑ Suyatno 2008.
  6. 1 2 3 4 5 6 King, Victor T (2013). Kalimantan tempo doeloe. Depok: Komunitas Bambu. ISBN 978-602-9402-33-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ↑ The Cambridge history of Islam. P. M. Holt, Ann K. S. Lambton, Bernard Lewis. Cambridge [England]. 1970. ISBN 0-521-07567-X. OCLC 107078. Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link) Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
  8. ↑ "},"url":{"wt":"https://www.worldcat.org/oclc/295911"},"title":{"wt":"Asia in the making of Europe"},"location":{"wt":"Chicago"},"isbn":{"wt":"0-226-46733-3"},"others":{"wt":"Edwin J. Van Kley"},"oclc":{"wt":"295911"}},"i":0}}]}' id="mwASc"/>Lach, Donald F. ([1965]-<c1993>). Asia in the making of Europe. Edwin J. Van Kley. Chicago. ISBN 0-226-46733-3. OCLC 295911.
  9. ↑ Saunders, Graham E. (2002). A history of Brunei (Edisi Second edition). London. ISBN 978-1-315-02957-3. OCLC 868979177. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
  10. ↑ South-East Asia : languages and literatures : a select guide. Patricia M. Herbert, Anthony Crothers Milner. Honolulu: University of Hawaii Press. 1989. ISBN 0-8248-1267-0. OCLC 19512831. Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link)
  11. ↑ [editors, David lea, Colette Milward ; assistant editor, Annamarie Rowe (2001). A political chronology of South-East Asia and Oceania (Edisi 1st ed). London: Europa Publications. ISBN 1-85743-117-0. OCLC 47727290. ; Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  12. ↑ Hicks, Nigel (2007). The Philippines (Edisi 3rd ed). London: New Holland. ISBN 978-1-84537-662-8. OCLC 877701714.
  13. ↑ A short history of South-East Asia. Peter Church (Edisi 5th ed). Singapore: John Wiley & Sons (Asia). 2009. ISBN 978-1-118-35040-9. OCLC 779166468. Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link)
  14. ↑ The Far East and Australasia 2003 (Edisi 34th ed). London: Europa. 2002. ISBN 1-85743-133-2. OCLC 59468141.
  15. ↑ Harun Abdul Majid (2007). Rebellion in Brunei : the 1962 revolt, imperialism, confrontation and oil. London: I.B. Tauris. ISBN 978-1-4356-1589-2. OCLC 184753002.
  16. 1 2 "World Factbook, 1989". ICPSR Data Holdings. 1990-10-16. Diakses tanggal 2021-04-07.
  17. ↑ Vienne, Marie-Sybille de (2015). Brunei : from the age of commerce to the 21st century. Aemilia Lanyer. Singapore: NUS Press in association with IRASEC. ISBN 978-9971-69-869-0. OCLC 963624121.
  18. ↑ World Atlas 2017.
  19. ↑ Harun Abdul Majid (2007). Rebellion in Brunei : the 1962 revolt, imperialism, confrontation and oil. London: I.B. Tauris. ISBN 978-1-4356-1589-2. OCLC 184753002.
  20. ↑ Sidhu, Jatswan S. (2010). Historical dictionary of Brunei Darussalam. Ranjit Singh (Edisi 2nd ed). Lanham: Scarecrow Press. ISBN 978-0-8108-5980-7. OCLC 237880032.
  21. ↑ McArthur, M. S. H. (1987). Report on Brunei in 1904. A. V. M. Horton. Athens, Ohio: Ohio University Center for International Studies, Center for Southeast Asian Studies. ISBN 0-89680-135-7. OCLC 15629773.

Daftar pustaka

  • Holt, P. M.; Lambton, Ann K. S.; Lewis, Bernard (1977). The Cambridge History of Islam: Volume 2A, The Indian Sub-Continent, South-East Asia, Africa and the Muslim West. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-29137-8.
  • Brunei Museum Journal (1986). The Brunei Museum Journal. The Museum of Brunei Darussalam.
  • McArthur, M.S.H.; Horton, A.V.M. (1987). Report on Brunei in 1904. Athens, Ohio: Ohio University Center for International Studies, Center for Southeast Asian Studies. ISBN 0-896-80135-7.
  • Herbert, Patricia; Milner, Anthony Crothers (1989). South-East Asia: Languages and Literatures : a Select Guide. University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-1267-6.
  • Jamil Al-Sufri, Awang Mohd. Zain (1990). Tarsilah Brunei: sejarah awal dan perkembangan Islam (dalam bahasa Malay). Department of Historical Centre of Ministry of Culture, Youth and Sports of Brunei Darussalam. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Awang Abdul Aziz bin Awang Juned (1992). Islam di Brunei: zaman pemerintahan Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu'izzuddin Waddaulah, Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam (dalam bahasa Malay). Department of History of Brunei Darussalam. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Lach, Donald F. (1994). Asia in the Making of Europe, Volume I: The Century of Discovery. University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-46732-0.
  • Jamil Al-Sufri, Awang Mohd. Zain (2000). Tarsilah Brunei: The Early History of Brunei Up to 1432 AD. Department of Historical Centre of Ministry of Culture, Youth and Sports of Brunei Darussalam. ISBN 978-99917-34-03-3.
  • Lea, David; Milward, Colette (2001). A Political Chronology of South-East Asia and Oceania. Psychology Press. ISBN 978-1-85743-117-9.
  • Eur (2002). The Far East and Australasia 2003. Psychology Press. ISBN 978-1-85743-133-9.
  • Bala, Bilcher (2005). Thalassocracy: a history of the medieval Sultanate of Brunei Darussalam. School of Social Sciences, Universiti Malaysia Sabah. ISBN 978-983-2643-74-6.
  • Hicks, Nigel (2007). The Philippines. New Holland Publishers. ISBN 978-1-84537-663-5.
  • Abdul Majid, Harun (2007). Rebellion in Brunei: The 1962 Revolt, Imperialism, Confrontation and Oil. I.B.Tauris. ISBN 978-1-84511-423-7.
  • Yunos, Rozan (2008). "The Sultan who thwarted Rajah Brooke". The Brunei Times. Diarsipkan dari asli tanggal 30 September 2015.
  • Suyatno (2008). "Naskah Nagarakretagama" (dalam bahasa Indonesian). National Library of Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 23 Mei 2017. Diakses tanggal 27 Oktober 2014. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • History for Brunei Darussalam: Sharing our Past. Curriculum Development Department, Ministry of Education of Brunei Darussalam. 2009. ISBN 978-99917-2-372-3.
  • Sidhu, Jatswan S. (2009). Historical Dictionary of Brunei Darussalam. Scarecrow Press. ISBN 978-0-8108-7078-9.
  • Hussainmiya, B. A. (2010). "The Malay Identity in Brunei Darussalam and Sri Lanka" (PDF). Universiti Brunei Darussalam. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 29 October 2014.
  • Oxford Business Group (2011). The Report: Sabah. Oxford Business Group. ISBN 978-1-907065-36-1.
  • Church, Peter (2012). A Short History of South-East Asia. John Wiley & Sons. ISBN 978-1-118-35044-7.
  • Saunders, Graham (2013). A History of Brunei. Taylor & Francis. ISBN 978-1-136-87401-7.
  • Welman, Frans (2013). Borneo Trilogy Brunei: Vol 1. Booksmango. ISBN 978-616-222-235-1.
  • Kurz, Johannes L. (2014). "Boni in Chinese Sources: Translations of Relevant Texts from the Song to the Qing Dynasties" (PDF). Universiti Brunei Darussalam. National University of Singapore. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 22 May 2014.
  • Andaya, Barbara Watson; Andaya, Leonard Y. (2015). A History of Early Modern Southeast Asia, 1400–1830. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-88992-6.
  • CIA Factbook (2017). "The World Factbook – Brunei". Central Intelligence Agency.
  • World Atlas (2017). "Brunei Darussalam". World Atlas.
  • l
  • b
  • s
Topik Brunei Darussalam
Sejarah
  • Kekaisaran Brunei
  • Perang Brunei–Tondo
  • Perang Kastilia
  • Perang Saudara Brunei
  • Raja Putih
  • Borneo Britania Raya
  • Pendudukan Jepang
  • Kampanye Borneo
  • Pemerintahan Militer Britania Raya di Borneo
  • Pemberontakan Brunei
  • Sejarah regional
Geografi
  • Borneo
  • Desa
  • Distrik
  • Kawasan lindung
  • Masalah lingkungan
  • Mukim
  • Perkotaan
  • Perbatasan
  • Perubahan iklim
  • Pulau
  • Satwa liar
  • Sungai
Pemerintah
  • Jabatan Adat Istiadat Negara
  • Kabinet
  • Parlemen
  • Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan
  • Penegak hukum
  • Pertahanan
    • Militer
  • Sultan
Politik
  • Hak asasi manusia
    • LGBT
  • Hubungan luar negeri
  • Hukuman mati
  • Pembagian Administratif
  • Politik
Ekonomi
  • Dolar (mata uang)
  • Pariwisata
  • Perusahaan
  • Telekomunikasi
  • Transportasi
    • Bandara
Sosial
  • Agama
    • Islam
    • Kristen
  • Bahasa
  • Budaya
  • Demografi
  • Etnis
  • Hidangan
  • Media
    • Film
    • Musik
  • Melayu Islam Beraja (filsafat nasional)
  • Olahraga
  • Orang Brunei
  • Pelacuran
  • Pelayanan kesehatan
  • Pendidikan
  • Perumahan
Simbol
  • Bendera
  • Lagu kebangsaan
  • Lambang negara
Kategori • Portal
  • l
  • b
  • s
Sejarah imperium-imperium dunia
Imperium kuno
Akkadia · Mesir · Asiria · Babilonia · Aksum · Het · Persia (Media · Akhemeniyah · Parthia · Sasaniyah) · Makedonia (Ptolemaik · Seleukia) · Kartago · India (Nanda · Maurya · Sunga · Satavahana · Kushan · Gupta · Harsha) · Tiongkok (Qin · Han · Jin) · Romawi (Romawi Barat · Romawi Timur) · Nirun
Imperium abad pertengahan
Ayyubiyyah · Byzantium · Hun · Turk (Turk · Timur · Barat) · Arab (Rasyidin · Umayyah · Abbasiyah · Fathimiyah · Kordoba) · Maroko (Idrisiyah · Murabithun · Muwahhidun · Mariniyah) · India (Pala · Chola · Delhi · Wijayanagara) · Persia (Thahiriyah · Samaniyah · Buwayhiyah · Saffariyah · Ziyariyah) · Ghaznawiyah · Benin · Seljuk · Oyo · Bornu · Khwarezmia · Timuriyah · Mongol (Yuan · Jochi · Chagatai · Kekhanan Il) · Kanem · Serbia · Songhai · Khmer · Bulgaria · Karoling · Romawi Suci · Angevin · Mali · Tiongkok (Sui · Tang · Song · Yuan) · Tibet · Uighur · Ghana · Aztek · Inka · Sriwijaya · Majapahit · Ethiopia (Zagwe · Salomo) · Aceh · Brunei · Vietnam (Dai Viet) · Tonga · Melaka · Demak · Mamluk Mesir · Venesia · Georgia
Imperium modern
Afghan · India (Mughal · Maratha · Sikh · Mysore) · Tiongkok (Ming · Qing · Tiongkok · Manchukuo) · Ternate · Vietnam (Dai Nam · Vietnam) · Utsmaniyah · Persia (Safawiyah · Afshariyah · Zand · Qajar · Pahlavi) · Cirebon · Oman · Johor · Ethiopia · Uzbek (Uzbek · Bukhara) · Maroko (Saadi · Alaouite) · Afrika Tengah · Portugis · Spanyol · Iberia · Belanda · Britania · Banten · Mataram · Prancis (Napoleon Prancis · Kolonial Prancis) · Austria · Jerman (Kolonial Jerman · Jerman Nazi) · Rusia · Swedia · Austria-Hungaria · Brasil · Meksiko (Pertama · Kedua) · Haiti (Pertama · Kedua) · Kolonial Italia · Kolonial Belgia · Kolonial Denmark · Kolonial Norwegia · Korea · Jepang
Imperium Adidaya
Imperium terbesar · Kekuatan Besar kuno · Kekuatan Besar abad pertengahan · Kekuatan Besar modern · Imperium kolonial

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah Penamaan
  2. Sejarah
  3. Sejarah pra-kekaisaran
  4. Kesultanan Brunei pada 1521
  5. Kebangkitan Kekaisaran Brunei
  6. Kemunduran Kekaisaran Brunei
  7. Pemerintahan
  8. Referensi
  9. Catatan kaki
  10. Daftar pustaka

Artikel Terkait

Brunei Darussalam

negara di Asia Tenggara

Kesultanan Melaka

kerajaan di Asia Tenggara

Suku Melayu

kelompok etnik yang berasal dari Sumatera bagian timur

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026