Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Daha

Daha atau yang berarti "kota api" adalah salah satu kota kuno pada masa lalu yang berada di Jawa Timur dan pernah menjadi pusat pemerintahan dari Kerajaan Kadiri, Daha kemudian kembali tercatat menjadi pusat pemerintahan pada masa Girindrawarddhana yang berkuasa di sisa-sisa masa akhir Majapahit. Daha sekarang merupakan bagian dari Kota Kediri. Pada saat ini berdasarkan peta daerah kekuasaan kerajaan Majapahit dan peta Provinsi Jawa Timur, lokasi Daha diperkirakan berada di sekitar Kota Kediri saat ini yang memiliki situs-situs cagar budaya dan banyak ditemukan peninggalan arkeologis sampai sekarang.

Wikipedia article
Diperbarui 31 Januari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini berisi tentang kota kuno di Jawa Timur. Untuk kegunaan lain, lihat Daha (disambiguasi).
Dahaṇapura

bahasa Jawa: ꦣꦲcode: jv is deprecated , translit. Daha
Kelompok etnik
Orang Jawa
DemonimJawa
Sekarang bagian dariIndonesia Kediri
Sunting kotak info
Sunting kotak info • Lihat • Bicara
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini

Daha atau (bahasa Jawa: ꦣꦲꦤcode: jv is deprecated , translit. Dahaṇa) (Dewanagari: दहनपुरम्; ,IAST: Dahaṇapura, दहनपुरम्) yang berarti "kota api" adalah salah satu kota kuno pada masa lalu yang berada di Jawa Timur dan pernah menjadi pusat pemerintahan dari Kerajaan Kadiri, Daha kemudian kembali tercatat menjadi pusat pemerintahan pada masa Girindrawarddhana yang berkuasa di sisa-sisa masa akhir Majapahit. Daha sekarang merupakan bagian dari Kota Kediri. Pada saat ini berdasarkan peta daerah kekuasaan kerajaan Majapahit dan peta Provinsi Jawa Timur, lokasi Daha diperkirakan berada di sekitar Kota Kediri saat ini yang memiliki situs-situs cagar budaya dan banyak ditemukan peninggalan arkeologis sampai sekarang.

Etimologi

Dalam bahasa Kawi, Dahanapura diterjemahkan menjadi 'kota api' dari Dahana (api) dan pura (kota).

"Pada Tahun Saka 1408...

Pada waktu itulah turun perintah Sri Maharaja Wilwatiktapura Janggala Kaḍiri Prabhu Nata Sri Baginda Girīndrawarddhana Dyah Raṇawijaya, agar supaya dilangsungkannya upacara sraddha 12 tahun memperingati wafatnya Sri Paduka Bhattara ring Dahaṇapura Sang Mokta ring Indrannibhawana"

— prasasti Jiyu

Sejarah

Sebagai ibu kota Panjalu

Airlangga merupakan pendiri kota api Dahanapura ("dahaṇa" = api, "pura" = kota) sebagai pindahan dari kota terdahulu Kahuripan. Ketika ia turun takhta pada tahun 1042, wilayah kerajaannya dibelah menjadi dua. Daha kemudian menjadi ibu kota kerajaan bagian barat, yaitu Panjalu.

Menurut Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapañca, seorang pujangga dan bekas pembesar agama Buddha masa Majapahit. Menyebutkan Airlangga yang telah berpindah ibu kota dan memerintah dari Daha di wilayah Panjalu.[1]

Selanjutnya berita dalam Serat Calon Arang, menerangkan bahwa saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan, melainkan telah berpindah ke Dahanapura dan menyebut Airlangga sebagai raja Daha.

... 15. Sigra datang pwa sirêng sagara Rupěk, mantas ta sira ngkana, Sang Yogîswara Mpu Baradah. Tan lingěn pwa sirêng (h)ěnu lampah Sang Mahamuni ambramaga. Sigra datang ta sirêng nagarêng Daha, panggih ta sirâtmajanira Sang Maharaja Erlanggya sědang tinangkil...

... 15. Segera tiba di Sagara Rupek, beliau menyeberang di sana, Sang Pendeta Baradah. Tidak diceritakan perjalanan Sang Pendeta di jalan sangat cepat jalannya. Beliau segera tiba di kerajaan Daha, bertemu dengan putranya Sang Maharaja Erlangga yang sedang dihadap...
— (Lontar Calon Arang).

Daftar dari raja-raja Panjalu setelah pembelahan :

  1. Sri Samarawijaya
  2. Śrī Mahārāja Jyitêndrakara
  3. Śrī Mahārāja Śrī Bāmeśwara
  4. Śrī Mahārāja Śrī Warmmeśwara / Jayabhaya
  5. Śrī Mahārāja Śrī Sarweśwara
  6. Śrī Mahārāja Śrī Aryyeśwara
  7. Śrī Mahārāja Kroñcāryadipa Śrī Gandra
  8. Śrī Mahārāja Śrī Kāmeśwara
  9. Śrī Mahārāja Śrī Sarwweśwara / Srengga / Kertajaya (gugur tahun 1144 Saka)

Sebagai bawahan Tumapel

Kerajaan Panjalu runtuh tahun 1222 dan menjadi bawahan Tumapel atau Singhasari. Berdasarkan prasasti Mula Malurung, diketahui raja-raja Daha zaman Tumapel, yaitu :

  • Mahisa Wunga Teleng putra Ken Arok
  • Guningbhaya adik Mahisa Wunga Teleng
  • Tohjaya kakak Guningbhaya
  • Kertanagara cucu Mahisa Wunga Teleng (dari pihak ibu), yang kemudian menjadi raja Singhasari[2]

Sebagai ibu kota Kadiri

Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya yang menjadi bupati Gelang-Gelang. Tahun 1292, Ia kemudian memberontak hingga menyebabkan runtuhnya Kerajaan Tumapel. Jayakatwang lalu membangun kembali Kerajaan Kadiri. Tetapi, pada tahun 1293 Ia dikalahkan Dyah Wijaya pendiri Majapahit.

Sebagai bawahan Majapahit

Sejak tahun 1293 Daha menjadi negeri bawahan Majapahit yang paling utama bersama dengan Kahuripan. Raja yang memimpin bergelar sebagai Bhre Daha tetapi hanya bersifat simbol, karena pemerintahan harian dilaksanakan oleh patih Daha. Bhre Daha yang pernah menjabat ialah:[3]

  1. Jayanagara 1295-1309 Nagarakretagama.47:2; Prasasti Sukamerta - didampingi Patih Lembu Sora.
  2. Rajadewi 1309-1375 Pararaton.27:15; 29:31; Nag.4:1 - didampingi Patih Arya Tilam, kemudian Gajah Mada.
  3. Indudewi 1375-1415 Pararaton.29:19; 31:10,21
  4. Suhita 1415-1429 ?
  5. Jayeswari 1429-1464 Pararaton.30:8; 31:34; 32:18; Prasasti Waringin Pitu
  6. Manggalawardhani 1464-1474 Prasasti Trailokyapuri

Pada masa kekuasaan Majapahit, penguasa Daha menggunakan lambang kenegaraan berupa "sadahakusuma", lambang yang bermakna bunga pemerintahan atau kembang api.

Sebagai ibu kota Majapahit

Setono Gedong di Kediri, Jawa, Hindia Belanda 1941.

Menurut Suma Oriental tulisan Tome Pires, pada tahun 1513 Dayo (Daha) menjadi ibu kota Majapahit yang dipimpin oleh Bhatara Wijaya. Nama raja ini identik dengan Dyah Ranawijaya yang dikalahkan oleh Sultan Trenggana raja Demak tahun 1527.

Pada zaman Majapahit nama Kahuripan lebih terkenal dari pada Janggala, sebagaimana nama Daha lebih terkenal dari pada Kadiri. Walaupun demikian, pada prasasti Trailokyapuri (1486), Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya raja Majapahit ketika itu masih menyebut dirinya sebagai penguasa Wilwatikta-Janggala-Kadiri.

Sumber sejarah

Pendukung sumber primer & sekunder

  • Prasasti Pamwatan (1042 M)
  • Kakawin Bhāratayuddha (1157 M) karya Empu Sedah & Empu Panuluh
  • Prasasti Mula Malurung (1255 M)
  • Prasasti Sukamerta (1296 M)
  • Prasasti Kusmala (1350 M)
  • Kakawin Nagarakretagama (1365 M) karya Mpu Prapanca
  • Prasasti Waringin Pitu (1447 M)
  • Prasasti Jiyu (1486 M)
  • Kitab Tantu Panggelaran
  • Kitab Pararaton
  • Serat Calon Arang
  • Kronik Yuán Shǐ catatan Dinasti Yuan
  • Suma Oriental karya Tome Pires

Lihat pula

  • Trowulan
  • Kahuripan
  • Tumapel
  • Wengker
  • Mataram
  • Matahun
  • Wirabhumi
  • Kertabhumi
  • Kabalan
  • Lasem
  • Jagaraga
  • Pajang
  • Paguhan
  • Pandansalas
  • Pamotan
  • Pawanuhan
  • Pakembangan
  • Tanjungpura
  • Singhapura
  • Kalinggapura
  • Keling
  • Kembangjenar

Referensi

Catatan kaki

  1. ↑ http://www.spaetmittelalter.uni-hamburg.de/java-history/JavaNK/Java1365.Nagara-Kertagama.Canto.63-69.html
  2. ↑ "PRASASTI MŪLA-MALURUNG DAN DAFTAR PARA TOKOH YANG TERTULIS PADA PRASASTI MŪLA-MALURUNG". sejarahjawaid.wordpress.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-12-17. Diakses tanggal 17 Desember 2021.
  3. ↑ "Kitab Pararaton (terjemahan)". majapahitprana.blogspot.com. Diakses tanggal 19 Desember 2021.

Daftar pustaka

  • Boechari (2012). Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti (dalam bahasa Indonesia dan Inggris). Jakarta: KPG ( Kepustakaan Populer Gramedia ). hlm. 425–436. ISBN 978-979-91-0520-2. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Mulyana, Slamet (2006). Tafsir sejarah nagarakretagama (dalam bahasa Indonesia). PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 17 dan 85 - 90. ISBN 978-979-2552-546. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • l
  • b
  • s
Kerajaan di Jawa
Sebelum 600 M
(Hindu-Buddha pra-Mataram)
  • Tarumanagara
  • Kalingga
  • Sunda
600–1500 (Hindu-Buddha)
  • Mataram Kuno
    • Syailendra
    • Isyana
  • Kanjuruhan
  • Kahuripan
  • Janggala
  • Kadiri
  • Singasari
  • Majapahit
  • Blambangan
1500–sekarang (Islam)
  • Banten
  • Demak
  • Cirebon
    • Kasepuhan
    • Kanoman
    • Kacirebonan
  • Sumedang Larang
  • Kalinyamat
  • Pajang
  • Mataram Islam
    • Surakarta
    • Yogyakarta
    • Mangkunagaran
    • Pakualaman

Artikel bertopik Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Etimologi
  2. Sejarah
  3. Sebagai ibu kota Panjalu
  4. Sebagai bawahan Tumapel
  5. Sebagai ibu kota Kadiri
  6. Sebagai bawahan Majapahit
  7. Sebagai ibu kota Majapahit
  8. Sumber sejarah
  9. Pendukung sumber primer & sekunder
  10. Lihat pula
  11. Referensi
  12. Catatan kaki
  13. Daftar pustaka
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026