Daha atau yang berarti "kota api" adalah salah satu kota kuno pada masa lalu yang berada di Jawa Timur dan pernah menjadi pusat pemerintahan dari Kerajaan Kadiri, Daha kemudian kembali tercatat menjadi pusat pemerintahan pada masa Girindrawarddhana yang berkuasa di sisa-sisa masa akhir Majapahit. Daha sekarang merupakan bagian dari Kota Kediri. Pada saat ini berdasarkan peta daerah kekuasaan kerajaan Majapahit dan peta Provinsi Jawa Timur, lokasi Daha diperkirakan berada di sekitar Kota Kediri saat ini yang memiliki situs-situs cagar budaya dan banyak ditemukan peninggalan arkeologis sampai sekarang.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Dahaṇapura | |
|---|---|
| Kelompok etnik | Orang Jawa |
| Demonim | Jawa |
| Sekarang bagian dari | |
Daha atau (bahasa Jawa: ꦣꦲꦤcode: jv is deprecated , translit. Dahaṇa) (Dewanagari: दहनपुरम्; ,IAST: Dahaṇapura, दहनपुरम्) yang berarti "kota api" adalah salah satu kota kuno pada masa lalu yang berada di Jawa Timur dan pernah menjadi pusat pemerintahan dari Kerajaan Kadiri, Daha kemudian kembali tercatat menjadi pusat pemerintahan pada masa Girindrawarddhana yang berkuasa di sisa-sisa masa akhir Majapahit. Daha sekarang merupakan bagian dari Kota Kediri. Pada saat ini berdasarkan peta daerah kekuasaan kerajaan Majapahit dan peta Provinsi Jawa Timur, lokasi Daha diperkirakan berada di sekitar Kota Kediri saat ini yang memiliki situs-situs cagar budaya dan banyak ditemukan peninggalan arkeologis sampai sekarang.
Dalam bahasa Kawi, Dahanapura diterjemahkan menjadi 'kota api' dari Dahana (api) dan pura (kota).
"Pada Tahun Saka 1408...
Pada waktu itulah turun perintah Sri Maharaja Wilwatiktapura Janggala Kaḍiri Prabhu Nata Sri Baginda Girīndrawarddhana Dyah Raṇawijaya, agar supaya dilangsungkannya upacara sraddha 12 tahun memperingati wafatnya Sri Paduka Bhattara ring Dahaṇapura Sang Mokta ring Indrannibhawana"
Airlangga merupakan pendiri kota api Dahanapura ("dahaṇa" = api, "pura" = kota) sebagai pindahan dari kota terdahulu Kahuripan. Ketika ia turun takhta pada tahun 1042, wilayah kerajaannya dibelah menjadi dua. Daha kemudian menjadi ibu kota kerajaan bagian barat, yaitu Panjalu.
Menurut Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapañca, seorang pujangga dan bekas pembesar agama Buddha masa Majapahit. Menyebutkan Airlangga yang telah berpindah ibu kota dan memerintah dari Daha di wilayah Panjalu.[1]
Selanjutnya berita dalam Serat Calon Arang, menerangkan bahwa saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan, melainkan telah berpindah ke Dahanapura dan menyebut Airlangga sebagai raja Daha.
... 15. Sigra datang pwa sirêng sagara Rupěk, mantas ta sira ngkana, Sang Yogîswara Mpu Baradah. Tan lingěn pwa sirêng (h)ěnu lampah Sang Mahamuni ambramaga. Sigra datang ta sirêng nagarêng Daha, panggih ta sirâtmajanira Sang Maharaja Erlanggya sědang tinangkil...
... 15. Segera tiba di Sagara Rupek, beliau menyeberang di sana, Sang Pendeta Baradah. Tidak diceritakan perjalanan Sang Pendeta di jalan sangat cepat jalannya. Beliau segera tiba di kerajaan Daha, bertemu dengan putranya Sang Maharaja Erlangga yang sedang dihadap...
— (Lontar Calon Arang).
Daftar dari raja-raja Panjalu setelah pembelahan :
Kerajaan Panjalu runtuh tahun 1222 dan menjadi bawahan Tumapel atau Singhasari. Berdasarkan prasasti Mula Malurung, diketahui raja-raja Daha zaman Tumapel, yaitu :
Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya yang menjadi bupati Gelang-Gelang. Tahun 1292, Ia kemudian memberontak hingga menyebabkan runtuhnya Kerajaan Tumapel. Jayakatwang lalu membangun kembali Kerajaan Kadiri. Tetapi, pada tahun 1293 Ia dikalahkan Dyah Wijaya pendiri Majapahit.
Sejak tahun 1293 Daha menjadi negeri bawahan Majapahit yang paling utama bersama dengan Kahuripan. Raja yang memimpin bergelar sebagai Bhre Daha tetapi hanya bersifat simbol, karena pemerintahan harian dilaksanakan oleh patih Daha. Bhre Daha yang pernah menjabat ialah:[3]
Pada masa kekuasaan Majapahit, penguasa Daha menggunakan lambang kenegaraan berupa "sadahakusuma", lambang yang bermakna bunga pemerintahan atau kembang api.

Menurut Suma Oriental tulisan Tome Pires, pada tahun 1513 Dayo (Daha) menjadi ibu kota Majapahit yang dipimpin oleh Bhatara Wijaya. Nama raja ini identik dengan Dyah Ranawijaya yang dikalahkan oleh Sultan Trenggana raja Demak tahun 1527.
Pada zaman Majapahit nama Kahuripan lebih terkenal dari pada Janggala, sebagaimana nama Daha lebih terkenal dari pada Kadiri. Walaupun demikian, pada prasasti Trailokyapuri (1486), Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya raja Majapahit ketika itu masih menyebut dirinya sebagai penguasa Wilwatikta-Janggala-Kadiri.