Kameswara adalah raja dari Kerajaan Panjalu yang memerintah Kadiri pada sekitar tahun 1182-1191, dengan bergelar nama abhiseka yaitu Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawatara Aniwaryyawiryya Parakrama Digjayotunggadewa.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Kameswara | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawatara Aniwaryyawiryya Parakrama Digjayotunggadewa | |||||
| Raja Panjalu/Kadiri | |||||
| Berkuasa | 1182 – 1191 | ||||
| Pendahulu | Sri Gandra | ||||
| Penerus | Kertajaya | ||||
| Kelahiran | Daha, Kediri, Jawa Timur | ||||
| Kematian | Jawa Timur | ||||
| Pasangan | Sri Kirana (putri dari Janggala | ||||
| Keturunan | Kertajaya | ||||
| |||||
| Wangsa | Isyana | ||||
| Agama | Hindu Waisnawa | ||||
Kameswara adalah raja dari Kerajaan Panjalu yang memerintah Kadiri pada sekitar tahun 1182-1191, dengan bergelar nama abhiseka yaitu Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawatara Aniwaryyawiryya Parakrama Digjayotunggadewa.
Tidak diketahui dengan pasti kapan Sri Kameswara naik takhta, peninggalan sejarahnya antara lain prasasti Semanding, 17 Juni 1182 M, dan prasasti Ceker, 11 September 1185 M.
Selain itu pada masa pemerintahan Sri Kameswara ini seorang pujangga bernama Mpu Dharmaja menuliskan sebuah karya sastra Kakawin Smaradahana, yang berisi kisah kelahiran dewa Ganesha, yaitu dewa berkepala gajah yang menjadi lambang Kerajaan Panjalu sebagaimana yang tertera pada prasasti-prasasti.
[1]Kakawin Smaradahana juga turut mengisahkan terbakarnya dewa Kamajaya dan dewi Ratih, menjelang kelahiran Ganesha. Pasangan dewa-dewi tersebut kemudian menitis dalam diri Sri Kameswara raja Panjalu dan permaisurinya yang bernama Sri Kirana, seorang putri dari Kerajaan Janggala.
Sejak berdiri tahun 1042, Kerajaan Panjalu dan Janggala selalu terlibat perang saudara. Pada tahun 1135 Jayabaya raja Kerajaan Panjalu berhasil menaklukkan Jenggala, berdasarkan Prasasti Ngantang. Ditambah lagi dengan perkawinan Sri Kameswara dengan Sri Kirana membuat persatuan kedua Negara lebih erat lagi.
Kakawin Smaradahana merupakan cikal bakal kisah-kisah Panji yang populer dalam masyarakat Jawa. Tokoh Panji Inu Kertapati Asmarabangun merupakan pangeran Janggala yang menikah dengan Galuh Candrakirana putri Panjalu. Dalam beberapa pementasan ketoprak, tokoh Panji kemudian menjadi raja Janggala bergelar Kameswara. Hal ini tentu saja kebalikan dari fakta sejarah. Dari kisah ini pula, muncul cerita rakyat Ande Ande Lumut .
Tidak diketahui kapan pemerintahan Sri Kameswara berakhir. Raja Panjalu selanjutnya berdasarkan Prasasti Tesirejo (1191) adalah Kertajaya.
| Didahului oleh: Sri Gandra |
Raja Kadiri 1182—1191 |
Diteruskan oleh: Kertajaya |