Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Dyah Raṇawijaya

Girindrawardhana Dyah Ranawijaya atau Bhre Keling adalah maharaja Majapahit dari dinasti Girindrawardhana Kediri yang memerintah tahun 1474—1518, dengan ibukota di Daha/Keling/Kadiri. Namanya dikenal melalui Prasasti Jiyu, Prasasti Petak, Serat Pararaton dan Suma Oriental. Girindhrawarddhana Dyah Ranawijaya diketahui menggulingkan kekuasaan dari Bhre Kertabhumi.

Wikipedia article
Diperbarui 23 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Dyah Raṇawijaya" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Desember 2025)
Artikel ini sudah memiliki referensi, tetapi tidak disertai kutipan yang cukup. Anda dapat membantu mengembangkan artikel ini dengan menambahkan lebih banyak kutipan pada teks artikel. (Desember 2025) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Dyah Raṇawijaya
Paduka Sri Maharaja Sri Wilwatiktapura-Janggala-Kaḍiri
Girindhrawarddhana Dyah Ranawijaya
ꦥꦴꦢꦸꦏꦯꦿꦷꦩꦲꦴꦫꦴꦗꦯꦿꦷꦮꦶꦭ꧀ꦮꦠꦶꦏ꧀ꦠꦥꦹꦫꦗꦔ꧀ꦒꦔꦏꦝꦶꦫꦶ
Maharaja Majapahit Ke 12
Berkuasa Majapahit (1474—1518)
PendahuluBhre Kertabhumi
PenerusPatih Udara
KelahiranDyah Raṇawijaya
 Majapahit
Kematian1518
Kadiri
Nama takhta
Paduka Śrī Maharaja Śrī Wilwatiktapura Janggala Kaḍiri Prabhu Nātha Śrī Girīndrawardhana nama Dyah Raṇawijaya

(Prasasti Jiyu I)

Śrī Bhaṭāra Prabhu Girīndrawardhana Garbhotpattinama Dyah Raṇawijaya
(Prasasti Pĕṭak)
Nama anumerta
-
AyahSinghawikramawardhana (Dyah Suraprabhawa)
IbuRajasawardhanadewi Dyah Sripura (Bhre Singhapura)
AgamaSiwa - Buddha

Girindrawardhana Dyah Ranawijaya atau Bhre Keling adalah maharaja Majapahit dari dinasti Girindrawardhana Kediri yang memerintah tahun 1474—1518, dengan ibukota di Daha/Keling/Kadiri.[1] Namanya dikenal melalui Prasasti Jiyu (I, II, III, IV), Prasasti Petak, Serat Pararaton dan Suma Oriental. Girindhrawarddhana Dyah Ranawijaya diketahui menggulingkan kekuasaan dari Bhre Kertabhumi.

Identifikasi Dyah Ranawijaya dan Bhra Wijaya

Artikel utama: Girindrawardhana

Seorang raja dalam tradisi Majapahit memiliki gelar kerajaan dan nama muda yang dicirikan dengan penggunaan gelar kebangsawanan atau abhiseka Dyah, terutama berlaku untuk tokoh laki-laki dan perempuan. Gelar Girindrawardhana (transliterasi: Girīndrawarddhana) adalah gelar bagi raja Majapahit yaitu Dyah Ranawijaya. Gelar ini ditemukan dalam Prasasti Waringinpitu yang berangka tahun 1369 Saka (1447 M), serta Prasasti Petak (OJO XCI) dan Prasasti Jiwu (OJO XCII-XCV) yang keduanya bertahun 1408 Saka (1486 M).[2]

Pada Prasasti Jiwu I bertarikh 1486 M, yang menceritakan penganugerahan tanah oleh 'Dyah Raṇawijaya' kepada pendukungnya 'Sri Brahmaraja Ganggadhara' atas bantuannya membantu Sang Munggwing Jinggan (Yang Berdiam di Jinggan) saat berperang melawan seorang raja yang berkedudukan di Majapahit (Kadigwijayanira sang munggwin jinggan duk ayun-ayunan yudha lawaning majapahit),[3] serta menyebutkan bahwa Girīndrawardhana Dyah Raṇawijaya adalah raja yang berkuasa atas Wilwatiktapura nama lain Majapahit ("wilwatikta" = majapahit, "pura" = kota, kota berbenteng, atau istana), Janggala (Kahuripan), dan Kaḍiri (Daha).[2]

Sedangkan gelar Brawijaya juga dianggap identik dengan Dyah Ranawijaya, yang namanya tercatat dalam beberapa prasasti yang berasal dari awal abad ke-15. Kemungkinan hal ini berasal dari penyebutan masyarakat di masa tersebut yang menyebut junjungannya dengan sebutan Bhatara, yang kemudian direkam dalam naskah Suma Oriental dengan ejaan Batara Vojyaya (Ejaan Portugis untuk Bhatara Wijaya) ejaan Bhra/Bhatara Wijaya oleh masyarakat di masa tersebut kemudian masih teringat dan familiar disebut dengan Brawijaya di era Jawa baru, yaitu masa setelah keruntuhan kerajaan Majapahit yang menjadi akhir dari masa Jawa klasik.

Mengalahkan Bhre Kertabhumi

pada tahun 1466, Girisawardhana wafat dan digantikan oleh Suraprabhawa (Singhawikramawardhana), adiknya. Hal ini mengakibatkan, Bhre Kertabhumi melakukan pemberontakan terhadap raja Suraprabhawa pada tahun 1468, karena ia adalah salah satu putra Rajasawardhana, dan merasa lebih berhak atas takhta Majapahit dibanding pamannya tersebut. Kemudian Dyah Suraprabhawa dan keluarganya termasuk Dyah Wijayakarana, Dyah Wijayakusuma, Dyah Ranawijaya melarikan diri ke daerah Keling, Kediri dan menjadi penguasa Keling dengan gelar Girindrawardhana. Setelah mengumpulkan kekuatan, mereka menyerang balik Kerthabumi. Kekuasaan Bhre Kertabhumi berakhir setelah dikalahkan oleh Dyah Ranawijaya, yang kemudian menjadi raja Majapahit yang memerintah sejak tahun 1474. Hal ini diperkuat juga dalam prasasti Jiyu (I, II, III, IV) dan Petak, tahun 1486, yang isinya yaitu memperingati 12-tahun kematian Singhawikramawardhana. Dyah Ranawijaya memberikan penghargaan tanah untuk pembangunan "Trailokyapuri" kepada "Sri Brahmaraja Ganggadara" yang membantunya mengalahkan Kertabhumi,[4] serta memindahkan ibu kota Majapahit ke Daha (Kediri). Kekalahan Bhre Kertabhumi memicu perang antara Majapahit melawan Demak, karena penguasa Demak adalah keturunan Bhre Kertabhumi[butuh rujukan].

Masa Akhir

Patih Udara

Artikel utama: Patih Udara

Pada tahun 1513 saat Tomé Pires mengunjungi Jawa, ibu kota sudah pindah ke Dayo (ejaan Portugis untuk Daha). Saat itu raja sudah tidak berkuasa penuh. Dyah Raṇawijaya hanya sebagai raja simbol belaka. Yang menjalankan roda pemerintahan adalah Guste Pate (ejaan Portugis untuk Gusti Patih) yang sebelumnya dikenal dengan nama Pate Amdura (ejaan Portugis untuk Patih Mahodara).[1] Cerita ini diperkuat oleh catatan Duarte Barbosa dari Italia yang menyebutkan pada tahun 1518 yang berkuasa atas Jawa pedalaman bernama Pate Udra (Patih Udara).

Patih Udara memerintah segala aspek menggantikan Ranawijaya. Ia menggenggam raja di tangannya, bahkan berhak memberikan perintah. Sang raja sudah tidak memiliki suara dalam hal apa pun. Rakyat sudah kehilangan kepercayaan kepada raja karena kecewa telah kehilangan sebagian besar tanah mereka.

Perang Daha - Demak

Artikel utama: Pati Unus dan Trenggana

Tomé Pires (1513) mencatat sering terjadi peperangan antara Pate Amdura (ejaan Portugis untuk Patih Mahodara) melawan persekutuan para pate (patih) pesisir utara yang dipimpin Pate Rodim dari Demaa (ejaan Portugis untuk Demak). Pate Rodim dan para pate yang beragama Islam itu membentuk aliansi melawan Daha. Meskipun demikian, tidak semua pate yang beragama Islam mendukung Pate Rodim. Ada seorang bernama Pate Vira dari Tuban yang meskipun muslim tetapi mendukung Guste Pate di Daha. Pate Vira ini adalah narasumber Tomé Pires mengenai kondisi politik di Jawa saat itu.[1]

Ketika Tomé Pires datang ke Jawa (1513), peperangan terjadi antara Daha melawan Demak. Terkadang Demak yang menyerang dahulu, kadang Daha yang ganti menyerang. Pihak Daha selaku penerus Majapahit ingin merebut kembali deretan kota pelabuhan utara yang dikuasai Dĕmak. Hanya Tuban saja di wilayah pantura yang masih setia kepada Daha, sedangkan Surabaya kadang melawan Daha, kadang menjadi kawan.[1]

Pada tahun 1522 penulis Italia bernama Antonio Pigafetta mendapat keterangan dari para pelaut lainnya, bahwa ada kota besar di Jawa bernama Magepaher (Majapahit) yang rajanya bernama Pate Unus (kakak Pate Rodim) telah meninggal. Menurut catatan Tomé Pires di tahun 1513 Pate Unus adalah pate yang berkuasa di Japara, yang merupakan pate Islam terbesar kedua sebelum Pate Rodim raja Demak. Jika keterangan ini benar, maka Pate Udra (Patih Mahodara) patih yang berkuasa di Daha telah dikalahkan oleh Pate Unus sesudah tahun 1518, sebelum tahun 1522.

Sementara itu, Babad Sĕngkala mencatat Tuban dan Daha (sekarang Kediri) baru bisa ditaklukkan oleh Demak pada tahun 1527. Saat itu yang menjadi raja Dĕmak adalah Sultan Trenggana (Pati Rodim) putra Raden Patah.

Sisa-sisa keluarga Majapahit keturunan Girindrawardhana kemudian melarikan diri ke wilayah Blambangan (sekarang daerah Kabupaten Banyuwangi) serta menuju ke Pulau Bali.

Referensi

  1. 1 2 3 4 Tomé Pires (2015). Suma Oriental: Perjalanan dari Laut Merah ke Cina & Buku Francisco Rodrigues (penyunting, Armando Cortesao; penerjemah ed. Indonesia, Adrian Perkasa dan Anggita Pramesti). Yogyakarta: Ombak. ISBN 978-602-258-246-5.
  2. 1 2 Djaraf 1977.
  3. ↑ Nia K. S: Pararaton Revisited: Tafsir Baru Atas Sejarah Keluarga Majapahit
  4. ↑ Poesponegoro & Notosusanto (1990), hal. 448-451.

Kepustakaan

  • Babad Majapahit dan Para Wali (Jilid 3). 1989. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
  • Babad Tanah Jawi. 2007. (terj.). Yogyakarta: Narasi
  • H.J. de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
  • J.L.A. Brandes, 1897, Pararaton (Ken Arok) of het boek der Koningen van Tumapěl en van Majapahit. Uitgegeven en toegelicht. Batavia: Albrecht; 's Hage: Nijhoff. VBG 49.1.
  • Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (terbitan ulang 1968). Yogyakarta: LKIS


Didahului oleh:
Bhre Kertabhumi
Raja Majapahit
1474—1498
Diteruskan oleh:
Patih Udara

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Identifikasi Dyah Ranawijaya dan Bhra Wijaya
  2. Mengalahkan Bhre Kertabhumi
  3. Masa Akhir
  4. Patih Udara
  5. Perang Daha - Demak
  6. Referensi
  7. Kepustakaan

Artikel Terkait

Raden Patah

pendiri dan sultan pertama Demak

Kertabhumi

Raja Majapahit

Suraprabhawa

rakyat. Kemudian pada 1474 ia meninggal dunia dan digantikan putranya Dyah Raṇawijaya sebagai penguasa Daha. Tokoh ini pun menyerang Majapahit, yang menyebabkan

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026