Nekara, disebut pula kobah atau nobat, adalah gendang perunggu berbentuk seperti dandang berpinggang pada bagian tengahnya dengan selaput suara berupa logam atau perunggu. Nekara merupakan benda peninggalan peradaban Zaman Perunggu di kawasan Asia Tenggara.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Nekara, disebut pula kobah atau nobat, adalah gendang perunggu berbentuk seperti dandang berpinggang pada bagian tengahnya dengan selaput suara berupa logam atau perunggu.[1] Nekara merupakan benda peninggalan peradaban Zaman Perunggu[2][3] (contohnya Kebudayaan Dongson) di kawasan Asia Tenggara.
Diperkirakan penemuan alat musik ini berasal dari masa 500 SM.[4]
Kata "nekara" dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Persia نقاره (naqāra) yang berarti "gendang besar" (drum ketel, timpani).[5][6][7] Nekara disebut juga kobah dan nobat, berasal dari bahasa Persia کوبه (koba) dan نوبت (nobat), mengacu kepada drum yang sangat besar, dipukul pada jam-jam tertentu.[5][7]
Ada 4 (empat) penggolongan nekara yang masing-masing penamaannya diambil dari nama penelitinya.[2]
Nekara diberi bermacam-macam hiasan dengan motif binatang, seperti katak, gajah, kuda, rusa, harimau, burung, dan merak.[1] Benda budaya ini berasal dari zaman perunggu atau zaman logam.[1] Pada zamannya, nekara dianggap benda suci yang berfungsi sebagai benda upacara, maskawin.[1][3] Sebuah nekara yang menjadi koleksi di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo, digunakan sebagai alat upacara pemanggil hujan pada masanya.[2] Pada masa Pra-India, Nekara juga digunakan dalam ritual pemujaan arwah leluhur maupun upacara kematian di Indonesia Barat Daya.[4]
Tempat penemuan nekara di pulau Jawa, Bali, Sumatra, Roti, Selayar, Gorom, hingga Kepulauan Kei. Nekara yang kecil diberi nama Moko atau Mako (Ditemukan di Alor).[3] Salah satu koleksi Nekara yang tersimpan di Museum Mpu Tantular ditemukan di Gresik, Jawa Timur. Nekara juga merupakan peninggalan sejarah yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Dongson, Vietnam.[4]