Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiFilm Cerita Panjang Terbaik Festival Film Indonesia
Artikel Wikipedia

Film Cerita Panjang Terbaik Festival Film Indonesia

Piala Citra untuk Film Cerita Panjang Terbaik merupakan salah satu kategori penghargaan tahunan yang dianugerahkan oleh Festival Film Indonesia sejak pertama kali diselenggarakan pada 5 April 1955. Mulai tahun 1979, teknik penjurian beralih ke dalam sistem unggulan dengan jumlah setidaknya tiga atau lebih judul film yang dikompetisikan dalam kategori tersebut. Penghargaan ini diserahkan kepada produser film dan menjadi kategori terakhir yang diumumkan pada acara malam penganugerahan. Film Terbaik dianggap sebagai lambang supremasi tertinggi sekaligus paling bergengsi dari setiap perhelatan tahunan FFI yang menjadi standar film berkualitas dalam industri perfilman Indonesia, termasuk untuk penyutradaraan, akting, penulisan skenario, penyusunan musik, dan unsur teknis lainnya yang terlibat dalam sebuah produksi film.

Wikipedia article
Diperbarui 9 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

AwardTemplat:SHORTDESC:Award
Piala Citra untuk Film Terbaik
DeskripsiFilm Terbaik Tahun Ini
NegaraIndonesia
Dipersembahkan oleh
  • Badan Perfilman Indonesia
  • Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
Diberikan perdana1955
Pemegang gelar saat iniPangku - (2025)
Situs webfestivalfilm.id

Piala Citra untuk Film Cerita Panjang Terbaik (atau yang biasa disebut Film Terbaik) merupakan salah satu kategori penghargaan tahunan yang dianugerahkan oleh Festival Film Indonesia sejak pertama kali diselenggarakan pada 5 April 1955. Mulai tahun 1979, teknik penjurian beralih ke dalam sistem unggulan (atau yang biasa dikenal dengan istilah nominasi) dengan jumlah setidaknya tiga atau lebih judul film yang dikompetisikan dalam kategori tersebut. Penghargaan ini diserahkan kepada produser film dan menjadi kategori terakhir yang diumumkan pada acara malam penganugerahan. Film Terbaik dianggap sebagai lambang supremasi tertinggi sekaligus paling bergengsi dari setiap perhelatan tahunan FFI yang menjadi standar film berkualitas dalam industri perfilman Indonesia, termasuk untuk penyutradaraan, akting, penulisan skenario, penyusunan musik, dan unsur teknis lainnya yang terlibat dalam sebuah produksi film.[1]

Penghargaan tersebut sempat tidak diberikan sebanyak tiga kali yaitu pada FFI 1967, 1977, dan 1984. Pada penyelenggaraan FFI tahun 1977, dewan juri menentukan aturan khusus untuk dapat meraih gelar Film Terbaik tahun itu, sebuah film harus memenangkan keempat kategori sekaligus, meliputi Sutradara Terbaik, Skenario Terbaik, Pengarah Sinematografi Terbaik dan Penyunting Gambar Terbaik. Berhubung tak ada satu pun film yang berhasil memenuhi kriteria, maka diputuskan tak ada pemenang untuk kategori Film Terbaik kala itu.[2] Namum sejak tahun 1985 disepakati bahwa Piala Citra untuk Film Terbaik tetap harus diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap industri perfilman tanah air.

Nagabonar karya M.T. Risyaf untuk pertama kalinya dinobatkan sebagai Film Terbaik pada FFI 1987 meskipun tidak memperoleh nominasi untuk kategori Sutradara Terbaik. Dua puluh tujuh tahun kemudian, momen tersebut kembali terjadi saat Cahaya dari Timur: Beta Maluku memenangkan kategori Film Terbaik pada perayaan FFI 2014 tanpa memasukkan nama Angga Dwimas Sasongko sebagai nominator Sutradara Terbaik.[3] Bahkan Cahaya dari Timur: Beta Maluku menjadi pemenang Film Terbaik kedua dalam sejarah FFI dengan jumlah perolehan Piala Citra paling sedikit, yaitu 2 piala (satu lagi untuk Pemeran Utama Pria Terbaik yang diraih oleh Chicco Jerikho), setelah Senyum di Pagi Bulan Desember karya Wim Umboh pada tahun 1975 yang hanya memenangkan kategori Film Terbaik. Kejadian serupa terulang lagi pada FFI 2025, di mana Pangku (film) yang menjadi karya debut Reza Rahadian berhasil meraih Piala Citra untuk kategori Film Terbaik tanpa mencantumkan Reza Rahadian sebagai sutradaranya.

Pada FFI 1990, Taksi (film) karya Arifin C. Noer menjadi Film Terbaik pertama yang berhasil merebut lima kategori utama termasuk Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Rano Karno, Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Meriam Bellina dan Skenario Terbaik. Dua tahun kemudian, Ramadhan dan Ramona karya Chaerul Umam kembali mengulangi rekor yang sama dalam gelaran FFI 1992 sebagai pemenang Film Terbaik kedua yang berhasil meraih lima kategori utama termasuk Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Jamal Mirdad, Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Lydia Kandou dan Skenario Terbaik.

Arisan! karya Nia Dinata menjadi film bertema LGBT pertama yang berhasil memenangkan kategori Film Terbaik pada tahun 2004. Lima belas tahun kemudian, Kucumbu Tubuh Indahku karya Garin Nugroho yang sempat menuai kontroversi saat peredarannya, menjadi film bertema LGBT kedua yang terpilih sebagai Film Terbaik dalam gelaran FFI 2019.

Ekskul karya Nayato Fio Nuala (pemenang Film Terbaik tahun 2006) menjadi film pertama dalam sejarah FFI yang kemenangannya secara resmi dianulir (atau dibatalkan) oleh Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) yang saat itu diketuai oleh Deddy Mizwar terkait adanya indikasi pelanggaran hak cipta ilustrasi musik dari beberapa film produksi luar negeri tanpa izin.[4]

Pada tahun 2007, Nagabonar Jadi 2 karya Deddy Mizwar menjadi film sekuel pertama yang berhasil mendapat gelar Film Terbaik setelah kemenangan film pendahulunya Nagabonar dalam kategori yang sama pada tahun 1987. Sementara itu, Siti (film) karya Eddie Cahyono menjadi film hitam putih pertama di era film berwarna yang kembali memenangkan kategori Film Terbaik pada tahun 2015, sejak terakhir kali Turang karya Bachtiar Siagian menjadi film hitam putih terakhir yang dinobatkan sebagai Film Terbaik pada FFI 1960. Sedangkan film horor pertama yang berhasil memenangkan penghargaan Film Terbaik dalam gelaran FFI 2020 adalah Perempuan Tanah Jahanam karya Joko Anwar.

Women From Rote Island karya Jeremias Nyangoen pada tahun 2023 berhasil mencatat rekor baru sepanjang FFI pernah digelar sebagai Film Terbaik pertama yang berhasil menyapu bersih seluruh kategori yang dikompetisikan yaitu Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Skenario Asli Terbaik dan Pengarah Sinematografi Terbaik.[5]

Jatuh Cinta Seperti di Film-Film karya Yandy Laurens menjadi pemenang Film Terbaik pertama dalam sejarah FFI yang berhasil merebut keempat kategori akting pada tahun 2024, di antaranya Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Ringgo Agus Rahman, Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Nirina Zubir, Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Alex Abbad dan Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik untuk Sheila Dara. Sebelumnya, pada perhelatan FFI pertama di tahun 1955, Lewat Djam Malam karya Usmar Ismail yang berhasil menjadi Film Terbaik hanya memenangkan tiga kategori akting di antaranya Pemeran Utama Pria Terbaik untuk A. N. Alcaff, Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Dhalia dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Bambang Hermanto. Kemudian pada tahun 1983, Di Balik Kelambu karya Teguh Karya yang saat itu memenangkan kategori Film Terbaik kembali memenangkan tiga kategori akting di antaranya Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Slamet Rahardjo, Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Christine Hakim dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Maruli Sitompul. Selanjutnya pada tahun 1989, Teguh Karya kembali mengulangi rekor lewat Pacar Ketinggalan Kereta sebagai pemenang Film Terbaik dengan tiga kemenangan untuk kategori akting di antaranya Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Rachmat Hidayat, Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Tuti Indra Malaon dan Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik untuk Niniek L. Karim. Pada tahun 2004, Arisan! karya Nia Dinata kembali menjadi pemenang Film Terbaik dengan tiga pemerannya berhasil memenangkan kategori akting di antaranya Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Tora Sudiro, Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Surya Saputra dan Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik untuk Rachel Maryam. Dan yang terakhir pada 2010, 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta karya Benni Setiawan memenangkan Film Terbaik dengan tiga kemenangan pada kategori akting di antaranya Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Reza Rahadian, Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Laura Basuki dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Rasyid Karim.

Pada FFI 2025, Jumbo (film) karya Ryan Adriandhy menjadi film animasi pertama yang berhasil masuk ke dalam jajaran kategori Film Terbaik (meskipun harus kalah oleh film Pangku), selain dinominasikan juga dalam kategori Film Animasi Terbaik.[6]

Hingga saat ini, selain menjadi sutradara dengan perolehan Piala Citra terbanyak untuk kategori Sutradara Terbaik, Teguh Karya masih menjadi satu-satunya sutradara yang paling sering menghasilkan film yang dinobatkan sebagai Film Terbaik FFI, yaitu sebanyak lima kali dari delapan kali nominasi (tahun 1974 lewat Cinta Pertama, 1979 lewat November 1828, 1983 lewat Di Balik Kelambu, 1986 lewat Ibunda, dan 1989 lewat Pacar Ketinggalan Kereta). Hampir sebanyak gelar yang diraihnya sebagai Sutradara Terbaik, hanya Ranjang Pengantin dikalahkan oleh Senyum di Pagi Bulan Desember pada tahun 1975.

Pemenang dan nominasi

Di bawah ini adalah daftar penerima penghargaan Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia sejak tahun 1955. Mulai tahun 1979, judul film pemenang diikuti nominasi film terbaik lainnya. Kategori Film Terbaik pada tahun 2006 tetap dimasukkan, meskipun terjadi pembatalan pemenang kategori ini pada tahun tersebut, untuk menghargai karya para nominator yang lain.[7]

  menandakan pemenang

1950–an

Tahun Film Produser Sutradara Ref
1955
(Ke-1)
Lewat Djam Malam Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik Usmar Ismail
Tarmina Persani Lilik Sudjio

1960–an

Tahun Film Produser Sutradara Ref
1960
(Ke-2)
Turang Abubakar Abdy Bachtiar Siagian
1967
(Ke-3)
TIDAK ADA PEMENANG

1970–an

Tahun Film Produser Sutradara Ref
1973
(Ke-4)
Perkawinan Annie Mambo Wim Umboh
1974
(Ke-5)
Cinta Pertama Sevihara Soedjarwo, Hatoek Soebroto dan Wiryo Wibowo Teguh Karya
Si Mamad Sjumandjaja Sjumandjaja
1975
(Ke-6)
Senyum di Pagi Bulan Desember Wim Umboh Wim Umboh
1976
(Ke-7)
Cinta Wim Umboh Wim Umboh
1977
(Ke-8)
TIDAK ADA PEMENANG
1978
(Ke-9)
Jakarta Jakarta Hasrat Djoeir Ami Prijono
1979
(Ke-10)
November 1828 Njoo Han Siang, Ronald Lolang dan Hendrick Gozali Teguh Karya
Binalnya Anak Muda Ronald Lolang Ismail Soebardjo
Gara-Gara Isteri Muda Hasrat Djoeir Wahyu Sihombing
Kemelut Hidup H. Sinaulan Asrul Sani
Pengemis dan Tukang Becak Hakim Mansun Wim Umboh

1980–an

Tahun Film Produser Sutradara Ref
1980
(Ke-11)
Perawan Desa Bucuk Suharto Frank Rorimpandey
Harmonikaku Gufran Dwipayana Arifin C. Noer
Rembulan dan Matahari Wiryo Wibowo dan Hendrick Gozali Slamet Rahardjo
Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa Gufran Dwipayana Arifin C. Noer
1981
(Ke-12)
Perempuan dalam Pasungan Hendrick Gozali Ismail Soebardjo
Gadis Penakluk Hendrick Gozali Edward Pesta Sirait
Para Perintis Kemerdekaan Taty Widodo Asrul Sani
Usia 18 Hendrick Gozali, Njoo Han Siang dan A. Sugiyanto Teguh Karya
1982
(Ke-13)
Serangan Fajar Gufran Dwipayana Arifin C. Noer
Bawalah Aku Pergi Jiwa K.K M.T. Risyaf
Jangan Ambil Nyawaku Bambang Widitomo, Hendrick Gozali Sophan Sophiaan
1983
(Ke-14)
Di Balik Kelambu Manu Sukmajaya Teguh Karya
R.A. Kartini Harris Lasmana Sjumandjaja
Roro Mendut Hatoek Subroto, J. Adisubrata, Tirto Yuwono Ami Prijono
Titian Serambut Dibelah Tujuh Soemardjono Chaerul Umam
1984
(Ke-15)
TIDAK ADA PEMENANG
Ponirah Terpidana Manu Sukmajaya, A. Gunawan Slamet Rahardjo
Budak Nafsu Ram Soraya Sjumandjaja
Pengkhianatan G30S/PKI Gufran Dwipayana Arifin C. Noer
Sunan Kalijaga Taruna Sutjiutama, T.K. Gunawan Prihatna, Wirjaatmaja Ngadiman Sofyan Sharna
Yang, Terlarang Tersayang J. Adisubrata, Th A. Budi Susilo Ami Prijono
1985
(Ke-16)
Kembang Kertas Harris Lasmana Slamet Rahardjo
Doea Tanda Mata Budi Prakoso Teguh Karya
Kerikil-Kerikil Tajam Jiwa KK Sjumandjaja
Secangkir Kopi Pahit Manu Sukmajaya Teguh Karya
Serpihan Mutiara Retak Ferry Angriawan Wim Umboh
1986
(Ke-17)
Ibunda R. Soenarso Teguh Karya
Bila Saatnya Tiba Handi Muljono Edward Pesta Sirait
Kejarlah Daku... Kau Kutangkap Bustal Nawawi Chaerul Umam
Matahari-Matahari Th A. Budi Susilo, J. Adisubrata Arifin C. Noer
Opera Jakarta Th A. Budi Susilo, J. Adisubrata Sjumandjaja
1987
(Ke-18)
Nagabonar Bustal Nawawi M.T. Risyaf
Arini, Masih Ada Kereta yang akan Lewat Bambang Widitomo, Hatoek Soebroto Sophan Sophiaan
Biarkan Bulan Itu Gope T. Samtani Arifin C. Noer
Cintaku di Rumah Susun Dhamoo Punjabi, Raam Punjabi, Gobind Punjabi Nya' Abbas Akup
Kodrat Arifin Yacob Slamet Rahardjo
1988
(Ke-19)
Tjoet Nja' Dhien Alwin Abdullah, Alwin Alfin dan Sugeng Djarot Erros Djarot
Ayahku Budiyati Abiyoga Misbach Yusa Biran
Istana Kecantikan Gunawan Prihatna T.K Wahyu Sihombing
1989
(Ke-20)
Pacar Ketinggalan Kereta Irwan Usmar Ismail Teguh Karya
Noesa Penida Budiyati Abiyoga Galeb Husein
Semua Sayang Kamu Puji Agung Ida Farida
Si Badung Handi Muljono Imam Tantowi
Tragedi Bintaro Bucuk Suharto Buce Malawau

1990–an

Tahun Film Produser Sutradara Ref
1990
(Ke-21)
Taksi Manu Sukmajaya Arifin C. Noer
Cas Cis Cus: Sonata di Tengah Kota Budiyati Abiyoga Putu Wijaya
Joe Turun ke Desa Ferry Angriawan Chaerul Umam
Langitku Rumahku Erros Djarot, Doddy Sukasah Slamet Rahardjo
Sesaat dalam Pelukan Raam Punjabi Sophan Sophiaan
1991
(Ke-22)
Cinta dalam Sepotong Roti Budiyati Abiyoga Garin Nugroho
Lagu Untuk Seruni Samiadji, FSM Labbes Widar
Langit Kembali Biru Hasrat Djoeir Dimas Haring, S. Dias Ximenes
Potret — Buce Malawau
Soerabaia 45 Jeffry Hassan Imam Tantowi
1992
(Ke-23)
Ramadhan dan Ramona Jamal Mirdad Chaerul Umam
Bibir Mer Jimmy Harianto Arifin C. Noer
Kuberikan Segalanya August Purwanto Eka Galeb Husein
Nada dan Dakwah Hasrat Djoeir Chaerul Umam
Plong (Naik Daun) Budiyati Abiyoga Putu Wijaya

2000–an

Tahun Film Produser Sutradara Ref
2004
(Ke-24)
Arisan! Nia Dinata Nia Dinata [8][9]
Ada Apa dengan Cinta? Mira Lesmana, Riri Riza Rudi Soedjarwo
Eliana, Eliana Mira Lesmana Riri Riza
Marsinah, Cry Justice Gusti Randa Slamet Rahardjo
Pasir Berbisik Shanty Harmayn, Christine Hakim, Ueda Makoto, Harris Lasmana Nan Achnas
2005
(Ke-25)
Gie Mira Lesmana Riri Riza [10]
Brownies Leo Sutanto Hanung Bramantyo
Janji Joni Nia Dinata Joko Anwar
Ketika Deddy Mizwar Deddy Mizwar
Virgin Chand Parwez Servia Hanny R. Saputra
2006
(Ke-26)
Ekskul
(DIBATALKAN)
Shanker R. S. Nayato Fio Nuala [11]
Denias, Senandung di Atas Awan Nia Zulkarnaen, Ari Sihasale John De Rantau
Heart Chand Parwez Servia Hanny R. Saputra
Mendadak Dangdut Leo Sutanto, Elly Yanti Noor Rudi Soedjarwo
Ruang Teddy Soeriaatmadja, Johnny Jonathan Teddy Soeriaatmadja
2007
(Ke-27)
Nagabonar Jadi 2 Tyas Abiyoga Deddy Mizwar [12][13]
Get Married Chand Parwez Servia Hanung Bramantyo
Kamulah Satu-satunya Daniel Rahmat, Reza Hidayat, Vena Annisa
Mengejar Mas Mas Lala Hamid Rudi Soedjarwo
Merah Itu Cinta Gope T. Samtani, Soebagio Samtani Rako Prijanto
2008
(Ke-28)
fiksi. Parama Wirasmo, Tia Hasibuan dan Sapto Soetarjo Mouly Surya [14][15]
3 Doa 3 Cinta Nan Achnas, Nurman Hakim, Adiyanto Sumarjono Nurman Hakim
Claudia/Jasmine Delon Tio Awi Suryadi
May Heru Winanto Viva Westi
Under the Tree Garin Nugroho, Dinna Jasanti Garin Nugroho
2009
(Ke-29)
Identitas Choky Situmorang Aria Kusumadewa [16]
Jamila dan Sang Presiden Raam Punjabi, Ratna Sarumpaet Ratna Sarumpaet
Mereka Bilang, Saya Monyet! Djenar Maesa Ayu, Riyadh Assegaf Djenar Maesa Ayu
Perempuan Berkalung Sorban Chand Parwez Servia Hanung Bramantyo
Ruma Maida P. Setiono, Teddy Soeriaatmadja Teddy Soeriaatmadja

2010–an

Tahun Film Produser Sutradara Ref
2010
(Ke-30)
3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta Putut Widjanarko Benni Setiawan [17]
7 Hati 7 Cinta 7 Wanita Intan Kieflie Razka Robby Ertanto
Alangkah Lucunya (Negeri Ini) Zairin Zain Deddy Mizwar
I Know What You Did on Facebook Shanker R. S. Awi Suryadi
Minggu Pagi di Victoria Park Sabrang Mowo Damar Panuluh Lola Amaria
2011
(Ke-31)
Sang Penari Shanty Harmayn Ifa Isfansyah [18]
? (Tanda Tanya) Celerina Judisari, Hanung Bramantyo Hanung Bramantyo
Masih Bukan Cinta Biasa Nadly Nazar Haroen Benni Setiawan
Tendangan dari Langit Leo Sutanto Hanung Bramantyo
The Mirror Never Lies Asaf Antariksa, Anastasia Rina, Wiwid Setya, Gita Fara, Garin Nugroho, Nadine Chandrawinata Kamila Andini
2012
(Ke-32)
Tanah Surga... Katanya Deddy Mizwar, Gatot Brajamusti dan Bustal Nawawi Herwin Novianto [19]
Demi Ucok Sammaria Simanjuntak Sammaria Simanjuntak
Lovely Man Millan Rushan, Doddy M Husna, Teddy Soeriaatmadja, Indra Tamoron Musu Teddy Soeriaatmadja
Rumah di Seribu Ombak Erwin Arnada, Eko Kristianto Erwin Arnada
Soegija Djaduk Ferianto, Murti Hadi Wijayanto S.J., Tri Giovanni Garin Nugroho
2013
(Ke-33)
Sang Kiai Gope T. Samtani Rako Prijanto [20]
5 cm Sunil Soraya Rizal Mantovani
Belenggu H.B. Naveen, Frederica Upi Avianto
Habibie & Ainun Dhamoo Punjabi, Manoj Punjabi Faozan Rizal
Laura & Marsha Leni Lolang Dinna Jasanti
2014
(Ke-34)
Cahaya dari Timur: Beta Maluku Glenn Fredly dan Angga Dwimas Sasongko Angga Dwimas Sasongko [21]
3 Nafas Likas Riahna Djamin Ginting, Reza Hidayat Rako Prijanto
Sebelum Pagi Terulang Kembali Abduh Aziz Lasja F. Susatyo
Soekarno Raam Punjabi Hanung Bramantyo
Sokola Rimba Mira Lesmana Riri Riza
2015
(Ke-35)
Siti Ifa Isfansyah Eddie Cahyono [22]
A Copy of My Mind Joko Anwar Joko Anwar
Guru Bangsa: Tjokroaminoto Christine Hakim, Dewi Umaya Rachman, Sabrang Mowo Damar Panuluh, Didi Petet, Nayaka Untara, Ari Syar Garin Nugroho
Mencari Hilal Raam Punjabi, Putut Widjanarko, Salman Aristo Ismail Basbeth
Toba Dreams Rizaludin Kurniawan Benni Setiawan
2016
(Ke-36)
Athirah Mira Lesmana Riri Riza [23]
Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara Hamdani Koestoro Herwin Novianto
Rudy Habibie Manoj Punjabi Hanung Bramantyo
Salawaku Ray Zulham, Michael Julius Pritagita Arianegara
Surat dari Praha Angga Dwimas Sasongko, Anggia Kharisma, Handoko Hendroyono, Chicco Jerikho Angga Dwimas Sasongko
2017
(Ke-37)
Night Bus Darius Sinathrya dan Teuku Rifnu Wikana Emil Heradi [24]
Cek Toko Sebelah Chand Parwez Servia, Fiaz Servia Ernest Prakasa
Kartini Robert Ronny Hanung Bramantyo
Pengabdi Setan Gope T. Samtani Joko Anwar
Posesif Muhammad Zaidy, Meiske Taurisia Edwin
2018
(Ke-38)
Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak Rama Adi dan Fauzan Zidni Mouly Surya [25]
Aruna dan Lidahnya Muhammad Zaidy, Mieke Taurisia Edwin
Sekala Niskala Gita Fara, Ifa Isfansyah Kamila Andini
Sultan Agung: Tahta, Perjuangan dan Cinta B.R.A. Mooryati Soedibyo, R.A. Putri Kuswisnuwardhani, Haryo Tedjo Baskoro Hanung Bramantyo, X. Jo
2019
(Ke-39)
Kucumbu Tubuh Indahku Ifa Isfansyah Garin Nugroho [26]
27 Steps of May Wilza Lubis, Rayya Makarim, Ravi L. Bharwani Ravi L. Bharwani
Bumi Manusia Frederica Hanung Bramantyo
Dua Garis Biru Chand Parwez Servia, Fiaz Servia Gina S. Noer
Keluarga Cemara Anggia Kharisma, Gina S. Noer Yandy Laurens

2020–an

Tahun Film Produser Sutradara Ref
2020
(Ke-40)
Perempuan Tanah Jahanam Shanty Harmayn, Tia Hasibuan, Aoura Lovenson dan Ben Soebiakto Joko Anwar [27]
Hiruk-Pikuk si Al-Kisah Arya Sweta, Edwin Nazir, Yosep Anggi Noen, Yulia Evina Bhara Yosep Anggi Noen
Humba Dreams Mira Lesmana Riri Riza
Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan Chand Parwez Servia, Fiaz Servia Ernest Prakasa
Mudik Perlita Desiani Adriyanto Dewo
Susi Susanti: Love All Daniel Mananta, Reza Hidayat, Guillaume Catala Sim F
2021
(Ke-41)
Penyalin Cahaya Adi Ekatama dan Ajish Dibyo Wregas Bhanuteja [28]
Ali & Ratu Ratu Queens Muhammad Zaidy, Meiske Taurisia Lucky Kuswandi
Bidadari Mencari Sayap Deddy Mizwar Aria Kusumadewa
Cinta Bete Muspita Leni Lolang Roy Lolang
Paranoia Mira Lesmana Riri Riza
Preman Randolph Zaini, Ryan Ricardo Randolph Zaini
Yuni Ifa Isfansyah, Chand Parwez Servia Kamila Andini
2022
(Ke-42)
Before, Now & Then (Nana) Ifa Isfansyah dan Gita Fara Kamila Andini [29]
Autobiography Yulia Evina Bhara Makbul Mubarak
Mencuri Raden Saleh Cristian Imanuell Angga Dwimas Sasongko
Ngeri-Ngeri Sedap Dipa Andika Bene Dion Rajagukguk
Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Muhammad Zaidy, Meiske Taurisia Edwin
2023
(Ke-43)
Women From Rote Island Rizka Shakira Jeremias Nyangoen [30]
24 Jam Bersama Gaspar Cristian Imanuell dan Yulia Evina Bhara Yosep Anggi Noen
Budi Pekerti Adi Ekatama, Ridla An-Nuur, Willawati dan Nurita Anandia W. Wregas Bhanuteja
Like & Share Chand Parwez Servia dan Gina S. Noer Gina S. Noer
Sleep Call Susanti Dewi Fajar Nugros
2024
(Ke-44)
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film Ernest Prakasa dan Suryana Paramita Yandy Laurens
Crocodile Tears Mandy Marahimin Tumpal Tampubolon
Kabut Berduri Muhammad Zaidy dan Meiske Taurisia Edwin
Samsara Batara Goempar, Gita Fara, Aldo Swastia dan Rai Pendet Garin Nugroho
Siksa Kubur Tia Hasibuan Joko Anwar
2025
(Ke-45)
Pangku Arya Ibrahim dan Gita Fara Reza Rahadian
Jumbo Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari Ryan Adriandhy
Pengepungan di Bukit Duri Joko Anwar dan Tia Hasibuan Joko Anwar
Perang Kota Rama Adi, Chand Parwez Servia, Fauzan Zidni dan Tutut Kolopaking Mouly Surya
Sore: Istri dari Masa Depan Suryana Paramita Yandy Laurens

Lihat pula

  • Daftar Film Indonesia

Referensi

  1. ↑ "40 Film Berebut Piala Citra". Pos Kota. 11 November 2009. Diarsipkan dari asli tanggal 13 Desember 2009. Diakses tanggal 11 Juli 2010.
  2. ↑ Apa Siapa Orang Film Indonesia. Jakarta: Departemen Penerangan Republik Indonesia. 1999. hlm. 60. OCLC 44427179.
  3. ↑ Triyanisya (6 Desember 2014). ""Cahaya dari Timur: Beta Maluku" Sabet Piala FFI 2014". Metrotvnews.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-10-18. Diakses tanggal 7 Desember 2014.
  4. ↑ "Citra 'Ekskul' Dicabut Kembali" [Citra for 'Ekskul' Revoked]. Merdeka.com. 29 Juni 2007. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-03-30. Diakses tanggal 30 Maret 2013.
  5. ↑ https://www.liputan6.com/regional/read/5454760/5-fakta-film-women-from-rote-island-berhasil-sapu-bersih-piala-ffi-2023. ;
  6. ↑ https://ameera.republika.co.id/berita/t4fao9425/jumbo-jadi-film-animasi-pertama-yang-masuk-nominasi-film-terbaik-di-ffi-2025. ;
  7. ↑ Kristianto, JB (2 Juli 2005). "Sepuluh Tahun Terakhir Perfilman Indonesia". Kompas.com. Diarsipkan dari asli tanggal 13 Januari 2008. Diakses tanggal 31 Oktober 2016.
  8. ↑ Erlin (12 Desember 2004). "'ARISAN' Film Terbaik FFI 2004". Kapanlagi.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-02-26. Diakses tanggal 21 Maret 2008.
  9. ↑ "'Arisan!' Film Terbaik FFI 2004". Tempo.co. Tempo Interaktif. 11 Desember 2004. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-03-19. Diakses tanggal 21 Maret 2008.
  10. ↑ Pattisina, Edna C. (16 Desember 2005). "Gie Film Terbaik". Kompas.com. Diarsipkan dari asli tanggal 12 Maret 2007. Diakses tanggal 29 Desember 2006.
  11. ↑ Kristianto, JB (2 Juli 2005). "Sepuluh Tahun Terakhir Perfilman Indonesia". Kompas.com. Diarsipkan dari asli tanggal 13 Januari 2008. Diakses tanggal 31 Oktober 2016.
  12. ↑ "NAGABONAR JADI 2 Borong Penghargaan FFI 2007". Kapanlagi.com. 15 Desember 2007. Diarsipkan dari asli tanggal 17 Desember 2007. Diakses tanggal 17 Desember 2007.
  13. ↑ "'Naga Bonar' Borong 5 Piala FFI 2007". detikcom. 15 Desember 2007. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-04-30. Diakses tanggal 15 Desember 2007.
  14. ↑ Sidik, Jafar M. (13 Desember 2008). Sidik, Jafar M (ed.). ""Fiksi" Film Terbaik FFI 2008". ANTARA News. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-05-03. Diakses tanggal 15 Desember 2008.
  15. ↑ "'Fiksi' Film Terbaik FFI 2008". Republika. 14 Desember 2008. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-03-19. Diakses tanggal 14 Desember 2008.
  16. ↑ Ariwibowo, AA, ed. (6 Desember 2009). "Panitia FFI 2009 Umumkan Nominasi Film Terbaik". ANTARA News. Diarsipkan dari asli tanggal 2009-12-08. Diakses tanggal 12 Desember 2009.
  17. ↑ Yanuar, Elang Riki (6 Desember 2010). "Inilah Daftar Pemenang FFI 2010". Okezone.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-05-08. Diakses tanggal 7 Desember 2010.
  18. ↑ "Daftar Lengkap Nominasi FFI 2011". Okezone.com. 28 November 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-05-08. Diakses tanggal 28 November 2011.
  19. ↑ "Inilah Nominasi FFI 2012". Yahoo!. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-01-23. Diakses tanggal 28 November 2012.
  20. ↑ "Inilah Nominasi FFI 2013". Republika. 22 November 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-05-07. Diakses tanggal 28 November 2013.
  21. ↑ Meodia, Arindra. Suryanto (ed.). "Ini dia nominasi Festival Film Indonesia 2014". ANTARA News. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-20. Diakses tanggal 8 Desember 2014.
  22. ↑ Adzani, Fadli (24 November 2015). "'Siti': Film Terbaik FFI 2015". CNN Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-03-19. Diakses tanggal 25 November 2015.
  23. ↑ Effendi, Ahmat (7 November 2016). "Ini Dia Deretan Pemenang Festival Film Indonesia (FFI) 2016". Kapanlagi.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-10-05. Diakses tanggal 7 November 2016.
  24. ↑ Afrisia, Rizky Sekar (12 November 2017). "Daftar Lengkap Pemenang Piala Citra FFI 2017". CNN Indonesia. CNN Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-04-04. Diakses tanggal 12 November 2017. ;
  25. ↑ firmansyah, wahyu (10 November 2018). Wardhani, Anita K (ed.). "Film Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak Tercatat sebagai Peraih Nominasi Terbanyak di FFI 2018". Tribunnews.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-03-28. Diakses tanggal 10 November 2018. ;
  26. ↑ "Daftar Lengkap Pemenang Piala Citra FFI 2019". CNN Indonesia. 8 Desember 2019. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-07-06. Diakses tanggal 8 Desember 2019.
  27. ↑ Asih, Ratnaning (8 November 2020). Rusmitantri, Telni (ed.). "Daftar Nominasi FFI 2020, Perempuan Tanah Jahanam Muncul di Mayoritas Kategori". Liputan6.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-05-27. Diakses tanggal 5 Desember 2020.
  28. ↑ Riandi, Ady Prawira (10 Oktober 2021). Setuningsih, Novianti (ed.). "Daftar Lengkap Nominasi Festival Film Indonesia 2021". Kompas.com. Diakses tanggal 11 Oktober 2021.
  29. ↑ https://www.kompas.com/hype/read/2022/11/22/224149866/daftar-lengkap-pemenang-piala-citra-ffi-2022?page=all.
  30. ↑ Riandi, Ady Prawira (10 Oktober 2022). Setuningsih, Novianti (ed.). "Daftar Lengkap Nominasi Festival Film Indonesia 2022". Kompas.com. Diakses tanggal 11 Oktober 2022.
  • l
  • b
  • s
Film Cerita Panjang Terbaik (Festival Film Indonesia)
1950-an
hingga
1970-an
  • Lewat Djam Malam & Tarmina (1955)
  • Turang (1960)
  • Perkawinan (1973)
  • Cinta Pertama & Si Mamad (1974)
  • Senyum di Pagi Bulan Desember (1975)
  • Cinta (1976)
  • Jakarta Jakarta (1978)
  • November 1828 (1979)
1980-an
  • Perawan Desa (1980)
  • Perempuan dalam Pasungan (1981)
  • Serangan Fajar (1982)
  • Di Balik Kelambu (1983)
  • Kembang Kertas (1985)
  • Ibunda (1986)
  • Nagabonar (1987)
  • Tjoet Nja' Dhien (1988)
  • Pacar Ketinggalan Kereta (1989)
1990-an
  • Taksi (1990)
  • Cinta dalam Sepotong Roti (1991)
  • Ramadhan dan Ramona (1992)
2000-an
  • Arisan! (2004)
  • Gie (2005)
  • Ekskul (dibatalkan) (2006)
  • Nagabonar Jadi 2 (2007)
  • fiksi. (2008)
  • Identitas (2009)
2010-an
  • 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta (2010)
  • Sang Penari (2011)
  • Tanah Surga... Katanya (2012)
  • Sang Kiai (2013)
  • Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014)
  • Siti (2015)
  • Athirah (2016)
  • Night Bus (2017)
  • Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak (2018)
  • Kucumbu Tubuh Indahku (2019)
2020-an
  • Perempuan Tanah Jahanam (2020)
  • Penyalin Cahaya (2021)
  • Before, Now & Then (Nana) (2022)
  • Women from Rote Island (2023)
  • Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2024)
  • Pangku (2025)
Menurut subyek: Film · Sutradara · Aktor · Aktris · Aktor pendukung · Aktris pendukung · Skenario · Cerita Asli · Skenario Asli · Skenario Adaptasi · Tata Sinematografi · Tata Artistik · Penyuntingan · Tata Suara Tata Musik · Film Dokumenter · Film Pendek · Penghargaan khusus
  • l
  • b
  • s
Festival Film Indonesia
  • 1955
  • 1960
  • 1967
  • 1973
  • 1974
  • 1975
  • 1976
  • 1977
  • 1978
  • 1979
  • 1980
  • 1981
  • 1982
  • 1983
  • 1984
  • 1985
  • 1986
  • 1987
  • 1988
  • 1989
  • 1990
  • 1991
  • 1992
  • 2004
  • 2005
  • 2006
  • 2007
  • 2008
  • 2009
  • 2010
  • 2011
  • 2012
  • 2013
  • 2014
  • 2015
  • 2016
  • 2017
  • 2018
  • 2019
  • 2020
  • 2021
  • 2022
  • 2023
  • 2024
  • 2025
Category Kategori
Film Cerita Panjang Terbaik Festival Film Indonesia</span>"}]]}' id="mwCiE"/>

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Pemenang dan nominasi
  2. 1950–an
  3. 1960–an
  4. 1970–an
  5. 1980–an
  6. 1990–an
  7. 2000–an
  8. 2010–an
  9. 2020–an
  10. Lihat pula
  11. Referensi

Artikel Terkait

Festival Film Indonesia

penghargaan tahunan bagi insan perfilman Indonesia

Film Dokumenter Terbaik Festival Film Indonesia

Film Dokumenter Terbaik mulai diberikan pada Festival Film Indonesia 2006. Pada tahun 2013, kategori tersebut dipecah menjadi dua kategori untuk Film

Festival Film Indonesia 2017

penghargaan ke-37 Festival Film Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026