Jumbo adalah film animasi fantasi petualangan Indonesia tahun 2025 yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy dalam debut penyutradaraannya. Film ini dibintangi oleh Prince Poetiray, Yusuf Özkan, dan Graciella Abigail. Berkisah tentang Don, seorang anak laki-laki yang berusaha mementaskan sebuah pertunjukan teater dalam sebuah ajang bakat lokal setelah merasa diremehkan oleh teman-temannya. Jumbo tayang perdana di bioskop Indonesia pada 31 Maret 2025. Pada 1 Juni 2025, film ini sempat menjadi film Indonesia dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa sebelum akhirnya dikalahkan oleh Agak Laen: Menyala Pantiku! pada 2 Januari 2026.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Jumbo | |
|---|---|
Poster rilis di bioskop | |
| Sutradara | Ryan Adriandhy |
| Produser |
|
| Skenario |
|
| Cerita | Ryan Adriandhy |
| Pemeran | |
| Penata musik | Ofel Obaja |
| Sinematografer | Arnand Pratikto |
| Penyunting | Teguh Raharjo |
Perusahaan produksi | |
| Distributor |
|
Tanggal rilis |
|
| Durasi | 102 menit |
| Negara | Indonesia |
| Bahasa | Bahasa Indonesia |
Pendapatan kotor | ±Rp380 miliar[1][2] |
Jumbo adalah film animasi fantasi petualangan Indonesia tahun 2025 yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy dalam debut penyutradaraannya. Film ini dibintangi oleh Prince Poetiray, Yusuf Özkan, dan Graciella Abigail. Berkisah tentang Don, seorang anak laki-laki yang berusaha mementaskan sebuah pertunjukan teater dalam sebuah ajang bakat lokal setelah merasa diremehkan oleh teman-temannya.[3] Jumbo tayang perdana di bioskop Indonesia pada 31 Maret 2025.[4] Pada 1 Juni 2025, film ini sempat menjadi film Indonesia dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa sebelum akhirnya dikalahkan oleh Agak Laen: Menyala Pantiku! pada 2 Januari 2026.[5]
Jumbo berhasil mengalahkan Frozen 2 sebagai film animasi dengan pendapatan tertinggi di Indonesia.[6]
Mengisahkan seorang anak yatim piatu berusia 10 tahun bernama Don. Ia sering diremehkan karena memiliki tubuh yang besar. Don mempunyai sebuah buku dongeng warisan orang tuanya, yang penuh ilustrasi dan cerita ajaib. Buku tersebut bukan hanya kenang-kenangan, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan pelarian bagi Don dari dunia yang terasa tidak ramah karena kerap diremehkan oleh teman-temannya.[7]
Don berupaya membuktikan kemampuannya dengan mengikuti sebuah pertunjukan bakat, yang mana ia berencana menampilkan sandiwara panggung yang terinspirasi dari buku cerita peninggalan orang tuanya. Namun, seorang temannya mencuri buku tersebut, membuatnya putus asa. Beruntungnya, Don selalu mendapat dukungan dari Oma dan sahabat-sahabatnya, Nurman dan Mae. Di tengah keputusasaan, Don bertemu dengan Meri (bidadari cilik misterius) yang meminta bantuannya untuk menemukan orang tuanya. Ia pun berupaya untuk mendapatkan kembali buku warisannya itu. Pertemuan ini mengawali petualangan penuh keajaiban pun dimulai, mengubah pandangan Don terhadap dirinya sendiri mengajarkan arti persahabatan sejati, keberanian, dan kepercayaan diri dan mempererat tali persahabatan yang baru terbentuk.[8]
Berikut adalah sejumlah karakter dalam film Jumbo beserta pengisi suaranya.[9]
Jumbo diproduksi oleh Visinema Studios bekerja sama dengan Springboard Entertainment dan Anami Films.
Produksi Jumbo dimulai pada April 2020.[25] Visinema Pictures mengumumkan bahwa produksi film telah dimulai pada September 2021.[26] Karya ini disutradarai oleh komedian sekaligus animator Ryan Adriandhy, dan diproduksi bersama 200 kreator selama 5 tahun.[27] Pada November 2021, Visinema Pictures merilis tampilan pertama film ini.[28] Pada September 2022, penyanyi Ariel diumumkan akan mengisi suara ayah Don.[29] Film ini diproyeksikan untuk rilis pada tahun 2023.[30] Sebuah cuplikan eksklusif Jumbo diputar di Festival Film Asia Jogja-NETPAC ke-19 pada 4 Desember 2024.[9] Keseluruhan proses produksi film Jumbo melibatkan berbagai pihak, meliputi:[31]
Jumbo tayang perdana di bioskop Indonesia pada 31 Maret 2025. Film ini berhasil memperoleh satu juta penonton pada hari ke-tujuh penayangan sehingga menjadikannya film Indonesia terlaris pada tahun 2025 sekaligus film animasi Indonesia terlaris sepanjang masa.[48] Selanjutnya, film ini sukses meraih lebih dari dua juta penonton pada hari ke-11 dan tembus empat juta penonton pada hari ke-15.[49][50] Jumbo menjadi film animasi produksi Asia Tenggara dengan pendapatan tertinggi, lebih dari $8 juta, mengalahkan film tahun 2022, Mechamato Movie produksi Malaysia.[51] Pada hari ke-19 penayangan, Jumbo berhasil melampaui jumlah penonton Frozen 2 sekaligus menjadi film animasi terlaris di Indonesia sepanjang masa.[52]
Film ini berhasil melampaui KKN di Desa Penari sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa setelah meraih lebih dari 10,08 juta penonton.[53] Berkat kesuksesannya, film yang disutradarai Ryan Adriandhy ini ditayangkan juga di beberapa negara, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Rusia, Ukraina, negara-negara Baltik dan Asia Tengah pada Juni 2025.[54] Jumbo dapat ditonton melalui Netflix mulai 25 Desember 2025.[55] Pada 18 Februari 2026, film ini kembali tayang di Korea Selatan sebagai bagian dari ekspansi distribusi di Asia Timur. Penayangan tersebut menandai langkah penting bagi animasi Indonesia dalam menembus pasar perfilman Korea Selatan.[56]
| No. | Judul | Penampil | Pencipta | Durasi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | "Kumpul Bocah" | Maliq & D'Essentials | Dodo Zakaria | 4:15 |
| 2 | "Selalu Ada di Nadimu" | Prince Poetiray & Quinn Salman | Arya Aditya Ramadhya, Ilman Ibrahim Isa & Anindyo Baskoro | 2:54 |
| 3 | Bunga Citra Lestari | 4:41 | ||
| 4 | Dengar Hatimu | Prince Poetiray & Quinn Salman | Ifa Fachir & Simhala Avadana | 2:54 |
Film ini telah memicu perdebatan di kalangan orang tua dan kritikus film, terutama terkait dengan adegan yang dianggap kurang sesuai untuk anak. Salah satu aspek yang menuai kritik adalah adanya adegan komunikasi dengan hantu melalui radio, yang menurut sebagian orang tua dapat membingungkan anak dan mendorong mereka untuk memercayai hal-hal yang tidak realistis. Beberapa orang tua merasa bahwa film ini tidak sepenuhnya cocok untuk anak di bawah usia enam tahun karena elemen fantasi yang dianggap terlalu ekstrem. Mereka berpendapat bahwa anak pada usia tersebut masih dalam tahap perkembangan kognitif yang membuat mereka sulit membedakan antara realitas dan imajinasi. Mereka khawatir bahwa adegan seperti komunikasi dengan hantu dapat memengaruhi cara berpikir anak dan menimbulkan pertanyaan yang sulit dijawab oleh orang tua.[57]
| Tahun | Penghargaan | Kategori | Penerima | Hasil | Ref. |
|---|---|---|---|---|---|
| 2025 | Festival Film Bandung | Film Indonesia Terpuji | Jumbo | Nominasi | [58][59] |
| Sutradara Terpuji Film Indonesia | Ryan Adriandhy | ||||
| Penulis Skenario Terpuji Film Indonesia | Ryan Adriandhy & Widya Arifianti | Menang | |||
| Penghargaan Khusus Film Animasi Inspiratif | Jumbo | Penerima | |||
| Cinemags Awards | Sutradara Terfavorit | Ryan Adriandhy | Nominasi | ||
| Pendatang Baru Terfavorit | Quinn Salman | ||||
| Prince Poetiray | |||||
| Anugerah Musik Indonesia | Album Film Scoring Terbaik | Jumbo: Music from the Motion Picture | Menang | ||
| Karya Produksi Original Soundtrack Terbaik | "Kumpul Bocah" oleh Maliq & D'Essentials | Nominasi | |||
| "Selalu Ada di Nadimu" oleh Prince Poetiray & Quinn Salman | Menang | ||||
| Karya Produksi Terbaik-Terbaik | "Selalu Ada di Nadimu" oleh Prince Poetiray &Quinn Salman | Nominasi | |||
| Pendatang Baru Terbaik-Terbaik | "Selalu Ada di Nadimu" oleh Prince Poetiray | Menang | |||
| Duo/Grup Pop Terbaik | "Kumpul Bocah" oleh Maliq & D'Essentials | Nominasi | |||
| Duo/Grup/Kolaborasi Anak-Anak Terbaik | "Selalu Ada di Nadimu" oleh Prince Poetiray & Quinn Salman | Menang | |||
| Pencipta Lagu Anak-Anak Terbaik | Ifa Fachir & Simhala Avadana ("Dengar Hatimu") | Nominasi | |||
| Anindyo Baskoro, Arya Aditya Ramadhya & Ilman Ibrahim Isa ("Selalu Ada Di Nadimu") | Menang | ||||
| Penata Lagu Anak-Anak Terbaik | Ifa Fachir ("Dengar Hatimu") | Nominasi | |||
| laleilmanino ("Selalu Ada di Nadimu") | |||||
| Karya Produksi Kolaborasi Terbaik | "Selalu Ada di Nadimu" oleh Prince Poetiray & Quinn Salman | ||||
| Produser Rekaman Terbaik | laleilmanino ("Selalu Ada di Nadimu") | ||||
| Festival Film Indonesia | Film Cerita Panjang Terbaik | Jumbo | |||
| Sutradara Terbaik | Ryan Adriandhy | ||||
| Pencipta Lagu Tema Terbaik | Anindyo Baskoro, Arya Aditya Ramadhya, Ilman Ibrahim Isa - Laleilmanino("Selalu Ada Di Nadimu") | ||||
| Ifa Fachir dan Simhala Avadana ("Dengar Hatimu") | |||||
| Penata Musik Terbaik | Ofel Obaja | ||||
| Film Animasi Panjang Terbaik | Jumbo | Menang | |||
| Penulis Skenario Asli Terbaik | Ryan Adriandhy & Widya Arifianti | Nominasi | |||
| Film Pilihan Penonton | Jumbo | ||||
| Film Terlaris (Piala Antemas) | Penerima | ||||
| Indonesian Movie Actors Awards | Film Terfavorit | Nominasi | |||
| Indonesian Music Awards | Song of the Year | "Selalu Ada di Nadimu" oleh Prince Poetiray & Quinn Salman | |||
| Collaboration of the Year | |||||
| Tiktok Awards Indonesia | Entertainment Show of the Year | Jumbo | Menang |