PT Putera Mulya Sejahtera adalah sebuah perusahaan otobus Indonesia yang berasal dari Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Anak usaha dari PT Timur Terang Transindo, perusahaan bus ini melayani jasa angkutan bus antarkota dengan rute dari Kota Surakarta menuju DKI Jakarta. Kantor pusatnya terletak di Jalan Raya Ngadirojo, Wonogiri, Jawa Tengah.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Induk | PT Timur Terang Transindo |
|---|---|
| Didirikan | 1985 (1985) |
| Terakhir beroperasi | 16 Desember 2022 (2022-12-16) (AKAP) |
| Kantor pusat | Jalan Raya Ngadirojo, Ngadirojo, Wonogiri, Jawa Tengah, Indonesia |
| Wilayah layanan | Jawa |
| Jenis layanan | Bus antarkota |
| Ruang tunggu | Eksekutif, VIP |
| Jenis bahan bakar | Diesel |
| Direktur Utama | Glenn Adiprana Widodo (w. 2021) |
| Situs web | puteramulya.co.id |
PT Putera Mulya Sejahtera adalah sebuah perusahaan otobus Indonesia yang berasal dari Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Anak usaha dari PT Timur Terang Transindo, perusahaan bus ini melayani jasa angkutan bus antarkota dengan rute dari Kota Surakarta menuju DKI Jakarta. Kantor pusatnya terletak di Jalan Raya Ngadirojo, Wonogiri, Jawa Tengah.
Putera Mulya didirikan pada tahun 1985 oleh P.H. Soegiyono di Wonogiri, Jawa Tengah. Pada masa awal berdirinya, operasional perusahaan masih sangat sederhana dengan hanya dua unit mikrobus berkapasitas 12 penumpang. Trayek awal yang dilayani adalah trayek pedesaan Ngadirojo–Jatipurno–Wonogiri–Jatisrono. Meskipun sederhana, keuletan dan semangat pelayanan yang dimiliki pendirinya membuat PO Putera Mulya perlahan mendapatkan kepercayaan masyarakat di wilayah tersebut.[1][2]
Setelah beroperasi selama tujuh tahun, perkembangan positif mulai tampak. Pada tahun 1992, Putera Mulya memperoleh izin trayek bus antarkota dalam provinsi (AKDP). Kesempatan ini dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan layanan, serta meningkatkan kualitas armada dengan bus berukuran lebih besar dan kapasitas yang lebih banyak. Kemudian pada awal tahun 2000-an, perusahaan ini melangkah lebih jauh dengan membuka layanan antarkota antarprovinsi. Rute populer yang dijalankan pada masa itu adalah Ponorogo–Purwantoro–Wonogiri–Solo–Jakarta, yang menjadi salah satu trayek favorit penumpang dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur menuju Ibu Kota. Ekspansi ini menandai transformasi PO Putera Mulya dari operator pedesaan menjadi penyedia jasa transportasi lintas provinsi yang kompetitif.[1][2]
Memasuki dekade 2010-an, Putera Mulya semakin memperkuat posisi dengan langkah modernisasi dan restrukturisasi manajemen. Pada tahun 2011, perusahaan ini dikukuhkan sebagai perseroan terbatas dengan nama PT Putera Mulya Sejahtera, bersamaan dengan kerja sama strategis dengan PT Timur Terang Transindo, perusahaan yang bergerak di bidang transportasi barang. Melalui sinergi tersebut, PT Putera Mulya Sejahtera mendapatkan dukungan finansial dan operasional yang lebih kuat untuk memperbarui armada, memperluas jaringan, dan meningkatkan standar pelayanan. Langkah ini menjadi fondasi penting menuju era baru transportasi premium di jalur Trans-Jawa, mengingat persaingan antaroperator semakin ketat dan kebutuhan akan kenyamanan serta keselamatan menjadi prioritas utama.[2]
Puncak inovasi Putera Mulya terjadi pada akhir tahun 2016, ketika perusahaan menghadirkan dua unit bus tingkat dengan karoseri Jetbus 2+ Super Double-Decker produksi Adi Putro, dengan sasis Scania K410iB. Kehadiran armada tersebut menjadikan PO Putera Mulya sebagai perintis bus tingkat pertama di jalur Tol Trans-Jawa. Bus ini menawarkan kemewahan dan kenyamanan yang jarang ditemukan di setiap bus AKAP, seperti kursi ergonomis, sistem hiburan individu, layanan pramugari, hingga fasilitas toilet di dalam bus. Langkah ini mendapat sambutan positif dari masyarakat karena menjadi simbol kemajuan transportasi darat Indonesia yang setara dengan standar internasional. Sejak saat itu, citra Putera Mulya dikenal luas sebagai pelopor layanan bus premium antarkota di Indonesia.[1][2]
Namun, perkembangan yang pesat tersebut tidak luput dari tantangan. Pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020 hingga 2021, industri transportasi darat mengalami penurunan drastis akibat pembatasan mobilitas masyarakat dan penurunan jumlah penumpang. Putera Mulya termasuk salah satu operator yang terkena dampaknya secara signifikan. Beberapa armada tidak dapat beroperasi secara maksimal karena penurunan permintaan dan peningkatan biaya operasional. Kondisi ini menyebabkan perlambatan bisnis dan penurunan pendapatan yang cukup besar. Meski demikian, perusahaan tetap berupaya bertahan dengan melakukan efisiensi serta menyesuaikan jadwal operasi agar tetap dapat melayani pelanggan setia.[2]
Bahkan manajemen Putera Mulya pun sakit-sakitan. Sempat duduk di komisaris Putera Mulya, Kurnia Lesani Adnan, yang merupakan pemilik San, akhirnya mengundurkan diri agar fokus pada SAN. Kemudian pada tahun 2021, Glenn Adiprana Widodo, pemilik Timur Terang Transindo, meninggal dunia, yang membuat Timur Terang Transindo mengakhiri kerja sama operasinya dengan Putera Mulya.[2]
Setelah melewati masa sulit tersebut, pada tahun 2022 muncul kabar bahwa Putera Mulya memutuskan untuk menghentikan operasional bus AKAP-nya. Keputusan ini menjadi tanda berakhirnya satu babak penting dalam sejarah perusahaan yang pernah menjadi perintis bus tingkat AKAP di Indonesia.[3] Meski demikian, semangat inovasi dan warisan profesionalisme dari Putera Mulya terus dikenang sebagai inspirasi bagi perusahaan transportasi lainnya. Beberapa armada bekasnya telah dijual ke misalnya Narendra, yang dikenal memiliki fasilitas mewah dan kenyamanan tinggi bagi penumpangnya.[4]
Antara 2016 hingga 2020, Putera Mulya mengoperasikan dua jenis karoseri bus, yakni bus tingkat New Setra Jetbus2+ SDD produksi Adi Putro serta karoseri bus unik bernama Maxibus XHD produksi Laksana. Sasis yang digunakan antara lain Mercedes-Benz OH 1836, Hino R260, dan Scania K410iB. Menurut Export Manager perusahaan karoseri Laksana, Werry Yulianto, Maxibus dirancang khusus untuk Putera Mulya. Meski mengambil basis bodinya dari Discovery, tetapi ada beberapa bagian yang berbeda. Hal yang membedakannya dengan DC02 yaitu ada pada bentuk selendang samping, yang tidak menggunakan warna kromium seperti Discovery. Sementara di belakangnya ada bagian kromium yang bertuliskan Maxibus.[2]
Lini bisnis Putera Mulya adalah bus antarkota (antarprovinsi dan dalam provinsi). Sebelum ditutup pada 2022, Putera Mulya memiliki fokus di trayek antarkota antarprovinsi rute-rute Jawa dan Sumatra. Kota-kota yang dilayani Putera Mulya pada masa itu antara lain DKI Jakarta,[5][6] Kota Malang,[5][7][6] Kota Madiun,[8] Kota Semarang,[9] dan Kota Surakarta.[9][10][10]