Mendoan (měndoan), Mendoan Banyumas, atau Tempe Mendoan merupakan makanan tradisional khas Kabupaten Banyumas berupa irisan tempe tipis yang dilapisi adonan tepung berbumbu, kemudian digoreng hingga setengah matang. Makanan ini terbuat dari tempe yang dibaluri tepung dan daun bawang lalu dimasak setengah matang. Kata mendoan sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu mendo yang berarti setengah matang atau lembek. Secara budaya, mendoan tumbuh dan berkembang di wilayah Banyumas, meskipun kuliner ini juga dikenal di beberapa daerah sekitarnya, seperti Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap, dan Kebumen.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Tempe mendoan khas Banyumas | |
| Asal | |
|---|---|
| Wilayah | Jawa[1] |
| Negara asal | Indonesia |
| Rincian | |
| Jenis | tempe goreng |
| Metode penyajian | goreng rendam |
| Suhu penyajian | Hangat |
| Bahan utama | Tempe dan tahu |
| Variasi |
|
| Calories per ració | 92-149 |
Mendoan (měndoan), Mendoan Banyumas, atau Tempe Mendoan merupakan makanan tradisional khas Kabupaten Banyumas[2] berupa irisan tempe tipis yang dilapisi adonan tepung berbumbu, kemudian digoreng hingga setengah matang. Makanan ini terbuat dari tempe yang dibaluri tepung dan daun bawang lalu dimasak setengah matang. Kata mendoan sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu mendo yang berarti setengah matang atau lembek. Secara budaya, mendoan tumbuh dan berkembang di wilayah Banyumas, meskipun kuliner ini juga dikenal di beberapa daerah sekitarnya, seperti Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap, dan Kebumen.[3]
Kuliner khas Banyumas ini telah dikenal sejak lebih dari satu abad lalu. Sekitar abad ke-17, imigran Tionghoa memperkenalkan tempe sebagai hasil olahan kedelai, yang kemudian berkembang menjadi komoditas ekonomi dan mulai dikelola secara komersial dalam sektor pariwisata sejak awal tahun 1960-an.[4]
Mendoan dihasilkan dari kegiatan memasak dengan minyak panas yang banyak dengan cepat sehingga masakan tidak benar-benar matang. Bahan makanan yang paling sering diolah menjadi mendoan adalah tempe dan tahu.[3] Proses mengolah tempe mendoan biasanya menggunakan jenis tempe khusus yang tipis dan lebar.
Tempe mendoan sebaiknya tidak menggunakan tempe yang sudah agak kehitaman karena ditakutkan akan membuat rasa yang dihasilkan sedikit pahit. Tempe tipis khusus yang masih belum digoreng juga disebut tempe mendoan. Sebutan ini memudahkan transaksi jual beli tempe dan membedakan dengan jenis tempe lainnya. Pengolahan tempe mendoan dapat dilakukan dengan tiga macam, yaitu mendoan goreng basah, mendoan goreng kering, dan keripik mendoan.[3]
Mendoan bisa langsung disantap atau paling cocok dinikmati dengan rawit hijau atau sambal kecap. Cita rasa gurih dan asin dari tempe yang dibaluri tepung sangat cocok dikombinasikan dengan pedasnya rawit ataupun sambal kecap.
Tempe mendoan mudah ditemui di warung tradisional di daerah Keresidenan Banyumas, seperti Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap, Kebumen, dan Banyumas.[5] Para wisatawan bisa membeli oleh-oleh makanan mendoan tempe di daerah Sawangan, Banyumas.
Di kota-kota lain di Jawa Tengah seperti Semarang, mendoan lebih merujuk ke tempe goreng tepung. Di Kabupaten Wonosobo disebut tempe kemul yang berbentuk irisan tipis.

Mendoan Banyumas berbeda dengan mendoan dari beberapa kota di wilayah Jawa Tengah. Makanan ini dapat dibuat tanpa memperhatikan besarnya tempe atau banyaknya tepung, tanpa tempe, atau dari bekas sisa adonan tepung.[6] Biasanya mendoan disajikan sebagai makanan pendamping Sroto Sokaraja.[7]
Mendoan juga dikenal di daerah pesisir pantai utara Jawa Tengah bagian barat, seperti Tegal dan Brebes. Di daerah tersebut, mendoan biasa dijajakan di tempat-tempat wisata, seperti pantai atau di pedagang kaki lima dan angkringan.
Saat ini, tempe mendoan mulai populer hampir di seluruh Indonesia. Hidangan tempe mendoan biasanya dijual di warung makan, pedagang kaki lima, dan di tempat kuliner lainnya.
Pemerintah Indonesia telah menetapkan Mendoan Banyumas yang merupakan karya budaya dari Provinsi Jawa Tengah yang termasuk dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional, sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Indonesia melalui Surat Keputusan Nomor 372/M/2021 pada tahun 2021, dengan kode referensi AA001269, sebagai bentuk pengakuan terhadap nilai budaya dan keterampilan pengolahannya.[8]
Mendoan juga telah memiliki sertifikat pendaftaran merek dengan nomor IDM000237714. Pelestarian mendoan sebagai bagian dari kearifan lokal di Kabupaten Banyumas dinilai berkontribusi terhadap perekonomian daerah. Hal tersebut merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banyumas mengenai sektor industri pengolahan pada periode 2018–2020.[4]