Bakso adalah hidangan berbentuk bola daging yang lazim ditemukan di Indonesia. Bakso umumnya dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioka, tetapi ada juga bakso yang terbuat dari daging ayam, babi, ikan, udang, kambing, bahkan daging kerbau. Dalam penyajiannya, bakso umumnya disajikan panas dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mi, bihun, tauge, tahu, terkadang telur lalu ditaburi bawang goreng dan seledri.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Bakso | |
|---|---|
Bakso yang disajikan bersama bihun | |
| Nama lain | Baso |
| Sajian | Menu utama |
| Tempat asal | Indonesia |
| Suhu penyajian | Panas |
| Bahan utama | Daging (sapi, kerbau, ayam, ikan, babi, atau udang), tepung tapioka, mi, bihun, tahu, kaldu sapi (opsional), kailan, acar, seledri, bawang goreng |
| 1 medium bola bakso mengandung 21 mg kolesterol, 134 mg sodium, dan 57 kalori[1] kkal | |


Bakso (Hokkien: 肉酥; dialek Xiamen: bah so; Jawi: باقسو; bentuk tidak baku: baso)[a] adalah hidangan berbentuk bola daging yang lazim ditemukan di Indonesia.[4][5] Bakso umumnya dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioka, tetapi ada juga bakso yang terbuat dari daging ayam, babi, ikan, udang, kambing, bahkan daging kerbau. Dalam penyajiannya, bakso umumnya disajikan panas dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mi, bihun, tauge, tahu, terkadang telur lalu ditaburi bawang goreng dan seledri.[6][7]
Bakso adalah makanan yang populer dan dapat ditemukan di seluruh Indonesia, dari gerobak pedagang kaki lima hingga restoran besar. Berbagai jenis bakso sekarang banyak ditawarkan dalam bentuk makanan beku yang dijual di pasar swalayan ataupun mal-mal. Irisan bakso dapat juga dijadikan pelengkap jenis makanan lain seperti mi goreng, nasi goreng, sop atau capcai.
Bakso berakar dari masakan Tionghoa. Hal ini ditunjukkan dengan istilah 'bakso' yang berasal dari kata Bak-So, dalam bahasa Hokkien yang secara harfiah berarti 'daging babi'. Namun, karena mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, maka penggunaan bahan bakso yang sebelumnya adalah babi lalu diganti dengan ayam. Lalu muncul juga banyak inovasi bahan bakso yang sering kita temukan di Indonesia yakni ikan, udang, dan masih banyak lagi.
Kini kebanyakan penjual bakso adalah orang Jawa dari Wonogiri dan Malang. Tempat yang terkenal sebagai pusat bakso adalah Solo dan Malang yang disebut Bakso Malang.
Bakso Solo menjadi usaha turun-temurun dari Bakso Wonogiri karena banyak anak cucu yang menetap dan membuka usaha bakso di Kota Solo dan sekitarnya, terutama daerah perkotaan yang letaknya strategis di pinggir jalan raya. Bakso Solo mulai tersebar dari pulau Jawa ke wilayah-wilayah lainnya di Indonesia.
Bakso Solo umumnya hanya berisi bakso, mi, dan taburan bawang goreng serta seledri; sementara isian bakso Malang umumnya lebih bervariasi dengan tambahan pangsit kukus atau goreng, tahu, mi kuning atau bihun, dan pelengkap lainnya. Di beberapa daerah, bakso disajikan dengan pelengkap unik seperti kerupuk kulit, tahu goreng, atau siomay, yang menambah kekayaan rasa dan tekstur dalam satu mangkuk. Kuah bakso Malang lebih berlemak karena berasal dari kaldu tulang dan jeroan, sementara kuah bakso Solo lebih ringan.[8]
Beberapa penjual bakso juga menambahkan jeroan atau tetelan sapi, meliputi babat, paru, usus, hati, limpa, dan lain-lain untuk menambah citarasa dan membuat hidangan bakso semakin kaya. Hal ini sejalan dengan kebiasaan masyarakat dan sejarah kuliner Nusantara yang memanfaatkan setiap bagian sapi agar tidak terbuang percuma.[9]
Bakso termasuk salah satu makanan jalanan paling populer di kota-kota dan desa-desa di Indonesia.[11] Bakso biasa dijajakan oleh pedagang keliling dengan gerobak atau sepeda, dijual di warung atau kedai di pinggir jalan, hingga di restoran dan mal. Bakso menjadi perhatian internasional ketika Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, mengingatnya sebagai salah satu makanan favoritnya dari masa kecilnya di Indonesia dan menyebutkannya dalam pidatonya.[12]
Dalam proses pembuatannya, ada bakso yang dicampur dengan boraks atau bleng untuk membuat tepung menjadi lebih kenyal mirip daging serta lebih awet.[13] Hal ini membuat bakso pernah dianggap makanan yang kurang aman oleh BPOM. BPOM mengingatkan bahwa mengonsumsi makanan berkadar boraks tinggi selama kurun 5-10 tahun dapat meningkatkan risiko kanker hati.[14] Maka bakso yang dijual di berbagai pasar tradisional dan pasar swalayan diwajibkan bebas boraks.
Bakso sebaiknya disimpan dalam kondisi beku sebelum direbus untuk dikonsumsi. Dii supermarket bakso dijual dalam kondisi beku untuk menjaga temperatur agar bakso dapat terjaga kualitasnya dan tidak tercemar bakteri. Bakso yang dijual tetapi dipajang di etalase pada temperatur ruang rawan tercemar bakteri, misalnya bakteri penyebab diare atau salmonela penyebab tifus.
Pedagang bakso keliling kerap dikaitkan dengan aktivitas intelijen yang sedang menyamar. Di media sosial juga banyak beredar meme yang menggambarkan tukang bakso berkomunikasi melalui walkie-talkie. Menurut Ridlwan Habib, seorang pengamat intelijen, profesi pedagang makanan keliling seperti tukang bakso memang sering digunakan anggota reserse atau Densus 88 untuk mengintai aktivitas terorisme atau kegiatan kriminal mencurigakan lainnya.[15][16]