Kanker hati adalah kanker yang muncul dari hati, dan bukan akibat keganasan dari organ lain yang menyebar ke hati atau metastasis ke hati. Kanker hari merupakan kanker yang banyak ditemukan di seluruh dunia, serta menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi kedua pada pria setelah kanker paru-paru.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Kanker Hati | |
|---|---|
| Nama lain | Kanker Hati Primer |
| Tomografi terkomputasi Hati dengan Kolangiokarsinoma | |
| Spesialisasi | Gastroenterologi Hepatologi Oncology |
| Gejala | Benjolan atau nyeri di sisi kanan bawah tulang rusuk, pembengkakan perut, kulit kekuningan, mudah memar, penurunan berat badan, kelemahan[1] |
| Awitan umum | 55 hingga 65 tahun[2] |
| Penyebab | Hepatitis B, Hepatitis C, Alkohol, Aflatoksin, Penyakit perlemakan hati non-alkoholik, Cacing hati[3][4] |
| Metode diagnostik | Uji darah, Pencitraan medis, Biopsi[1] |
| Pencegahan | Imunisasi terhadap hepatitis B, mengobati mereka yang terinfeksi hepatitis B atau C,[3] mengurangi paparan aflatoksin, mengurangi tingkat konsumsi alkohol yang tinggi |
| Pengobatan | Surgery, targeted therapy, radiation therapy[1] |
| Prognosis | Kelangsungan hidup lima tahun ~18% (Amerika Serikat);[2] 40% (Jepang)[5] |
| Frekuensi | 618,700 (titik waktu pada tahun 2015)[6] |
| Kematian | 782,000 (2018)[7] |
Kanker hati adalah kanker yang muncul dari hati, dan bukan akibat keganasan dari organ lain yang menyebar ke hati atau metastasis ke hati. Kanker hari merupakan kanker yang banyak ditemukan di seluruh dunia, serta menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi kedua pada pria setelah kanker paru-paru.[8]
Tanda dan gejala klinis yang dapat ditemukan antara lain hepatomegali atau pembesaran hati, sakit perut, ikterus, atau gangguan hati lainnya.
Perkembangan karsinoma hepatoselular dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: kerusakan kondisi hati, kecenderungan konsumsi alkohol, dan adanya infeksi dari virus HIV atau hepatitis B.[9] Selain itu, paparan zat aflatoksin, obesitas, dan sindrom metabolik turut meningkatkan risiko terjadinya kanker hati, terutama pada individu dengan riwayat sirosis atau penyakit hati kronis.[10][11]
Proses diagnosis kanker hati memerlukan pendekatan yang komprehensif, dimulai dari evaluasi gejala klinis hingga penggunaan teknologi pencitraan modern. Metode pencitraan seperti ultrasonografi, CT scan, dan MRI digunakan untuk mendeteksi adanya lesi atau tumor pada hati. Selain itu, pemeriksaan laboratorium, termasuk analisis biomarker serum, serta biopsi jaringan hati dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis melalui konfirmasi histopatologis.[12]
Penatalaksanaan kanker hati, khususnya hepatocellular carcinoma (HCC), didasarkan pada evaluasi menyeluruh terhadap fungsi hati, stadium penyakit, dan kondisi klinis pasien. Pendekatan terapi dilakukan secara individual dan meliputi opsi reseksi bedah, ablasi lokal, transarterial chemoembolization (TACE), terapi sistemik, dan transplantasi hati, sesuai dengan profil risiko dan manfaat yang dapat diperoleh. Pedoman internasional, seperti yang dikeluarkan oleh EASL–EORTC, menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin untuk mengoptimalkan hasil pengobatan serta meminimalkan komplikasi terapi.[11]