Kisah Para Rasul adalah kitab kelima dalam Perjanjian Baru pada Alkitab Kristen. Kitab ini mengisahkan berdirinya Gereja Kristen serta pertumbuhannya sampai pada pertengahan abad pertama Masehi dan penyebaran pesannya di seluruh Kekaisaran Romawi. Kisah Para Rasul diyakini ditulis oleh Lukas, dan merupakan lanjutan dari Injil Lukas. Meskipun dapat dianggap suatu kesatuan, pemisahan dengan kitab Injil Lukas sudah ada pada naskah-naskah tertua.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Kisah Para Rasul | |
|---|---|
| Πράξεις Ἀποστόλων (Práxeis Apostólōn) | |
Kisah Para Rasul 5:12–21 pada Uncial 0189 (verso; ca tahun 200 M) | |
| Informasi | |
| Agama | Kristen |
| Penulis | Secara tradisional Lukas Sang Penginjil |
| Bahasa | Yunani Koine |
| Periode | sekitar tahun 80–90 M |
| Bab atau Surah | 28 |
| Bagian dari Alkitab Kristen | ||||
| Perjanjian Baru | ||||
|---|---|---|---|---|
|
|
||||

Kisah Para Rasul[a] (Yunani Koine: Πράξεις Ἀποστόλων}}, Práxeis Apostólōn[2] dan {{Latin: Actūs Apostolōrum}}) adalah kitab kelima dalam Perjanjian Baru pada Alkitab Kristen. Kitab ini mengisahkan berdirinya Gereja Kristen serta pertumbuhannya sampai pada pertengahan abad pertama Masehi dan penyebaran pesannya di seluruh Kekaisaran Romawi.[3][4] Kisah Para Rasul diyakini ditulis oleh Lukas, dan merupakan lanjutan dari Injil Lukas.[4] Meskipun dapat dianggap suatu kesatuan, pemisahan dengan kitab Injil Lukas sudah ada pada naskah-naskah tertua.[4]
Kisah Para Rasul dan Injil Lukas membentuk karya dua jilid yang dikenal sebagai Lukas–Kisah Para Rasul oleh penulis yang sama.[5] Tradisi mengidentifikasi penulisnya sebagai Lukas Sang Penginjil, seorang dokter yang bepergian bersama Rasul Paulus, meskipun teksnya anonim, tidak menyebutkan nama penulisnya.[6][5] Pendapat kritis menjelang akhir abad ke-20 tetap terbagi mengenai apakah Lukas sang dokter yang menulisnya.[7] Banyak sarjana masih menganggap penulis Lukas–Kisah Para Rasul sebagai rekan Paulus, meskipun mereka melihat adanya ketegangan dengan surat-surat Paulus yang autentik.[8][9][10] Pembahasan modern memperlakukan Kitab Kisah Para Rasul terutama sebagai historiografi sambil juga mempertimbangkan genre-genre seperti novel, epik, dan biografi kuno, dan para sarjana kini lebih fokus pada tujuan penulis daripada menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan tentang historisitas yang ketat.[11][12][13] Para ahli biasanya memperkirakan tahun penulisan kitab ini adalah 80–90 M, dan ada pula yang memperkirakan tahun penulisannya adalah 110–120 M.[14]
Bagian pertama Injil Lukas–Kisah Para Rasul, menggambarkan bagaimana Allah menggenapi rencana Keselamatan melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus dari Nazaret. Kisah Para Rasul melanjutkan kisah Kekristenan pada abad ke-1, dimulai dengan kenaikan Yesus dan menelusuri misi dari Yerusalem ke dunia Mediterania yang lebih luas. Bab-bab awal menggambarkan Hari Pentakosta, kehidupan bersama orang-orang percaya pertama, dan pendirian gereja di Antiokhia. Bab-bab selanjutnya mengikuti Paulus saat ia menyampaikan pesan ke seluruh kekaisaran dan diakhiri dengan pemenjaraannya di Roma sambil menunggu pengadilan.
Lukas–Kisah Para Rasul membahas bagaimana Mesias Yahudi sampai memiliki gereja yang mayoritas non-Yahudi dengan menyatakan bahwa pesan tersebut sampai kepada bangsa-bangsa non-Yahudi setelah penolakan orang Yahudi.[3] Karya tersebut juga dibaca sebagai pembelaan terhadap gerakan Yesus bagi khalayak Yahudi, karena sebagian besar pidato menanggapi keprihatinan Yahudi saat pejabat Romawi menengahi pertikaian tentang adat dan hukum Yahudi.[15] Lukas menggambarkan pengikut Yesus sebagai sekte Yahudi yang berhak atas perlindungan hukum, tetapi ia tetap bersikap ambivalen mengenai masa depan orang Yahudi dan Kristen, meneguhkan identitas Yahudi Yesus sembari menekankan penolakan orang Yahudi terhadap Mesias.[16]
Kisah Para Rasul menceritakan sejarah gereja Kristen awal setelah naiknya Yesus Kristus ke surga. Amanat Kisah Para Rasul ini menjelaskan bagaimana pengikut-pengikut Yesus Kristus—dengan pimpinan Roh Kudus—menyebarkan Kabar Baik tentang Yesus "di Yerusalem, di seluruh Yudea, di Samaria, dan sampai ke ujung bumi" (1:8). Buku ini adalah cerita tentang pergerakan Kristen yang dimulai di antara orang Yahudi lalu meluas menjadi suatu agama untuk seluruh dunia, tidak hanya untuk orang Yahudi. Penulis kitab ini merasa perlu pula meyakinkan para pembacanya bahwa orang-orang Kristen bukanlah suatu bahaya politik subversif terhadap Kekaisaran Romawi, tetapi bahwa agama Kristen merupakan penyempurnaan agama Yahudi.[17]
Kisah Para Rasul secara garis besar menggambarkan tentang peristiwa perjalanan Injil dari Yerusalem, ibu kota Yehuda dunia Yahudi.[17][18][19] Pemberitaan Injil pada awalnya berjalan sukses di kalangan orang-orang Yahudi. Injil yang disebarkan pun bergerak semakin luas melalui pimpinan Roh Kudus. Penerimanya pertama-tama adalah orang Yahudi yang murtad, kemudian dilanjutkan kepada kaum proselit, hingga akhirnya kepada orang-orang bukan Yahudi penyembah berhala. Misi Kristen inilah yang kemudian belanjut hingga sekarang. Kitab ini pun berakhir secara mengejutkan ketika Paulus beserta kawan-kawannya mencapai Roma.[17][18][19]
Kisah Para Rasul bisa dibagi dalam tiga bagian. Di dalam ketiga bagian itu tampak meluasnya wilayah di mana Kabar Baik tentang Yesus disiarkan dan gereja didirikan:[17]
Satu hal yang khas dan penting dalam buku Kisah Para Rasul ini ialah pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus yang datang dengan kuasa-Nya ke atas orang-orang percaya di Yerusalem. Peristiwa ini terjadi pada hari Pentakosta. Pada hari ini, semua orang yang mendengarkan Sabda Tuhan bisa mendengarkan-Nya dalam bahasa mereka masing-masing. Bahasa yang dimaksud di sini adalah bahasa Roh. Wujud Roh Kudus yang dijelaskan berupa nyala api.[17]
Berikut adalah garis besar isi kitab Kisah Para Rasul[20]
Sisipan: Pelayanan Apolos (Kis 18:24-28)
Ada lima hal yang menjadi fokus di dalam kitab ini.
Pertama, Kisah Para Rasul ini berisi tentang kelanjutan dari misi Tuhan dal
am sejarah. Sejarah ini dipahami sebagai kelanjutan dan pelayanan Yesus. Hal inilah yang menjadi topik yang hangat di dunia teologi masa kini, yaitu dalam mengungkapkan sejarah keselamatan. Konteks kitab ini merujuk kepada pemahaman akan segala peristiwa di dalam hidup dan gereja mula-mula sebagai peristiwa sejarah di dalam karya Tuhan dinyatakan. Iman Kristen juga diperhadapkan langsung dengan Tuhan yang menyatakan diri-Nya Juruselamat di dalam panggung sejarah.[17]
Kedua, Kitab Kisah Para Rasul ini merupakan kitab misi. Gereja sebagai persekutuan orang percaya memiliki tujuan untuk menjadi saksi tentang Yesus. Misi yang menjadi tujuan kekristenan ini berisi Injil. Injil tetang keselamatan umat manusia. Fokus kitab ini juga bercerita tentang kebangkitan Yesus dari kematian. Kebangkitan dari kematian menjadi tanda bahwa Dia adalah Allah dan Juruselamat. Kematian-Nya membawa pengampunan dosa bagi manusia. Pesan ini dinyatakan oleh Allah Bapa kepada Yesus sebagai otoritas untuk melimpahkan keselamatan dan karya keselamatan itu di dalam gereja.[17]
Ketiga, Kisah Para Rasul banyak juga berkonsentrasi terhadap hal-hal yang menjadi tantangan di dalam pemberitaan Injil. Di dalam pasal 14:22 dituliskan bahwa sekalipun banyak kesengsaraan, kita harus tetap memberitakan Kerajaan Allah. Lukas mengakui bahwa hanya jalan Yesus yang membawanya kepada puncak tantangan tersebut yaitu kematian. Tantangan itu biasanya diawali dengan ejekan rasul-rasul pada hari pentakosta. Selain itu, dilanjutkan lagi dengan usaha oleh para kaum bijaksana untuk diam tentang Yesus. Hal inilah yang menjadi penyebab terjadinya mati martir. Stefanus, salah seorang tokoh mati martir. Dia menjadi tokoh mati martir pertama di dalam kekristenan. Tugas untuk memberitakan Injil memang beban yang berat. Tantangan dan penderitaan menjadi faktor penghalang setiap orang percaya dalam memberitakan Injil.[17]
Keempat, Kisah Para Rasul merefleksikan tekanan luar biasa yang terdapat di gereja awal. Tekanan-tekanan ini melebihi misi kekafiran. Kisah Para Rasul menjelaskan bahwa orang-orang non-Yahudi, yang dianggap kafir oleh Yahudi adalah termasuk umat Allah. Injil dengan jelas mencatat pesan yang diberikan oleh Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya. Pesan itu menjelaskan bahwa murid-murid-Nya memberitakan Injil kepada seluruh bangsa-bangsa. Namun, inti persoalannya adalalah apakah munculnya gereja telah menghasilkan sebuah komunitas baru yang berbeda dengan Yudaisme. Yudaisme memang adalah awal dari kekristenan. Orang-orang kristen awal pun adalah orang Yahudi. Dalam hal ini, setiap orang berhak untuk menerima kabar keselamatan yang diberikan oleh Yesus itu. Oleh sebab itu, tidak lagi mempersoalkan Yahudi atau non-Yahudi.[17]
Terakhir, hidup dan oraganisasi gereja. Lukas menawarkan sebuah gambaran tentang kehidupan dan ibadah gereja yang tidak ragu sebagai sebuah pola untuk menyediakan petunjuk bagi gereja sekitarnya. Kita mendapatkan gambaran tentang persekutuan kelompok-kelompok kecil dalam pengajaran, pemuridan, ibadah, dan perjamuan. Selain itu, ada juga jalan masuk untuk ke gereja dengan dibaptis dengan air. Hal-hal ini terdapat di dalam ringkasan singkat pada pasal-pasal awal Kisah Para Rasul ini (2:42-47;4:32-37). Hal ini juga seperti yang digambarkan oleh Injil Lukas. Lukas juga mencatat bahwa pentingnya peranan Roh Kudus di dalam kehidupan gereja. Roh Kudus merupakan milik dari setiap orang Kristen. Selain itu, Roh Kudus menjadi sumber sukacita dan kekuatan. Pemimpin-pemimpin Kristen sendiri merupakan orang-orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus untuk menunjukkan fungsi-fungsinya yang bermacam-macam.[17]
Tokoh yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul - diurutkan berdasarkan abjad
Kisah Para Rasul mengutip sejumlah ayat dari bagian Alkitab yang lain dan juga dirujuk dalam sejumlah bagian, misalnya surat-surat Paulus. Berikut sebagian kaitan kitab lain dengan Kisah Para Rasul
Kisah Para Rasul | ||
| Didahului oleh: Injil Yohanes |
Perjanjian Baru Alkitab |
Diteruskan oleh: Surat Roma |