Kisah Para Rasul 6 adalah bagian Kitab Kisah Para Rasul dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Ditulis oleh Lukas, seorang Kristen yang merupakan teman seperjalanan Rasul Paulus.Buku yang memuat bab ini tidak disebutkan namanya, tetapi tradisi Kristen awal menegaskan bahwa Lukas juga menulis buku ini dan Injil Lukas. Buku ini mencatat penetapan tujuh diaken pertama, dan pekerjaan salah satu dari mereka, Stefanus. Joseph T. Lienhard merujuk pada "siklus Stefanus" yang terlihat jelas dalam hubungan yang disengaja antara penetapan tujuh diaken dan narasi tentang Stefanus dalam bab ini dan bab 7.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Kisah Para Rasul 6 | |
|---|---|
Kisah Para Rasul 15:22-24 dalam bahasa Latin (kolom kiri) dan bahasa Yunani (kolom kanan) pada Codex Laudianus, yang ditulis sekitar tahun 550 M. | |
| Kitab | Kisah Para Rasul |
| Kategori | Sejarah gereja |
| Bagian Alkitab Kristen | Perjanjian Baru |
| Urutan dalam Kitab Kristen | 5 |
Kisah Para Rasul 6 (disingkat Kis 6) adalah bagian Kitab Kisah Para Rasul dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Ditulis oleh Lukas, seorang Kristen yang merupakan teman seperjalanan Rasul Paulus.Buku yang memuat bab ini tidak disebutkan namanya, tetapi tradisi Kristen awal menegaskan bahwa Lukas juga menulis buku ini dan Injil Lukas.[1][2][3] Buku ini mencatat penetapan tujuh diaken pertama,[4] dan pekerjaan salah satu dari mereka, Stefanus. Joseph T. Lienhard merujuk pada "siklus Stefanus" yang terlihat jelas dalam hubungan yang disengaja antara penetapan tujuh diaken dan narasi tentang Stefanus dalam bab ini dan bab 7.[5]
Pembagian isi pasal:
Dengan keputusan rapat jemaat, 7 orang dipilih menjadi diaken (=pelayan) pertama. Ketujuh orang ini mempunyai nama Yunani, jadi rupanya termasuk ke dalam golongan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, sama seperti mereka yang bersungut-sungut dan menyulut perpecahan di ayat 1. Ini merupakan tindakan jemaat yang bijaksana dan penuh kasih bagi mereka yang menyampaikan keluhan untuk janda-janda.[7]
Diperkirakan ada sekitar 8000 imam di Yerusalem. Kebanyakan bukan dari keluarga Imam Besar Yahudi, melainkan orang-orang dari suku Lewi yang mempunyai tugas-tugas di Bait Allah sebagaimana Zakharia, ayah Yohanes Pembaptis. Pelayanan mereka di Bait Allah menjadi lebih sungguh-sungguh setelah mereka mengakui Yesus sebagai Mesias, karena mereka lebih memahami makna di balik ritual yang mereka kerjakan.[7]