Surat Yohanes yang Pertama adalah salah satu surat Yohanes pertama yang terdapat di dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen dan surat keempat dalam surat-surat Katolik. Surat ini merupakan sebuah surat yang dikirim dan diedarkan kepada kelompok lain, di mana tulisan itu berupa sebuah wejangan untuk membina iman yang sejati. Sebetulnya 1 Yohanes tidak benar-benar berupa surat, karena nama penulis, nama si teralamat dan ciri-ciri lazim dalam sebuah surat pada zaman kuno tidak ada. Hal ini dapat terlihat dalam 1 Yohanes 2:1, pembaca langsung disapa dengan "anak-anak" dan "yang terkasih".
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


| Bagian dari Alkitab Kristen | ||||
| Perjanjian Baru | ||||
|---|---|---|---|---|
|
|
||||
| Bagian dari serial artikel tentang |
| Yohanes dalam Alkitab |
|---|
| Kesusastraan Yohanes |
| Kepengarangan |
| Kesusastraan terkait |
| Lihat pula |

Surat Yohanes yang Pertama[a] adalah salah satu surat Yohanes pertama yang terdapat di dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen dan surat keempat dalam surat-surat Katolik. Surat ini merupakan sebuah surat yang dikirim dan diedarkan kepada kelompok lain, di mana tulisan itu berupa sebuah wejangan untuk membina iman yang sejati.[4] Sebetulnya 1 Yohanes tidak benar-benar berupa surat, karena nama penulis, nama si teralamat dan ciri-ciri lazim dalam sebuah surat pada zaman kuno tidak ada.[4] Hal ini dapat terlihat dalam 1 Yohanes 2:1, pembaca langsung disapa dengan "anak-anak" dan "yang terkasih".[4]
Surat Yohanes yang pertama ditulis oleh Yohanes sang Penginjil ketika berada di Efesus sekitar tahun 100 M.[5] Orang yang paling awal mengutip isi surat ini adalah Bapa Gereja Polikarpus yang merupakan uskup dari Smirna.[6] Polikarpus sendiri menjadi Kristen karena pemberitaan dari para rasul yang kemudian menahbiskannya menjadi uskup.[6]
Secara umum, surat Yohanes yang pertama banyak mengikuti kebiasaan Yahudi di Asia Kecil.[7] Dalam tulisan surat 1 Yohanes, terdapat permasalahan yaitu adanya peperangan melawan bidat.[8] Maksud dari penulisan surat ini adalah untuk melawan ajaran sesat yaitu Gnostikisme,terutama Doketisme.[6] Ciri utama ajaran sesat yang dilawan adalah penyangkalan bahwa Yesus adalah Kristus.[6]
Surat ini diyakini ditulis antara tahun 60-65 M.[9] Pendapat lain memberi perkiraan tahun 90-100.[10]
Secara positif surat ini menyatakan peran Kristus dalam seluruh rangkaian karya penyelamatan Allah dan bagaimana orang-orang beriman dapat bersekutu dengan Yesus dan Allah Bapa.[6] Penulis surat ini memberi kesaksian bahwa Kristus adalah Firman hidup (1:1), Anak Tunggal Allah (1:3, 7; 3:23; 4:9, 14), yang berasal dari Allah (4:1-3), yang Kudus (2: 20), pengantara Bapa (2:1), pendamaian bagi dosa-dosa kita (2:2; 3:5; 4:10,14), penyata Allah Bapa (1:2; 5:20).[6]
Umat Allah harus berusaha bersekutu dengan Kristus dan dengan demikian juga bersekutu dengan Allah.[6] Maksud bersekutu disini adalah berada dalam hubungan yang erat dan benar dengan Allah.[6] Orang beriman dipanggil agar tidak mengasihi dunia ini, tidak berjalan dalam kegelapan, tidak menuruti keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup, sebab semua itu tidak berasal dari Allah (2:15-16).[6] Sebaliknya, kita dipanggil untuk mengikuti terang dan kebenaran karena dengan berbuat demikian, orang percaya boleh disebut sebagai orang-orang yang lahir dari padanya (2:29).[6]
Surat 1 Yohanes menyatakan bahwa Allah adalah kasih.[6] Kasih Allah adalah dasar dari semua kebenaran.[6] Kita diperintahkan untuk mengasihi Allah karena Allah lebih dahulu mengasihi kita, dengan jalan mengutus Yesus Kristus agar menjadi pendamaian bagi dosa-dosa manusia (4:9-10).[6] Kasih itu berasal dari Allah, jadi untuk mengenal Allah, manusia harus mengasihi Allah dan saling mengasihi satu sama lain (4:7-8).[6]
Surat Yohanes yang Pertama | ||
| Didahului oleh: Surat 2 Petrus |
Perjanjian Baru Alkitab |
Diteruskan oleh: Surat 2 Yohanes |