Islamofobia adalah sebuah fobia atau suatu ketakutan, kebencian atau prasangka terhadap Islam atau Muslim secara umum, terutama bila dipandang dari sisi Islamisasi dan sumber terorisme.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


| Bagian dari seri |
| Islam |
|---|
| Bagian dari seri |
| Diskriminasi |
|---|
Islamofobia adalah sebuah fobia atau suatu ketakutan, kebencian atau prasangka terhadap Islam atau Muslim secara umum,[1][2][3] terutama bila dipandang dari sisi Islamisasi dan sumber terorisme.[4][5]
Cakupan dan definisi yang tepat dari istilah Islamofobia, termasuk hubungannya dengan ras, telah menjadi bahan perdebatan. Sejumlah ulama menganggapnya sebagai bentuk xenofobia atau rasisme, sementara pendapat yang lain membantah adanya hubungan di antaranya; terutama dengan basis bahwa agama tidaklah sama dengan ras.
Penyebab dari Islamofobia juga menjadi topik perdebatan, terutama di antara para komentator yang mengajukan argumennya masing-masing. Beberapa penyebab yang diutarakan adalah serangan 11 September,[6][7] kebangkitan kelompok militan seperti ISIS, serangan teror di berbagai tempat, meningkatnya penduduk muslim di Eropa dan Amerika Serikat karena pemerintah mereka menerima pengungsi-pengungsi dari wilayah konflik di Timur Tengah dan Afrika, pemaksaan penerapan hukum islam, dan lain-lain.
Sejumlah pihak mengkritik konsep Islamofobia dengan mengatakan bahwa istilah ini adalah usaha untuk membungkam kritik terhadap Islam.[8][9][10][11][12][13][14] Novelis ternama, Salman Rushdie dan sejumlah koleganya menandatangani sebuah manifesto berjudul "Bersama melawan bentuk baru dari totalitarianisme" pada bulan Maret 2006, menyebut islamofobia adalah "konsep absurd yang mencampur-adukkan kritik terhadap Islam sebagai agama dengan stigmatisasi terhadap para penganutnya."[15]
Permintaan Turki untuk menjadi anggota Uni Eropa telah diadakan sejak tahun 1987, tetapi tidak terwujud karena adanya permasalahan pada kepala pemerintahan. Pada masa itu, Turki berada dalam pemerintahan Recep Tayyip Erdoğan. Uni Eropa menolak permintaan Turki untuk bergabung karena Erdoğan memiliki kekuasaan yang otoriter dan mempunyai masalah terkait hak asasi manusia.[16]
Dalam pandangan wacana kritis, penolakan keanggotan Turki dalam Uni Eropa juga dipengaruhi oleh menyebarnya islamofobia di pikiran masyarakat Eropa. Selain itu, masyarakat Eropa secara umum belum menerima komunitas muslim secara menyeluruh. Pandangan wacana kritis mengaitkan persoalan agama sebagai penyebab penolakan Turki dalam keanggotaan Uni Eropa. Penolakan ini juga dipengaruhi oleh perbedaan sejarah negara anggota Uni Eropa dengan sejarah Turki. Selain itu, hegemoni kekristenan dan hegemoni gereja di Eropa dan hegemoni demokrasi liberal menjadi faktor yang membuat Turki belum dapat diterima sebagai anggota Uni Eropa.[17]
Pada tanggal 26 September 2018, Parlemen Eropa di Brussel meluncurkan "Perangkat Kontra-Islamofobia" (CIK), dengan tujuan memerangi Islamofobia yang berkembang di seluruh Uni Eropa dan untuk didistribusikan ke pemerintah nasional dan pembuat kebijakan lainnya, masyarakat sipil dan media. Berdasarkan penelitian paling komprehensif di Eropa, mereka meneliti pola Islamofobia dan strategi efektif melawannya di delapan negara anggota. Perangkat ini mencantumkan sepuluh narasi dominan dan sepuluh kontra-narasi yang efektif.[18][19][20]
Salah satu penulis CIK, Amina Easat-Daas, mengatakan bahwa perempuan Muslim secara tidak proporsional dipengaruhi oleh Islamofobia, berdasarkan narasi "ancaman ke barat" dan "korban...seksisme Islam". Pendekatan yang diambil dalam CIK adalah empat langkah: mendefinisikan narasi yang salah informasi berdasarkan logika yang salah; mendokumentasikannya; mendekonstruksi ide-ide ini untuk mengekspos kekurangannya; dan terakhir, rekonstruksi gagasan arus utama tentang Islam dan Muslim, yang lebih mendekati kenyataan. Ide-ide dominan yang beredar dalam budaya populer harus mencerminkan pengalaman sehari-hari yang beragam dari umat Islam dan keyakinan mereka.[21]
Pada 16 Maret 2022, PBB menetapkan 15 Maret sebagai Hari Internasional Untuk Memerangi Islamofobia.[22]