Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Nosofobia

Nosofobia dikenal jugs sebagai fobia penyakit atau gangguan kecemasan penyakit, merupakan ketakutan irasional terhadap kemungkinan tertular suatu penyakit. Jenis fobia spesifik ini meliputi ketakutan terhadap infeksi HIV, tuberkulosis paru (phthisiophobia), infeksi menular seksual, kanker (carcinophobia), penyakit jantung (cardiophobia), COVID-19 (coronaphobia), serta penyakit ringan seperti influenza atau pilek. Istilah nosophobia berasal dari bahasa Yunani, yakni nosos (νόσος) yang berarti “penyakit” dan phobos (φόβος) yang berarti “ketakutan”.

Wikipedia article
Diperbarui 10 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Nosofobia dikenal jugs sebagai fobia penyakit[1] atau gangguan kecemasan penyakit,[2] merupakan ketakutan irasional terhadap kemungkinan tertular suatu penyakit. Jenis fobia spesifik ini meliputi ketakutan terhadap infeksi HIV (AIDS phobia atau HIV serophobia),[3] tuberkulosis paru (phthisiophobia),[4] infeksi menular seksual (syphilophobia atau venereophobia),[5] kanker (carcinophobia), penyakit jantung (cardiophobia),[6] COVID-19 (coronaphobia), serta penyakit ringan seperti influenza atau pilek. Istilah nosophobia berasal dari bahasa Yunani, yakni nosos (νόσος) yang berarti “penyakit” dan phobos (φόβος) yang berarti “ketakutan”.[7]

Tanda dan Gejala

Dalam International Classification of Diseases edisi ke-10 (ICD-10),[8] nosofobia digolongkan sebagai bagian dari gangguan hipokondriakal, yaitu kondisi di mana seseorang memiliki kekhawatiran berlebihan terhadap kemungkinan menderita satu atau lebih penyakit fisik yang serius dan progresif. Ketakutan tersebut umumnya tidak berdasar dan sering kali mendorong penderita untuk mencari pemeriksaan medis dan jaminan dari tenaga kesehatan,[9][10] meskipun pada beberapa kasus individu justru menghindari pemeriksaan tersebut.[2]

Penderita nosofobia cenderung menghindari rangsangan internal maupun eksternal yang berkaitan dengan fobianya. Dalam salah satu studi kasus, seorang wanita dengan cardiophobia (ketakutan terhadap penyakit jantung) menghindari berinteraksi dengan orang yang dianggap berisiko terkena serangan jantung serta menjauhi makanan yang mengandung kolesterol.[11] Terkadang muncul perilaku pemeriksaan berulang, seperti memeriksa tubuh untuk mencari bercak yang dianggap sebagai tanda sarkoma Kaposi (pada penderita AIDS) atau memeriksa kulit untuk melihat apakah terdapat tanda-tanda kanker kulit.[10][11]

Kemungkinan Penyebab

Teori Psikodinamik

Salah satu penyebab nosofobia yang dikemukakan oleh Hunter dan koleganya berlandaskan teori psiko dinamika.[12] Menurut teori ini, stres dan fokus intensif terhadap tubuh, penyakit, serta kematian seperti yang dialami oleh mahasiswa kedokteran, dapat memicu reaksi dari kelemahan atau kepekaan psikologis yang sudah ada sebelumnya. Mahasiswa kedokteran cenderung mengidentifikasi diri dengan riwayat medis orang terdekat, pasien masa lalu, atau pengalaman pribadi, sehingga kekhawatiran mereka terhadap penyakit meningkat seiring keterlibatan emosional terhadap pasien.

Pengaruh Media

Literatur terdahulu menunjukkan bahwa pemahaman yang keliru tentang penyakit, baik akibat pemberitaan media maupun gosip tanpa dasar, dapat memunculkan ketakutan terhadap penyakit tertentu.[13][14] Studi menunjukkan adanya hubungan antara penyakit yang umum ditakuti dengan tingkat kemunculannya di masyarakat.[9] Sebagai contoh, kampanye kesehatan publik tentang tuberkulosis pada tahun 1911 memicu peningkatan kasus phthisiophobia. Demikian pula, ketakutan terhadap AIDS meningkat pada tahun 1991 selama epidemi HIV/AIDS yang banyak diberitakan di radio dan televisi.[10] Pada dekade 1990-an, perhatian media terhadap penyakit sapi gila (bovine spongiform encephalopathy) juga memunculkan fobia terhadap penyakit tersebut di masyarakat.[1]

Riwayat Keluarga

Sebuah studi menunjukkan bahwa penderita nosofobia lebih sering merupakan anak bungsu dibandingkan kelompok kontrol dan populasi umum.[9] Salah satu penjelasan yang diajukan adalah bahwa anak bungsu dibesarkan oleh keluarga yang lebih tua sehingga lebih sering menyaksikan penyakit atau kematian kerabat lanjut usia. Mereka juga cenderung memiliki orang tua yang terlalu protektif dan menunjukkan kecemasan berlebihan saat anak sakit atau terluka, sekaligus memberikan perhatian intens saat anak sakit. Pola pengasuhan seperti ini dapat menumbuhkan kesadaran berlebihan terhadap kerentanan pribadi terhadap penyakit dan kematian.

Referensi

  1. 1 2 Sirri, Laura; Grandi, Silvana (2012). Fava, G.A.; Sonino, N.; Wise, T.N. (ed.). Illness Behavior (dalam bahasa Inggris). Vol. 32. S. Karger AG. hlm. 160–181. doi:10.1159/000330015. ISBN 978-3-8055-9853-8.
  2. 1 2 "What Is Nosophobia?". WebMD (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-10.
  3. ↑ Mariner, W K (1995-11). "AIDS phobia, public health warnings, and lawsuits: deterring harm or rewarding ignorance?". American Journal of Public Health. 85 (11): 1562–1568. doi:10.2105/AJPH.85.11.1562. ISSN 0090-0036. PMC 1615706. PMID 7485674.
  4. ↑ Riva, M. A.; Ploia, Paola Roberta; Rocca, S.; Cesana, G. (2013). ""Phthisiophobia": the difficult recognition of transmission of tuberculosis to health care workers". La Medicina Del Lavoro. 104 (5): 359–367. ISSN 0025-7818. PMID 24180084.
  5. ↑ Janssen, Diederik F. (2020-09). "Noddle Pox: Syphilis and the Conception of Nosomania/Nosophobia (c. 1665–c. 1965)". Canadian Bulletin of Medical History. 37 (2): 319–359. doi:10.3138/cbmh.432-032020. ISSN 0823-2105.
  6. ↑ Eifert, Georg H. (1992-07-01). "Cardiophobia: A paradigmatic behavioural model of heart-focused anxiety and non-anginal chest pain". Behaviour Research and Therapy. 30 (4): 329–345. doi:10.1016/0005-7967(92)90045-I. ISSN 0005-7967.
  7. ↑ "Nosophobia (Fear of Disease): Causes, Symptoms & Treatment". Cleveland Clinic (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-10.
  8. ↑ World Health Organization. ICD-10 Version: 2019 – F45.2 Hypochondriacal disorders. Geneva: WHO; 2019. Diakses secara daring dari https://icd.who.int/browse10/2019/en#/F45.2
  9. 1 2 3 Bianchi, G. N. (1971-12-01). "Origins of Disease Phobia*". Australian & New Zealand Journal of Psychiatry (dalam bahasa Inggris). 5 (4): 241–257. doi:10.1080/00048677109159654. ISSN 0004-8674.
  10. 1 2 3 Logsdail, Stephen; Lovell, Karina; Warwick, Hilary; Marks, Isaac (1991-09). "Behavioural Treatment of AIDS-Focused Illness Phobia". The British Journal of Psychiatry (dalam bahasa Inggris). 159 (3): 422–425. doi:10.1192/bjp.159.3.422. ISSN 0007-1250.
  11. 1 2 Warwick, Hilary M. C.; Marks, Isaac M. (1988-02). "Behavioural Treatment of Illness Phobia and Hypochondriasis: A pilot study of 17 cases". The British Journal of Psychiatry (dalam bahasa Inggris). 152 (2): 239–241. doi:10.1192/bjp.152.2.239. ISSN 0007-1250.
  12. ↑ Hunter, R. C. A.; Lohrenz, J. G.; Schwartzman, A. E. (1964-08). "NOSOPHOBIA AND HYPOCHONDRIASIS IN MEDICAL STUDENTS:". The Journal of Nervous and Mental Disease (dalam bahasa Inggris). 139 (2): 147–152. doi:10.1097/00005053-196408000-00008. ISSN 0022-3018.
  13. ↑ Ryle, John A. (1948-01). "The Twenty-First Maudsley Lecture: Nosophobia". Journal of Mental Science (dalam bahasa Inggris). 94 (394): 1–17. doi:10.1192/bjp.94.394.1. ISSN 0368-315X.
  14. ↑ "Psycho-analysis for normal people | WorldCat.org". search.worldcat.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-11.
Basis data pengawasan otoritas: Nasional Sunting di Wikidata
  • Republik Ceko

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Tanda dan Gejala
  2. Kemungkinan Penyebab
  3. Teori Psikodinamik
  4. Pengaruh Media
  5. Riwayat Keluarga
  6. Referensi

Artikel Terkait

Islamofobia

rasa takut, benci, atau prasangka buruk terhadap Islam dan pemeluk agama Islam

Sindrom mahasiswa kedokteran

penelitian terakhir menyarankan bahwa kondisi tersebut harus disebut sebagai nosofobia, bukan hipokondria. Dalam masa pembelajaran, para mahasiswa kedokteran

Heksakosioiheksekontaheksafobia

fobia terhadap angka 666 atau "angka setan"

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026