Nosofobia dikenal jugs sebagai fobia penyakit atau gangguan kecemasan penyakit, merupakan ketakutan irasional terhadap kemungkinan tertular suatu penyakit. Jenis fobia spesifik ini meliputi ketakutan terhadap infeksi HIV, tuberkulosis paru (phthisiophobia), infeksi menular seksual, kanker (carcinophobia), penyakit jantung (cardiophobia), COVID-19 (coronaphobia), serta penyakit ringan seperti influenza atau pilek. Istilah nosophobia berasal dari bahasa Yunani, yakni nosos (νόσος) yang berarti “penyakit” dan phobos (φόβος) yang berarti “ketakutan”.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Nosofobia dikenal jugs sebagai fobia penyakit[1] atau gangguan kecemasan penyakit,[2] merupakan ketakutan irasional terhadap kemungkinan tertular suatu penyakit. Jenis fobia spesifik ini meliputi ketakutan terhadap infeksi HIV (AIDS phobia atau HIV serophobia),[3] tuberkulosis paru (phthisiophobia),[4] infeksi menular seksual (syphilophobia atau venereophobia),[5] kanker (carcinophobia), penyakit jantung (cardiophobia),[6] COVID-19 (coronaphobia), serta penyakit ringan seperti influenza atau pilek. Istilah nosophobia berasal dari bahasa Yunani, yakni nosos (νόσος) yang berarti “penyakit” dan phobos (φόβος) yang berarti “ketakutan”.[7]
Dalam International Classification of Diseases edisi ke-10 (ICD-10),[8] nosofobia digolongkan sebagai bagian dari gangguan hipokondriakal, yaitu kondisi di mana seseorang memiliki kekhawatiran berlebihan terhadap kemungkinan menderita satu atau lebih penyakit fisik yang serius dan progresif. Ketakutan tersebut umumnya tidak berdasar dan sering kali mendorong penderita untuk mencari pemeriksaan medis dan jaminan dari tenaga kesehatan,[9][10] meskipun pada beberapa kasus individu justru menghindari pemeriksaan tersebut.[2]
Penderita nosofobia cenderung menghindari rangsangan internal maupun eksternal yang berkaitan dengan fobianya. Dalam salah satu studi kasus, seorang wanita dengan cardiophobia (ketakutan terhadap penyakit jantung) menghindari berinteraksi dengan orang yang dianggap berisiko terkena serangan jantung serta menjauhi makanan yang mengandung kolesterol.[11] Terkadang muncul perilaku pemeriksaan berulang, seperti memeriksa tubuh untuk mencari bercak yang dianggap sebagai tanda sarkoma Kaposi (pada penderita AIDS) atau memeriksa kulit untuk melihat apakah terdapat tanda-tanda kanker kulit.[10][11]
Salah satu penyebab nosofobia yang dikemukakan oleh Hunter dan koleganya berlandaskan teori psiko dinamika.[12] Menurut teori ini, stres dan fokus intensif terhadap tubuh, penyakit, serta kematian seperti yang dialami oleh mahasiswa kedokteran, dapat memicu reaksi dari kelemahan atau kepekaan psikologis yang sudah ada sebelumnya. Mahasiswa kedokteran cenderung mengidentifikasi diri dengan riwayat medis orang terdekat, pasien masa lalu, atau pengalaman pribadi, sehingga kekhawatiran mereka terhadap penyakit meningkat seiring keterlibatan emosional terhadap pasien.
Literatur terdahulu menunjukkan bahwa pemahaman yang keliru tentang penyakit, baik akibat pemberitaan media maupun gosip tanpa dasar, dapat memunculkan ketakutan terhadap penyakit tertentu.[13][14] Studi menunjukkan adanya hubungan antara penyakit yang umum ditakuti dengan tingkat kemunculannya di masyarakat.[9] Sebagai contoh, kampanye kesehatan publik tentang tuberkulosis pada tahun 1911 memicu peningkatan kasus phthisiophobia. Demikian pula, ketakutan terhadap AIDS meningkat pada tahun 1991 selama epidemi HIV/AIDS yang banyak diberitakan di radio dan televisi.[10] Pada dekade 1990-an, perhatian media terhadap penyakit sapi gila (bovine spongiform encephalopathy) juga memunculkan fobia terhadap penyakit tersebut di masyarakat.[1]
Sebuah studi menunjukkan bahwa penderita nosofobia lebih sering merupakan anak bungsu dibandingkan kelompok kontrol dan populasi umum.[9] Salah satu penjelasan yang diajukan adalah bahwa anak bungsu dibesarkan oleh keluarga yang lebih tua sehingga lebih sering menyaksikan penyakit atau kematian kerabat lanjut usia. Mereka juga cenderung memiliki orang tua yang terlalu protektif dan menunjukkan kecemasan berlebihan saat anak sakit atau terluka, sekaligus memberikan perhatian intens saat anak sakit. Pola pengasuhan seperti ini dapat menumbuhkan kesadaran berlebihan terhadap kerentanan pribadi terhadap penyakit dan kematian.