Radiofobia adalah ketakutan irasional atau berlebihan terhadap radiasi pengion. Kondisi ini ditandai dengan kecenderungan untuk melebih-lebihkan risiko kesehatan akibat paparan radiasi dibandingkan dengan bahaya lain yang sebanding. Radiofobia dapat menghambat pengambilan keputusan rasional serta memunculkan perilaku dan kebijakan yang kontraproduktif terhadap penggunaan teknologi radiasi dan nuklir. Fenomena ini umumnya dipandang sebagai gejala sosial yang muncul dari persepsi publik terhadap risiko, bukan semata-mata gangguan psikologis individual. Istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan penolakan terhadap penggunaan teknologi nuklir, termasuk tenaga nuklir, yang timbul dari kekhawatiran yang tidak sebanding dengan risiko faktual.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Radiofobia (dari bahasa Latin radius ‘sinar’ dan bahasa Yunani phobos ‘ketakutan’)[1] adalah ketakutan irasional atau berlebihan terhadap radiasi pengion. Kondisi ini ditandai dengan kecenderungan untuk melebih-lebihkan risiko kesehatan akibat paparan radiasi dibandingkan dengan bahaya lain yang sebanding. Radiofobia dapat menghambat pengambilan keputusan rasional serta memunculkan perilaku dan kebijakan yang kontraproduktif terhadap penggunaan teknologi radiasi dan nuklir. Fenomena ini umumnya dipandang sebagai gejala sosial yang muncul dari persepsi publik terhadap risiko, bukan semata-mata gangguan psikologis individual. Istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan penolakan terhadap penggunaan teknologi nuklir, termasuk tenaga nuklir, yang timbul dari kekhawatiran yang tidak sebanding dengan risiko faktual.[2][3]
Istilah Radiofobia pertama kali digunakan pada tahun 1903 dalam makalah berjudul “Radio-phobia and Radio-mania” yang disampaikan oleh Dr. Albert Soiland di Los Angeles.[4] Pada dekade 1920-an, istilah ini digunakan untuk menyebut ketakutan terhadap teknologi penyiaran dan penerimaan radio.[5][6] Pada tahun 1931, The Salt Lake Tribune mendefinisikan radiofobia sebagai ketakutan terhadap pengeras suara, yang disebut diderita oleh aktris Joan Crawford.[7][8] Surat kabar di Australia pada 1930-an dan 1940-an juga menggunakan istilah ini dengan makna serupa.[9] Puisi karya Margaret Mercia Baker berjudul “Radiophobia” (1949) menggambarkan kekhawatiran terhadap masuknya iklan ke dalam siaran radio.[10] Hingga dekade 1940-an dan 1950-an, istilah ini masih berkaitan dengan penyiaran radio dan belum memiliki konotasi terhadap radiasi pengion.[11][12]
Mulai 1950-an dan 1960-an, istilah radiofobia mengalami pergeseran makna dan digunakan untuk menggambarkan ketakutan terhadap radiasi gamma serta penggunaan sinar-X dalam kedokteran.[13][14] Science Service, lembaga penyebar informasi ilmiah di Akademi Sains Nasional Amerika Serikat, menyebut bahwa munculnya radiofobia berkaitan dengan publikasi tahun 1956 mengenai “bahaya genetik” akibat paparan radiasi pengion.[15] Dalam kolom surat kabar tahun 1970, Dr. Harold Pettit, M.D. menyatakan bahwa rasa hormat terhadap bahaya radiasi memang diperlukan, tetapi menurutnya bahaya tersebut telah dilebih-lebihkan sejak dimulainya uji coba atom pada awal 1950-an, sehingga menimbulkan gangguan psikologis baru yang kemudian dikenal sebagai radiofobia atau neurosis nuklir.[16]