PT Indo Transport Abdimas adalah sebuah perusahaan otobus Indonesia yang berasal dari Kota Magelang, Jawa Tengah. Perusahaan ini melayani rute transportasi darat dari dan ke berbagai kota di Pulau Jawa dan Sumatra. Perusahaan ini memegang empat merek, yakni Handoyo, HD Transport, Mandala, dan Indo Trans.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bus Handoyo, saat diparkir di pool-nya di selatan Terminal Jombor | |
| Didirikan | 1975 |
|---|---|
| Kantor pusat | Magelang, Jawa Tengah, Indonesia |
| Wilayah layanan | |
| Jenis layanan | |
| Garasi | Magelang, Surabaya |
| Armada | 100 unit/hari (2025) |
| Jenis bahan bakar | Diesel |
| Pimpinan |
|
| Situs web | handoyo |
PT Indo Transport Abdimas adalah sebuah perusahaan otobus Indonesia yang berasal dari Kota Magelang, Jawa Tengah. Perusahaan ini melayani rute transportasi darat dari dan ke berbagai kota di Pulau Jawa dan Sumatra. Perusahaan ini memegang empat merek, yakni Handoyo, HD Transport, Mandala (ketiga berjalan sebagai bus antarkota antarprovinsi), dan Indo Trans (berjalan sebagai bus pariwisata dan bus antar-jemput).
Handoyo didirikan pada tahun 1975 oleh Yohanes Dibyo Wibowo di Kota Magelang, Jawa Tengah. Pada awal berdirinya, perusahaan otobus ini berfokus melayani trayek antarkota dalam provinsi maupun antarprovinsi dengan jarak dekat hingga menengah.[1] Beberapa rute awal yang dilayani antara lain Yogyakarta–Semarang, serta trayek AKDP seperti Magelang–Weleri dan Magelang–Ngadirejo. Kehadiran Handoyo pada masa itu menjadi salah satu penopang utama mobilitas masyarakat di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya.[2]
Memasuki tahun 1988, PO Handoyo mulai melakukan perubahan strategi dengan beralih melayani trayek AKAP jarak jauh. Rute yang dikembangkan mencakup perjalanan dari Yogyakarta, Magelang, dan daerah sekitarnya menuju kawasan Jabotabek. Perluasan layanan ini menandai langkah penting Handoyo untuk masuk ke pasar transportasi antarkota jarak jauh. Seiring meningkatnya permintaan, armada dan jaringan operasional perusahaan pun terus bertambah.[2]
Nama Handoyo sendiri diambil dari nama anak pendirinya, yakni Daniel Handoyo, yang kelak menjadi pimpinan utama perusahaan. Pemberian nama ini mencerminkan harapan sang pendiri agar usaha tersebut dapat terus berlanjut lintas generasi. Dalam operasionalnya, PO Handoyo mengusung jargon "Abdi Masyarakat" sebagai wujud komitmen melayani kebutuhan transportasi publik.[1] Selain itu, slogan "Safety dulu baru fulus" juga kerap ditampilkan pada bodi bus sebagai pengingat pentingnya keselamatan bagi kru maupun penumpang.[3]
Pada tahun 1995, Handoyo kembali melakukan ekspansi dengan membuka trayek antarpulau. Trayek ini menghubungkan kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur menuju berbagai daerah di Pulau Sumatra. Ekspansi tersebut memperluas jangkauan layanan Handoyo sekaligus memperkuat posisinya sebagai perusahaan otobus nasional. Sejak saat itu, Handoyo semakin dikenal luas di kalangan pengguna transportasi antarkota dan antarpulau.[2]

Setelah kepemimpinan beralih ke Daniel Handoyo, perusahaan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Di bawah manajemennya, Handoyo bahkan tumbuh melampaui visi awal yang dicita-citakan oleh sang pendiri. Julukan "Raja Jalanan dari Lembah Tidar" pun melekat pada perusahaan ini. Dalam proses ekspansinya, Handoyo mengakuisisi sebuah perusahaan otobus asal Jawa Timur, PO Mandala, beserta trayek-trayek strategisnya, seperti rute dari Bandung, Tasikmalaya, dan Banjar menuju Purwokerto hingga kota-kota di Jawa Timur seperti Jombang, Ngawi, dan Surabaya.[1][4]
Pada Maret 2015, Handoyo Group resmi berbadan hukum perseroan terbatas dengan nama PT Indo Transport Abdimas. Saat itu, perusahaan telah mengoperasikan sekitar 250 unit bus dengan empat jenama utama, yaitu Handoyo, HD Transport, Mandala, dan Indo Trans.[5] Setelah menjadi PT, Handoyo mulai merambah sektor bus pariwisata guna menjawab tingginya minat masyarakat dan mendukung program pariwisata nasional, yang mulai direalisasikan pada tahun 2017.[2] Namun, pada 4 Oktober 2022, PT Indo Transport Abdimas mengumumkan penutupan operasional bus Mandala untuk trayek Bandung–Surabaya yang efektif berlaku sehari setelahnya.[4]

Di garasi utamanya, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Magelang, Handoyo diketahui mengoperasikan 100 bus dan berdekatan dengan garasi milik perusahaan otobus lainnya, termasuk Sumber Waras, Santoso, dan Maju Makmur. Handoyo dikenal mengandalkan sasis bus buatan Hino, termasuk sasis AK dan RK, serta sebagian kecil dari Mercedes-Benz.[6] Armada modern PO Handoyo banyak mengandalkan sasis Hino RM 280 Air Suspension Euro 4 yang memiliki keunggulan pada kestabilan dan kenyamanan berkat sistem suspensi udara. Sasis ini juga menggunakan konstruksi space frame yang memungkinkan bagasi lebih luas karena ruang penyimpanan dapat menembus dari sisi kanan ke kiri.[7][8]
Terkait dengan karoseri bus, Handoyo tidak pilih-pilih. Handoyo pernah memiliki unit bus produksi New Armada dan Rahayu Santosa. Namun saat ini Handoyo terobsesi dengan unit-unit bus berkaroseri Adi Putro dan Laksana.[6][9] Beberapa unit bus terbaru yang diluncurkan menggunakan bodi Laksana Legacy SR-3 XHD Prime Ultimate atau Legacy SR-3 XHD Ultimate yang dikenal memiliki desain modern dan mewah. Ciri khas bodi ini antara lain penggunaan kaca depan model double glass dengan aksen bando pada bagian fasia, tampilan lampu full LED, serta desain eksterior futuristik. PO Handoyo dikenal memiliki identitas visual berupa pola pengecatan kuning emas yang dipadukan dengan warna hitam serta ornamen gambar kepala singa di sisi bodi. Selain itu, beberapa unit edisi khusus bahkan menampilkan tulisan peringatan ulang tahun perusahaan sebagai bagian dari desain eksteriornya. Pada bagian interior, bus dirancang untuk kenyamanan perjalanan jarak jauh dengan konfigurasi kursi 2-2 yang dilengkapi sandaran tangan dan sandaran kaki, serta fasilitas tambahan seperti televisi, AC, dan toilet di bagian belakang.[7][8]
Pada masa pandemi Covid-19, Handoyo pernah meluncurkan bus khusus bertema social distancing sebagai bentuk adaptasi terhadap protokol kesehatan di transportasi umum. Bus ini menggunakan bodi Laksana Legacy SR-2 dengan sasis Hino R260, tetapi memiliki konfigurasi kabin yang berbeda dari bus pada umumnya. Jika bus antarkota biasanya memakai pola kursi 2–2 atau 2–3, armada ini justru menggunakan konfigurasi 1–1–1 dengan dua lorong, sehingga jumlah kursinya hanya sekitar 27 buah. Tata letak tersebut membuat jarak antarpenumpang jauh lebih renggang, sehingga dapat mengurangi risiko penularan penyakit sekaligus meningkatkan kenyamanan selama perjalanan jarak jauh. Peluncuran bus ini merupakan upaya PO Handoyo untuk memberikan layanan transportasi yang lebih aman dan sesuai dengan kebutuhan mobilitas masyarakat di masa pandemi.[10]

PO Handoyo menjadikan layanan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) sebagai lini bisnis utama yang menopang operasional perusahaan. Perusahaan otobus ini dikenal memiliki jaringan trayek yang cukup luas, terutama di Pulau Jawa dan Sumatra, dengan berbagai rute yang menghubungkan kota-kota besar maupun kota menengah. Hampir seluruh wilayah di Jawa, termasuk Madura, dijangkau oleh layanan Handoyo, sehingga menjadikannya salah satu operator bus yang cukup dikenal di jalur tersebut. Dalam operasionalnya, Handoyo lebih berfokus pada layanan bus non-ekonomi yang menitikberatkan pada kenyamanan perjalanan jarak jauh. Kelas layanan yang ditawarkan beragam, mulai dari kelas VIP, Eksekutif, Super Eksekutif, hingga Suites Class yang merupakan kelas tertinggi dengan tingkat kenyamanan lebih eksklusif dibanding kelas lainnya.[8][11]
Untuk menunjang kenyamanan penumpang, bus-bus Handoyo dilengkapi berbagai fasilitas yang umum tersedia pada armada bus non-ekonomi. Fasilitas tersebut antara lain pendingin udara (AC), kursi ergonomis yang dilengkapi leg rest untuk menopang tungkai selama perjalanan panjang, serta sabuk pengaman sebagai fitur keselamatan dasar. Penumpang juga mendapatkan cup holder pada kursi untuk menyimpan minuman, serta dua unit televisi di bagian kabin yang berfungsi sebagai sarana hiburan selama perjalanan.[8] Selain mengoperasikan jenama utama Handoyo, perusahaan ini menjalankan dua jenama bus lain sebagai bagian dari pengembangan layanan, yaitu HD Transport dan Mandala. Namun, operasional Mandala yang melayani rute Bandung–Surabaya akhirnya dihentikan pada 5 Oktober 2022 setelah terdampak kondisi industri transportasi selama pandemi Covid-19.[5][4]
Selain layanan AKAP, sejak 2017, PO Handoyo juga mengoperasikan layanan bus pariwisata yang biasanya digunakan untuk kegiatan wisata, perjalanan rombongan, karyawisata, hingga perjalanan instansi atau perusahaan. Bus pariwisata Handoyo menggunakan jenama Indo Trans.[2] Pada Agustus 2020, Indo Trans, bersama dengan PO lain di wilayah eks-Keresidenan Kedu seperti Safari Dharma Raya diketahui juga melayani paket wisata berupa open trip, khususnya dengan rute menuju berbagai destinasi wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Perjalanannya dimulai dari Parakan, Temanggung menuju garasi PO Handoyo di Magelang, kemudian dilanjutkan menuju Yogyakarta dengan dua pilihan paket: wisata religi serta wisata pantai dan belanja. Paket wisata religi yang dilayani meliputi Makam Gunung Pring, Pantai Parangtritis, dan Makam Sunan Pandanaran. Sementara untuk wisata belanja, objek wisatanya meliputi Parangtritis, Gumuk Pasir Parangkusumo, Cemoro Sewu, dan Jalan Malioboro.[12]
Handoyo juga melayani bus antar-jemput, dengan jenama Indo Trans Travel, dengan rute dari Kota Surabaya menuju Bali, Banyuwangi, Jember, Lumajang, dan Malang.
Media terkait Handoyo buses di Wikimedia Commons