PT Efisiensi Putra Utama adalah perusahaan otobus Indonesia yang berasal dari Kebumen, Jawa Tengah. Perusahaan yang memiliki garasi di Yogyakarta, Kebumen, Cilacap, dan Purwokerto ini menjadi salah satu penyedia bus antarkota dalam provinsi (AKDP), antarprovinsi (AKAP), dan antar-jemput (shuttle) jarak menengah di jalur selatan dan tengah Jawa dengan model operasional cepat terbatas (patas). Selain mengoperasikan bus antarkota jarak menengah, Efisiensi memiliki anak usaha yang bergerak di bidang penyelenggaraan bus pariwisata dan AKAP jarak jauh yang diberi nama Tividi, serta dua perusahaan bus pariwisata dengan nama RV Trans dan Ratna Sari.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Didirikan | 1994 (1994) |
|---|---|
| Kantor pusat | Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia |
| Wilayah layanan | Jawa |
| Jenis layanan |
|
| Garasi | Kebumen dan Yogyakarta |
| Jenis bahan bakar | Diesel |
| Operator |
|
| Direktur Utama | Teuku Erry Rubihamsyah |
| Situs web | efisiensi |
PT Efisiensi Putra Utama adalah perusahaan otobus Indonesia yang berasal dari Kebumen, Jawa Tengah. Perusahaan yang memiliki garasi di Yogyakarta, Kebumen, Cilacap, dan Purwokerto ini menjadi salah satu penyedia bus antarkota dalam provinsi (AKDP), antarprovinsi (AKAP), dan antar-jemput (shuttle) jarak menengah di jalur selatan dan tengah Jawa dengan model operasional cepat terbatas (patas). Selain mengoperasikan bus antarkota jarak menengah, Efisiensi memiliki anak usaha yang bergerak di bidang penyelenggaraan bus pariwisata dan AKAP jarak jauh yang diberi nama Tividi, serta dua perusahaan bus pariwisata dengan nama RV Trans dan Ratna Sari.
Setelah menjalani kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Teuku Ery Rubihamsyah, seorang warga Kebumen, menapaki dunia bisnis transportasi. Di masa mudanya, ia sangat menyukai dunia otomotif, diwariskan dari kedua orang tuanya yang juga berbisnis otomotif. Ia piawai memodifikasi kendaraan yang digunakan dalam balap motor. Dengan bakatnya dalam perbaikan dan modifikasi kendaraan, ia membuka jasa kursus mengemudi. Dengan modal dari keuntungan usaha kursus mengemudi itulah Rubihamsyah memulai bisnis bus.[1]
Rubihamsyah mengatakan dalam situs resmi FE UII, bahwa dalam berbisnis, seseorang harus menemukan "roh" (maksudnya passion) bisnis yang cocok, karena jika tidak cocok, maka bisnis yang dijalankan akan gagal. Diketahui, sebelum membengkel, ia pernah berbisnis di sektor kuliner, yang justru selalu gagal atau bahkan bangkrut. Karena ia sudah memiliki passion otomotif, ia justru memantapkan diri dalam bisnis otomotif.[1]
Menurut Manajer Komersial Efisiensi, Syukron Wahyudi, saat diwawancarai oleh Liputan6.com pada 21 Desember 2016, Efisiensi pertama kali didirikan pada tahun 1994, setelah beberapa tahun keluarga Rubihamsyah membuka bengkel dan kursus mengemudi. Trayek perdananya adalah Kebumen–Yogyakarta dengan satu unit bus. Rubihamsyah pun menjadi sopirnya.[2]
Pada 1997, ia hanya bisa menambah dua unit bus, dan pada tahun 2000, ia pun sudah membeli tambahan tujuh bus besar. Bus-bus tersebut berjalan sebagai bus antarkota, juga sebagai bus pariwisata.[2] Usaha tersebut berhasil berkat kerja sama Rubihamsyah dengan HS Trans (trayek Yogyakarta–Liwa) dan Bengkulu Indah (trayek Yogyakarta–Bengkulu) yang diteken pada 1998, juga membuka bus karyawan Caltex.[3] Namun bisnis Rubihamsyah mulai bergolak karena krisis finansial Asia, sehingga ia terpaksa harus menjual banyak sekali aset yang sudah dimilikinya. Menurutnya, "Yang terpenting punya batas, kalo sudah tidak profit (laba) ya diamputasi aja bisnisnya."[1]
Pada tahun 2003, Efisiensi mulai merambah ke jasa layanan bus patas kelas eksekutif berjadwal dengan trayek Yogyakarta–Cilacap, dengan mengerahkan empat unit bus tiap harinya, yang kala itu belum ada perusahaan otobus yang menjalankan Patas AC di rute tersebut. Dua tahun kemudian, perusahaan ini membuka trayek berjadwal dengan rute Yogyakarta–Purwokerto, dan bersaing dengan perusahaan otobus lain, termasuk PO Raharja yang armadanya sangat banyak. Kala itu, Efisiensi justru menawarkan tarif awal yang relatif murah, Rp35.000,00 dan gratis minuman ringan, sebelum akhirnya dinaikkan menjadi Rp60.000,00.[2]

Wahyudi mengatakan bahwa Rubihamsyah memberi nama perusahaan otobusnya Efisiensi karena Rubihamsyah menginginkan manajemen operasional perusahaan yang lebih efisien. Perusahaan ini dikenal rutin menyelenggarakan survei kepuasan penumpang. Dengan survei tersebut, kebutuhan bahan bakar minyak untuk sekali perjalanan bisa dijatah setiap sekali jalan. Sering kali BBM mengalami kelebihan, agar waktu tempuh perjalanannya bisa kurang dari lima jam, tetapi tidak boleh lebih dari lima jam. Ia mengaku ada sebagian penumpang yang justru komplain dengan waktu tempuhnya. Hal inilah yang membuatnya berargumen penghematan tersebut berdampak pada murahnya tarif tiket bus.[2] Atas dedikasinya ini, pada tanggal 21 Maret 2012, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia memberikan penghargaan Pelayanan AKAP Non-Ekonomi Terbaik kategori Perusahaan Sedang.[4]
Pada tahun 2012, untuk mengakomodasi pelanggan dari wilayah Purbalingga, dibuka trayek Yogyakarta–Purbalingga. Dua tahun berselang, Efisiensi kemudian berbadan hukum dengan nama PT Efisiensi Putra Utama dan meluncurkan sistem penjualan tiket daring.[5] Pada tahun 2018, Efisiensi meluncurkan rute Cilacap–Magelang–Semarang serta Purwokerto–Wonosobo–Semarang. Namun rute Purwokerto–Wonosobo ditutup karena perbaikan jembatan di Lodukuh, Temanggung.[6] Pada November 2021, Efisiensi membuka trayek baru, kali ini Cilacap–Semarang–Kudus–Jepara dengan bus physical distancing.[7]
Di samping pelayanan bus antarkota, Efisiensi juga membuka trayek bus antar-jemput (shuttle), yang dapat diakses dari pool Efisiensi Ambarketawang dengan rute menuju pusat Kota Yogyakarta dan Bandar Udara Adisutjipto.[2] Efisiensi dahulu pernah bekerja sama dengan SatelQu, perusahaan bus antar-jemput yang memiliki spesialisasi rute Bandar Udara Internasional Yogyakarta, bahkan sempat meluncurkan bus physical distancing selama pandemi Covid-19.[8]
Pada Maret 2022, anak dari Rubihamsyah, Ervinda, mulai diberikan tanggung jawab sebagai penerus dari Efisiensi, setelah lulus kuliah dari Melbourne, Australia. Menurutnya, ia mendapat tugas ini karena Efisiensi masih kekosongan pucuk pimpinan, sedangkan kakaknya sendiri sudah mengisi jabatan di divisi kurir dan paket. Ia juga mengatakan bahwa Efisiensi saat itu belum memiliki sistem tiket elektronik yang memadai dan terintegrasi. Kariernya di Efisiensi inilah yang membuatnya menjadi "idola baru" di kalangan penggemar bus Indonesia dan komunitas penggemar bus Efisiensi.[9]

Efisiensi dikenal karena sering mengganti armada bus paling lama dua tahun sekali. Menurut Rubihamsyah, Efisiensi harus memiliki target dan pangsa pasar yang jelas, serta menjadikan kenyamanan pelanggan sebagai kunci penting dalam berbisnis.[1] Sementara itu, menurut Syukron Wahyudi, Efisiensi memilih tidak akan menambah bus melebihi 60 unit. Keterisiannya yang mencapai 80% membuat penghematan yang dilakukan tetap dapat menyambung hidup perusahaan yang masih terus bersaing dengan perusahaan otobus lain, juga moda transportasi lain.[2]
Efisiensi menggunakan sasis dan karoseri dari berbagai macam produsen. Namun, Efisiensi lebih dikenal sering memakai sasis buatan Hino (RM 280[10] dan RK8 R260[11]) dan karoseri buatan Adi Putro (Jetbus).[10] Meskipun lebih sering menggunakan Adi Putro Jetbus, Efisiensi (maupun anak-anak usahanya) juga mengoperasikan karoseri lainnya, seperti Laksana Legacy SR-3 untuk bus kelas Suites Combi-nya.[12] Selain itu, Efisiensi juga diketahui pernah mengoperasikan bus tingkat dengan sasis Mercedes-Benz OC 500 RF 2542 dengan karoseri New Setra Jetbus2+ SDD (Super Double-Decker) produksi Adi Putro.[13]
Pada Maret 2025, Efisiensi mengumumkan bahwa mereka bekerja sama dengan Kalista untuk menguji coba bus listrik, menggunakan rute Cilacap–Yogyakarta sebagai trayek percobaan.[14]
Lini bisnis utama Efisiensi adalah rute bus antarkota yang melayani rute Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Bus Efisiensi beroperasi sebagai bus besar antarkota antarprovinsi (AKAP), antarkota dalam provinsi (AKDP), dan bus antar-jemput antarprovinsi (shuttle), berpusat di rute-rute dengan tujuan akhir kota-kota penting di Jawa Tengah beserta Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti Kota Magelang, Kota Semarang, Kota Yogyakarta, dan Kota Surakarta.[15][7][5]
Ada segmentasi rute khusus yang dioperasikan oleh Efisiensi, yakni trayek Bandar Udara Internasional Yogyakarta. Efisiensi pernah bekerja sama dengan perusahaan bus antar-jemput SatelQu untuk melayani trayek tersebut.[8]

Efisiensi memiliki anak usaha bus pariwisata yang bernama PT Tividi Putra Sarana,[16] dan memiliki garasi bersama dengan Efisiensi di Ambarketawang, Gamping, Sleman.
Tanggal 18 Maret 2021, Tividi memperluas jangkauan pelayanannya dengan membuka rute bus antarkota antara DKI Jakarta beserta Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perjalanan perdana bus Tividi menuju DKI Jakarta melayani rute Jakarta–Yogyakarta via Kebumen dan Temanggung dengan bus berkelas "Gold Class" setara eksekutif. Bus ini memiliki fasilitas reclining seat 2-2 dengan jumlah 26 tempat duduk dengan legrest, toilet, Wi-Fi, snack gratis, dispenser, dan servis makan.[17] Kemudian, pada tanggal akhir 2023 Tividi diketahui telah membuka rute Cilacap–Surabaya–Malang via tol.[18]
Dua anak usaha lainnya yang juga diketahui merupakan bagian dari grup Efisiensi dan membuka jasa bus pariwisata adalah PT Putri Berlian Transindo (RV Trans) dan PT Ratna Sari Putra Gemilang. Pada saat peluncuran awalnya, Ratna Sari sempat merilis 10 unit bus baru dengan pola pengecatan yang sama dengan Efisiensi maupun Tividi. Bus Ratna Sari tersebut diperkenalkan di area pembuatan bus di perusahaan karoseri Adi Putro pada Oktober 2024.[19]
Efisiensi merupakan pelopor klakson telolet yang penggunaannya menjadi viral di media sosial pada tahun 2016. Menurut Rubihamsyah, ia mendapat inspirasi untuk menggunakan klakson telolet saat ia melancong ke Timur Tengah, dan menemukan sebuah mobil dengan bunyi klakson yang sangat khas.[2]
Media terkait Efisiensi and Tividi buses di Wikimedia Commons