PT Dewi Sri adalah perusahaan otobus Indonesia yang berpusat dan memiliki garasi utama di Pesurungan Lor, Margadana, Kota Tegal, Jawa Tengah. Perusahan otobus ini melayani bus antarkota di pesisir pantura Jawa Tengah bagian barat, bus permukiman Jabodetabek, serta bus pariwisata yang melayani berbagai kota di Jawa dan Bali. Dewi Sri dikenal karena menjadi satu-satunya perusahaan otobus asli Tegal yang menguasai trayek Pantura Jawa Tengah. Didirikan oleh keluarga Ismail, para anggota keluarganya tidak hanya berbisnis bus, tetapi juga melahirkan generasi kedua yang semuanya terjun ke dunia politik dan pemerintahan di wilayah Keresidenan Pekalongan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Tanda kata (wordmark) Dewi Sri, digunakan pada unit-unit lama. | |
| Didirikan | 1992 |
|---|---|
| Kantor pusat | Jalan Mataram, Pesurungan Lor, Margadana, Kota Tegal, Jawa Tengah, Indonesia |
| Wilayah layanan | Jawa |
| Jenis layanan |
|
| Garasi |
|
| Armada | 500 unit/hari |
| Jenis bahan bakar | Diesel |
| Operator |
|
| Direktur Utama | Rokhayah |
PT Dewi Sri adalah perusahaan otobus Indonesia yang berpusat dan memiliki garasi utama di Pesurungan Lor, Margadana, Kota Tegal, Jawa Tengah. Perusahan otobus ini melayani bus antarkota di pesisir pantura Jawa Tengah bagian barat, bus permukiman Jabodetabek, serta bus pariwisata yang melayani berbagai kota di Jawa dan Bali. Dewi Sri dikenal karena menjadi satu-satunya perusahaan otobus asli Tegal yang menguasai trayek Pantura Jawa Tengah (bersama dengan Dedy Jaya asal Brebes). Didirikan oleh keluarga Ismail, para anggota keluarganya tidak hanya berbisnis bus, tetapi juga melahirkan generasi kedua yang semuanya terjun ke dunia politik dan pemerintahan di wilayah Keresidenan Pekalongan.
Ismail, seorang laki-laki asal Randusanga Kulon, Brebes, merantau ke Tegal setelah menikah dengan Rokhayah. Sejak akhir 1960-an hingga 1980-an, pasangan keluarga ini awalnya mencari nafkah dengan bertani, mengelola pabrik es lilin, hingga berdagang beras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Untuk menunjang kelancaran distribusi beras, mereka kemudian membeli sebuah truk. Kepemilikan truk inilah yang kelak menjadi cikal bakal usaha transportasi mereka.[1][2][3]
Seiring waktu, Ismail dan Rokhayah mengubah arah bisnisnya dari perdagangan beras ke bidang transportasi darat penumpang. Mereka mendirikan sebuah perusahaan otobus bernama Dewi Sri yang berbasis di Kota Tegal. Dewi Sri mulai beroperasi pada tahun 1992. Pada masa awal, mereka sudah berkeinginan memiliki trayek antarkota antarprovinsi. Namun, karena status perusahaan yang masih rintisan, mereka memulai usaha ini dengan mengakuisisi trayek milik PO Panca Jaya dari Purwokerto. Trayek debut Dewi Sri adalah rute antarkota dalam provinsi Tegal–Purwokerto. Untuk melayani rute tersebut, perusahaan mengoperasikan beberapa unit bus sedang. Langkah ini menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan usaha mereka di sektor transportasi. Dari sinilah nama Dewi Sri mulai dikenal oleh masyarakat.[1][3]
Nama Dewi Sri diambil dari nama Dewi Padi dalam mitologi Jawa. Umumnya figur ini dikaitkan dengan Dewi Laksmi, dewi lambang kesuburan dalam mitologi Hindu. Rokhayah menyebut bahwa pemberian nama ini berkaitan dengan usaha sebelumnya yang berkaitan dengan pertanian dan beras.[3]
Pada tahun 1995, Dewi Sri mulai melebarkan sayap ke layanan antarkota antarprovinsi. Rute pertama yang dibuka adalah Tegal–Jakarta dengan mengoperasikan tujuh armada bus besar. Bus besar tersebut diperoleh dari hasil menjual seluruh unit bus sedangnya saat bermain di trayek AKDP.[3] Persaingan di jalur Pantura Jawa Tengah pada masa itu sangat ketat. Dewi Sri harus bersaing langsung dengan tetangganya sendiri, Dedy Jaya serta Sinar Jaya dari Bekasi.[1]
Saat menghadapi krisis finansial Asia 1997, nilai tukar rupiah semakin melemah sehingga keluarga Ismail harus menjual aset-asetnya.[3] Memasuki awal dekade 2000-an, Ismail menyerahkan tongkat kepemimpinan perusahaan kepada istrinya, Rokhayah, dan anaknya Ikmal Jaya. Dalam perkembangannya, tiga anak Ismail justru meniti karier di dunia politik. Mereka dikenal membangun pengaruh politik di wilayah Brebes, Tegal, dan Pemalang. Hal ini turut memengaruhi dinamika kepemimpinan di tubuh perusahaan. Ketika Jaya dilantik sebagai Wali Kota Tegal periode 2009–2014,[4] kepemimpinan PO Dewi Sri diambil alih oleh kakaknya, Idza Priyanti. Selanjutnya, pada 4 Desember 2012, Priyanti juga dilantik dalam jabatan publik, sebagai Bupati Brebes.[5]
Di tangan ketiga anak dari Ismail itu, Dewi Sri mulai melakukan ekspansi trayek baru, di antaranya Purwodadi–Jakarta, Kendal–Pekalongan–Pemalang–Jakarta, Slawi–Jakarta, Purbalingga–Jakarta, dan banyak rute lainnya. Meski dibayangi pro-kontra dinasti politik yang dibangun oleh generasi kedua dari keluarga Ismail, PO ini memiliki legacy dan kontribusi yang sangat berharga bagi perkembangan mobilitas masyarakat Kota dan Kabupaten Tegal. Dengan persaingannya yang keras itu, Dewi Sri masih bertahan melayani berbagai rute Pantura.[6]

Saat ini, Dewi Sri mengoperasikan 500 unit bus dalam tiga divisi, yakni bus antarkota, bus permukiman Jabodetabek, dan bus pariwisata.[1][2] Dewi Sri memiliki banyak bus lawas untuk trayek antarkotanya, menggunakan sasis Mitsubishi Colt Diesel, Hino, Mercedes-Benz, dan Volvo.[7] Sementara itu, karoseri bus yang digunakan berasal dari Tri Sakti, Laksana, Adi Putro, dan Rahayu Santosa.[6] Tercatat, Dewi Sri menggunakan salah satu sasis premium yang diproduksi oleh Volvo, yakni B7R dengan jumlah 20 unit, dan harganya dikenal sangat mahal.[1]
Unit-unit bus modern Dewi Sri menggunakan karoseri Legacy SR-3 Panorama produksi Laksana dan sasis Mercedes-Benz OH 1626. Bus ini dirilis pada tahun 2024 dan digunakan untuk bus pariwisata. Bus tersebut menggunakan pola pengecatan yang berbeda dengan bus regulernya (abu-abu atau hitam), kali ini bus tersebut menggunakan warna merah marun dengan garis-garis kuning.[8]
Sejak awal dirintis, Dewi Sri menjadikan bus antarkota sebagai lengan bisnis utamanya. Sebagai penguasa Pantura Jawa Tengah, bus-bus Dewi Sri melayani trayek dari dan tujuan kabupaten dan kota di wilayah Keresidenan Pekalongan menuju DKI Jakarta.[6] Trayek pertama Dewi Sri, Tegal–Purwokerto,[1] telah diintegrasikan dengan segmen trayek Tegal–Jakarta, sehingga membentuk satu trayek panjang, Purwokerto–Tegal–DKI Jakarta.
Terdapat dua kelas perjalanan yang ditawarkan, yakni kelas ekonomi dan kelas AC. Bersaing secara duopoli dengan Dedy Jaya dengan trayek yang hampir sama, saat ini Dewi Sri sedang menghadapi permasalahan terkait kualitas armada yang dimilikinya. Sejumlah pengguna TikTok mengkritik bahwa kondisi bus Dewi Sri pascapandemi Covid-19, mengalami banyak gangguan dan belum ada tanda-tanda peremajaan. Banyak AC yang tak dapat dioperasikan, tarif tiket yang tidak jelas, hingga banyak penumpang yang diturunkan di tempat yang tidak semestinya.[9]
Dewi Sri mulai terjun ke bus permukiman Jabodetabek saat kepemimpinannya diserahkan kepada Ikmal Jaya. Ketika itu, Dewi Sri, lewat anak usahanya, PT Wifend Darma Persada, mengelola bus perumahan yang berlokasi di kompleks kota terencana BSD City, Kemang Pratama, Lippo Karawaci, Bintaro Jaya, dan Bukit Sentul. Bus-bus milik Wifend Darma Persada inilah yang menjadi cikal bakal dari Transjakarta feeder, Transjabodetabek, dan JR Connexion. Saat ini, Wifend Darma Persada masih bermain di trayek JR Connexion.[10][11][12]
Dewi Sri juga melayani sewa bus pariwisata untuk kebutuhan perjalanan wisata di Jawa dan Bali. Unit-unit bus pariwisatanya menggunakan bus-bus yang relatif muda.[8]

Dinasti politik Dewi Sri sudah sangat familiar di kalangan masyarakat eks-Keresidenan Pekalongan. Idza Priyanti, Ikmal Jaya, dan Mukti Agung Wibowo adalah tiga anak Ismail dan Rokhayah selaku pendiri Dewi Sri. Selain menjadi pemegang tampuk kekuasaan perusahaan milik orang tuanya, mereka juga mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Jaya sukses menjadi Wali Kota Tegal periode 2009–2014 meski jatuh di tengah kepemimpinan periode keduanya lantaran tersandung kasus korupsi.[4] Sementara itu, Priyanti menjadi Bupati Brebes, dan Wibowo memenangkan pemilihan umum Bupati Pemalang 2020.[13]
Adanya dinasti politik tersebut memunculkan pro dan kontra di kalangan masyarakat, khususnya pelanggan setia bus Dewi Sri. Mereka menganggap dengan adanya dinasti-dinasti politik seperti ini dapat membuat ketidakfokusan dalam mengelola perusahaan otobus yang bisa berujung pada penurunan kualitas pelayanan.[14]
Catatan LHKPN 2016, yang dirilis oleh Komisi Pemberantasan Korupsi menyebutkan bahwa pada saat mencalonkan diri sebagai Bupati Brebes, Priyanti memiliki harta kekayaan sebesar Rp7,67 miliar, yang menjadikan Priyanti sebagai calon bupati terkaya dibandingkan calon yang lain.[15] Pada 11 Agustus 2022, Mukti Agung Wibowo ditetapkan sebagai tersangka KPK terkait kasus jual beli jabatan di Kabupaten Pemalang.[16] Priyanti menjadi orang terakhir dalam keluarga politik Dewi Sri yang bertahan menduduki jabatan kepala daerah di wilayah eks-Keresidenan Pekalongan tersebut hingga akhir masa jabatannya, setelah kedua saudaranya terjerat kasus korupsi.[15]
Sementara itu, Ikmal Jaya menyatakan secara blak-blakan bahwa dirinya memilih fokus untuk berdakwah, setelah keluar dari penjara selama 7 tahun 4 bulan akibat kasus korupsinya itu.[4]
Media terkait Dewi Sri buses di Wikimedia Commons