Berawal dari seorang pemuda dari Lebaksiu, Tegal, Jawa tengah yang bernama Ahmad bin Abdul Karim berkelana ke kota besar, yaitu Semarang untuk berdagang pada tahun 1930. Kemudian, beliau bertemu seorang warga India bernama Abdullah bin Hasan al-Malibary yang pandai memasak dan menjadi sahabat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Martabak telur | |
|---|---|
martabak telur, sebuah omelet yang gurih dan pedas yang diisi potongan sayur dan daging cincang | |
| Nama lain | Muttabak Matabbak Metabbak Mutabbaq |
| Jenis | omelet |
| Tempat asal | Yaman dan Arab Saudi |
| Daerah | Nasional |
| Dibuat oleh | Orang Arab |
| Suhu penyajian | Panas |
| 185 kalori setiap 100 gram [1] kkal | |
Berawal dari seorang pemuda dari Lebaksiu, Tegal, Jawa tengah yang bernama Ahmad bin Abdul Karim berkelana ke kota besar, yaitu Semarang untuk berdagang pada tahun 1930.[2] Kemudian, beliau bertemu seorang warga India bernama Abdullah bin Hasan al-Malibary yang pandai memasak dan menjadi sahabat.[3]
Suatu ketika, Abdullah yang berasal dari India ini diajak ke kampung halaman Ahmad dan diperkenalkan dengan saudara perempuannya. Perkenalan tersebut menghasilkan pernikahan antara keduanya. Abdullah ini juga pandai membuat sebuah masakan yang terbuat dari terigu yang disebut martabak.[4] Karena beliau tinggal di Indonesia, maka martabak buatannya disesuaikan untuk lidah orang Jawa yang suka memakan sayuran, yaitu martabak yang berisi sayuran yang dicampur dengan bahan lainnya.[5] Ahmad dan istrinya mengajari kerabat dan tetangga mereka cara membuat martabak tersebut. Mereka juga memperkenalkan martabak di berbagai acara di luar kota, seperti pasar malam, sekatenan di Yogyakarta, dan dugderan di Semarang. Kini, martabak telur tersebar di berbagai daerah di Indonesia.[6]