Piala Citra untuk Sutradara Terbaik merupakan salah satu kategori penghargaan tahunan yang dianugerahkan oleh Festival Film Indonesia sejak pertama kali diselenggarakan pada 5 April 1955. Kategori ini cukup erat kaitannya dengan kategori Film Terbaik karena sutradara dianggap memegang peranan penting dalam menentukan kualitas sebuah film, sehingga tak jarang pemenang untuk kedua kategori tersebut berasal dari satu judul film yang sama. Mulai tahun 1979, teknik penjurian beralih ke dalam sistem unggulan dengan jumlah setidaknya tiga atau lebih nama sutradara yang dikompetisikan dalam kategori tersebut. Festival Film Indonesia dideskripsikan oleh Screen International sebagai "Oscar-nya Indonesia",
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Penghargaan FFI untuk Penyutradaraan Terbaik | |
|---|---|
| Deskripsi | Penyutradaraan (Sutradara) Terbaik tahun ini |
| Negara | Indonesia |
| Dipersembahkan oleh | Festival Film Indonesia |
| Diberikan perdana | 1955 |
| Pemegang gelar saat ini | Yandy Laurens – Sore: Istri dari Masa Depan (2025) |
Piala Citra untuk Sutradara Terbaik merupakan salah satu kategori penghargaan tahunan yang dianugerahkan oleh Festival Film Indonesia sejak pertama kali diselenggarakan pada 5 April 1955. Kategori ini cukup erat kaitannya dengan kategori Film Terbaik karena sutradara dianggap memegang peranan penting dalam menentukan kualitas sebuah film, sehingga tak jarang pemenang untuk kedua kategori tersebut berasal dari satu judul film yang sama. Mulai tahun 1979, teknik penjurian beralih ke dalam sistem unggulan (atau yang biasa dikenal dengan istilah nominasi) dengan jumlah setidaknya tiga atau lebih nama sutradara yang dikompetisikan dalam kategori tersebut. Festival Film Indonesia dideskripsikan oleh Screen International sebagai "Oscar-nya Indonesia",[1]
Sutradara pertama yang memenangkan kategori ini adalah Lilik Sudjio lewat Tarmina pada FFI 1955, [2] bahkan hingga saat ini namanya tetap tercatat sebagai sutradara termuda dalam sejarah FFI yang pernah meraih penghargaan Sutradara Terbaik, yaitu pada usia 24 tahun 326 hari. Sedangkan Garin Nugroho menjadi sutradara dengan usia tertua yaitu 63 tahun 167 hari, yang berhasil menerima Piala Citra Sutradara Terbaik keduanya pada tahun 2024 lewat Samsara (film). Pemenang paling terkini adalah Yandy Laurens, yang memenangkan Penghargaan Citra pada FFI 2025 untuk penyutradaraannya pada film Sore: Istri dari Masa Depan.
Terdapat sekitar 69 sutradara yang telah masuk nominasi Penghargaan Citra, 25 di antaranya meraih kemenangan setidaknya sebanyak satu kali. Hingga 2012[update] hampir seluruh pesertanya laki-laki, meskipun sutradara perempuan juga sempat ikut berkompetisi sejak Ida Farida masuk nominasi pada 1989 lewat Semua Sayang Kamu.[3]
Teguh Karya menjadi satu-satunya sutradara yang pernah meraih penghargaan Sutradara Terbaik selama dua tahun berturut-turut pada 1974 lewat Cinta Pertama[4] dan 1975 lewat Ranjang Pengantin. Bahkan namanya masih tercatat sebagai sutradara dengan perolehan Piala Citra terbanyak untuk kategori ini, yaitu enam penghargaan dari sembilan nominasi pada 1974, 1975, 1979, 1983, 1986, dan 1989. Sementara nominasi terbanyak masih dipegang oleh Hanung Bramantyo dengan sebelas nominasi, tetapi baru meraih dua kemenangan; kemudian diikuti oleh Riri Riza dengan tujuh nominasi, tetapi baru memenangkannya satu kali. Tujuh sutradara lainnya yang memenangkan Penghargaan Citra lebih dari satu kali (masing-masing dua kali) adalah: Sjumandjaja (1977 dan 1984), Arifin C. Noer (1982 dan 1990), Slamet Rahardjo (1985 dan 1987), Hanung Bramantyo (2005 dan 2007), Mouly Surya (2008 dan 2018), Joko Anwar (2015 dan 2020), serta Edwin (2017 dan 2022). Empat sutradara: Eduard Pesta Sirait, Sophan Sophiaan, Teddy Soeriaatmadja, dan Upi Avianto telah tiga kali masuk nominasi tetapi tidak pernah menang; sementara Kamila Andini bahkan telah empat kali dinominasikan namun belum pernah memenangkannya.
Tercatat lima sutradara mendapatkan lebih dari satu nominasi dalam sebuah tahun tunggal, tetapi tidak semua memenangkan nominasinya pada tahun tersebut. Arifin C. Noer pada 1980 kalah oleh Frank Rorimpandey, Teguh Karya pada 1985 kalah oleh Slamet Rahardjo. Sedangkan Chaerul Umam (1992) dan Rudy Soedjarwo (2004) berhasil memenangkannya. Sementara itu Hanung Bramantyo melakukannya dua kali; pada 2007 dia berhasil menang, tetapi pada 2011 dia harus mengakui keunggulan Ifa Isfansyah.
Pada tahun 2008, dari lima sutradara yang masuk nominasi, empat di antaranya adalah wanita; yaitu: Mouly Surya, Rachmania Arunita, Upi Avianto, dan Viva Westi. Dan pemenangnya adalah Mouly Surya dengan fiksi., sekaligus memenangkan Skenario Terbaik (bersama Joko Anwar). Meskipun demikian, sutradara wanita yang paling banyak mendapatkan nominasi dengan empat nominasi adalah Kamila Andini (2011, 2018, 2021, & 2022) diikuti oleh Upi Avianto dengan tiga nominasi (2008, 2013, & 2016), tetapi baik Kamila maupun Upi tidak pernah memenangkannya. Mouly sendiri masuk nominasi dua kali (2008 & 2018) dan memenangkan keduanya. Selain Mouly, sutradara wanita lain juga sempat 2 kali masuk nominasi adalah Nia Dinata (2004 & 2006); tetapi tidak memenangkan nominasinya itu.
Dengan kemenangannya pada tahun 2008 (fiksi.), Mouly Surya adalah sutradara wanita pertama yang memenangkan Piala Citra untuk Sutradara Terbaik; dan dengan kemenangannya pada tahun 2018 (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak), dia menjadi sutradara wanita pertama yang memenangkan penghargaan tersebut dua kali.
menandakan pemenang |

| Tahun | Sutradara | Film | Ref. |
|---|---|---|---|
| 1955 (Ke-1) |
Lilik Sudjio | Tarmina |
[2] |

| Tahun | Sutradara | Film | Ref. |
|---|---|---|---|
| 1960 (Ke-2) |
Bachtiar Siagian | Turang |
[5] |
| 1967 (Ke-3) |
Misbach Yusa Biran | Dibalik Tjahaja Gemerlapan | [6] |












Pada 2007, penghargaan Film Terbaik dan Sutradara Terbaik FFI 2006 dibatalkan, setelah Ekskul karya Nayato Fio Nuala (pemenang tahun 2006) dinyatakan telah melanggar hak cipta karena menjiplak musik dari film-film luar negeri tanpa izin.[133]
Pada 2014, film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku sutradara Angga Dwimas Sasongko, berhasil memenangkan penghargaan Film Terbaik, menjadikannya film kedua dalam sejarah FFI sebagai pemenang kategori Film Terbaik dengan jumlah kemenangan paling sedikit (total 2 piala), setelah Senyum di Pagi Bulan Desember pada tahun 1975 yang hanya memenangkan kategori Film Terbaik; serta film pertama yang memenangkan kategori Film Terbaik tanpa sutradara filmnya dinominasikan untuk kategori Sutradara Terbaik.[134]
| Rekor Pemenang FFI | Sutradara | Rekor | Ket. |
|---|---|---|---|
| Nominasi Terbanyak | Hanung Bramantyo | 11 | termasuk 2 kali dalam satu tahun tunggal |
| Pemenang Terbanyak | Teguh Karya | 6 | |
| Nominasi Wanita Terbanyak | Kamila Andini | 4 | |
| Pemenang Wanita Terbanyak | Mouly Surya | 2 | |
| Nominasi Terbanyak Tanpa Pernah Menang | Kamila Andini | 4 | |
| Nominasi Terbanyak dalam Satu Tahun | Arifin C. Noer | 1980 (2) | kalah |
| Teguh Karya | 1985 (2) | kalah | |
| Chaerul Umam | 1992 (2) | menang | |
| Rudi Soedjarwo | 2004 (2) | menang | |
| Hanung Bramantyo | 2007 (2) | menang | |
| 2011 (2) | kalah | ||
<a href=\"./Wikipedia:Daftar_pilihan\" title=\"Ini adalah daftar pilihan. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.\" id=\"mwEnY\"><img alt=\"Ini adalah daftar pilihan. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.\" resource=\"./Berkas:Fairytale_bookmark_gold.svg\" src=\"//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/66/Fairytale_bookmark_gold.svg/20px-Fairytale_bookmark_gold.svg.png\" decoding=\"async\" data-file-width=\"100\" data-file-height=\"100\" data-file-type=\"drawing\" height=\"20\" width=\"20\" srcset=\"//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/66/Fairytale_bookmark_gold.svg/40px-Fairytale_bookmark_gold.svg.png 2x\" class=\"mw-file-element\" id=\"mwEnc\"/></a></span>\n"}' id="mwEng"/>
Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia</span>"}]]}' id="mwEns"/>