Nasaruddin Umar adalah ulama dan profesor tafsir Al-Quran Indonesia yang menjabat sebagai Menteri Agama Indonesia ke-25 sejak 21 Oktober 2024 pada Kabinet Merah Putih serta Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta. Sebelumnya ia menjabat sebagai Wakil Menteri Agama Indonesia dari tahun 2011 sampai 2014. Ia pernah menjabat sebagai Dirjen pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam di Kementerian Agama Republik Indonesia dari tahun 2006 hingga 2011.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Nasaruddin Umar | |
|---|---|
Potret resmi, 2024 | |
| Menteri Agama Indonesia ke-25 | |
| Mulai menjabat 21 Oktober 2024 | |
| Presiden | Prabowo Subianto |
| Wakil | Muhammad Syafi'i |
| Imam Besar Masjid Istiqlal ke-5 | |
| Mulai menjabat 22 Januari 2016 | |
| Rektor Universitas PTIQ Jakarta | |
| Mulai menjabat 2005 | |
| Wakil Menteri Agama Indonesia ke-2 | |
| Masa jabatan 19 Oktober 2011 – 20 Oktober 2014 | |
| Presiden | Susilo Bambang Yudhoyono |
| Menteri | Suryadharma Ali (2009–2014) Lukman Hakim Saifuddin (2014) |
| Pembantu Rektor III IAIN Syarif Hidayatullah | |
| Masa jabatan 1998–2002 | |
| Rektor | Azyumardi Azra |
Pendahulu Tidak diketahui Pengganti Armai Arief | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 23 Juni 1959 Bone, Sulawesi, Indonesia |
| Partai politik | Independen |
| Almamater | |
| Profesi | Akademisi, Aktivis, Ulama |
| Penghargaan sipil | |
| |
Nasaruddin Umar (lahir 23 Juni 1959)[2] adalah ulama dan profesor tafsir Al-Quran Indonesia yang menjabat sebagai Menteri Agama Indonesia ke-25 sejak 21 Oktober 2024 pada Kabinet Merah Putih serta Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta. Sebelumnya ia menjabat sebagai Wakil Menteri Agama Indonesia dari tahun 2011 sampai 2014.[3] Ia pernah menjabat sebagai Dirjen pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam di Kementerian Agama Republik Indonesia dari tahun 2006 hingga 2011.[4]
Ia juga merupakan pendiri organisasi lintas agama untuk Masyarakat Dialog antar Umat Beragama. Ia juga adalah anggota dari Tim Penasehat Inggris-Indonesia yang didirikan oleh mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair.[5] Lalu pada tanggal 3 November 2019, dalam Musyawarah Nasional (Munas) BP4 XVI di Jakarta, Nasaruddin Umar terpilih sebagai Ketua Umum BP4 periode 2019-2024.[6]
Ia juga menjabat sebagai salah satu Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2022-2027. Ia terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Pondok Pesantren As'adiyah pada Muktamar As'adiyah ke XV di Sengkang tahun 2022. Pada tahun 2024, Nasaruddin Umar menandatangani dokumen Deklarasi Bersama Istiqlal 2024 bersama pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia, Paus Fransiskus yang sedang mengadakan kunjungan historisnya ke Indonesia.
Nasaruddin Umar dilahirkan di Ujung, Kabupaten Bone, Sulawesi pada 23 Juni 1959. Setelah menamatkan pendidikan di SD Negeri Ujung, Bone pada 1970, ia menamatkan pendidikan di Pesantren As'adiyah Sengkang pada jenjang Madrasah Ibtidaiyah pada 1971, Pendidikan Guru Agama (PGA) 4 Tahun pada 1974, dan PGA 6 Tahun pada 1976. Ia meraih gelar Sarjana Muda pada 1980 dan Sarjana Lengkap pada 1984, kedua-duanya dari IAIN Ujung Pandang.[7]
Nasaruddin Umar melakukan studi pascasarjana di IAIN/ UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan mendapatkan gelar Magister (1992) serta doktoral (PhD) (1998). Selama studi kedoktorannya, dia sempat menjadi salah satu mahasiswa yang menjalani Program PhD di Universitas McGill, Montreal, Kanada (1993–1994), dan juga sebagai salah satu mahasiswa yang menjalani Program Ph.D di Universitas Leiden, Belanda (1994–1995). Setelah mendapatkan gelar doktoral, ia pernah menjadi sarjana tamu di Sophia University, Tokyo (2001), sarjana tamu di SOAS University of London (2001–2002), dan sarjana tamu di Georgetown University, Washington DC (2003–2004). Dia adalah penulis dari 12 buku yang diantaranya Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Quran (Paramadina, 1999).[8] Isinya yang menjabarkan hasil penelitian mengenai bias gender dalam Quran.[9]
Ketika Paus Fransiskus berkunjung di Indonesia pada April 2024, ia menyatakan bahwa, Masjid Istiqlal bukan hanya rumah ibadah bagi umat Islam. Nasaruddin juga menerima dan mencium kening Paus Fransiskus.[10][11]
Pada Maret 2024, Nasaruddin Umar mengunjungi Amerika Serikat untuk mengikuti program belajar agama Yahudi dari American Jewish Committee yang diperkirakan selama 6 minggu. Hal ini disoroti karena statusnya sebagai pemuka agama serta imam besar.[12][13]
| Jabatan politik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Fatah Jasin |
Wakil Menteri Agama Indonesia 2011–2014 |
Jabatan lowong Selanjutnya dijabat oleh Zainut Tauhid Sa'adi |
| Didahului oleh: Yaqut Cholil Qoumas |
Menteri Agama Indonesia 2024–sekarang |
Petahana |