Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Bahasa Madura Pasuruan

Bahasa Madura Pasuruan adalah dialek bahasa Madura yang digunakan di wilayah Pasuruan Raya bagian timur dan utara, yakni di Kota Pasuruan dan Kabupaten Pasuruan, juga di wilayah perbatasan Kabupaten Mojokerto. Berbeda dengan Situbondo dan Bondowoso yang mayoritas berbahasa Madura, di Pasuruan Raya, bahasa Madura merupakan bahasa minoritas yang tingkat percampurannya cukup tinggi, terutama dengan dialek Jawa Arekan. Di beberapa desa, penduduknya hanya berbicara dalam bahasa Madura, terutama yang terletak di daerah terpencil dan jauh dari jalan utama, sementara di desa-desa lain penduduknya dwibahasa dengan bahasa Jawa.

dialek bahasa Madura
Diperbarui 7 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bahasa Madura Pasuruan
Untuk dialek bahasa Jawa, lihat bahasa Jawa Malang–Pasuruan.
Bahasa Madura Pasuruan
Bhâsa Madhurâ Pasuruwân
Dituturkan diIndonesia
Wilayah
  • Jawa Timur
    • Pasuruan Raya
      • Kota Pasuruan
      • Kabupaten Pasuruan
    • Kabupaten Mojokerto[1]
EtnisMadura (Pendalungan)
Penutur
B1: 400.000[a] (2023)[2]
B2: 1,4 juta[b] (2023)[3]
Rumpun bahasa
  • Austronesia
    • Melayu-Polinesia
      • Melayu-Sumbawa (?)
        • Madura–Kangean
          • Madura
            • Madura Pasuruan
Tampilkan klasifikasi manual
    • Madura Pasuruan
    Tampilkan klasifikasi otomatis
    Posisi bahasa Madura Pasuruan dalam dialek-dialek bahasa Madura Sunting klasifikasi ini

    Catatan:

    Simbol "†" menandai bahwa bahasa tersebut telah atau diperkirakan telah punah
    • Madura
      • Madura Barat
        • Bangkalan
        • Sampang
      • Madura Timur
        • Pamekasan
        • Sumenep
      • Pendalungan
        • Banyuwangi
        • Bondowoso
        • Jember
        • Lumajang
        • Pasuruan
        • Probolinggo
        • Situbondo
      • Bawean
        • Daun
        • Kepuhteluk
        • Kreol Bawean
        • Suwari
      • Madura Kepulauan
        • Giliraja–Raas
        • Sapudi
    Sistem penulisan
    Latin
    Kode bahasa
    ISO 639-3–
    GlottologTidak ada
    Lokasi penuturan
    Peta distribusi bahasa Madura Pasuruan di Pasuruan Raya (kota dan kabupaten).
    Peta bahasa lain
    Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA.
     Portal Bahasa
    L • B • PW   
    Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
    Tentang artikel
    Pemberitahuan
    Templat ini mendeteksi bahwa artikel bahasa ini masih belum dinilai kualitasnya oleh ProyekWiki Bahasa dan ProyekWiki terkait dengan subjek.
    Perhatian: untuk penilai, halaman pembicaraan artikel ini telah diisi sehingga penilaian akan berkonflik dengan isi sebelumnya. Harap salin kode dibawah ini sebelum menilai.

    {{PW Bahasa|importance=|class=}}


    Terjadi [[false positive]]? Silakan laporkan kesalahan ini.

    11.28, Jumat, 24 April, 2026 (UTC) •
    hapus singgahan
    Sebanyak 1.609 artikel belum dinilai
    Artikel ini belum dinilai oleh ProyekWiki Bahasa
    Cari artikel bahasa
    Cari artikel bahasa
     
    Cari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)
     
    Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
    Artikel bahasa sembarang
    Halaman bahasa acak

    Bahasa Madura Pasuruan adalah dialek bahasa Madura yang digunakan di wilayah Pasuruan Raya bagian timur dan utara, yakni di Kota Pasuruan dan Kabupaten Pasuruan, juga di wilayah perbatasan Kabupaten Mojokerto.[1] Berbeda dengan Situbondo dan Bondowoso yang mayoritas berbahasa Madura,[4] di Pasuruan Raya, bahasa Madura merupakan bahasa minoritas yang tingkat percampurannya cukup tinggi, terutama dengan dialek Jawa Arekan. Di beberapa desa, penduduknya hanya berbicara dalam bahasa Madura,[5] terutama yang terletak di daerah terpencil dan jauh dari jalan utama, sementara di desa-desa lain penduduknya dwibahasa dengan bahasa Jawa.[6]

    Tradisi dan budaya masyarakat Madura di Pasuruan sebagian besar diwariskan secara lisan, seperti cerita rakyat, peribahasa, nasihat, dan pedoman hidup yang disampaikan dalam bahasa Madura.[7] Namun, kurangnya perhatian di dunia pendidikan formal terhadap pengajaran bahasa daerah, dalam hal ini bahasa Madura Pasuruan, juga memperparah kepunahan bahasa tersebut. Bahasa Madura yang seharusnya menjadi salah satu pilar penting dalam pendidikan lokal bagi masyarakat Madura di Pasuruan, seringkali hanya diajarkan secara terbatas atau bahkan diabaikan dalam kurikulum sekolah. Akibatnya, generasi muda masyarakat Madura di Pasuruan semakin jauh dari warisan budaya dan bahasa mereka sendiri, serta mempercepat proses pengurangan penggunaan bahasa ini.[8]

    Sejarah

    Di Jawa Timur, terdapat kawasan multikultural yang dikenal sebagai kawasan Tapal Kuda, yaitu suatu kawasan yang setengah bagian barat nya merupakan jajahan dari Kesultanan Mataram dan merupakan kawasan strategis di bagian timur Jawa, sehingga tingkat perekonomian di wilayah ini sangat tinggi, termasuk Pasuruan Raya.[9] Pada akhir abad ke-17, terdapat desa-desa berdasarkan kelompok etnis di wilayah pesisir sekitar Pasuruan, misalnya Madura, Tionghoa, Arab, Melayu, Bugis, dan Eropa di sekitar kota, yang pada saat itu Pasuruan dikenal sebagai kota pelabuhan yang memiliki keragaman sosial.[10] Sejak zaman kolonial Belanda, Pasuruan telah menjadi kawasan perdagangan dan industri yang dapat menarik pengunjung. Hal inilah yang menyebabkan Pasuruan Raya disebut juga sebagai wilayah yang heterogen. Dua kelompok etnis mayoritas yang mendiami wilayah Pasuruan Raya bagian utara adalah suku Jawa dan Madura.[11] Namun, diketahui pula bahwa orang Madura sudah lama bermigrasi ke wilayah pesisir utara Jawa, termasuk Pasuruan, bahkan sejak zaman Singasari, pada masa berkuasanya Aria Wiraraja di Sumenep pada abad ke-13.[12]

    Peta persebaran bahasa di Jawa dan Madura pada tahun 1881 oleh K.F. Holle, di Keresidenan Pasuruan (Jawa bagian timur) wilayah kebahasaanya beragam di utara, bahasa Jawa dan Madura saling mendominasi.

    Pada tahun 1806, terdapat desa-desa Madura di sudut timur Jawa, termasuk 25 desa di Pasuruan. Kedatangan gelombang migrasi orang Madura diketahui telah mengubah komposisi demografi di wilayah timur Jawa, misalnya, hingga pertengahan abad ke-19, sekitar separuh penduduk Pasuruan adalah orang Madura (meskipun belum ada data resmi, tampaknya proporsinya masih relatif tinggi saat ini).[3] Kemudian pada tahun 1830, pesisir utara Pasuruan berkembang menjadi salah satu daerah penghasil gula terbesar di Jawa, sebagian besar pekerjanya berasal dari Bangkalan dan Sampang.[13] Sistem tanam paksa yang diterapkan Belanda memiliki permintaan tenaga kerja yang tinggi di dataran rendah, sehingga banyak orang bermigrasi ke dataran tinggi di mana permintaan tenaga kerja kolonial lebih rendah. Akan tetapi, karena penduduk asli Jawa kalah jumlah karena migrasi, dominasi wilayah tersebut digantikan oleh penduduk Madura. Sakera, seorang ahli bela diri yang melawan penjajah di perkebunan tebu di Bangil, dikenal sebagai orang Madura. Ia dikenal karena memperjuangkan hak-hak pekerja, yang sebagian besar adalah orang Madura yang mendominasi wilayah tersebut.[14]

    Migrasi penduduk Madura ke wilayah yang dikenal sebagai kawasan Tapal Kuda, menyebabkan terjadinya percampuran budaya di wilayah baru tersebut, antara orang Jawa dan Madura, tetapi sangat berbeda dengan budaya Jawa dan Madura yang ada.[15] Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mereka menempati wilayah baru, mereka tidak dapat dipisahkan dari identitas aslinya, sehingga kebudayaan baru yang terbentuk masih kental dengan kebudayaan asalnya masing-masing. Wibisono & Haryono (2016) menyatakan bahwa bahasa sehari-hari masyarakat Pendalungan (termasuk Pasuruan) sebenarnya lebih banyak menggunakan bahasa Madura yang bercampur dengan bahasa Jawa. Jika dilihat dari ciri-ciri fonologis yang menonjol, misalnya aksen, dalam percakapan sehari-hari misalnya, masyarakat Pandalungan masih menggunakan aksen Madura ketika berbicara dalam bahasa Indonesia dan Jawa.[16]

    Penggunaan

    Penggunaan bahasa Madura dalam kehidupan sehari-hari di sini juga terjadi karena beberapa aspek sosial dan historis yang berkontribusi pada meluasnya penggunaan bahasa Madura, meskipun tidak terletak di pulau Madura, migrasi orang Madura ke kawasan Tapal Kuda, termasuk Pasuruan Raya (kota dan kabupaten), telah berlangsung sejak lama.[17] Orang Madura yang datang bermigrasi membawa bahasa dan budaya mereka, karena banyaknya jumlah penduduk migran Madura dan luasnya jangkauan kelompok sosial antara masyarakat Madura dengan penduduk lokal, sehingga bahasa Madura menjadi media komunikasi utama di beberapa daerah di Pasuruan dan sekitarnya.[18] Bahkan penutur bahasa Madura Pasuruan dapat ditemukan di Tosari, sebuah kecamatan di Pasuruan dekat lereng Gunung Bromo.[9]

    Perkawinan antaretnis dan pertukaran antarbudaya yang kuat juga berkontribusi terhadap dominasi bahasa Madura di sebagian wilayah Pasuruan Raya.[19] Hal ini diketahui telah terjadi bahkan sejak zaman Sakera, pahlawan legendaris Pasuruan. Meskipun kurang dikenal secara luas, ia sangat populer di kalangan masyarakat Pasuruan. Selain itu, ia juga dikenal sebagai simbol keberagaman yang mempersatukan masyarakat Jawa dan Madura. Hal ini menyebabkan terbukanya masyarakat dengan perbedaan budaya di Pasuruan yang sebagian besar didominasi oleh masyarakat Madura dan Jawa, hal ini menyebabkan munculnya budaya Pendalungan sebagai ciri khas masyarakat Pendalungan, khususnya di Pasuruan.[20] Bahasa Madura juga diketahui mempengaruhi penutur bahasa Jawa melalui penggunaan nada tinggi, tekanan dinamis yang kuat, dan tempo bicara yang cepat merupakan salah satu ciri tuturan khas Pasuruan.[21] Ini adalah contoh internalisasi budaya, yang berarti menanamkan dan mengembangkan nilai untuk menjadi bagian dari orang yang bersangkutan, seperti halnya masyarakat Madura dan Jawa saling mempengaruhi di sini.[22]

    Bahasa Madura Pasuruan banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh penuturnya, termasuk dalam komunikasi antar warga, aktivitas ekonomi, dan interaksi sosial di mana masyarakat Madura mendominasi. Penggunaan bahasa ini juga mencerminkan identitas budaya yang kuat pada masyarakat Madura. Bahasa Madura digunakan sebagai bahasa utama dalam berbagai kegiatan adat dan ritual keagamaan, seperti upacara pernikahan, kelahiran, dan kematian. Masyarakat Madura di Pasuruan cenderung menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan orang luar yang bukan berasal dari sukunya, tetapi tetap dengan aksen Madura yang khas. Namun, ketika berbicara dengan sesama orang Madura, mereka merasa lebih nyaman menggunakan bahasa Madura.[18] Diketahui pula bahwa dalam hubungan kekerabatan dan komunikasi umum, bahasa Jawa lebih dominan di Kota Pasuruan, tetapi bahasa Madura juga tetap mempengaruhi dalam serapan kosakata.[23] Misalnya saja di kelurahan Ngemplakrejo, 67% penduduk menyatakan bahwa bahasa Jawa adalah bahasa pertama mereka, sedangkan bahasa Madura hanya digunakan oleh 33% penduduk.[24]

    Distribusi geografis

    Di Pasuruan Raya, dialek Jawa Timuran (Arekan) digunakan di hampir seluruh wilayah, kecuali di kecamatan Tosari (penutur bahasa Jawa Tengger) dan Pasuruan bagian timur (penutur bahasa Madura). Selain itu di Pasuruan Raya, mulai dari Bangil sampai Grati juga digunakan bahasa Madura sehingga terbentuklah wilayah dwibahasa dengan bahasa Jawa. Penggunaan bahasa Madura secara dominan terbatas di beberapa desa di wilayah timur Pasuruan, terutama yang berbatasan dengan Probolinggo,[25] seperti desa Wates di kecamatan Lekok dan desa Kalipang di kecamatan Grati. Oleh karena itu, bahasa Madura digunakan dengan sesama penutur bahasa Madura.[2] Wilayah lain di mana bahasa Madura Pasuruan dituturkan adalah kecamatan Winongan, di mana bahasa ini digunakan secara dominan dalam semua aspek kehidupan,[26] misalnya di desa Jeladri.[27] Penutur Madura umumnya fasih berbahasa Jawa, tetapi tidak sebaliknya. Demikian pula, penutur bahasa Jawa umumnya bersifat ekabahasa.[2] Selain di wilayah Pasuruan Raya, bahasa Madura Pasuruan juga digunakan di Ngoro, sebuah kecamatan di Kabupaten Mojokerto yang berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan di sebelah timur. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Mojokerto, hal ini pula yang menjadi daya tarik para pendatang etnis Madura, terutama asal Pasuruan, untuk bermigrasi ke sana.[1] Misalnya, masyarakat Madura di desa Kunjorowesi yang tinggal di lereng Gunung Penanggungan, diketahui telah bermigrasi sejak 500 tahun lalu (sekitar tahun 1500-an).[28]

    Di wilayah Pasuruan bagian timur, penutur bahasa Madura Pasuruan juga hidup berdampingan dengan penutur bahasa Jawa, dalam hal ini dialek Jawa Timuran (Arekan). Misalnya saja di Ranuklindungan, sebuah desa di Kecamatan Grati, meskipun berdekatan dengan desa-desa yang berbahasa Madura, tetapi bahasa yang dominan di sana adalah bahasa Jawa.[29] Di sekitar Ranu Grati, sebuah danau yang dikelilingi oleh tiga kecamatan di bagian timur Pasuruan, yaitu Grati, Lekok, dan Nguling penduduknya heterogen, terbagi antara penutur bahasa Jawa dan Madura.[30] Wilayah lain yang diketahui memiliki cukup banyak penutur bahasa Madura Pasuruan adalah kecamatan Lumbang. Diketahui bahwa daerah tersebut memiliki kondisi geografis yang menguntungkan untuk perkebunan dan budidaya rempah-rempah, yang mendorong orang Madura untuk bermigrasi ke sana.[31] Terdapat pula migrasi ke wilayah Pasuruan bagian barat, terutama ke daerah dataran tinggi dekat kecamatan Prigen dan Pandaan.[32] Berbeda dengan wilayah Pasuruan bagian timur yang penduduknya berbahasa Madura cukup dominan, di wilayah Pasuruan bagian barat penduduk yang berbahasa Madura hanya minoritas, mereka mendiami desa-desa yang tersebar di antara mayoritas orang Jawa, misalnya di Jatiarjo, sebuah desa di kecamatan Prigen, terdapat orang Madura dan Jawa dengan jumlah yang signifikan.[33] Sementara itu di Kota Pasuruan, batas geografis antara penggunaan bahasa Jawa dan bahasa Madura tidak begitu terlihat. Mereka berbaur membentuk masyarakat Pendalungan (campuran Madura dan Jawa), yang bahasa dan budayanya merupakan campuran keduanya.[34]

    Ciri khas

    Contoh variasi leksikal yang terdapat di Pasuruan, hampir sama seperti bahasa Madura Lumajang, misalnya pada glos 'melahirkan' dalam bahasa Madura terdapat kata alaɛr. Meskipun penutur bahasa Madura di daerah transisi (batas antara dialek Madura Barat dan Madura Timur) memiliki kata arɛmbiʔ yang berarti 'melahirkan', tetapi kata yang lebih sering digunakan adalah alaɛr karena bentuk ini dianggap lebih tinggi (sopan) daripada kata arɛmbiʔ.[35] Bahasa Madura Pasuruan dianggap sebagai dialek Madura Barat, seperti halnya dialek Bangkalan. Penutur dialek ini, khususnya di desa Wates yang disebutkan sebelumnya, semuanya adalah penutur bahasa Madura dan sebagian besar dari mereka hanya dapat berbicara dalam bahasa Madura. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya etimologi yang merupakan bentuk khas dialek Madura Barat, seperti kakɛh 'kamu', ɛbʰik 'itik', taʔ 'tidak', dan lain-lain. Selain itu, bentuk dua suku kata dan penghilangan ⟨h⟩ pada posisi akhir juga ditemukan di daerah ini, seperti sklaŋkɔŋ 'terima kasih', trɛtan 'saudara', pɔtɛ 'putih', klambʰi 'pakaian'. Berbeda dengan kondisi sebelumnya, desa-desa di Kecamatan Lekok (selain Wates) justru merupakan desa-desa yang penduduknya heterogen, yakni ada yang berbahasa Jawa dan ada pula yang berbahasa Madura.[36]

    Lihat juga

    • Bahasa Madura
    • Dialek bahasa Madura
    • Bahasa Madura Bangkalan
    • Bahasa Madura Lumajang
    • Kabupaten Pasuruan
    • Kota Pasuruan

    Referensi

    Catatan

    1. ↑ Dihitung berdasarkan perkiraan kasar jumlah penduduk di kecamatan-kecamatan berbahasa Madura di bagian timur Pasuruan.[2]
    2. ↑ Hampir separuh penduduk Pasuruan Raya (kabupaten dan kota) adalah orang Madura yang berbahasa Madura Pasuruan.[3]

    Catatan kaki

    1. 1 2 3 Sa'diyah (2016), hlm. xi (abstrak).
    2. 1 2 3 4 Savitri, Indrawati & Suhartono (2018), hlm. 25.
    3. 1 2 3 Syamsuddin (2018), hlm. 9.
    4. ↑ Savitri, Indrawati & Suhartono (2018), hlm. 6.
    5. ↑ Munadifa & Ansori (2024), hlm. 17.
    6. ↑ Savitri, Indrawati & Suhartono (2018), hlm. 29–30.
    7. ↑ Munadifa & Ansori (2024), hlm. 20.
    8. ↑ Munadifa & Ansori (2024), hlm. 22.
    9. 1 2 Effendy (2011), hlm. 66.
    10. ↑ Martiana (2007), hlm. 65.
    11. ↑ Af'idah & Jayanti (2023), hlm. 1798.
    12. ↑ Hairul (2022), hlm. 90.
    13. ↑ Syamsuddin (2018), hlm. 11.
    14. ↑ Fitriyah (2024), hlm. 4.
    15. ↑ Savitri, Indrawati & Suhartono (2018), hlm. 5–6.
    16. ↑ Hairul (2022), hlm. 86–87.
    17. ↑ Hairul (2022), hlm. 89.
    18. 1 2 Munadifa & Ansori (2024), hlm. 19.
    19. ↑ Munadifa & Ansori (2024), hlm. 15.
    20. ↑ Fitriyah (2024), hlm. 6.
    21. ↑ Af'idah & Jayanti (2023), hlm. 1809.
    22. ↑ Ramadhani (2024), hlm. 389.
    23. ↑ Af'idah & Jayanti (2023), hlm. 1801.
    24. ↑ Af'idah & Jayanti (2023), hlm. 1805.
    25. ↑ Savitri, Indrawati & Suhartono (2018), hlm. 65.
    26. ↑ Martiana (2007), hlm. 69.
    27. ↑ Pratama (2019), hlm. 35.
    28. ↑ Trans7 [@indonesaku.trans7] (2022). "Kami Yang Terabaikan di Kunjorowesi". Mojokerto. Diakses tanggal 23 Juli 2025 – via Instagram. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
    29. ↑ Safitri et al. (2022), hlm. 385.
    30. ↑ Safitri et al. (2022), hlm. 388.
    31. ↑ Pratama (2019), hlm. 35–36.
    32. ↑ Zhumronie (2018), hlm. 74–75.
    33. ↑ Zhumronie (2018), hlm. 93.
    34. ↑ Ramadhani (2024), hlm. 386.
    35. ↑ Savitri, Indrawati & Suhartono (2018), hlm. 26–27.
    36. ↑ Savitri, Indrawati & Suhartono (2018), hlm. 29.

    Daftar pustaka

    • Munadifa, Siti; Ansori, Moh. (2024). "Bahasa Madura dan Kearifan Lokal: Perspektif dari Desa Kalipang, Kecamatan Grati, Pasuruan". Tanda: Jurnal Kajian Budaya, Bahasa, dan Sastra. 4 (2). Surabaya: Universitas Islam Negeri Sunan Ampel: 14–24. doi:10.69957/tanda.v4i03.1758. ISSN 2797-0477.
    • Af'idah, Ainul; Jayanti, Cicik Tri (2023). "Dominasi Bahasa pada Keluarga Amalgamasi Jawa-Madura Di Kelurahan Ngemplakrejo Kota Pasuruan". JoLLA: Journal of Language Literature and Arts. 3 (12). Malang: Universitas Negeri Malang: 1797–1812. doi:10.17977/um064v3i122023p1797-1812. ISSN 2797-4480.
    • Hairul, Mohammad (2022). "Diaspora Bahasa Madura Dalam Masyarakat Pandhalungan Bondowoso". Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya. 9 (1). Surabaya: Universitas Negeri Surabaya: 84–96. ISSN 2527-8754.
    • Fitriyah, Lailatul (2024). "Nilai-Nilai Moral Dalam Cerita Rakyat Sakera dan Relevansinya Dengan Pembelajaran Sejarah". Swadesi: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sejarah. 3 (2). Malang: Universitas Negeri Malang: 1–11. doi:10.26418/swadesi.v3i2.86414. ISSN 2774-2830.
    • Effendy, Moh. Hafid (2011). "Tinjauan Deskriptif Tentang Varian Bahasa Dialek Pamekasan". Okara: Jurnal Bahasa dan Sastra. 5 (1). Pamekasan: Institut Agama Islam Negeri Pamekasan: 63–74. doi:10.19105/ojbs.v5i1.501. ISSN 1907-624X.
    • Savitri, Agusniar Dian; Indrawati, Dianita; Suhartono (2018). Stratigrafi Bahasa dan Dialek di Daerah Tapal Kuda: Upaya Lokalisasi Bahasa dan Budaya Guna Penentuan Muatan Lokal di Jawa Timur (PDF) (Thesis). Program Studi Sastra Indonesia. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. hlm. 1–77 – via Repository UNESA.
    • Martiana, Allis Previ (2007). Pergeseran Spasial Ruang Wanita Pada Rumah Rakyat Madura Pedalungan di Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan (PDF) (Thesis). Fakultas Teknik. Malang: Universitas Brawijaya. hlm. 1–118 – via Repository Universitas Brawijaya.
    • Syamsuddin, Muhammad (2018). "Orang Madura Perantauan di Daerah Istimewa Yogyakarta". Aplikasia: Jurnal Aplikasi Ilmu-Ilmu Agama. 18 (1). Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga: 1–22. ISSN 1411-8777.
    • Safitri, Septya Amihany; Sukamto; Towaf, Siti Malikhah; Ruja, I Nyoman (2022). "Pelestarian Tradisi Distrikan untuk Menjaga Kearifan Lokal di Desa Ranuklindungan Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan". JIHI3S: Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial. 2 (4). Malang: Universitas Negeri Malang: 381–389. doi:10.17977/um063v2i42022p381-389. ISSN 2797-0132.
    • Pratama, Adam Aditya (2019). “Sopo Ae Iso Nduwe Lahan [?]”: Negosiasi Antara Otoritas dan Relasi Akses Lahan Reklamasi di Jeladri (PDF) (Thesis). Program Studi Antropologi. Malang: Universitas Brawijaya. hlm. 1–127 – via Repository Universitas Brawijaya.
    • Ramadhani, Fani Aisyah (2024). "Internalisasi Budaya Terbang Bandhung di Kota Pasuruan". JISOSEPOL: Jurnal Ilmu Sosial Ekonomi dan Politik. 2 (2). Surabaya: Universitas Negeri Surabaya: 382–392. doi:10.61787/64aqfv11. ISSN 3026-3220.
    • Zhumronie, Akhmad Rizqi (2018). Pemberdayaan Masyarakat Petani Menggunakan Pendekatan Appreciative Inquiry di Desa Jatiarjo Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan (PDF) (Thesis). Fakultas Ilmu Administrasi. Malang: Universitas Brawijaya. hlm. 1–215 – via Repository Universitas Brawijaya.
    • Sa'diyah, Halimatus (2016). Pemetaan Bahasa Madura di Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto (Thesis). Program Studi Magister Ilmu Linguistik. Surabaya: Universitas Airlangga. hlm. 1–113 – via Repository Universitas Airlangga.
    • l
    • b
    • s
    Indonesia Bahasa di Indonesia
    Bahasa Indonesia (Gaul, Binan)
    Bahasa-bahasa di Sumatra
    Aceh-Cam
    • Daya
    • Barat
    • Pidie
    • Selatan
    • Utara
    Gayo-Batak
    • Gayo
    • Alas
    • Kluet
    • Pakpak
    • Singkil
    • Angkola
    • Karo
    • Mandailing
    • Simalungun
    • Toba
    Sumatra Barat Laut
    • Devayan
      • Haloban
      • Lekon
    • Sigulai
    • Nias
    • Mentawai
    • Enggano
    Melayu
    • Melayu a
      • Tamiang
      • Langkat
      • Deli
      • Serdang
      • Panai
      • Jambi
      • Riau
    • Bangka
    • Duanoa
    • Haji
    • Kedaha
    • Kerinci
    • Kubu
    • Loncong
    Minangkabau
    • Minangkabau
    • Jamee
    • Kampar
    • Lubu
    • Mukomuko
    • Pesisir Sibolga
    Melayu Barisan Selatan
    • Pekal
    • Bengkulu
    • Serawai
    • Lintang
    • Lematang Ulu
    • Basemah
    • Semende
    • Kaur
    • Ogan
    • Enim
    • Rambang
    Musi
    • Palembang
    • Penesak
    • Belide
    • Lematang
    • Pegagan
    • Musi
    • Col
    • Rawas
    Lampung
    • Api
    • Nyo
    • Komering
    Lain-lain
    • Nasal
    • Rejang
    Bahasa-bahasa di Jawa
    • Badui
    • Banten
    • Betawi
    • Indonesia Peranakan 1
    • Javindo 1
    • Jawa
      • Banyumasan
      • Indramayu
      • Kuno
      • Malang
      • Mataraman
      • Pemalang
      • Serang
      • Surabaya
      • Tegal
    • Kangean
    • Kawi
    • Madura
    • Osing
    • Pecok 1
    • Sunda
      • Banyumas
      • Bogor
      • Ciamis
      • Cirebon
      • Indramayu
      • Klasik
      • Priangan
      • Serang
    • Tengger
    Bahasa-bahasa di Kepulauan Nusa Tenggara
    • Abui
    • Adang
    • Adonara
    • Alor
    • Amarasi
    • Anakalangu
    • Bali
    • Bengkala 2
    • Bilba
    • Bima
    • Blagar
    • Bunak b
    • Dela-Oenale
    • Dengka
    • Dhao
    • Ende
    • Hamap
    • Helong
    • Ile Ape
    • Kabola
    • Kafoa
    • Kamang
    • Kambera
    • Kedang
    • Kelon
    • Kemak b
    • Ke'o
    • Kepo'
    • Kodi
    • Komodo
    • Kui
    • Kula
    • Lamaholot
    • Lamalera
    • Lamatuka
    • Lamboya
    • Lamma
    • Laura
    • Lembata Barat
    • Lembata Selatan
    • Levuka
    • Lewo Eleng
    • Lewotobi
    • Lio
    • Lole
    • Melayu Bali
    • Melayu Kupang
    • Melayu Larantuka
    • Mamboru
    • Manggarai
    • Nage
    • Nedebang
    • Ngada
    • Ngada Timur
    • Palue
    • Rajong
    • Rembong
    • Retta
    • Ringgou
    • Riung
    • Rongga
    • Sabu
    • Sasak
    • Sawila
    • Sikka
    • So'a
    • Sumbawa
    • Tambora
    • Tereweng
    • Termanu
    • Tetun b
    • Tewa
    • Tii
    • Uab Meto
    • Wae Rana
    • Wanukaka
    • Wejewa
    • Wersing
    Bahasa-bahasa di Kalimantan *
    • Abal
    • Ampanang
    • Aoheng
    • Bahau
    • Bakati'
      • Rara
      • Sara
    • Barangas
    • Bakumpai
    • Banjar
    • Basap
    • Benyadu'
    • Bidayuh
      • Biatah a
      • Bukar-Sadong a
    • Bolongan a
    • Bukat
    • Bukitan
    • Burusu
    • Dusun
      • Balangan
      • Deyah
      • Malang
      • Witu
    • Embaloh
    • Hovongan
    • Iban a
    • Jangkang
    • Kayan
      • Kayan Busang
      • Sungai Kayan
      • Mahakam
      • Mendalam
      • Wahau
    • Kelabit a
    • Kembayan
    • Kendayan
    • Keninjal
    • Kenyah
      • Kelinyau a
      • Wahau
    • Kereho
    • Kohin
    • Lawangan
    • Lengilu
    • Lun Bawang a
    • Ma'anyan
    • Melayu
      • Kota Bangun
      • Berau
      • Bukit
      • Dayak
      • Pontianak
      • Sambas
      • Tenggarong
    • Modang
    • Mualang
    • Murut
      • Selungai Murut a
      • Sembakung Murut a
      • Tagal Murut a
    • Ngaju
    • Okolod a
    • Ot Danum
    • Paku
    • Punan
      • Aput
      • Merah
      • Merap
      • Tubu
    • Putoh
    • Ribun
    • Sa'ban
    • Sanjau Basap
    • Sanggau
    • Seberuang
    • Segai
    • Semandang
    • Siang
    • Taman
    • Tausug a
    • Tawoyan
    • Tidong a
    • Tunjung
    • Uma'
      • Lasan
      • Lung
    Bahasa-bahasa di Sulawesi
    • Andio
    • Aralle-Tabulahan
    • Bada
    • Bahonsuai
    • Bajau Indonesia
    • Balaesang
    • Balantak
    • Bambam
    • Banggai
    • Bantik
    • Baras
    • Batui
    • Behoa
    • Bentong
    • Bintauna
    • Boano
    • Bobongko
    • Bolango
    • Bonerate
    • Budong-Budong
    • Bugis
    • Bungku
    • Buol
    • Busoa
    • Campalagian
    • Cia-Cia
    • Dakka
    • Dampelas
    • Dondo
    • Duri
    • Enrekang
    • Gorontalo
    • Kaidipang
    • Kaili Da'a
    • Kaili Ledo
    • Kaili Unde
    • Kaimbulawa
    • Kalao
    • Kalumpang
    • Kamaru
    • Kioko
    • Kodeoha
    • Konjo Pegunungan
    • Konjo Pesisir
    • Koroni
    • Kulisusu
    • Kumbewaha
    • Laiyolo
    • Lasalimu
    • Lauje
    • Lemolang
    • Liabuku
    • Lindu
    • Lolak
    • Maiwa
    • Makassar
    • Melayu Makassar
    • Melayu Manado
    • Malimpung
    • Mamasa
    • Mamuju
    • Mandar
    • Moma
    • Mongondow
    • Mori Atas
    • Mori Bawah
    • Moronene
    • Muna
    • Napu
    • Padoe
    • Pamona (Ta'a)
    • Panasuan
    • Pancana
    • Pannei
    • Pendau
    • Ponosakan
    • Rahambuu
    • Rampi
    • Ratahan
    • Saluan
    • Sangir
    • Sarudu
    • Sedoa
    • Seko Padang
    • Seko Tengah
    • Selayar
    • Suwawa
    • Tae'
    • Taje
    • Tajio
    • Talaud
    • Taloki
    • Talondo'
    • Toala'
    • Tolaki
    • Tomadino
    • Tombelala
    • Tombulu
    • Tomini
    • Tondano
    • Tonsawang
    • Tonsea
    • Tontemboan
    • Topoiyo
    • Toraja-Sa'dan
    • Totoli
    • Tukang Besi Selatan
    • Tukang Besi Utara
    • Ulumanda'
    • Uma
    • Waru
    • Wawonii
    • Wolio
    • Wotu
    Bahasa-bahasa di Kepulauan Maluku
    • Alune
    • Amahai
    • Ambelau
    • Aputai
    • Asilulu
    • Babar Tenggara
    • Babar Utara
    • Banda
    • Barakai
    • Bati
    • Batuley
    • Benggoi
    • Boano
    • Bobot
    • Buli
    • Buru
    • Dai
    • Damar Barat
    • Damar Timur
    • Dawera-Daweloor
    • Dobel
    • Elpaputih
    • Emplawas
    • Fordata
    • Galela
    • Gamkonora
    • Gane
    • Gebe
    • Geser-Gorom
    • Gorap
    • Haruku
    • Hitu
    • Horuru
    • Hoti
    • Huaulu
    • Hukumina
    • Hulung
    • Ibu
    • Ili'uun
    • Imroing
    • Kadai
    • Kaibobo
    • Kamarian
    • Kao
    • Karey
    • Kayeli
    • Kei
    • Kisar
    • Koba
    • Kola
    • Kompane
    • Kur
    • Laba
    • Laha
    • Larike-Wakasihu
    • Latu
    • Leti
    • Liana-Seti
    • Lisabata-Nuniali
    • Lisela
    • Lola
    • Loloda
    • Lorang
    • Loun
    • Luang
    • Luhu
    • Maba
    • Makian Barat
    • Makian Timur
    • Melayu Ambon
    • Melayu Bacan
    • Melayu Banda
    • Melayu Maluku Utara
    • Mangole
    • Manipa
    • Manombai
    • Manusela
    • Mariri
    • Masela Barat
    • Masela Tengah
    • Masela Timur
    • Masiwang
    • Modole
    • Moksela
    • Naka'ela
    • Nila
    • Naulu Selatan
    • Naulu Utara
    • Nusa Laut
    • Oirata
    • Pagu
    • Palumata
    • Patani
    • Paulohi
    • Perai
    • Piru
    • Roma
    • Sahu
    • Salas
    • Saleman
    • Saparua
    • Sawai
    • Seit-Kaitetu
    • Selaru
    • Seluwasan
    • Sepa
    • Serili
    • Serua
    • Sula
    • Tabaru
    • Taliabu
    • Talur
    • Tarangan Barat
    • Tarangan Timur
    • Tela-Masbuar
    • Teluti
    • Teor
    • Ternate
    • Ternateño1
    • Te'un
    • Tidore
    • Tobelo
    • Tugun
    • Tugutil
    • Tulehu
    • Ujir
    • Waioli
    • Watubela
    • Wamale Selatan
    • Wamale Utara
    • Yalahatan
    • Yamdena
    Bahasa-bahasa di Papua *
    • Abinomn 3
    • Abun 3
    • Aghu
    • Airoran
    • Ambai
    • Anasi
    • Ansus
    • Arandai
    • Arguni
    • As
    • Asmat Pantai Kasuari
    • Asmat Tengah
    • Asmat Utara
    • Asmat Yaosakor
    • Atohwaim
    • Auye
    • Awbono
    • Awera
    • Awyi
    • Awyu Asue
    • Awyu Tengah
    • Awyu Edera
    • Awyu Jair
    • Awyu Utara
    • Awyu Selatan
    • Bagusa
    • Baham
    • Barapasi
    • Bauzi
    • Bayono
    • Bedoanas
    • Beneraf
    • Berik
    • Betaf
    • Biak
    • Biga
    • Biritai
    • Bonggo
    • Burate
    • Burmeso
    • Burumakok
    • Buruwai
    • Busami
    • Citak
    • Citak Tamnim
    • Dabe
    • Damal
    • Dani Lembah Bawah
    • Dani Lembah Tengah
    • Dani Lembah Atas
    • Dani Barat
    • Dao
    • Dem
    • Demisa
    • Dera
    • Diebroud
    • Dineor
    • Diuwe
    • Doutai
    • Duriankere
    • Dusner
    • Duvle
    • Edopi
    • Eipomek
    • Elseng 3
    • Emem
    • Eritai
    • Erokwanas
    • Fayu
    • Fedan
    • Foau
    • Gresi
    • Hatam 3
    • Hupla
    • Iau
    • Iha
    • Iha Pijin 4
    • Irarutu
    • Iresim
    • Isirawa
    • Itik
    • Iwur
    • Jofotek-Bromnya
    • Kaburi
    • Kais
    • Kaiy
    • Kalabra
    • Kamberau
    • Kamoro
    • Kanum Bädi
    • Kanum Ngkâlmpw
    • Kanum Smärky
    • Kanum Sota
    • Kapauri
    • Kaptiau
    • Karas
    • Karon Dori
    • Kaure
    • Kauwera
    • Kawe
    • Kayagar
    • Kayupulau
    • Kehu 5
    • Keijar
    • Kemberano
    • Kembra 5
    • Kemtuik
    • Ketengban
    • Ketum
    • Kimaghima
    • Kimki
    • Kirikiri
    • Kofei
    • Kokoda
    • Kombai
    • Komyandaret
    • Konda
    • Koneraw
    • Kopkaka
    • Korowai
    • Korupun-Sela
    • Kosare
    • Kowiai
    • Kuri
    • Kurudu
    • Kwer
    • Kwerba
    • Kwerba Mamberamo
    • Kwerisa
    • Kwesten
    • Kwinsu
    • Legenyem
    • Lepki 5
    • Liki
    • Maden
    • Mai Brat
    • Mairasi
    • Maklew
    • Mee
    • Melayu Papua
    • Mander
    • Mandobo Atas
    • Mandobo Bawah
    • Manem
    • Manikion/Mantion/Sougb
    • Mapia
    • Marau
    • Marind
    • Marind Bian
    • Masimasi
    • Massep 3
    • Matbat
    • Mawes
    • Ma'ya
    • Mekwei
    • Meoswar
    • Mer
    • Meyah
    • Mlap
    • Mo
    • Moi
    • Molof 5
    • Mombum
    • Momina
    • Momuna
    • Moni
    • Mor
    • Mor
    • Morai
    • Morori
    • Moskona
    • Mpur 3
    • Munggui
    • Murkim 5
    • Muyu Utara
    • Muyu Selatan
    • Nafri
    • Nakai
    • Nacla
    • Namla 5
    • Narau
    • Ndom
    • Nduga
    • Ngalum
    • Nggem
    • Nimboran
    • Ninggerum
    • Nipsan
    • Nisa
    • Obokuitai
    • Onin
    • Onin Pijin 4
    • Ormu
    • Orya
    • Papasena
    • Papuma
    • Pom
    • Puragi
    • Rasawa
    • Riantana
    • Roon
    • Samarokena
    • Saponi
    • Sauri
    • Sause
    • Saweru
    • Sawi
    • Seget
    • Sekar
    • Semimi
    • Sempan
    • Sentani
    • Serui-Laut
    • Sikaritai
    • Silimo
    • Skou
    • Sobei
    • Sowanda
    • Sowari
    • Suabo
    • Sunum
    • Tabla
    • Taikat
    • Tamagario
    • Tanahmerah
    • Tandia
    • Tangko
    • Tarpia
    • Tause
    • Tebi
    • Tefaro
    • Tehit
    • Tobati
    • Tofanma 5
    • Towei
    • Trimuris
    • Tsaukambo
    • Tunggare
    • Una
    • Uruangnirin
    • Usku 5
    • Viid
    • Vitou
    • Wabo
    • Waigeo
    • Walak
    • Wambon
    • Wandamen
    • Wanggom
    • Wano
    • Warembori
    • Wares
    • Waris
    • Waritai
    • Warkay-Bipim
    • Waropen
    • Wauyai
    • Woi
    • Wolai
    • Woria
    • Yahadian
    • Yale Kosarek
    • Yali Angguruk
    • Yali Ninia
    • Yali Abenaho
    • Yaqay
    • Yarsun
    • Yaur
    • Yawa
    • Yei
    • Yabega
    • Yeretuar
    • Yetfa
    • Yoke
    • Zorop
    • flagPortal Indonesia

    1 Kreol • 2 Bahasa isyarat • 3 Bahasa isolat • 4 Bahasa Pidgin • 5 Tidak diklasifikasikan
    a juga dituturkan di Malaysia dan/ Brunei Darussalam. • b juga dituturkan di Timor Leste, Papua Nugini dan/ negara-negara Oseania lainnya. Italik: Bahasa punah atau bahasa mati. *Catatan: Kalimantan dan Papua di sini hanya yang termasuk dalam teritori Indonesia.

    Lihat pula: Daftar bahasa di Indonesia menurut BPS 2010

    Bagikan artikel ini

    Share:

    Daftar Isi

    1. Sejarah
    2. Penggunaan
    3. Distribusi geografis
    4. Ciri khas
    5. Lihat juga
    6. Referensi
    7. Catatan
    8. Catatan kaki
    9. Daftar pustaka
    Jakarta Aktual
    Jakarta Aktual© 2026