Bahasa Madura Pasuruan adalah dialek bahasa Madura yang digunakan di wilayah Pasuruan Raya bagian timur dan utara, yakni di Kota Pasuruan dan Kabupaten Pasuruan, juga di wilayah perbatasan Kabupaten Mojokerto. Berbeda dengan Situbondo dan Bondowoso yang mayoritas berbahasa Madura, di Pasuruan Raya, bahasa Madura merupakan bahasa minoritas yang tingkat percampurannya cukup tinggi, terutama dengan dialek Jawa Arekan. Di beberapa desa, penduduknya hanya berbicara dalam bahasa Madura, terutama yang terletak di daerah terpencil dan jauh dari jalan utama, sementara di desa-desa lain penduduknya dwibahasa dengan bahasa Jawa.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Bahasa Madura Pasuruan
Bhâsa Madhurâ Pasuruwân | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Dituturkan di | Indonesia | ||||||||
| Wilayah | |||||||||
| Etnis | Madura (Pendalungan) | ||||||||
Penutur | B1: 400.000[a] (2023)[2] B2: 1,4 juta[b] (2023)[3] | ||||||||
| |||||||||
| Latin | |||||||||
| Kode bahasa | |||||||||
| ISO 639-3 | – | ||||||||
| Glottolog | Tidak ada | ||||||||
| Lokasi penuturan | |||||||||
|
Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA.
| |||||||||
Bahasa Madura Pasuruan adalah dialek bahasa Madura yang digunakan di wilayah Pasuruan Raya bagian timur dan utara, yakni di Kota Pasuruan dan Kabupaten Pasuruan, juga di wilayah perbatasan Kabupaten Mojokerto.[1] Berbeda dengan Situbondo dan Bondowoso yang mayoritas berbahasa Madura,[4] di Pasuruan Raya, bahasa Madura merupakan bahasa minoritas yang tingkat percampurannya cukup tinggi, terutama dengan dialek Jawa Arekan. Di beberapa desa, penduduknya hanya berbicara dalam bahasa Madura,[5] terutama yang terletak di daerah terpencil dan jauh dari jalan utama, sementara di desa-desa lain penduduknya dwibahasa dengan bahasa Jawa.[6]
Tradisi dan budaya masyarakat Madura di Pasuruan sebagian besar diwariskan secara lisan, seperti cerita rakyat, peribahasa, nasihat, dan pedoman hidup yang disampaikan dalam bahasa Madura.[7] Namun, kurangnya perhatian di dunia pendidikan formal terhadap pengajaran bahasa daerah, dalam hal ini bahasa Madura Pasuruan, juga memperparah kepunahan bahasa tersebut. Bahasa Madura yang seharusnya menjadi salah satu pilar penting dalam pendidikan lokal bagi masyarakat Madura di Pasuruan, seringkali hanya diajarkan secara terbatas atau bahkan diabaikan dalam kurikulum sekolah. Akibatnya, generasi muda masyarakat Madura di Pasuruan semakin jauh dari warisan budaya dan bahasa mereka sendiri, serta mempercepat proses pengurangan penggunaan bahasa ini.[8]
Di Jawa Timur, terdapat kawasan multikultural yang dikenal sebagai kawasan Tapal Kuda, yaitu suatu kawasan yang setengah bagian barat nya merupakan jajahan dari Kesultanan Mataram dan merupakan kawasan strategis di bagian timur Jawa, sehingga tingkat perekonomian di wilayah ini sangat tinggi, termasuk Pasuruan Raya.[9] Pada akhir abad ke-17, terdapat desa-desa berdasarkan kelompok etnis di wilayah pesisir sekitar Pasuruan, misalnya Madura, Tionghoa, Arab, Melayu, Bugis, dan Eropa di sekitar kota, yang pada saat itu Pasuruan dikenal sebagai kota pelabuhan yang memiliki keragaman sosial.[10] Sejak zaman kolonial Belanda, Pasuruan telah menjadi kawasan perdagangan dan industri yang dapat menarik pengunjung. Hal inilah yang menyebabkan Pasuruan Raya disebut juga sebagai wilayah yang heterogen. Dua kelompok etnis mayoritas yang mendiami wilayah Pasuruan Raya bagian utara adalah suku Jawa dan Madura.[11] Namun, diketahui pula bahwa orang Madura sudah lama bermigrasi ke wilayah pesisir utara Jawa, termasuk Pasuruan, bahkan sejak zaman Singasari, pada masa berkuasanya Aria Wiraraja di Sumenep pada abad ke-13.[12]

Pada tahun 1806, terdapat desa-desa Madura di sudut timur Jawa, termasuk 25 desa di Pasuruan. Kedatangan gelombang migrasi orang Madura diketahui telah mengubah komposisi demografi di wilayah timur Jawa, misalnya, hingga pertengahan abad ke-19, sekitar separuh penduduk Pasuruan adalah orang Madura (meskipun belum ada data resmi, tampaknya proporsinya masih relatif tinggi saat ini).[3] Kemudian pada tahun 1830, pesisir utara Pasuruan berkembang menjadi salah satu daerah penghasil gula terbesar di Jawa, sebagian besar pekerjanya berasal dari Bangkalan dan Sampang.[13] Sistem tanam paksa yang diterapkan Belanda memiliki permintaan tenaga kerja yang tinggi di dataran rendah, sehingga banyak orang bermigrasi ke dataran tinggi di mana permintaan tenaga kerja kolonial lebih rendah. Akan tetapi, karena penduduk asli Jawa kalah jumlah karena migrasi, dominasi wilayah tersebut digantikan oleh penduduk Madura. Sakera, seorang ahli bela diri yang melawan penjajah di perkebunan tebu di Bangil, dikenal sebagai orang Madura. Ia dikenal karena memperjuangkan hak-hak pekerja, yang sebagian besar adalah orang Madura yang mendominasi wilayah tersebut.[14]
Migrasi penduduk Madura ke wilayah yang dikenal sebagai kawasan Tapal Kuda, menyebabkan terjadinya percampuran budaya di wilayah baru tersebut, antara orang Jawa dan Madura, tetapi sangat berbeda dengan budaya Jawa dan Madura yang ada.[15] Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mereka menempati wilayah baru, mereka tidak dapat dipisahkan dari identitas aslinya, sehingga kebudayaan baru yang terbentuk masih kental dengan kebudayaan asalnya masing-masing. Wibisono & Haryono (2016) menyatakan bahwa bahasa sehari-hari masyarakat Pendalungan (termasuk Pasuruan) sebenarnya lebih banyak menggunakan bahasa Madura yang bercampur dengan bahasa Jawa. Jika dilihat dari ciri-ciri fonologis yang menonjol, misalnya aksen, dalam percakapan sehari-hari misalnya, masyarakat Pandalungan masih menggunakan aksen Madura ketika berbicara dalam bahasa Indonesia dan Jawa.[16]
Penggunaan bahasa Madura dalam kehidupan sehari-hari di sini juga terjadi karena beberapa aspek sosial dan historis yang berkontribusi pada meluasnya penggunaan bahasa Madura, meskipun tidak terletak di pulau Madura, migrasi orang Madura ke kawasan Tapal Kuda, termasuk Pasuruan Raya (kota dan kabupaten), telah berlangsung sejak lama.[17] Orang Madura yang datang bermigrasi membawa bahasa dan budaya mereka, karena banyaknya jumlah penduduk migran Madura dan luasnya jangkauan kelompok sosial antara masyarakat Madura dengan penduduk lokal, sehingga bahasa Madura menjadi media komunikasi utama di beberapa daerah di Pasuruan dan sekitarnya.[18] Bahkan penutur bahasa Madura Pasuruan dapat ditemukan di Tosari, sebuah kecamatan di Pasuruan dekat lereng Gunung Bromo.[9]
Perkawinan antaretnis dan pertukaran antarbudaya yang kuat juga berkontribusi terhadap dominasi bahasa Madura di sebagian wilayah Pasuruan Raya.[19] Hal ini diketahui telah terjadi bahkan sejak zaman Sakera, pahlawan legendaris Pasuruan. Meskipun kurang dikenal secara luas, ia sangat populer di kalangan masyarakat Pasuruan. Selain itu, ia juga dikenal sebagai simbol keberagaman yang mempersatukan masyarakat Jawa dan Madura. Hal ini menyebabkan terbukanya masyarakat dengan perbedaan budaya di Pasuruan yang sebagian besar didominasi oleh masyarakat Madura dan Jawa, hal ini menyebabkan munculnya budaya Pendalungan sebagai ciri khas masyarakat Pendalungan, khususnya di Pasuruan.[20] Bahasa Madura juga diketahui mempengaruhi penutur bahasa Jawa melalui penggunaan nada tinggi, tekanan dinamis yang kuat, dan tempo bicara yang cepat merupakan salah satu ciri tuturan khas Pasuruan.[21] Ini adalah contoh internalisasi budaya, yang berarti menanamkan dan mengembangkan nilai untuk menjadi bagian dari orang yang bersangkutan, seperti halnya masyarakat Madura dan Jawa saling mempengaruhi di sini.[22]
Bahasa Madura Pasuruan banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh penuturnya, termasuk dalam komunikasi antar warga, aktivitas ekonomi, dan interaksi sosial di mana masyarakat Madura mendominasi. Penggunaan bahasa ini juga mencerminkan identitas budaya yang kuat pada masyarakat Madura. Bahasa Madura digunakan sebagai bahasa utama dalam berbagai kegiatan adat dan ritual keagamaan, seperti upacara pernikahan, kelahiran, dan kematian. Masyarakat Madura di Pasuruan cenderung menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan orang luar yang bukan berasal dari sukunya, tetapi tetap dengan aksen Madura yang khas. Namun, ketika berbicara dengan sesama orang Madura, mereka merasa lebih nyaman menggunakan bahasa Madura.[18] Diketahui pula bahwa dalam hubungan kekerabatan dan komunikasi umum, bahasa Jawa lebih dominan di Kota Pasuruan, tetapi bahasa Madura juga tetap mempengaruhi dalam serapan kosakata.[23] Misalnya saja di kelurahan Ngemplakrejo, 67% penduduk menyatakan bahwa bahasa Jawa adalah bahasa pertama mereka, sedangkan bahasa Madura hanya digunakan oleh 33% penduduk.[24]
Di Pasuruan Raya, dialek Jawa Timuran (Arekan) digunakan di hampir seluruh wilayah, kecuali di kecamatan Tosari (penutur bahasa Jawa Tengger) dan Pasuruan bagian timur (penutur bahasa Madura). Selain itu di Pasuruan Raya, mulai dari Bangil sampai Grati juga digunakan bahasa Madura sehingga terbentuklah wilayah dwibahasa dengan bahasa Jawa. Penggunaan bahasa Madura secara dominan terbatas di beberapa desa di wilayah timur Pasuruan, terutama yang berbatasan dengan Probolinggo,[25] seperti desa Wates di kecamatan Lekok dan desa Kalipang di kecamatan Grati. Oleh karena itu, bahasa Madura digunakan dengan sesama penutur bahasa Madura.[2] Wilayah lain di mana bahasa Madura Pasuruan dituturkan adalah kecamatan Winongan, di mana bahasa ini digunakan secara dominan dalam semua aspek kehidupan,[26] misalnya di desa Jeladri.[27] Penutur Madura umumnya fasih berbahasa Jawa, tetapi tidak sebaliknya. Demikian pula, penutur bahasa Jawa umumnya bersifat ekabahasa.[2] Selain di wilayah Pasuruan Raya, bahasa Madura Pasuruan juga digunakan di Ngoro, sebuah kecamatan di Kabupaten Mojokerto yang berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan di sebelah timur. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Mojokerto, hal ini pula yang menjadi daya tarik para pendatang etnis Madura, terutama asal Pasuruan, untuk bermigrasi ke sana.[1] Misalnya, masyarakat Madura di desa Kunjorowesi yang tinggal di lereng Gunung Penanggungan, diketahui telah bermigrasi sejak 500 tahun lalu (sekitar tahun 1500-an).[28]
Di wilayah Pasuruan bagian timur, penutur bahasa Madura Pasuruan juga hidup berdampingan dengan penutur bahasa Jawa, dalam hal ini dialek Jawa Timuran (Arekan). Misalnya saja di Ranuklindungan, sebuah desa di Kecamatan Grati, meskipun berdekatan dengan desa-desa yang berbahasa Madura, tetapi bahasa yang dominan di sana adalah bahasa Jawa.[29] Di sekitar Ranu Grati, sebuah danau yang dikelilingi oleh tiga kecamatan di bagian timur Pasuruan, yaitu Grati, Lekok, dan Nguling penduduknya heterogen, terbagi antara penutur bahasa Jawa dan Madura.[30] Wilayah lain yang diketahui memiliki cukup banyak penutur bahasa Madura Pasuruan adalah kecamatan Lumbang. Diketahui bahwa daerah tersebut memiliki kondisi geografis yang menguntungkan untuk perkebunan dan budidaya rempah-rempah, yang mendorong orang Madura untuk bermigrasi ke sana.[31] Terdapat pula migrasi ke wilayah Pasuruan bagian barat, terutama ke daerah dataran tinggi dekat kecamatan Prigen dan Pandaan.[32] Berbeda dengan wilayah Pasuruan bagian timur yang penduduknya berbahasa Madura cukup dominan, di wilayah Pasuruan bagian barat penduduk yang berbahasa Madura hanya minoritas, mereka mendiami desa-desa yang tersebar di antara mayoritas orang Jawa, misalnya di Jatiarjo, sebuah desa di kecamatan Prigen, terdapat orang Madura dan Jawa dengan jumlah yang signifikan.[33] Sementara itu di Kota Pasuruan, batas geografis antara penggunaan bahasa Jawa dan bahasa Madura tidak begitu terlihat. Mereka berbaur membentuk masyarakat Pendalungan (campuran Madura dan Jawa), yang bahasa dan budayanya merupakan campuran keduanya.[34]
Contoh variasi leksikal yang terdapat di Pasuruan, hampir sama seperti bahasa Madura Lumajang, misalnya pada glos 'melahirkan' dalam bahasa Madura terdapat kata alaɛr. Meskipun penutur bahasa Madura di daerah transisi (batas antara dialek Madura Barat dan Madura Timur) memiliki kata arɛmbiʔ yang berarti 'melahirkan', tetapi kata yang lebih sering digunakan adalah alaɛr karena bentuk ini dianggap lebih tinggi (sopan) daripada kata arɛmbiʔ.[35] Bahasa Madura Pasuruan dianggap sebagai dialek Madura Barat, seperti halnya dialek Bangkalan. Penutur dialek ini, khususnya di desa Wates yang disebutkan sebelumnya, semuanya adalah penutur bahasa Madura dan sebagian besar dari mereka hanya dapat berbicara dalam bahasa Madura. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya etimologi yang merupakan bentuk khas dialek Madura Barat, seperti kakɛh 'kamu', ɛbʰik 'itik', taʔ 'tidak', dan lain-lain. Selain itu, bentuk dua suku kata dan penghilangan ⟨h⟩ pada posisi akhir juga ditemukan di daerah ini, seperti sklaŋkɔŋ 'terima kasih', trɛtan 'saudara', pɔtɛ 'putih', klambʰi 'pakaian'. Berbeda dengan kondisi sebelumnya, desa-desa di Kecamatan Lekok (selain Wates) justru merupakan desa-desa yang penduduknya heterogen, yakni ada yang berbahasa Jawa dan ada pula yang berbahasa Madura.[36]