Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Bahasa Jawa Indramayu

Bahasa Jawa Indramayu atau dialek Dermayu adalah dialek bahasa Jawa modern dan termasuk salah satu dialek konservatif dari Bahasa Jawa yakni mempertahankan karakteristik kuno selain Bahasa Jawa Serang dan Bahasa Jawa Tegal. Dialek Dermayu dituturkan di pesisir utara Jawa Barat terutama di Kabupaten Indramayu, sebagian utara dan timur Kabupaten Subang, serta sebagian utara Kabupaten Karawang. Bahasa Jawa Indramayu juga merupakan turunan dari Bahasa Jawa Pertengahan dan memiliki banyak kesamaan dengan rumpun bahasa Jawa modern lainnya terutama ragam dialek kulonan. Bahasa Jawa Indramayu melestarikan banyak kosakata dari Bahasa Jawa Kuno.

bagian dari rumpun bahasa Austronesia
Diperbarui 14 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bahasa Jawa Indramayu
ꦧꦱꦗꦮꦆꦤ꧀ꦢꦿꦩꦪꦸ
Basa Jawa Indramayu
Dituturkan diIndonesia
Wilayah
  • Jawa Barat
    • Kab. Indramayu
    • Kab. Subang (bagian utara dan timur)
    • Kab. Karawang (bagian timur laut)
EtnisJawa
Penutur
± 2 juta penutur jati (2020)
Rumpun bahasa
Lihat sumber templat}}
Beberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman ini
Klasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
  • Austronesia Lihat butir Wikidata
    • Melayu-Polinesia Lihat butir Wikidata
      • Jawanik Lihat butir Wikidata
        Cari tahu mengapa.Halaman Jawanik masuk dalam cabang rumpun dari Sunda-Sulawesi yang oleh ahli linguistika dianggap usang dan telah digantikan oleh Melayu-Polinesia.
        • Jawa Lihat butir Wikidata
          • Dialek Barat
            • Jawa Indramayu
Tampilkan klasifikasi manual
  • bahasa manusia
    • Austro-Tai
      • Austronesia
        • Melayu-Polinesia
          • bahasa Jawa Suntingan nilai di Wikidata
            • Jawa Indramayu
    Tampilkan klasifikasi otomatis
    Posisi bahasa Jawa Indramayu dalam dialek-dialek bahasa Jawa Sunting klasifikasi ini

    Catatan:

    Simbol "†" menandai bahwa bahasa tersebut telah atau diperkirakan telah punah
    • Jawa Modern
      • Barat
        • Banten-Cirebon
          • Banten Utara
          • Indramayu
          • Cirebon
        • Pesisir Lor
          • Tegal-Brebes
          • Pemalang
        • Pekalongan
        • Banyumasan
      • Tengah
        • Bagelen-Kedu
          • Bagelen
          • Kedu
        • Mataram
          • Solo-Yogya
          • Semarang-Demak-Kudus-Jepara
            • Semarang
            • Kudus
        • Blora
        • Madiun-Kediri
      • Timur
        • Arekan
          • Jombang
          • Surabaya
          • Malang-Pasuruan
          • Lumajang
        • Gresik
          • Diponggo
        • Tengger
        • Using-Banyuwangi
      • Mancadwipa
        • Karibia
        • Kaledonia Baru
    Sistem penulisan
    Aksara Jawa
    Abjad Pegon
    Alfabet Latin
    Status resmi
    Diatur olehLembaga Bahasa dan Sastra Jawa Indramayu
    Kode bahasa
    ISO 639-3–
    LINGUIST List
    LINGUIST list sudah tidak beroperasi lagi
    jav-ind
    Glottologindr1248[1]
     Portal Bahasa
    L • B • PW   
    Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
    Cari artikel bahasa
    Cari artikel bahasa
     
    Cari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)
     
    Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
    Artikel bahasa sembarang
    Halaman bahasa acak

    Bahasa Jawa Indramayu atau dialek Dermayu (Aksara Jawa: ꦧꦱꦗꦮꦆꦤ꧀ꦢꦿꦩꦪꦸ) adalah dialek bahasa Jawa modern dan termasuk salah satu dialek konservatif dari Bahasa Jawa yakni mempertahankan karakteristik kuno selain Bahasa Jawa Serang dan Bahasa Jawa Tegal. Dialek Dermayu dituturkan di pesisir utara Jawa Barat terutama di Kabupaten Indramayu, sebagian utara dan timur Kabupaten Subang, serta sebagian utara Kabupaten Karawang.[2][3] Bahasa Jawa Indramayu juga merupakan turunan dari Bahasa Jawa Pertengahan dan memiliki banyak kesamaan dengan rumpun bahasa Jawa modern lainnya terutama ragam dialek kulonan. Bahasa Jawa Indramayu melestarikan banyak kosakata dari Bahasa Jawa Kuno.

    Sejarah

    Perbedaan yang mencolok dari kebudayaan masyarakat Indramayu dengan kebudayaan masyarakat Jawa Barat pada umumnya terdapat pada bahasa yang digunakan.[4] Sebagian besar masyarakat Indramayu menggunakan bahasa Jawa Indramayu sebagai bahasa daerahnya, selain itu Bahasa Jawa Indramayu masih banyak melestarikan kosakata Jawa kuno misalnya seperti reang (saya), bobat (berbohong), miyang (berangkat), ncak (coba), manjing (masuk), pragat (selesai), toli (lalu), ngorong (haus), belih (tidak), kuwu (kepala désa) yang sudah tidak dapat ditemui di bahasa Jawa Baku (Dialek Jogja-Solo), selain itu di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Lelea dan Kecamatan Kandanghaur ada juga yang menggunakan bahasa Sunda fase lama (dialek Indramayu), juga di kecamatan Anjatan (Mangunjaya), Cikedung, Gantar, Haurgeulis, dan Terisi yang menggunakan bahasa Sunda fase baru (dialek Priangan).

    Pada dasarnya bahasa Jawa yang dipertuturkan di Indramayu dan sekitarnya merupakan bagian dari rumpun dialek bahasa Jawa.[5] Masyarakat Indramayu umumnya dapat berbicara dalam dua bahasa dengan baik atau dapat saling mengerti walaupun mereka masing-masing menggunakan bahasa yang berbeda.[6]

    Asal-usul

    Arya Wiralodra sebagai pendiri Indramayu menjadi tonggak awal digunakannya bahasa Jawa di Indramayu.[5] Ia diketahui memiliki beberapa julukan di antaranya Pangeran Gagak Wiralodra, Pangeran Darmawijaya dan Pangeran Indrawijaya. Arya Wiralodra adalah putra Adipati Singalodra penguasa Bagelen dari Jawa Tengah.[7] Dalam Babad Dermayu koleksi Museum Sri Baduga, diriwayatkan bahwa Arya Wiralodra adalah tokoh yang gagah berani dan memiliki senjata pusaka bernama Cakra Udaksana.[8] Arya Wiralodra dinilai sebagai sosok pemimpin ideal yang menjadi kebanggaan masyarakat Indramayu. Hal ini dibuktikan dengan pemeliharaan situs peninggalan Arya Wiralodra beserta keturunannya yang masih dirawat dengan baik bahkan direvitalisasi beberapa kali dengan biaya yang cukup besar.

    Perkembangan

    Bahasa Jawa di Indramayu kian mengalami perkembangannya ketika kebijakan Kesultanan Mataram yang mengangkat pejabat-pejabat bawahannya untuk menjaga perbatasan di wilayah Cimanuk. Mereka juga diberi tugas untuk mengolah lumbung padi dan memproduksi beras.[9] Hal ini diperkuat dengan catatan dalam naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian bahwa orang Sunda baru mulai bercocok tanam paling cepat abad ke-16 dan semakin berkembang pada abad ke-17, karena mereka terbiasa berladang.[10] Kegiatan bersawah mulai dikenalkan oleh pasukan Mataram yang sengaja didatangkan ke Indramayu untuk mengolah lumbung padi dan memasok beras kepada pasukan Mataram yang sedang berperang melawan VOC di Batavia pada tahun 1628.[11]

    Pada abad ke-19, pertanian dengan cara bersawah menjadi kegiatan utama masyarakat Indramayu secara umum karena hasilnya lebih menguntungkan.[11] Bukti lebih lanjut dapat ditemukan dalam Dagh Register yang ditulis oleh VOC pada 9 Desember 1693, melaporkan adanya kegiatan pertanian padi yang dilakukan secara berturut-turut di wilayah Indramayu.[12] Sejak saat itu, Indramayu menjadi daerah di pesisir utara Jawa yang memiliki area persawahan yang cukup luas. Hal ini yang mendorong masyarakat Indramayu lebih dahulu mengenal sistem bersawah dibanding dengan daerah pedalaman Jawa Barat yang masih bergantung dengan sistem berladang.[13] Meskipun di pesisir utara Jawa tidak terkena hujan musim kemarau, tetapi masyarakat Indramayu sudah lebih dahulu mengenal sistem irigasi sehingga penanaman padi tetap dapat dilakukan sepanjang tahun.[13]

    Berkembangnya sistem pertanian yang terjadi di Indramayu tidak hanya membawa perubahan budaya tetapi juga bahasa.[4] Hal ini yang memengaruhi bahasa Jawa Indramayu lambat laun kian berkembang. Indramayu yang berada di wilayah perbatasan Sunda dan Jawa menjadikan penduduknya dapat memahami dua bahasa dengan baik walaupun dalam percakapan sehari-hari antar keduanya masing-masing saling menggunakan bahasanya tersendiri, tetapi tetap komunikatif.[5]

    Fonologi

    dalam Bahasa Jawa Indramayu fonem a masih tetap di ucapkan a seperti Bahasa Jawa Kuno semisal seperti bunyian pada kata ana, apa, teka, pira, serta konsonan akhir k juga diucapkan secara jelas dan tegas seperti Bahasa Jawa Kuno semisal pada bunyian kata kacek, anak, berbeda halnya dengan Bahasa Jawa Baku (Solo-Yogyakarta) yang cenderung menukar konsonan a menjadi o/å serta mengucapkan konsonan k akhir secara melunak, akan tetapi Bahasa Jawa Indramayu sudah tidak mengenal retofleks t - th dan d - dh, konsonan d diucapakan lebih mirip dengan konsonan d dalam Bahasa Sunda, yakni di ucapkan dengan langit-langit mulut, berbeda halnya dengan dialek kulonan lainya seperti Bahasa Jawa Tegal dan Bahasa Jawa Banyumasan yang masih mengenal retofleks seperti dialek Bahasa Jawa lainya.

    Kosakata

    Berikut ini perbandingan kosakata dialek bahasa Jawa, yang meliputi dialek Indramayu, Banyumasan, Tegal, dan Pekalongan.

    Indramayu Banyumasan Tegal Pekalongan Makna
    kula, kita, réang, isun inyong, nyong enyong, nyong enyong, aku aku
    dika, sampéan, sira, ira rika, ko, koe,

    sira (dialek bruno)

    rika, sampéan, kowén sampéan, kowé kamu
    kita kabéh awaké déwék awaké déwék awaké déwék kami
    sira kabéh rika kabéh kowén kabéh kowé kabéh kalian
    kién, iki kiyé, keh, iki kiyé, iki kiyé, iki ini
    kuén, kuh, iku kuwé, ikuh, iku kuwé, ikuh kuwi itu
    kéné, méné kéné, mengéné kéné, méné kéné, mréné, méné sini
    kana, mana kana, mengana kana, mana kana, månå, mrånå sana
    kepribén, kepriwén kepribé, kepriwé kepribén, keprimén kepriyé bagaimana
    ora, belih, bli, dudu, sejen ora, udu, séjén ora, belih, dudu, séjén ora, udu, bleh, séjén tidak, bukan

    Perbandingan kosakata antara Dialek Jawa Indramayu dengan Dialek Jawa Standar

    Berikut ini perbandingan kosakata antara bahasa Jawa Indramayu dengan bahasa Jawa standar (Surakarta–Yogyakarta). masih banyak kosakata Jawa Kuno yang digunakan di dialek Indramayu tetapi sudah tidak digunakan di Bahasa Jawa Wétanan / Bahasa Jawa Baku (Solo-Yogya), contoh kosakata dari bahasa jawa kuno : kuwu, parêk, reang, kita, langka, bêngen, manjing, ncak, belih, toli, ngorong, miyang, pragat, bobad, kaligane dll.

    Jawa Indramayu Jawa standar
    (Solo–Yogya)
    Glosa
    kita, reang, kula, isun

    aku, kulå, ingsun saya
    têk tak, dak kata ganti orang (aku, saya)
    sira, ko, sampéyan

    (Contoh: sira wis mangan durung ?)

    sampéyan, kowe kamu
    dika

    (Contoh: dika wong endi?)

    panjenengan, ndiko anda
    deweke deweke, deke dia
    -réyang, kita, -isun

    (Contoh: bukune réyang, bukune kita)

    -ku akhiran aku
    -ira, -nira

    (Contoh: bukunira, umahira)

    -mu (Contoh: bukumu, umahmu-nirå (jarang digunakan) akhiran kamu
    baé waé saja
    aran jênêng, aran nama
    arêp, garêp arêp (ngoko)

    badhe (krama)

    akan
    dau, nêmbé, tas

    (Contoh: dau bae tangi)

    nêmbé, tas baru saja
    maning manéh, manéng lagi
    manjing

    (Contoh: mene gah manjing ning umahe kita)

    mlêbu masuk
    metu metu (ngoko)

    mêdal (krama)

    keluar
    mari, mandhêg mandhêg berhenti
    mangan mangan, madhang makan
    ngupai, ngêmai,

    (Contoh: arep têk pai es gelem belih ?)

    ngêwéi, menehi, ngênei memberi
    ning

    (Contoh: reang lagi ning dermayu)

    ning, nang di / ke
    wekna, paiaken, wekaken wenehna berikan
    puhjaré

    (Contoh: puhjare sira bae)

    sekarêpé, åpå jaré terserah
    cak, jajal jajal coba
    olih oléh dapat
    laka, ora ana ora ånå, ora enek tidak ada
    parêk cêrak, cêdhak dekat
    marêki, marani marani, nyêdaki menghampiri / mendekati
    gulati, golati, luru

    (Contoh: wis têk gulati tapi laka)

    goléki mencari
    dhikit, dhingin, dhipit

    (Contoh: reyange arep turu dhipit)

    dhisik, dhimin dulu
    ngulu dhisik duluan
    kosi nganti, ngasi hingga
    ora, bli, bêlih ora tidak
    wêruh wêruh, ngêrti tau
    blolih, ora olih ora oléh tidak boleh
    blènak, ora enak ora enak, ora ecå tidak enak
    bêli pati, ora pati ora pati tidak terlalu
    jokot, ngêmét, jukut jupuk, jukuk ambil
    tiba tibå jatuh
    tampa tåmpå, narimå terima
    bêngén biyén dahulu
    mêndak kêpêthuk (ngoko)

    kêpêndhak (krama)

    bertemu
    toang dalan mbulak jalan panjang dan sepi dikelilingi sawah
    kédêr bingung, liwung bingung
    têkang têkan sampai
    klalén lali, klalén lupa
    kanda kåndå, ngomong berbicara
    kiwé kiwå kiri
    kiyên, kih iki, ki ini
    ênyah ênyoh nih
    kuwên, iku, kuh kuwi, iku itu
    kaên, ika kae itu (jauh)
    kéné, méné kéné, mréné sini
    kana, mana kånå, mrånå sana
    kêpriwén, priwen kêpiyé, piyé bagaimana
    dêlêng, pandêng dhelok, dêlêng, sawang lihat
    jor jar biar
    dudu, séjén dudu, bedå, seje bukan
    masih isih,taksìh, ijih masih
    kêmpong, ngêlih luwé, ngêlìh lapar
    mêlas mêsakké, melas kasihan
    mêngkénén, kénén ngéné, mangkéné begini
    mengkonon, konon ngono, mangkono begitu
    ambir, bagén, éndah, soke, bari, amprih, gén, bén biar, agar, supaya
    bari

    (Contoh: tuku kopi bari ngudud)

    sambi / nyambi sembari, sambil
    miyang, mangkat mangkat berangkat
    sing

    (Contoh: reang sing dermayu)

    såkå, sakìng dari
    bêluk celuk, ngundang, nyêluk memanggil
    kêcêluk kondang terkenal
    nok/sênok, sênang gênduk, tolé/nang sapaan perempuan dan laki-laki
    yayu mbakyu kakak perempuan
    aang, kakang kakang, kang mas kakak laki-laki
    bokat, bokatan mbok mênåwå barangkali
    baka, yén, lamun

    (Contoh: baka beli gelem mah ora apa apa)

    yén, nek, lamun (jarang digunakan) jika
    batur kåncå, batùr teman
    setitik sathithik, sithik sedikit
    sukiki sesuk besok
    sêkiên saiki sekarang
    êntok êntek habis
    ngêrungu, kêrungu krungu mendengar
    arêpan, adêpan ngarêp, ngarepan depan
    gêdang gêdhang pisang
    gêlis gêlis, cêpêt cepat
    turu turu (ngoko)

    saré, tilêm (krama)

    tidur
    adoh adoh (ngoko)

    tebìh (krama)

    jauh
    adus adùs (ngoko)

    siram (krama)

    mandi
    angel angel (ngoko)

    seså (krama)

    susah
    amba åmbå, bawerå (ngoko)

    wiyar (krama)

    luas
    ayam pitìk, ayam ayam
    dudu dudu (ngoko)

    sanes (krama)

    bukan
    dêmên tresna, dhêmên cinta
    sing sìng, kang yang
    wayah wayah (ngoko)

    wanci (krama)

    waktu
    lor lor (ngoko)

    ler (krama)

    utara
    kidul kidùl (ngoko) selatan
    wetan wetan, etan timur
    kulon kulon (ngoko)

    kilen (krama)

    barat
    katon katon, ketok (ngoko)

    kêtingal (krama)

    terlihat
    tonggoni, enteni tunggoni, enteni tunggu
    takon takon (ngoko)

    tanglêd (krama)

    tanya
    awan awan (ngoko)

    sontên (krama)

    siang
    ana ånå , enek (ngoko)

    wontên (krama)

    ada
    aja åjå (ngoko)

    ampun (krama)

    jangan
    bêras bêras (ngoko)

    uwos (krama)

    beras
    balik bali, mulìh (ngoko)

    wangsul (krama)

    pulang
    eling elìng (ngoko)

    emut (krama)

    ingat
    kabeh kabeh (ngoko)

    sêdåyå (krama)

    semua
    sedulur sedulur (ngoko)

    sêdherek (krama)

    saudara
    due duwe, darbe (ngoko)

    gadhah, kagungan (krama)

    punya
    lunga lungå (ngoko)

    tindhak, kesah (krama)

    pergi
    lanang lanang (ngoko)

    jalêr (krama)

    lelaki
    lara lårå (ngoko)

    gêrah (krama)

    sakit
    melu melu (ngoko)

    ndherek (krama)

    ikut
    rumasa rumangsa merasa
    sêga sêgå (ngoko)

    sekùl (krama)

    nasi
    wadon wadon, wedok (ngoko)

    estri (krama)

    perempuan
    jaluk jaluk (ngoko)

    nyuwun (krama)

    minta
    jaba jåbå (ngoko)

    jawi (krama)

    luar
    jero jero (ngoko)

    mlêbêt (krama)

    dalam
    jaré jaré (ngoko)

    tirosé (krama)

    katanya
    kudu kudu (ngoko)

    kêdah (krama)

    harus
    êndas, sirah sirah

    êndas (hanya untuk hewan)

    kepala
    endi endi (ngoko)

    pundi (krama)

    mana
    gêlêm gêlêm (ngoko)

    kêrså, purun (krama)

    ingin/mau
    karo karo (ngoko)

    kalihan (krama)

    dengan
    kaya kåyå (ngoko)

    kados (krama)

    seperti
    kêlambi klambi (ngoko)

    raksukan (krama)

    baju
    lawas, suwe suwe, lawas lama
    têka têkå (ngoko)

    rawuh, dugi (krama)

    datang
    pada pådå (ngoko)

    sami (krama)

    sama
    pira pirå (ngoko)

    pintên (krama)

    berapa
    durung durung, urung (ngoko)

    dereng (krama)

    tunggu
    wis uwis, wis (ngoko)

    sampun (krama)

    sudah
    tuku tuku, tumbas beli
    udan udan (ngoko)

    jawah (krama)

    hujan
    wani wani (ngoko)

    wantun (krama)

    berani
    wêdus wêdhùs (ngoko)

    mêndhå (krama)

    kambing
    gawa gåwå (ngoko)

    bêktå (krama)

    bawa
    mêkaya, molah, mênggawé nyambut gawé, mêgawé bekerja
    pragat, bubar rampung, bar selesai
    sêngit gêthing benci
    dodok lungguh duduk
    glendeng sambat mengeluh
    guri buri, guri belakang
    mêndhêg dhodhok duduk jongkok
    mêlaku mlaku berjalan
    kunyuk, kêthèk munyùk, kêthèk monyet
    rega regå (ngoko)

    rêgi (krama)

    harga
    sanja tilìk, sanjang mengunjungi
    têmbêlèk têlèk, têmbêlèk kotoran hewan
    tlepong tlethong kotoran sapi
    toli bar ngono lalu
    kêduhung, keloas, mêngkêl kêduwùng, mangkêl kecewa
    kêtuwon nelångså, kêtuwon sedih
    kênyoh mamah kunyah
    kênang, karna krånå, mergané karena
    kiwé kiwå kiri
    kuwu lurah kepala desa
    lêbu balé deså balai desa / balai kelurahan
    laki, rabi, bojo bojo suami, istri
    lakine reyang, lakine kita bojoku suami ku
    rabine reyang, rabine kita bojoku istri ku
    anak, bocah anak, bocah, lare, yogå anak
    putu putu cucu
    sabrang lombok cabai
    kêtangguan konangan, kêruhan ketahuan
    kabêran kêbênêran kebetulan
    bobad ngapusi bohong
    genae gone, gene tempatnya
    gulêt, tukaran gelut, tukaran bertengkar
    dake, deke duwek'e, wek'e, dek'e kepunyaan
    kaligane ujug-ujug tiba-tiba
    pêgot pêdhot putus
    srawat sawat lempar
    gêburena jêburnå tenggelamkan di air
    laut segårå, laut laut
    kêngulu bantal, ganjêl sirah bantal
    sangkane mangkane, mulane maka dari itu
    sada rådå agak
    ngurupi, murupan ijolan, urupan bertukar
    kari-kari pungkasan, keri-keri akhir
    kari kari tinggal / sisa
    mung mung, gur hanya
    mêlang sumêlang gelisah, khawatir
    (se)delat maning, mêngko dipit (se)dhelå, mêngko disik, kosik, sik sebentar lagi
    nyupang pêsugihan menambahkan kekayaan dengan jalan haram
    rêrasan rasan-rasan menggosip
    gêrigis tlêthik, grimis gerimis
    gigir gêgêr punggung
    bayian, babaran babaran lahiran
    mimi mak, biyung, ibu ibu
    mama, bapa råmå, bapak bapak
    ngrongokaken, ngrongokna ngrungokake (ngoko)

    mirêngakên (krama)

    mendengar
    ngomongaken, ngomongna ngomongake (ngoko)

    ngomongaken (krama)

    membicarakan
    ngejoraken, ngejorna ngejarke, ngumbarake (ngoko)

    ngejaraken, ngumbaraken (krama)

    membiarkan
    siji siji satu
    loro loro dua
    têlu têlu tiga
    papat papat empat
    lima limå lima
    enem enem enam
    pitu pitu tujuh
    wolu wolu delapan
    sanga sångå sembilan
    sêpuluh sêpulùh sepuluh
    sêwêlas sêwêlas sebelas
    selikur sêlikùr dua puluh satu
    selawe selawe dua puluh lima
    sekêt sekêt lima puluh
    satus satùs seratus
    sewu sewu seribu

    Pengaruh bahasa Sunda

    Bahasa Jawa Indramayu juga sedikit diwarnai oleh Bahasa Sunda karena di wilayah Kabupaten Indramayu juga terdapat sebagian kecil penduduk yang berbahasa Sunda utamanya Bahasa Sunda Indramayu dan Bahasa Sunda Priangan, sehingga beberapa kosakata Sunda juga terserap ke Bahasa Jawa yang digunakan di Indramayu, walaupun demikian sebagian besar kosakata Bahasa Jawa Indramayu yakni sekitar 71,5 persen sama dengan Bahasa Jawa modern maupun Bahasa Jawa Kuno sehingga Bahasa mayoritas yang dituturkan di Indramayu adalah Bahasa Jawa dengan dialek khas Indramayu, penelitian menunjukkan perbedaan Bahasa Jawa Indramayu dengan Bahasa Jawa standar hanya sekitar 28,5 persen [14] dalam hal ini perbedaanya merupakan serapan dari bahasa lain (misalnya Sunda, Arab, Belanda) maupun kosakata khas dari Jawa Indramayu.

    Contoh Pengaruh Sunda:

    Jawa Indramayu Bahasa Sunda Bahasa Jawa Standar
    (Solo–Yogya)
    Bahasa Indonesia
    angger angger tetep tetap
    bangor bangor dhablêg nakal
    banjur, sébor banjur, cébor guyang, siram menyiram dengan air
    blésak blangsak ålå, èlèk buruk, jelek
    gati, angel gati, hese angel susah
    ilok kungsi, ilok tau pernah
    kêgugu kagugu lucu lucu
    da, mah da, mah, teh, atuh tåh, og, ik kalimat penegas
    matak matak mergå sebab
    murag murag tibå jatuh
    murun meureun paling, menåwå barangkali
    ngecaprak ngacaprak ngecipris, ngomong wae, ngomong terùs berbicara tanpa henti
    ngan, mung ngan mung, gur, kur hanya
    ongkoh, uga ongkoh ugå juga
    padu padu anggêre asalkan
    puguh puguh pancen, mestine tentu, pasti
    pamali, dusun pamali, dusun ora ilok pantangan, tidak pantas
    runtah runtah larahan/rarahan, uwuh sampah
    rungsing rungsing rewel, ruwêd suka menangis, banyak bicara, rumit, pusing
    satoan satoan kéwan hewan
    sok sok monggo silahkan

    Lihat pula

    • iconPortal Bahasa
    • flagPortal Indonesia
    • Portal Jawa
    • Bahasa Sunda Indramayu
    • Bahasa Cirebon
    • Bahasa Jawa Banyumasan
    • Bahasa Jawa Tegal
    • Bahasa Jawa Pekalongan

    Referensi

    1. ↑ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Jawa Indramayu". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
    2. ↑ "Kamus Bahasa Jawa Indramayu Indonesia Lengkap". Diarsipkan dari asli tanggal 2019-07-16. Diakses tanggal 2019-08-11.
    3. ↑ "Sekilas Indramayu – Situs resmi kab. Indramayu". indramayukab.go.id. Diakses tanggal 2019-08-11.
    4. 1 2 Dasuki, H. A.; Sardjono, J. P.; Sumardjo; Djamara (1977). Sejarah Indramayu. Indramayu: Pemerintah Kabupaten Derah Tingkat II Indramayu. hlm. 359.
    5. 1 2 3 Kasim, Supali (2020). Bahasa Jawa Indramayu: Latar Sosiolingustik, Dialektiktologi, Politisasi & Pemertahanan Bahasa. Indramayu: Rumah Pustaka. hlm. 188. ISBN 9786237788652.
    6. ↑ Dahuri, Rokhimin; Irianto, Bambang; Arovah, Eva Nur (2004). Budaya Bahari-Sebuah Apresiasi di Cirebon. Jakarta: PNRI. hlm. 103. ISBN 9793747064.
    7. ↑ Prawiradiredja, Mohammed Sugianto (2005). Cirebon: Falsafah, Tradisi, dan Adat Budaya. Jakarta: PNRI. hlm. 39–41. ISBN 9793747161.
    8. ↑ Tim Peneliti-Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manasa) Jawa Barat (2008), Babad Dermayu, Bandung: Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga, hlm. 211
    9. ↑ Kasim, Supali (2011). Menapak Jejak Sejarah Indramayu. Yogyakarta: Frame Publishing. hlm. 87. ISBN 9786025557286.
    10. ↑ Ekadjati, Edi S. (2005). Kebudayaan Sunda-Zaman Pajajaran. Jilid II. Bandung: Pustaka Jaya. hlm. 151. ISBN 9794193348.
    11. 1 2 Collier, William L; Sajogyo (peny.) (1986). Budidaya Padi di Jawa. Jakarta: Gramedia. hlm. 339.
    12. ↑ Lubis; Herlina, Nina; dkk (2003). Sejarah Tatar Sunda. Jilid I. Bandung: Satya Historika. hlm. 61. ISBN 9799635365.
    13. 1 2 Lombard, Denys (2005). Nusa Jawa: Silang Budaya. Jilid I. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm. 23. ISBN 9789796054527.
    14. ↑ https://www.detik.com/jabar/cirebon-raya/d-7940001/kenapa-indramayu-bahasa-jawa-meski-ada-di-jawa-barat-ini-sejarahnya.

    Pranala luar

    • Pedoman Umum Ejaan Bahasa Jawa (PUEBJ)
    • Leksikon bahasa Jawa di Sastra.org
    • Bausastra Jawa oleh W.J.S. Poerwadarminta
    • Kamus bahasa Indonesia-Jawa
    • Kamus bahasa Jawa-Inggris di SEAlang Projects
    • l
    • b
    • s
    Bahasa Jawa
    Penulisan
    • Buda
    • Carakan
    • Cacarakan
    • Kawi
    • Latin
    • Pegon
    • Rikasara
    Aksara Jawa
    Tingkatan
    Bahasa
    • Ngoko
      • lugu
      • alus
    • Krama
      • lugu
      • alus
    Kosakata
    • Ngoko
    • Krama-ngoko
    • Krama
      • krama madya
    • Krama inggil
      • krama andhap
    Dialek
    Bagian Barat
    • Banten
    • Indramayu
    • Cirebon
    Bagian Tengah
    • Banyumas
    • Kedu
    • Mataram (standar)
    • Mataraman
    Pesisiran
    • Tegal
    • Pekalongan
    • Semarang
    • Muria
    Bagian Timur
    • Jombang
    Arekan
    • Surabaya
    • Malang
    Bahasa terkait
    • Bagongan
    • Jawa Kuno
      • Kawi (kesusastraan)
    • Osing
    • Suriname
    • Tengger
    Topik terkait
    • Angka
    • Jawanisme
    • Sastra Jawa
    • Kongres
      • bahasa
      • aksara
    • Wikipedia
    • Blok Unicode

    Bagikan artikel ini

    Share:

    Daftar Isi

    1. Sejarah
    2. Asal-usul
    3. Perkembangan
    4. Fonologi
    5. Kosakata
    6. Perbandingan kosakata antara Dialek Jawa Indramayu dengan Dialek Jawa Standar
    7. Pengaruh bahasa Sunda
    8. Lihat pula
    9. Referensi
    10. Pranala luar

    Artikel Terkait

    Rumpun bahasa Austronesia

    rumpun bahasa besar yang tersebar di Asia Tenggara dan Samudra Pasifik

    Suku-suku Austronesia

    kelompok beranggotakan etnik-etnik berbahasa Austronesia

    Bahasa Malagasi

    bahasa yang dituturkan di Madagaskar

    Jakarta Aktual
    Jakarta Aktual© 2026