Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Rumpun dialek Arekan

Rumpun dialek Arekan atau Bahasa Jawa Arekan merupakan salah satu dialek bahasa Jawa modern yang dituturkan di wilayah Jawa Timur bagian tengah dan sebagian timur, terutama di wilayah metropolitan Surabaya–Sidoarjo–Gresik, Malang Raya, Kabupaten–Kota Pasuruan, Kabupaten–Kota Mojokerto, sebagian besar Kabupaten Lamongan dan Jombang, sebagian Lumajang dan sebagian kecil Bangkalan. Dialek ini bercabang dari dialek Jawa Timuran dan terdiri dari dialek Surabaya dan dialek Malang. Pada Umumnya Orang yang berdialek Arekan adalah Suku Jawa asli Jawa timuran.

kontinum dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Jawa Timur bagian tengah dan timur
Diperbarui 6 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini berisi tentang rumpun dialek yang terdiri dari dua dialek, yaitu Dialek Surabaya dan Dialek Malang. Untuk mengetahui mengenai Dialek Surabaya secara spesifik, lihat Bahasa Jawa Surabaya. Untuk Dialek Malang, lihat Bahasa Jawa Malangan.
Bahasa Jawa Arekan
[Båså Jåwå Arèkan] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan)
ꦧꦱꦗꦮꦲꦫꦺꦏ꧀ꦏꦤ꧀code: jv is deprecated
باسا جاوا أريڪَنcode: jv is deprecated
Dituturkan diIndonesia
Wilayah
 Jawa Timur
  • Gerbangkertosusila
    • Kota Surabaya
    • Kab. Gresik
    • Kab. Sidoarjo
    • Kota Mojokerto
    • Kab. Mojokerto
    • Kab. Lamongan (sebagian besar, kecuali bagian barat)
    • Kab. Bangkalan (sebagian kecil)
      • Dusun Jarat Lanjang, Sukolilo Barat
  • Malang Raya
    • Kota Malang
    • Kota Batu
    • Kab. Malang (sebagian besar)
  • Lainnya
    • Kab. Jombang (sebagian besar)
    • Kota Pasuruan
    • Kab. Pasuruan
    • Kab. Lumajang (sebagian)
    • Kota Probolinggo (sebagian)
    • Kab. Probolinggo (bagian barat)
    • Kab. Jember (sebagian barat dan barat-selatan, dekat perbatasan Lumajang)
EtnisJawa Arekan
Penutur
± 25 juta
Rumpun bahasa
Lihat sumber templat}}
Beberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman ini
Klasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
  • Austronesia Lihat butir Wikidata
    • Melayu-Polinesia Lihat butir Wikidata
      • Jawanik Lihat butir Wikidata
        Cari tahu mengapa.Halaman Jawanik masuk dalam cabang rumpun dari Sunda-Sulawesi yang oleh ahli linguistika dianggap usang dan telah digantikan oleh Melayu-Polinesia.
        • Jawa Lihat butir Wikidata
          • Dialek Timur
            • Bahasa Jawa Arekan
Tampilkan klasifikasi manual
  • bahasa manusia
    • Sundik
      • Sunda–Sulawesi
        • Javanik
          • Jawa
            • Jawa Timur Suntingan nilai di Wikidata
              • Bahasa Jawa Arekan
    Tampilkan klasifikasi otomatis
    Posisi rumpun dialek Arekan dalam dialek-dialek bahasa Jawa Sunting klasifikasi ini

    Catatan:

    Simbol "†" menandai bahwa bahasa tersebut telah atau diperkirakan telah punah
    • Jawa Modern
      • Barat
        • Banten-Cirebon
          • Banten Utara
          • Indramayu
          • Cirebon
        • Pesisir Lor
          • Tegal-Brebes
          • Pemalang
        • Pekalongan
        • Banyumasan
      • Tengah
        • Bagelen-Kedu
          • Bagelen
          • Kedu
        • Mataram
          • Solo-Yogya
          • Semarang-Demak-Kudus-Jepara
            • Semarang
            • Kudus
        • Blora
        • Madiun-Kediri
      • Timur
        • Arekan
          • Jombang
          • Surabaya
          • Malang-Pasuruan
          • Lumajang
        • Gresik
          • Diponggo
        • Tengger
        • Using-Banyuwangi
      • Mancadwipa
        • Karibia
        • Kaledonia Baru
    Sistem penulisan
    Alfabet Latin
    Aksara Jawa
    Abjad Pegon
    Status resmi
    Diakui sebagai
    bahasa minoritas di
     Indonesia (sebagai bahasa daerah)
    Diatur olehBalai Bahasa Provinsi Jawa Timur
    Kode bahasa
    ISO 639-3–
    Glottologarek1234  (Arekan)[1]
    mala1493  (Malang-Pasuruan)[2]
    sura1245  (Surabaya)[3]
    Informasi penggunaan templat
    Status pemertahanan
    Punah

    EXSingkatan dari Extinct (Punah)
    Terancam

    CRSingkatan dari Critically endangered (Terancam Kritis)
    SESingkatan dari Severely endangered (Terancam berat)
    DESingkatan dari Devinitely endangered (Terancam)
    VUSingkatan dari Vulnerable (Rentan)
    Aman

    NESingkatan dari Not Endangered (Tidak terancam)
    Bahasa Jawa Arekan belum diklasifikasikan dalam tingkatan manapun pada Atlas Bahasa-Bahasa di Dunia yang Terancam Kepunahan
    Referensi: [4][5]
    Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA.
     Portal Bahasa
    L • B • PW   
    Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
    Cari artikel bahasa
    Cari artikel bahasa
     
    Cari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)
     
    Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
    Artikel bahasa sembarang
    Halaman bahasa acak

    Rumpun dialek Arekan (bahasa Jawa: aksara Jawa: ꦲꦫꦺꦏ꧀ꦏꦤ꧀, abjad Pegon: اريڪَنcode: jv is deprecated translit. Arèkan, [ʔarɛʔan]) atau Bahasa Jawa Arekan merupakan salah satu dialek bahasa Jawa modern yang dituturkan di wilayah Jawa Timur bagian tengah dan sebagian timur, terutama di wilayah metropolitan Surabaya–Sidoarjo–Gresik, Malang Raya, Kabupaten–Kota Pasuruan, Kabupaten–Kota Mojokerto, sebagian besar Kabupaten Lamongan dan Jombang, sebagian Lumajang dan sebagian kecil Bangkalan. Dialek ini bercabang dari dialek Jawa Timuran dan terdiri dari dialek Surabaya dan dialek Malang. Pada Umumnya Orang yang berdialek Arekan adalah Suku Jawa asli Jawa timuran.

    Dialek Arekan memiliki fonologi yang sedikit berbeda dari bahasa Jawa Standar. Statusnya yang bukan merupakan bahasa baku membuat dialek ini tidak banyak digunakan secara tertulis. Penyebutan istilah Dialek Arekan baru dikenal dalam bentuk tulisan sejak abad ke-21, terutama setelah media sosial banyak digunakan untuk sarana komunikasi dalam bahasa informal. Perbedaan yang paling mencolok antara dialek Arekan dengan bahasa Jawa Standar terletak pada imbuhan dan pemilihan kosakata. Hal ini pula yang membuat dialek ini mendapatkan namanya, Arekan, yang berasal dari penggunaan kata arèk (anak) untuk menggantikan bocah dan juga dapat berarti guys dalam bahasa Inggris. Kata arèk sendiri berasal dari kata laré yang berarti anak dalam bahasa Jawa.

    Persebaran

    Dialek Arekan merupakan dialek bahasa Jawa yang umum digunakan oleh sebagian besar masyarakat Jawa Timur bagian timur. Cakupan wilayah penuturan dialek Arekan diperkirakan mencapai:[butuh rujukan]

    • Utara
      • Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik
      • Sebagian besar wilayah Lamongan dan sebagian kecil Bangkalan
    • Barat
      • Mojokerto
      • Sebagian besar wilayah Jombang
    • Timur
      • Sebagian wilayah Tapal Kuda (kecuali Situbondo dan Bondowoso)[a]
    • Selatan
      • Malang Raya dan Pasuruan

    Dialek Arekan yang dituturkan di wilayah Tapal Kuda dipengaruhi oleh bahasa Madura, baik dalam kosakata maupun intonasi.[butuh rujukan] Selain dialek Arekan, bahasa Jawa yang juga dituturkan di Jawa Timur bagian Timur adalah bahasa Jawa Tengger di Bromo-Tengger-Semeru dan bahasa Osing di Banyuwangi.

    Fonologi

    Informasi lebih lanjut mengenai fonologi: fonologi bahasa Jawa

    Pada dialek Arekan, terdapat cara pengucapan huruf vokal yang sedikit berbeda dari bahasa Jawa Standar.

    Fonem /i/ pada suku kata tertutup berbunyi [ɪ][6] atau [e].[7][8] Fonem /i/ pada penultima terbuka umumnya juga berbunyi [ɪ] atau [e] jika ultima memiliki vokal /i/ atau /u/ tertutup.[9][10]

    Fonem /u/ pada suku kata tertutup berbunyi [ʊ][11] atau [o].[7][8] Fonem /u/ pada penultima terbuka umumnya juga berbunyi [ʊ] atau [o] jika ultima memiliki vokal /i/ atau /u/ tertutup.[9][10]

    Kata Bahasa Jawa
    Standar
    Dialek Arekan Arti
    kirik [ki.rɪʔ] [kɪ.rɪʔ], [ke.reʔ] anak anjing
    kukur [ku.kʊr] [kʊ.kʊr], [ko.kor] garuk
    purik [pu.rɪʔ] [pʊ.rɪʔ], [po.reʔ] ambek
    pikun [pi.kʊn] [pɪ.kʊn], [pe.kon] pikun

    Alofon pada /i/ dan /u/ meluas hingga memiliki kesamaan bunyi dengan /e/ dan /o/. Hal ini membuat fonem /e/ yang berbunyi [e] dan /o/ yang berbunyi [o] yang terletak pada penultima dengan ultima /i/ atau /u/ tertutup terkadang dipahami sebagai fonem /i/ dan /u/.

    éling [ʔe.lɪŋ] → iling 'ingat'
    kondur [kon.dʊr] → kundur 'pulang'

    Fonem /e/ pada penultima terbuka berbunyi [ɛ], kecuali jika kata tersebut memiliki ultima terbuka dengan vokal /e/ atau /o/[12] atau ultima tertutup dengan vokal /i/ atau /u/.[8]

    Kata Bahasa Jawa
    Standar
    Dialek Arekan Arti
    éman [e.man] [ɛ.man] sayang
    béda [be.dɔ] [bɛ.dɔ] beda
    géndhong[b] [gen.ɖɔŋ] [gɛn.ɖɔŋ] gendong
    mléngos [mle.ŋɔs] [mlɛ.ŋɔs] buang muka
    pépé [pepe] [pepe] jemur
    péso [peso] [peso] pisau

    Fonem /a/ yang berbunyi [ɔ] umumnya tetap dibaca [ɔ] meski kata tersebut diberi akhiran, kecuali akhiran yang menyebabkan terjadinya sandi. Hal ini menandakan kemungkinan proses terbentuknya fonem /ɔ/ mandiri yang terpisah dari alofon /a/.[13][14]

    Kata Bahasa Jawa
    Standar
    Dialek Arekan Arti
    kanca [kɔɲtʃɔ] [kɔɲtʃɔ] teman
    kancané [kaɲtʃane] [kɔɲtʃɔne] temannya
    ngancani [ŋaɲtʃani] [ŋaɲtʃani] menemani
    jaga [dʒɔgɔ] [dʒɔgɔ] jaga
    jagaen [dʒaga.nən] [dʒɔgɔ.ən] jagalah
    njagakaké/njagakna [ɲdʒagaʔake] [ɲdʒagaʔnɔ] mengandalkan

    Sistem penulisan

    Dialek Arekan umum ditulis menggunakan alfabet Latin tanpa mematuhi pedoman penulisan bahasa Jawa. Hal ini membuat satu kata dapat memiliki beberapa variasi cara penulisan yang berbeda. Penulisan pada dialek Arekan cenderung mengikuti bunyi pengucapan kata.[15]

    Vokal

    Secara umum, diakritik tidak digunakan pada penulisan huruf vokal[16][8] dan beberapa alofon direpresentasikan dengan huruf yang mendekati bunyinya. Hal ini membuat satu huruf dapat merepresentasikan beberapa fonem yang berbeda.[17] Pemilihan huruf vokal tidak selalu konsisten, sehingga fonem yang sama dapat ditulis dengan huruf yang berbeda antara satu kata dengan yang lain.

    Fonem Bunyi Bahasa Jawa
    Standar[18]
    Dialek Arekan[17][16][19]
    /i/ [i] <i> <i>
    [ɪ] <i> <e>
    [e] -[c]
    /u/ [u] <u> <u>
    [ʊ] <u> <o>
    [o] -[d]
    /e/ [e] <é> <e>
    [ɛ] <è>
    /o/ [o] <o> <o>
    [ɔ]
    /a/ [a] <a> <a>
    [ɔ] <o>
    /ə/ [ə] <e> <e>

    Konsonan

    Fonem /ɖ/ dan /ʈ/, yang dalam penulisan standar ditulis dengan digraf <dh> dan <th>,[20] umum ditulis dengan huruf <d> dan <t>.[15][17]

    thithik [ʈiʈiʔ] → titik 'sedikit'
    wedhi [wəɖi] → wedi 'pasir'
    dhahar [ɖahar] → dahar 'makan'

    Fonem /g/ yang terletak pada akhir kata berbunyi [k],[21] sehingga konsonan /g/ pada akhir kata umum ditulis dengan huruf <k>.

    goblog [gɔblɔk] → goblok 'goblok'
    papag [papak] → papak 'jemput'
    grudug [grʊdʊk] → gruduk 'kerubung'

    Fonem /d/ yang terletak pada akhir kata berbunyi [t],[22] sehingga konsonan /d/ pada akhir kata terkadang ditulis dengan huruf <t>.

    tangled [taŋlət] → tanglet 'tanya'
    reged [rəgət] → reget 'kotor'
    saged [sagət] → saget 'bisa'

    Fonem /h/ yang terletak pada akhir kata dengan ultima bervokal /i/ atau /u/ terkadang tidak ditulis.

    eruh [ʔərʊh] → ero 'tahu'
    nyilih [ɲɪlɪh] → nyele 'meminjam'
    misuh [mɪsʊh] → meso 'mengumpat'

    Pembentukan homograf

    Cara penulisan pada dialek Arekan terkadang membuat kata yang tadinya berbeda menjadi homograf.

    Dialek Arekan Bahasa Jawa
    Standar
    Pengucapan Arti
    ambek ambeg [ʔambək] napas
    ambi [ʔambɛʔ] dengan
    loro lara [lɔrɔ] sakit
    loro [loro] dua
    embo embuh [ʔəmbʊh] tidak tahu
    imbuh [ʔɪmbʊh] tambah
    gatel gatel [gatəl] gatal
    gathèl [gaʈɛl] penis
    wedi wedi [wədi] takut
    wedhi [wəɖi] pasir

    Tata bahasa

    Informasi lebih lanjut mengenai tata bahasa: tata bahasa Jawa

    Pronomina persona

    Terdapat perbedaan dalam pemilihan kata untuk pronomina persona pada dialek Arekan. Beberapa kata atau frasa juga biasa digunakan untuk menyatakan bentuk jamak.

    Glos Bentuk Bebas Awalan Akhiran
    Ngoko Krama
    1SG
    'aku, saya'
    aku (Surabaya)

    reang/esun (Gresik)

    kula tak(-) -ku
    1PL.EXCL
    'kami'
    kene - - -
    1PL.INCL
    'kita'
    awakdewe, kene - - -
    2SG
    'kamu, Anda'
    koen, awakmu, pena,

    sira (Gresik utara)

    sampean, rika (seluruh wilayah) mbok(-) -mu
    2PL
    'kalian'
    kon kabeh - - -
    3SG
    'dia, ia, beliau'
    de'e, wonge, areke piambake,
    tiange, larene
    di- -ne
    3PL
    'mereka'
    de'e kabeh, wonge,
    arek-arek
    - - -

    Awalan tak(-) dan mbok(-) biasa ditulis sebagai kata terpisah meski penggunaannya tetap sama seperti pada bahasa Jawa Standar.[23] Piambake dan tiange berasal dari kosakata krama, yaitu piyambak 'sendiri' (ngoko: dhéwé) dan tiyang 'orang' (ngoko: wong), yang ditambahkan akhiran ngoko -e (krama: -ipun). Akan tetapi, gelar lebih sering digunakan untuk menyebut orang ketiga dalam bahasa yang sopan dibandingkan dengan pronomina persona.[24]

    Demonstrativa

    Terdapat sedikit berbedaan pada kata tunjuk yang digunakan di dialek Arekan. Hal ini dipengaruhi oleh sistem penulisannya yang tidak mematuhi pedoman penulisan bahasa Jawa.

    Bahasa Jawa
    Standar
    Dialek Arekan Pengucapan Arti
    (kuwi)[e] ika [ʔikɔ] itu
    kono kunu [kunu] situ
    kana kana [kɔnɔ] sana
    mrono mrunu [mrunu] ke situ
    mrana mrana [mrɔnɔ] ke sana
    ngono ngunu [ŋunu] begitu
    ngana ngono [ŋɔnɔ] begitu (jauh)
    semono sakmunu [saʔmunu] sekian itu
    semana sakmana [saʔmɔnɔ] sekian itu (jauh)

    Penggunaan huruf <u> pada suku kata terbuka untuk menyatakan bunyi [o] hanya ditemui pada kata tunjuk. Hal ini menyimpang dari ketentuan bahwa vokal /u/ pada suku kata terbuka dibunyikan sebagai [u].[25]

    Imbuhan

    Terdapat beberapa erbedaan pada penggunaan imbuhan antara dialek Arekan dengan bahasa Jawa Standar.

    Akhiran -na[f] [nɔ] menggantikan seluruh penggunaan akhiran -aké.

    lali [lali] 'lupa' + N-/-no → nglalekna [ŋlalɛʔnɔ] 'melupakan'
    tuku [tuku] 'beli' + N-/-no → nukokna [nukɔʔnɔ] 'membelikan'
    jodo [dʒoɖo] 'jodoh' + tak(-)/-no → tak jodokna [taʔ dʒɔɖɔʔnɔ] 'kujodohkan'
    gawa [gɔwɔ] 'bawa' + di-/-no → digawakna [digawaʔnɔ] 'dibawakan'
    dewe [ɖewe] 'sendiri' + di-/-no → didewekna [diɖɛwɛʔnɔ] 'disendirikan'

    Akhiran -e diwujudkan dengan alomorf -ne jika dipasangkan pada kata dengan akhir vokal.[26] Akan tetapi, alomorf -e terkadang dapat juga digunakan.

    bojo [bodʒo] 'suami/istri' + -e → bojoe [bodʒo.e] 'pasangannya'
    mlaku [mlaku] 'berjalan' + -e → mlakue [mlaku.e] 'jalannya'
    mburi [mburi] 'belakang' + -e → mburie [mburi.e] 'belakangnya'

    Awalan sak- menggantikan seluruh penggunaan awalan sa- serta alomorf se-, kecuali yang terdapat pada angka.[g]

    piring [pɪrɪŋ] 'piring' + sak- → sakpiring [saʔpɪrɪŋ] 'sepiring'
    penak [pɛnaʔ] 'enak' + sak-/-e → sakpenake [saʔpɛnaʔe] 'seenaknya'
    omah [ʔomah] 'rumah' + sak- → sakomah [saʔomah] 'serumah'

    Sisipan -u- digunakan untuk memberikan penekanan dengan makna ‘sangat’ pada suatu kata.[27] Sisipan ini berbeda dengan pendiftongan pada bahasa Jawa Standar yang memiliki fungsi serupa,[28] karena sisipan -u- tidak menghasilkan diftong dan tidak terbatas pada kata sifat. Pada kata yang diawali vokal, sisipan -u- diletakkan di awal kata dan dapat diwujudkan dengan alomorf -u-, -w-, atau -uw-. Pada kata yang diawali konsonan, sisipan -u- diletakkan sebelum vokal pada suku kata pertama dan dapat diwujudkan dengan alomorf -u- atau -uw-. Jika vokal yang mengikuti sisipan adalah /u/, sisipan selalu diwujudkan dengan alomorf -uw-.

    akeh [ʔa.kɛh] 'banyak' + -u- → uakeh [ʔu.a.kɛh] 'sangat banyak'
    adoh [ʔa.dɔh] 'jauh' + -w- → wadoh [wa.dɔh] 'sangat jauh'
    enak [ʔɛ.naʔ] 'enak' + -uw- → uwenak [ʔu.wɛ.naʔ] 'sangat enak'
    lapo [la.pɔ] 'sedang apa' + -u- → luapo [lu.a.pɔ] 'sedang apa (heran)'
    ngguyu [ŋgu.ju] 'tertawa' + -uw- → ngguwuyu [ŋgu.wu.ju] 'tertawa terbahak-bahak'

    Penggunaan

    Salah satu ciri khas dialek Arekan adalah tutur kata yang dianggap lugas, tegas, dan kasar, dibandingkan dengan bahasa Jawa Standar yang cenderung halus, lembut, dan secara jelas menunjukkan tata krama. Hal ini muncul dari perbedaan nada bicara dan jarangnya penggunaan kosakata dengan tingkat tutur tinggi.[butuh rujukan] Berikut ini merupakan beberapa contoh kalimat percakapan dalam dialek Arekan dan bahasa Jawa Standar:

    Dialek Arekan Bahasa Jawa Standar Bahasa Indonesia
    Ya apa kabare, rek? Piyé kabaré, cah? Apa kabar, kawan?
    Arek iki tambah mbois ae cok! Cah ki tambah bagus waé pèh! Anak ini semakin keren saja ya!
    Rek, koen kabeh gak mangan a? Cah, kowé ra padha madhang toh? Kawan, apa kalian tidak makan?
    Cak, njaluk tolong jukukna montor nang bengkel. Mas, njaluk tulung jupukaké montor ning bingkil. Bang, minta tolong ambilkan mobil di bengkel.
    Pak, sampean kajenge teng pundi? Pak, panjenengan badhé dhateng pundi? Pak, Anda hendak ke mana?

    Dialek Arekan juga digunakan sebagai bahasa pengantar oleh media-media lokal setempat.[29]

    Kosakata

    Dialek Arekan memiliki penggunaan kosakata yang berbeda dari bahasa Jawa Standar. Perbedaan kosakata ini dapat berupa penggunaan suatu kata baku yang lebih sering dibanding sinonimnya, kata yang pengucapannya sedikit berbeda, kata yang maknanya telah bergeser atau meluas, atau kata yang khas dan tidak ada padanannya di bahasa Jawa Standar. Beberapa contoh di antaranya ada di tabel berikut:

    Dialek Arekan[h] Bahasa Jawa Baku Bahasa Indonesia[30]
    aé waé, bae saja
    dewekan dewean Sendiri
    bengen (gresik), biyen biyen dahulu
    pangot (Gresik), ladhing, glathi peso Pisau
    parek (Gresik), cedhek cedhak, cerak Dekat
    ring (Gresik), nang/ning ning Di/Ke
    nyacak, jajal jajal Mencoba
    maneng (Gresik), maneh' maneh Lagi
    anteb (Gresik) antob Bersendawa
    mené , kesuk (Gresik) sesuk Besok
    aḍakna, ḍaḍakna jebulé, tibané ternyata
    akas srigak, prigel tangkas
    ambèk karo dengan, bersama
    ambèkan karo ndene, lagiyan lagi pula
    ancèn pancèn memang
    aṭék, athik nganggo memakai (untuk melakukan sesuatu), dengan
    arèk, rèk[i] bocah anak
    wong orang yang berasal dari suatu daerah tertentu
    awakdéwé awaké dhéwé kita
    awakmu, koên, rika kowé kamu
    bacut, kebacut kebacut, kadhung terlambat, telanjur
    kebanjur terlewat
    kenemenen keterlaluan
    barèk karo dengan, bersama
    barèkan karo dene, lagiyan lagi pula
    bah, bahna, babah, babahna, barna jar, jarké, umbarké, bèn masa bodoh, membiarkan
    béntó goblog bodoh
    beròk bengok, cerik cerik berteriak
    biḍeg, mbiḍeg mbisu diam, membisu
    blègèḍès, mblègèḍès gedhabrus omong kosong
    bòk, mbòk, mòk kok, mbòk, tok persona kedua agen kata kerja pasif, kau-
    bòncèl bundhas, tatu / catu lecet (luka)
    brai paes solek, dandan
    brasak, mbrasak nembus, trabas menerobos
    bròsòt, mbròsòt kejeblos, mrosot merosot
    bulet, mbulet bulet kusut
    ruwed rumit, bertele-tele
    cacak, cak mas, kakang kakak (lelaki)
    caḳceḳ trengginas,

    cekatan

    tangkas
    cangkruk mlangkring tongkrong, menongkrong
    cangkrukan angkringan, wédangan tongkrongan (tempat)
    melok melok mèlu-mèlu ikut campur
    cawik céwok cebok
    cèk, cék, cékbèn supaya, bèn, ambrih agar, supaya
    celaṭu,[j] senèn memarahi
    cèmòng cémot cemong, belepotan, kotor
    còngòk[k] mendho bodoh
    còngòr congor, cingur, moncong jungur, moncong
    antem pukul
    còp, còpan, còp-còpan kontakan, colokan stopkontak
    cuklèk tugel, putul patah
    dè'é, dè é dhèké, dhèwèké, dekne dia
    delok deleng lihat
    dilep dulepen dismenorea
    dobol silit dubur (kata makian)
    goblog bodoh
    dulin, dolén dolan, amêng-amêng bermain
    dhukur dhuwur atas
    èmbòng dalan, ratan jalan raya
    emòk, mòk wegah, gah, emoh, moh tidak ingin
    emplòk pangan memasukkan sesuatu ke mulut
    eleg telan
    ènḍèl, kemènḍèl kemayu genit, centil
    engkók mengko nanti
    eró, eróh, róh weruh, ngarti tahu, paham, melihat
    gak, nggak, enggak, ògak ora tidak
    gaé, gawé gawé membuat, pekerjaan
    kanggo untuk
    gaplèk, gaplèki, nggaplèki gela'ake, njelehi, nyebahi menjengkelkan, menyebalkan, membosankan
    gasak, pongor antem, tonyo pukul, terjang
    gaṭèl gathèl penis (kata makian)
    gaṭèli, nggaṭèli asu menjengkelkan (kata makian)
    gebes, nggebes silir, sumilir sepoi
    gebrès wahing bersin
    jekethek gumunggung, membual, sok tahu, omong kosong
    gègèr[l] gelut, tukar, padu berkelahi
    agè , gek ndang, gagé, cepet lekas (perintah)
    wek wèh, wènèhi beri
    gòcik jereh penakut, pengecut
    gòmbòr kombor longgar (pakaian)
    krawuk, kruwek grawuk, garuk, nyakar mencakar
    guduk dudu bukan
    gurung durung belum
    isòk bisa bisa
    iwak iwak ikan
    lawuh lauk
    tenguk-tenguk,[m] jagongan tongkrong, menongkrong
    jambrèt - jambret (kata makian)
    jamput, damput, hamput - bersetubuh (kata makian)
    jancók, jancuk, cók, cuk - bersetubuh (kata makian)
    jangkrék jangkrik jangkrik (kata makian)
    jarag, jaraḳ, njarag, njaraḳ ganggu, gudha, gojeg jail
    jarem, njarem kram, kemeng, keju kram
    totok'an jebusan tembusan (jalan)
    pungkasan ujung
    jebulé ternyata
    jeglèḳ, njeglèḳ oglangan, jegleg, anjred padam seketika (listrik)
    jék isih masih, sedang (melakukan sesuatu hal)
    jekètèk,[n] njekètèk dadakan mendadak, tiba-tiba
    jebule ternyata (konotasi negatif)
    jembek, jembrek mangkel, gela muak
    jèbrèt cemod belepotan
    rijik resik bersih
    jukuk jupuk ambil
    jungkrak jongkrog, jurug mendorong hingga jatuh
    kaét, kaèt, kèt kawit, wiwit sejak
    tas baru saja
    kancrit, kari keri tertinggal, terbelakang
    kaplòk tempiling, tapuk tampar
    kari gari tersisa
    katé, kapé, até, apé arep akan, hendak
    kathuken kadhemen, katisen kedinginan
    katok kathok celana pendek
    clana celana
    kebek kebak penuh
    bayang amben, dipan tempat tidur
    kèk wèh, wènèh beri
    kluyuran, blarah klayaban, ngluyur berkeluyuran, bepergian tanpa tujuan
    kemalan kemaki membual
    gayane sok, berlagak
    kemaruk, maruk[o] srakah, gragas serakah
    kemènyèk kemaki berlebihan, sok, berlagak
    kemu, ucug ucug kemu berkumur
    ngemud mengulum, menahan dalam mulut
    apa'a ngapa mengapa, kenapa
    kerja, megawe kerja, manjing, nyambut gawe bekerja (profesi)
    nglakoni, nindakaké berkegiatan, melakukan
    kari keri tertinggal
    kètòk katon terlihat
    klòmbòr lodho, kombor longgar (pakaian)
    kòn, kòen kowé kamu
    kòra, kòra-kòra, kòrah-kòrah umbah, isuh-isuh, asah-asah cuci (peralatan dapur)
    kòrèt kòrèk, leles mengais sisa-sisa
    kósró, kósróh sembrana asal, sembarangan
    kòwa-kòwò, kòwah-kòwòh plonga-plongo, dlongap dlongop kebingungan (ekspresi)
    kotang kutang, entrok kutang, beha
    lagèk, gèk lagi, tas baru saja
    lagèkan lagiyan lagi pula
    lapò lagi apa sedang apa
    ngapa, kenapa mengapa, kenapa
    lapò'ò, lapò ò ngapa, kenapa mengapa, kenapa
    lèk, lak yèn kalau, jika
    bibek bulik[p] tante
    bluron ciblon bermain air
    lugur, lógór, rotuh tiba jatuh
    lòngòr goblog, mendho bodoh
    macak dandan, paès solek, dandan
    dhapuk bergaya (menyerupai sesuatu), bersikap (seolah-olah)
    mangan, maem madhang maem makan
    maeng mau, wau tadi, baru saja
    mari rampung, bubar, bar sudah, selesai
    masiya, mbasiya, masi, mbasi senajan, sanadyan meskipun
    matèk mati mati
    mayak kurang tata kurang ajar
    mèk mung, gur hanya, cuma
    mèlòk mèlu ikut
    mené sésuk, mbesuk besok
    metangkring pentalitan, mlangkring bertengger
    metantang jegeg membusungkan dada
    metantang-metèntèng gayane berlagak
    metèntèng metete tangan di pinggang
    metingkrang jigang duduk dengan kaki terangkat
    mésó, mésóh misuh, ngipat mengumpat, memaki
    mléngsé, méngslé mencong miring, tidak lurus
    mléṭé jelehi menjengkelkan
    muluk puluk, muluk makan dengan tangan kosong
    muluk, muluk-muluk meninggi, terbang, hal yang tinggi (tidak tercapai)
    nggegem mengepal
    nang ning, ing di
    nang, menyang ke
    nèk, nak, nok, nong ning, ing di
    nang, menyang ke
    lèk, nèk yèn kalau, jika
    age, gek dang, gagé, cepet lekas (perintah)
    ndaniya, pa maneh/maneng mendah apalagi jika
    nḍék, nḍik, ndhik ing di
    ndhèk mau tadi
    ngecembeng, ngecembòng nyembong menggenang
    ngembung ngambang,

    kalepan

    tergenang
    ngeres reged kotor
    rusuh kotor (pikiran)
    nglamak, ngamak kurang tata kurang ajar
    nglèsòt, nglòsòt, ndlosor digar, klèsèd, nglèsèd, lèsèh leseh, berlesehan
    ngòwòh mlongo, dlongop menganga
    pancet tetep tetap
    patèk sepira, patia (tidak) seberapa
    pencét, pencit poh mangga muda
    pèrèk, balon sundel, lonthe sundal/pelacur
    petèk apek, ngunduh memgambil buah
    pòk pol batas ujung, maksimal
    men, temen sangat
    pòlaé marga, krana karena, sebab
    pòngòr antem pukul
    rasan, rasan-rasan rasanan gosip, bergosip
    rèken[q] gati gubris, peduli
    ròtuh runtuh, ambrug runtuh
    rusuh rusuh rusuh, kotor
    ribut gaduh
    sak sa-, se- se- (bentuk terikat, awalan)
    sakper[r] sapisan satu kali
    kék, dhikek sik, dhisik terlebih dahulu
    sik, mengko dhisik, kosik tunggu sebentar (perintah)
    isih masih
    sampèan, samèan, rika sampéyan kamu, Anda
    sampèk nganti, ngasi sampai, hingga
    santap ajar hajar
    selang silih pinjam
    semlóhé montok seksi (tubuh)
    sèmpaḳ kathok jero, cawet, celana dalam
    senep mules mulas (perut)
    séng sing, kang yang
    soalé marga karena, sebab
    ta, a, ka toh -kah (digunakan untuk mengukuhkan pertanyaan)
    temen, temenan, nemen temen, banget,

    temenanan, tenan

    benar, sungguh, sangat
    kebangeten keterlaluan
    tèk, gòtèk, nèk wèk, duwèk milik
    tenger-tenger mlangkring bertengger
    jagongan bersantai-santai
    tòntòk, dòntòk, nòntòk, ndòntòk nonton menonton, memperhatikan
    deleng melihat
    tuwuk[s] kerep, asring acap, sering
    cukup cukup, puas
    uman, kuman, kumanan komanan, keduman, kebagian
    umeḳ usreg banyak bergerak, gelisah (perilaku)
    umum[t] lumrah wajar
    waras waras sehat (jasmani/rohani)
    mari sembuh

    Lihat pula

    • Bahasa Jawa Surabaya
    • Bahasa Jawa Malangan
    • Bahasa Osing
    • Bahasa Tengger
    • Budaya Jawa

    Referensi

    Catatan

    1. ↑ Bahasa yang umum digunakan oleh masyarakat Situbondo dan Bondowoso adalah bahasa Madura.
    2. ↑ Dalam bahasa Jawa, huruf vokal yang terletak sebelum pertemuan antara konsonan sengau dengan konsonan homorganiknya diperlakukan sebagai vokal terbuka meskipun berada dalam suku kata tertutup.
    3. ↑ Fonem /i/ pada bahasa Jawa Standar tidak memiliki alofon [e].
    4. ↑ Fonem /u/ pada bahasa Jawa Standar tidak memiliki alofon [o].
    5. ↑ Kata kaé lebih umum digunakan dalam percakapan, sedangkan ika digunakan pada bahasa sastra.
    6. ↑ Dalam bahasa Jawa Standar ditulis -na.
    7. ↑ Awalan sa- beserta alomorfnya terdapat pada angka sepuluh 'sepuluh', sewelas 'sebelas', selikur 'dua puluh satu', selawe 'dua puluh lima', seket 'lima puluh', suwidak 'enam puluh', satus 'seratus', dan sewu 'seribu'.
    8. ↑ Penulisan huruf pada contoh kata di bawah merupakan penulisan yang umum ditemui. Pada penulisan dialek Arekan, umumnya diakritik tidak digunakan. Diakritik pada tabel ini hanya sebagai petunjuk untuk menghindari abiguasi pembacaan dan beberapa diakritik bukan merupakan diakritik yang digunakan dalam penulisan latin bahasa Jawa. Huruf dengan diakritik beserta bunyinya adalah sebagai berikut: <é> untuk [e], <è> untuk [e], <ó> untuk [o], <ò> untuk [o], <ḍ> untuk [ɖ], <ṭ> untuk [ʈ], dan <ḳ> untuk [k] sebagai koda (konsonan di akhir suku kata).
    9. ↑ Umum digunakan sebagai panggilan untuk persona ketiga jamak, 'kawan-kawan'.
    10. ↑ Dalam bahasa Jawa Standar, clathu memiliki arti 'melabrak'.
    11. ↑ Congok berasal dari gabungan kata kacong (bahasa Madura) dan goblok
    12. ↑ Dalam bahasa Jawa Standar, gègèr memiliki arti 'huru-hara'.
    13. ↑ Dalam bahasa Jawa Standar, jagong memiliki arti 'mendatangi perayaan'.
    14. ↑ Dalam bahasa Jawa Standar, jekèthèk memiliki arti 'umum, mudah dijumpai'.
    15. ↑ Dalam bahasa Jawa Standar, maruk memiliki arti 'bernafsu makan besar'.
    16. ↑ Singkatan dari kata cilik dalam bahasa Jawa Standar yang berarti 'kecil'.
    17. ↑ Dalam bahasa Jawa Standar, rèken memiliki arti 'menghargai' atau 'menyadari'.
    18. ↑ Sakper berasal dari gabungan kata sak dan pertandingan.
    19. ↑ Dalam bahasa Jawa Standar, tuwuk memiliki arti 'kenyang'.
    20. ↑ Dalam bahasa Jawa Standar, umum memiliki arti 'umum'.

    Referensi

    1. ↑ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Arekan". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
    2. ↑ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Malang-Pasuruan". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
    3. ↑ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Surabaya". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
    4. ↑ "UNESCO Interactive Atlas of the World's Languages in Danger" (dalam bahasa bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, and Tionghoa). UNESCO. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 29 April 2022. Diakses tanggal 26 Juni 2011. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
    5. ↑ "UNESCO Atlas of the World's Languages in Danger" (PDF) (dalam bahasa Inggris). UNESCO. 2010. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 Mei 2022. Diakses tanggal 31 Mei 2022.
    6. ↑ Wedhawati, dkk 2001, hlm. 35.
    7. 1 2 Krauße 2017, hlm. 26.
    8. 1 2 3 4 Yannuar, Hoogervorst & Klamer 2022, hlm. 20.
    9. 1 2 Krauße 2017, hlm. 13.
    10. 1 2 Yannuar, Hoogervorst & Klamer 2022, hlm. 21.
    11. ↑ Wedhawati, dkk 2001, hlm. 37.
    12. ↑ Krauße 2017, hlm. 27.
    13. ↑ Krauße 2017, hlm. 12, 26.
    14. ↑ Yannuar, Hoogervorst & Klamer 2022, hlm. 26-28.
    15. 1 2 Krauße 2017, hlm. 30.
    16. 1 2 Krauße 2017, hlm. 29-30.
    17. 1 2 3 Hoogervorst 2014, hlm. 111.
    18. ↑ Arifin 2006, hlm. 2.
    19. ↑ Yannuar, Hoogervorst & Klamer 2022, hlm. 5.
    20. ↑ Arifin 2006, hlm. 3.
    21. ↑ Wedhawati, dkk 2001, hlm. 62-63.
    22. ↑ Wedhawati, dkk 2001, hlm. 52-53.
    23. ↑ Krauße 2017, hlm. 35.
    24. ↑ Krauße 2017, hlm. 34-35.
    25. ↑ Wedhawati, dkk 2001, hlm. 36.
    26. ↑ Wedhawati, dkk 2001, hlm. 404-405.
    27. ↑ Krauße 2017, hlm. 41.
    28. ↑ Wedhawati, dkk 2001, hlm. 145.
    29. ↑ Novitasari, Ainia Arum; Handayani, Wiwik Retno (2023-02-12). "VARIASI BAHASA JAWA AREKAN-MATARAMAN DI KABUPATEN JOMBANG DALAM BUDAYA BESUTAN DI CHANNEL YOUTUBE BULIK GURU". Lingua: Jurnal Bahasa dan Sastra. 19 (1): 66–76. doi:10.15294/lingua.v19i1.40828. ISSN 2549-3183.
    30. ↑ "},"title":{"wt":"KBBI Daring"},"url":{"wt":"https://kbbi.kemdikbud.go.id/"},"website":{"wt":"kbbi.kemdikbud.go.id"},"publisher":{"wt":"Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan"}},"i":0}}]}' id="mwDRs"/>"KBBI Daring". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

    Daftar Pustaka

    • Arifin, Syamsul (2006). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Jawa Huruf Latin yang Disempurnakan. Yogyakarta: Balai Bahasa Yogyakarta. ISBN 9792111999. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
    • Hoogervorst, Tom G. (2014). "The sociolinguistics of East Javanese slang". Wacana. 15 (1). Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia: 104–131. doi:10.17510/wjhi.v15i1.107.
    • Krauße, Daniel (2017). A Description of Surabayan Javanese with Special Reference to its Linguistic Etiquette (Master thesis). Goethe-Universität Frankfurt am Main. doi:10.13140/RG.2.2.27512.14086/1.
    • Wedhawati, dkk (2001). Tata Bahasa Jawa Mutakhir. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. ISBN 9796851415. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
    • Yannuar, Nurenzia; Hoogervorst, Tom; Klamer, Marian (2022). "Examining Javanese Phonology through Word Reversal Practices". Oceanic Linguistics. 61 (1). University of Hawai'i Press. doi:10.1353/ol.2021.0029.

    Pranala luar

    • Kamus Dialek Suroboyo
    • Mengenal lebih dekat Bahasa Surabaya
    • Belajar Dialeg Suroboyoan Yuk Diarsipkan 2013-08-28 di Wayback Machine.
    • Perbandingan beberapa dialek bahasa Jawa
    • l
    • b
    • s
    Bahasa Jawa
    Penulisan
    • Buda
    • Carakan
    • Cacarakan
    • Kawi
    • Latin
    • Pegon
    • Rikasara
    Aksara Jawa
    Tingkatan
    Bahasa
    • Ngoko
      • lugu
      • alus
    • Krama
      • lugu
      • alus
    Kosakata
    • Ngoko
    • Krama-ngoko
    • Krama
      • krama madya
    • Krama inggil
      • krama andhap
    Dialek
    Bagian Barat
    • Banten
    • Indramayu
    • Cirebon
    Bagian Tengah
    • Banyumas
    • Kedu
    • Mataram (standar)
    • Mataraman
    Pesisiran
    • Tegal
    • Pekalongan
    • Semarang
    • Muria
    Bagian Timur
    • Jombang
    Arekan
    • Surabaya
    • Malang
    Bahasa terkait
    • Bagongan
    • Jawa Kuno
      • Kawi (kesusastraan)
    • Osing
    • Suriname
    • Tengger
    Topik terkait
    • Angka
    • Jawanisme
    • Sastra Jawa
    • Kongres
      • bahasa
      • aksara
    • Wikipedia
    • Blok Unicode

    Bagikan artikel ini

    Share:

    Daftar Isi

    1. Persebaran
    2. Fonologi
    3. Sistem penulisan
    4. Vokal
    5. Konsonan
    6. Pembentukan homograf
    7. Tata bahasa
    8. Pronomina persona
    9. Demonstrativa
    10. Imbuhan
    11. Penggunaan
    12. Kosakata
    13. Lihat pula
    14. Referensi
    15. Catatan
    16. Referensi

    Artikel Terkait

    Bahasa Sunda Ciamis

    variasi regional bahasa Sunda di wilayah Kabupaten Ciamis dan sekitarnya

    Bahasa Berau

    bagian dari rumpun bahasa Austronesia

    Daftar bahasa berdasarkan jumlah penutur

    artikel daftar Wikimedia

    Jakarta Aktual
    Jakarta Aktual© 2026