Bahasa Batak Mandailing adalah bahasa yang terdapat di Sumatera Utara bagian selatan, Sumatera Barat dan Riau bagian utara. Bahasa Batak Mandailing termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia dan merupakan bagian dari rumpun bahasa Batak.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bahasa Batak Mandailing[5] adalah bahasa yang terdapat di Sumatera Utara bagian selatan, Sumatera Barat dan Riau bagian utara. Bahasa Batak Mandailing termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia dan merupakan bagian dari rumpun bahasa Batak.
Bahasa Mandailing Julu dan Mandailing Godang dengan pengucapan yang lebih lembut lagi dari bahasa Batak Angkola, bahkan dari bahasa Batak Toba. Mayoritas penggunaannya di daerah Kabupaten Mandailing Natal, tetapi tidak termasuk bahasa Natal (bahasa Minang), walaupun pengguna bahasa Natal berkerabat (seketurunan) dengan orang-orang Kabupaten Mandailing Natal pada umumnya.
Sementara itu, bahasa Batak Mandailing Padang Lawas (Padang Bolak) dipakai di wilayah Kabupaten Padang Lawas Utara dan Padang Lawas. Di Pasaman, Pasaman Barat, Sumatera barat dan Rokan Hulu, Riau, bahasa Batak Mandailing mempunyai variasi tersendiri contohnya Di Ujung Gading, Orang Mandailing Menggunakan Bahasa Melayu {Perpaduan Mandailing dan Minang Misal : Kata "Umak" (Ibu) }, Di wilayah Asahan, Batu Bara, dan Labuhanbatu, orang-orang Mandailing umumnya memakai bahasa Melayu Pesisir Timur.
Seni sastra Mandailing ditularkan melalui tradisi yang khas, misalnya melalui medium berikut:[6]
1. Marturi Tradisi bercerita dalam konteks sosial Mandailing yang dilakukan secara verbal. Cerita ditularkan secara turun-temurun. Plot menggunakan alur maju dan banyak memuat ajaran tentang budi pekerti.
2. Ende Ungut-ungut Dibedakan atas temanya. Ende merupakan ungkapan hati, ekspresi kesedihan karena berbagai hal, misalnya kesengsaraan hidup karena kematian, ditinggalkan, dan lain-lain. Selain itu juga berisi pengetahuan, nasihat, ajaran moral, sistem kekerabatan, dan sebagainya. Ende ungut-ungut menggunakan pola pantun dengan persajakan ab-ab atau aa-aa. Sampiran biasanya banyak mengadopsi nama tumbuhan, karena adanya bahasa daun.
Contoh:
|
Bahasa Indonesia |
Beberapa tonggak sastra yang berkembang pada masa kolonial antara lain:
Selain sastra berbahasa Mandailing Angkola tersebut, penting dicatat tumbuhnya sastra Indonesia yang berbahasa Melayu tetapi dengan mengadopsi warna lokal. Misalnya novel “Azab dan Sengsara” (1921) yang ditulis Merari Siregar. Novel ini mengangkat kontekstual adat dan budaya semacam kawin paksa, harta warisan, hubungan kekerabatan, dan tradisi lokal Mandailing-Angkola.[6]
Sastra Mandailing kontemporer tidak lagi berkembang sejak pra-kemerdekaan, dikarenakan berubahnya kurikulum pendidikan yang memakai bahasa Nasional dengan sendirinya mengikis pemakaian bahasa Mandailing.[6]
Sastra dalam lirik lagu dan drama musikal berbahasa Mandailing antara lain:
Berdasarkan klasifikasi bahasa yang ditawarkan Slamet Mulyana, bahasa Mandailing termasuk rumpun bahasa Austronesia. Pangaduan Lubis ada mengemukakan bahwa di dalam bahasa Mandailing terdapat lima ragam bahasa yang masing-masing kosakatanya berbeda satu sama lain yaitu:[7]
Contoh kosakata:
| Bahasa Indonesia | Hata somal | Hata andung | Hata teas | Hata si baso | Hata parkapur |
|---|---|---|---|---|---|
| Mata | Mata | Simanyolong | Loncot | - | |
| Daun sirih | Burangir | Simanggurak | - | Situngguk | |
| Harimau | Babiat | - | - | - | Ompungi/Namaradati |
Di masa lalu orang Mandailing juga memiliki satu alat komunikasi atau jenis bahasa tertentu yang disebut Hata bulung-bulung (bahasa dedaunan) semacam daun lontar. Bahasa ini bukanlah berupa lambang bunyi melainkan menggunakan daun tumbuhan sebagai perlambangnya.[7][9]
| Bahasa Indonesia | Bahasa Mandailing |
|---|---|
| Apa | Aha |
| Bagaimana | Songondia/Biadoma |
| Berapa | Sadia |
| Di mana | Idia |
| Kemana | Tudia |
| Dari mana | Tingondia/Ngundia |
| Mana | Idia |
| Siapa | Ise |
| Mengapa | Asi |
| Kapan | Andigan |
| Kenapa | Maoa/Mangoa |
| Bahasa Indonesia | Bahasa Mandailing |
|---|---|
| Ini | On/Onbo |
| Itu | Adun/Adunbo |
| Sini | Tuson |
| Situ | Tusi |
| Sana | Sodun |
| Saya | Au |
| Kamu | Homa |
| Dia | Ia |
| Mereka | Alai |
| Bahasa Indonesia | Bahasa Mandailing |
|---|---|
| Kakek | Ompung godang |
| Nenek | Ompung Menek |
| Ayah | Amang |
| Ibu | Inang |
| Anak laki-laki | Anak |
| Anak Perempuan | Boru |
| Kakak | Angkang |
| Adik | Anggi |
| Paman (pihak ayah) | Uda' |
| Istri Paman (pihak ayah) | Nanguda'/Inanguda' |
| Paman (pihak Ibu) | Tulang/mamak |
| istri Paman (pihak Ibu) | Nantulang/Inangtulang |
| Bibi | Bouk (pihak ayah) Ujing/Etek (pihak ibu) |
| Sepupu (laki-laki) | Kahanggi |
| Sepupu (perempuan) | iboto/ito |
| Istri/Suami Saudara | Ipar |
| Suami dari Adik/Kakak Istri | Pariban |
| Anak Saudara (laki-laki) | Anak |
| Anak Saudara (perempuan) | Bere |
| Cucu | Pahoppu |