Tari Soya-soya adalah salah satu tarian tradisi masyarakat Maluku Utara yang dipercaya telah ada sejak masa Kesultanan Ternate dipimpin oleh Sultan Babullah. Tarian ini termasuk dalam kategori tarian perang yang pada awal terciptanya ditarikan oleh 18 orang laki-laki atau lebih. Gerakan tari ini sangat lincah dan dinamis, beberapa gerakannya seperti kuda-kuda menyerang, menghindar dan menangkis. Pada tahun 2013, Tarian ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional dengan nomor registrasi 201300066, pada domain seni pertunjukan dari Provinsi Maluku Utara.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Tari Soya-soya adalah salah satu tarian tradisi masyarakat Maluku Utara yang dipercaya telah ada sejak masa Kesultanan Ternate dipimpin oleh Sultan Babullah . Tarian ini termasuk dalam kategori tarian perang yang pada awal terciptanya ditarikan oleh 18 orang laki-laki atau lebih. Gerakan tari ini sangat lincah dan dinamis, beberapa gerakannya seperti kuda-kuda menyerang, menghindar dan menangkis. Pada tahun 2013, Tarian ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional dengan nomor registrasi 201300066, pada domain seni pertunjukan dari Provinsi Maluku Utara.[1]
Kata Soya-Soya pada penamaan tari ini berasal dari bahasa Kayoa. Kata soya di beberapa daerah berarti “bilang” atau “katakan”, tetapi dalam konteks tarian ini soya-soya berarti “menggoreng tanpa minyak”. Penamaan ini merujuk pada perumpamaan semangat prajurit perang untuk menghadapi musuh, dengan prinsip bahwa lawan harus ditumpas hingga hancur, diibaratkan seperti digoreng tanpa minyak. Makna tersebut muncul sebagai bentuk ekspresi balas dendam terhadap penjajahan Portugis. Selain itu, Soya-Soya juga dimaknai sebagai “gerakan yang mengandung maksud”, di mana setiap gerakan memiliki arti khusus sesuai dengan sifat tarian.[2]
Pada awalnya, Tari Soya-Soya hanya dibawakan oleh penari laki-laki. Tari ini ditarikan secara berkelompok dengan 13 orang penari yang terdiri atas 12 penari dan seorang pemimpin atau komandan. Formasi ini melambangkan pasukan yang dipimpin oleh panglima. Dalam perkembangannya, jumlah penari dapat disesuaikan dengan kondisi pementasan.[2]
Penari Soya-Soya mengenakan busana atasan berupa kemeja putih berlengan panjang bersama celana putih setumit yang menyimbolkan kesucian. Penari juga mengenakan rok bersusun tiga selutut dengan perpaduan warna: bagian atas hijau melambangkan dasar keyakinan agama dan pengabdian kepada Tuhan, bagian tengah kuning memberikan kesan kebahagiaan, dan bagian bawah biru melambangkan ketenteraman hidup.[2]
Selain itu, digunakan selempang merah yang dipasang menyilang dari depan ke belakang yang menjadi simbol keberanian dalam menegakkan kebenaran. Ikat pinggang hitam digunakan sebagai simbol kebijaksanaan. Sebagai pelengkap, penari juga menggunakan penutup kepala berupa dairaji, tuala lipat, atau kopiah.[2]
Penari Soya-Soya turut membawa properti berupa salawak dan ngana-ngana. Salawak dipegang dengan tangan kiri dan berfungsi sebagai perisai. Sementara itu, ngana-ngana adalah pengganti pedang yang berbunyi ketika digerakkan. Ngana-ngana terbuat dari daun woka, sejenis daun pandan khas Maluku Utara, yang digulung dalam bambu berisi kerikil atau kacang hijau.[2]
Pementasan Tari Soya-Soya diiringi dengan permainan alat musik tradisional berupa gong dan tifa kecil. Gong berfungsi sebagai alat ritme tambahan. Sementara tifa kecil sebagai penentu ritme sekaligus memperkuat suasana iringan tari.[2]
Tarian ini ditampilkan dengan durasi waktu 10-15 menit.[2]
Tari Soya-soya juga menjadi salah satu tarian yang ditampilkan pada Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-71 di Istana Negara. Pada kesempatan itu, ditarikan tari "Sadadu On The Sea" yang mengkombinasikan empat tarian dari Maluku (Tari Soya-soya, Tari Cakalele, Tari Sara Dabi-Dabi, dan Tari Legu Salai). Para penarinya terdiri dari 100 pemuda-pemudi terpilih dari Kabupaten Halmahera Barat.[3]

Salah satu pemuda yang aktif dalam melestarikan tari Soya-Soya adalah Darryl Simeon Sanggelorang. Usianya masih 16 tahun, tetapi ia telah melatih teman-temannya menarikan tari-tari tradisional Maluku Utara. Pengalaman pentasnya juga sudah melanglang buana. Ia menjadi salah satu penari "Sasadu on The Sea" dalam Acara Festival Teluk Jailolo dari 2016 hingga 2018; Peserta Pentas Budaya HUT ke-246 Kota Gianyar, Bali pada 2017; berpartisipasi pada "Sadadu On The Sea" pada perayaan HUT Republik Indonesia ke-71 di Istana Negara. Atas kiprahnya, ia mendapatkan penghargaan Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi Kategori Anak dan Remaja pada 2018 dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.[4]