Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Tari Soya-Soya

Tari Soya-soya adalah salah satu tarian tradisi masyarakat Maluku Utara yang dipercaya telah ada sejak masa Kesultanan Ternate dipimpin oleh Sultan Babullah. Tarian ini termasuk dalam kategori tarian perang yang pada awal terciptanya ditarikan oleh 18 orang laki-laki atau lebih. Gerakan tari ini sangat lincah dan dinamis, beberapa gerakannya seperti kuda-kuda menyerang, menghindar dan menangkis. Pada tahun 2013, Tarian ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional dengan nomor registrasi 201300066, pada domain seni pertunjukan dari Provinsi Maluku Utara.

Tarian dari Maluku Utara, Indonesia
Diperbarui 31 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Tari Soya-soya adalah salah satu tarian tradisi masyarakat Maluku Utara yang dipercaya telah ada sejak masa Kesultanan Ternate dipimpin oleh Sultan Babullah . Tarian ini termasuk dalam kategori tarian perang yang pada awal terciptanya ditarikan oleh 18 orang laki-laki atau lebih. Gerakan tari ini sangat lincah dan dinamis, beberapa gerakannya seperti kuda-kuda menyerang, menghindar dan menangkis. Pada tahun 2013, Tarian ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional dengan nomor registrasi 201300066, pada domain seni pertunjukan dari Provinsi Maluku Utara.[1]

Kata Soya-Soya pada penamaan tari ini berasal dari bahasa Kayoa. Kata soya di beberapa daerah berarti “bilang” atau “katakan”, tetapi dalam konteks tarian ini soya-soya berarti “menggoreng tanpa minyak”. Penamaan ini merujuk pada perumpamaan semangat prajurit perang untuk menghadapi musuh, dengan prinsip bahwa lawan harus ditumpas hingga hancur, diibaratkan seperti digoreng tanpa minyak. Makna tersebut muncul sebagai bentuk ekspresi balas dendam terhadap penjajahan Portugis. Selain itu, Soya-Soya juga dimaknai sebagai “gerakan yang mengandung maksud”, di mana setiap gerakan memiliki arti khusus sesuai dengan sifat tarian.[2]

Komponen tari

Penari

Pada awalnya, Tari Soya-Soya hanya dibawakan oleh penari laki-laki. Tari ini ditarikan secara berkelompok dengan 13 orang penari yang terdiri atas 12 penari dan seorang pemimpin atau komandan. Formasi ini melambangkan pasukan yang dipimpin oleh panglima. Dalam perkembangannya, jumlah penari dapat disesuaikan dengan kondisi pementasan.[2]

Busana

Penari Soya-Soya mengenakan busana atasan berupa kemeja putih berlengan panjang bersama celana putih setumit yang menyimbolkan kesucian. Penari juga mengenakan rok bersusun tiga selutut dengan perpaduan warna: bagian atas hijau melambangkan dasar keyakinan agama dan pengabdian kepada Tuhan, bagian tengah kuning memberikan kesan kebahagiaan, dan bagian bawah biru melambangkan ketenteraman hidup.[2]

Selain itu, digunakan selempang merah yang dipasang menyilang dari depan ke belakang yang menjadi simbol keberanian dalam menegakkan kebenaran. Ikat pinggang hitam digunakan sebagai simbol kebijaksanaan. Sebagai pelengkap, penari juga menggunakan penutup kepala berupa dairaji, tuala lipat, atau kopiah.[2]

Properti

Penari Soya-Soya turut membawa properti berupa salawak dan ngana-ngana. Salawak dipegang dengan tangan kiri dan berfungsi sebagai perisai. Sementara itu, ngana-ngana adalah pengganti pedang yang berbunyi ketika digerakkan. Ngana-ngana terbuat dari daun woka, sejenis daun pandan khas Maluku Utara, yang digulung dalam bambu berisi kerikil atau kacang hijau.[2]

Iringan musik

Pementasan Tari Soya-Soya diiringi dengan permainan alat musik tradisional berupa gong dan tifa kecil. Gong berfungsi sebagai alat ritme tambahan. Sementara tifa kecil sebagai penentu ritme sekaligus memperkuat suasana iringan tari.[2]

Waktu

Tarian ini ditampilkan dengan durasi waktu 10-15 menit.[2]

Apresiasi publik

Tari Soya-soya juga menjadi salah satu tarian yang ditampilkan pada Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-71 di Istana Negara. Pada kesempatan itu, ditarikan tari "Sadadu On The Sea" yang mengkombinasikan empat tarian dari Maluku (Tari Soya-soya, Tari Cakalele, Tari Sara Dabi-Dabi, dan Tari Legu Salai). Para penarinya terdiri dari 100 pemuda-pemudi terpilih dari Kabupaten Halmahera Barat.[3]

Darryl Sanggelorang menarikan tari Soya-soya.

Salah satu pemuda yang aktif dalam melestarikan tari Soya-Soya adalah Darryl Simeon Sanggelorang. Usianya masih 16 tahun, tetapi ia telah melatih teman-temannya menarikan tari-tari tradisional Maluku Utara. Pengalaman pentasnya juga sudah melanglang buana. Ia menjadi salah satu penari "Sasadu on The Sea" dalam Acara Festival Teluk Jailolo dari 2016 hingga 2018; Peserta Pentas Budaya HUT ke-246 Kota Gianyar, Bali pada 2017; berpartisipasi pada "Sadadu On The Sea" pada perayaan HUT Republik Indonesia ke-71 di Istana Negara. Atas kiprahnya, ia mendapatkan penghargaan Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi Kategori Anak dan Remaja pada 2018 dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.[4]

Referensi

  1. ↑ "Tari Soya-Soya". warisanbudaya.kemdikbud.go.id. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2018. Diakses tanggal 19 Februari 2019.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 Diskripsi tari soya-soya (PDF). Ambon: Proyek Pembinaan Kesenian Maluku, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1992. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ ""Sambut HUT RI Ke-73, Tarian SOS Asal Halbar Tampil Di Istana". Suaramu. 16 Agustus 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-02-19. Diakses tanggal 19 Februari 2019.
  4. ↑ Rukmana, dkk, Aan (2018). Profil Penerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2018. DKI Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. hlm. 175–178.
  • l
  • b
  • s
Tarian Indonesia
Sumatra
Aceh
  • Laweut
  • Likok Pulo
  • Pho
  • Rabbani Wahed
  • Ranup lam Puan
  • Geleng
  • Rateb Meuseukat
  • Ratoh Duek
  • Rencong
  • Seudati
  • Tarek Pukat
Alas-Kluet
  • Landok Sampot
  • Landok Alun
  • Mesekat
  • Tari Pelabat
Batak
  • Karo
    • Gundala-Gundala
    • Guro-Guro Aron
    • Ndikkar
    • Piso Surit
  • Mandailing
    • Endeng-endeng
    • Sarama Datu
  • Toba
    • Tortor
Gayo
  • Bines
  • Didong
  • Guel
  • Munalu
  • Resam Berume
  • Saman
  • Sining
  • Turun Ku Aih Aunen
Kerinci
  • Aseik
  • Iyo-Iyo
  • Ngagah Harimau
  • Rentak Kudo
  • Tauh
Lampung
  • Batin
  • Bedana
  • Cangget
Melayu
  • Persembahan
  • Zapin
  • Jambi
    • Mengaup
    • Sekapur Sirih
    • Selampit Delapan
  • Kepulauan Riau
    • Inai
Mentawai
  • Turuk
    • Laggai
    • Pokpok
    • Uliat Bilou
    • Uliat Manyang
Minangkabau
  • Indang
  • Pasambahan
  • Payung
  • Piring
Nias
  • Bölihae
  • Fahimba
  • Famanu-manu
  • Fanari Moyo
  • Fatele
  • Hiwö
  • Maena
  • Maluaya
  • Manaho
  • Mogaele
Palembang
  • Gending Sriwijaya
  • Tanggai
  • Erai-Erai
  • Setudung Sedulang
  • Sambut Silampari
  • Kebagh
  • Tepak Keraton
Rejang, Kaur,
Mukomuko,
dan Serawai
  • Andun
  • Bidadari Teminang Anak
  • Bubu
  • Ganau
  • Gandai
  • Kejei
  • Lanan Belek
  • Napa
  • Penyambutan
  • Putri Gading Cempaka
  • Pukek
  • Tabot
  • Tombak Kerbau
Singkil
  • Dampeng
Tamiang
  • Ula-ula Lembing
Jawa
Bantenan
  • Bendrong Lesung
  • Rudat Banten
Betawi
  • Cokek
  • Nandak Ganjen
  • Ondel-ondel
  • Topeng tunggal
  • Yapong
Cirebon-Indramayu
  • Sintren
  • Topeng Cirebon
  • Topeng Klana Udeng
Jawa
  • Kuda lumping
  • Wayang orang
  • Jawa Tengahan
    • Bambangan Cakil
    • Bedaya
      • Ketawang
    • Bondan
    • Dolalak
    • Ebeg
    • Emprak
    • Gambang Semarang
    • Gambyong
    • Golek Lambangsari
    • Kridhajati
    • Srimpi
    • Topeng Lengger
    • Tayub
  • Yogyakarta
    • Aji Saka
    • Angguk
    • Badui
    • Bedaya
      • Angron Sekar
      • Bontit
      • Kuwung-Kuwung
      • Sapta
      • Tejanata Paku Alam
    • Beksan
      • Etheng
      • Golek Menak
      • Guntur Segara
      • Jebeng
      • Kuda Gadhingan
      • Trunajaya
    • Dadung Awuk
    • Golek Ayun-Ayun
    • Khuntulan
    • Montro
    • Peksi Moi
    • Srimpi
      • Pandhelori
      • Ranggajanur
  • Jawa Timuran
    • Gandrung Banyuwangi
    • Jaran kencak
    • Jaranan Dor
    • Jathil
    • Kethek ogleng
    • Klana Topeng
      • Cirebon
      • Madura
      • Malang
      • Surakarta
      • Yogyakarta
    • Reog
    • Remo
Madura
  • Blandaran
  • Muang Sangkal
Sunda
  • Buyung
  • Jaipongan
  • Ketuk Tilu
  • Merak
  • Ronggeng Gunung
Kalimantan
Banjar
  • Baksa Kembang
  • Banjar
  • Jepen
  • Radap Rahayu
Bulungan
  • Jugit Demaring
Dayak
  • Bahin
  • Burung enggang
  • Gantar
  • Gong
  • Hudoq
  • Giring-Giring
  • Kayau
  • Kanjar
  • Magunatip
  • Manasai
  • Muji bakul
  • Pedang
  • Silo Laut Danum
Melayu Kalimantan
  • Japin Sigam
Kutai Kartanegara
  • Ganjur
Paser
  • Ratu Balu
Tidung
  • Ambi
  • Bangun
  • Jepin Kinsat Suara Siam
  • Liaban
Nusa Tenggara
Alor
  • Lego-Lego
Bali
  • Baris
  • Barong Bali
  • Cendrawasih
  • Condong
  • Janger
  • Joged Bumbung
  • Kebyar duduk
  • Kecak
  • Legong
  • Pendet
  • Rejang
  • Topeng Pajegan
  • Sanghyang
Bima dan Sumbawa
  • Bajang Girang
  • Lenggo
  • Nganga
  • Nguri
  • Wura Bungi Monca
Flores
  • Caci
  • Gawe Au
  • Ja'i
  • Pado'a
Sasak
  • Oncer
  • Pakon
  • Peresean
  • Sireh
  • Tandang Mendet
Sumba
  • Kabokang
  • Kandingang
  • Ningguharama
  • Kataga
  • Woleka
Timor
  • Cerana
  • Likurai
Sulawesi
Bugis, Makassar,
Bone, dan Luwu
  • Alusu
  • Kipas Pakarena
  • Pakarena
  • Salonreng
Buton, Muna, dan Wakatobi
  • Ando-Ando
  • Balumpa
  • Basalonde
  • Lariangi
  • Linda
  • Lumense
  • Malulo
  • Mondotambe
Gorontalo
  • Dana–dana
  • Elengge
  • Langga
  • Mopohuloo/Modepito
  • Sabe
  • Saronde
  • Tanam Padi
  • Tidi Lo Malu
  • Tulude
Mandar
  • Pallake
  • Tuqduq
Minahasa
  • Cakalele
  • Katrili
  • Lenso
  • Maengket
Bolaang dan Mongondow
  • Dangisa
  • Kabela
  • Tuitan
Padoe
  • Moriringgo
Bare'e, Pamona, dan Kaili
  • Dero
  • Modero
  • Moraego
  • Pamonte
  • Torompio
Sangihe, Talaud,
dan Siau Tagulandong
Biaro
  • Alabadiri
  • Gunde
  • Mesalai
  • Ransansahabe
  • Tari Salo
  • Upase
Toraja
  • Pa'gellu
Kepulauan Maluku dan Papua
Arfak
  • Tumbu Tanah
Asmat
  • Det Pok Mbui
Biak
  • Fayaryer Rak Wadwa Biak
  • Yosim Pancar
Dani
  • Selamat Datang
Fakfak
  • Aniri
Isirawa
  • Karamo
Mimika (Kamoro)
  • Salawaku
Kep. Maluku Tengah dan Selatan
  • Dansa Tali
  • Ehe lawn
  • Horlapep
  • Katreji
  • Lenso
  • Maku-Maku
  • Poco-poco
  • Saureka Reka
  • Sahu Reka-Reka
Kep. Maluku Utara
  • Bon Mayo
  • Dengedenge
  • Gala
  • Gumatere
  • Kene-Kene
  • Lala
  • Legu Sahu
  • Salai Jin
  • Sara Dabi-Dabi
  • Sara Re Selo
  • Soya-Soya
  • Tide-tide
  • Togal
Moi
  • Aluyen
  • Sajojo
  • Wutukala
Sentani
  • Awaijale Rilejale
Serui dan Waropen
  • Afaitaneng
  • Pulale
  • Soanggi
Lain-lain
India-Indonesia
  • Dangdut
  • Sendratari Ramayana
Arab-Indonesia
  • Tarian Sufi
  • Zapin Arab
Tionghoa-Indonesia
  • Barongsai
  • Liong
Eropa-Indonesia
  • Katreji
  • Katrili
Kategori

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Komponen tari
  2. Penari
  3. Busana
  4. Properti
  5. Iringan musik
  6. Waktu
  7. Apresiasi publik
  8. Referensi

Artikel Terkait

Maluku

provinsi di Kepulauan Maluku, Indonesia

Tari Togal

salah satu tarian di Indonesia

Tari Lenso

salah satu tarian di Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026