Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Bedaya

Bedaya merupakan tarian klasik Jawa yang berkembang di lingkungan keraton sebagai bagian dari tradisi budaya kerajaan takhta Mataram. Tarian ini dibawakan dengan gerakan yang halus, tenang, dan cenderung bersifat kontemplatif, biasanya diiringi alunan gamelan yang sederhana dalam sebagian besar pertunjukannya. Penarinya umumnya perempuan, meskipun ada pula versi bedhaya kakung yang diperankan oleh laki-laki. Koreografi bedaya sering kali terinspirasi dari gagasan atau pengalaman raja yang kemudian diwujudkan dalam bentuk tari simbolis. Tarian ini lazim dipentaskan dalam upacara resmi keraton, seperti peringatan kenaikan takhta raja. Jumlah penari berbeda-beda tergantung asalnya, yaitu sembilan orang untuk tradisi dari Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, sedangkan dari Mangkunegaran dan Pakualaman biasanya terdiri dari tujuh penari.

salah satu tarian di Indonesia
Diperbarui 1 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bedaya
Bedaya
Latihan tari bedaya di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
InstrumenGamelan
AsalJawa

Bedaya (bahasa Jawa: ꦧꦼꦣꦪcode: jv is deprecated , translit. Bedhaya) merupakan tarian klasik Jawa yang berkembang di lingkungan keraton sebagai bagian dari tradisi budaya kerajaan takhta Mataram. Tarian ini dibawakan dengan gerakan yang halus, tenang, dan cenderung bersifat kontemplatif, biasanya diiringi alunan gamelan yang sederhana dalam sebagian besar pertunjukannya. Penarinya umumnya perempuan, meskipun ada pula versi bedhaya kakung yang diperankan oleh laki-laki. Koreografi bedaya sering kali terinspirasi dari gagasan atau pengalaman raja yang kemudian diwujudkan dalam bentuk tari simbolis. Tarian ini lazim dipentaskan dalam upacara resmi keraton, seperti peringatan kenaikan takhta raja (tingalan jumenengan dalem).[1] Jumlah penari berbeda-beda tergantung asalnya, yaitu sembilan orang untuk tradisi dari Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, sedangkan dari Mangkunegaran dan Pakualaman biasanya terdiri dari tujuh penari.[2][3][4]

Definisi

Tari Bedhaya berasal dari kata ambudhaya, yang menurut Wedha Pradangga berarti “jajar-jajar sami beksa sarta tinabuhan ing gangsa Lokananta (gending kemanak) binarung ing kidung sekar kawi utawa sekar ageng.” Dalam pengertian praktis, Bedhaya adalah tarian yang dilakukan dalam posisi berbaris, diiringi gamelan Lokananta serta nyanyian Sekar Kawi atau Sekar Ageng.[5] Tari ini bukan ditujukan untuk tontonan umum, melainkan merupakan bagian dari upacara atau atribut kerajaan Jawa, khususnya di Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.[6]

Di keraton, Bedhaya ditarikan oleh sembilan penari lajang dengan gerakan, tata rias, dan kostum yang seragam. Tarian ini menyampaikan suatu cerita, umumnya bertema perang atau percintaan, dengan cara yang abstrak. Untuk memahami alur cerita, seseorang perlu mengenal cakepan sindhenan, pola lantai (gawang), serta simbol-simbol dalam koreografi dan kostum. Ekspresi wajah penari Bedhaya bersifat tetap dan statis nyaris seperti topeng, berbeda dengan dramatari yang menampilkan ekspresi wajah untuk mendukung karakter tokoh.[7]

Simbol

Bedhaya memiliki nilai ritual dan dikaitkan dengan tradisi keraton. Di Surakarta, salah satu bentuk yang dikenal adalah Bedhaya Ketawang, sedangkan di Yogyakarta dikenal sebagai Bedhaya Semang. Pementasan tari ini melibatkan penari yang masih lajang, berada dalam kondisi tertentu, serta menjalani rangkaian persiapan sebelum tampil. Praktik ini berkaitan dengan aspek spiritual dalam pelaksanaannya, yang dalam beberapa kajian dihubungkan dengan tradisi semedi, sebagaimana tercatat dalam kebiasaan Sultan Agung Hanyakrakusuma yang melakukan semedi dalam konteks pencarian petunjuk.[6]

Jumlah sembilan penari dalam Bedhaya memiliki makna simbolik yang beragam. C.A. Van Peursen mengaitkannya dengan sembilan syakti Dewa Siwa, sesuai pemikiran Hindu yang menjadi dasar kepercayaan para ningrat Jawa.[8] Prabawa menafsirkan angka sembilan sebagai simbol mikrokosmos manusia, ditandai oleh organ tubuh yaitu jantung, kepala, dua lengan, dua tungkai, leher, dada, dan kelamin, sehingga setiap penari memiliki peran simbolis sendiri.[9] Dalam Bedhaya Yogyakarta, penari diberi nama endhel, bathak, jangga, apit ngajeng, apit wingking, dhadha, endhel wedalan ngajeng, endhel wedalan wingking, dan buntil, sementara di Surakarta nama-nama sedikit berbeda, yaitu bathak, endhel, endhel ajeg, endhel weton, apit ngarep, apit mburi, gulu, dada, dan buncit.[6]

Interpretasi lain menyebut sembilan sebagai jumlah lubang tubuh manusia yang harus “ditutup” melalui tari agar terhindar dari godaan nafsu jahat dan memperoleh petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa.[10] Setyoasih melihat angka sembilan sebagai pancaran rasa, yang meliputi cinta, tawa, kesedihan, kemarahan, semangat, ketakutan, kemuakan, keheranan, dan ketenteraman hati.[11] Sejarah Bedhaya Ketawang dimulai pada masa Sultan Agung, yang menciptakan Gendhing Ketawang setelah mendapatkan inspirasi dari semedinya. Sultan kemudian memilih delapan putri dari pejabat istana untuk menari, dan menambahkan satu penari lagi sebagai bathak, sehingga jumlah penari menjadi sembilan. Simbol sembilan ini juga dikaitkan dengan jumlah wali pada masa kekuasaan Mataram Islam. Hingga kini, Bedhaya tetap menjadi milik keraton dan ditarikan oleh abdi keraton, mempertahankan makna ritual dan simbolik yang telah berlangsung sejak abad ke-17.[6]

Beberapa bedaya

Bedaya tergolong sebagai tarian klasik keraton yang biasanya diajarkan dalam pendidikan tari dan dibawakan oleh penari yang sudah berpengalaman. Dalam beberapa jenis bedaya, terdapat ketentuan khusus bagi penarinya, seperti harus masih perawan, tidak sedang mengalami menstruasi, serta menjalani ritual tertentu seperti puasa sebagai bagian dari persiapan sebelum pementasan.[12]

Bedaya Ketawang
Artikel utama: Tari Bedaya Ketawang

Tarian ini adalah pusaka Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan ditarikan oleh sembilan penari putri setiap perayaan jumenengan dalem (wisuda/pelantikan) Sri Susuhunan di Surakarta. Konon tarian ini diciptakan oleh Ingkang Sinuhun Sultan Agung Prabhu Hanyakrakusuma. Durasi awal tarian ini adalah dua setengah jam kemudian dipadatkan menjadi sekitar satu setengah jam. Tari Bedhaya Ketawang mengisahkan perjumpaan antaraPanembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul yang kemudian menghasilkan sebuah ikatan janji di antara keduanya untuk saling melindungi dan menjaga keberlangsungan masing-masing kerajaan.[13][14]

Bedaya Anglirmendhung

Tarian ini adalah pusaka Kadipaten Praja Mangkunegaran. Pencipta resminya adalah Mangkunegara I (Raden Mas Said) untuk mengenang pertempuran yang dipimpinnya melawan pasukan gabungan Surakarta dan VOC di Ponorogo tahun 1752.[15][16]

Bedaya Semang

Artikel utama: Bedaya Semang

Tari bedaya ini adalah tarian pusaka di Karaton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Tari ini dibawakan oleh sembilan orang penari perempuan. Tari ini mengisahkan pertemuan Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul. Diperkirakan penciptaan tari ini terjadi masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana I. Tari bedaya Semang digelar untuk kepentingan ritual istana, seperti peristiwa jumenengan.[17][18]

Bedaya Arjuna Wiwaha

Tari Bedhaya Arjuna Wiwaha (atau Bedhaya Herjuna Wijaya/Wiwaha) adalah pusaka Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pencipta resminya adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X yang bernama kecil GRM Herjuno (Arjuna).[19]

Referensi

  1. ↑ "Tari Bedhaya". budaya.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2025-06-17.
  2. ↑ Nursanty, Eko (2020-12-01). KAWASAN WARISAN KOTA SURAKARTA Studi tentang Otentisitas Kota. Cv Cendekia Press. hlm. 123. ISBN 978-623-6659-79-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ ACHMAD, SRI WINTALA (2018-11-30). Etika Jawa : Pedoman Luhur dan Prinsip Hidup Orang Jawa. Araska Publisher. hlm. 178. ISBN 978-602-300-470-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Dewa Ruci: jurnal pengkajian & penciptaan seni. Program Pendidikan Pascasarjana, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta. 2011. hlm. 99. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ Prajapangrawit, 1990: 5, dalam Prabawa, W. S. (1990). Bedhaya Anglirmendhung Monumen Perjuangan Mangkunegara 11757-1988. hlm 114. Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
  6. 1 2 3 4 Wahyudiyanto. (2016). Tari gaya Surakarta: Perspektif repertoar tari Klana, tari Gunungsari, dan tari Golek Manis (Edisi pertama). Revka Petra Media.
  7. ↑ Supanggah, R. (2007). Bothekan Karawitan II: Garap. hlm. 124–125. ISI Press
  8. ↑ C.A Van peursen. Strategi Kebudayaan. hlm.18. Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1976.
  9. ↑ Prabawa, W. S. (1990). Bedhaya Anglirmendhung Monumen Perjuangan Mangkunegara 11757-1988. hlm 119. Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
  10. ↑ GPH. Brontodiningrat 1982, Prodjopangrawit, 1990:57 dalam Rusini, 1999. Tari Bedhaya Suryosumirat, kreasi Pura Mangkunegaran di akhir abad XX. hlm. 122. Laporan Penelitian STSI Surakarta
  11. ↑ Setyoasih, Sri, 2000. Bedhaya Sukoharjo Kasunanan Surakarta, Tinjauan Struktur Koreografi. hlm 32. Laporan Penelitian STSI Surakarta.
  12. ↑ Liputan6.com (2023-06-07). "Tari Bedhaya Ketawang, Tarian Kebesaran Surakarta yang Sakral". liputan6.com. Diakses tanggal 2026-03-20. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  13. ↑ developer, mediaindonesia com. "Menyambung Rasa dalam Bedaya". mediaindonesia.com. Diakses tanggal 2026-03-20.
  14. ↑ Kompasiana.com (2025-01-02). "Bedhaya Ketawang tarian khas Keraton Surakarta sebagai Bedhaya paling Sakral dan Istimewa". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2026-03-20.
  15. ↑ "Tari Bedhaya Anglir Mendung, Tarian Sejarah Perjuangan Mangkunegara I". Tempo. 2 Maret 2023 | 05.41 WIB. Diakses tanggal 2026-03-20.
  16. ↑ Media, Kompas Cyber (2022-03-02). "Mengenal Tari Bedhaya Anglir Mendung, Tarian Sakral dari Puro Mangkunegaran dalam Prosesi Jumeneng KGPAA Mangkunegara". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2026-03-20.
  17. ↑ Redaksi, Tim (2022-04-16). "Mitos Nyai Lara Kidul: Sumber Ide Tari Bedhaya Semang dan Ruwatan". Nusantara Institute. Diakses tanggal 2026-01-26.
  18. ↑ Hostetler, Jan (1982). "Bedhaya Semang: The Sacred Dance of Yogyakarta". Archipel. 24 (1): 127–142. doi:10.3406/arch.1982.1774.
  19. ↑ Admadipurwa, Purwadmadi (2018). Yogya: ragam ekspresi budaya : kumpulan esai. Dinas Kebudayaan, Daerah Istimewa Yogyakarta. ISBN 978-602-53183-6-8.

Pranala luar

Media terkait Tari Bedhaya di Wikimedia Commons

  • l
  • b
  • s
Tarian Indonesia
Sumatra
Aceh
  • Laweut
  • Likok Pulo
  • Pho
  • Rabbani Wahed
  • Ranup lam Puan
  • Geleng
  • Rateb Meuseukat
  • Ratoh Duek
  • Rencong
  • Seudati
  • Tarek Pukat
Alas-Kluet
  • Landok Sampot
  • Landok Alun
  • Mesekat
  • Tari Pelabat
Batak
  • Karo
    • Gundala-Gundala
    • Guro-Guro Aron
    • Ndikkar
    • Piso Surit
  • Mandailing
    • Endeng-endeng
    • Sarama Datu
  • Toba
    • Tortor
Gayo
  • Bines
  • Didong
  • Guel
  • Munalu
  • Resam Berume
  • Saman
  • Sining
  • Turun Ku Aih Aunen
Kerinci
  • Aseik
  • Iyo-Iyo
  • Ngagah Harimau
  • Rentak Kudo
  • Tauh
Lampung
  • Batin
  • Bedana
  • Cangget
Melayu
  • Persembahan
  • Zapin
  • Jambi
    • Mengaup
    • Sekapur Sirih
    • Selampit Delapan
  • Kepulauan Riau
    • Inai
Mentawai
  • Turuk
    • Laggai
    • Pokpok
    • Uliat Bilou
    • Uliat Manyang
Minangkabau
  • Indang
  • Pasambahan
  • Payung
  • Piring
Nias
  • Bölihae
  • Fahimba
  • Famanu-manu
  • Fanari Moyo
  • Fatele
  • Hiwö
  • Maena
  • Maluaya
  • Manaho
  • Mogaele
Palembang
  • Gending Sriwijaya
  • Tanggai
  • Erai-Erai
  • Setudung Sedulang
  • Sambut Silampari
  • Kebagh
  • Tepak Keraton
Rejang, Kaur,
Mukomuko,
dan Serawai
  • Andun
  • Bidadari Teminang Anak
  • Bubu
  • Ganau
  • Gandai
  • Kejei
  • Lanan Belek
  • Napa
  • Penyambutan
  • Putri Gading Cempaka
  • Pukek
  • Tabot
  • Tombak Kerbau
Singkil
  • Dampeng
Tamiang
  • Ula-ula Lembing
Jawa
Bantenan
  • Bendrong Lesung
  • Rudat Banten
Betawi
  • Cokek
  • Nandak Ganjen
  • Ondel-ondel
  • Topeng tunggal
  • Yapong
Cirebon-Indramayu
  • Sintren
  • Topeng Cirebon
  • Topeng Klana Udeng
Jawa
  • Kuda lumping
  • Wayang orang
  • Jawa Tengahan
    • Bambangan Cakil
    • Bedaya
      • Ketawang
    • Bondan
    • Dolalak
    • Ebeg
    • Emprak
    • Gambang Semarang
    • Gambyong
    • Golek Lambangsari
    • Kridhajati
    • Srimpi
    • Topeng Lengger
    • Tayub
  • Yogyakarta
    • Aji Saka
    • Angguk
    • Badui
    • Bedaya
      • Angron Sekar
      • Bontit
      • Kuwung-Kuwung
      • Sapta
      • Tejanata Paku Alam
    • Beksan
      • Etheng
      • Golek Menak
      • Guntur Segara
      • Jebeng
      • Kuda Gadhingan
      • Trunajaya
    • Dadung Awuk
    • Golek Ayun-Ayun
    • Khuntulan
    • Montro
    • Peksi Moi
    • Srimpi
      • Pandhelori
      • Ranggajanur
  • Jawa Timuran
    • Gandrung Banyuwangi
    • Jaran kencak
    • Jaranan Dor
    • Jathil
    • Kethek ogleng
    • Klana Topeng
      • Cirebon
      • Madura
      • Malang
      • Surakarta
      • Yogyakarta
    • Reog
    • Remo
Madura
  • Blandaran
  • Muang Sangkal
Sunda
  • Buyung
  • Jaipongan
  • Ketuk Tilu
  • Merak
  • Ronggeng Gunung
Kalimantan
Banjar
  • Baksa Kembang
  • Banjar
  • Jepen
  • Radap Rahayu
Bulungan
  • Jugit Demaring
Dayak
  • Bahin
  • Burung enggang
  • Gantar
  • Gong
  • Hudoq
  • Giring-Giring
  • Kayau
  • Kanjar
  • Magunatip
  • Manasai
  • Muji bakul
  • Pedang
  • Silo Laut Danum
Melayu Kalimantan
  • Japin Sigam
Kutai Kartanegara
  • Ganjur
Paser
  • Ratu Balu
Tidung
  • Ambi
  • Bangun
  • Jepin Kinsat Suara Siam
  • Liaban
Nusa Tenggara
Alor
  • Lego-Lego
Bali
  • Baris
  • Barong Bali
  • Cendrawasih
  • Condong
  • Janger
  • Joged Bumbung
  • Kebyar duduk
  • Kecak
  • Legong
  • Pendet
  • Rejang
  • Topeng Pajegan
  • Sanghyang
Bima dan Sumbawa
  • Bajang Girang
  • Lenggo
  • Nganga
  • Nguri
  • Wura Bungi Monca
Flores
  • Caci
  • Gawe Au
  • Ja'i
  • Pado'a
Sasak
  • Oncer
  • Pakon
  • Peresean
  • Sireh
  • Tandang Mendet
Sumba
  • Kabokang
  • Kandingang
  • Ningguharama
  • Kataga
  • Woleka
Timor
  • Cerana
  • Likurai
Sulawesi
Bugis, Makassar,
Bone, dan Luwu
  • Alusu
  • Kipas Pakarena
  • Pakarena
  • Salonreng
Buton, Muna, dan Wakatobi
  • Ando-Ando
  • Balumpa
  • Basalonde
  • Lariangi
  • Linda
  • Lumense
  • Malulo
  • Mondotambe
Gorontalo
  • Dana–dana
  • Elengge
  • Langga
  • Mopohuloo/Modepito
  • Sabe
  • Saronde
  • Tanam Padi
  • Tidi Lo Malu
  • Tulude
Mandar
  • Pallake
  • Tuqduq
Minahasa
  • Cakalele
  • Katrili
  • Lenso
  • Maengket
Bolaang dan Mongondow
  • Dangisa
  • Kabela
  • Tuitan
Padoe
  • Moriringgo
Bare'e, Pamona, dan Kaili
  • Dero
  • Modero
  • Moraego
  • Pamonte
  • Torompio
Sangihe, Talaud,
dan Siau Tagulandong
Biaro
  • Alabadiri
  • Gunde
  • Mesalai
  • Ransansahabe
  • Tari Salo
  • Upase
Toraja
  • Pa'gellu
Kepulauan Maluku dan Papua
Arfak
  • Tumbu Tanah
Asmat
  • Det Pok Mbui
Biak
  • Fayaryer Rak Wadwa Biak
  • Yosim Pancar
Dani
  • Selamat Datang
Fakfak
  • Aniri
Isirawa
  • Karamo
Mimika (Kamoro)
  • Salawaku
Kep. Maluku Tengah dan Selatan
  • Dansa Tali
  • Ehe lawn
  • Horlapep
  • Katreji
  • Lenso
  • Maku-Maku
  • Poco-poco
  • Saureka Reka
  • Sahu Reka-Reka
Kep. Maluku Utara
  • Bon Mayo
  • Dengedenge
  • Gala
  • Gumatere
  • Kene-Kene
  • Lala
  • Legu Sahu
  • Salai Jin
  • Sara Dabi-Dabi
  • Sara Re Selo
  • Soya-Soya
  • Tide-tide
  • Togal
Moi
  • Aluyen
  • Sajojo
  • Wutukala
Sentani
  • Awaijale Rilejale
Serui dan Waropen
  • Afaitaneng
  • Pulale
  • Soanggi
Lain-lain
India-Indonesia
  • Dangdut
  • Sendratari Ramayana
Arab-Indonesia
  • Tarian Sufi
  • Zapin Arab
Tionghoa-Indonesia
  • Barongsai
  • Liong
Eropa-Indonesia
  • Katreji
  • Katrili
Kategori
Basis data pengawasan otoritas: Nasional Sunting di Wikidata
  • Amerika Serikat

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Definisi
  2. Simbol
  3. Beberapa bedaya
  4. Referensi
  5. Pranala luar

Artikel Terkait

Srimpi

salah satu tarian di Indonesia

Tari Bedaya Ketawang

salah satu tarian di Indonesia

Jawa Barat

provinsi di Pulau Jawa, Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026