Tari Erai-Erai adalah tarian tradisional yang berasal dari Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Tarian ini tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat etnik Lematang, khususnya di wilayah eks marga Gumay Lembak, Puntang Suka Merapi, dan Pasirah IV Manggul, sebelum kemudian menyebar ke berbagai daerah lain di Kabupaten Lahat. Tari Erai-Erai termasuk tarian rakyat yang menggambarkan kegembiraan dan kebersamaan masyarakat, terutama pada saat panen padi atau perayaan-perayaan adat dan sosial seperti pesta pernikahan serta syukuran panen kopi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Tari Erai-Erai adalah tarian tradisional yang berasal dari Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Tarian ini tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat etnik Lematang, khususnya di wilayah eks marga Gumay Lembak, Puntang Suka Merapi, dan Pasirah IV Manggul, sebelum kemudian menyebar ke berbagai daerah lain di Kabupaten Lahat. Tari Erai-Erai termasuk tarian rakyat yang menggambarkan kegembiraan dan kebersamaan masyarakat, terutama pada saat panen padi atau perayaan-perayaan adat dan sosial seperti pesta pernikahan serta syukuran panen kopi.[1]
Nama Erai-Erai berasal dari ungkapan dalam bahasa Lahat, yakni "Serumpun Serai", yang berarti “serai satu rumpun”.[2] Ungkapan ini memiliki makna filosofis bahwa meskipun batang-batangnya terpisah, tetapi tetap bersatu dalam satu rumpun, melambangkan persaudaraan, kebersamaan, dan persatuan masyarakat Lahat. Nilai ini menjadi roh utama dalam setiap pertunjukan tari Erai-Erai yang senantiasa menonjolkan semangat gotong royong dan solidaritas sosial.
Menurut catatan sejarah lokal, Tari Erai-Erai diciptakan sekitar tahun 1926 oleh seorang seniman bernama Bapak Mungkim di daerah Liot, Kabupaten Lahat.[3] Awalnya, tarian ini ditampilkan untuk menghibur masyarakat desa sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga. Seiring waktu, tari ini menyebar ke berbagai daerah di Lahat dan mulai populer pada tahun 1950-an, terutama setelah masuknya berbagai instrumen musik akustik seperti biola dan akordeon yang memperkaya iringan musiknya. Sebelum itu, tarian ini hanya diiringi oleh alat musik tradisional seperti gambus, rebana, atau perkusi sederhana.[4]
Tari Erai-Erai berfungsi sebagai media hiburan sekaligus sarana sosial budaya dalam masyarakat Lahat. Selain menjadi hiburan pada acara pernikahan, panen padi, dan pesta rakyat, tarian ini juga menjadi sarana penguat solidaritas masyarakat desa. Melalui gerak, musik, dan pantun yang disajikan bersama, Tari Erai-Erai memperkuat nilai-nilai kebersamaan, sopan santun, dan penghormatan antarwarga.[5]
Tari Erai-Erai dikenal dengan gerakannya yang lembut, mengayun, dan penuh irama, menggambarkan keseimbangan antara keindahan dan kesederhanaan. Keunikan utama tarian ini terletak pada keselarasan antara gerak kaki dan tangan: ketika kaki kanan melangkah, tangan kanan pun bergerak serasi, begitu pula sebaliknya. Gerakan ini mencerminkan keharmonisan dan kesatuan dalam keberagaman.
Selain menari, para penari juga mendendangkan pantun-pantun dalam bahasa Lahat secara bersahut-sahutan. Pantun-pantun tersebut biasanya berisi nasihat, sindiran halus, atau ungkapan sukacita yang mencerminkan kehidupan masyarakat sehari-hari. Dalam satu kali penampilan, Tari Erai-Erai dapat menampilkan empat hingga lima ragam gerak dan pantun, dari sekitar 40 ragam yang dikenal, di antaranya Umak oi Umak, Seranti, Cek Mina, Nasib Serawak, Selasih, Serebab, dan Cek Siti.[2]
Dalam beberapa kesempatan, penonton atau tamu undangan turut diajak menari bersama sebagai simbol keterbukaan dan keakraban. Selain itu, masyarakat yang menyaksikan pertunjukan sering memberikan saweran—yaitu melemparkan atau memberikan uang secara langsung kepada penari—sebagai bentuk apresiasi dan partisipasi.
Iringan musik Tari Erai-Erai semula hanya menggunakan alat musik tradisional seperti gambus, gendang, dan rebana, namun sejak tahun 1950-an turut dilengkapi dengan biola, akordeon, dan gong. Dalam pementasannya, musik biasanya disertai seorang penembang yang melantunkan syair-syair pengiring, di antaranya yang terkenal adalah “Umak ooh Umak” dan “Oi Kakang Tulah”. Setiap lagu mengandung makna tertentu dan berperan penting dalam mengatur tempo serta suasana pertunjukan.[4]
Penari Erai-Erai mengenakan busana tradisional khas Lahat yang terdiri atas baju kurung panjang, kain tumpal perahu, pending (ikat pinggang logam), anting-anting besar, dan berbagai aksesoris penunjang lainnya. Pilihan busana ini tidak hanya berfungsi sebagai kostum tari, tetapi juga sebagai representasi estetika dan identitas budaya masyarakat Lematang.[5]
Pada 31 Agustus 2023, Tari Erai-Erai resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Penetapan ini memperkuat posisi Tari Erai-Erai sebagai salah satu kekayaan budaya Nusantara yang mencerminkan identitas masyarakat Lematang di Kabupaten Lahat.[6]