Tari Dangisa adalah tarian tradisional Indonesia yang berasal dari Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Provinsi Sulawesi Utara. Tarian ini umumnya dibawakan oleh 12 hingga 24 penari laki-laki dan memiliki makna simbolis yang menggambarkan kekuatan, kebersamaan, dan sejarah daerah tersebut. Tarian Dangisa sering ditampilkan saat penyambutan tamu kehormatan dan telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Tari Dangisa adalah tarian tradisional Indonesia yang berasal dari Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Provinsi Sulawesi Utara. Tarian ini umumnya dibawakan oleh 12 hingga 24 penari laki-laki dan memiliki makna simbolis yang menggambarkan kekuatan, kebersamaan, dan sejarah daerah tersebut. Tarian Dangisa sering ditampilkan saat penyambutan tamu kehormatan dan telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.[1][2]
Tarian Dangisa merupakan salah satu tarian yang diciptakan oleh kakak kandung Raja Gobel yang ketika kembali ke Tapa dari penobatannya di Ternate pada abad ke 17 atau lebih kurang 300 tahun yang lalu. Tari Dangisa merupakan satu-satunya seni pertunjukan orisinil suku endemik Bolango yang eksistensinya masih terus bertahan hingga saat ini. Dulunya tarian ini dimainkan oleh sekelompok pria guna menyambut para raja dan ksatria pada saat pulang dari tugas penting maupun dari peperangan. Namun seiring berjalannya waktu tarian ini kemudian dimainkan di upacara-upacara adat, kegiatan kemasyarakatan, hingga berbagai festifal yang dilaksanakan di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel). Formasi koreografi gerakan hingga background syair berbahasa Bolango mengiringi tarian.[3]
Tarian Dangisa mempunyai keunikan tersendiri karena penari juga sebagai penyanyi/pembawa syair dan penabuh/instrumen. Perkembangan tarian ini dipengaruhi beberapa faktor, antara lain lembaga adat; sanggar; perlengkapan; event budaya; peran pendidikan dan pemangku adat; melakukan dialog budaya dalam rangka persepsi bersama antara pemerintah, lembaga adat, tokoh adat dan masyarakat dalam upaya pelestarian kebudayaan. Tarian ”Dangisa” sebagai produk leluhur Suku Bolango perlu dilestarikan karena didalamnya terkandung nilai-nilai tradisional yang positif untuk dikembangkan.[4]
Tari Dangisa merupakan tarian hiburan yang menampilkan kisah asal-usul daerah Bolaang Mongondow Selatan melalui gerakan dinamis yang diiringi syair dan properti seperti perisai. Tarian ini secara simbolis menggambarkan kekuatan, kebersamaan, dan sejarah.[5]
Tari Dangisa biasanya dibawakan oleh 12 hingga 24 penari laki-laki. Tari ini memiiki gerakan dinamis dengan tiga pola utama: memukul, memutar, dan merentangkan tangan, dengan beberapa pola lantai seperti berbaris dan melingkar. Penari juga menggunakan properti seperti perisai.[6]