Peresean atau perisean adalah pertarungan antara dua lelaki yang bersenjatakan tongkat rotan (penjalin) dan berperisai kulit kerbau yang tebal dan keras. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Peresean termasuk dalam seni tari daerah Lombok. Petarung dalam Peresean biasanya disebut pepadu dan wasit disebut pakembar.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia




Peresean atau perisean adalah pertarungan antara dua lelaki yang bersenjatakan tongkat rotan (penjalin) dan berperisai kulit kerbau yang tebal dan keras (perisai disebut ende).[1][2][3] Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia.[1] Peresean termasuk dalam seni tari daerah Lombok.[4] Petarung dalam Peresean biasanya disebut pepadu dan wasit disebut pakembar.[5]
Permainan ini diklaim sudah dimainkan sejak abad ke-13 meskipun tidak ada sumber catatan yang benar benar menulisnya, Sumber lain mengatakan bahwa seni ini berawal dari kesenian Bali, Gebug Ende, saat ekspedisi Karangasem ke Lombok pada 1692 Masehi, saat itu Sang Raja Karangasem yang pasukannya berjumlah lebih sedikit daripada pasukan Sasak memohon kepada Sang Hyang Widhi/Tuhan yang Maha Esa agar diberikan pertolongan, saat hari peperangan turunlah hujan lebat yang menguntungkan pasukan Bali dan akhirnya mengalahkan pasukan Sasak, kemudian masyarakat Karangasem melakukan ritual ini untuk mendatangkan hujan pada musim kemarau.[3] Dengan berdirinya Kerajaan Karangasem di Lombok maka banyak kesenian dan kebudayaan Bali yang diserap masyarakat Sasak dan menjadi kesenian Peresean.[6]
Perisean dimulai dengan dua pekembar (wasit) mencari calon petarung atau pepadu dari orang-orang yang datang atau sang pepadu sendiri yang mengajukan diri.[3][2] Pekembar akan mencari pepadu-pepadu yang seimbang sebelum memulai pertarungan.[3] Pepadu akan menggunakan ikat kepala (saput) dan kain pengikat pinggang (bebadong), serta diberi sirih untuk dikunyah.[3] Dalam pertarungan pepadu menggunakan sebilah rotan kira-kira sepanjang satu meter (penjalin) sebagai senjata serta dilengkapi sebuah perisai kayu yang dilapisi kulit sapi atau kerbau, berbentuk bujur sangkar berukuran 50 x 50 cm.[2][3][6]
Jalannya pertarungan diiringi gamelan sasak yang terdiri dari tabuhan gendang, suling, gong, dan rincik dalam tempo cepat. Tembang yang dibawakan merupakan tembang khusus perisean yang beraura mistis. Tembang itu biasanya akan mendongkrak semangat bertarung dan mengurangi rasa sakit akibat sabetan rotan.[2][3][6]
Perisean akan dihentikan, apabila salah satu pepadu mengeluarkan darah atau dihentikan pekembar.[6] Jika hingga 3-4 ronde kedua pepadu masih sama kuat, pekembar akan menyatakan hasil seri.[3] Selesai pertarungan pepadu tak pernah membawa dendam ke luar arena. Menang atau kalah, seusai bertarung, kedua pepadu pasti bersalaman dan berpelukan. Segalanya dimulai dan selesai di dalam arena.[6][3]
Pertarungan perisean disakralkan, sehingga perisean tak digelar sembarang waktu. Pada masa sekarang, perisean diadakan menjelang perayaan-perayaan khusus, seperti ulang tahun kemerdekaan (17 Agustus), hari jadi kabupaten/kota, atau menjelang Ramadhan.[3]