Tari Rejang adalah sebuah tarian kesenian rakyat/suku Bali yang ditampilkan secara khusus oleh perempuan dan untuk perempuan. Gerak-gerik tari ini sangat sederhana tetapi progresif dan lincah. Tari Rejang di beberapa tempat juga disebut dengan ngeremas, Simi atau sutri.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Tari Rejang adalah sebuah tarian kesenian rakyat/suku Bali yang ditampilkan secara khusus oleh perempuan dan untuk perempuan. Gerak-gerik tari ini sangat sederhana tetapi progresif dan lincah. Tari Rejang di beberapa tempat juga disebut dengan ngeremas, Simi atau sutri.[1][2]
Tarian ini dilakukan/ditarikan oleh penari-penari gadis yang rata-rata berusia 6 - 8 tahun di Bali.[2] Tarian ini disajikan dengan penuh rasa hikmat, penuh rasa pengabdian kepada Dewa-Dewi Hindu dan penuh penjiwaan.
Para penarinya mengenakan pakaian upacara yang meriah dengan banyak dekorasi-dekorasi, menari dengan berbaris melingkari halaman pura atau pelinggih yang kadang kala dilakukan dengan berpegang-pegangan tangan.
Biasanya pagelaran tari Rejang diselenggarakan di pura[2] pada waktu berlangsungnya suatu upacara adat atau upacara keagamaan Hindu Dharma.
Berikut ini adalah beberapa jenis tari Rejang yang biasa dipentaskan:
Tarian ini ditampilkan pada upacara hari purnama sasih Kasa, serta pada hari Paing dan Pon Kuningan di Pura Desa Asak, Karangasem. Penarinya berasal dari anak gadis tiap keluarga di desa tersebut. Pementasan tari ini diiringi dengan tabuhan gong Salunding, dengan tabuh rejang atau parejangan.[2]
Penari mengenakan kain sarung yang disesuaikan dengan jenis gelungan yang dipakai. Jika menggunakan pusung tekek, sarung yang dikenakan adalah kain songket, sedangkan untuk pusung perong dapat berupa songket maupun kain endek. Sebagai pelengkap, penari memakai gelungan atau hiasan kepala dengan dua variasi: pusung tekek yang ditata dengan bunga emas, dan pusung perong berbentuk setengah lingkaran dari anyaman bambu yang dihiasi bunga kamboja serta bunga emas. Selain itu, digunakan saput yang menyesuaikan gelungan, yakni kain perada untuk pusung tekek dan kain barabas merah untuk pusung perong. [2]
Dalam pementasan Tari Rejang, para penari dipimpin oleh seorang pemangku yang berjalan di barisan paling depan sambil membawa pedupaan (pasepan). Di belakangnya, para penari bergerak berderet sambil memegang seutas benang panjang yang terhubung dari tangan pemangku hingga penari terakhir, atau saling menggenggam selendang penari lain sehingga membentuk rangkaian. Pola berantai pada tarian ini kemudian dikenal dengan nama Rejang Renteng.[2]
Tarian ini diciptakan oleh I Ketut Rena pada tahun 2017, pertama kali dipentaskan di Banjar Pande saat odalan, lalu dipublikasikan dalam pementasan Calonarang di Pura Desa Sumerta.[3]
Penari mengenakan tapih kuning, kamen wali, angkin prada, serta selendang kuning (baik sifon maupun kain biasa), ditambah pending sebagai ikat pinggang. Dalam beberapa pementasan, busana disederhanakan menjadi kebaya putih, kain kuning, dan selendang kuning, namun tetap mempertahankan ciri khas Rejang Sari Pementasan arian ini diiringi dengan gamelan gong Kebyar.[3]