Pengetahuan adalah suatu kesadaran akan fakta, suatu keakraban dengan pribadi dan peristiwa, atau sebuah keterampilan praktis. Pengetahuan tentang fakta, yang juga disebut pengetahuan proposisional, kerap dipahami sebagai kebenaran yang diyakini, dan dibedakan dari sekadar opini atau dugaan lewat adanya pembenaran. Para filsuf umumnya sepakat bahwa pengetahuan proposisional merupakan bentuk keyakinan yang benar, tetapi perdebatan panjang berpusat pada syarat pembenaran itu sendiri: bagaimana memahaminya, apakah ia sungguh diperlukan, ataukah ada sesuatu di luar itu yang mesti ditambahkan. Kontroversi ini kian mengemuka pada paruh kedua abad ke-20, dipicu oleh serangkaian eksperimen pemikiran yang dikenal sebagai Kasus Gettier, yang menantang definisi-definisi klasik dan memunculkan tafsir baru.
kepemilikan mental atas informasi atau keterampilan, berkontribusi pada pemahaman
Pengetahuan adalah suatu kesadaran akan fakta, suatu keakraban dengan pribadi dan peristiwa, atau sebuah keterampilan praktis. Pengetahuan tentang fakta, yang juga disebut pengetahuan proposisional, kerap dipahami sebagai kebenaran yang diyakini, dan dibedakan dari sekadar opini atau dugaan lewat adanya pembenaran. Para filsuf umumnya sepakat bahwa pengetahuan proposisional merupakan bentuk keyakinan yang benar, tetapi perdebatan panjang berpusat pada syarat pembenaran itu sendiri: bagaimana memahaminya, apakah ia sungguh diperlukan, ataukah ada sesuatu di luar itu yang mesti ditambahkan. Kontroversi ini kian mengemuka pada paruh kedua abad ke-20, dipicu oleh serangkaian eksperimen pemikiran yang dikenal sebagai Kasus Gettier, yang menantang definisi-definisi klasik dan memunculkan tafsir baru.
Pengetahuan dapat lahir dari berbagai jalan. Sumber utama pengetahuan empiris adalah persepsi, yakni penggunaan indra untuk mengenal dunia luar. Introspeksi membuka jalan bagi manusia untuk memahami keadaan mental serta proses batinnya sendiri. Sumber lain mencakup ingatan, intuisi rasional, inferensi, dan kesaksian.[a] Menurut fondasionalisme, sebagian dari sumber-sumber ini bersifat dasar, artinya mampu membenarkan keyakinan tanpa bergantung pada keadaan mental lain. Sebaliknya, para koherenitis menolak pandangan ini, dengan menegaskan bahwa pengetahuan mensyaratkan koherensi yang memadai di antara seluruh keadaan mental seorang subjek. Sementara itu, infinitisme berpendapat bahwa rantai keyakinan yang tak berujunglah yang dibutuhkan.
Disiplin utama yang mengkaji pengetahuan adalah epistemologi, yang menelaah apa yang diketahui manusia, bagaimana ia mengetahuinya, dan apa makna dari "mengetahui". Bidang ini juga membicarakan nilai pengetahuan serta aliran skeptisisme filosofis, yang meragukan kemungkinan pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan berkaitan erat dengan berbagai ranah, misalnya sains yang berusaha meraihnya melalui metode ilmiah dengan eksperimen berulang, observasi, dan pengukuran. Beragam tradisi agama menegaskan bahwa manusia wajib mencari pengetahuan, serta bahwa Tuhan atau yang ilahi adalah sumber segala pengetahuan. Antropologi pengetahuan menelaah bagaimana pengetahuan diperoleh, disimpan, dipanggil kembali, dan dikomunikasikan dalam berbagai kebudayaan. Sosiologi pengetahuan mengkaji dalam kondisi sosiohistoris apa pengetahuan muncul dan apa akibat sosiologisnya. Sejarah pengetahuan menelusuri bagaimana pengetahuan dalam berbagai bidang berkembang dan berubah sepanjang zaman.
Pengetahuan adalah suatu bentuk keakraban, kesadaran, pemahaman, atau pergaulan akrab. Ia kerap melibatkan kepemilikan atas informasi yang diperoleh melalui pengalaman[1] dan dapat dipahami sebagai sebuah keberhasilan kognitif atau suatu sentuhan epistemik dengan realitas, sebagaimana dalam penemuan.[2] Banyak definisi akademik berfokus pada pengetahuan proposisional dalam bentuk memercayai fakta-fakta tertentu, seperti ungkapan “Aku tahu bahwa Dave berada di rumah.”[3] Jenis-jenis pengetahuan lain meliputi pengetahuan-bagaimana dalam wujud kompetensi praktis, seperti “ia tahu cara berenang”, dan Pengetahuan melalui perkenalan langsung berupa kedekatan dengan objek yang diketahui melalui pengalaman langsung sebelumnya, seperti mengenal seseorang secara pribadi.[4]
Pengetahuan kerap dipahami sebagai keadaan dalam diri seorang individu, namun ia juga dapat merujuk pada suatu ciri khas dari sebuah kelompok, seperti pengetahuan kelompok, pengetahuan sosial, atau pengetahuan kolektif.[5] Beberapa ilmu sosial memahami pengetahuan sebagai sebuah fenomena sosial yang luas, sepadan dengan kebudayaan.[6] Istilah ini juga dapat merujuk pada pengetahuan yang tersimpan dalam dokumen, seperti “pengetahuan yang bersemayam di perpustakaan”[7] atau basis pengetahuan dalam suatu sistem pakar.[8] Pengetahuan berhubungan erat dengan kecerdasan, meski kecerdasan lebih menitikberatkan pada kemampuan untuk memperoleh, mengolah, dan menerapkan informasi, sementara pengetahuan berkenaan dengan informasi serta keterampilan yang telah dimiliki seseorang.[9]
Kata knowledge (pengetahuan) berakar pada bahasa Inggris Kuno abad ke-12, cnawancode: ang is deprecated , yang berasal dari kata Jerman Hulu kunogecnawancode: goh is deprecated .[10] Kata bahasa Inggris ini memuat beragam makna yang dalam bahasa lain kerap dibedakan dengan beberapa kata.[11] Dalam bahasa Yunani Kuno, misalnya, terdapat empat istilah penting untuk pengetahuan: epistēmē (pengetahuan teoretis yang tak berubah), technē (pengetahuan teknis yang ahli), mētis (pengetahuan strategis), dan gnōsis (pengetahuan intelektual yang bersifat pribadi).[12] Disiplin utama yang mempelajari pengetahuan dikenal sebagai epistemologi atau teori pengetahuan. Bidang ini menelaah hakikat pengetahuan dan pembenaran, bagaimana pengetahuan lahir, serta nilai yang dikandungnya. Topik-topik lebih lanjut mencakup berbagai jenis pengetahuan dan batas dari apa yang dapat diketahui.[13]
Meski terdapat kesepakatan mengenai ciri-ciri umum pengetahuan, definisi tepatnya masih menjadi bahan perdebatan. Beberapa definisi hanya menyoroti aspek-aspek paling menonjol dari pengetahuan untuk memberikan karakterisasi yang berguna secara praktis.[14] Pendekatan lain, yang dikenal sebagai analisis pengetahuan, berupaya memberikan definisi teoretis yang presisi dengan menyusun syarat-syarat yang secara individual perlu dan secara bersama cukup,[15] mirip dengan cara ahli kimia menganalisis sebuah sampel dengan mencari daftar seluruh unsur kimia penyusunnya.[16] Menurut pandangan lain, pengetahuan adalah keadaan yang unik dan tak dapat dianalisis dalam kerangka fenomena lain.[17] Sebagian sarjana mendasarkan definisi mereka pada intuisi abstrak, sementara yang lain berfokus pada kasus-kasus konkret[18] atau bertumpu pada bagaimana istilah ini dipakai dalam bahasa sehari-hari.[19] Juga terdapat perbedaan pendapat apakah pengetahuan merupakan fenomena langka yang menuntut standar tinggi ataukah justru fenomena umum yang hadir dalam banyak situasi sehari-hari.[20]
Definisi pengetahuan sebagai kepercayaan benar yang dibenarkan sering dibahas dalam literatur akademik.
Salah satu definisi yang kerap dibicarakan menggambarkan pengetahuan sebagai kepercayaan benar yang dibenarkan. Definisi ini menandai tiga ciri esensial: ia adalah (1) suatu kepercayaan yang (2) benar dan (3) dibenarkan.[21][b]
Kebenaran merupakan ciri yang luas diterima dari pengetahuan. Hal ini menegaskan bahwa, meskipun seseorang dapat memercayai sesuatu yang keliru, ia tidak dapat mengetahui sesuatu yang keliru.[23][c]
Bahwa pengetahuan merupakan suatu bentuk kepercayaan juga berarti bahwa seseorang tidak dapat mengetahui sesuatu tanpa memercayainya. Beberapa ungkapan sehari-hari tampaknya melanggar prinsip ini, misalnya pernyataan: “Saya tidak percaya, saya tahu itu!” Namun maksud dari ungkapan semacam ini biasanya adalah menekankan keyakinan diri, bukan menyangkal bahwa ada unsur kepercayaan di dalamnya.[25]
Perdebatan utama seputar definisi ini menyangkut ciri ketiganya: pembenaran.[26] Komponen ini kerap disertakan karena adanya kesan bahwa beberapa kepercayaan benar bukanlah bentuk pengetahuan—misalnya kepercayaan yang bersandar pada takhayul, tebakan beruntung, atau penalaran yang keliru. Sebagai contoh, seseorang yang menebak hasil lemparan koin akan muncul sisi gambar, biasanya tidak dianggap mengetahui hal itu meskipun tebakan tersebut kebetulan benar. Hal ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dari pengetahuan dibanding sekadar kebetulan benar.[27] Karena itu, kasus-kasus semacam ini dikecualikan dengan menetapkan bahwa kepercayaan harus memiliki pembenaran agar bisa dihitung sebagai pengetahuan.[28]
Beberapa filsuf berpendapat bahwa suatu kepercayaan dibenarkan bila ia berlandaskan bukti, yang dapat berupa keadaan mental seperti pengalaman, ingatan, atau kepercayaan lain. Yang lain menyatakan bahwa kepercayaan dibenarkan bila dihasilkan oleh proses andal, seperti persepsi indrawi atau penalaran logis.[29]
Masalah Gettier berakar pada gagasan bahwa beberapa kepercayaan benar yang dibenarkan tidaklah cukup untuk menjadi pengetahuan.
Definisi pengetahuan sebagai kepercayaan benar yang dibenarkan mendapat kritik keras pada abad ke-20, ketika epistemolog Edmund Gettier merumuskan sejumlah contoh tandingan.[30] Contoh-contoh ini berusaha menyajikan kasus nyata dari kepercayaan benar yang dibenarkan, tetapi gagal dianggap sebagai pengetahuan. Biasanya kegagalan ini disebabkan oleh keberuntungan epistemik: kepercayaannya memang dibenarkan, tetapi pembenaran itu tidak relevan dengan kebenaran.[31]
Dalam contoh terkenal, seseorang berkendara di jalan pedesaan yang dipenuhi banyak fasad lumbung dan hanya ada satu lumbung yang nyata. Orang itu, tanpa menyadarinya, berhenti tepat di depan lumbung asli karena kebetulan, lalu membentuk kepercayaan benar yang dibenarkan bahwa ia sedang berada di depan sebuah lumbung. Contoh ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa orang tersebut tidak benar-benar mengetahui bahwa ia berada di depan lumbung asli, karena ia takkan mampu membedakannya.[32] Dengan demikian, merupakan kebetulan belaka bahwa kepercayaan yang dibenarkan itu ternyata benar.[33]
Menurut sebagian filsuf, contoh-contoh tandingan ini menunjukkan bahwa pembenaran tidak diperlukan untuk pengetahuan[34] dan bahwa pengetahuan seharusnya dipahami dalam istilah keandalan atau manifestasi dari kebajikan kognitif. Pendekatan lain mendefinisikan pengetahuan berdasarkan fungsi yang dimainkannya dalam proses kognitif, yakni sebagai hal yang memberikan alasan untuk berpikir atau bertindak.[35]
Tanggapan lain menerima pembenaran sebagai aspek pengetahuan, namun menambahkan kriteria tambahan.[36] Banyak kandidat telah diajukan, misalnya syarat bahwa kepercayaan benar yang dibenarkan itu tidak bergantung pada kepercayaan keliru, bahwa tidak ada pengalah[d] yang hadir, atau bahwa seseorang tidak akan memiliki kepercayaan itu seandainya ia keliru.[38]
Pandangan lain menyatakan bahwa kepercayaan harus tak-dapat-salah (infallible) agar dapat menjadi pengetahuan.[39][e]
Pendekatan lebih lanjut, yang terkait dengan pragmatisme, menekankan aspek penyelidikan dan menggambarkan pengetahuan sebagai apa yang bekerja dalam praktik, yakni yang menumbuhkan kebiasaan untuk bertindak.[41]
Masih terdapat sangat sedikit konsensus dalam wacana akademik tentang modifikasi atau rekonstruksi mana yang benar, dan berbagai definisi alternatif tentang pengetahuan pun terus diajukan.[42]
Jenis
Pembedaan umum dalam jenis pengetahuan adalah antara pengetahuan proposisional, atau pengetahuan-bahwa, dan pengetahuan non-proposisional dalam bentuk keterampilan praktis atau perkenalan langsung.[43][f] Pembedaan lainnya berfokus pada bagaimana pengetahuan diperoleh dan pada isi dari informasi yang diketahui.[45]
Pengetahuan proposisional, yang juga disebut pengetahuan deklaratif dan deskriptif, adalah bentuk pengetahuan teoretis tentang fakta, seperti mengetahui bahwa "2 + 2 = 4". Ia merupakan jenis pengetahuan yang paradigmatik dalam filsafat analitik.[46] Pengetahuan proposisional disebut proposisional karena melibatkan relasi terhadap sebuah proposisi. Karena proposisi sering diungkapkan melalui klausa-bahwa, ia juga disebut pengetahuan-bahwa, seperti dalam "Akari tahu bahwa kanguru melompat".[47] Dalam kasus ini, Akari berada dalam relasi mengetahui terhadap proposisi "kanguru melompat". Jenis pengetahuan yang terkait erat adalah tahu-siapa, misalnya, mengetahui siapa yang datang makan malam dan mengetahui mengapa mereka datang.[48] Ungkapan-ungkapan ini biasanya dipahami sebagai jenis pengetahuan proposisional karena dapat diparafrasekan menggunakan klausa-bahwa.[49][g]
Pengetahuan proposisional berbentuk representasi mental yang melibatkan konsep, gagasan, teori, dan aturan umum. Representasi ini menghubungkan subjek yang mengetahui dengan bagian tertentu dari realitas dengan menunjukkan seperti apa adanya. Ia sering bersifat independen dari konteks, artinya tidak terbatas pada penggunaan atau tujuan tertentu.[51] Pengetahuan proposisional mencakup baik pengetahuan tentang fakta spesifik, seperti bahwa massa atom emas adalah 196,97 u, maupun generalisasi, seperti bahwa warna daun beberapa pohon berubah di musim gugur.[52] Karena bergantung pada representasi mental, sering dikatakan bahwa kapasitas untuk pengetahuan proposisional eksklusif bagi makhluk yang relatif canggih, seperti manusia. Hal ini didasarkan pada klaim bahwa kemampuan intelektual yang maju dibutuhkan untuk memercayai sebuah proposisi yang mengekspresikan seperti apa dunia ini.[53]
Non-proposisional
Mengetahui cara mengendarai sepeda adalah salah satu bentuk pengetahuan non-proposisional.
Pengetahuan non-proposisional adalah pengetahuan yang tidak melibatkan relasi esensial terhadap proposisi. Dua bentuk yang paling dikenal adalah pengetahuan-bagaimana (know-how atau Pengetahuan prosedural) dan pengetahuan melalui perkenalan langsung.[54] Memiliki pengetahuan-bagaimana berarti memiliki suatu bentuk Kemampuan praktis, keterampilan, atau kompetensi,[55] seperti mengetahui cara mengendarai sepeda atau mengetahui cara berenang. Beberapa kemampuan yang mendasari pengetahuan-bagaimana melibatkan bentuk pengetahuan-bahwa, seperti mengetahui cara membuktikan sebuah teorema matematika, tetapi hal ini tidak selalu demikian.[56] Beberapa jenis pengetahuan-bagaimana tidak memerlukan pikiran yang sangat berkembang, berbeda dengan pengetahuan proposisional, dan lebih umum dijumpai di dunia hewan. Misalnya, seekor semut tahu bagaimana cara berjalan meskipun kemungkinan besar ia tidak memiliki pikiran yang cukup berkembang untuk merepresentasikan proposisi yang bersangkutan.[53][h]
Pengetahuan melalui perkenalan adalah keakraban dengan sesuatu yang diperoleh dari kontak pengalaman langsung.[58] Objek pengetahuan dapat berupa seseorang, suatu benda, atau sebuah tempat. Misalnya, dengan memakan cokelat, seseorang menjadi akrab dengan rasa cokelat, dan dengan mengunjungi Danau Taupō, seseorang membentuk pengetahuan melalui perkenalan tentang Danau Taupō. Dalam kasus-kasus ini, seseorang membentuk pengetahuan non-inferensial berdasarkan pengalaman langsung tanpa harus memperoleh informasi faktual tentang objek tersebut. Sebaliknya, juga dimungkinkan untuk secara tidak langsung mempelajari banyak pengetahuan proposisional tentang cokelat atau Danau Taupō dengan membaca buku tanpa memiliki kontak pengalaman langsung yang dibutuhkan untuk pengetahuan melalui perkenalan.[59] Konsep pengetahuan melalui perkenalan pertama kali diperkenalkan oleh Bertrand Russell. Ia berpendapat bahwa pengetahuan melalui perkenalan lebih mendasar daripada pengetahuan proposisional, sebab untuk memahami suatu proposisi, seseorang harus terlebih dahulu akrab dengan unsur-unsurnya.[60]
Pembedaan antara pengetahuan a priori dan a posteriori bergantung pada peran pengalaman dalam proses pembentukan dan pembenaran.[61] Mengetahui sesuatu secara a posteriori berarti mengetahuinya berdasarkan pengalaman.[62] Misalnya, dengan melihat bahwa di luar sedang hujan atau mendengar bayi menangis, seseorang memperoleh pengetahuan a posteriori mengenai kenyataan tersebut.[63] Pengetahuan a priori dimungkinkan tanpa adanya pengalaman yang diperlukan untuk membenarkan atau menopang proposisi yang diketahui.[64] Pengetahuan matematis, seperti bahwa 2 + 2 = 4, secara tradisional dipandang sebagai pengetahuan a priori karena tidak diperlukan penyelidikan empiris untuk meneguhkan kebenarannya. Dalam pengertian ini, pengetahuan a posteriori adalah pengetahuan empiris, sedangkan pengetahuan a priori adalah pengetahuan non-empiris.[65]
Pengalaman yang relevan di sini terutama dipahami sebagai pengalaman indrawi. Beberapa pengalaman non-indrawi, seperti ingatan dan introspeksi, sering pula disertakan. Namun, sejumlah fenomena sadar tertentu dikecualikan dari pengalaman yang dimaksud, seperti wawasan rasional. Sebagai contoh, proses berpikir sadar mungkin diperlukan untuk mencapai pengetahuan a priori mengenai solusi persoalan matematis, seperti ketika melakukan aritmetika mental untuk mengalikan dua bilangan.[66] Hal yang sama berlaku bagi pengalaman yang dibutuhkan untuk mempelajari kata-kata yang digunakan dalam ungkapan suatu klaim. Misalnya, mengetahui bahwa "semua bujangan belum menikah" merupakan pengetahuan a priori karena tidak ada pengalaman indrawi yang diperlukan untuk meneguhkan fakta tersebut, meskipun pengalaman tetap dibutuhkan untuk mempelajari arti kata "bujangan" dan "belum menikah".[67]
Sukar menjelaskan bagaimana pengetahuan a priori dimungkinkan, dan sebagian kaum empiris menolak keberadaannya. Biasanya tidak dipersoalkan bahwa seseorang dapat mengetahui sesuatu melalui pengalaman, tetapi tidak jelas bagaimana pengetahuan dapat ada tanpa pengalaman. Salah satu solusi paling awal datang dari Plato, yang berpendapat bahwa jiwa sudah memiliki pengetahuan itu dan hanya perlu mengingat kembali agar dapat mengaksesnya lagi.[68] Penjelasan serupa diberikan oleh Descartes, yang meyakini bahwa pengetahuan a priori ada sebagai pengetahuan bawaan yang hadir dalam pikiran setiap manusia.[69] Pendekatan lain mengandaikan adanya suatu fakultas mental khusus yang bertanggung jawab atas jenis pengetahuan ini, yang kerap disebut intuisi rasional atau wawasan rasional.[70]
Lain-lain
Berbagai jenis pengetahuan lain dibahas dalam literatur akademis. Dalam filsafat, "pengetahuan-diri" merujuk pada pengetahuan seseorang atas sensasi, pikiran, keyakinan, dan keadaan mentalnya sendiri. Pandangan umum menyatakan bahwa pengetahuan-diri lebih langsung ketimbang pengetahuan tentang dunia luar, yang bergantung pada penafsiran data indrawi. Karena itu, secara tradisional diklaim bahwa pengetahuan-diri tak terbantahkan, seperti klaim bahwa seseorang tidak mungkin keliru mengenai apakah ia sedang merasakan sakit. Namun, posisi ini tidak diterima secara universal dalam diskursus kontemporer; pandangan alternatif menyatakan bahwa pengetahuan-diri juga bergantung pada penafsiran yang bisa saja keliru.[71] Dalam pengertian yang agak berbeda, pengetahuan-diri juga dapat merujuk pada pengetahuan tentang diri sebagai entitas yang terus-menerus ada dengan sifat-sifat kepribadian tertentu, preferensi, ciri fisik, relasi, tujuan, dan identitas sosial.[72][i]
Metapengetahuan adalah pengetahuan tentang pengetahuan. Ia dapat muncul dalam bentuk pengetahuan-diri, tetapi juga mencakup bentuk-bentuk lain, seperti mengetahui apa yang diketahui orang lain atau informasi apa yang terkandung dalam sebuah artikel ilmiah. Aspek lain dari metapengetahuan termasuk mengetahui bagaimana pengetahuan dapat diperoleh, disimpan, disebarkan, dan digunakan.[74]
Pengetahuan umum adalah pengetahuan yang secara publik diketahui dan dibagikan oleh sebagian besar individu dalam suatu komunitas. Ia membangun dasar bersama bagi komunikasi, pemahaman, kohesi sosial, dan kerja sama.[75]Pengetahuan umum luas mencakup pengetahuan umum, tetapi juga pengetahuan yang pernah dijumpai banyak orang meskipun tidak selalu dapat segera mereka ingat.[76] Pengetahuan umum berlawanan dengan Pengetahuan ranah atau pengetahuan khusus, yang hanya dimiliki oleh para ahli dalam bidang tertentu.[77]
Pengetahuan terletak adalah pengetahuan yang spesifik pada situasi tertentu.[78] Ia erat kaitannya dengan pengetahuan praktis atau implisit, yang dipelajari dan diterapkan dalam keadaan tertentu. Hal ini terutama mencakup bentuk-bentuk memperoleh pengetahuan, seperti coba-coba atau belajar dari pengalaman.[79] Dalam pengertian ini, pengetahuan terletak biasanya tidak memiliki struktur eksplisit dan tidak dijelaskan dalam istilah gagasan universal.[80] Istilah ini kerap digunakan dalam feminisme dan postmodernisme untuk menekankan bahwa banyak bentuk pengetahuan tidaklah absolut, melainkan bergantung pada konteks historis, kultural, dan linguistik yang konkret.[78]
Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang dapat sepenuhnya dirumuskan, dibagikan, dan dijelaskan, seperti pengetahuan tentang tanggal-tanggal sejarah dan rumus matematis. Ia dapat diperoleh melalui metode pembelajaran tradisional, seperti membaca buku dan menghadiri kuliah. Hal ini berlawanan dengan pengetahuan implisit, yang tidak mudah dirumuskan atau dijelaskan kepada orang lain, seperti kemampuan mengenali wajah seseorang atau keahlian praktis seorang pengrajin ulung. Pengetahuan implisit sering dipelajari melalui pengalaman langsung atau praktik langsung.[81]
Teori beban kognitif membedakan antara pengetahuan biologis primer dan sekunder. Pengetahuan biologis primer adalah pengetahuan yang dimiliki manusia sebagai bagian dari warisan evolusionernya, seperti kemampuan mengenali wajah dan ujaran, serta banyak kapasitas pemecahan masalah umum. Pengetahuan biologis sekunder adalah pengetahuan yang diperoleh karena keadaan sosial dan kultural tertentu, seperti kemampuan membaca dan menulis.[82]
Pengetahuan dapat bersifat aktual maupun disposisional. Pengetahuan aktual adalah pengetahuan yang secara aktif terlibat dalam proses kognitif. Sebaliknya, pengetahuan disposisional berada dalam keadaan tersembunyi di benak seseorang dan hadir sebagai kemampuan untuk mengakses informasi yang relevan. Misalnya, jika seseorang tahu bahwa kucing memiliki kumis, maka pengetahuan ini bersifat disposisional sebagian besar waktunya, dan menjadi aktual ketika ia memikirkannya.[83]
Banyak tradisi kerohanian dan agama Timur membedakan antara pengetahuan tinggi dan rendah. Mereka juga disebut sebagai para vidya dan apara vidya dalam Hinduisme atau doktrin dua kebenaran dalam Buddhisme. Pengetahuan rendah didasarkan pada indra dan akal budi. Ia mencakup baik kebenaran sehari-hari atau konvensional maupun temuan ilmu-ilmu empiris.[84] Pengetahuan tinggi dipahami sebagai pengetahuan tentang Tuhan, yang absolut, diri sejati, atau realitas tertinggi. Ia tidak termasuk dunia luar benda-benda fisik maupun dunia dalam pengalaman emosi dan konsep. Banyak ajaran kerohanian menekankan pentingnya pengetahuan tinggi untuk maju di jalan spiritual dan melihat kenyataan sebagaimana adanya, melampaui selubung penampakan.[85]
Sumber
Persepsi bergantung pada indra untuk memperoleh pengetahuan.
Sumber pengetahuan adalah jalan-jalan yang memungkinkan manusia mengenali dan memahami sesuatu. Ia dapat dipahami sebagai kapasitas kognitif yang bekerja ketika seseorang memperoleh pengetahuan baru.[86] Ragam sumber pengetahuan banyak dibicarakan dalam literatur akademis, kerap ditinjau melalui daya-daya mental yang melahirkannya. Di antaranya adalah persepsi, introspeksi, ingatan, penalaran, dan kesaksian. Namun, tidak semua pemikir sepakat bahwa semuanya benar-benar menghasilkan pengetahuan. Umumnya, persepsi atau pengamatan—yakni pemakaian salah satu indra—dianggap sebagai sumber paling penting bagi pengetahuan empiris.[87] Mengetahui bahwa seorang bayi sedang tidur merupakan pengetahuan observasional jika hal itu didasarkan pada persepsi terhadap dengkurnya. Namun, bila informasi tersebut diperoleh melalui percakapan telepon dengan pasangan, maka itu bukan pengetahuan observasional. Persepsi hadir dalam berbagai bentuk—penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman, dan pengecapan—masing-masing berhubungan dengan stimulasi fisik yang berbeda.[88] Ia adalah proses aktif di mana sinyal-sinyal indrawi dipilih, diatur, dan ditafsirkan sehingga membentuk representasi atas dunia. Namun, terkadang proses ini melahirkan ilusi yang menyesatkan sebagian aspek realitas, seperti pada ilusi Müller-Lyer dan ilusi Ponzo.[89]
Introspeksi sering dipandang sebanding dengan persepsi, namun bukan pada benda-benda fisik eksternal, melainkan pada keadaan mental internal. Pandangan tradisional yang umum adalah bahwa introspeksi memiliki kedudukan epistemik istimewa karena ia tak dapat salah. Menurut posisi ini, mustahil keliru tentang fakta introspektif—misalnya, apakah seseorang merasa sakit—karena tidak ada perbedaan antara penampakan dan kenyataan. Namun, klaim ini banyak dipersoalkan dalam wacana kontemporer. Para pengkritik menegaskan bahwa kekeliruan mungkin saja terjadi, misalnya ketika seseorang keliru membedakan gatal yang menyiksa dengan rasa sakit, atau ketika pengalaman melihat sebuah elips tipis disalahpahami sebagai lingkaran.[90] Pengetahuan perseptual dan introspektif kerap dipandang sebagai bentuk pengetahuan dasar. Bagi sebagian empiris klasik, keduanya adalah satu-satunya sumber pengetahuan fundamental yang menjadi dasar bagi segala pengetahuan lainnya.[91]
Ingatan berbeda dari persepsi dan introspeksi karena ia tidak sepenuhnya mandiri ataupun dasar; ia bergantung pada pengalaman-pengalaman sebelumnya.[92] Daya ingat menjaga pengetahuan yang pernah diperoleh di masa lalu dan menghadirkannya kembali di masa kini—seperti mengingat sebuah peristiwa lampau atau nomor telepon seorang sahabat.[93] Secara umum ia dipandang sebagai sumber pengetahuan yang dapat diandalkan. Namun, ingatan kadang menyesatkan, baik karena pengalaman asalnya memang tidak kokoh, atau karena memori itu sendiri melemah sehingga tidak lagi mencerminkan peristiwa yang sesungguhnya.[94][j]
Pengetahuan yang lahir dari persepsi, introspeksi, dan ingatan dapat berkembang menjadi pengetahuan inferensial, yakni ketika penalaran dipakai untuk menarik kesimpulan dari fakta-fakta lain yang telah diketahui.[96] Sebagai contoh, pengetahuan perseptual tentang adanya perangko Ceko pada sebuah kartu pos dapat melahirkan pengetahuan inferensial bahwa seorang sahabat sedang berada di Republik Ceko. Jenis pengetahuan ini bergantung pada sumber-sumber lain yang menopang premisnya. Sebagian rasionalis bahkan menambahkan intuisi rasional sebagai sumber pengetahuan yang lebih jauh, yang tidak bersandar pada observasi maupun introspeksi. Mereka berpendapat, misalnya, bahwa keyakinan matematis seperti 2 + 2 = 4 dibenarkan murni melalui nalar semata.[97]
Pengetahuan lewat kesaksian bergantung pada pernyataan orang lain, sebagaimana kesaksian di ruang sidang.
Kesaksian kerap dimasukkan sebagai sumber pengetahuan tambahan yang, berbeda dengan sumber lain, tidak terikat pada satu fakultas kognitif tertentu. Ia berakar pada gagasan bahwa seseorang dapat mengetahui suatu fakta karena orang lain memberitahukannya. Kesaksian dapat hadir dalam beragam bentuk: percakapan biasa, sebuah surat, koran, hingga blog. Masalah kesaksian terletak pada upaya menjelaskan mengapa dan dalam kondisi apa kesaksian dapat menjadi jalan menuju pengetahuan. Jawaban umum adalah: hal itu bergantung pada keandalan sang pemberi kesaksian; hanya kesaksian dari sumber yang terpercaya yang dapat berbuah pengetahuan.[98]
Batasan
Masalah mengenai batas pengetahuan menyangkut pertanyaan tentang fakta-fakta mana yang bersifat tak-terketahui.[99] Batas-batas ini membentuk suatu wujud kebodohan yang tak terelakkan, yang dapat mencakup baik apa yang dapat diketahui mengenai dunia luar maupun apa yang dapat diketahui manusia tentang dirinya sendiri serta tentang apa yang baik.[100] Beberapa batas pengetahuan hanya berlaku bagi individu tertentu dalam keadaan khusus, sementara yang lain menyangkut umat manusia secara keseluruhan.[101] Sebuah fakta menjadi tak-terketahui bagi seseorang apabila ia tidak memiliki akses pada informasi yang relevan, misalnya peristiwa masa lalu yang tak meninggalkan jejak berarti. Contohnya, bagi kita kini tak mungkin diketahui apa sarapan Caesar pada hari ia dibunuh, meski hal itu tentu dapat diketahui olehnya dan sebagian orang sezamannya.[102] Batas lain timbul dari keterbatasan daya kognitif manusia: sebagian orang tak mampu memahami kebenaran matematis yang sangat abstrak, dan ada pula fakta-fakta yang melampaui kemampuan otak manusia untuk dikonsepsikan.[103] Selain itu, batas pengetahuan juga muncul dari adanya paradoks logis tertentu. Misalnya, ada gagasan yang takkan pernah muncul dalam benak siapa pun; pengetahuan tentangnya mustahil, sebab jika seseorang mengetahuinya maka gagasan itu sudah pernah hadir pula dalam pikirannya.[104][k]
Perdebatan tentang apa yang mungkin atau tak mungkin diketahui berlangsung dalam banyak ranah. Skeptisisme agama berpendapat bahwa keyakinan tentang Tuhan atau doktrin keagamaan lainnya tidak dapat disebut pengetahuan.[106]Skeptisisme moral mencakup beragam pandangan, termasuk klaim bahwa pengetahuan moral mustahil—bahwa seseorang tidak dapat mengetahui apa yang benar-benar baik atau apakah suatu tindakan tergolong benar secara moral.[107] Teori berpengaruh mengenai batas pengetahuan metafisika diajukan oleh Immanuel Kant. Menurutnya, pengetahuan terbatas pada ranah penampakan dan tak menjangkau benda pada dirinya sendiri, yakni realitas yang berdiri independen dari manusia dan berada di luar wilayah penampakan. Karena metafisika bertujuan melukiskan benda pada dirinya sendiri, ia menyimpulkan bahwa pengetahuan metafisis mustahil—seperti mengetahui apakah alam semesta memiliki awal ataukah tanpa batas.[108]
Dalam ilmu pengetahuan empiris pun terdapat batas, seperti prinsip ketidakpastian yang menyatakan bahwa mustahil mengetahui secara tepat dua besaran fisik tertentu pada saat yang sama, misalnya posisi dan momentum sebuah partikel.[109] Contoh lain ialah sistem fisik yang ditelaah oleh teori chaos, yang perilakunya mustahil diprediksi secara praktis karena sangat peka pada kondisi awal; sedikit saja perbedaan akan menghasilkan hasil yang sama sekali berbeda, suatu gejala yang dikenal sebagai efek kupu-kupu.[110]
Pyrrho adalah salah satu skeptikus awal dalam filsafat.
Pandangan paling ekstrem tentang batas pengetahuan adalah skeptisisme radikal atau global, yang menyatakan bahwa manusia sama sekali tak memiliki pengetahuan atau bahwa pengetahuan itu mustahil. Misalnya, argumen mimpi menyatakan bahwa pengalaman indrawi bukan sumber pengetahuan, sebab mimpi memberi informasi yang tak dapat diandalkan dan seseorang bisa saja sedang bermimpi tanpa menyadarinya. Karena tak mampu membedakan mimpi dari kenyataan, dikatakan bahwa tak ada pengetahuan indrawi tentang dunia luar.[111][l] Eksperimen pemikiran ini bertumpu pada masalah underdeterminasi, yakni ketika bukti yang tersedia tak cukup untuk memilih secara rasional di antara teori-teori yang bersaing. Jika hal ini selalu terjadi, maka skeptisisme global tak terelakkan.[112] Argumen skeptis lain berasumsi bahwa pengetahuan menuntut kepastian mutlak, lalu berusaha menunjukkan bahwa seluruh kognisi manusia itu tak-luput dari kesalahan karena gagal memenuhi standar tersebut.[113]
Salah satu argumen berpengaruh menentang skeptisisme radikal ialah bahwa ia bersifat kontradiktif, sebab menyangkal keberadaan pengetahuan sendiri merupakan klaim pengetahuan.[114] Argumen lain bertumpu pada akal sehat[115] atau menolak bahwa pengetahuan menuntut ketakgagalan absolut.[116] Hanya sedikit filsuf yang secara eksplisit membela skeptisisme radikal, tetapi posisi ini tetap berpengaruh, biasanya dalam arti negatif: banyak yang melihatnya sebagai tantangan serius bagi setiap teori epistemologi, dan kerap berusaha menunjukkan bagaimana teori mereka mampu mengatasinya.[117]Skeptisisme filosofis lain justru menganjurkan penangguhan penilaian sebagai jalan menuju ketenangan batin, sembari tetap rendah hati dan lapang dada.[118]
Batas pengetahuan yang kurang radikal dikenali oleh para falibilis, yang berpendapat bahwa kemungkinan keliru tak pernah dapat sepenuhnya dikesampingkan. Artinya, bahkan teori ilmiah yang paling kuat maupun pandangan akal sehat yang paling mendasar tetap berisiko salah. Penelitian lanjutan dapat memperkecil peluang kekeliruan, tetapi tak pernah mampu meniadakannya sepenuhnya. Sebagian falibilis menarik kesimpulan skeptis dari sini, yakni bahwa pengetahuan sejati tak ada; tetapi pandangan yang lebih umum ialah bahwa pengetahuan memang ada, hanya saja bersifat keliru-mungkin.[119] Para pragmatis berpendapat bahwa salah satu konsekuensi falibilisme ialah bahwa penyelidikan sebaiknya tidak diarahkan pada kebenaran absolut atau kepastian mutlak, melainkan pada keyakinan yang kokoh dan beralasan, sembari tetap membuka kemungkinan bahwa keyakinan itu kelak perlu direvisi.[120]
Struktur
Struktur pengetahuan menyangkut cara bagaimana keadaan mental seseorang mesti saling berkaitan agar pengetahuan dapat muncul.[121] Pandangan yang lazim menyatakan bahwa seseorang harus memiliki alasan yang memadai untuk memegang suatu keyakinan jika keyakinan itu hendak diakui sebagai pengetahuan. Bila keyakinan tersebut digugat, ia dapat membelanya dengan mengacu pada alasan yang mendasarinya. Namun, dalam banyak kasus, alasan itu sendiri bertumpu pada keyakinan lain yang pada gilirannya juga dapat digugat. Misalnya, seseorang percaya bahwa mobil Ford lebih murah daripada BMW. Ketika keyakinan itu dipertanyakan, ia mungkin membelanya dengan menyatakan bahwa ia mendengar hal tersebut dari sumber yang dapat dipercaya. Akan tetapi, pembenaran ini bergantung pada anggapan bahwa sumber itu memang dapat dipercaya—dan anggapan tersebut pun dapat digugat. Hal yang sama berlaku bagi setiap alasan berikutnya yang diajukannya.[122] Rangkaian ini berisiko menjerumuskan pada suatu regresi tak berhingga, sebab status epistemik pada setiap langkah selalu bergantung pada langkah sebelumnya.[123] Teori-teori mengenai struktur pengetahuan berupaya menawarkan jawaban atas persoalan ini.[122]
Fondasionalisme, koherensisme, dan infinitisme adalah teori-teori tentang struktur pengetahuan. Panah hitam melambangkan bagaimana satu keyakinan menopang keyakinan lain.
Tiga teori tradisional struktur pengetahuan adalah fondasionalisme, koherensisme, dan infinitisme. Fondasionalis dan koherensis menolak adanya regresi tak berhingga, berbeda dengan kaum infinitis.[122] Menurut fondasionalis, terdapat alasan-alasan dasar yang memiliki status epistemik secara independen, tidak bersandar pada alasan lain, dan dengan demikian menjadi titik akhir dari regresi.[124] Sebagian fondasionalis berpendapat bahwa sumber pengetahuan tertentu, seperti persepsi, memberi alasan-alasan dasar. Pandangan lain menyatakan bahwa peran ini dijalankan oleh kebenaran-kebenaran yang bersifat swabukti, seperti pengetahuan akan keberadaan diri atau isi dari gagasan-gagasan kita.[125] Namun, gagasan bahwa alasan-alasan dasar sungguh ada tidak diterima secara universal. Satu kritik menyatakan bahwa harus ada alasan mengapa sebagian alasan disebut dasar sedangkan yang lain tidak. Dari sudut ini, alasan yang diduga dasar itu sejatinya bukanlah dasar, sebab statusnya tetap bergantung pada alasan lain. Kritik lain, yang berakar pada hermeneutika, menegaskan bahwa segala pemahaman bersifat melingkar dan selalu menuntut penafsiran, sehingga pengetahuan tidak mesti bertumpu pada fondasi yang kokoh.[126]
Koherensis dan infinitis menghindari persoalan tersebut dengan menolak pembedaan antara alasan dasar dan non-dasar. Koherensis berpendapat bahwa jumlah alasan bersifat terbatas, yang saling menopang dan membenarkan satu sama lain. Pandangan ini berpijak pada intuisi bahwa keyakinan tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk jejaring kompleks gagasan-gagasan yang saling berhubungan, yang memperoleh legitimasi dari koherensinya, bukan dari segelintir keyakinan dasar yang diistimewakan.[127] Tantangan bagi pandangan ini ialah bagaimana menunjukkan bahwa ia tidak terjerumus pada kekeliruan argumentasi melingkar.[128] Bila dua keyakinan saling menopang, seseorang mungkin memiliki alasan untuk menerima salah satunya bila ia telah menerima yang lain. Namun, dukungan timbal balik semata bukanlah alasan yang memadai untuk menerima keduanya sekaligus. Masalah lain yang berdekatan adalah adanya kemungkinan himpunan keyakinan yang koheren tetapi berbeda satu sama lain. Koherensis lalu menghadapi tantangan untuk menjelaskan mengapa seseorang harus menerima satu himpunan koheren dan menolak himpunan lainnya.[127] Bagi infinitis, berbeda dari fondasionalis dan koherensis, alasan jumlahnya tak terbatas. Pandangan ini justru merangkul ide bahwa regresi memang ada, sebab setiap alasan bergantung pada alasan lain. Kesulitannya adalah keterbatasan pikiran manusia, yang mungkin tak sanggup menampung alasan dalam jumlah tak berhingga. Pertanyaan pun muncul: menurut infinitisme, mungkinkah pengetahuan manusia benar-benar ada?[129]
Pengetahuan memiliki nilai karena dua alasan: ia bisa berguna, atau ia bernilai pada dirinya sendiri. Pengetahuan menjadi berguna ketika ia menolong seseorang meraih tujuannya. Misalnya, mengetahui jawaban ujian memungkinkan seseorang lulus, atau mengetahui kuda mana yang tercepat memberi peluang memenangkan taruhan. Dalam kasus semacam ini, pengetahuan memiliki nilai instrumental.[130] Namun, tidak semua pengetahuan membawa manfaat. Banyak keyakinan tentang hal-hal remeh sama sekali tidak memiliki nilai instrumental, seperti mengetahui jumlah butir pasir di sebuah pantai tertentu atau menghafal nomor telepon yang tidak pernah akan dipanggil. Dalam keadaan tertentu, pengetahuan bahkan dapat bernilai negatif. Jika keselamatan hidup seseorang bergantung pada keberanian melompat melewati jurang, maka pengetahuan yang benar tentang bahaya yang mengintai justru dapat melemahkan tekadnya.[131]
Nilai pengetahuan berperan penting dalam pendidikan untuk menentukan pengetahuan mana yang diwariskan kepada peserta didik.
Selain nilai instrumental, pengetahuan juga dapat memiliki nilai intrinsik. Artinya, ada bentuk-bentuk pengetahuan yang baik pada dirinya sendiri, meski tidak membawa keuntungan praktis. Filsuf Duncan Pritchard berpendapat bahwa hal ini berlaku bagi pengetahuan yang terkait dengan kebijaksanaan.[132] Namun, terdapat perdebatan apakah semua pengetahuan memiliki nilai intrinsik, termasuk pengetahuan tentang fakta-fakta sepele, misalnya mengetahui apakah pohon apel terbesar kemarin pagi memiliki jumlah daun genap. Salah satu pandangan yang membela nilai intrinsik pengetahuan menyatakan bahwa tidak memiliki keyakinan tentang suatu hal adalah keadaan netral, dan pengetahuan selalu lebih baik daripada keadaan netral ini, meskipun selisih nilainya sangat tipis.[133]
Salah satu persoalan khas dalam epistemologi adalah apakah, dan mengapa, pengetahuan lebih bernilai daripada sekadar keyakinan benar.[134] Secara umum diakui bahwa pengetahuan itu baik dalam suatu pengertian, tetapi gagasan bahwa ia lebih berharga daripada keyakinan benar masih diperdebatkan. Diskusi awal persoalan ini ditemukan dalam dialog Plato, Meno, terkait klaim bahwa baik pengetahuan maupun keyakinan benar sama-sama dapat menuntun tindakan secara efektif, sehingga tampaknya memiliki nilai yang setara. Misalnya, keyakinan benar saja tampak cukup memadai untuk menemukan jalan menuju Larissa.[135] Menurut Plato, pengetahuan lebih unggul karena ia lebih mantap dan stabil.[136] Pandangan lain menyatakan bahwa nilai tambahan pengetahuan terletak pada pembenarannya. Namun, sulit dijelaskan apa nilai tambahan itu, sebab meskipun pembenaran membuat suatu keyakinan lebih mungkin benar, tidak jelas apa yang membedakan nilainya dari keyakinan yang benar tetapi tidak dibenarkan.[137]
Persoalan nilai pengetahuan kerap dibahas dalam kaitannya dengan reliabilisme dan epistemologi kebajikan.[138] Reliabilisme berpendapat bahwa pengetahuan adalah keyakinan benar yang terbentuk melalui cara yang andal. Namun, pandangan ini sulit menjelaskan mengapa pengetahuan bernilai, atau bagaimana proses pembentukan keyakinan yang andal memberi nilai tambahan.[139] Filsuf Linda Zagzebski mengajukan analogi: secangkir kopi dari mesin kopi yang andal tidak lebih bernilai daripada kopi sama baiknya yang dibuat mesin yang tak andal.[140] Kesulitan inilah yang kerap dijadikan alasan untuk menolak reliabilisme.[141] Sebaliknya, epistemologi kebajikan menawarkan jawaban yang khas. Para penganutnya memandang pengetahuan sebagai manifestasi dari kebajikan kognitif, dan nilai tambah pengetahuan lahir dari keterkaitannya dengan kebajikan. Gagasan ini berpijak pada pandangan bahwa keberhasilan kognitif yang muncul dari kebajikan itu sendiri sudah bernilai, terlepas dari manfaat instrumental yang mungkin dihasilkan.[142]
Memperoleh dan mewariskan pengetahuan kerap menuntut biaya: sumber daya material untuk menggali informasi baru, juga waktu dan tenaga untuk memahaminya. Karena itu, kesadaran akan nilai pengetahuan amat penting di berbagai bidang yang harus menentukan apakah suatu pengetahuan layak dicari. Dalam ranah politik, hal ini menyangkut keputusan memilih program riset yang paling menjanjikan untuk didanai.[143] Pertimbangan serupa berlaku di dunia bisnis, ketika pemangku kepentingan harus menilai apakah biaya memperoleh pengetahuan sepadan dengan keuntungan ekonominya; begitu pula di ranah militer, yang mengandalkan intelijen militer untuk mengenali dan mencegah ancaman.[144] Dalam pendidikan, pemahaman tentang nilai pengetahuan digunakan untuk menentukan pengetahuan apa yang layak diwariskan kepada peserta didik.[145]
Sejarah pengetahuan merupakan bidang kajian yang menelusuri bagaimana pengetahuan dalam berbagai ranah berkembang dan berevolusi sepanjang lintasan sejarah. Disiplin ini berkelindan erat dengan Sejarah ilmu pengetahuan, tetapi cakupannya lebih luas, meliputi khazanah yang lahir dari filsafat, matematika, pendidikan, sastra, seni, hingga agama. Ia juga merangkul pengetahuan praktis yang tertanam dalam kerajinan, pengobatan, dan praktik keseharian. Kajian ini tidak hanya menyoal bagaimana pengetahuan tercipta dan dipergunakan, tetapi juga bagaimana ia diwariskan, disebarluaskan, serta dilestarikan.[146]
Sebelum lahirnya peradaban kuno, pengetahuan mengenai laku sosial dan keterampilan bertahan hidup diwariskan secara lisan dan melalui adat istiadat dari satu generasi ke generasi berikutnya.[147] Masa Zaman kuno ditandai dengan lahirnya peradaban besar sekitar 3000 SM di Mesopotamia, Mesir, India, dan Tiongkok. Penemuan tulisan pada masa ini menjadi tonggak penting: pengetahuan dapat disimpan dan disebarkan melampaui keterbatasan ingatan manusia yang rapuh.[148] Dari sinilah muncul cikal bakal ilmu pengetahuan: matematika, astronomi, dan kedokteran. Gagasan-gagasan itu kemudian diperkokoh dan diperluas oleh Yunani Kuno sejak abad ke-6 SM. Kemajuan lain meliputi pertanian, hukum, dan politik.[149]
Penemuan mesin cetak pada abad ke-15 meluaskan akses terhadap karya tulis secara luar biasa.
Pada Abad Pertengahan, pengetahuan religius menjadi pusat perhatian, dan lembaga-lembaga keagamaan—seperti Gereja Katolik di Eropa—mengarahkan denyut kehidupan intelektual.[150] Komunitas Yahudi mendirikan Yeshiva sebagai pusat pengkajian teks suci dan hukum Yahudi.[151] Di dunia Islam, madrasah tumbuh sebagai lembaga pendidikan yang menitikberatkan pada Hukum Islam dan Filsafat Islam.[152] Berbagai pencapaian intelektual dunia kuno dijaga, disempurnakan, dan dikembangkan pada masa Zaman Keemasan Islam antara abad ke-8 hingga ke-13.[153] Pada masa ini pula berdiri pusat-pusat keilmuan terkemuka, seperti Universitas al-Qarawiyyin di Maroko,[154]Universitas al-Azhar di Mesir,[155]Bayt al-Hikmah di Irak,[156] serta universitas-universitas pertama di Eropa.[157] Masa ini juga ditandai dengan lahirnya serikat-serikat pekerja, yang menjaga sekaligus memperkaya keterampilan teknis dan pengetahuan kerajinan.[158]
Memasuki Renaisans pada abad ke-14, perhatian manusia beralih kembali kepada studi humaniora dan ilmu pengetahuan.[159]Mesin cetak yang ditemukan pada abad ke-15 melipatgandakan ketersediaan media tulis dan menaikkan taraf melek huruf masyarakat luas.[160] Fondasi inilah yang kemudian mengantarkan lahirnya Revolusi Ilmiah di era Abad Pencerahan abad ke-16 dan ke-17, yang melahirkan ledakan pengetahuan dalam fisika, kimia, biologi, dan ilmu sosial.[161] Kemajuan teknologi yang menyertainya membuka jalan bagi Revolusi Industri pada abad ke-18 dan ke-19.[162] Pada abad ke-20, lahirnya komputer dan Internet merevolusi cara pengetahuan disimpan, dibagikan, dan diciptakan, sehingga meluaskan cakrawala pengetahuan umat manusia.[163][m]
Pengetahuan menempati posisi yang amat sentral dalam banyak agama. Hampir di setiap kebudayaan, kita menemukan klaim pengetahuan mengenai eksistensi Tuhan ataupun doktrin agama tentang bagaimana manusia seharusnya menata hidupnya.[165] Namun demikian, klaim-klaim pengetahuan semacam ini kerap menimbulkan kontroversi, dan tidak jarang ditolak oleh skeptikus agama maupun kaum ateis.[166]Epistemologi agama merupakan bidang kajian yang meneliti apakah iman kepada Tuhan maupun doktrin-doktrin religius lainnya dapat dikatakan rasional dan pantas disebut sebagai pengetahuan.[167]
Salah satu pandangan penting dalam ranah ini adalah evidensialisme, yang menyatakan bahwa keyakinan religius hanya sahih apabila didukung bukti yang memadai. Contoh bukti yang sering diajukan adalah pengalaman religius: perjumpaan langsung dengan yang Ilahi, atau kesaksian batin ketika mendengar suara Tuhan.[168] Kaum evidensialis kerap menolak klaim bahwa doktrin religius dapat dihitung sebagai pengetahuan, dengan alasan bahwa buktinya tidak mencukupi.[169] Dalam kaitan ini, ucapan Bertrand Russell sering dikutip: ketika ditanya bagaimana ia akan membela ketidakpercayaannya di hadapan pengadilan Tuhan setelah mati, ia menjawab: "Bukti tidak cukup, Tuhan! Bukti tidak cukup."[170]
Namun, tidak semua ajaran agama memandang klaim mengenai eksistensi dan hakikat Tuhan sebagai klaim pengetahuan. Sebagian justru menegaskan bahwa sikap yang benar terhadap doktrin-doktrin tersebut bukanlah pengetahuan, melainkan iman. Pandangan ini berpijak pada keyakinan bahwa doktrin itu benar adanya, tetapi tidak sepenuhnya dapat dipahami oleh akal maupun diverifikasi melalui penyelidikan rasional. Karena itu, ia harus diterima, meskipun tidak naik taraf sebagai pengetahuan.[166] Pandangan ini sejalan dengan ungkapan terkenal Immanuel Kant, yang mengatakan bahwa ia "harus menolak pengetahuan untuk memberi ruang bagi iman."[171]
Agama-agama yang berbeda juga kerap memiliki pandangan yang berbeda terkait doktrin yang mereka tegaskan maupun peran pengetahuan dalam kehidupan religius.[172] Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, misalnya, pengetahuan berperan dalam kisah kejatuhan manusia, ketika Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden karena melanggar perintah Tuhan dengan memakan buah dari pohon pengetahuan, yang memberi mereka pengetahuan tentang baik dan jahat. Tindakan ini dipandang sebagai pemberontakan terhadap Tuhan, sebab pengetahuan tentang apa yang benar dan salah adalah milik Tuhan semata, bukan manusia.[173] Dalam literatur Kristen, pengetahuan bahkan disebut sebagai salah satu dari tujuh karunia Roh Kudus.[174]
Dalam Islam, salah satu dari 99 nama Tuhan adalah "Yang Maha Mengetahui" (al-ʿAlīm), yang menyingkap salah satu sifat agung Allah. Al-Qur'an menegaskan bahwa segala pengetahuan berasal dari Allah, dan pencarian ilmu sangat dianjurkan dalam ajaran Nabi Muhammad.[175]
Saraswati adalah dewi pengetahuan dan seni dalam Hinduisme.
Dalam Buddhisme, pengetahuan yang mengantarkan pada pembebasan disebut vijjā. Ia berlawanan dengan avijjā atau ketidaktahuan, yang dipandang sebagai akar dari segala penderitaan. Ketidaktahuan ini dipahami sebagai ketidakmampuan melihat bahwa segala sesuatu bersifat tidak kekal, sehingga manusia terus terikat oleh hasrat terhadap apa yang pada akhirnya akan lenyap.[176] Tujuan utama laku Buddhis adalah mengakhiri penderitaan, yang ditempuh dengan memahami serta mempraktikkan ajaran Empat Kebenaran Mulia, dan dengan demikian mengatasi ketidaktahuan.[177]
Dalam Hindu klasik, pengetahuan juga memainkan peranan sentral melalui jalan yang disebut jñāna yoga atau "jalan pengetahuan". Jalur ini menuntun pada kesatuan dengan Yang Ilahi, dengan mengasah pemahaman tentang diri serta hubungannya dengan Brahman atau realitas tertinggi.[178]
Antropologi
Antropologi pengetahuan merupakan sebuah ranah kajian multidisipliner.[179] Bidang ini menelaah bagaimana pengetahuan diperoleh, disimpan, diingat kembali, dan dikomunikasikan.[180] Perhatian khusus diberikan pada cara pengetahuan direproduksi dan berubah seiring dengan kondisi sosial maupun budaya.[181] Dalam konteks ini, istilah pengetahuan dipahami dalam arti yang sangat luas, sepadan dengan istilah seperti pemahaman dan kebudayaan.[182] Artinya, bentuk-bentuk pemahaman dan cara ia diwariskan dipelajari tanpa memperhitungkan nilai kebenaran-nya. Berbeda dengan epistemologi, yang lazim membatasi pengetahuan pada bentuk kepercayaan yang benar, antropologi justru menaruh perhatian pada pengamatan empiris mengenai bagaimana manusia memberikan nilai kebenaran pada suatu isi makna—misalnya ketika mereka menyatakan persetujuan atas sebuah klaim, meskipun klaim tersebut bisa saja keliru.[181] Pengetahuan juga mencakup dimensi praktis: ia adalah sesuatu yang dipakai dalam menafsirkan dan bertindak di dunia, melibatkan ragam fenomena seperti perasaan, keterampilan yang melekat pada tubuh, informasi, dan konsep. Pengetahuan digunakan untuk memahami dan mengantisipasi peristiwa, agar manusia mampu bersiap dan merespons secara tepat.[183]
Reproduksi pengetahuan serta transformasinya kerap berlangsung melalui berbagai bentuk komunikasi yang berfungsi sebagai sarana alih pengetahuan.[184] Hal ini mencakup percakapan tatap muka maupun komunikasi daring, juga seminar maupun ritual. Dalam ranah akademis, lembaga-lembaga seperti departemen universitas atau jurnal ilmiah memainkan peranan penting.[181] Antropolog pengetahuan memandang tradisi sebagai pengetahuan yang direproduksi di dalam suatu masyarakat atau kawasan geografis lintas generasi. Mereka tertarik pada bagaimana reproduksi tersebut dipengaruhi oleh pengaruh eksternal. Misalnya, masyarakat cenderung menafsirkan klaim pengetahuan dari masyarakat lain dan memasukkannya dalam bentuk yang telah dimodifikasi.[185]
Di dalam suatu masyarakat, orang-orang yang tergolong ke dalam kelompok sosial yang sama biasanya memahami dan mengorganisasi pengetahuan dengan cara yang mirip. Dalam hal ini, identitas sosial memainkan peranan penting: individu yang mengaitkan dirinya dengan identitas serupa—baik identitas usia, profesi, agama, maupun etnis—cenderung mewujudkan bentuk-bentuk pengetahuan yang serupa. Identitas ini menyangkut bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri, misalnya dalam hal cita-cita yang ia kejar, sekaligus bagaimana orang lain memandangnya, termasuk ekspektasi yang mereka sematkan pada dirinya.[186]
Sosiologi pengetahuan merupakan salah satu cabang dari ilmu sosiologi yang menelaah bagaimana pikiran dan masyarakat saling berhubungan.[187] Sama halnya dengan antropologi pengetahuan, bidang ini memahami "pengetahuan" dalam arti yang luas, mencakup gagasan filosofis dan politik, doktrin religius maupun ideologis, folklor, hukum, hingga teknologi. Sosiologi pengetahuan menelaah dalam kondisi sosiohistoris seperti apa pengetahuan lahir, apa konsekuensi yang ditimbulkannya, dan pada syarat-syarat eksistensial apa ia bergantung. Kondisi-kondisi tersebut meliputi faktor-faktor fisik, demografis, ekonomis, dan sosio-kultural. Filsuf Karl Marx, misalnya, berpendapat bahwa ideologi dominan dalam sebuah masyarakat adalah produk dari kondisi sosial-ekonomi yang melandasinya dan akan berubah seiring perubahan kondisi tersebut.[187] Contoh lain dapat dijumpai dalam kajian dekolonial yang menilai bahwa kekuatan kolonial bertanggung jawab atas hegemoni sistem pengetahuan Barat, sehingga diperlukan dekolonisasi pengetahuan untuk meruntuhkan dominasi tersebut.[188] Persoalan terkait lainnya menyangkut kaitan antara pengetahuan dan kekuasaan, khususnya sejauh mana pengetahuan itu sendiri merupakan kekuasaan. Filsuf Michel Foucault meneliti persoalan ini dengan menunjukkan bagaimana pengetahuan dan lembaga-lembaga yang melahirkannya mengendalikan manusia melalui apa yang ia sebut sebagai biopower, yakni dengan membentuk norma, nilai, dan mekanisme pengaturan masyarakat di bidang seperti psikiatri, kedokteran, dan sistem pemasyarakatan.[189]
Salah satu cabang utama dari bidang ini adalah sosiologi pengetahuan ilmiah, yang menelaah faktor-faktor sosial dalam proses lahirnya dan diakuinya pengetahuan ilmiah. Kajian ini mencakup bagaimana distribusi sumber daya dan penghargaan memengaruhi arah penelitian, sehingga sebagian bidang berkembang pesat sementara yang lain terpinggirkan. Topik lain menyentuh mekanisme seleksi, misalnya bagaimana jurnal akademik memutuskan penerbitan sebuah artikel atau bagaimana lembaga akademik merekrut peneliti, serta nilai-nilai dan norma yang menjadi ciri khas profesi ilmuwan.[190]
Lainnya
Epistemologi formal mengkaji pengetahuan dengan perangkat formal yang ditemukan dalam matematika dan logika.[191] Salah satu persoalan penting di bidang ini ialah prinsip-prinsip epistemik pengetahuan, yakni kaidah-kaidah yang mengatur bagaimana pengetahuan dan keadaan-keadaan terkait berfungsi serta saling berhubungan. Prinsip keterbukaan, yang juga dikenal sebagai luminositas pengetahuan, menyatakan bahwa mustahil seseorang mengetahui sesuatu tanpa sekaligus mengetahui bahwa ia mengetahuinya.[n][192] Menurut prinsip konjungsi, apabila seseorang memiliki keyakinan yang terjustifikasi atas dua proposisi terpisah, maka ia juga berhak meyakini konjungsi dari keduanya. Dengan demikian, jika Bob berkeyakinan yang terjustifikasi bahwa anjing adalah hewan, dan juga berkeyakinan yang terjustifikasi bahwa kucing adalah hewan, maka ia berhak percaya bahwa baik anjing maupun kucing adalah hewan. Prinsip lain yang sering dibahas mencakup prinsip penutupan dan prinsip transfer evidensi.[193]
Manajemen pengetahuan adalah proses mencipta, mengumpulkan, menyimpan, dan membagikan pengetahuan. Ia melibatkan pengelolaan aset informasi yang dapat berwujud dokumen, basis data, kebijakan, maupun prosedur. Bidang ini sangat penting dalam dunia bisnis dan pengembangan organisasi, karena secara langsung memengaruhi pengambilan keputusan dan perencanaan strategis. Upaya manajemen pengetahuan sering dilakukan untuk meningkatkan efisiensi operasional demi memperoleh keunggulan kompetitif.[194] Proses utama dalam manajemen pengetahuan mencakup penciptaan, penyimpanan, berbagi pengetahuan, serta penerapannya. Penciptaan pengetahuan adalah langkah pertama yang menghasilkan informasi baru. Penyimpanan dapat berlangsung melalui media seperti buku, rekaman audio, film, maupun basis data digital. Penyimpanan yang aman memfasilitasi berbagi pengetahuan, yakni proses penyampaian informasi dari seseorang kepada orang lain. Agar bermanfaat, pengetahuan harus dipraktikkan, baik untuk memperbaiki praktik yang ada maupun melahirkan yang baru.[195]
Representasi pengetahuan adalah proses penyimpanan informasi yang terorganisasi, baik melalui beragam bentuk media maupun dalam ingatan manusia.[196] Konsep ini memegang peran penting dalam kecerdasan buatan, di mana istilah tersebut dipakai untuk bidang kajian yang meneliti bagaimana sistem komputer dapat merepresentasikan informasi secara efisien. Kajian ini menyelidiki bagaimana berbagai struktur data dan prosedur interpretatif dapat dikombinasikan demi mencapai tujuan tersebut serta bahasa formal apa yang dapat digunakan untuk mengekspresikan pengetahuan. Sebagian penelitian diarahkan pada pengembangan bahasa dan sistem umum yang dapat dipakai dalam berbagai ranah, sementara sebagian lain berfokus pada representasi yang dioptimalkan untuk satu ranah tertentu. Representasi pengetahuan berkaitan erat dengan penalaran otomatis, sebab tujuan utamanya adalah membangun sebuah basis pengetahuan yang darinya inferensi dapat ditarik.[197] Bentuk formal basis pengetahuan yang berpengaruh meliputi sistem berbasis logika, sistem berbasis aturan, jaringan semantik, dan kerangka. Sistem berbasis logika menggunakan bahasa formal dalam logika, dengan perangkat linguistik seperti istilah individual, predikat, dan kuantor. Dalam sistem berbasis aturan, setiap unit informasi diekspresikan dalam bentuk aturan produksi bersyarat "jika A maka B". Jaringan semantik memodelkan pengetahuan sebagai graf dengan simpul yang mewakili fakta atau konsep dan sisi yang mewakili relasi antar keduanya. Kerangka menyediakan taksonomi kompleks untuk mengelompokkan entitas ke dalam kelas, subkelas, dan instansi.[198]
Pedagogi adalah kajian mengenai metode pengajaran atau seni mengajar.[o] Ia menelaah bagaimana pembelajaran berlangsung serta teknik apa yang dapat digunakan guru untuk menyampaikan pengetahuan kepada murid dan meningkatkan pengalaman belajar mereka sekaligus menjaga motivasi.[200] Terdapat beragam metode pengajaran, dan efektivitasnya kerap ditentukan oleh faktor seperti materi pelajaran, usia, dan tingkat kemahiran murid.[201] Dalam pendidikan yang berpusat pada guru, guru berperan sebagai otoritas yang menyampaikan informasi dan mengarahkan proses belajar. Sebaliknya, pendekatan berpusat pada murid memberi peran lebih aktif kepada siswa, dengan guru bertindak sebagai pembimbing yang memfasilitasi proses tersebut.[202] Pertimbangan metodologis lainnya mencakup perbedaan antara kerja kelompok dan pembelajaran individual, serta pemanfaatan media instruksional dan bentuk-bentuk lain dari teknologi pendidikan.[203]
Lihat pula
Logika modal epistemik– kepemilikan mental atas informasi atau keterampilan, berkontribusi pada pemahaman
Ekonomi pengetahuan– kepemilikan mental atas informasi atau keterampilan, berkontribusi pada pemahaman
Pemalsuan pengetahuan– kepemilikan mental atas informasi atau keterampilan, berkontribusi pada pemahaman
Garis besar pengetahuan– kepemilikan mental atas informasi atau keterampilan, berkontribusi pada pemahaman
Referensi
Catatan
↑Dalam konteks ini, kesaksian adalah laporan orang lain, baik secara lisan maupun tertulis.
↑Pendekatan serupa sudah dibicarakan dalam Filsafat Yunani Kuno melalui dialog Plato Theaetetus, ketika Sokrates merenungkan perbedaan antara pengetahuan dan kepercayaan benar, tetapi menolak definisi ini.[22]
↑Kebenaran biasanya dikaitkan dengan objektivitas. Pandangan ini ditolak oleh relativisme tentang kebenaran, yang berpendapat bahwa apa yang benar bergantung pada sudut pandang seseorang.[24]
↑Pengalah (defeater) dari suatu kepercayaan adalah bukti bahwa kepercayaan itu salah.[37]
↑Pandangan ini dianut oleh filsuf seperti Peter Unger, yang menggunakannya sebagai argumen bagi skeptisisme.[40]
↑Pembedaan serupa antara pengetahuan-bahwa dan pengetahuan-bagaimana sudah dibicarakan di Filsafat Yunani Kuno sebagai kontras antara epistēmē (pengetahuan teoretis yang tak berubah) dan technē (pengetahuan teknis yang ahli).[44]
↑Misalnya, mengetahui apakah Ben kaya dapat dipahami sebagai mengetahui bahwa Ben kaya, jika memang demikian, dan mengetahui bahwa Ben tidak kaya, jika memang tidak demikian.[50]
↑Namun, masih diperdebatkan sejauh mana perilaku terarah pada tujuan pada hewan tingkat rendah dapat dibandingkan dengan pengetahuan-bagaimana manusia.[57]
↑Individu dapat saja kekurangan pemahaman mendalam atas karakter dan perasaannya, dan pencapaian pengetahuan-diri merupakan salah satu langkah dalam psikoanalisis.[73]
↑Konfabulasi adalah jenis khusus dari kesalahan ingatan berupa mengingat kejadian-kejadian yang tak pernah terjadi, biasanya muncul sebagai upaya menambal kekosongan memori.[95]
↑Salah satu paradoks yang kerap dikutip dalam epistemologi formal ialah Paradoks keterketahuan Fitch, yang menyatakan bahwa pengetahuan memiliki batas, sebab menyangkal klaim itu akan membawa pada kesimpulan absurd bahwa setiap kebenaran pasti telah diketahui.[105]
↑Sebuah eksperimen pemikiran yang mirip dan kerap dikutip berasumsi bahwa seseorang bukanlah manusia biasa, melainkan sebuah otak dalam wadah yang menerima rangsangan listrik. Rangsangan itu menimbulkan kesan palsu seolah ia memiliki tubuh dan berinteraksi dengan dunia luar. Karena tak mampu membedakan kenyataan dari ilusi, maka dikatakan bahwa ia tak mengetahui bahwa ia memiliki tubuh yang bertanggung jawab atas persepsi yang andal.[112]
↑Prinsip ini dapat dianalogikan sebagai cermin ganda kesadaran: jika Heike tahu bahwa hari ini adalah Senin, maka ia pun sadar bahwa ia mengetahui kenyataan tersebut—pengetahuan yang memantulkan dirinya sendiri.
↑Definisi istilah ini sendiri masih diperdebatkan, sebab ia memuat dimensi teknis sekaligus dimensi filosofis: antara keterampilan praktis mentransfer pengetahuan dan seni membentuk jiwa manusia.[199]
AHD staff (2022a). "Knowledge". The American Heritage Dictionary. HarperCollins. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 November 2022. Diakses tanggal 25 October 2022.
AHD staff (2022b). "Knowledge Base". The American Heritage Dictionary. HarperCollins. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 March 2022. Diakses tanggal 25 October 2022.
AHD staff (2022c). "Intelligence". The American Heritage Dictionary. HarperCollins. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 January 2024. Diakses tanggal 7 March 2023.
AHD Staff (2022d). "Social Science". The American Heritage Dictionary. HarperCollins. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 March 2024. Diakses tanggal 4 March 2024.
AHD Staff (2022e). "Confabulate". The American Heritage Dictionary. HarperCollins.
Ames, Roger T.; Yajun, Chen; Hershock, Peter D. (2021). Confucianism and Deweyan Pragmatism: Resources for a New Geopolitics of Interdependence (dalam bahasa Inggris). University of Hawaii Press. ISBN978-0-8248-8857-2.
Alter, Torin; Nagasawa, Yujin (2015). Consciousness in the Physical World: Perspectives on Russellian Monism (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm.93–94. ISBN978-0-19-992736-4.
APA staff (2022). "Situated Knowledge". APA Dictionary of Psychology (dalam bahasa Inggris). American Psychological Association. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 September 2022. Diakses tanggal 18 September 2022.
Aqil, Moulay Driss; Babekri, El Hassane; Nadmi, Mustapha (2020). "Morocco: Contributions to Mathematics Education From Morocco". Dalam Vogeli, Bruce R.; Tom, Mohamed E. A. El (ed.). Mathematics And Its Teaching In The Muslim World (dalam bahasa Inggris). World Scientific. ISBN978-981-314-679-2.
Attie-Picker, Mario (2020). "Does Skepticism Lead to Tranquility? Exploring a Pyrrhonian Theme". Dalam Lombrozo, Tania; Knobe, Joshua; Nichols, Shaun (ed.). Oxford Studies in Experimental Philosophy. Vol.3. Oxford University Press. hlm.97–125. doi:10.1093/oso/9780198852407.003.0005. ISBN978-0-19-885240-7.
Awad, Elias M.; Ghaziri, Hassan (2003). Knowledge Management (dalam bahasa Inggris). Pearson Education India. ISBN978-93-325-0619-0.
Baehr, Jason S. (2022). "A Priori and A Posteriori". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2019. Diakses tanggal 17 September 2022.
Baggini, J.; Southwell, G. (2016). Philosophy: Key Themes (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN978-1-137-00887-9.
Baird, Tess; Maskill, Linda (2017). "Memory". Dalam Maskill, Linda; Tempest, Stephanie (ed.). Neuropsychology for Occupational Therapists: Cognition in Occupational Performance (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN978-1-118-71132-3.
Barnett, Michael (2006). "Vocational Knowledge and Vocational Pedagogy". Dalam Young, Michael; Gamble, Jeanne (ed.). Knowledge, Curriculum and Qualifications for South African Further Education (dalam bahasa Inggris). HSRC Press. ISBN978-0-7969-2154-3.
Beins, Bernard C. (2017). Research Method: A Tool for Life (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN978-1-108-43623-6.
Bergström, Lars (1987). "On the Value of Scientific Knowledge". Dalam Lehrer, Keith (ed.). Science and Ethics (dalam bahasa Inggris). Rodopi. ISBN978-90-6203-670-7.
Bird, Alexander (2022). "Thomas Kuhn". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 August 2018. Diakses tanggal 18 March 2024.
Black, Charlene Villaseñor; Álvarez, Mari-Tere (2019). Renaissance Futurities: Science, Art, Invention (dalam bahasa Inggris). University of California Press. ISBN978-0-520-96951-3.
Blayney, Benjamin, ed. (1769). "Genesis". The King James Bible. Oxford University Press. OCLC745260506. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 January 2023. Diakses tanggal 30 January 2023.
Bosančić, Saša (2018). "Self-positioning of Semi-skilled Workers: Analysing Subjectification Processes with SKAD". The Sociology of Knowledge Approach to Discourse: Investigating the Politics of Knowledge and Meaning-making. Routledge. ISBN978-1-138-04872-0.
Bowen, James; Gelpi, Ettore; Anweiler, Oskar (2023). "Education". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 December 2007. Diakses tanggal 30 April 2023.
Bukoye, Roseline Olufunke (2019). "Utilization of Instruction Materials as Tools for Effective Academic Performance of Students: Implications for Counselling". The 2nd Innovative and Creative Education and Teaching International Conference. ICETIC. hlm.1395. doi:10.3390/proceedings2211395.
Burke, Peter (2015). What Is the History of Knowledge? (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN978-1-5095-0306-3.
Castilho, Luciana V.; Lopes, Heitor S. (2009). "An Ontology-Based System for Knowledge Management and Learning in Neuropediatric Physiotherapy". Dalam Szczerbicki, Edward; Nguyen, Ngoc Thanh (ed.). Smart Information and Knowledge Management: Advances, Challenges, and Critical Issues (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. ISBN978-3-642-04583-7.
CD staff. "Knowledge". Cambridge Advanced Learner's Dictionary & Thesaurus. Cambridge University Press. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 November 2023. Diakses tanggal 3 December 2023.
Celenza, Christopher S. (2021). The Italian Renaissance and the Origin of the Humanities: An Intellectual History, 1400–1800 (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN978-1-108-83340-0.
Christopher, Jabez; Prasath, Rajendra; Vanga, Odelu (2018). "Expert Intelligence: Theory of the Missing Facet". Dalam Groza, Adrian; Prasath, Rajendra (ed.). Mining Intelligence and Knowledge Exploration: 6th International Conference (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN978-3-030-05918-7.
Clark, Kelly James (2022). "Religious Epistemology". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 September 2022. Diakses tanggal 21 September 2022.
Clegg, Joshua W. (2022). Good Science: Psychological Inquiry as Everyday Moral Practice (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN978-1-009-02181-4.
Cohen, Robert S. (2013). The Natural Sciences and the Social Sciences: Some Critical and Historical Perspectives (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. ISBN978-94-017-3391-5.
Colander, David C. (2016). Social Science: An Introduction to the Study of Society (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN978-1-317-22573-7.
Conner, Clifford D. (2009). A People's History of Science: Miners, Midwives, and Low Mechanicks (dalam bahasa Inggris). Bold Type Books. ISBN978-0-7867-3786-4.
Cosman, Madeleine Pelner; Jones, Linda Gale (2009). Handbook to Life in the Medieval World, 3-Volume Set (dalam bahasa Inggris). Infobase Publishing. ISBN978-1-4381-0907-7.
Degenhardt, M. A. B. (2019). Education and the Value of Knowledge (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm.1–6. ISBN978-1-000-62799-2.
Delahunty, Andrew; Dignen, Sheila (2012). "Tree of Knowledge". Oxford Dictionary of Reference and Allusion (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm.365. ISBN978-0-19-956746-1.
Desouza, K.; Awazu, Y. (2005). Engaged Knowledge Management: Engagement with New Realities (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN978-0-230-00607-2.
Dika, Tarek (2023). Descartes's Method: The Formation of the Subject of Science (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN978-0-19-286986-9.
Dodd, Ashley C.; Zambetti, Benjamin R.; Deneve, Jeremiah (2023). "Scientific Method". Translational Surgery (dalam bahasa Inggris). Elsevier. ISBN978-0-323-90630-2.
Faber, Niels R.; Maruster, Laura; Jorna, René J. (2017). "Assessing and Determining Social Sustainability". Dalam Jorna, René (ed.). Sustainable Innovation: The Organisational, Human and Knowledge Dimension (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN978-1-351-28034-1.
Fagan, Brian M.; Durrani, Nadia (2016). World Prehistory: A Brief Introduction (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN978-1-317-27910-5.
Forrest, Peter (2021). "The Epistemology of Religion". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 July 2022. Diakses tanggal 21 September 2022.
Foxall, Gordon (2017). Context and Cognition in Consumer Psychology: How Perception and Emotion Guide Action (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm.75. ISBN978-1-317-67738-3.
Friesen, Norm (2017). The Textbook and the Lecture: Education in the Age of New Media (dalam bahasa Inggris). JHU Press. ISBN978-1-4214-2434-7.
Gabriel, Cle-Anne (2022). Why Teach with Cases?: Reflections on Philosophy and Practice (dalam bahasa Inggris). Emerald Group Publishing. ISBN978-1-80382-399-7.
Gascoigne, Neil; Thornton, Tim (2014). Tacit Knowledge (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm.8, 37, 81, 108. ISBN978-1-317-54726-6.
Gauch, Hugh G. (2003). Scientific Method in Practice (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN978-0-521-01708-4.
George, Theodore (2021). "Hermeneutics". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 6 March 2024.
Gertler, Brie (2021). "Self-Knowledge". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 November 2021. Diakses tanggal 22 October 2022.
Ghose, Aurobindo (1998). "Political Writings and Speeches. 1890–1908: The Glory of God in Man". Bande Mataram II. Sri Aurobindo Ashram Publication Department. ISBN978-81-7058-416-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 March 2023. Diakses tanggal 9 March 2023.
Gilliot, Claude (2018). "Libraries". Dalam Meri, Josef (ed.). Routledge Revivals: Medieval Islamic Civilization (2006): An Encyclopedia - Volume II (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN978-1-351-66813-2.
Gutting, Gary; Oksala, Johanna (2022). "Michel Foucault". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 September 2018. Diakses tanggal 18 March 2024.
Hasan, Ali; Fumerton, Richard (2022). "Foundationalist Theories of Epistemic Justification". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 August 2019. Diakses tanggal 11 December 2023.
Haymes, Brian; Özdalga, Elisabeth (2016). Concept Of The Knowledge Of God (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm.26–28. ISBN978-1-349-19066-9.
Hepburn, Brian; Andersen, Hanne (2021). "Scientific Method". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 February 2020. Diakses tanggal 23 July 2022.
Hetherington, Stephen. Fallibilism. Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 August 2020. Diakses tanggal 13 December 2023.
Hirschberger, Johannes (2019). A Short History Western Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN978-1-000-31145-7.
Hoad, T. F. (1993). The Concise Oxford Dictionary of English Etymology. Oxford University Press. ISBN978-0-19-283098-2.
Hookway, Christopher (8 November 2012). The Pragmatic Maxim: Essays on Peirce and Pragmatism (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN978-0-19-958838-1.
Howell, Kerry E. (2013). An Introduction to the Philosophy of Methodology. Sage. ISBN978-1-4462-0298-2.
Hunter, Lynette (2009). "Situated Knowledge". Mapping Landscapes for Performance as Research: Scholarly Acts and Creative Cartographies (dalam bahasa Inggris). Palgrave Macmillan UK. hlm.151–153. doi:10.1057/9780230244481_23. ISBN978-0-230-24448-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 September 2022. Diakses tanggal 19 September 2022.
Ichikawa, Jonathan Jenkins; Steup, Matthias (2018). "The Analysis of Knowledge". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 May 2022. Diakses tanggal 24 May 2022.
Johnson, Mark S.; Stearns, Peter N. (2023). Education in World History (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN978-1-317-81337-8.
Jones, Constance; Ryan, James D. (2006). Encyclopedia of Hinduism (dalam bahasa Inggris). Infobase Publishing. ISBN978-0-8160-7564-5.
Jorna, René (2017). Sustainable Innovation: The Organisational, Human and Knowledge Dimension (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN978-1-351-28034-1.
Kemmis, Stephen; Edwards-Groves, Christine (2017). Understanding Education: History, Politics and Practice (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN978-981-10-6433-3.
Kern, Andrea (2017). Sources of Knowledge: On the Concept of a Rational Capacity for Knowledge (dalam bahasa Inggris). Harvard University Press. hlm.8–10, 133. ISBN978-0-674-41611-6.
Kernis, Michael H. (2013). Self-Esteem Issues and Answers: A Sourcebook of Current Perspectives (dalam bahasa Inggris). Psychology Press. hlm.209. ISBN978-1-134-95270-0.
Khatoon, Naima (2012). General Psychology (dalam bahasa Inggris). Pearson Education India. ISBN978-81-317-5999-8.
Kitchener, Richard F. (1996). "Genetic Epistemology and Cognitive Psychology of Science". Dalam O'Donohue, William; Kitchener, Richard F. (ed.). The Philosophy of Psychology (dalam bahasa Inggris). Sage. ISBN978-0-85702-612-5.
Klenke, Karin (2014). "Sculpting the Contours of the Qualitative Landscape of Leadership Research". Dalam Day, David (ed.). The Oxford Handbook of Leadership and Organizations (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN978-0-19-021377-0.
Kreeft, Peter; Tacelli, Ronald K. (2009). Handbook of Christian Apologetics (dalam bahasa Inggris). InterVarsity Press. ISBN978-0-8308-7544-3.
Kuhn, Thomas S. (1992). The Copernican Revolution: Planetary Astronomy in the Development of Western Thought (dalam bahasa Inggris). Harvard University Press. ISBN978-0-674-41747-2.
Kuruk, Paul (2020). Traditional Knowledge, Genetic Resources, Customary Law and Intellectual Property: A Global Primer (dalam bahasa Inggris). Edward Elgar Publishing. hlm.25. ISBN978-1-78536-848-6.
Landau, Iddo (2017). Finding Meaning in an Imperfect World (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN978-0-19-065768-0.
Thornton, Tim; Lanzer, Peter (2018). Lanzer, Peter (ed.). Textbook of Catheter-Based Cardiovascular Interventions: A Knowledge-Based Approach (dalam bahasa Inggris). Springer Nature. ISBN978-3-319-55994-0.
Lee, Jerry Won (2017). The Politics of Translingualism: After Englishes (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm.67. ISBN978-1-315-31051-0.
Legg, Catherine; Hookway, Christopher (2021). "Pragmatism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 October 2020. Diakses tanggal 24 March 2024.
Legge, Dominic (2017). The Trinitarian Christology of St Thomas Aquinas (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN978-0-19-879419-6.
Lehrer, Keith (2015). "1. The Analysis of Knowledge". Theory of Knowledge (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN978-1-135-19609-7.
Leondes, Cornelius T. (2001). Expert Systems: The Technology of Knowledge Management and Decision Making for the 21st Century (dalam bahasa Inggris). Elsevier. ISBN978-0-08-053145-8.
Lilley, Simon; Lightfoot, Geoffrey; Amaral, Paulo (2004). Representing Organization: Knowledge, Management, and the Information Age (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm.162–163. ISBN978-0-19-877541-6.
Lycan, William G. (2019). "2. Moore Against the New Skeptics". On Evidence in Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm.21–36. ISBN978-0-19-256526-6.
Magee, Bryan; Popper, Karl R. (1971). "Conversation with Karl Popper". Dalam Magee, Bryan (ed.). Modern British Philosophy. St. Martin's Press. hlm.74–75. ISBN978-0-19-283047-0. OCLC314039. Popper: Putting our ideas into words, or better, writing them down, makes an important difference. ... It is what I call 'knowledge in the objective sense'. Scientific knowledge belongs to it. It is this knowledge which is stored in our libraries rather than our heads. Magee: And you regard the knowledge stored in our libraries as more important than the knowledge stored in our heads. Popper: Much more important, from every point of view
Mahadevan, Kanchana (2007). "Gadamerian Hermeneutics: Between Strangers and Friends". Dalam Ghosh, Manjulika; Ghosh, Raghunath (ed.). Language and Interpretation: Hermeneutics from East-West Perspective (dalam bahasa Inggris). Northern Book Centre. ISBN978-81-7211-230-1.
Markie, Peter J. (1998). "Rationalism". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 June 2021. Diakses tanggal 8 January 2024.
Markie, Peter; Folescu, M. (2023). "Rationalism vs. Empiricism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 August 2006. Diakses tanggal 29 February 2024.
McCain, Kevin; Stapleford, Scott; Steup, Matthias (2021). Epistemic Dilemmas: New Arguments, New Angles (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm.111. ISBN978-1-000-46851-9.
McCormick, Matt. "Kant, Immanuel: Metaphysics". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 February 2024. Diakses tanggal 29 February 2024.
McDermid, Douglas (2023). "Pragmatism: 2b. Anti-Cartesianism". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 May 2019. Diakses tanggal 7 March 2023.
Misak, Cheryl (2002). Truth, Politics, Morality: Pragmatism and Deliberation (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm.53. ISBN978-1-134-82618-6.
Mishra, T. K. (2021). The Power of Ethics: Some Lessons from the Bhagavad-Gita (dalam bahasa Inggris). K.K. Publications. hlm.52. ISBN978-81-7844-127-6.
Morrison, Robert (2005). The Cambridge Handbook of Thinking and Reasoning (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm.371. ISBN978-0-521-82417-0.
Moser, Paul K. (1998). "A priori". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 May 2021. Diakses tanggal 8 January 2024.
Moser, Paul K. (2005). "13. Scientific Knowledge". The Oxford Handbook of Epistemology (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN978-0-19-020818-9.
Moser, Paul K. (2016). "A Posteriori". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 September 2022. Diakses tanggal 18 September 2022.
Mulsow, Martin (2018). "6. History of Knowledge". Dalam Tamm, Marek; Burke, Peter (ed.). Debating New Approaches to History (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. ISBN978-1-4742-8193-5.
Murphy, Patricia (2003). "1. Defining Pedagogy". Dalam Gipps, Caroline V. (ed.). Equity in the Classroom: Towards Effective Pedagogy for Girls and Boys (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN978-1-135-71682-0.
MW Staff (2023). "Definition of Knowledge". Merriam-Webster (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 December 2023. Diakses tanggal 3 December 2023.
Myers, Michael D. (2009). Qualitative Research in Business & Management (dalam bahasa Inggris). Sage Publications. ISBN978-1-4129-2165-7.
Niiniluoto, Ilkka (2019). "Scientific Progress". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 March 2023. Diakses tanggal 8 March 2023.
O'Brien, Dan (2006). An Introduction to the Theory of Knowledge (dalam bahasa Inggris). Polity. ISBN978-0-7456-3316-9.
O'Brien, Daniel (2022). "The Epistemology of Perception". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 May 2009. Diakses tanggal 25 October 2022.
O'Grady, Paul. "Relativism". Oxford Bibliographies (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 March 2024. Diakses tanggal 6 March 2024.
Pavese, Carlotta (2022). "Knowledge How". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 November 2023. Diakses tanggal 12 December 2023.
Payne, William Harold (2003). "Contributions to the Science of Education and The Education of Teachers". Dalam Salvatori, Mariolina Rizzi (ed.). Pedagogy: Disturbing History, 1820-1930 (dalam bahasa Inggris). University of Pittsburgh Press. ISBN978-0-8229-7246-4.
Peels, Rik (2023). Ignorance: A Philosophical Study (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm.28. ISBN978-0-19-765451-4.
Pinch, T. (2013). Confronting Nature: T́he Sociology of Solar-Neutrino Detection (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. ISBN978-94-015-7729-8.
Plantinga, Alvin (2018). "Scientism: Who Needs It?". Dalam Ridder, Jeroen de; Peels, Rik; Woudenberg, Rene van (ed.). Scientism: Prospects and Problems (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN978-0-19-046276-5.
Poston, Ted. "Foundationalism". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 November 2011. Diakses tanggal 11 December 2023.
Powell, Timothy (2020). The Value of Knowledge: The Economics of Enterprise Knowledge and Intelligence (dalam bahasa Inggris). Walter de Gruyter. ISBN978-3-11-059304-4.
Power, Richenda (2014). A Question of Knowledge (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN978-1-317-88375-3.
Pritchard, Duncan (2007). "Recent Work on Epistemic Value". American Philosophical Quarterly. 44 (2): 85–110. JSTOR20464361.
Pritchard, Duncan (2013). What Is This Thing Called Knowledge? (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN978-1-134-57367-7.
Pritchard, Duncan; Turri, John; Carter, J. Adam (2022). "The Value of Knowledge". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 July 2022. Diakses tanggal 19 September 2022.
Rambachan, Anantanand (2006). The Advaita Worldview: God, World, and Humanity (dalam bahasa Inggris). SUNY Press. ISBN978-0-7914-6851-7.
Reginster, Bernard (2017). "Self-knowledge as Freedom in Schopenhauer and Freud". Dalam Renz, Ursula (ed.). Self-knowledge: A History (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN978-0-19-022642-8.
Rescher, Nicholas (2005). Epistemic Logic: A Survey of the Logic of Knowledge (dalam bahasa Inggris). University of Pittsburgh Press. ISBN978-0-8229-7092-7.
Rescher, Nicholas (2009). Unknowability: An Inquiry into the Limits of Knowledge. Lexington books. ISBN978-0-7391-3615-7.
Russell, Bruce (2020). "A Priori Justification and Knowledge". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 August 2021. Diakses tanggal 18 September 2022.
Rutten, Emanuel (2012). A Critical Assessment of Contemporary Cosmological Arguments: Towards a Renewed Case for Theism (dalam bahasa Inggris). Vrije Universiteit. ISBN978-90-819608-0-9.
Sayre-McCord, Geoff (2023). "Metaethics". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 12, 2023. Diakses tanggal 19 December 2023.
Scheler, Max; Stikkers, Kenneth W. (2012). Problems of a Sociology of Knowledge (Routledge Revivals) (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm.23. ISBN978-0-415-62334-6.
Schneider, W. Joel; McGrew, Kevin S. (2022). "The Cattell-Horn-Carroll Theory of Cognitive Abilities". Dalam Flanagan, Dawn P.; McDonough, Erin M. (ed.). Contemporary Intellectual Assessment: Theories, Tests, and Issues (dalam bahasa Inggris). Guilford Publications. ISBN978-1-4625-5203-0.
Shorten, Allison; Smith, Joanna (2017). "Mixed methods research: expanding the evidence base". Evidence Based Nursing. 20 (3): 74–75. doi:10.1136/eb-2017-102699. PMID28615184.
Sinnott-Armstrong, Walter (2019). "Moral Skepticism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 August 2019. Diakses tanggal 3 March 2024.
Sonneveld, Helmi B.; Loening, Kurt L. (1993). Terminology: Applications in interdisciplinary communication (dalam bahasa Inggris). John Benjamins Publishing. ISBN978-90-272-7400-7.
Spaulding, Shannon (2016). "Imagination Through Knowledge". Dalam Kind, Amy; Kung, Peter (ed.). Knowledge Through Imagination (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN978-0-19-102619-5.
Stanley, Jason; Willlamson, Timothy (2001). "Knowing How". Journal of Philosophy. 98 (8): 411–444. doi:10.2307/2678403. JSTOR2678403. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 June 2022. Diakses tanggal 12 June 2022.
Stehr, Nico; Adolf, Marian T. (2016). "The Price of Knowledge". Social Epistemology. 30 (5–6): 483–512. doi:10.1080/02691728.2016.1172366.
Steinberg, Sheila (1995). Introduction to Communication Course Book 1: The Basics (dalam bahasa Inggris). Juta and Company Ltd. ISBN978-0-7021-3649-8.
Stoltz, Jonathan (2021). Illuminating the Mind: An Introduction to Buddhist Epistemology (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN978-0-19-090756-3.
Stroll, Avrum (2023). "Epistemology". Encyclopædia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 July 2019. Diakses tanggal 20 May 2022.
Travers, Max (2001). Qualitative Research through Case Studies (dalam bahasa Inggris). Sage. ISBN978-1-4462-7627-3.
Trefil, James (2012). "Islamic Science". Science in World History (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN978-1-136-49929-6.
Truncellito, David A. (2023). "Epistemology". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 January 2022. Diakses tanggal 8 March 2023.
Tufari, P. (2003). "Knowledge, Sociology of". New Catholic Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). Thomson/Gale. ISBN978-0-7876-4008-8.
Turri, John; Alfano, Mark; Greco, John (2021). "Virtue Epistemology: 6. Epistemic Value". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 March 2023. Diakses tanggal 20 September 2022.
Van Nieuwenhove, Rik (2020). "Trinitarian Indwelling". Dalam Howells, Edward; McIntosh, Mark A. (ed.). The Oxford Handbook of Mystical Theology (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN978-0-19-103406-0.
Vempala, Naresh N. (2014). "Creativity, Theories of Musical". Dalam Thompson, William Forde (ed.). Music in the Social and Behavioral Sciences: An Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). SAGE Publications. ISBN978-1-4522-8302-9.
Walton, Linda (2015). "Educational Institutions". Dalam Kedar, Benjamin Z.; Wiesner-Hanks, Merry E. (ed.). The Cambridge World History: Volume 5, Expanding Webs of Exchange and Conflict, 500CE–1500CE (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN978-1-316-29775-9.
Williams, Garrath (2023). "Kant's Account of Reason". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diakses tanggal 29 February 2024.
Wilson, Timothy D. (2002). Strangers to Ourselves: Discovering the Adaptive Unconscious. Harvard University Press. ISBN0-674-00936-3.
Windt, Jennifer M. (2021). "Dreams and Dreaming". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 February 2024. Diakses tanggal 12 December 2023.
Wise, C. (2011). Chomsky and Deconstruction: The Politics of Unconscious Knowledge (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN978-0-230-11705-1.