Konfabulasi adalah suatu kesalahan ingatan berupa produksi ingatan yang dibuat-buat, terdistorsi, atau salah tafsir mengenai diri sendiri atau dunia. Fenomena ini umumnya terkait dengan jenis-jenis kerusakan otak tertentu atau subkelompok tertentu dari demensia. Meskipun masih menjadi bidang penelitian yang aktif, basal forebrain diyakini berperan dalam terjadinya konfabulasi. Individu yang mengalami konfabulasi menampilkan ingatan yang salah, mulai dari ketidakakuratan halus hingga fabrikasi yang surealis, dan sering kali mencakup kebingungan atau distorsi dalam kerangka temporal dari ingatan mereka. Secara umum, mereka sangat yakin terhadap ingatan mereka, bahkan ketika dihadapkan pada bukti yang bertentangan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Konfabulasi adalah suatu kesalahan ingatan berupa produksi ingatan yang dibuat-buat, terdistorsi, atau salah tafsir mengenai diri sendiri atau dunia. Fenomena ini umumnya terkait dengan jenis-jenis kerusakan otak tertentu (khususnya aneurisma pada arteri komunikans anterior) atau subkelompok tertentu dari demensia.[1] Meskipun masih menjadi bidang penelitian yang aktif, basal forebrain diyakini berperan dalam terjadinya konfabulasi. Individu yang mengalami konfabulasi menampilkan ingatan yang salah, mulai dari ketidakakuratan halus hingga fabrikasi yang surealis, dan sering kali mencakup kebingungan atau distorsi dalam kerangka temporal (waktu, urutan, atau durasi) dari ingatan mereka.[2] Secara umum, mereka sangat yakin terhadap ingatan mereka, bahkan ketika dihadapkan pada bukti yang bertentangan.[3]
Konfabulasi terjadi ketika individu secara keliru mengingat informasi yang salah, tanpa niat untuk menipu. Kerusakan otak, demensia, dan toksidrom antikolinergik dapat memicu distorsi ini. Terdapat dua jenis konfabulasi: yang diprovokasi dan yang spontan, dengan dua perbedaan: verbal dan perilaku. Pernyataan verbal, informasi palsu, dan ketidaksadaran pasien terhadap distorsi tersebut merupakan ciri dari fenomena ini. Struktur kepribadian juga memainkan peran dalam terjadinya konfabulasi.
Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan konfabulasi. Neuropsychological teori menyatakan bahwa disfungsi kognitif menyebabkan distorsi tersebut. Teori identitas diri berpendapat bahwa individu melakukan konfabulasi untuk mempertahankan diri. Teori temporalitas percaya bahwa konfabulasi terjadi ketika seseorang tidak mampu menempatkan peristiwa secara tepat dalam waktu. Teori pemantauan dan pengambilan strategis berargumen bahwa konfabulasi muncul ketika individu tidak dapat mengingat memori dengan benar atau mengawasinya setelah pengambilan. Teori kontrol eksekutif dan jejak samar (fuzzy-trace) juga berupaya menjelaskan mengapa konfabulasi terjadi.
Konfabulasi dapat muncul akibat cedera atau penyakit sistem saraf, termasuk sindrom Korsakoff, penyakit Alzheimer, skizofrenia, dan cedera otak traumatis. Dipercaya bahwa kerusakan terjadi pada lobus frontal kanan otak, sehingga menimbulkan ingatan palsu. Anak-anak sangat rentan terhadap konfabulasi yang dipaksakan karena mereka sangat mudah terpengaruh. Umpan balik dapat meningkatkan keyakinan terhadap ingatan yang salah. Dalam kasus yang jarang, konfabulasi juga dapat terjadi pada individu normal.
Berbagai tes memori, termasuk tugas pengenalan dan tugas ingatan bebas, dapat digunakan untuk mempelajari konfabulasi. Pengobatan bergantung pada penyebab mendasar dari distorsi tersebut. Penelitian yang sedang berlangsung bertujuan untuk mengembangkan baterai tes standar guna membedakan berbagai jenis konfabulasi, membedakan delusi dari konfabulasi, memahami peran proses bawah sadar, dan mengidentifikasi konfabulasi patologis maupun nonpatologis.
| Klasifikasi |
|---|