Karier
Boediono pertama kali diangkat menjadi menteri pada tahun 1998 dalam Kabinet Reformasi Pembangunan sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. Setahun kemudian, ketika terjadi peralihan kabinet dan kepemimpinan dari Presiden BJ Habibie ke Abdurrahman Wahid, ia digantikan oleh Kwik Kian Gie. Bersama dengan beberapa tokoh nasional, ia turut mendirikan Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan untuk mendorong reformasi.[10]
Ia kembali diangkat sebagai Menteri Keuangan pada tahun 2001 dalam Kabinet Gotong Royong menggantikan Rizal Ramli. Sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Gotong Royong, ia membawa Indonesia lepas dari bantuan Dana Moneter Internasional dan mengakhiri kerja sama dengan lembaga tersebut.[11] Oleh BusinessWeek, ia dipandang sebagai salah seorang menteri yang paling berprestasi dalam kabinet tersebut.[12] Di kabinet tersebut, ia bersama Menteri Koordinator Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dijuluki 'The Dream Team' karena mereka dinilai berhasil menguatkan stabilitas makroekonomi Indonesia yang belum sepenuhnya pulih dari Krisis Moneter 1998. Ia juga berhasil menstabilkan kurs rupiah di angka kisaran Rp 9.000 per dolar AS.[13]
Ketika Susilo Bambang Yudhoyono terpilih sebagai presiden, banyak orang yang mengira bahwa Boediono akan dipertahankan dalam jabatannya, tetapi posisinya ternyata ditempati Jusuf Anwar. Menurut laporan, Boediono sebenarnya telah diminta oleh Presiden Yudhoyono untuk bertahan, tetapi ia memilih untuk beristirahat dan kembali mengajar. Saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan perombakan (reshuffle) kabinet pada 5 Desember 2005, Boediono diangkat menggantikan Aburizal Bakrie menjadi Menteri Koordinator bidang Perekonomian. Indikasi Boediono akan menggantikan Aburizal Bakrie direspon sangat positif oleh pasar sejak hari sebelumnya dengan menguatnya IHSG serta mata uang rupiah. Kurs rupiah menguat hingga di bawah Rp 10.000 per dolar AS. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEJ juga ditutup menguat hingga 23,046 poin (naik sekitar 2 persen) dan berada di posisi 1.119,417, berhasil menembus level 1.100.[14] Ini karena Boediono dinilai mampu mengelola makro-ekonomi yang kala itu belum didukung pemulihan sektor riil dan moneter.
Pada tanggal 9 April 2008, DPR mengesahkan Boediono sebagai Gubernur Bank Indonesia, menggantikan Burhanuddin Abdullah. Ia merupakan calon tunggal yang diusulkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pengangkatannya didukung oleh Burhanuddin Abdullah, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Kamar Dagang Industri atau Kadin, serta seluruh anggota DPR kecuali fraksi PDIP.[15]
Ketika namanya diumumkan sebagai calon wakil presiden mendampingi calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada bulan Mei 2009, banyak pihak yang tidak bisa menerima dengan berbagai alasan, seperti tidak adanya pengalaman politik, pendekatan ekonominya yang liberal, serta bahwa ia juga orang Jawa (SBY juga orang Jawa). Namun, ia dipilih oleh SBY karena ia sangat bebas kepentingan dan konsisten dalam melakukan reformasi di bidang keuangan. Pasangan ini didukung Partai Demokrat dan 23 partai lainnya, termasuk PKB, PPP, PKS, dan PAN. Pada Pemilihan Umum 8 Juli 2009, pasangan SBY-Boediono menang atas dua pesaingnya, Megawati—Prabowo dan Kalla—Wiranto.
Jabatan politik
Boediono menjadi calon wakil presiden 2009–2014 mendampingi calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dideklarasikan 15 Mei 2009 di Sasana Budaya Ganesha kota Bandung. Jika terpilih, dia akan menjadi wakil presiden pertama yang berlatar belakang ekonomi dan non-partisan setelah Mohammad Hatta (wakil presiden pertama RI). Dalam acara ini dirilis sistem ekonomi moralistik, manusiawi, nasionalistik dan kerakyatan atau kemasyarakatan.[16] Boediono berangkat ke Bandung dengan menggunakan kereta api regular Parahyangan.[17][18]
Jabatan lain
- Executive Board for Asia - Wharton Advisory Boards, The Wharton School of the University of Pennsylvania[19]
- Commissioner of Commission on Growth and Development[20]
Penghargaan
Boediono mendapat penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana tahun 1999[21] dan "Distinguished International Alumnus Award" dari University of Western Australia pada tahun 2007.[22] Setelah menjadi Wakil Presiden, Boediono juga menerima beberapa tanda kehormatan bintang sipil.[23]
Penerimaan
Baik saat sebagai wakil presiden maupun ketika masih menjabat Menteri Keuangan, Menteri Koordinator Ekonomi, ataupun Gubernur BI, kebijakan Boediono disikapi secara beragam oleh berbagai kalangan.
- Pasar diprediksi akan sambut positif pemilihannya sebagai calon wakil presiden.[24][25][26]
- Beberapa pengusaha merasa sangat yakin dengan kemampuan ekonominya, tetapi masih meragukan kemampuan politiknya.[27]
- Isu penentangan Boediono sebagai cawapres yang lain adalah bahwa ia tidak mewakili tokoh partai, dan ia bukan pula representasi dari partai politik Islam sebagaimana Gus Dur-Mega, Mega-Hamzah Haz dan SBY-JK.[28][29]
- Undang-Undang Surat Berharga Syariah Negara dan Perbankan Syariah berhasil diwujudkan ketika Boediono menjabat Menteri Koordinator Perekonomian pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.[30][31]
- Hendri Saparini, orang dekat Rizal Ramli,[32][33] dan analis ekonomi-politik, melihat Boediono, yang kini menjabat gubernur BI hendak membawa negara Indonesia ke arah neoliberal. Indikasinya, utang negara secara nominal bertambah Rp 400 triliun dalam periode 2004-2009.[butuh rujukan] Walau demikian, perlu dicatat bahwa sebenarnya rasio hutang(debt ratio) kita turun drastis dari 100% pada tahun 1999, 56% pada tahun 2004, dan tahun 2009 tinggal 30-35%[34] sekalipun nominal besarnya utang kurang lebih sama selama periode 2003-2008[35]
- Pada saat menjabat sebagai Menteri Keuangan pada Kabinet Pemerintahan Megawati Soekarnoputri, Boediono menyatakan bahwa pada dasarnya subsidi bagi rakyat harus dihapus. Ketika para petani tebu meminta proteksi, Boediono dengan menyarankan agar petani tebu menanam komoditas lain bila tebu dinilai tidak menguntungkan, ini dinilai sejumlah kalangan bertentangan dengan orientasi kemandirian pangan. Tampaknya pendapat Boediono sejalan dengan Taufiq Kiemas, suami Megawati, yang menyatakan bahwa subsidi seperti candu.[36]
- Kwik Kian Gie mengatakan, Boediono memiliki peran penting dalam proses keluarnya kebijakan pemerintah terkait penyelesaian BLBI. Pasalnya, Boediono saat itu merupakan menteri keuangan pemerintahan Megawati yang tahu betul tata cara penyelesaian utang bagi para obligor BLBI. Dia (Boediono) tahu seluk-beluk ini (BLBI)[37][38]
- Sejumlah ekonom seperti Ekonom UGM, Prof. Dr. Mudrajad Kuncoro dan Chief Economist BNI, Tony Prasetiantono, menilai tuduhan kepada Boediono sebagai figur yang mengusung neoliberalisme dan titipan dari pihak asing sangatlah tidak berdasar. Boediono justru termasuk orang yang dekat dengan almarhum Prof. Mubyarto, tokoh UGM yang terkenal dengan gagasan ekonomi kerakyatan. Sepulang dari lulus PhD di Wharton School, University of Pennsylvania, Boediono turut membantu Prof. Mubyarto mengorganisasi Seminar Ekonomi Pancasila saat Dies Natalis Fakultas Ekonomi UGM di Bulaksumur, September 1980. Ketika hasil seminar ini dibukukan berjudul 'Ekonomi Pancasila' (penerbit BPFE Yogyakarta) tahun 1981, Boediono adalah editor buku tersebut. 'Ekonomi Pancasila' inilah yang bertransformasi dan dikenal sebagai 'Ekonomi Kerakyatan' belakangan ini.[39][40]
- Ekonom Faisal Basri juga menganggap tudingan 'neoliberal' dan 'antek IMF' pada Boediono sangat tidak berdasar. Ia justru menganggap kinerja Boediono dan Dorodjatun Kuntjoro-Jakti di pemerintahan Megawati cukup mengesankan dalam menstabilkan perekonomian Indonesia yang kacau kala itu. Boediono yang masuk kembali ke pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono pasca-reshuffle kabinet juga dinilai berhasil menyelamatkan perekonomian Indonesia yang sempat mengalami kemunduran dalam 2 tahun pertama Kabinet Indonesia Bersatu pra-reshuffle.
Karya dan publikasi
- Boediono, Ekonomi Indonesia Mau ke Mana?: Kumpulan Esai Ekonomi, 2009, PT Gramedia, Jakarta. ISBN 978-979-9101-89-1.
- Stabilization in A Period of Transition: Indonesia 2001-2004. dalam The Australian Government-The Treasury, Macroeconomic Policy and Structural Change in East Asia: Conference Proceedings, Sydney (2005), ISBN 0-642-74290-1, 43-48 pp.
- 'Managing The Indonesian Economy: Some Lessons From The Past?', Bulletin of Indonesia Economic Studies, 41(3):309-324, December 2005.
- 'Professor Mubyarto, 1938-2005'. Bulletin of Indonesian Economic Studies, 41(2):159-162, August 2005.
- 'Kebijakan Fiskal: Sekarang dan Selanjutnya?', dalam Subiyantoro dan S. Riphat (Eds.). 2004. Kebijakan Fiskal: Pemikiran, Konsep dan Implementasi. Penerbit Buku Kompas, 43-55 pp.
- The International Monetary Fund Support Program in Indonesia: Comparing Implementation Under Three Presidents. Bulletin of Indonesia Economic Studies, 38(3): 385-392, December 2002.
- Boediono. 2001. Indonesia menghadapi ekonomi global. BPFE. Yogyakarta.
- Boediono. 'Strategi Industrialisasi: Adakah Titik Temu ?', Prisma, Tahun XV, No.1. (1986)
- Mubyarto, Boediono, Ace Partadiredja. 1981. Ekonomi Pancasila. BPFE. Yogyakarta.
Galeri
Boediono bersama Ginandjar Kartasasmita, 1998.
Boediono saat menjadi menteri di
Kabinet Indonesia Bersatu, 2005.
Boediono di Forum Ekonomi Dunia di
Asia Timur, 2011.
Perangko Boediono, 2010.
Foto resmi Boediono sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, 2009.
Referensi
- ↑ Ade Mayasanto (19 Mei 2008). "Boediono Bantu SBY Hingga 22 Mei". Kompas.com. Kompas.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-09-03. Diakses tanggal 19 Mei 2008.
- ↑ "Obrolan Santai Dengan Istri Cawapres". Tabloid Nova. Diarsipkan dari asli tanggal 13 Juni 2009. Diakses tanggal 27 Juli 2009.
- ↑ "Boediono Diangkat Menjadi Guru Besar UGM". Kompas.com. Kompas. 22 September 2006. Diakses tanggal 25 Februari 2014.[pranala nonaktif permanen]
- ↑ "Pak Bud, Ekonom yang Sederhana". pemiluindonesia.com. 16 Mei 2009. Diakses tanggal 25 Februari 2014.[pranala nonaktif permanen]
- ↑ "Boediono & Cerita Masa Kecilnya". detikcom. 25 Maret 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-03-04. Diakses tanggal 25 Februari 2014. ;
- ↑ "Boediono & Istri Nostalgia di SMP Negeri 1 Blitar". detikcom. 4 Mei 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-03-04. Diakses tanggal 25 Februari 2014. ;
- ↑ "Boediono Bangga dengan Almamaternya". Tempo.co. Tempo.co. 19 Desember 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-02-28. Diakses tanggal 25 Februari 2014. ;
- ↑ "Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia". ekon.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-02-08. Diakses tanggal 2021-02-14.
- ↑ Nurdin, Syahdan (1 Juni 2016). "Boediono". Viva.co.id. Diakses tanggal 20 Januari 2024.
- ↑ "Para Pendiri Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan". Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan. Diakses tanggal 4 Maret 2015.
- ↑ "Prof. Dr. Boediono, Ekonom Bertangan Dingin". TokohIndonesia.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-04-04. Diakses tanggal 4 Maret 2015. ;
- ↑ "Profile in Business Week". Business Week. Edisi 9 Juli 2003. Diarsipkan dari asli tanggal 2009-05-16. Diakses tanggal 9 Juli 2003. ;
- ↑ Edy Haryadi (6 Mei 2009). "Mari Mengenal Boediono". VivaNews.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2009-05-09. Diakses tanggal 6 Mei 2009.
- ↑ Nurul Qomariyah (12 Februari 2005). "Boediono Akan Masuk Kabinet, IHSG Kembali Tembus Level 1.100". DetikFinance.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-03-25. Diakses tanggal 12 Februari 2005.
- ↑ "Boediono diangkat menjadi Gubernur Bank Indonesia". IRIB Indonesia. Diakses tanggal 19 Mei 2008.
- ↑ "Boediono Janji Rilis Kebijakan Prorakyat". DetikNews.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2009-05-18. Diakses tanggal 15 Mei 2009.
- ↑ "Canda Tawa di Kereta Boediono Seharga Rp 52 Ribu/Orang". DetikNews.com. 15 Mei 2009. Diarsipkan dari asli tanggal 2009-05-19. Diakses tanggal 15 Mei 2009.
- ↑ "Boediono Naik Parahyangan ke Bandung". DetikNews.com. 15 Mei 2009. Diarsipkan dari asli tanggal 2009-05-19. Diakses tanggal 15 Mei 2009.
- ↑ "Executive Board for Asia - Wharton Advisory Boards, University of Pennsylvania". University of Pennsylvania.[pranala nonaktif permanen]
- ↑ "Commissioner of Commission on Growth and Development World Bank". World Bank. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-10-18. Diakses tanggal 2009-05-15.
- ↑ "Prof. Dr. Boediono, M.Ec". Uniersitas Gadjah Mada. Diakses tanggal 2006. [pranala nonaktif permanen]
- ↑ "Boediono Raih Penghargaan". detikFinance. 10 Mei 2007. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-04-05. Diakses tanggal 10 Mei 2007. ; ;
- ↑ "Tanda Kehormatan yang dimiliki Presiden". Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 10 Mei 2019. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-03-18. Diakses tanggal 2021-12-17.
- ↑ "Pasar Bakal Sambut Positif jika Boediono Cawapres Diarsipkan 2009-05-17 di Wayback Machine.", KOMPAS, 14 Mei 2009
- ↑ Gustia, Irna. "Paket SBY-Boediono Positif di Mata Pasar Diarsipkan 2009-05-09 di Wayback Machine.", detikFinance, 5 Mei 2009
- ↑ Ma'ruf Muhammad. Pasar Merespons Positif Boediono[pranala nonaktif permanen], Okezone, 13 Mei 2009. Diakses pada 23 Mei 2010.
- ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-07. Diakses tanggal 2009-05-15.
- ↑ "PKS, PAN, dan PPP Tolak Boediono karena Tak Representasikan Islam". Diarsipkan dari asli tanggal 2009-05-19. Diakses tanggal 2009-05-15.
- ↑ "PKS Temui SBY untuk Tagih Janji". Diarsipkan dari asli tanggal 2009-05-19. Diakses tanggal 2009-05-17.
- ↑ "Selamat Datang UU Perbankan Syariah". Diarsipkan dari asli tanggal 2009-05-17. Diakses tanggal 2009-05-17.
- ↑ "Meski Ambisius, Target Pertumbuhan Bank Syariah Bisa Dicapai". Diarsipkan dari asli tanggal 2007-11-05. Diakses tanggal 2009-05-17.
- ↑ http://www.hupelita.com/baca.php?id=15130%5B%5D
- ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2009-05-11. Diakses tanggal 2009-05-15.
- ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2009-05-17. Diakses tanggal 2009-05-15.
- ↑ "Nominal Utang Luar Negeri". Diarsipkan dari asli tanggal 2009-05-13. Diakses tanggal 2009-05-15.
- ↑ http://www.sinarharapan.co.id/berita/0804/17/sh03.html Pertanyaan untuk Prof Dr Boediono Ab-Kusuma Sinar Harapan Kamis, 17 April 2008
- ↑ http://www.komisiyudisial.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1073%3ABoediono+Bisa+Dimintai+Keterangan&catid=1%3ABerita+Terakhir&Itemid=295&lang=in Diarsipkan 2020-06-05 di Wayback Machine. Boediono tahu seluk-beluk BLBI
- ↑ Kwik Tunjuk Budiono Bertanggungjawab Moril Soal BLBI Diarsipkan 2009-05-17 di Wayback Machine.. TempoInteraktif. Edisi 5-9-2007.
- ↑ "Mudrajat Kuncoro: Tudingan Neoliberal ke Boediono Bermuatan Politis". Diarsipkan dari asli tanggal 2020-06-04. Diakses tanggal 2009-05-19.
- ↑ Prasetiantono, A Tony. Neoliberalisme. Opini. KOMPAS. Rabu 27 Mei 2009. hlmn. 6
Pranala luar
|
|---|
|
|
|
|
- Menkeu: Sri Mulyani Indrawati, Agus Martowardojo, Hatta Rajasa (), Muhammad Chatib Basri
- Menteri ESDM: Darwin Zahedy Saleh, Jero Wacik, Chairul Tanjung ()
- Menperin: M. S. Hidayat
- Mendag: Mari Elka Pangestu, Gita Wirjawan, Bayu Krisnamurthi (), Muhammad Lutfi
- Mentan: Suswono
- Menhut: Zulkifli Hasan, Chairul Tanjung ()
- Menhub: Freddy Numberi, E.E. Mangindaan, Bambang Susantono ()
- Menlutkan: Fadel Muhammad, Sharif Cicip Sutarjo
- Menteri PU: Djoko Kirmanto
- Menkop UKM: Syarief Hasan, Muhammad Lutfi ()
- Menteri BUMN: Mustafa Abubakar, Dahlan Iskan
- Menpera: Suharso Monoarfa, Djan Faridz
- Menristek: Suharna Surapranata, Gusti Muhammad Hatta
|
|
- Menakertrans: Muhaimin Iskandar, Armida Alisjahbana ()
- Menristek: Suharna Surapranata, Gusti Muhammad Hatta
- Menkes: Endang Rahayu Sedyaningsih, Ali Ghufron Mukti (), Nafsiah Mboi
- Mendikbud (bernama Mendiknas sampai Oktober 2011): Mohammad Nuh
- Mensos: Salim Segaf Al-Jufri
- Menag: Suryadharma Ali, Agung Laksono (), Lukman Hakim Saifuddin
- Menparekraf: Jero Wacik, Mari Elka Pangestu
- Menteri LH: Gusti Muhammad Hatta, Balthasar Kambuaya
- Menteri PPPA: Linda Amalia Sari
- Menteri PDT: Helmy Faishal Zaini, Armida Alisjahbana ()
- Menpora: Andi Mallarangeng, Agung Laksono (), Roy Suryo
|
Menteri dan pejabat setingkat menteri yang dibawahi langsung oleh Presiden: |
|
|
|
|---|
|
Menko Polhukam: Widodo Adi Sutjipto • Menko Perekonomian: Aburizal Bakrie, Boediono, Sri Mulyani () • Menko Kesra: Alwi Shihab, Aburizal Bakrie • Mensesneg: Yusril Ihza Mahendra, Hatta Rajasa • Mendagri: Mohammad Ma'ruf, Widodo Adi Sutjipto (ad-interim), Mardiyanto • Menlu: Hassan Wirajuda • Menhan: Juwono Sudarsono • Menkumham: Hamid Awaluddin, Andi Mattalatta • Menkeu: Jusuf Anwar, Sri Mulyani • Menteri ESDM: Purnomo Yusgiantoro • Menperin: Andung A. Nitimiharja, Fahmi Idris • Mendag: Mari Elka Pangestu • Mentan: Anton Apriyantono • Menhut: M. S. Kaban • Menhub: Hatta Rajasa, Jusman Syafii Djamal • Menlutkan: Freddy Numberi • Menakertrans: Fahmi Idris, Erman Soeparno • Menteri PU: Djoko Kirmanto • Menkes: Siti Fadilah Supari • Mendiknas: Bambang Sudibyo • Mensos: Bachtiar Chamsyah • Menag: Muhammad Maftuh Basyuni • Menbudpar: Jero Wacik, Mohammad Nuh (ad-interim) • Menkominfo (bernama Menneg Kominfo sampai Januari 2005): Sofyan Djalil, Mohammad Nuh • Menneg Ristek (merangkap Kepala BPPT sampai April 2006): Kusmayanto Kadiman • Menneg Kop-UKM: Suryadharma Ali, Mari Elka Pangestu (ad-interim) • Menneg LH: Rachmat Witoelar • Menneg PP: Meutia Hatta • Menneg PAN: Taufiq Effendi, Widodo Adi Sutjipto (ad-interim) • Menneg PDT: Saifullah Yusuf, Muhammad Lukman Edy, Djoko Kirmanto (ad-interim) • Menneg PPN/Kepala Bappenas: Sri Mulyani Indrawati, Paskah Suzetta • Menneg BUMN: Soegiharto, Sofyan Djalil • Mennegpera: Muhammad Yusuf Asy'ari • Mennegpora: Adhyaksa Dault • Jakgung: Abdul Rahman Saleh, Hendarman Supandji • Panglima TNI: Endriartono Sutarto, Djoko Suyanto, Djoko Santoso • Kapolri: Da'i Bachtiar, Sutanto, Bambang Hendarso Danuri |
|
|
|---|
|
Menko Polkam: Feisal Tanjung • Menko Ekuin: Ginandjar Kartasasmita, Hartarto Sastrosoenarto () • Menko PP-PAN: Hartarto Sastrosoenarto • Menko Kesra : Haryono Suyono • Mendagri: Syarwan Hamid, Feisal Tanjung () • Menlu: Ali Alatas • Menhankam/Panglima ABRI: Wiranto • Menhak: Muladi • Menteri Penerangan: Yunus Yosfiah • Menkeu: Bambang Subianto • Menperindag: Rahardi Ramelan • Mentan: Soleh Solahudin • Mentamben: Kuntoro Mangkusubroto • Menhutbun: Muslimin Nasution • Menteri PU: Rachmadi Bambang Sumadhijo • Menhub: Giri Suseno Hadihardjono • Menparsenbud: Marzuki Usman, Giri Suseno Hadihardjono () • Menkopukm: Adi Sasono • Menaker: Fahmi Idris, A.M. Hendropriyono () • Menteri Trans-PPH: A.M. Hendropriyono • Menkes: Faried Anfasa Moeloek • Mendikbud: Juwono Soedarsono • Menag: Abdul Malik Fadjar • Mensos: Justika Baharsjah • Menteri PPN: Boediono • Menristek: Muhammad Zuhal • Menteri BUMN: Tanri Abeng • Menteri P dan H: A.M. Saefuddin, Soleh Solahudin () • Menteri Kependudukan: Ida Bagus Oka • Menves: Hamzah Haz, Marzuki Usman, Muhammad Zuhal () • Menteri Agraria: Hasan Basri Durin • Menpera: Theo L. Sambuaga, Rachmadi Bambang Sumadhijo () • Menteri LH: Panangian Siregar • Menperwan: Tuti Alawiyah • Menpora: Agung Laksono, Juwono Soedarsono () • Jaksa Agung: Soedjono C. Atmonegoro, Andi Muhammad Ghalib • Mensesneg: Akbar Tandjung, Muladi () |
|
|---|
| Internasional | |
|---|
| Nasional | |
|---|
| Lain-lain | |
|---|