Bendungan Leuwikeris adalah sebuah bendungan yang dibangun di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat untuk membendung aliran Citanduy. Bendungan ini terutama dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian seluas 11.216 hektar di Daerah Irigasi Lakbok Utara, dan Daerah Irigasi Lakbok Selatan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bendungan Leuwikeris | |
|---|---|
| Lokasi | Cijeungjing, Ciamis, Jawa Barat |
| Koordinat | 7°21′42″S 108°23′35″E / 7.3617119°S 108.3930475°E / -7.3617119; 108.3930475 |
| Kegunaan | Serbaguna |
| Status | beroperasi |
| Mulai dibangun | 2016 |
| Pemilik | Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat |
| Bendungan dan saluran pelimpah | |
| Tipe bendungan | Urugan |
| Tinggi (thalweg) | 74 m |
| Tinggi (fondasi) | 79,41 m |
| Panjang | 388 m |
| Lebar puncak | 14,5 m |
| Membendung | Citanduy |
| Waduk | |
| Kapasitas normal | 81.440.000 m3 |
| Luas genangan | 242,90 hektar |
Bendungan Leuwikeris adalah sebuah bendungan yang dibangun di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat untuk membendung aliran Citanduy. Bendungan ini terutama dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian seluas 11.216 hektar di Daerah Irigasi Lakbok Utara, dan Daerah Irigasi Lakbok Selatan.
Dengan nilai proyek pembangunan mencapai Rp 3,5 triliun menjadikan bendungan ini yang termahal se-Indonesia.[1]
Lahan pertanian di hilir Citanduy kerap dilanda banjir saat musim hujan, tetapi mengalami kekurangan air pada musim kemarau, sehingga menandai perlunya dibangun bendungan untuk menampung air dari sungai selama musim hujan, agar dapat dimanfaatkan di musim kemarau. Bendungan ini kemudian mulai dibangun pada tahun 2016 dengan anggaran 3.5 triliun rupiah, dan diresmikan oleh presiden Jokowi pada tanggal 29 Agustus 2024.[2]
Selain akan dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian, bendungan ini juga akan dimanfaatkan untuk mereduksi debit banjir dari 509,7 meter kubik per detik menjadi 450,02 meter kubik per detik dan menyediakan air baku sebesar 0,845 meter kubik per detik. Air yang terbendung oleh bendungan ini juga berpotensi untuk digunakan membangkitkan listrik melalui PLTA berkapasitas 20 MW.[3][4]