Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Surat Batak

Surat Batak, disebut juga sebagai Surat na Sampulu Sia, Si Sia-sia, atau Aksara Batak, adalah salah satu aksara tradisional Indonesia yang berkembang di wilayah masyarakat Batak, Sumatera Utara. Surat Batak terdiri dari beberapa varian yang digunakan untuk menulis enam rumpun bahasa Batak: Batak Angkola, Batak Karo, Batak Mandailing, Batak Pakpak, Batak Simalungun, dan Batak Toba. Aksara ini merupakan turunan dari aksara Brahmi India melalui perantara aksara Kawi. Surat Batak aktif digunakan oleh masyarakat Batak setidaknya sejak abad ke-18 hingga penggunaannya berangsur-angsur memudar pada abad ke-20. Aksara ini masih diajarkan di Sumatera Utara sebagai bagian dari muatan lokal, tetapi dengan penerapan yang terbatas dalam kehidupan sehari-hari.

jenis aksara untuk menuliskan bahasa-bahasa Batak
Diperbarui 26 Januari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

<a href=\"./Wikipedia:Artikel_bagus\" title=\"Ini adalah artikel bagus. Klik untuk informasi lebih lanjut.\" id=\"mwBQ\"><img alt=\"Ini adalah artikel bagus. Klik untuk informasi lebih lanjut.\" resource=\"./Berkas:Fairytale_bookmark_silver.svg\" src=\"//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a0/Fairytale_bookmark_silver.svg/20px-Fairytale_bookmark_silver.svg.png\" decoding=\"async\" data-file-width=\"100\" data-file-height=\"100\" data-file-type=\"drawing\" height=\"20\" width=\"20\" srcset=\"//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a0/Fairytale_bookmark_silver.svg/40px-Fairytale_bookmark_silver.svg.png 2x\" class=\"mw-file-element\" id=\"mwBg\"/></a></span>\n"}' id="mwBw"/>

Artikel ini memuat Surat Batak. Tanpa dukungan multibahasa, Anda mungkin akan melihat tanda tanya, tanda kotak, atau karakter lain selain dari Surat Batak.
Surat Batak [a]
Surat na Sampulu Sia
Si Sia-sia
Aksara Batak
Jenis aksara
Abugida
BahasaRumpun bahasa Batak
Periode
Abad ke-18 hingga sekarang
Arah penulisanKiri ke kanan
Aksara terkait
Silsilah
Menurut hipotesis hubungan antara abjad Aramea dengan Brahmi, maka silsilahnya sebagai berikut:
  • Abjad Proto-Sinai
    • Abjad Fenisia
      • Abjad Aramea
        • Aksara Brahmi
    Dari aksara Brahmi diturunkanlah:
    • Aksara Pallawa
      • Aksara Kawi
        • Surat Batak [b]
    Aksara kerabat
    Bali
    Baybayin
    Bugis
    Incung
    Jawa
    Lampung
    Makassar
    Sunda
    Ulu
    ISO 15924
    ISO 15924Batk, 365 Sunting ini di Wikidata, ​Batak
    Pengkodean Unicode
    Nama Unicode
    Batak
    Rentang Unicode
    U+1BC0–U+1BFF
     Artikel ini mengandung transkripsi fonetik dalam Alfabet Fonetik Internasional (AFI). Untuk bantuan dalam membaca simbol AFI, lihat Bantuan:Pengucapan. Untuk penjelasan perbedaan [ ], / / dan ⟨ ⟩, Lihat IPA § Tanda kurung dan delimitasi transkripsi.

    Surat Batak, disebut juga sebagai Surat na Sampulu Sia (kesembilan belas huruf), Si Sia-sia, atau Aksara Batak, adalah salah satu aksara tradisional Indonesia yang berkembang di wilayah masyarakat Batak, Sumatera Utara. Surat Batak terdiri dari beberapa varian yang digunakan untuk menulis enam rumpun bahasa Batak: Batak Angkola, Batak Karo, Batak Mandailing, Batak Pakpak, Batak Simalungun, dan Batak Toba.[1] Aksara ini merupakan turunan dari aksara Brahmi India melalui perantara aksara Kawi. Surat Batak aktif digunakan oleh masyarakat Batak setidaknya sejak abad ke-18 hingga penggunaannya berangsur-angsur memudar pada abad ke-20. Aksara ini masih diajarkan di Sumatera Utara sebagai bagian dari muatan lokal, tetapi dengan penerapan yang terbatas dalam kehidupan sehari-hari.

    Surat Batak adalah sistem tulisan abugida yang terdiri dari 19 aksara dasar dengan tambahan beberapa aksara pada varian tertentu. Seperti aksara Brahmi lainnya, setiap konsonan merepresentasikan satu suku kata dengan vokal inheren /a/ yang dapat diubah dengan pemberian diakritik tertentu. Surat Batak dibaca dari kiri ke kanan. Secara tradisional, aksara ini ditulis tanpa spasi antarkata (scriptio continua) dengan tanda baca yang minimal.

    Sejarah

    Peta rumpun bahasa Batak. Surat Batak diduga pertama kali berkembang di wilayah Angkola-Mandailing kemudian menyebar ke arah utara hingga wilayah Karo.

    Para ahli umumnya meyakini bahwa surat Batak merupakan salah satu turunan aksara Brahmi India melalui perantara aksara Kawi, berdasarkan studi perbandingan bentuk aksara-aksara Nusantara yang pertama kali dijabarkan oleh Holle[2] dan Kern.[3] Namun begitu, sejarah evolusi surat Batak tidak dapat dirunut dengan pasti karena surat Batak sejauh ini hanya ditemukan pada materi yang umumnya tidak berumur lebih dari 200 tahun. Surat Batak lazim ditulis pada media yang rentan rusak di iklim tropis, dan tidak ada prasasti atau peninggalan tua lainnya yang disetujui sebagai purwarupa langsung surat Batak.[4]

    Kerabat paling dekat dari surat Batak adalah aksara-aksara Sumatra bagian selatan atau dikenal sebagai Surat Ulu. Baik rumpun surat Batak maupun aksara-aksara Sumatera Selatan berkembang di wilayah pedalaman Sumatra yang relatif lambat menerima pengaruh luar. Karena itulah, ketika Sumatra menerima pengaruh Islam yang signifikan sejak abad ke-14, kedua wilayah tersebut mempertahankan penggunaan aksara turunan Indik selagi wilayah pesisir mengadopsi penggunaan abjad Arab dan Jawi. Surat Batak diduga pertama kali berkembang di daerah Angkola-Mandailing, barangkali tidak jauh dari perbatasan Sumatera Barat.[5][6] Dari Mandailing, aksara Batak menyebar ke arah utara menuju wilayah Batak Toba, kemudian Simalungun dan Pakpak, hingga akhirnya mencapai wilayah Karo yang paling belakangan menerima surat Batak.[7] Meski terakhir menerima surat Batak, daerah Karo dalam perkembangannya menjadi daerah dengan tradisi penggunaan surat Batak yang paling kental dan bertahan paling lama pasca-kemerdekaan.[8]

    Salah satu deskripsi dan tabel surat Batak paling awal oleh penulis asing dapat ditemukan dalam buku History of Sumatra oleh William Marsden yang dicetak pada tahun 1784.[9] Namun selain itu, tidak banyak yang diketahui mengenai bahasa, sastra dan surat Batak di luar masyarakat Batak sendiri hingga pertengahan abad ke-19. Pada tahun 1849, Lembaga Penginjil Belanda menugaskan ahli bahasa Herman Neubronner van der Tuuk untuk mempelajari bahasa Batak dengan tujuan menghasilkan kamus, materi tata bahasa, dan terjemahan Injil yang layak untuk bahasa tersebut. Pada tahun 1851, ia tiba di Sumatra dan akhirnya tinggal di kota pelabuhan Barus. Ia rutin menjelajahi pedalaman ranah Batak dari tahun 1853 hingga kepergiannya dari Sumatra pada tahun 1857. Berdasarkan studi dan pengalamannya dengan masyarakat Batak, Van der Tuuk menghasilkan materi komprehensif mengenai tradisi lisan dan tulis Batak yang hingga kini masih masih menjadi rujukan dasar dalam berbagai studi Batak.[10]

    Media

    Surat Batak secara tradisional ditulis di sejumlah media, di antaranya yang paling lumrah adalah bambu, tulang, dan kulit kayu. Naskah dengan media-media tersebut dapat ditemukan dalam ukuran dan tingkat kerajinan yang bervariasi. Tulisan sehari-hari umum digurat pada permukaan bambu atau tulang dengan pisau kecil. Guratan ini kemudian dihitamkan dengan jelaga untuk meningkatkan keterbacaan. Bambu dan tulang yang ditulisi oleh surat Batak lumrah dimanfaatkan sebagai perkakas sehari-hari, misal sebagai tabung penyimpanan pinang atau kalung sekaligus jimat penolak bala. Kulit kayu khusus digunakan untuk naskah pustaha yang digunakan kaum pendeta. Untuk membuat pustaha, kulit dalam pohon gaharu (Aquilaria malaccensis) dipotong dan dihaluskan menjadi lembar panjang yang disebut laklak. Panjang lembar ini bisa berkisar antara 60 cm hingga 7 m, tetapi pustaha terbesar yang diketahui (kini disimpan di Tropenmuseum, Belanda) memiliki panjang hingga 15 m. Lembar laklak ini kemudian dilipat-lipat, dan kedua ujungnya dapat direkatkan pada sampul kayu bernama lampak yang sering kali memiliki ukiran kadal Boraspati.[11] Berbeda dengan naskah bambu dan tulang, naskah pustaha ditulis dengan tinta menggunakan pena dari rusuk daun aren (Arenga pinnata) yang disebut suligi atau pena dari tanduk kerbau yang disebut tahungan.[12] Kertas baru digunakan dengan jumlah yang terbatas pada pertengahan abad ke-19 ke atas,[13] tetapi bambu, tulang, dan kulit kayu terus digunakan sebagai media utama penulisan aksara Batak hingga abad ke-20 ketika tradisi tulis aksara Batak mulai menghilang.[8]

    Penggunaan

    Surat Batak terdiri dari beberapa varian yang digunakan untuk menulis enam bahasa Batak:[c] Angkola, Karo, Pakpak, Mandailing, Simalungun, dan Toba.[1] Kaum pendeta Batak kadang digambarkan sebagai satu-satunya pengguna surat Batak, tetapi kemampuan membaca dan menulis surat Batak tersebar dalam berbagai lapisan masyarakat Batak dan tidak jarang ditemukan perkakas sehari-hari yang diguratkan dengan surat Batak oleh pemiliknya masing-masing.[15] Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Batak pra-kemerdekaan menggunakan surat Batak untuk beberapa fungsi seperti penulisan naskah pustaha, surat menyurat, dan ratapan.[8]

    Penggunaan Aksara Batak
    • Kalender Batak (porhalaan) yang digurat di tulang, koleksi Museum Anak-anak Indianapolis
      Kalender Batak (porhalaan) yang digurat di tulang, koleksi Museum Anak-anak Indianapolis
    • Ratapan Batak Karo (bilang-bilang) pada tabung bambu, koleksi Tropenmuseum
      Ratapan Batak Karo (bilang-bilang) pada tabung bambu, koleksi Tropenmuseum
    • Sejumlah pustaha koleksi Museo Antropologia Firenze
      Sejumlah pustaha koleksi Museo Antropologia Firenze
    • Salah satu halaman dalam Pustaha Agung koleksi Tropenmuseum
      Salah satu halaman dalam Pustaha Agung koleksi Tropenmuseum
    • Surat dari Sisingamangaraja XII dengan isi dan cap beraksara Batak, koleksi Tropenmuseum
      Surat dari Sisingamangaraja XII dengan isi dan cap beraksara Batak, koleksi Tropenmuseum
    • Injil Markus dalam bahasa Batak Toba yang dicetak pada tahun 1867
      Injil Markus dalam bahasa Batak Toba yang dicetak pada tahun 1867
    • Inskripsi pada rumah Batak Toba di Porsea, dekat Balige.
      Inskripsi pada rumah Batak Toba di Porsea, dekat Balige.
    • Penggunaan aksara Batak pada papan tanda kedai di Desa Hutajulu, Kabupaten Humbang Hasundutan.
      Penggunaan aksara Batak pada papan tanda kedai di Desa Hutajulu, Kabupaten Humbang Hasundutan.
    Pendeta atau datu Batak dengan pustaha yang sedang digelar

    Pustaha merupakan panduan dan catatan pribadi pendeta adat Batak (datu) mengenai ilmu kedukunan (hadatuan). Pustaha umumnya dimulai dengan daftar datu yang mewariskan ilmunya secara turun-temurun hingga penulis pustaha yang bersangkutan, diikuti dengan pembahasan ilmu hadatuan yang mencakup tetapi tidak terbatas pada resep obat-obatan, cara membuat jimat penolak bala, menerapkan atau menghilangkan kutukan, serta penentuan hari baik-buruk melalui astrologi dan metode ramalan lainnya. Isi pustaha digubah menggunakan varian bahasa Batak arkais yang disebut hata poda, secara harfiah berarti "bahasa amanat". Bahasa ini khusus digunakan oleh para datu dan calon datu di seantero ranah Batak untuk mempermudah komunikasi antarindividu yang sering kali bahasa ibunya berbeda-beda. Karena sifatnya sebagai catatan pribadi dan bahasanya yang arkais, informasi dan maksud persis di dalam pustaha sering kali sulit dipahami.[16]

    Dalam tradisi sastra Batak, hanya genre ratapan yang umumnya dituliskan. Ratapan Batak (disebut bilang-bilang dalam bahasa Karo, andung dalam bahasa Mandailing, dan sumansuman dalam bahasa Simalungun) merupakan keluh kesah mengenai cinta atau nasib pilu yang digubah dalam bentuk prosa. Teks ini biasanya diguratkan pada bambu, tulang, dan perkakas sehari-hari oleh pemilik benda bersangkutan. Ratapan Karo dan Simalungun sering kali ditemukan pada bambu dan perkakas yang diukir dengan kerajinan tinggi, sementara ratapan Mandailing umumnya hanya ditemukan pada bambu polos. Pada benda-benda tertentu, penggalan ratapan hanya digunakan sebagai teks pengisi dalam komponen pembentuk jimat.[17][18]

    Aksara Batak lazim digunakan oleh masyarakat awam untuk kegiatan surat-menyurat dengan media bambu, meski beberapa surat kertas juga diketahui. Tidak banyak tipe naskah ini yang kini tersisa karena kebanyakan surat Batak hanya berisikan pesan pendek yang kemudian dibuang setelah perihal yang bersangkutan terselesaikan. Terdapat pula jenis surat bernama pulas yang digunakan untuk menyampaikan tuntutan dan ancaman, misal untuk membayar utang atau mengembalikan sandra. Surat ancaman ini selalu disertai dengan miniatur senjata atau batuapi untuk mempertegas pesan yang disampaikan. Pulas terutama umum digunakan di daerah Karo, meski penggunaannya juga tercatat di daerah Batak lainnya. Pemilik perkebunan tembakau di Deli abad ke-19 kerap menerima surat ancaman semacam ini dari masyarakat Karo yang tanahnya sering kali disengketakan. Tak jarang pula para mengirim pulas tersebut menindaklanjuti ancaman mereka dengan membakar gudang dan perkebunan pada tanah yang dipermasalahkan.[17][19]

    Misionaris Kristen Jerman yang mulai aktif di ranah Batak pada tahun 1860 awalnya menggunakan surat Batak dalam penyebaran dakwah mereka karena dinilai lebih cepat dan mudah diterima oleh masyarakat lokal dibanding huruf Latin yang perlu diajarkan terlebih dulu.[20] Hal ini mendorong berkembangnya teknologi cetak untuk memproduksi buku-buku bersurat Batak secara massal, terutama buku pelajaran dan terjemahan Injil yang menjadi bahan pengajaran dalam sekolah-sekolah misionaris. Beberapa percetakan yang memproduksi materi bersurat Batak antara abad ke-19 hingga 20 adalah percetakan Elberfeld di Jerman, Laguboti di pesisir selatan Danau Toba, dan Landsdrukkerij atau Percetakan Negeri di Batavia.[21]

    Kemunduran

    Bersamaan dengan masuknya pengaruh Kristen maupun Islam di suatu wilayah Batak, tradisi tulis tradisional di daerah yang bersangkutan umumnya mengalami kemunduran. Meski misionaris Kristen awalnya mendukung penggunaan surat Batak dan mengembangkan teknologi cetak surat Batak untuk kegiatan Zending/penginjilan mereka, penggunaan aksara ini tidak didukung semua pihak dan tak jarang penginjil bangsa asing maupun lokal melaksanakan pemusnahan pustaha dan segala benda bersurat batak.[22] Hal serupa juga terjadi di wilayah Batak yang menerima pengaruh Islam seperti Mandailing, Partibi, dan Sipirok karena pengaruh kaum Padri,[23][24] sehingga tradisi tulis-menulis surat Batak hanya bertahan di pedalaman ranah Batak. Beberapa buku cetak Batak masih diproduksi setidaknya hingga tahun 1916,[21] tetapi memasuki abad ke-20 masyarakat Batak yang telah terpapar dengan edukasi modern kian memilih huruf Latin untuk fungsi sehari-hari sehingga produksi buku cetak Batak berkurang perlahan-lahan.[25] Ketika Jepang mulai menduduki Indonesia pada tahun 1942, Jepang membakar percetakan Laguboti dan melaksanakan pemusnahan buku-buku yang diasosiasikan dengan kegiatan misionaris asing, termasuk buku-buku cetak dengan surat Batak, sehingga produksi surat Batak cetak di Sumatera Utara terhenti total dan tidak lagi kembali sebagaimana semula pada periode pasca-kemerdekaan.[26][27]

    Penggunaan kontemporer

    Contoh penulisan surat Batak kontemporer yang terdistorsi (kiri) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi III yang dicetak pada tahun 2002, dibandingkan dengan penulisan berdasarkan naskah Batak otentik (kanan). Selain bentuk hurufnya yang sangat terdistorsi, contoh kiri juga memiliki sejumlah kesalahan ortografis yang tidak pernah terjadi dalam naskah Batak asli.

    Dalam ranah kontemporer, surat Batak telah menjadi bagian dari pengajaran muatan lokal di Sumatera Utara sejak 1980-an dan dapat ditemukan pada papan nama tempat-tempat umum tertentu.[1] Pada Juni 1988, sebuah lokakarya yang berlangsung di Medan berupaya untuk menghasilkan suatu standar tunggal dari varian-varian surat Batak yang telah ada. Lokakarya ini menetapkan satu set aksara yang disederhanakan dengan beberapa tambahan untuk bunyi asing serta angka. Namun begitu, tercatat bahwa lokakarya tersebut dibahas dan diseminarkan oleh panitia yang tidak memiliki anggota ahli sastra Batak maupun filolog surat Batak. Akibatnya, set aksara yang dihasilkan lokakarya tersebut memiliki banyak pilihan bentuk janggal yang jarang atau tidak pernah ditemui dalam naskah Batak otentik, dan peneliti seperti Uli Kozok menilai hasil lokakarya ini sangat menyimpang dari penulisan Batak asli.[28] Hasil lokakarya ini tidak pernah diberlakukan secara resmi ataupun digunakan secara luas,[29] meski beberapa cuplikan tabelnya kadang dapat ditemukan di internet.[30] Pada umumnya, sedikit sekali masyarakat Batak kontemporer yang pernah melihat teks Batak otentik karena budaya tulis tradisional yang berkurang drastis dan percetakan surat Batak yang musnah pada pertengahan abad ke-20. Pada abad ke-21, surat Batak hanya sesekali digunakan untuk fungsi ornamental, dan satu-satunya "naskah" bersurat Batak yang masih sering dihasilkan di ranah Batak kontemporer adalah tiruan pustaha sebagai cendramata di pusat-pusat pariwisata seperti Parapat dan Tomok. Akibatnya, surat Batak yang kini diajarkan sering kali terdistorsi atau banyak menyimpang dari penulisan dalam naskah-naskah asli tanpa disadari oleh penulis masing-masing.[25][31] Salah satu contohnya dalam publikasi resmi misal contoh Surat Batak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III yang dicetak tahun 2002, halaman 1341.[32]

    Bentuk

    Aksara dasar

    Aksara dasar (ina ni surat) dalam surat Batak merepresentasikan satu suku kata dengan vokal inheren /a/. Terdapat 19 aksara dasar yang dimiliki semua varian aksara Batak, sementara beberapa aksara dasar yang hanya digunakan pada varian tertentu. Bentuknya dapat dilihat sebagaimana berikut:[1]

    Ina ni Surat
    a ha ka ba pa na wa ga ja da ra ma ta sa ya nga la nya ca nda mba i u
    Karo A Ha Ka Ba Pa Na Wa Ga Ja Da Ra Ma Ta Sa Ya Nga La Ca
    Ca
    Nda Ba I I
    Angkola
    Mandailing
    A Ha Ka Ba Pa Na
    Na
    Wa Ga Ra Ma Ta Sa
    Sa
    Ya La Nya Ca
    A
    Pakpak A Ha Ka Ba Pa Na Wa Ga Ra Ma Ta Sa Ya La Ca
    Simalungun A Ha Ka Ba Pa Na Wa Ga Ra Ma Ta Sa Ya La Nya
    Toba A Ha Ka Ba Pa Na Wa
    Wa
    Ga Ra Ma Ta
    Ta
    Sa Ya La Nya

    Bentuk-bentuk di atas merupakan bentuk yang digeneralisasi, tidak jarang suatu naskah menggunakan varian bentuk aksara atau tarikan garis yang sedikit berbeda antara satu sama lainnya tergantung dari daerah asal dan media yang digunakan.[7]

    Aksara i (ᯤ) dan u (ᯥ) hanya digunakan untuk suku kata terbuka, misal pada kata dan ina ᯤᯉ dan ulu ᯥᯞᯮ. Untuk suku kata tertutup yang diawali dengan bunyi i atau u, digunakanlah aksara a (ᯀ atau ᯁ) bersama diaktirik untuk masing-masing vokal, misal pada kata indung ᯀᯪᯉ᯲ᯑᯮᯰ dan umpama ᯀᯮᯔ᯲ᯇᯔ.[33]

    Diakritik

    Diakritik (anak ni surat) adalah tanda yang melekat pada aksara utama untuk mengubah vokal inheren aksara utama yang bersangkutan, bentuknya dapat dilihat sebagaimana berikut:[1]

    Anak ni Surat
    -i -u -é[1] -e[2] -o -ou -ng -h pemati
    Karo -I
    -I
    -U -E -E -O
    -O
    -Ng -H -
    kelawan sikurun ketéléngen kebereten ketolongen kebincaren kejeringen penengen
    Mandailing -I -U -E -U -Ng -
    uluwa boruta talinga siala ulu amisara pangolat
    Pakpak -I -U -E -O
    -E
    -U -Ng -H -
    kaloan kabereten ketadingin kabereten podi sikora kebincaren sikorjan pangolat
    Simalungun -I -U -E -U -Ou -Ng -H -
    haluan haboritan hatalingan sihorlu hatulungan haminsaran hajoringan panongonan
    Toba -I -U -E -U -Ng -
    uluwa haborotan hatadingan siala hamisaran pangolat
    Catatan

    ^1 /e/ sebagaimana e dalam kata "enak"
    ^2 /ə/ sebagaimana e dalam kata "empat"
    ^3 diakritik dapat memiliki sejumlah variasi nama yang tidak semuanya dicantumkan dalam tabel ini

    Tabel berikut menunjukkan bagaimana diakritik melekat pada aksara dasar ka dalam masing-masing varian aksara:

    Ina ni Surat Ka + Anak ni Surat
    ka ki ku[3] ké[1] ke[2] ko kou kang kah k
    Karo Ka Ki
    Ki
    Ku Ke Ke Ko
    Ko
    Kang Kah K
    Mandailing Ka Ki Ku Ke Ke Kang K
    Pakpak Ka Ki Ku Ke Ke
    Ke
    Ku Kang Kah K
    Simalungun Ka Ki Ku Ke Ko Kou Kang Kang K
    Toba Ka Ki Ku Ke Ku Kang K
    Catatan

    ^1 /e/ sebagaimana e dalam kata "enak"
    ^2 /ə/ sebagaimana e dalam kata "empat"
    ^3 diakritik -u Mandailing, Pakpak, Simalungun, dan Toba membentuk ligatur dengan aksara dasar yang bersangkutan
    ^4 diakritik dapat memiliki sejumlah variasi nama yang tidak semuanya dicantumkan dalam tabel ini

    Tanda baca

    Teks tradisional Batak ditulis tanpa spasi antarkata (scriptio continua) dan normalnya tidak menggunakan tanda baca. Namun begitu, tanda baca bernama bindu kadang digunakan pada teks tertentu. Tanda baca ini sering kali bersifat dekoratif dan memiliki banyak variasi bentuk. Bindu godang umumnya digunakan untuk menandakan awal teks pada naskah pustaha, sementara bindu pinarjolma digunakan untuk menunjukan awal teks pada naskah bambu. Bindu na metek dan pinarboras digunakan untuk memisahkan antarbab atau bagian-bagian tertentu teks. Bindu judul kadang digunakan untuk memisahkan antara judul dan isi teks dalam satu baris kalimat. Bindu pangolat kadang digunakan menandakan disambiguasi pada kata atau istilah tertentu.[1]

    Bindu
    bindu godang bindu pinarjolma bindu na metek bindu pinarboras bindu judul bindu pangolat
    bindu na metek
    bindu na metek
    bindu na metek

    bindu na metek
    bindu pinarboras
    bindu judul
    bindu pangolat

    Ortografi

    Ligatur -u

    Dalam penulisan Mandailing, Pakpak, Simalungun, dan Toba, diaktirik -u sering kali ditulis bersambung sehingga membentuk ligatur dengan aksara dasar bersangkutan. Ligatur tersebut dapat dilihat sebagaimana berikut:[1]

    komponen penulisan keterangan
    A  + -U =  A a + -u = u
    A  + -U =  U a + -u = u (Simalungun)
    Ha  + -U =  Hu ha + -u = hu (Mandailing)
    Ha  + -U =  Hu ha + -u = hu (Simalungun)
    Ha  + -U =  Hu ha + -u = hu
    Ka  + -U =  Ku ka + -u = ku (Mandailing)
    Ba  + -U =  Bu ba + -u = bu
    P  + -U =  Pu pa + -u = pu (Mandailing)
    Pa  + -U =  Pu pa + -u = pu (Pakpak, Toba)
    Pa  + -U =  Pu pa + -u = pu (Simalungun)
    Na  + -U =  Nu na + -u = nu
    Na  + -U =  Nu na + -u = nu (Mandailing)
    Wa  + -U =  Wu wa + -u = wu (Mandailing, Toba)
    Wa  + -U =  Wu wa + -u = wu (Pakpak, Toba)
    Wa  + -U =  Wu wa + -u = wu (Simalungun)
    Ga  + -U =  Gu ga + -u = gu
    Ga  + -U =  Gu ga + -u = gu (Simalungun)
    Ja  + -U =  Ju ja + -u = ju
    komponen penulisan keterangan
    Da  + -U =  Du  da + -u = du
    Ra  + -U =  Ru  ra + -u = ru
    Ra  + -U =  Ru  ra + -u = ru (Simalungun)
    Ma  + -U =  Mu  ma + -u = mu
    Ma  + -U =  Mu  ma + -u = mu (Simalungun)
    Ta  + -U =  Tu  ta + -u = tu
    Ta  + -U =  Tu  ta + -u = tu
    Sa  + -U =  Su  sa + -u = su (Pakpak)
    Sa  + -U =  Su  sa + -u = su (Mandailing)
    Sa  + -U = + Su  sa + -u = su (Mandailing)
    Sa  + -U =  Su  sa + -u = su (Simalungun)
    Ya  + -U =  Yu  ya + -u = yu
    Ya  + -U =  Yu  ya + -u = yu (Simalungun)
    Nga  + -U =  Ngu  nga + -u = ngu
    La  + -U =  Lu  la + -u = lu (Mandailing)
    La  + -U =  Lu  la + -u = lu (Simalungun)
    Nya  + -U =  Nyu  nya + -u = nyu
    Ca  + -U =  Cu  ca + -u = cu (Mandailing)

    Penulisan suku kata tertutup

    Pada penulisan suku kata tertutup yang berpola konsonan-vokal-konsonan, diakritik vokal yang normalnya menempel pada aksara dasar pertama ditempatkan ulang agar menempel dengan aksara dasar kedua dan diaktrik pemati. Aturan ini berlaku untuk semua varian aksara Batak, dan penerapannya (menggunakan contoh varian Batak Karo) dapat dilihat sebagaimana berikut:[1]

    komponen penulisan keterangan
    Ta + Pa + pangolat = Tap ta + pa + pangolat = tap
    Ta + -I + Pa + pangolat = Tip ta + -i + pa + pangolat → ta + pa + -i + pangolat = tip
    Ta + -U + Pa + pangolat = Tup ta + -u + pa + pangolat → ta + pa + -u + pangolat = tup
    Ta + -E + Pa + pangolat = Tep ta + -é + pa + pangolat → ta + pa + -é + pangolat = tép
    Ta + -E + Pa + pangolat = Tep ta + -e + pa + pangolat → ta + pa + -e + pangolat = tep
    Ta + -O + Pa + pangolat = Top ta + -o + pa + pangolat → ta + pa + -o + pangolat = top

    Penulisan diakritik -ng dan -h

    Apabila suatu suku kata menggunakan diakritik vokal yang menempel di sebelah kanan aksara dasar, diakritik -ng dan -h ditulis tidak menempel pada aksara dasar namun diaktrik vokal yang bersangkutan. Penerapannya (menggunakan contoh Batak Karo) dapat dilihat sebagaimana berikut:[1]

    komponen penulisan keterangan
    Pa + -I + -Ng = Ping pa + -i + ing = ping
    Pa + -U + -Ng = Pong pa + -u + -ng = pung
    Pa + -I + -H = Pih pa + -i + -h = pih
    Pa + -E + -H = Peh pa + -e + -h = peh

    Contoh teks

    Berikut adalah sebuah ratapan Batak Karo pada bambu dari koleksi Museum fur Völkerkunde Berlin no. IC 39908a. Alih aksara dan terjemahan disadur dari Kozok (1999):[34]

    Aksara Batak Alih aksara Latin Terjemahan
    ᯔᯂᯀᯪᯛᯨᯀᯒᯪᯂᯬᯗᯩᯉᯬᯆᯪᯞᯰᯆᯪᯞᯰᯂᯪᯉ᯳ᯆᯬᯞᯬᯱᯗᯎᯉ᯳ᯀᯩᯢ maka io ari kuté nu bilang-bilang kin buluh tagan énda inilah ratap tangis di bambu yang menjadi tabung
    ᯔᯉ᯳ᯀᯪᯝᯉ᯳ᯉᯬᯒᯪᯉᯬᯒᯪᯂᯧᯉ᯳ᯀᯗᯩᯔᯧᯘᯬᯋᯪᯞᯒᯧᯝᯑᯪᯝᯑᯪ man ingan nuri-nuriken até mesui la erngadi-ngadi sebagai tempat untuk menceritakan penderitaanku yang tiada habisnya
    ᯘᯪᯔᯉ᯳ᯗᯬᯒᯪᯉ᯳ᯂᯧᯉ᯳ᯔᯔᯘᯪᯂᯒᯨᯂᯒᯨᯔᯧᯒ᯳ᯎᯉᯆᯧᯒᯩᯘᯪᯆᯪᯒᯪᯰ si man turinken mama si karo-karo mergana beré simbiring tentang aku yang bermarga Karo-karo, yang marga ibunya (beré) Simbiring
    ᯘᯪᯞᯇᯘ᯳ᯔᯧᯞᯬᯔᯰ si lampas melumang yang lekas menjadi yatim piatu
    ᯘᯪᯗᯧᯒ᯳ᯆᯆᯀᯗᯩᯔᯧᯘᯬᯋᯪᯞᯒᯧᯝᯑᯪᯝᯑᯪ si terbaba até mesui la erngadi-ngadi yang penderitaannya tiada habis
    ᯇᯧᯝᯪᯢᯨᯂᯬᯞᯔᯧᯀᯬᯞᯪ péngindoku la mehuli nasibku yang malang ini
    ᯉᯢᯩᯆᯪᯆᯪᯂᯬᯂᯒᯪᯉᯂᯗᯂᯬ nandé bibiku karina kataku wahai nandé dan bibiku semua, kataku
    ᯀᯩᯢᯗᯬᯒᯰᯂᯬᯗᯬᯒᯪᯂᯧᯉ᯳ énda, turang, kuturiken inilah, sayang, tuturanku

    Blok unicode

    Artikel utama: Batak (blok Unicode)

    Aksara Batak telah didaftarkan ke Unicode oleh Uli Kozok, peneliti sastra Batak dari Jerman. Sebelum didokumentasikan oleh Uli Kozok, ada beberapa versi aksara Batak berdasarkan subetnis Batak, antara lain Toba, Karo, Simalungun, Mandailing, dan Pakpak. Uli berhasil mempersatukan aksara Batak dengan perbedaan minor sebagai variasi. [35]

    Saat ini, aksara Batak terdaftar di Unicode dengan status limited use script (penggunaan terbatas). Agar statusnya dapat meningkat ke recommended, harus diajukan bukti-bukti ke Unicode bahwa aksara Batak masih digunakan.

    Aksara Batak telah ditambahkan ke dalam standar Unicode versi 6.0 sejak Oktober 2010 dalam rentang U+1BC0–U+1BFF:

    Batak[1][2]
    Official Unicode Consortium code chart (PDF)
     0123456789ABCDEF
    U+1BCx ᯀ ᯁ ᯂ ᯃ ᯄ ᯅ ᯆ ᯇ ᯈ ᯉ ᯊ ᯋ ᯌ ᯍ ᯎ ᯏ
    U+1BDx ᯐ ᯑ ᯒ ᯓ ᯔ ᯕ ᯖ ᯗ ᯘ ᯙ ᯚ ᯛ ᯜ ᯝ ᯞ ᯟ
    U+1BEx ᯠ ᯡ ᯢ ᯣ ᯤ ᯥ ᯦ ᯧ ᯨ ᯩ ᯪ ᯫ ᯬ ᯭ ᯮ ᯯ
    U+1BFx ᯰ ᯱ ᯲ ᯳ ᯼ ᯽ ᯾ ᯿
    Catatan
    1.^Per Unicode versi 8.0
    2.^Abu-abu berarti titik kode kosong

    Galeri

    • Tabung bambu dengan teks pendek
      Tabung bambu dengan teks pendek
    • Bambu dengan kalender Batak (porhalaan) dan teks pendek, koleksi Tropenmuseum
      Bambu dengan kalender Batak (porhalaan) dan teks pendek, koleksi Tropenmuseum
    • Jimat bambu, koleksi Tropenmuseum
      Jimat bambu, koleksi Tropenmuseum
    • Pustaha koleksi Tropenmuseum
      Pustaha koleksi Tropenmuseum
    • Pustaha tanpa sampul koleksi Tropenmuseum
      Pustaha tanpa sampul koleksi Tropenmuseum
    • Pustaha koleksi Tropenmuseum dengan sampul (lampak) bermotif kadal Boraspati
      Pustaha koleksi Tropenmuseum dengan sampul (lampak) bermotif kadal Boraspati
    • Pustaha koleksi Tropenmuseum dengan sampul bermotif kadal Boraspati
      Pustaha koleksi Tropenmuseum dengan sampul bermotif kadal Boraspati
    • Pustaha koleksi Tropenmuseum dengan sampul polos
      Pustaha koleksi Tropenmuseum dengan sampul polos
    • Pustaha Agung koleksi Tropenmuseum, pustaha terbesar yang diketahui dengan lembar yang panjangnya mencapai 15 meter
      Pustaha Agung koleksi Tropenmuseum, pustaha terbesar yang diketahui dengan lembar yang panjangnya mencapai 15 meter
    • Pustaha koleksi KITLV yang membahas mengenai ilmu penolak bala
      Pustaha koleksi KITLV yang membahas mengenai ilmu penolak bala
    • Pustaha koleksi Galeri Wellcome yang membahas mengenai penawar racun
      Pustaha koleksi Galeri Wellcome yang membahas mengenai penawar racun
    • Cap Si Singamangaraja XII
      Cap Si Singamangaraja XII
    • Penggunaan surat Batak pada papan nama jalan di Tuktuk
      Penggunaan surat Batak pada papan nama jalan di Tuktuk

    Lihat pula

    • Rumpun bahasa Batak
    • Pustaha
    • Aksara Nusantara

    Catatan

    1. ↑ Surat Batak dalam masing-masing varian aksara:
      Angkola-Mandailing: ᯚᯮᯒᯖ᯲ᯅᯖᯄ᯦᯲
      Karo: ᯘᯬᯒᯗ᯳ᯆᯗᯂ᯳
      Pakpak: ᯘᯮᯒᯗ᯲ᯅᯗᯂ᯲
      Simalungun: ᯙᯯᯓᯖ᯳ᯅᯖᯃ᯳
      Toba: ᯘᯮᯒᯖ᯲ᯅᯖᯂ᯲
    2. ↑ Surat Batak dalam masing-masing varian aksara:
      Angkola-Mandailing: ᯚᯮᯒᯖ᯲ᯅᯖᯄ᯦᯲
      Karo: ᯘᯬᯒᯗ᯳ᯆᯗᯂ᯳
      Pakpak: ᯘᯮᯒᯗ᯲ᯅᯗᯂ᯲
      Simalungun: ᯙᯯᯓᯖ᯳ᯅᯖᯃ᯳
      Toba: ᯘᯮᯒᯖ᯲ᯅᯖᯂ᯲
    3. ↑ Secara umum, rumpun bahasa Batak dapat dibagi menjadi dua kelompok: kelompok utara yang terdiri dari bahasa Alas-Kluet, Karo, dan Pakpak-Dairi serta kelompok selatan yang terdiri dari Simalungun, Toba, Angkola, dan Mandailing.[14]

    Referensi

    1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Everson, Michael; Kozok, Uli (07-10-2008). "Proposal for encoding the Batak script in the UCS" (PDF). ISO/IEC JTC1/SC2/WG2 (N3320R). Unicode.
    2. ↑ Holle, K F (1882). "Tabel van oud-en nieuw-Indische alphabetten" (PDF). Bijdrage tot de palaeographie van Nederlandsch-Indie. Batavia: W. Bruining. OCLC 220137657.
    3. ↑ Kern, H (1882). "Eene bijdgrade tot de paleographie van Nederlansch-Indie". Bijdrage tot de Taal-Land-en Volkenkunde van Nederlandsch-indie. S' Gravenhage: Martinus Nijhoff.
    4. ↑ Kozok 1996, hlm. 233–234.
    5. ↑ Tuuk, H N van der (1971). A Grammar of Toba Batak (PDF). The Hague: Martinus Nijhoff. hlm. 77.
    6. ↑ Parkin, H (1978). Batak Fruit of Hindu Thought. Madras. hlm. 100. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
    7. 1 2 Kozok 2009.
    8. 1 2 3 Kozok 1996, hlm. 245–246.
    9. ↑ Marsden, William (1784). History of Sumatra (PDF). London. hlm. 159-166.
    10. ↑ Kozok 1996, hlm. 231–232.
    11. ↑ Kozok 1996, hlm. 234–241.
    12. ↑ Teygeler 1993, hlm. 601–607.
    13. ↑ Vorhooeve, P (1977). Codices Batacici. Leiden: Universitaire Pers Leiden. hlm. 101.
    14. ↑ Adelaar, K A (1981). "Reconstruction of Proto-Batak Phonology". Dalam Robert A Blust (ed.). Historical Linguistics in Indonesia. Vol. 1. Jakarta: Universitas Katolik Indonesia Atma Jayan. hlm. 1-20.
    15. ↑ Kozok 2000, hlm. 53.
    16. ↑ Kozok 1996, hlm. 241–242.
    17. 1 2 Kozok 1996, hlm. 236-239.
    18. ↑ Kozok 2000, hlm. 50-51.
    19. ↑ Kozok 2000, hlm. 51.
    20. ↑ Schreiber, August (1884). "In welchen Sprachen predigen unsere Missionare?". Berichte der Rheinischen Missions-Gesellschaft. 41: 164-173.
    21. 1 2 Kozok 2000, hlm. 38-39.
    22. ↑ Meerwaldt, J.H. (1922). "De nieuwe Bataksche Letterkunde". Mededelingen van wege het Nederlandsch Zendelinggenootschap. 66: 295–311.
    23. ↑ Voorhoeve, Petrus (1927). Overzicht van de volksverhalen der Bataks. hlm. 314. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
    24. ↑ Willer, T.J. (1846). "Verzameling der Battahschen wetten en instellingen in Mandheling en Pertibie". Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. 8: 145–424.
    25. 1 2 Kozok 1996, hlm. 245-246.
    26. ↑ Simanjuntak, Bungaran Antonius (2011). Pemikiran Tentang Batak: Setelah 150 Tahun Agama Kristen di Sumatera Utara. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-781-6.
    27. ↑ Simanjuntak, Bungaran Antonius (2012). Konsepku Membangun Bangso Batak: Manusia, Agama, dan Budaya. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-804-2.
    28. ↑ Kozok 2009, hlm. 92-93.
    29. ↑ Kozok 2009, hlm. 92.
    30. ↑ Ulasan singkat mengenai Surat Batak oleh Andre Samosir kepada Lawrence K Lo untuk ancientscripts.com
    31. ↑ Kozok 1999, hlm. 10.
    32. ↑ Kozok 2009, hlm. 114.
    33. ↑ Kozok 1999, hlm. 109.
    34. ↑ Kozok 1999, hlm. 122-124.
    35. ↑ Nikson Sinaga (29 Agustus 2025) "Menyelamatkan Aksara lewat Digitalisasi" Kompas. hal 11

    Daftar Pustaka

    • Kozok, Uli (1996). "Bark, Bones, and Bamboo: Batak Traditions of Sumatra". Dalam Ann Kumar; John H. McGlynn (ed.). Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia (dalam bahasa Inggris). Jakarta: Lontar Foundation. ISBN 0834803496.
    • Kozok, Uli (1999). Warisan Leluhur Sastra Lama dan Aksara Batak. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 9799023335.
    • Kozok, Uli (2000). "On writing the not-to-be-read; Literature and literacy in a pre-colonial tribal society" (PDF). Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (dalam bahasa Inggris). 156 (1). Leiden: KITLV, Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies: 33-55.
    • Kozok, Uli (2009). Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak. Jakarta: Gramedia. ISBN 9799101530.
    • Teygeler, René (1 Januari 1993). "Pustaha; A study into the production process of the Batak book". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (dalam bahasa Inggris). 149 (3). Leiden: KITLV, Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies: 593-611. ISSN 0006-2294.

    Pranala luar

    Wikimedia Commons memiliki media mengenai Aksara Batak.

    Koleksi digital

    • Koleksi naskah British Library
    • Koleksi naskah Museum Antropologi Universitas Michigan
    • Koleksi naskah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
    • Southeast Asia Digital Library kompilasi Northern Illinois University

    Naskah digital

    • Pustaha Panampuhi, panduan meramal menggunakan air jeruk nipis koleksi British Library no. Add MS 4726
    • Pustaha Poda ni Si Aji Manis, panduan untuk mencelakakan musuh koleksi Übersee-Museum no. A 12332
    • Pustaha Diarsipkan 2020-08-06 di Wayback Machine. koleksi Perpustakaan Nasional Indonesia no. peti 113 D4
    • Pustaha Diarsipkan 2021-10-24 di Wayback Machine. koleksi SOAS University of London no. MS 41836

    Lainnya

    • Proposal Unicode untuk Surat Batak
    • Dokumentasi Unicode mengenai sistem input Batak
    • Situs Uli Kozok dengan rangkuman sejumlah penelitiannya terkait Surat Batak
    • Artikel terkait koleksi pustaha Batak Tropenmuseum di Google Arts & Culture
    • Artikel surat Batak di situs Omniglot.com
    • Unduh font surat Batak di Situs Uli Kozok, Aksara di Nusantara, atau Google Noto Font
    • Transliterasi Surat Batak dari/ke Latin
    • l
    • b
    • s
    Jenis-jenis aksara
    Gambaran
    • Sejarah tulisan
    • Grafem
    Daftar
    • Aksara
      • belum diuraikan
      • penemu
      • buatan
    • Bahasa menurut aksara / catatan tertulis pertama
    Jenis
    Abjad
    • Arab Selatan Kuno
    • Arab Utara Lama
    • Arab
      • Jawi
      • Pegon
      • Sorabe
    • Aram
      • Hatran
    • Fenisia
      • Ibrani Kuno
    • Hieroglif Mesir
    • Ibrani
      • Ashuri
      • Kursif
      • Rashi
      • Solitreo
    • Mani
    • Nabath
    • Pahlewi
      • Mazmur Pahlewi
    • Punik
    • Proto-Sinai
    • Samaria
    • Sogdi
    • Suryani
    • Steno Pitman
    • Steno Teeline
    • Tifinagh
    • Ugarit
    Abugida
    Brahmi
    Utara
    • Bhaiksuki
    • Bhujimol
    • Brāhmī
    • Dewanagari
    • Dogra
    • Gujarat
    • Gupta
    • Gurmukhī
    • Kaithī
    • Khojki
    • Khudabad
    • Kotak Zanabazar
    • Laṇḍā
    • Lepcha
    • Limbu
    • Mahajani
    • Manipur
    • Marchen
      • Drusha
      • Marchung
      • Pungs-chen
      • Pungs-chung
    • Modi
    • Multan
    • Nāgarī
    • Nagari Selatan
    • Nagari Sylhet
    • Nagari Timur
      • Assam
      • Bengali
    • Nandinagari
    • Pracalit (Newah)
    • Oriya
      • Karani
    • ʼPhags-pa
    • Ranjana
    • Sarada
    • Siddhaṃ
    • Soyombo
    • Takri
    • Tibet
      • Uchen
      • Umê
    • Tirhuta
    • Tokharia
    Selatan
    • Ahom
    • Bhattiprolu
    • Burma
    • Chakma
    • Cham
    • Divehi
    • Fakkham
    • Goykanadi
    • Grantha
    • Kadamba
    • Kannada
    • Karen
    • Khmer
    • Lao
    • Leke
    • Malayalam
    • Pallawa
    • Pyu
    • Saurashtra
    • Sinhala
    • Tai Le
    • Tai Lue Baru
    • Tai Noi
    • Tai Tham
    • Tai Viet
    • Tamil
    • Tamil-Brahmi
    • Telugu
    • Thai
    • Tulu
    • Vatteluttu
      • Kolezhuthu
      • Malayanma
    Kawi
    • Bali
    • Batak
    • Baybayin
      • Buhid
      • Hanunó'o
      • Kapampangan
      • Tagbanwa
    • Buda
    • Jawa
    • Lontara
      • Bilang-bilang
    • Makassar
    • Sunda Kuno
      • Sunda
    • Surat Ulu
      • Incung
      • Lampung
      • Rejang
    Lainnya
    • Aborigin Kanada
      • Siksiká
      • Silabis Déné
    • Braille bahasa Jepang
    • Buri Wolio
    • Fox I
    • Geʽez
    • Gunjala Gondi
    • Jenticha
    • Kharosthi
    • Mandombe
    • Masaram Gondi
    • Meroi
    • Miao
    • Mwangwego
    • Pahawh Hmong
    • Steno Boyd
    • Steno Thomas
    • Thaana
    Alfabet
    Linear
    • A-Chik Tok'birim
    • Abkhaz
    • Adlam
    • Albania Kaukasus
    • Armenia
    • Avesta
    • Avoiuli
    • Bassa Vah
    • Borama
    • Buryat
    • Caria
    • Coelbren
    • Coorgi–Cox
    • Deseret
    • Elbasan
    • Etruria
    • Evenki
    • Fox II
    • Georgia
      • Asomtavruli
      • Mkhedruli
      • Nuskhuri
    • Glagol
    • Gotik
    • Greko-Iberia
    • Hangeul
    • Hungaria Kuno
    • IPA
    • Italik Kuno
    • Jenticha
    • Kaddare
    • Kayah Li
    • Kiril
      • Kiril Awal
    • Klingon
    • Komi
    • Koptik
    • Latin
    • Lisu Tua
    • Luo
    • Lyd
    • Lyk
    • Manchu
    • Manda
    • Medefaidrin
    • Mongolia
    • Mru
    • Neo-Tifinagh
    • N'Ko
    • Ogham
    • Ol Chiki
    • Osage
    • Osmanya
    • Pau Cin Hau
    • Pazand
    • Perm Kuno
    • Rohingya Hanif
    • Rune
    • Side
    • Somalia
    • Sorang Sompeng
    • Steno Cross
    • Steno Duployé
    • Steno Gabelsberger
    • Steno Gregg
    • Syaw
    • Tifinagh
    • Todo
    • Tolong Siki
    • Orkhon
    • Uighur Kuno
    • Vietnam
    • Visible Speech
    • Vithkuqi
    • Wancho
    • Warang Citi
    • Yunani
    • Zaghawa
    Non-linear
    • Alfabet Moon
    • Bendera maritim
    • Braille
    • Kode telegraf
    • New York Point
    • Semafor bendera
    Ideogram dan piktogram
    • Adinkra
    • Aztek
    • Simbol Bliss
    • Dongba
    • Ersu Shaba
    • Emoji
    • IConji
    • Isotype
    • Kaidā
    • Míkmaq
    • Mixtec
    • Nsibidi
    • Hieroglif Ojibwe
    • Siglas poveiras
    • Testerian
    • Yerkish
    • Zapotec
    Logogram
    Tionghoa
    Aksara Han
    • Sederhana
    • Rumit
    • Tulang Ramalan
    • Perunggu
    • Segel
    • Hanja
    • Idu
    • Kanji
    • Chữ Nôm
    • Zhuang
    Dipengaruhi Tionghoa
    • Jurchen
    • Aksara besar Khitan
    • Sui
    • Tangut
    Logosilabis lainnya
    • Anatolia
    • Bagam
    • Kreta
    • Epi-Olmek
    • Maya
    • Proto-Elam
    • Yi (Kuno)
    Logokonsonan
    • Demotik
    • Hieratik
    • Hieroglif Mesir
    Sistem bilangan
    • Hindu-Arab
      • Arab Barat
      • Arab Timur
      • Angka Hindu
    • Abjad
    • Loteng (Yunani)
    • Muiska
    • Romawi
    Semisilabis
    Penuh
    • Keltiberia
    • Iberia Timur Laut
    • Iberia Tenggara
    • Khom
    Pengulangan
    • Espanca
    • Pahawh Hmong
    • Aksara kecil Khitan
    • Hispania Kuno Barat Daya
    • Zhuyin fuhao
    Isyarat
    • ASLwrite
    • SignWriting
    • si5s
    • Notasi Stokoe
    Silabis
    • Afaka
    • Bamum
    • Bété
    • Byblos
    • Aborigin Kanada
    • Cherokee
    • Siprus
    • Sipro-Minoa
    • Ditema tsa Dinoko
    • Eskayan
    • Geba
    • Danau Algonquin
    • Iban
    • Idu
    • Jepang
      • Hiragana
      • Katakana
      • Man'yōgana
      • Hentaigana
      • Sogana
      • Jindai moji
    • Kikakui
    • Kpelle
    • Linear B
    • Linear Elamite
    • Lisu
    • Loma
    • Nüshu
    • Nwagu Aneke
    • Persia Kuno
    • Sumeria
    • Vai
    • Woleai
    • Yi (Baku)
    • Yugtun
    • l
    • b
    • s
    Braille ⠃⠗⠁⠊⠇⠇⠑
    Braille cell
    • 1829 braille
    • International uniformity
    • ASCII braille
    • Unicode braille patterns
    Braille scripts
    French-ordered
    • Afrika Selatan
    • Albania
    • Azerbaijan
    • Belanda
    • Ceska
    • Esperanto
    • Ghana
    • Guarani
    • Filipino
    • Hawaii
    • Hungaria
    • Inggris (Inggris Tunggal)
    • Iñupiaq
    • IPA
    • Irlandia
    • Italia
    • Jerman
    • Kanton
    • Katalan
    • Latvia
    • Lituania
    • Luksemburg (diperluas menjadi 8 dot)
    • Malta
    • Māori
    • Navajo
    • Nigeria
    • Polandia
    • Portugis
    • Prancis
    • Romania
    • Samoa
    • Slowakia
    • Spanyol
    • Mandarin Taiwan (sebagian besar disusun ulang)
    • Tiongoha daratan
    • Turki
    • Vietnam
    • Wales
    • Yugoslavia
    • Zambia
    Keluarga Nordik
    • Estonia
    • Faroe
    • Islandia
    • Sami Utara
    • Skandinavia
      • Denmark
      • Finlandia
      • Greenland
      • Norwegia
      • Swedia
    Russian lineage family
    i.e. Cyrillic-mediated scripts
    • Belarusia
    • Bulgaria
    • Kazakh
    • Kyrgyz
    • Mongolia
    • Rusia
    • Tatar
    • Ukraina
    Egyptian lineage family
    i.e. Arabic-mediated scripts
    • Arab
    • Persia
    • Urdu (Pakistan)
    Indian lineage family
    i.e. Bharati Braille
    • Devanagari (Hindi / Marathi / Nepali)
    • Bengali (Bangla / Assam)
    • Gujarat
    • Kannada
    • Malayalam
    • Odia
    • Punjab
    • Sinhala
    • Tamil
    • Telugu
    • Urdu (India)
    Other scripts
    • Amharic
    • Armenia
    • Burma
    • Kamboja
    • Dzongkha (bahasa Bhutan)
    • Georgia
    • Yunani
    • Ibrani
    • Inuktitut (reassigned vowels)
    • Thai dan Lao (Japanese vowels)
    • Tibet
    Reordered
    • Braille bahasa Algeria (obsolete)
    Frequency-based
    • Braille bahasa Amerika (obsolete)
    Independent
    • Chinese semi-syllabaries
      • Kanton
      • Mandarin Tionghoa daratan
      • Mandarin Taiwan
      • Two-cell Chinese (Shuangpin)
    • Jepang
    • Korea
    Eight-dot
    • Luksemburg
    • Kanji
    • Gardner–Salinas braille codes (GS8)
    Symbols in braille
    • Braille music
    • Canadian currency marks
    • Computer Braille Code
    • Gardner–Salinas braille codes (science; GS8/GS6)
    • International Phonetic Alphabet (IPA)
    • Nemeth braille code
    Braille technology
    • Braille e-book
    • Braille embosser
    • Braille translator
    • Braille watch
    • Mountbatten Brailler
    • Optical braille recognition
    • Perforation
    • Perkins Brailler
    • Refreshable braille display
    • Slate and stylus
    • Braigo
    Persons
    • Louis Braille
    • Charles Barbier
    • Valentin Haüy
    • Thakur Vishva Narain Singh
    • Sabriye Tenberken
    • William Bell Wait
    Organisations
    • Braille Institute of America
    • Braille Without Borders
    • Japan Braille Library
    • National Braille Association
    • Blindness organizations
    • Schools for the blind
    • American Printing House for the Blind
    Other tactile alphabets
    • Decapoint
    • Moon type
    • New York Point
    • Night writing
    • Vibratese
    Related topics
    • Accessible publishing
    • Braille literacy
    • RoboBraille
    • l
    • b
    • s
    Sistem tulisan elektronik
    • Emotikon
    • Emoji
    • Kaomoji
    • iConji
    • Leet
    • Unicode
    • l
    • b
    • s
    Suku bangsa Batak
    Etnik
    • Batak Angkola
    • Batak Karo
    • Batak Mandailing
    • Batak Pakpak
    • Batak Simalungun
    • Batak Toba
    Etnik afiliasi
    • Batak Alas
    • Batak Kluet
    • Pesisir
    • Singkil
    Bahasa dan
    aksara
    Aksara
    Surat Batak
    Rumpun utara
    • Batak Alas-Kluet (btz)
    • Batak Karo (btx)
    • Batak Pakpak (btd)
    Rumpun selatan
    • Batak Angkola (akb)
    • Batak Mandailing (btm)
    • Batak Simalungun (bts)
    • Toba (bbc)
    Marga
    • Marga Batak Angkola
    • Marga Batak Karo
    • Marga Batak Mandailing
    • Marga Batak Pakpak
    • Marga Batak Simalungun
    • Marga Batak Toba
    Agama
    • Kristen
    • Islam
    • Parmalim
    • Pemena
    • l
    • b
    • s
    Batak Toba
    Pembagian
    • Humbang
    • Samosir
    • Silindung
    • Toba
    Tari Tortor
    Sistem kekerabatan
    • Marga
      • Humbang
        • daftar
      • Samosir
        • daftar
      • Silindung
        • daftar
      • Toba
        • daftar
    • Partuturan
    • Tarombo Batak
    Bahasa dan
    kesusastraan
    • Surat Batak
    • Bahasa Batak Toba
    • Umpasa
    • Umpama
    • Turiturian
    Kuliner
    • Arsik
    • Dali ni horbo
    • Dengke naniura
    • Itak gurgur
    • Hasang sihobuk
    • Benti
    • Lampet
    • Ombusombus
    • Pohulpohul
    • Manuk napinadar
    • Mi gomak
    • Na nidugu
    • Na tinombur
    • Saksang
    • Sambal tuktuk
    • Sasagun
    • Tanggotanggo
    • Tipatipa
    Falsafah
    Dalihan Natolu
    Upacara adat
    • Mangalua
    • Mangongkal holi
    • Manulangi Natuatua
    • Manulangi Ompung
    • Manulangi Pahompu
    • Manulangi Tulang
    • Martumpol
    • Perkawinan
    • Tonggo Raja
    Seni budaya dan
    kerajinan
    • Abalabal
    • Gondang Batak
    • Monsak
    • Pustaha
    • Tortor Batak
    • Ulos
    • Tunggal panaluan
    Alat musik
    tradisional
    • Garantung
    • Gordang
    • Hasapi
    • Hesek
    • Jenggong
    • Mengmung
    • Odap
    • Ogung
    • Sagasaga
    • Sarune
    • Sordam
    • Sulim
    • Taganing
    • Talatoit
    • Tanggetang
    Kepercayaan dan
    agama
    • Parbaringin
    • Parhudamdam Siraja Batak
    • Parmalim
    • Kekristenan
      • Alkitab
      • Gereja Suku Batak Toba
      • Misi Katolik di Tanah Batak
      • Zending Protestan di Tanah Batak
    Mitologi
    • Banua Ginjang
    • Banua Tonga
    • Banua Toru
    • Boraspati Nitano
    • Boru Saniang Naga
    • Debata Idup
    • Djambu Baros
    • Ilik
    • Mangala Bulan
    • Manuk Patiaraja
    • Mulajadi Nabolon
    • Naga Padoha
    • Pane Nabolon
    • Soripada
    • Tapi Donda
    Kekayaan budaya
    • Pusuk Buhit
    • Sopo Guru Tatea Bulan
    • Salib Kasih, Siatas Barita
    • Kampung Ulos Huta Raja
    • Huta Siallagan
    • Museum Batak
      • Balige
      • Tomok
    Kategori
    • l
    • b
    • s
    Suku Karo
    Wilayah tradisional
    Taneh Karo
    Sistem kekerabatan
    Orat Tutur
    Marga
    Ginting  • Karokaro  • Peranginangin  • Sembiring  • Tarigan
    Bahasa dan kesusastraan
    Bahasa Batak Karo  • Surat Batak  • Perumpamaan Karo  • Turiturin
    Hidangan khas
    Cimpa  • Nurung Kerah  • Cipera  • Babi Panggang Karo  • Pagit-pagit  • Tasak Telu  • Lomok-lomok
    Falsafah
    Mejuah-juah  • Rakut Sitelu
    Upacara adat
    Erpangir ku lau  • Mengket Rumah Mbaru  • Pernikahan adat Karo  • Sarsar Lambe  • Merdang Merdem
    Seni dan budaya
    Gendang guro-guro aron  • Gendang Lima Sendalanen  • Gendang patam-patam  • Uis Gara  • Tari Lima Serangkai  • Aron  • Piso Surit  • Perkolong-kolong
    Alat musik tradisional
    Kulcapi  • Keteng-Keteng  • Balobat  • Murbab  • Gendang Singanaki
    Agama
    Pemena  • Alkitab bahasa Batak Karo  • Gereja Batak Karo Protestan  • Gereja Injili Karo Indonesia
    Mitologi
    Umang  • Jangak Category Kategori

    Bagikan artikel ini

    Share:

    Daftar Isi

    1. Sejarah
    2. Media
    3. Penggunaan
    4. Kemunduran
    5. Penggunaan kontemporer
    6. Bentuk
    7. Aksara dasar
    8. Diakritik
    9. Tanda baca
    10. Ortografi
    11. Ligatur -u
    12. Penulisan suku kata tertutup
    13. Penulisan diakritik -ng dan -h
    14. Contoh teks
    15. Blok unicode
    16. Galeri

    Artikel Terkait

    Bahasa Batak Mandailing

    bahasa Batak yang dituturkan oleh orang Batak Mandailing

    Bahasa Sunda

    bahasa yang dituturkan di Indonesia

    Surat Lampung

    aksara keturunan Kawi untuk menulis rumpun bahasa Lampung

    Jakarta Aktual
    Jakarta Aktual© 2026