Rasisme atau rasialisme umumnya bermakna prasangka dan diskriminasi terhadap ras atau etnis, yaitu suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih istimewa dan berhak untuk merendahkan bahkan memperbudak ras lain yang dianggap lebih rendah. Orang yang memercayai konsep tersebut dikenal sebagai "rasis", di mana kata ini juga merupakan kata sifat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bagian dari seri |
| Diskriminasi |
|---|
Rasisme atau rasialisme umumnya bermakna prasangka dan diskriminasi terhadap ras atau etnis,[1] yaitu suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih istimewa dan berhak untuk merendahkan bahkan memperbudak ras lain yang dianggap lebih rendah.[2] Orang yang memercayai konsep tersebut dikenal sebagai "rasis", di mana kata ini juga merupakan kata sifat.[3]
Beberapa penulis menggunakan istilah rasisme untuk merujuk pada preferensi terhadap kelompok etnis tertentu (etnosentrisme), ketakutan terhadap orang asing (xenofobia), penolakan terhadap hubungan antar ras (amalgamasi), dan generalisasi terhadap suatu kelompok tertentu (stereotipe).[4][5]
Rasisme sering kali dianggap sebagai konsep yang relatif modern dan muncul akibat imperialisme, yang ditransformasikan oleh kapitalisme,[6] dan didorong oleh perdagangan budak Atlantik.[7][8] Rasisme telah menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial, segregasi ras, dan kekerasan rasial, termasuk genosida. Hal ini dapat dilihat pada berbagai contoh sejarah seperti Holokaus, Genosida Armenia, segregasi ras di Amerika Serikat dan Afrika Selatan, serta berbagai bentuk kolonisasi oleh negara-negara Eropa di Amerika, Asia, dan Afrika.
Rasisme berasal dari kata dasar "ras", yang berasal dari bahasa Inggris “race”. Adapun kata "race" sendiri masih belum jelas asal-usulnya. Ahli bahasa pada umumnya setuju bahwa kata ini berasal dari bahasa Prancis Pertengahan, meskipun tidak ada konsensus bagaimana kata tersebut berada dalam rumpun bahasa Roman. Baru-baru ini ada pendapat bahwa kata tersebut merupakan turunan dari bahasa Arab "ra’s" yang berarti "kepala, permulaan, atau asal", atau bahasa Ibrani "rosh" yang memiliki arti yang mirip.[9]
Pada abad ke-19, banyak ilmuwan yang mendukung kepercayaan bahwa populasi manusia dapat dibagi menjadi beberapa ras. Istilah rasisme sendiri digunakan untuk mendeskripsikan suatu kondisi sosiokultural yang menjadikan seseorang memercayai bahwa populasi manusia dapat dan seharusnya diklasifikasikan ke dalam ras yang berbeda, yang memiliki kemampuan dan sifat alamiah, baik itu tendensi, karakter, sifat, maupun hasrat. Kepercayaan ini memungkinkan munculnya sebuah ideologi diskriminatif, di mana hak dan keistimewaan seseorang diberikan secara berbeda berdasarkan rasnya.[3]
Pada awalnya orang yang mengagas teori tentang ras umumnya memegang pandangan bahwa suatu ras memiliki derajat yang lebih rendah dari pada ras lainnya. Hal ini menyebabkan mereka memercayai bahwa perlakuan yang berbeda kepada setiap ras adalah hal yang benar.[10][11][12][13] Teori mengenai ras semacam ini didasarkan oleh asumsi dari penelitian ilmu semu berupa usaha gabungan yang dilakukan untuk mendefinisikan dan membentuk hipotesis mengenai perbedaan rasial. Penelitian ini dikenal dengan sebutan rasisme ilmiah. Perlu dipahami bahwa sebutan ini merupakan bentuk misnomer, dikarenakan kurang data yang aktual untuk melatarbelakangi klaim tersebut.
Rasisme berkaitan dengan konsep ras di dalam masyarakat. Pembentukan rasisme dapat terjadi jika perbedaan fisik dianggap sebagai suatu hal yang penting di dalam masyarakat. Rasisme juga dapat timbul karena adanya perbedaan dari segi psikologi, ideologi dan ekonomi. Kondisi yang dapat menimbulkan rasisme di dalam masyarakat yaitu adanya beberapa kelompok ras dengan kebudayaan yang berbeda serta adanya pelembagaan ketidaksetaraan pada masing-masing ras yang saling berhubungan satu sama lain.[14]
Faktor lain adalah kurangnya saling mengasihi dan cinta sesama manusia meskipun hal ini bukan pertama yang di pikirkan orang mengenai rasisme. Hal ini mungkin berperan terjadinya rasisme dan diskriminasi karena dengan saling mengasihi/mencintai sesama manusia berarti menolak untuk mentoleransi ketidak-adilan dan merangkul keaneragaman serta saling menghargai tanpa pandang bulu (inklusi).[15]
Authoritarian personality : Adorno’s theory tentang authoritarian personality yang selaras dengan Freud’s psychoanalysis menyatakan bahwa individu yang mendukung conservatism, nationalism, dan fascism cenderung mengembangkan personality dan cara berfikir yang rigid/kaku, serta mengekspresikan kepercayaan konvensional dan sering manyatakan diri mereka sebagai pemimpin. Hal ini menyebabkan kecenderungan untuk membenci sesuatu yang berbeda dengan nilai, norma dan malakukan racism terhadap minoritas.[16]
Prejudice (berprasangka buruk):
Prejudice adalah awal dari diskriminasi dan stigma atau label.[17]
Teori Social learning : Rasisme diperoleh dari masyarakat sejak kecil seperti yang Farzana Saleem, PhD, assistant professor di Graduate School of Education, Stanford University katakan bahwa “Racism is learned early on in development, and children receive many messages about race and racism from a young age.” (rasisme dipelajari sejak awal perkembangan dan anak-anak menerima banyak ajaran tentang ras dan rasisme sejak kecil).[21] Berdasarkan study, Orang yang dibesarkan dengan konteks kebersamaan dan ras yang sama akan menjadi pribadi yang focus kepada orang lain dan kurang menjadi pribadi yang berkarakter, tampak sama dan berbicara dengan cara yang sama. Sebaliknya orang yang dibesarkan dengan individual konteks relative cenderung focus ke diri dan berkarakter berbeda. Orang yang dibesarkan dengan ekpose masalah ras akan lebih focus dan sensitive terhadap masalah ras di kehidupan sehari-hari.[22]
Teori Terror management : Orang cenderung mencari keamanan dengan menjadi bagian grup masyarakat saat takut mengingat akan kematian,[23] mereka cenderung menyamakan diri atau conformity dengan perilaku yang di terima di masyarakat dan menjadi bagian ras atau etnis masyarakat.[24] Hal ini berdasarkan Dr Peter Chew, Senior Lecturer of Psychology at James Cook University in Singapore “For example, when researchers reminded people of death, these people reacted by reporting higher prejudice against minorities, greater intentions to donate money, and an increased preference for luxury products,” (untuk contoh, saat peneliti mengingatkan orang tentang kematian, orang-orang ini bereaksi dengan hasil peningkatan prasangka negative terhadap minoritas, meningkatkan niatan untuk mendonasikan uang, dan peningkatan selera untuk produk mewah).[25]
Rasisme berjalan rumit di dalam otak dan terkadang otomatis, subconcious level dan melibatkan banyak brain regions mulai dari bagian untuk mengkategorikan social, self perception, empati, rasa sakit, persepsi wajah serta bentuk lain di dalam grup bias dan diskriminasi orang luar grup.[26]
Racialization atau ethnicization adalah sebuah konsep sosiologi yang digunakan untuk mendeskripsikan proses di mana ethnic atau racial identities diciptakan,[27][28] atau dimasukkan ke dalam pemahaman perilaku manusia ke masyarakat.[29] Hal tersebut membuat model dominasi racial sebagai sebuah proses di mana grup yang dominan me-“racializes”-kan ke grup yang didominasi.[30]
Proses racialization mungkin dimulai dengan memberi “Labels” (mengecap seseorang),[31] setelah itu memberi “stigmatizes” (mamaksakan suatu tanda negative seperti memalukan atau menjelekkan kepada individu/ras serta mengucilkannya, terutama kepada seseorang yang menolak untuk conformity atau menyamakan diri dengan masyarakat. Dan yang terakhir “Marginalization” (meminggirkan, membuat suatu individu/ras tidak dapat perperan penuh atau sederajat di bidang ekonomi, cultural dan institusi politik di masyarakat).[32]
Berikut beberapa aturan yang dapat membuat terbentuknya ras dan rasisme :
Geographical segregation muncul di mana proporsi dari populasi dua atau lebih masyarakat tidak homogen di dalam suatu wilayah. Populasi dapat berupa spesies tumbuhan atau hewan, jenis kelamin manusia, pemeluk dari suatu agama, masyarakat dari bangsa yang berbeda, grup etnis, dll.
Racial segregation adalah pemisahan manusia kedalam socially-constructed racial groups (kelompok ras/racial dalam konstruksi social) di kehidupan sehari hari. Hal ini mungkin diaplikasikan dalam aktivitas makan di restoran, minum dari water fountain, menggunakan kamar mandi, sekolah, pergi ke bioskop atau rental/membeli rumah serta menginap di hotel.[38] Sebagai tambahan, segregation sering membolehkan hubungan dekat antar ras atau etnis yang berbeda di dalam hierarki, seperti seorang dari suatu ras bekerja sebagai pelayan untuk orang dari ras lain. Racial segregation di dunia umumnya berjalan diluar hukum.

Social stratification merujuk ke sebuah proses mengkategorikan masyarakat ke dalam grup-grup berdasarkan factor social-ekonomi seperti kekayaan, gaji, ras, edukasi, etnis, jenis kelamin, profesi, status social, atau pemberian kekuasaan (social dan politik). Hal ini merupakan sebuah hierarki didalam grup-grup yang memasukkan mereka ke dalam level keistimewahan yang berbeda.[39] Hal seperti itu, membuat stratification merupakan posisi relatif social seseorang di dalam grup social, kategori, daerah geografi, atau unit social.[40][41][42]
Racial hierarchy adalah sebuah system dari stratification yang berdasarkan kepercayaan bahwa beberapa grup-grup ras lebih superior dari pada grup ras lain. Pada berbagai point di dialam sejarah, racial hierarchies menjadi fitur di dalam masyarakat, sering kali menjadi hal formal di dalam hukum, seperti Nuremberg Laws di Nazi Germany.[43] Pada umumnya, orang yang mendukung hierarki ras percaya bahwa mereka adalah bagian dari ras yang superior dan basis dari superiority mereka berdasarkan pseudo-biological, cultural atau religious arguments.[44][45] Bagaimanapun system hierarki social telah secara luas ditolak dan ditentang serta banyak yang seperti Apartheid telah dihilangkan.[46] Penghilangan system seperti itu tidak menghentikan debat antara racial hierarchy dan racism lebih luas.

Cultural racism muncul sebagai kepercayaan dan budaya yang mempromosikan asumsi bahwa kultur/budaya termasuk bahasa dan tradisi dari budaya tersebut lebih superior terhadap budaya lain. Hal ini berdampingan dengan xenophobia, yang mana selalu dikarakteristikkan dengan ketakutan akan aggression/penyerangan kepada orang luar grup.[47] Hal ini juga sama dengan communalism yang ada di Asia Selatan.[48]
Racism, sexism, ageism, dan kebencian terhadap agama lain, serta etnis atau kebangsaan selalu menjadi komponen diskriminasi ekonomi, seperti bentuk diskriminasi yang lain.
Ada banyak teori yang focus ke akar diskriminasi ekonomi. Diskriminasi ekonomi adalah hal yang unik dibandingkan dengan jenis diskriminasi yang lain karena hanya bagian kecil dari ekonomi yang di sebabkan rasisme, yakni seperti yang disebut "cynical realization that minorities are not always your best customers" (realisasi sinis bahwa orang minoritas tidak selalu pembeli terbaik-mu).
Kebanyakan diskriminasi ekonomi di US dan Eropa berdasarkan ras dan ke-etnis-an, kebanyakan orang berkulit hitam dan Hispanik di US dan Muslim di Eropa. Di hampir semua bagian di dunia, perempuan ditempatkan di posisi paling bawah, gaji lebih rendah dan pelarangan kesempatan untuk mendapatkan kepemilikan tanah atau insentif ekonomi untuk memasuki dunia bisnis atau untuk start-up.
Societal racism adalah sebuah racism yang berdasarkan suatu pengaturan dari institusi, sejarah, budaya, dan hubungan antar individu di dalam masyarakat yang menempatkan satu atau lebih masyarakat atau grup etnis/ras di posisi yang lebih baik dan tidak menguntungkan bagi grup lain sehingga perbedaan berkembang antara grup tersebut.[49] Societal racism juga dinamakan structural racism karena berdasarkan Carl E. James, masyarakat di bangun dengan jalan mengeluarkan beberapa orang dari grup minoritas dari bagian institusi social.[50] Rasisme social terkadang merujuk juga ke systemic racism.[51]
Othering, di lainkan, di bedakan, di sendirikan, merupakan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan sebuah system diskriminasi di mana karakteristik dari sebuah grup digunakan untuk membedakan mereka dari suatu norma atau yang normal di masyarakat.[52]
Othering memainkan peran fundamental di dalam sejarah dan keberlangsungan dari rasisme. Untuk objectify sebuah kultur budaya sebagai sesuatu yang berbeda, eksotis, aneh, atau belum berkembang, adalah dengan meng-generalize bahwa hal tersebut bukan hal yang “normal”. Perlakuan kolonial Eropa kepada oriental merupakan contoh dalam hal ini, seperti dipikir bahwa orang Timur adalah kebalikan dengan orang Barat. Orang Timur feminine sedangkan Orang Barat masculine, Orang Timur lemah di mana Orang barat kuat dan Orang Timur tradisional di mana Orang Barat berkembang maju.[53] Dengan membuat generalization dan othering Orang Timur, Eropa secara bertahap mendefinisikan diri mereka sebagai norma, mempertahankan gap lebih lanjut.[54]
Banyak dari proses othering (meng-orang lain-kan) bergantung pada imaginasi perbedaan, atau ekspetasi akan perbedaan. Memberi ruang perbedaan cukup dengan menyimpulkan bahwa “we” (kita) “here” (di sini) dan “other” (yang lain/orang lain) “there” (disebelah sana).[55] Imaginasi tentang perbedaan membuat untuk mengkategorikan orang kedalam kelompok-kelompok dan menempelkan mereka dengan imaginasi suatu karakter yang mereka ekspektasikan ada di mereka.[56]
State racism (rasisme negara/daerah) marupakan institusi dan perbuatan dari sebuah bangsa/negara/daerah yang berdasarkan ideologi racist. Hal ini sudah dimainkan dalam banyak peran di instansi settler colonialism (penjajah) mulai dari United States sampai Australia.[butuh rujukan] Hal ini juga berperan di regime Nazi German, regime fascist seluruh Eropa dan selama awal tahun periode Showa di Japan. Pemerintahan ini mendukung dan mengimplementasikan ideologi dan aturan yang berbentuk racist, xenophobic (anti orang asing) dan genocidal (pembersihan race lain) terutama Nazism.[57][58]
Nasionalisme adalah sebuah ide dan gerakan yang memegang bahwa nation (bangsa) harus sejalan dengan negara.[59][60] Sebagai suatu gerakan, hal ini menganggap keberadaan[61] dan kecenderungan untuk mempromosikan kepentingan dari suatu bangsa,[62] terutama untuk tujuan mendapatkan dan menjaga otonomi atau sovereignty (self-governance, pemerintahan sendiri) melalui mempersepsikan sebagai “rumah” atau homeland untuk menciptakan sebuah bangsa-negara. Hal ini memegang bahwa bangsa harus dapat mengatur sendiri, bebas dari campur tangan dari luar (self-determination), sebuah bangsa alami dan ideal untuk dasar dari sebuah polity (politik organisasi, pemerintahan)[63] dan bangsa adalah satu-satunya sumber politik yang diperbolehkan.[64][65] Hal ini menargetkan hal yang lebih jauh seperti membangun dan menjaga sebuah kesatuan identitas nasional, berdasarkan kombinasi dari berbagai karakter masyarakat seperti budaya, etnis, lokasi geografi, bahasa, politik (atau suatu pemerintahan), agama, tradisi dan kepercayaan di dalam sebuah bagian kesatuan sejarah[66][67] serta untuk mempromosikan persatuan nasional atau solidaritas.[64] Ada berbagai definisi dari “nation” atau bangsa, yang mana mengerah ke tipe-tipe yang berbeda dari nasionalisme.[68] Dua bentuk utama adalah ethnic nationalism dan civic/democratic nationalism.

Forced assimilation adalah proses asimilasi yang dipaksakan, dapat berupa asimilasi agama atau grup etnis minoritas. Mereka dipaksa oleh pemerintah untuk mengadopsi bahasa, identitas nasional, norma,mores, budaya, tradisi, nilai, mentality, persepsi, jalan hidup, dan sering kali agama serta ideologi yang berasal dari komunitas yang sudah berdiri dan pada umumnya lebih besar serta berbudaya dominan.
Penekanan penggunaan Bahasa yang dominan di legislasi, sekolah, literature dan peribadatan juga dihitung sebagai forced assimilation. Tidak seperti ethnic cleansing atau pembersihan etnis/suku, populasi local tidak dihancurkan dan mungkin atau mungkin tidak di usir paksa dari suatu daerah. Tetapi, diharuskan (mandatory) ber-assimilasi. Hal ini juga disebut mandatory assimilation oleh pelajar yang mempelajari genocide dan nationalism.
Ethnic cleansing adalah pemaksaan sistematis dari penghilangan etnis, ras, atau grup agama dari suatu daerah, dengan tujuan membuat masyarakat dengan etnis yang homogen. Bersamaan dengan penghilangan secara langsung seperti deportasi atau populasi transfer/transmigrasi, hal itu juga termasuk metode secara tidak langsung dengan target forced migration/pindah paksa dengan memaksakan grup korban untuk lari dan mencegah kembali seperti dengan cara pembunuhan, pemerkosaan dan pengerusakan property.[78][79][80][81][82] Baik definisi dan tanggung jawab dari ethnic cleansing sering kali menjadi debat, dengan beberapa peneliti memasukkan dan yang lain tidak memasukkan coercive assimilation atau mass killing untuk depopulasi sebuah area dari suatu grup.[83][84][85]
Genocide, Di tahun 1948, United Nations Genocide Convention mendefinisikan genocide sebagai salah satu dari lima "acts committed with intent to destroy, in whole or in part, a national, ethnical, racial or religious group" (perbuatan yang bertujuan untuk menghancurkan, seluruh atau bagian sebuah bangsa, etnis, rasa tau grup agama). Lima perbuatan ini adalah :
Korban menjadi target karena salah satu anggota dari suatu grup secara real atau hanya persepsi, tidak secara acak.[86][87][88][89]
Institutional racism, juga dikenal dengan systemic racism, di definisikan sebagai aturan dan praktik yang ada di masyarakat atau organisasi yang menghasilkan dan mendukung keberlangsungan hubungan yang hanya menguntungkan sepihak dan merugikan pihak lain berdasarkan ras atau etnis. Diskriminasi ini muncul di area seperti pengadilan, pekerjaan, perumahan, kesehatan, pendidikan dan representasi politik.[90]
Environmental racism, ecological racism, atau ecological apartheid adalah bentuk dari racism yang berefek negative ke lingkungan seperti tanah longsor, incinerators, and hazardous waste disposal dan berdampak tidak proporsional kepada suatu komunitas dan melanggar substantive equality.[91][92][93] Secara internasional hal ini juga diasosiasikan dengan extractivism, di mana menempatkan beban lingkungan dari penambangan, ekstraksi minyak dan industry agrikultur kepada orang pribumi dan bangsa yang lebih miskin dan mayoritas di tempati oleh selain orang berkulit putih.[91]
Overt racism adalah rasisme yang terlihat, modus operandinya jelas, beroperasi secara terbuka, ethnocentrism dan diskriminasi ras.[94]
Covert racism adalah sebuah bentuk diskriminasi ras yang tersembunyi dan samar, dibandingkan secara overt, public atau jelas terlihat. Tersembunyi dalam konsep social, covert racism mendiskriminasikan individu melalui penghindaran atau metode pasif lain seperti :[95]
Aversive racism adalah sebuah bentuk dari racism secara tidak langsung/terbuka, yakni seseorang secara tidak sadar berfikir negative tentang race atau etnis minoritas, hal ini dapat dilihat dari perilaku yang selalu menghindari interaksi dengan ras dan grup etnis lain. Kebalikan tradisional, overt racism (rasist terang-terangan) yang mempunyai karakter secara terbuka dan terang-terangan membenci dan mendiskriminasikan/berlaku tidak adil terhadap racial/ras/etnis minoritas. Aversive racism mempunyai karakter yang lebih komplek, ekspresi dan perlakuan yang ambivalent (kadang baik, kadang jahat). Aversive racism mempunyai persamaan aksi dengan konsep symbolic atau modern racism yakni juga berbentuk secara tidak langsung, tidak sadar atau covert attitude yang menimbulkan bentuk diskriminasi yang tidak disadari.
Beberapa pelajar berargument bahwa di US, di akhir abad 20, bentuk pertama rasisme yang berupa violent (perilaku kasar) dan aggressive (penyerangan) telah berkembang menjadi lebih samar, prejudice atau mengangap buruk sesuatu. Bentuk baru rasis ini terkadang mengarah ke “modern racism” dan hal itu dikarakteristikkan dengan perilaku di luar terlihat tidak menganggap buruk orang tetapi di dalam menganggap buruk, memperlihatkan sebuah prejudice tersamar seperti mengecap kualitas orang lain berdasarkan karakteristik ras tertentu, serta penilaian baik dan buruknya perbuatan seperti itu bergantung pada ras orang yang sedang dinilai.
Microaggression adalah istilah dari perbuatan yang menghina secara verbal, tingkah laku atau situasional yang di sengaja ataupun tidak sengaja, yakni seperti berkomunikasi dengan tidak ramah, merendahkan atau perlakuan negative kepada ras, kultur, kepercayaaan, jenis kelamin yang lain .[96]
Aturan rasist Nazi German adalah aturan dan hukum yang di impementasikan di dalam Nazi German dibawah ke-diktatoran Adolf Hitler, berdasarkan pseudoscientific and racist doctrines menyatakan bahwa "Aryan race" adalah superior dan di klaim kebenarannya secara scientific. Hal ini juga di kombinasikan dengan program eugenics yang mempunyai target untuk "racial hygiene" dengan cara compulsory sterilization dan pemusnahan yang di lihat sebagai Untermenschen ("sub-humans"), yang mana berakhir dengan Holocaust.
Holocaust adalah genosida dari jews di eropa selama perang dunia ke II. Antara tahun 1941-1945, Nazy german dan yang berkolaberasi secara sistematis membunuh enam juta jews di bagian eropa yang dikuasai German, atau sekitar 2/3 populasi Jews di eropa.
Special settlements di Soviet Union merupakan hasil dari populasi transfer (transmigrasi) dan di lakukan dalam operasi yang terorganisasi dan berkelanjutan menurut kelas social atau kebangsaan yang di deportasi/dipindahkan. Memindahkan “kelas musuh” seperti prosperous peasants (petani) dan seluruh populasi etnis tertentu adalah metode dari political repression in the Soviet Union, walaupun terpisah dengan penal labor (kerja paksa tawanan) dari system Gulag. Pemukiman paksa memainkan peran dalam kolonisasi daerah Soviet Union yang masih perawan.
Sebagai masyarakat kelas dua, orang yang deportation (dipindahkan) di desain sabagai "special settlers" atau penghuni special dilarang untuk memegang banyak pekerjaan, Kembali ke daerah asal,[98] menghadiri sekolah prestigious[99] bahkan bergabung dengan program cosmonaut.[100] Karena special settlement ini disebut tipe apartheid oleh J. Otto Pohl.[101]
Apartheid (transl. "separateness", lit. 'aparthood') adalah system institutional racial segregration yang ada di Afrika Selatan dan Afrika Barat Daya (sekarang Namibia) dari tahun 1948-1990-an. Apartheid dikarakteristikan dengan budaya politik authoritarian yang berdasarkan baasskap (lit. 'boss-ship' or 'boss-hood'), yang mana memastikan bahwa politik, social dan ekonomi. Afrika Selatan telah didominasi oleh bangasa minoritas orang berkulit putih.[102] Di dalam system minoritian terdapat social stratifikasi (hierarki social) dan marginalization seperti masyarakat berkulit putih mempunyai status tertinggi setelah itu Indian dan Coloureds lalu Afrikan berkulit hitam.[102] efek social dan ekonomi masih berjalan sampai hari ini, terutama ke tidak-adilan[103][104][105][106]
Konflik Sampit atau Perang Sampit atau Tragedi Sampit adalah sebuah peristiwa Kerusuhan antar-etnis yang terjadi di pulau Kalimantan pada tahun 2001. bermula sejak 18 Februari 2001, Konflik ini berlangsung sepanjang tahun tersebut. Konflik ini pecah di kota Sampit, Kalimantan Tengah sebelum pada akhirnya meluas ke seluruh provinsi di Kalimantan, termasuk ibu kota Palangka Raya.
Kerusuhan Sambas merujuk kepada peristiwa kerusuhan antar etnis di wilayah Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Kerusuhan Sambas sudah berlangsung sekitar tujuh kali sejak 1970, tetapi kerusuhan tahun 1999 adalah yang terbesar dan merupakan dari akumulasi kejengkelan Melayu dan Dayak terhadap ulah para oknum pendatang dari Madura. Akibatnya, orang-orang keturunan Madura yang sudah bermukim di Sambas sejak awal 1900-an, ikut menjadi korban.[107] Korban akibat kerusuhan Sambas terdiri dari 1.189 orang tewas, 168 orang luka berat, 34 orang luka ringan, 3.833 rumah dibakar dan dirusak, 12 mobil dan 9 motor dibakar/dirusak, 8 masjid/madrasah dirusak/dibakar, 2 sekolah dirusak, 1 gudang dirusak, dan 29.823 warga Madura mengungsi.
Kerusuhan Poso atau konflik komunal Poso, adalah sebutan bagi serangkaian kerusuhan yang terjadi di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Indonesia. Peristiwa ini awalnya bermula dari bentrokan kecil antarkelompok pemuda sebelum berkembang menjadi kerusuhan bernuansa agama. Beberapa faktor berkontribusi terhadap pecahnya kekerasan, termasuk persaingan ekonomi antara penduduk asli Poso yang mayoritas beragama Kristen dengan para pendatang seperti pedagang-pedagang Bugis dan transmigran dari Jawa yang memeluk Islam, ketidakstabilan politik dan ekonomi menyusul jatuhnya Orde Baru, persaingan antar pejabat pemerintah daerah mengenai posisi birokrasi, dan pembagian kekuasaan tingkat kabupaten antara pihak Kristen dan Islam yang tidak seimbang. Situasi dan kondisi yang tidak stabil, dikombinasikan dengan penegakan hukum yang lemah, menciptakan lingkungan yang menjanjikan untuk terjadinya kekerasan.
Javanisation atau penjawaan/jawanisasi adalah proses di mana budaya jawa mendominasi, mengasimilasi atau memengaruhi budaya lain di lain daerah. Istilah “javanise” berarti “untuk membuat atau menjadi Javanese/jawa di dalam bentuk, pemikiran, style, gaya atau karakter. Dominasi ini dapat mengambil tempat di berbagai aspek seperti budaya, Bahasa, politik dan social.
Masalah penjawaan telah menjadi isu sensitive dan critical terhadap pembangunan nasional dan kesatuan Indonesia.[108] Dominasi jawa dipertimbangkan tidak hanya pada dunia budaya tetapi juga social, politik dan ekonomi. Regime orde baru Suharto dikritisi karena politik penjawaan Indonesia selama puluhan tahun. Di dalam politik, administrasi, pemerintahan dan pegawai negeri sipil perspektif, penjawaan ini terkadang di persepsikan negative karena mengandung element terburuk dari budaya jawa, seperti social hierarki yang kokoh, authoritarianism (patuh buta pada pemimpin) dan arbitrariness. Sebuah perkembangan yang terkadang disebut sebagai "Mataramisation" dan "feudalisation", ditemani oleh kesukaan untuk menunjukkan status dan arogansi.[109] Sebuah tipikal penjelasan negative dari priyayi yang berperilaku seperti anggota dari kelas atas jawa.
Program transmigrasi yang memindah orang dari daerah padat penduduk jawa ke pulau Indonesia lain seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesian New Guinea, juga di kritisi sebagai pemercepat dan pem-promosi proses penjawaan di Indonesia. Masalah ini juga di bertambah dengan perkembangan masalah ketidak adilan, di mana pulau lain kurang dikembangkan dan perang social di daerah mereka, yang berkebalikan dengan perkembangan infrastruktur dan distribusi kekayaan terlihat hanya menginginkan fokus di jawa.
Saat maraknya covid-19, rasisme kembali terjadi yaitu masyarakat Asia yang mendapat diskriminasi, karena orang-orang menganggap bahwa orang orang Asia adalah penyebab munculnya virus COVID-19. Menurut stop AAPI, setidaknya terdapat 500 insiden diskriminasi yang dialami oleh masyarakat Asia dan dari Maret 2020 hingga Februari 2021 telah mencapai 3.785 laporan.
Mayoritas laporan mencatat 68% merupakan pelecehan verbal. Sementara 11% melibatkan serangan fisik. Puncaknya terjadi pada kasus penembakan di tempat spa Asia di Atlanta yang menewaskan 8 orang pada Maret lalu.
1. Prancis
Beberapa anak keturunan Asia seperti China, Vietnam, Korea, dan Jepang dikabarkan telah dikucilkan dan diejek oleh teman-temannya di sekolah menegah Paris. Ini karena asal-usul etnis mereka.
Restoran China, Thailand, Kamboja, dan Jepang telah melaporkan penurunan pelanggan. Skala penurunan berkisar antara 30 hingga 50%.
2. Jerman
Majalah mingguan Der Spiegel pernah menerbitkan sampul kontroversial yang dianggap oleh beberapa orang menyalahkan China atas wabah tersebut dan memicu kebencian Anti-Asia atau xenofobia.
Kedutaan Besar China di Berlin telah mengakui peningkatan kasus permusuhan terhadap warganya sejak wabah. Pada 1 Februari 2020, seorang warga negara Tiongkok berusia 23 tahun di Berlin dilaporkan menerima penghinaan rasis dan kemudian dipukuli oleh dua penyerang tak dikenal, dalam sebuah insiden yang diklasifikasikan oleh polisi sebagai "xenofobia".
3. Belanda
Kasus paling banyak ditemukan dalam beberapa kolom komentar dalam postingan mengenai virus corona.
Pada 8 Februari 2020, sekelompok mahasiswa Tiongkok yang tinggal di asrama mahasiswa Universitas Wageningen menemukan bahwa lantai mereka telah dirusak. Kerusakan termasuk bendera Cina robek dari pintu siswa dan robek serta dinding dirusak dengan penghinaan bahasa Inggris.
4. Australia
Pada tanggal 20 Maret 2020, seorang siswa yang mengenakan masker di Hobart, Tasmania diberi tahu, "Anda terkena virus" dan "kembali ke negara Anda" sebelum ditinju sehingga menyebabkan matanya memar dan kacamata pecah. Alasan penyerangan tersebut sebagian disebabkan oleh perbedaan budaya dalam penggunaan masker di budaya Timur dan Barat.
Restoran dan perusahaan China di Sydney dan Melbourne juga tercatat telah mengalami penurunan bisnis yang dramatis, dengan perdagangan menurun lebih dari 70%.
5. India
Tak hanya di dunia Barat, di India sentimen Anti-Asia dan Anti-Oriental juga berhembus kencang. Sebuah survei yang dilaksanakan The Takshashila Institution menemukan bahwa 52,8% responden India merasa istilah seperti "Virus China" dan "Pandemi Made in China" tidak bersifat rasis.
Tak hanya itu, Presiden unit Negara Bagian dari partai berkuasa Bharatiya Janata atau BJP di West Bengal Dilip Ghosh pernah menyatakan bahwa China telah "menghancurkan alam" dan "itulah mengapa Tuhan membalas dendam terhadap mereka." Pernyataan tersebut kemudian dikecam oleh konsulat China di Kolkata, menyebut mereka "salah."
Bahkan rasisme tak hanya terjadi di negara negara eropa saja bahkan di asia sendiri masih saja ada oknum oknum tidak bertanggung jawab yang sangat senang membuat huru hara di antara masyarakat.
Adorno's theory of the authoritarian personality (Adorno et al. 1950) is iconic for highlighting intrapsychic factors as causes of blatant discrimination. Echoing Freud's psychoanalysis, this theory argues that individuals inclined to conservatism, nationalism, and fascism tend to develop a rigid personality, think in rigid categories, express conventional beliefs, and often identify with and submit themselves to authority figures. According to Adorno, individuals with authoritarian personalities develop aversion toward differences to their own values and norms and thus express an overt negative attitude toward minority groups.
The findings in the review article by Molenberghs (2013) make one thing clear: Racism is a highly complex problem, not only on the societal level but also in the brain. There is no single brain area involved in racism. Instead, a complex network of brain regions involved in social categorization, self-perception, empathy, pain, and face perception is involved in racism and other forms of in-group bias and out-group discrimination.
We employ the term racialization to signify the extension of racial meaning to a previously racially unclassified relationship, social practice, or group.
[...]Processes of racialization begin by attributing racial meaning to people's identity and, in particular,[...].
THE PROCESS OF RACIALIZATION "LABELS" AND "STIGMATIZES" A MINORITY GROUP BY LINKING IT WITH RACE ====>STIGMATIZATION: REFERS TO A MARK OF DISGRACE IMPOSED ON AN INDIVIDUAL BY OTHER INDIVIDUALS OR A SOCIAL GROUP. IN POPULAR USAGE IT OFTEN REFERS TO ANY NEGATIVE SANCTION OR DISAPPROVAL FOR NONCONFORMITY. AN UNDESIRABLE DIFFERENTNESS OF AN INDIVIDUAL THAT DISQUALIFIES HIM OR HER FROM FULL SOCIAL ACCEPTANCE. SOCIOLOGISTS ORIGINALLY USED THE TERM TO SHOW HOW HUMANS NOT ONLY SEEK TO CONTROL THE PHYSICAL WORLD BUT THE SOCIAL WORLD. ====>[...]MARGINALIZATION: REFERS TO THE STATUS OF A GROUP WHO DOES NOT HAVE FULL AND EQUAL ACCESS TO THE SOCIAL ECONOMIC, CULTURAL, AND POLITICAL INSTITUTIONS OF SOCIETY.
'It is their nature to do menial labour': the racialization of 'Latino/a workers' by agricultural employers
a broad scholarly consensus that the nation is a recent and imagined identity dominates political science
Most frequently, however, the aim of ethnic cleansing is to expel the despised ethnic group through either indirect coercion or direct force, and to ensure that return is impossible. Terror is the fundamental method used to achieve this end.
Methods of indirect coercion can include: introducing repressive laws and discriminatory measures designed to make minority life difficult; the deliberate failure to prevent mob violence against ethnic minorities; using surrogates to inflict violence; the destruction of the physical infrastructure upon which minority life depends; the imprisonment of male members of the ethnic group; threats to rape female members, and threats to kill. If ineffective, these indirect methods are often escalated to coerced emigration, where the removal of the ethnic group from the territory is pressured by physical force. This typically includes physical harassment and the expropriation of property. Deportation is an escalated form of direct coercion in that the forcible removal of 'undesirables' from the state's territory is organised, directed and carried out by state agents. The most serious of the direct methods, excluding genocide, is murderous cleansing, which entails the brutal and often public murder of some few in order to compel flight of the remaining group members.13 Unlike during genocide, when murder is intended to be total and an end in itself, murderous cleansing is used as a tool towards the larger aim of expelling survivors from the territory. The process can be made complete by revoking the citizenship of those who emigrate or flee.
The Commission considered techniques of ethnic cleansing to include murder, torture, arbitrary arrest and detention, extrajudicial executions, sexual assault, confinement of civilian populations in ghetto areas, forcible removal, displacement and deportation of civilian populations, deliberate military attacks or threats of attacks on civilians and civilian areas, and wanton destruction of property.
Violent conflict changes communities. "Returnees painfully discover that in their period of absence the homeland communities and their identities have undergone transformation, and these ruptures and changes have serious implications for their ability to reclaim a sense of home upon homecoming." The first issue in terms of returning home is usually the restoration of property, specifically the return or rebuilding of homes. People want their property restored, often before they return. But home means more than property, it also refers to the nature of the community. Anthropological literature emphasizes that time and the experience of violence changes people's sense of home and desire to return, and the nature of their communities of origin. To sum up, previous research has identified factors that influence decisions to return: time, trauma, family characteristics and economic opportunities.
Linguistic reclamation, also known as linguistic resignification or reappropriation, refers to the appropriation of a pejorative epithet by its target(s).