Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Wali Sanga

Wali Sanga (dikenal sebagai Wali Songo, bahasa Jawa: ꦮꦭꦶꦱꦔcode: jv is deprecated ; Wali Songo, "Sembilan Wali" merupakan tokoh Islam yang dihormati di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, karena peran historis mereka dalam penyebaran agama Islam di Indonesia

Pendakwah Islam di Nusantara pada Abad 15 dan 16
Diperbarui 12 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Wali Sanga
Artikel ini ditulis menyerupai opini penulis Wikipedia mengenai suatu topik, alih-alih pendapat para ahli.. Bantulah menyuntingnya dengan menghapus bagian tersebut dan menuliskannya sesuai dengan gaya penulisan ensiklopedia.
Artikel ini membutuhkan perhatian dari ahli di bidang Indonesia. Alasannya ialah: Memerlukan peninjauan terperinci dan ringkasan teks yang terlalu panjang, sumbernya dipertanyakan, dan berpotensi spekulatif. Jika Anda adalah ahli yang dapat membantu, silakan perbaiki kualitas artikel ini. (March 2017)
Bagian dari seri
Agama di Jawa
Jawa

Jawa
Kebudayaan Jawa
Orang Jawa
Agama di Indonesia

Keagamaan asli

Kejawen (Pangestu • Perjalanan • Sapta Darma • Subud • Sumarah • lainnya)

Hinduisme

Hinduisme di Jawa

Buddhisme

Buddhisme di Indonesia
Buddhisme Esoteris Indonesia
Ajaran Siwa-Buddha
Sang Hyang Adi Buddha
Ashin Jinarakkhita
Majelis Buddhayana Indonesia
Saṅgha Theravāda Indonesia

Islam

Penyebaran Islam di Indonesia
Santri
Abangan
Wali Sanga
Nahdlatul Ulama
Muhammadiyah

Kekristenan

Kekristenan di Indonesia
Misionaris Sabda Allah
Gereja Ganjuran

Khonghucu

Agama Khonghucu pada zaman Orde Baru
Agama Khonghucu pada zaman Reformasi

  • l
  • b
  • s
Bismillahir Rahmanir Rahim
Bagian dari sebuah serial tentang Islam
Sufisme dan Tarekat
Gagasan
  • Abdal
  • Ahwal
  • Baqa
  • Dzauq
  • Fakir
  • Fana
  • Hakikat
  • Ihsan
  • Insan Kamil
  • Karamah
  • Kasyf
  • Lataif
  • Manzilah
  • Makrifat
  • Nafs
  • Nur Iman
  • Qutb
  • Silsilah
  • Salik
  • Tazkiyatun-nafs
  • Wali
Praktik
  • Zikir
  • Hadrah
  • Muraqabah
  • Sama'
Tarekat Islam
  • Akbariyah
  • Ba 'Alawiyah
  • Chishti
  • Haqqani Anjuman
  • Idrisiyah
  • Jahriyah
  • Khalwatiyah
  • Kubrawiyah
  • Maulawiyah
  • Muridiyah
  • Naqsyabandiyah
  • Ni'matullāhī
  • Qadiriyah
  • Qadiriyah-Naqsabandiyah
  • Qudusiyah
  • Rahmaniyah
  • Rifa'iyah
  • Safawiyah
  • Samaniyah
  • Sanusiyah
  • Syadziliyah
  • Syattariyah
  • Tijaniyah
  • Iskandarpasya
Daftar sufi
  • Tokoh awal
  • Tokoh modern
Topik dalam Sufisme
  • Tauhid
  • Syariah
  • Thariqah
  • Haqiqah
  • Ma'rifah
  • Naskah Sufisme
Portal Portal
  • l
  • b
  • s

Wali Sanga (dikenal sebagai Wali Songo, bahasa Jawa: ꦮꦭꦶꦱꦔcode: jv is deprecated ; Wali Songo, "Sembilan Wali" merupakan tokoh Islam yang dihormati di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, karena peran historis mereka dalam penyebaran agama Islam di Indonesia[1]

Wali Songo merupakan para pendakwah Islam yang hadir di Pulau Jawa sejak akhir abad 15 M hingga abad 16 M. Ada cukup banyak literatur yang membahas WALISONGO. Di antara paling populer adalah Babad Tanah Jawa, yang ditulis era Pakubuwana (abad 19 M), dan literatur yang jauh lebih tua, Kitab WaliSanga yang bersumber pada literatur Kedatuan Giri(abad 16 M). Sementara pendekatan arkeologis dan filologis membuktikan Islam sudah datang di Pulau Jawa sejak abad 11 M, jauh sebelum era Wali Songo.

Karya sastra Babad Tanah Jawa menyebut bahwa anggota Wali Songo yang berdakwah di Pulau Jawa berjumlah sebanyak sembilan orang. Sebab, Songo berarti sembilan. Secara literatur, istilah Wali Songo muncul pertamakali pada Babad Tanah Jawa. Pakem standar yang menyebut jumlah Wali ada sembilan orang, sumber paling tua adalah karya Babad Tanah Jawa di era Pakubuwana tersebut. Sebelum era sastra Babad Tanah Jawa (abad 19 M), tak ditemui istilah Wali Songo, yang ada adalah Wali Sanga.

Sementara literatur-literatur yang menginduk pada Babad Tanah Jawa seperti Babad Kartasura, Serat Ronggowarsito, Serat Centhini, Babad Bandawasa, Babad Pathi, Babad Ajisoko, Babad Brawijaya, Babad Trunojoyo, Babad Mataram dan Babad-babad lainnya, menginformasikan perihal tak jauh berbeda dari sumber utamanya, yaitu Babad Tanah Jawa (abad 19 M).

Jumlah Wali sebanyak sembilan orang yang dipakemkan Babad Tanah Jawa, berdampak negatif pada terjadinya kesalahan logika periodisasi. Misalnya, Syekh Maulana Malik Ibrahim Gresik digolongkan kedalam generasi Sunan Ampel. Padahal, Syekh Maulana Malik Ibrahim sudah wafat, bahkan ketika Sunan Ampel belum memulai gerakan dakwah (Sunyoto, 2012).

Banyak yang menyamakan tokoh Syekh Maulana Malik Ibrahim Gresik dengan Maulana Ibrahim Asmoroqondi Tuban (ayah Sunan Ampel). Padahal, keduanya dua tokoh yang berbeda. Keduanya juga hidup pada zaman yang berbeda. Syekh Maulana Malik Ibrahim Gresik jauh lebih dulu datang ke Pulau Jawa, sebelum Maulana Ibrahim Asmoroqondi (ayah Sunan Ampel).

Ada cukup banyak Wali yang tidak terakomodir Babad Tanah Jawa. Namun memiliki jejak literatur dan arkeologis jelas. Seperti Fatimah binti Maimun (abad 11 M), Syekh Syamsuddin al Wasil (abad 12 M), Sultan Malik As-Shalih (abad 13 M), Syekh Maulana Malik Ibrahim (akhir abad 13 M), Syekh Jumadil Kubro (abad 14 M), Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi (akhir abad 14 M), Syekh Siti Jenar (abad 15 M), hingga Wali Tembayat (abad 16 M).

Dalam Kitab Walisanga, literatur ilmiah yang jauh lebih tua dan lebih dipercaya dibanding sastra Babad Tanah Jawa, memberi informasi berbeda. Literatur yang ditulis pada awal abad 16 M tersebut tidak menyebut Walisongo, tapi Walisana. "Sana" merupakan bahasa Jawa kuno yang berarti tempat atau daerah. Walisana berarti Wali di suatu daerah.

Berdasar Kitab Walisana, jumlah Wali pada awal abad 16 M sebanyak delapan orang. Yaitu; (1) Sunan Ampel di Surabaya (2), Sunan Gunung Jati di Cirebon, (3) Sunan Ngudung di Jipang, (4) Sunan Giri di Gresik, (5) Sunan Bonang di Tuban, (6) Sunan Alim di Majagung, (7) Sunan Mahmud di Drajat, dan (8) Sunan Kali.

Istilah Walisana berkonsep Wali Wolu Siji Tinari. Setiap zaman dan era selalu memunculkan tokoh-tokoh yang berbeda, berbasis titik kewilayahan dakwahnya. Walisana tidak berbasis pakem nama seperti Babad Tanah Jawa, tapi berbasis kewilayahan dakwah. Dalam konsep Walisana, memungkinkan cukup banyak nama Wali di tiap kewilayahan dan zaman.

Arti Wali Sanga

Masjid Agung Demak, diyakini sebagai salah satu tempat berkumpulnya para wali abad 15 - 16 M.

Ada sejumlah pendapat tentang makna Walisongo. Pendapat pertama mengatakan, Walisongo berarti Wali Sembilan. Sebab, Songo memiliki arti sembilan. Sumber paling tua yang mengutarakan argumentasi ini adalah sastra Babad Tanah Jawa yang ditulis pada abad 18 M oleh Pakubuwana.

Sementara pendapat kedua adalah Walisana. Sana di sini bukan Bahasa Arab "tsana", tapi Bahasa Jawa Kuno "Sana", yang memiliki makna tempat atau daerah atau wilayah. Walisana berarti Wali di suatu daerah. Walisana merupakan konsep "Wali Wolu Siji Tinari" yang merupakan konsep kuno dari Jawa. Argumen ini bersumber dari Kitab Walisana yang ditulis abad 16 M.

Sementara Konsep Walisanga atau Wali Sembilan dalam kosmologi Islam, sumber utamanya dapat dilacak pada konsep kewalian yang secara umum oleh kalangan penganut sufisme diyakini meliputi sembilan tingkat kewalian. Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibnu Araby atau Ibnu Arabi dalam kitab Futuhat al-Makkiyah memaparkan tentang sembilan tingkat kewalian dengan tugas masing-masing sesuai kewilayahan. Kesembilan tingkat kewalian itu:

1) Wali Aqthab atau Wali Quthub, yaitu pemimpin dan penguasa para wali di seluruh alam semesta.
2) Wali Aimmah, yaitu pembantu Wali Aqthab dan menggantikan kedudukannya jika wafat.
3) Wali Autad, yaitu wali penjaga empat penjuru mata angin.
4) Wali Abdal, yaitu wali penjaga tujuh musim.
5) Wali Nuqaba, yaitu wali penjaga hukum syariat.
6) Wali Nujaba, yang setiap masa berjumlah delapan orang.
7) Wali Hawariyyun, yaitu wali pembela kebenaran agama, baik pembelaan dalam bentuk argumentasi maupun senjata.
8) Wali Rajabiyyun, yaitu wali yang karomahnya muncul setiap bulan Rajab.
9) Wali Khatam, yaitu wali yang menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan umat Islam.[2]

Anggota

Beberapa hubungan keluarga yang dijelaskan di bawah ini terdokumentasi dengan baik; yang lainnya kurang pasti. Bahkan hingga saat ini, di Jawa masih umum bagi seorang teman keluarga untuk dipanggil "paman" atau "saudara" meskipun tidak ada hubungan darah.

  • Sunan Gresik: Tiba di Jawa pada tahun 1404 M, meninggal pada tahun 1419 M, dimakamkan di Gresik, Jawa Timur. Aktivitasnya meliputi perdagangan, pengobatan, dan peningkatan teknik pertanian. Ayah dari Sunan Ampel dan paman dari Sunan Giri.
  • Sunan Ampel: Lahir di Champa pada tahun 1401 M, wafat pada tahun 1481 M di Demak, Jawa Tengah. Dapat dianggap sebagai tokoh sentral Wali Sanga: ia adalah putra Sunan Gresik dan ayah dari Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Sunan Ampel juga merupakan sepupu dan mertua dari Sunan Giri. Selain itu, Sunan Ampel adalah kakek dari Sunan Kudus. Sunan Bonang, pada gilirannya, mengajar Sunan Kalijaga, yang merupakan ayah dari Sunan Muria. Sunan Ampel juga merupakan guru dari Raden Patah.
  • Sunan Giri: Lahir di Blambangan (sekarang Banyuwangi, bagian paling timur Jawa) pada tahun 1442 M. Ayahnya, Maulana Ishak, adalah saudara dari Maulana Malik Ibrahim. Makam Sunan Giri berada di Gresik dekat Surabaya.
  • Sunan Bonang: Lahir pada tahun 1465 M di Rembang (dekat Tuban) di pantai utara Jawa Tengah. Meninggal pada tahun 1525 M dan dimakamkan di Tuban. Saudara dari Sunan Drajat. Menggubah lagu-lagu untuk orkestra gamelan.
  • Sunan Drajat: Lahir pada tahun 1470 M. Saudara dari Sunan Bonang. Menggubah lagu-lagu untuk orkestra gamelan.
  • Sunan Kudus: Meninggal tahun 1550 M, dimakamkan di Kudus. Kemungkinan pencetus wayang golek.
  • Sunan Kalijaga: Nama lahirnya adalah Raden Mas Said, dan ia merupakan putra Adipati Tuban, Tumenggung Harya Wilatikta. Dimakamkan di Kadilangu, Demak. Menggunakan wayang kulit dan musik gamelan untuk menyampaikan ajaran spiritual.
  • Sunan Muria: Dimakamkan di Gunung Muria, Kudus. Putra Sunan Kalijaga dan Dewi Soejinah (saudara perempuan Sunan Giri), cucu Maulana Ishak.
  • Sunan Gunung Jati: Dimakamkan di Cirebon. Pendiri dan penguasa pertama Kesultanan Cirebon. Putranya, Maulana Hasanudin, menjadi pendiri dan penguasa pertama Kesultanan Banten.

Tokoh pendahulu Wali Sanga

  • Syekh Jumadil Qubro
  • Syaikh Syamsuddin Al-wasil
  • Khaliqul Idrus
  • Syekh Nurjati
  • Qurotul Ain
  • Bentong
  • Ali Murtadho
  • Muhammad Nurul Yaqin
  • Fatimah binti Maimun

Asal-usul Wali Sanga

Teori keturunan Hadramaut

Sejumlah argumentasi yang diberikan oleh Muhammad Al Baqir, dalam buku Thariqah Menuju Kebahagiaan menyebut dan mendukung bahwa Wali Sanga adalah keturunan Hadramaut (Yaman). Namun, pendapat ini dirasa lemah karena mayoritas literatur ilmiah Delpher menyebut, orang-orang Hadramaut baru datang ke Pulau Jawa atas lisensi Belanda pada abad 19 M. Tepatnya periode Pasca Perang Jawa (1825-1830 M). Orang Hadramaut yang datang ke Pulau Jawa, bergelar Habib dan menampakkan "marga" di belakang namanya. Tradisi marga di belakang nama, menurut Agus Sunyoto (2012), hanya ada di Hadramaut, dan tidak ditemui pada tradisi para Sayyid yang berasal dari Hijaz maupun Maroko.

Pendapat bahwa Walisongo keturunan Sadah Maroko jauh lebih kuat. Baik secara literatur maupun tradisi. Mayoritas catatan dari abad 18 hingga 19 M, baik berupa naskah Babad ataupun Manuskrip, tak ada satupun yang menyebut kata Habib. Mayoritas menyebut kata Sayyid atau Makhdum. Penyebutan namanya pun tanpa disertai "marga" seperti umumnya tradisi Hadramaut. Agus Sunyoto menyebut, pada abad 14 M, para pemuka Islam dari Iran, Maroko, dan Uzbekistan, yang leluhurnya berasal dari Hijaz, sudah berdatangan ke Nusantara dalam rangka persebaran Islam. Mereka keluarga Hasan dan Husain. Ada yang berasal dari jalur Al Kazimi Al Husaini.[3]

Pandangan Walisongo berasal dari Hadramaut didukung oleh ulama besar NU KH Bisri Mustofa menulis kitab Tarikhul Auliya[4] Kitab itu berisi sejarah Islam di nusantara dan silsilah Walisongo yang berasal dari Yaman.[5] Hal ini dibuktikan dengan mazhab Islam di Yaman sama dengan di Indonesia dan berbeda dengan Maroko. Bahkan ritual yang dilakukan oleh anggota Nahdlatul Ulama seperti tahlilan, maulid, ziarah taqbil dan Haul berasal dari Yaman.[6][7] Praktik yang dilakukan secara rutin seperti Majelis Zikir (biasanya dengan membaca zikir atau wirid seperti Wird al-Latif atau Ratib oleh Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad setelah setiap waktu Subuh dan Magrib),[8] Tahlil (bentuk lain dari majelis zikir, tetapi biasanya dilakukan jika seseorang meninggal), membaca buku-buku Islam klasik [9] dan Ziarah adalah praktik tradisi Yaman.[10]

Teori keturunan Cina (Hui)

Sejarawan Slamet Muljana mengundang kontroversi dalam buku Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa (1968), dengan menyatakan bahwa Wali Sanga adalah keturunan Tionghoa Muslim.[11] Pendapat tersebut mengundang reaksi keras masyarakat yang berpendapat bahwa Wali Sanga adalah keturunan Arab-Indonesia.

Referensi-referensi yang menyatakan dugaan bahwa Wali Sanga berasal dari atau keturunan Tionghoa sampai saat ini masih merupakan hal yang kontroversial. Referensi yang dimaksud hanya dapat diuji melalui sumber akademik yang berasal dari Slamet Muljana, yang merujuk kepada tulisan Mangaraja Onggang Parlindungan, yang kemudian merujuk kepada seseorang yang bernama Resident Poortman. Namun, Resident Poortman hingga sekarang belum bisa diketahui identitasnya serta kredibilitasnya sebagai sejarawan, misalnya bila dibandingkan dengan Snouck Hurgronje dan L.W.C van den Berg. Sejarawan Belanda masa kini yang banyak mengkaji sejarah Islam di Indonesia yaitu Martin van Bruinessen, bahkan tak pernah sekalipun menyebut nama Poortman dalam buku-bukunya yang diakui sangat detail dan banyak dijadikan referensi.

Salah satu ulasan atas tulisan H.J. de Graaf, Th.G.Th. Pigeaud, M.C. Ricklefs berjudul Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th Centuries adalah yang ditulis oleh Russell Jones. Di sana, ia meragukan pula tentang keberadaan seorang Poortman. Bila orang itu ada dan bukan bernama lain, seharusnya dapat dengan mudah dibuktikan mengingat ceritanya yang cukup lengkap dalam tulisan Parlindungan.[12]

Teori keturunan Dinasti Ayubiyah/Fatimiyah

Teori lain adalah dinasti Ayubiyah/Fatimiyah. Teori ini khususnya bagi Walisongo di Jawa Timur. Hal ini diperkuat dengan keberadaan makam Fatimah binti Maimun yang kemungkinan merupakan nama seorang bangsawan dari dinasti Fatimiyah.

Teori Mekah

Teori Mekah adalah teori yang dikemukakan oleh Buya Hamka. Buya Hamka dengan sangat detail menyebut Islam datang dari Hijaz. Dari negeri-negeri Islam seperti Maroko dan Uzbekistan yang leluhurnya berasal dari Hijaz (Makkah). Teori ini sekaligus mengkritisi teori Hadramaut. Teori Makkah memperkuat bahwa para Wali Songo berasal dari Iran, Maroko, Uzbekistan yang leluhurnya berasal dari Hijaz. Bahkan, Buya Hamka tak menyebut Yaman sebagai bagian dari asal-usul kedatangan Islam di Jawa.

Sumber tertulis tentang Wali Sanga

  1. Terdapat beberapa sumber tertulis masyarakat Jawa tentang Wali Sanga, antara lain Serat Walisanga karya pujangga Surakarta pada abad 19 M, dan yang jauh lebih tua dari itu, adalah Kitab Wali Sana karya Sunan Dalem (Sunan Giri II) yang merupakan anak dari Sunan Giri. Selain lebih sezaman, Kitab Wali Sana karya Sunan Dalem jauh lebih logis daripada referensi yang ditulis era pujangga Surakarta.
  2. Kitab Tarikhul Aulia (1953) karya KH Bisri Mustofa Rembang, juga jadi referensi penting tentang Wali Songo. Sebab, dalam kitab ini, banyak nama-nama Wali yang tak disebutkan dalam literatur versi Pujangga Surakarta. Di antaranya, Sunan Mbejagung dan Sunan Jipang (Sunan Ngudung). Dua nama penting ini, tidak diakomodir dalam literatur versi pujangga Surakarta.
  3. Mantan Mufti Johor Habib `Alwî b. Tâhir b. `Abdallâh al-Haddâd (meninggal tahun 1962) juga meninggalkan tulisan yang berjudul Sejarah perkembangan Islam di Timur Jauh (Jakarta: Al-Maktab ad-Daimi, 1957). Ia menukil keterangan di antaranya dari Haji `Ali bin Khairuddin, dalam karyanya Ketrangan kedatangan bungsu (sic!) Arab ke tanah Jawi sangking Hadramaut.
  4. Dalam penulisan sejarah para keturunan Bani Alawi seperti al-Jawahir al-Saniyyah oleh Habib Ali bin Abu Bakar Sakran, 'Umdat al-Talib oleh al-Dawudi, dan Syams al-Zahirah oleh Habib Abdul Rahman Al-Masyhur; juga terdapat pembahasan mengenai leluhur Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Bonang dan Sunan Gresik.

Referensi

  1. ↑ Malik, J. (2008-01-01). Islam In South Asia—Select Overview. BRILL. hlm. 497–502. ISBN 978-90-474-4181-6.
  2. ↑ Agus Sunyoto, Atlas Walisongo, Depok: Pustaka Iman, 2016, 135.
  3. ↑ suluk abdul jalil, bagian 6, Agus Sunyoto
  4. ↑ https://tebuireng.online/tarikhul-auliyakiai-bisri-musthofa-sejarah-wali-tanah-jawa/#:~:text=Salah%20satu%20karya%20Kiai%20Bisri,tanggal%2019%20November%201902%20Masehi.
  5. ↑ https://www.scribd.com/document/412157659/Silsilah-Wali-Songo-Berdasar-Kitab-Tarikh-Al-Auliya-Karya-KH-Mustofa-Bisri
  6. ↑ https://books.google.co.id/books?id=xlb5BrabQd8C&redir_esc=y
  7. ↑ Azyumardi Azra; Wayne Hudson, ed. (2008). Islam Beyond Conflict: Indonesian Islam and Western Political Theory Law, ethics and governance. Ashgate Publishing, Ltd. hlm. 237. ISBN 978-0-7546-7092-6. Diakses tanggal August 29, 2014.
  8. ↑ Abdillah, Aam (1998). Tradisi pembacaan ratibul Haddad di Bekasi: laporan penelitian. Bandung: Pusat Penelitian, IAIN Sunan Gunung Djati. hlm. 56. Diakses tanggal August 29, 2014.
  9. ↑ "Tradisi Khatam Bukhari". Diakses tanggal August 29, 2014.
  10. ↑ Turmudi, Endang (2006). Struggling for the Umma: Changing Leadership Roles of Kiai in Jombang, East Java. Islam in Southeast Asia Series. ANU E Press. hlm. 214. ISBN 978-1-920942-43-4. Diakses tanggal August 24, 2014.
  11. ↑ Muljana, Slamet (2005). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. LkiS. hlm. xxvi + 302 hlm. ISBN 9799798451163.
  12. ↑ Russell Jones, review on Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th Centuries written by H. J. de Graaf; Th. G. Th. Pigeaud; M. C. Ricklefs, Bulletin of the School of Oriental and African Studies, University of London, Vol. 50, No. 2. (1987), hlm. 423-424.

Pusat Inspirasi

  • Sembilan Wali (Wali Sanga) (Film tahun 1985 produksi Soraya Intercine Films)
  • Wali Sanga (Serial televisi tahun 2003 produksi Genta Buana Paramita)
  • Kisah Sembilan Wali (Serial televisi tahun 2013 produksi Genta Buana Paramita)
  • Kisah 9 Wali (Serial televisi tahun 2015 produksi Genta Buana Paramita)

Lihat Pula

  • Muhammadiyah
  • Nahdlatul Ulama
  • Islam Nusantara

Pranala luar

  • l
  • b
  • s
Wali Sanga
Generasi pertama
  • Maulana Ahmad Jumadil Kubra
  • Maulana Ali Akbar
  • Maulana Aliyuddin
  • Maulana Hasanuddin
  • Maulana Ishaq
  • Maulana Muhammad Al-Maghribi
  • Maulana Malik Ibrahim
  • Maulana Malik Israil
  • Subakir
Generasi kedua
  • Sunan Ampel
  • Sunan Gunung Jati
  • Sunan Kudus
Generasi ketiga
  • Sunan Bonang
  • Sunan Drajat
  • Sunan Giri
  • Sunan Kalijaga
Generasi keempat
  • Fatahillah
  • Raden Patah
Generasi kelima
  • Sunan Muria
  • Sunan Pandanaran
  • l
  • b
  • s
Islam di Indonesia
Cabang lainnya
  • Ahmadiyyah
  • Kejawen
  • Pembagian lama
    • Abangan
    • Priyayi
    • Santri
Tokoh utama
Era klasik
  • Hamzah Fansuri
  • Yusuf Al-Makassari
  • Malikussaleh
  • Ismail al-Khalidi al-Minangkabawi
  • Padri
    • Tuanku Imam Bonjol
    • Tuanku Rao
    • Tuanku Tambusai
  • Walisongo
    • Sunan Ampel
    • Sunan Bonang
    • Sunan Drajat
    • Sunan Giri
    • Sunan Gunung Jati
    • Maulana Malik Ibrahim
    • Sunan Kalijaga
    • Sunan Kudus
    • Sunan Muria
  • Abdurrauf as-Singkili
  • Ali Mughayat Syah
  • Tuanku Nan Tuo
  • Burhanuddin Ulakan
  • Usman bin Yahya
Era Kebangkitan
Nasional
  • Abdullah Ahmad
  • Abdul Karim Amrullah
  • Hasyim Asy'ari
  • Muhammad As'ad al-Bugisi
  • Ahmad Dahlan
  • Abbas Abdullah
  • Tahir bin Jalaluddin
  • Muhammad Djamil Djambek
  • Idrus bin Salim al-Jufri
  • Hasan Ma'shum
  • Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
  • Mas Mansoer
  • Ahmad Khatib al-Minangkabawi
  • Haji Misbach
  • Sulaiman ar-Rasuli
  • Rasuna Said
  • Tjokroaminoto
Pasca-
kemerdekaan
  • Mukti Ali
  • Ulil Abshar Abdalla
  • Abdul Malik Karim Amrullah
  • Firanda Andirja
  • Syech bin Abdul Qodir Assegaf
  • Azyumardi Azra
  • Abu Bakar Ba'asyir
  • Khalid Basalamah
  • Syafiq Riza Basalamah
  • Idham Chalid
  • Djohan Effendi
  • A.R. Fachruddin
  • Abdullah Gymnastiar
  • Wahid Hasyim
  • Adi Hidayat
  • Afifi Fauzi Abbas
  • Rhoma Irama
  • Ali Jaber
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas
  • Kartosoewirjo
  • Ahmad Syafii Maarif
  • Yahya Zainul Maarif
  • Nurcholish Madjid
  • Sahal Mahfudh
  • Munzir Al-Musawa
  • Hasyim Muzadi
  • Zainuddin MZ
  • Harun Nasution
  • Bachtiar Nasir
  • Mohammad Natsir
  • Ahmad Bahauddin Nursalim
  • Amien Rais
  • Idrus Ramli
  • Ahmad Muhtadi Dimyathi
  • Muhammad Rizieq Shihab
  • Quraish Shihab
  • Ma'ruf Amin
  • Said Aqil Siradj
  • Abdul Somad
  • Din Syamsuddin
  • Ahmad Wahib
  • Abdurrahman Wahid
  • Muhammad Luthfi bin Yahya
  • Muammar Z.A.
  • Maimun Zubair
Organisasi
Negara
  • Kementerian Agama Republik Indonesia
    • Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam
    • Direktorat Jenderal Pendidikan Islam
    • Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah
  • Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh
Masyarakat sipil
  • Alkhairaat
  • Lembaga Dakwah Kampus
  • Hidayatullah
  • Hizbut Tahrir Indonesia
  • Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia
  • Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia
  • Majelis Mujahidin Indonesia
  • Majelis Ulama Indonesia
  • Al-Irsyad Al-Islamiyyah
  • Front Pembela Islam
  • Jaringan Islam Liberal
  • Majelis Rasulullah
  • Muhammadiyah
    • Aisyiyah
  • Himpunan Mahasiswa Islam
  • Nahdlatul Ulama
    • Gerakan Pemuda Ansor
  • Nahdlatul Wathan
  • Perhimpunan Al-Irsyad
  • PERSIS
  • Persatuan Tarbiyah Islamiyah
  • Rabithah Alawiyah
  • Sarekat Islam
  • Sumatera Thawalib
Partai politik
  • Partai Bulan Bintang
  • Partai Sarekat Islam Indonesia
  • Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia
  • Partai Masyumi
  • Partai Kebangkitan Bangsa
  • Partai Amanat Nasional
  • Partai Matahari Bangsa
  • Persatuan Muslim Indonesia
  • Partai Keadilan Sejahtera
  • Partai Kebangkitan Nasional Ulama
  • Partai Persatuan Pembangunan
Laskar
  • Banser
  • Darul Islam
  • Jamaah Ansharut Tauhid
  • Jamaah Islamiyah
  • KOKAM
  • Laskar Jihad
  • Mujahidin Indonesia Timur
Sejarah
Pra-
kemerdekaan
  • Penyebaran Islam di Nusantara
  • Ekspedisi Utsmaniyah ke Aceh
  • Wali Sanga
  • Negeri Islam di Indonesia
    • Kesultanan Aceh
    • Kesultanan Banjar
    • Kesultanan Bolango
    • Kesultanan Demak
    • Kesultanan Gorontalo
    • Kesultanan Gowa
    • Kesultanan Malaka
    • Kesultanan Mataram
    • Kesultanan Samudera Pasai
    • Kesultanan Ternate
    • Kesultanan Tidore
    • Kesultanan Yogyakarta
  • Perang Padri
Pasca-
kemerdekaan
  • Piagam Jakarta
  • Petisi 50
  • Peristiwa Tanjung Priok
  • Pemberontakan di Aceh
  • Kerusuhan Kepulauan Maluku
  • Kerusuhan Poso
  • Fatwa tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme Agama
  • November 2016 / Desember 2016 / Aksi 112
Daerah
Sumatra
  • Aceh
  • Bengkulu
  • Jambi
  • Kepulauan Riau
  • Kepulauan Bangka Belitung
  • Lampung
  • Riau
  • Sumatera Barat
  • Sumatera Selatan
  • Sumatera Utara
Jawa
  • Banten
  • Jakarta
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • Jawa Timur
  • Yogyakarta
Nusa Tenggara
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Nusa Tenggara Timur
Kalimantan
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Selatan
  • Kalimantan Tengah
  • Kalimantan Timur
  • Kalimantan Utara
Sulawesi
  • Gorontalo
  • Sulawesi Barat
  • Sulawesi Selatan
  • Sulawesi Tengah
  • Sulawesi Tenggara
  • Sulawesi Utara
Maluku
  • Maluku
  • Maluku Utara
Papua
  • Papua
  • Papua Barat
  • Papua Barat Daya
  • Papua Pegunungan
  • Papua Selatan
  • Papua Tengah
Kebudayaan
  • Adat
  • Arsitektur
    • Bedug
    • Tajug
  • Pakaian
    • Peci
    • Sarung
  • Lebaran
  • Masjid
    • Masjid Istiqlal
  • Musabaqah Tilawatil Quran
  • Saman
  • Sekaten
  • Slametan
  • Tabligh Akbar
  • Tabuik
  • Tausiyah
  • "Tombo Ati"
  • Yaqowiyu
Pendidikan
  • Iqro
  • Jamiat Kheir
  • Kitab kuning
  • Kyai
  • LIPIA
  • Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri
  • Pesantren
    • Pondok Pesantren Walibarokah Kediri
    • Pondok Modern Darussalam Gontor
  • Surau
Gerakan
  • Islam Nusantara
  • Jamaah Tabligh
  • Jemaah Tarbiyah
  • Modernisme Islam
  • Islam tradisionalis
  • Salafi
  • Syiah
Lainnya
  • Al-Munir
  • Babad Tanah Jawi
  • Hukum jinayat di Aceh
  • Sajarah Banten
  • Tafsir Al-Mishbah
  • Masjid di Indonesia
  • Sejarah Indonesia
  • Pahlawan Nasional Indonesia
  • Portal Islam
  • Portal Indonesia
  • Portal Sejarah

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Arti Wali Sanga
  2. Anggota
  3. Tokoh pendahulu Wali Sanga
  4. Asal-usul Wali Sanga
  5. Teori keturunan Hadramaut
  6. Teori keturunan Cina (Hui)
  7. Teori keturunan Dinasti Ayubiyah/Fatimiyah
  8. Teori Mekah
  9. Sumber tertulis tentang Wali Sanga
  10. Referensi
  11. Pusat Inspirasi
  12. Lihat Pula
  13. Pranala luar

Artikel Terkait

Sejarah Nusantara pada era kerajaan Islam

artikel daftar Wikimedia

Islam di Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Indonesia

negara di Asia Tenggara dan Oseania

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026