Surat Paulus kepada Titus adalah salah satu dari tiga surat pastoral dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen, yang secara historis dikaitkan dengan Rasul Paulus. Ditujukan kepada Titus dan menjelaskan persyaratan dan tugas para presbiter/uskup. Bersama dengan surat Timotius, surat ini dikategorikan sebagai surat-surat Pastoral. Dikategorikan surat pastoral karena surat-surat ini ditujukan kepada Titus dan Timotius yang menjalankan tugas sebagai seorang pastor. Secara garis besar surat ini berisi petunjuk-petunjuk untuk menjalani hidup sekaligus untuk menanggulangi ajaran sesat. Titus sendiri merupakan teman sekerja Paulus dalam pekerjaannya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


| Bagian dari Alkitab Kristen | ||||
| Perjanjian Baru | ||||
|---|---|---|---|---|
|
|
||||

Surat Paulus kepada Titus[a] adalah salah satu dari tiga surat pastoral (bersama dengan 1 Timotius dan 2 Timotius) dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen, yang secara historis dikaitkan dengan Rasul Paulus. Ditujukan kepada Titus dan menjelaskan persyaratan dan tugas para presbiter/uskup.[4] Bersama dengan surat Timotius, surat ini dikategorikan sebagai surat-surat Pastoral.[5] Dikategorikan surat pastoral karena surat-surat ini ditujukan kepada Titus dan Timotius yang menjalankan tugas sebagai seorang pastor.[5] Secara garis besar surat ini berisi petunjuk-petunjuk untuk menjalani hidup sekaligus untuk menanggulangi ajaran sesat.[6] Titus sendiri merupakan teman sekerja Paulus dalam pekerjaannya.[4]

Secara tradisional diterima bahwa surat ini ditulis oleh rasul Paulus, seperti yang tertera dalam kata-kata pembuka surat ini.[7]
Ada peneliti Perjanjian Baru yang meragukan apakah penulis surat ini adalah Paulus,[8] karena mereka menganggap surat-surat pastoral seperti ini hanyalah bersifat tulisan-tulisan Yahudi yang tidak termasuk di dalam Perjanjian Lama dan biasanya digunakan untuk memberi informasi penting terhadap latar belakang Perjanjian Baru.[8] Surat ini sangat berbeda dari surat Paulus lainnya sehingga ada dugaan tidak mungkin Paulus yang menulis surat ini.[4]
Alasan-alasan yang meragukan bahwa surat ini ditulis oleh Paulus antara lain:
Oleh karena alasan-alasan tersebut di atas, jika bukan oleh oleh Paulus maka surat ini diduga ditulis oleh seseorang yang tidak dikenal, namun beraliran Paulus.[8] Ada pendapat bahwa orang yang menulis surat ini adalah seorang Yahudi Hellenis.[8]
Kebanyakan alasan-alasan tersebut tidak mempunyai dasar yang cukup kuat, sehingga pada umumnya hanya dipakai sebagai bahan diskusi.[10]
Surat ini ditujukan kepada Titus yang merupakan teman sekerja Paulus.[5] Titus merupakan seorang non Yahudi yang menjadi Kristen dan kemudian mengikuti rombongan Paulus.[5] Paulus juga mengutusnya untuk membantu pelayanannya di Korintus.[7] Dalam surat ini, Titus digambarkan sebagai orang yang sangat setia.[7] Oleh karena kesetiaannya, Paulus menaruh kepercayaan yang besar kepada Titus.[7] Dalam perjalanan, Paulus meninggalkan Titus di Kreta dan diberi tugas untuk membina jemaat-jemaat baru di sana.[6] Selain ditujukan kepada Titus, surat ini juga ditujukan kepada semua anggota jemaat.[7]
Tempat dan waktu penulisan surat ini sulit untuk ditentukan.[5] Ada pendapat bahwa surat ini ditulis ketika Paulus singgah di Nikopolis.[6] Pendapat lain mengatakan bahwa surat ini ditulis di Roma,[5] atau Efesus.[9]
Jika berpatokan pada persinggahan Paulus di Nikopolis maka diperkirakan bahwa surat ini ditulis antara tahun 60-64 M,[5] meskipun ahli yang memperkirakan bahwa surat ini ditulis di Efesus memberi perkiraan sekitar tahun 100 M.[9] Robinson meyakini bahwa surat ini ditulis pada akhir musim semi (bulan Mei-Juni) tahun 57 M.[11] Pendapat lain memberi perkiraan tahun 50-60.[12]
Bagian ini berisi catatan mengenai siapa penulis surat ini dan kepada siapa surat ini ditujukan.[13] Selain itu disampaikan juga oleh penulis surat sebuah salam.[13]
Di perikop ini dijelaskan bagaimana syarat untuk menjadi pengajar dan pemimpin yang baik.[13] Selain itu juga diingatkan mengenai pengajar-pengajar palsu yang muncul saat itu.[13]
Pada pasal kedua ini, Paulus berusaha memberikan nasihat untuk pengudusan hidup warga jemaat.[6] Nasihat yang diberikan Paulus menyangkut cara berkehidupan dan moral warga jemaat.[13]
Setelah membahas nasihat-nasihat bagi internal warga jemaat, pada bagian ini Paulus membahas panggilan orang-orang Kristen terhadap pemerintah dan masyarakat.[6]
Paulus mengakhiri suratnya kepada Titus dengan menekankan kembali apa yang telah dikatakan sebelumnya.[13] Setelah itu Paulus memberikan salamnya kepada Titus dan orang-orang lain yang lain.[13]
Sebagai surat Pastoral, ada tiga hal yang dikemukakan di dalam surat ini:
Titus diingatkan mengenai sifat-sifat orang yang boleh menjadi pemimpin jemaat.[14] Seseorang yang hendak menjadi penatua maupun pemimpin jemaat haruslah orang yang tidak bercela atau tidak bercacat di dalam cara hidupnya.[14] Hal ini bukan berarti menuntut seseorang yang sempurna tetapi menuntut seseorang yang cara hidupnya baik sehingga dapat menjadi panutan.[14] Syarat kedua yang ditetapkan adalah memiliki satu istri saja.[14] Pada saat itu sering terjadi poligami ataupun perzinahan.[6] Oleh karena itu, seorang penatua haruslah dapat menahan nafsunya dan hanya memiliki satu isteri atau satu suami saja.[6] Kemudian syarat berikutnya adalah memiliki anak-anak yang beriman.[6] Seseorang hendaknya dapat membina anaknya dengan baik sebelum membina orang-orang lain atau jemaat.[6] Seorang penatua juga harus rendah hati, tidak cepat marah, dapat menguasai diri, dapat mendengar orang lain dan tidak serakah.[14] Penatua adalah orang yang mengurus pekerjaan Allah.[14] Oleh karena itu, penatua juga harus dapat bijaksana, saleh, dan menyukai hal-hal yang baik.[14] Penatua bepegang kepada firman Tuhan, berkata benar, dan sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran firman Tuhan.[14] Titus perlu mengangkat dan menetapkan syarat-syarat tersebut karena kondisi jemaat di Kreta saat itu banyak yang memberontak dan mengajarkan ajaran palsu.[14]
Titus dinasihati mengenai bagaimana pengajaran yang benar.[14] Pokok dasar ajaran yang benar itu adalah anugerah Allah yang telah dinyatakan demi menyelamatkan umat manusia.[14] Anugerah inilah yang memampukan umat manusia terutama umat Kristen untuk hidup dengan cara yang diinginkan oleh Allah sampai kedatangan Yesus kembali.[14] Nasihat-nasihat tersebut antara lain:
Titus diajar mengenai bagaimana seharusnya kelakuan orang Kristen terhadap pemerintah dan terhadap masyarakat.[14] Orang Kristen haruslah taat kepada pemerintah dalm segala sesuatu hal yang baik.[6] Dengan demikian mereka dapat dipuji oleh masyarakat dan nama Yesus dimuliakan.[6] Orang Kristen dituntut untuk ramah dan suka damai, jangan membenci orang, jangan suka bertengkar atau menimbulkan perpecahan.[6] Paulus juga mengingatkan bahwa kita diselamatkan bukan semata-mata karena kebaikan kita tetapi karena rahmat Tuhan kepada manusia.[6]
Surat Paulus kepada Titus | ||
| Didahului oleh: Surat 2 Timotius |
Perjanjian Baru Alkitab |
Diteruskan oleh: Surat Filemon |