Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Sekaten

Sekaten, merupakan rangkaian kegiatan tahunan sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad yang diadakan oleh dua keraton di Jawa yakni Keraton Surakarta dan Ngayogyakarta Hadiningrat. Rangkaian perayaan secara resmi berlangsung dari tanggal 5 dan berakhir pada tanggal 12 Mulud penanggalan Jawa.

rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memeriahkan hari lahir Nabi Islam Muhammad; digelar di Pulau Jawa, Indonesia
Diperbarui 4 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sekaten
Sekaten
ꦱꦼꦏꦠꦺꦤ꧀ سكاتين
Gunungan Bromo/Kutug, salah satu gunung yang dikirab saat Grebeg Sekaten pada tahun Dal
JenisRitual budaya
Tanggal5 hingga 12 Rabiulawal
DimulaiAbad ke-16 M
FrekuensiSetiap tahun
Lokasi
  • Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
  • Keraton Surakarta Hadiningrat
NegaraIndonesia
Aktivitas
    • Miyos dan kondur gangsa
    • Permainan gamelan sekaten
    • Grebeg
    • Pembacaan riwayat hidup Muhammad
    • Pasar malam

Sekaten (bahasa Jawa: ꦱꦼꦏꦠꦺꦤ꧀code: jv is deprecated  ; ejaan Pegon: سكاتين), merupakan rangkaian kegiatan tahunan sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad yang diadakan oleh dua keraton di Jawa yakni Keraton Surakarta dan Ngayogyakarta Hadiningrat. Rangkaian perayaan secara resmi berlangsung dari tanggal 5 dan berakhir pada tanggal 12 Mulud penanggalan Jawa (dapat disetarakan dengan Rabiulawal penanggalan Hijriah).

Beberapa acara penting perayaan ini adalah dimainkannya gamelan pusaka di halaman Masjid Agung masing-masing keraton, pembacaan riwayat hidup Nabi Islam Muhammad dan rangkaian pengajian di serambi Masjid Agung dan, puncaknya adalah dengan diadakannya perayaan Grebeg Maulud sebagai bentuk syukur pihak istana dengan keluarnya sejumlah gunungan untuk diperebutkan oleh masyarakat.

Sekaten bukan semata-mata pesta rakyat, melainkan sebuah laku budaya-religius yang mengikat kosmos Jawa dengan Islam melalui simbol, bunyi, dan ritus.[1] Denting gamelan pusaka yang dimainkan di halaman Masjid Agung merepresentasikan harmoni jagad raya, bacaan riwayat Nabi Muhammad menjadi pengingat etis-spiritual, sementara Grebeg Maulud dengan gunungan melambangkan konsep kosmologi Jawa-Islam tentang manunggaling kawula Gusti, yakni penyatuan manusia dengan Tuhan melalui syukur kolektif atas limpahan rezeki. Dalam filosofi Jawa, Sekaten adalah “tetenger” (penanda) bahwa Islam berakar dalam tanah Jawa tanpa menanggalkan tradisi leluhur; ia adalah ruang pertemuan antara dakwah, budaya, dan kerakyatan, tempat istana dan rakyat sama-sama mengakui keberadaan Yang Maha Tunggal.

Sejarah

Etimologi

Kebanyakan pustaka bersepakat bahwa nama "sekaten" adalah adaptasi dari istilah bahasa Arab, syahadatain, yang berarti "persaksian (syahadat) yang dua". Perluasan makna dari sekaten dapat dikaitkan dengan istilah Sahutain (menghentikan atau menghindari perkara dua, yakni sifat lacur dan menyeleweng), Sakhatain (menghilangkan perkara dua, yaitu watak hewan dan sifat setan), Sakhotain (menanamkan perkara dua, yaitu selalu memelihara budi suci atau budi luhur dan selalu menghambakan diri pada Tuhan), Sekati (setimbang, orang hidup harus bisa menimbang atau menilai hal-hal yang baik dan buruk), dan Sekat (batas, orang hidup harus membatasi diri untuk tidak berbuat jahat serta tahu batas-batas kebaikan dan kejahatan).[2]

Perayaan

G.P.H. Puger, salah seorang sentana dalem Kesunanan Surakarta Hadiningrat, awal mula dan maksud perayaan Sekaten dapat ditarik sejak mulainya kerajaan-kerajaan Islam di tanah Jawa, yaitu zaman Kesultanan Demak.[3] Sekaten diadakan sebagai salah satu upaya menyiarkan agama Islam. Karena orang Jawa saat itu menyukai gamelan, pada hari raya Islam yaitu pada hari lahirnya Nabi Muhammad di halaman Masjid Agung Demak dimainkanlah gamelan, sehingga warga masyarakat berduyun-duyun datang di halaman masjid untuk mendengarkan gamelan dan sekaligus khutbah-khutbah mengenai keislaman.

Tradisi arak-arakan semacam sekaten, menurut satu cerita rakyat yang digali oleh Saddhono, telah dilakukan pada masa Kerajaan Majapahit. Kerajaan Demak, sebagai pelanjut dari "wahyu" kerajaan, mencoba meneruskan tradisi tersebut atas saran dari Wali Sanga.[4]

Prosesi

Miyos dan kondur gangsa

Pada hari pertama, upacara diawali saat malam hari dengan iring-iringan abdi dalem (penggawa kraton) bersama-sama dengan dua set gamelan sekaten. Iring-iringan ini bermula dari kompleks Keraton (Bangsal Ponconiti di Yogyakarta, atau Kori Kamandhungan di Surakarta) menuju Masjid Agung (Masjid Gedhe Kauman di Yogyakarta atau Masjid Agung Keraton Surakarta di Surakarta) dengan dikawal oleh bregada. Kedua set gamelan ini akan dimainkan secara bersamaan sampai dengan tanggal 11 Mulud, selama 7 hari berturut-turut. Pada malam hari terakhir (malam 12 Rabiulawal), kedua gamelan ini akan dibawa pulang ke dalam Keraton.[5][6][7]

Kedua set gamelan tersebut adalah:

  • Di Keraton Ngayogyakarta terdapat gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Naga Wilaga. Kanjeng Kyai Guntur Madu ditempatkan di Bangsal Pagongan Kidul, sedangkan Kanjeng Kyai Naga Wilaga ditempatkan di Bangsal Pagongan Lor.[8]
  • Di Keraton Surakarta terdapat gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Guntur Sari. Kanjeng Kyai Guntur Madu ditempatkan di Bangsal Pradangga Kidul, sedangkan Kanjeng Kyai Guntur Sari ditempatkan di Bangsal Pradangga Lor.[9]
Hamengkubuwana X menyebar udhik-udhik (campuran beras, koin logam, dan biji-bijian) kepada massa

Di Keraton Yogyakarta, acara kondur gangsa diawali dengan kedatangan Sri Sultan di Masjid Gedhe untuk menyebar udhik-udhik kepada rakyat di depan bangsal pagongan. Setelah ditebar, Sultan akan masuk ke dalam masjid untuk kembali menyebar udhik-udhik, yang kali ini ditebar untuk para abdi dalem. Setelah itu, Sultan akan duduk bersama dengan para abdi dalem di serambi masjid untuk mendengarkan pembacaan riwayat hidup nabi Islam Muhammad, yang dibacakan dalam bahasa Jawa oleh abdi dalem kanca kaji.[6][10] Sultan mengenakan sumping melati pada telinga kirinya. Hal ini bermakna bahwa Sultan senantiasa mendengar aspirasi dan pendapat rakyat serta melaksanakan harapan tersebut. Setelah pembacaan riwayat selesai, Sri Sultan bersama rombongan kembali ke keraton, diikuti dengan pengembalian gamelan sekati.[11]

Persiapan wadah dimana gunungan akan disusun
Kotekan, atau permainan lagu dengan memakai kentongan dan lumpang

Di Keraton Surakarta, setiap dua gamelan sekaten diperdengarkan, sebagian pengunjung Masjid Agung berebut janur kuning yang terpasang di dekat Bangsal Pradangga. Para pengunjung menganggap janur kuning tersebut membawa berkah. Di samping itu, terdapat ritual lain yang disebut ngunyah kinang, yang dijual di pelataran masjid. Pengageng Parentah Keraton Surakarta, K.G.P.H. Dipokusumo, mengatakan bahwa nginang melambangkan suruh yang berarti diperintah untuk membaca syahadat.[12]

Numplak Wajik

Dua hari sebelum acara Grebeg Muludan, suatu upacara Numplak Wajik diadakan di bangsal Magangan pada jam 16.00. Upacara ini berupa kotekan atau permainan lagu dengan memakai kentongan, lumpang (alat untuk menumbuk padi), dan semacamnya yang menandai awal dari pembuatan gunungan yang akan diarak pada saat acara Grebeg Muludan nantinya. Lagu-lagu yang dimainkan dalam acara Numplak Wajik ini adalah lagu Jawa populer seperti: "Lompong Keli", "Tundhung Setan", "Owal awil", atau lagu-lagu rakyat lainnya.[13][14]

Grebeg Maulid

Gunungan di Yogyakarta. Sebelum dirayah, gunungan dibacakan doa terlebih dahulu.
Gunungan sesaat sedang diantar ke Pakualaman

Acara puncak peringatan Sekaten ini ditandai dengan Grebeg Muludan yang diadakan pada tanggal 12 (persis pada hari ulang tahun Nabi Muhammad) mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WIB, dengan dikawal oleh bermacam-macam bregada (kompi) prajurit Kraton.[15]

  • Di Yogyakarta terdapat bregada Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Ketanggung, Mantrijero, Nyutra, Surakarsa, dan Bugis.[16]
  • Di Surakarta terdapat bregada Korps Musik, Tamtama, Jayeng Astra, Prawira Anom, Sarageni, Baki, Jayasura, Dwarapati, Jayataka, dan Panyutra.[17]

Gunungan terdiri atas lima jenis, yaitu gunungan kakung, putri, dharat, gepak, dan pawuhan. Di Yogyakarta, gunungan kakung dibuat menjadi tiga yang akan dibagikan di Masjid Gedhe, Kepatihan, dan Pura Pakualaman, sehingga total berjumlah tujuh gunungan. Gunungan yang digotong ke Pakualaman dikawal oleh dua bregada Pakualaman: Lombok Abang (Dragunder) dan Plangkir.[18]

Sebuah gunungan yang terbuat dari beras ketan, makanan, dan buah-buahan serta sayur-sayuan tersebut dikawal dan dibawa dari istana Kemandungan melewati Sitihinggil dan Pagelaran menuju masjid Agung. Setelah didoakan, gunungan yang melambangkan kesejahteraan kerajaan Mataram ini dibagikan kepada masyarakat yang menganggap bahwa bagian dari gunungan ini akan membawa berkah bagi mereka. Bagian gunungan yang dianggap sakral ini akan dibawa pulang dan ditanam di sawah/ladang agar sawah mereka menjadi subur dan bebas dari segala macam bencana dan malapetaka.[19]

Prosesi pada Tahun Dal

Tahun Dal dalam penanggalan Jawa terjadi tiap delapan tahun sekali. Pada tahun Dal prosesi sekaten biasanya diadakan lebih besar, khususnya di Keraton Yogyakarta. Perayaan sekaten pada tahun Dal dibuat lebih besar karena menurut perhitungan penanggalan Jawa, kelahiran Muhammad terjadi pada tahun Dal.[20]

Keraton memiliki beberapa tradisi sekaten dan grebeg yang hanya dilakukan pada tahun Dal. Salah satu tradisi khusus tersebut adalah njejak banon atau njejak beteng yang dilakukan oleh Sri Sultan sekembalinya dari Masjid Gedhe. Dalam tradisi ini, Sultan tidak melewati regol Masjid, melainkan melewati jalan lain untuk njejak atau menjebol sebuah tembok. Tradisi njejak beteng diilhami oleh kisah Sultan Hamengkubuwana II yang tidak bisa keluar melalui pintu gerbang utama pada peristiwa Geger Sepoy, sehingga untuk meloloskan diri kemudian menuju arah selatan dengan cara menjebol beteng.[21]

Selain tradisi tersebut, terdapat pula upacara Bethak dan Pisowanan Garebeg Dal. Bethak merupakan prosesi pembuatan nasi oleh para kerabat perempuan Sultan di bangsal Keputren. Biasanya upacara Bethak dilakukan sehari sebelum acara Pisowanan, di mana nasi tersebut akan diserahkan kepada Sultan ketika Pisowanan berlangsung.[22]

Jatuhnya tahun Dal juga memengaruhi jumlah gunungan yang akan dibawa. Pada tahun Dal, keraton biasanya mengeluarkan lebih banyak gunungan. Di Keraton Yogyakarta, salah satu gunungan tersebut adalah Gunungan Bromo atau Kutug, gunungan yang dihadirkan oleh keraton pada tahun Dal saja. Gunungan Bromo kelak akan dibawa kembali ke dalam keraton setelah didoakan, kemudian diperebutkan oleh para keluarga keraton dan para sentana dalem.[23]

Pasar malam

Pasar malam perayaan Sekaten Yogyakarta, 2011

Sekaten juga dimeriahkan pula oleh pasar malam (biasa disebut "Sekatenan") yang dilangsungkan di alun-alun Utara masing-masing Keraton yang di mana berlangsung selama sekitar 40 hari, dimulai pada awal bulan Sapar (Safar).

Masuknya Belanda ke kedua keraton turut memengaruhi jalannya prosesi sekaten. Pemerintah Belanda menambahkan pergelaran pasar malam dan pameran seni budaya bersamaan dengan prosesi sekaten pada awal abad ke-20. Digelarnya pasar rakyat dalam prosesi sekaten adalah strategi Belanda untuk memecah perhatian masyarakat terhadap Masjid Agung.[24]

Karena tidak relevan dengan kesakralan Sekaten, pasar malam Sekaten di Yogyakarta akhirnya ditiadakan pada musim Sekaten tahun 2019.[25] Pada tahun 2022, Sekber Keistimewaan DIY, Altar Ria Production, dan Perkumpulan Pengusaha Pasar Malam menyelenggarakan pasar malam lain yang diberi nama "Pasar Rakyat Jogja Gumregah". Pasar ini tak lagi digelar di Alun-alun Utara, tetapi berpindah ke halaman kosong bekas STIE Kerja Sama Yogyakarta.[26][27]

Kemiripan Tradisi

Maudu Lompoa (Cikoang, Sulawesi Selatan) Indonesia

Latar: Tradisi keturunan Arab lokal (sayyid/ahlulbait) yang berbaur dengan bangsawan Bugis-Makassar.

Bentuk Acara:

  • Arak-arakan perahu besar berisi makanan dan hasil bumi.
  • Perahu itu diusung dan dipamerkan, lalu isinya dibagikan ke masyarakat.

Persamaan dengan Sekaten:

  • Sama-sama memperingati Maulid Nabi.
  • Ada simbol materi/gunungan yang dibagikan sebagai berkah (perahu vs gunungan).
  • Rakyat dilibatkan dalam pesta meriah, bukan sekadar ritual elite.

Fungsi Sosial-Politik: Menguatkan peran bangsawan lokal dan garis keturunan Arab sebagai patron agama Islam.


Hadroh dan Zikir Kerajaan Melayu (Johor, Riau, Brunei) MalaysiaIndonesia Brunei

Latar: Upacara resmi di istana-istana Melayu yang masih berdaulat atau berhubungan erat dengan Islam.

Perayaan Maulidur Rasul di Putrajaya

Bentuk Acara:

  • Pembacaan Barzanji dan Marhaban.
  • Musik tradisi Islami (rebana, hadrah).
  • Jamuan rakyat besar-besaran.

Persamaan dengan Sekaten:

  • Sama-sama diinisiasi oleh kerajaan/istana.
  • Upacara agama diiringi musik sakral (di Jawa: gamelan sekaten, di Melayu: hadrah & rebana).
  • Menguatkan legitimasi politik kerajaan lewat peran sebagai pelindung agama.

Fungsi Sosial-Politik: Menegaskan posisi raja/sultan sebagai pemimpin duniawi sekaligus wali/pelindung Islam.

Mawlid di Kesultanan Maroko dan Kekhilafahan Utsmani MarokoTurki

Perayaan peringatan Maulid Nabi tahun 2013 di Aljazair

Maroko Mawlid di Kesultanan Maroko dan Turki Mawlid di Kekhilafahan Utsmani (Istanbul)

Latar belakang

Mawlid (peringatan kelahiran Nabi Muhammad) dipraktikkan di banyak pusat kekuasaan Islam. Di Maroko dan di ibu kota Kekhilafahan Utsmani, perayaan Mawlid seringkali diorganisir atau disponsori oleh istana/kerajaan sehingga memperoleh karakter seremonial dan publik.[28]

Bentuk perayaan

  • Di Istanbul pada masa Utsmani terdapat iring-iringan istana, pembacaan qasidah (termasuk pembacaan syair seperti Burdah), prosesi keagamaan yang melibatkan ulama, dan jamuan rakyat.[29]
  • Di Maroko, perayaan Mawlid diadakan dengan pembacaan nashid, pembacaan madih dan qasidah, serta proses sosial seperti pembagian makanan kepada masyarakat.

Kesamaan dengan Sekaten

  • Memperingati peristiwa keagamaan (Maulid Nabi).
  • Melibatkan unsur musik, nyanyian atau pembacaan syair keagamaan (gamelan sekaten vs qasidah/maulid/burdah).
  • Peran istana/kerajaan sebagai patron ritual keagamaan dan pembagi berkah kepada rakyat.

Mouloud di Afrika Barat (Senegal, Mali, Nigeria Utara) Senegal Mali Nigeria

Maulid Anabi 2018

Latar belakang

Di berbagai kesultanan dan komunitas Islam Afrika Barat, peringatan Maulid sering dikenal dengan sebutan lokal seperti Mouloud atau varian lainnya. Tradisi ini diselenggarakan oleh otoritas agama lokal, termasuk penguasa tradisional seperti emir, sultan, atau pemimpin suku Islam.[30]

Bentuk perayaan

  • Pawai dan prosesi religius yang melibatkan zikir bersama dan pembacaan syair-syair Maulid.
  • Dalam tradisi Mouloud di Afrika Barat, perayaan tidak hanya berupa zikir dan qasidah, tetapi juga menampilkan dimensi sosial-ekonomi. Di kota besar seperti Dakar, Bamako, atau Kano, pasar malam musiman dan bazar makanan muncul di sekitar masjid dan zawiya. Hidangan khas—mulai dari thiéboudienne, roti manis, hingga minuman jahe—dijajakan sebagai bagian dari suasana festival rakyat.[31] Kebiasaan berbagi makanan menjadi inti perayaan: keluarga menyiapkan masakan besar untuk dibagikan kepada tetangga, fakir miskin, atau jamaah, menegaskan nilai solidaritas. Sementara itu, tarekat seperti Tijaniyya dan Qadiriyya memimpin zikir bersama, diiringi tabuhan tradisional yang memperkuat nuansa komunal.

Kesamaan dengan Sekaten

  • Perayaan keagamaan yang bersifat publik dan meriah.
  • Komponen musik dan ritual kolektif (zikir, pembacaan Maulid) yang berfungsi sebagai hiburan dan ritus.
  • Keterlibatan otoritas lokal/kerajaan sebagai patron.

Lihat pula

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Sekaten.
  • Grebeg Besar Demak
  • Adang sego

Referensi

  1. ↑ "Upacara Sekaten: Tradisi Sakral Peringati Maulid Nabi di Keraton - UNESCO" (dalam bahasa American English). 2025-09-12. Diakses tanggal 2025-10-01.
  2. ↑ Handipaningrat 1970, hlm. 15.
  3. ↑ Puger 2002, hlm. 1.
  4. ↑ Saddhono 2009.
  5. ↑ Kurniawan, Silvester. "Upacara Adat Miyos Gangsa Sekaten Jadi Rekreasi dan Sarana Edukasi Masyarakat - Radar Solo". Upacara Adat Miyos Gangsa Sekaten Jadi Rekreasi dan Sarana Edukasi Masyarakat - Radar Solo. Diakses tanggal 2024-05-11.
  6. 1 2 Media, Kompas Cyber (2023-09-24). "Sekaten, Hajad Dalem Keraton Yogyakarta di Bulan Mulud Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2024-05-11.
  7. ↑ P.D, Mariyana Ricky (2019-11-02WIB13:00:10+00:00). "Gamelan Sekaten Dipindahkan dari Keraton Solo ke Masjid Agung". Solopos.com. Diakses tanggal 2024-05-11.
  8. ↑ Setyaningrum, P. (2022-10-05). "Mengenal Gamelan Sekaten Keraton Yogyakarta, Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilogo Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2024-05-11.
  9. ↑ Daryanto 2014, hlm. 8.
  10. ↑ Rinepta, Adji G. "Mengenal Kondur Gangsa di Sekaten Jogja dan Udhik-udhik Sedekah Raja". detikjateng. Diakses tanggal 2024-05-11.
  11. ↑ Chairunnisa, Ninis (2022-10-09). "Peringatan Maulid Nabi Muhammad, Saat Sultan Yogyakarta Kembali Sebar Udhik-Udhik". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-05-11.
  12. ↑ Wicaksono, R. Bony Eko (2023-09-21WIB17:22:26+00:00). "Warga Berebut Janur di Pagongan Masjid Agung Solo saat Gamelan Sekaten Ditabuh". Solopos.com. Diakses tanggal 2024-05-11.
  13. ↑ Media, Kompas Cyber (2023-09-24). "Mengenal Tradisi Sekaten di Keraton Surakarta Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2024-05-11.
  14. ↑ Times, I. D. N.; Irawan, Cynthia Nanda. "5 Fakta Menarik tentang Rangkaian Upacara Adat Numplak Wajik". IDN Times Jogja (dalam bahasa In-Id). Diakses tanggal 2024-05-11. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  15. ↑ Media, Harian Jogja Digital. "6 Rangkaian Garebeg Mulud Sekaten 2023 di Kraton Jogja, Terbuka untuk Umum". Harianjogja.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-05-11.
  16. ↑ Media, Kompas Cyber (2023-01-18). "10 Nama Bregada Prajurit Keraton Yogyakarta Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2024-05-11.
  17. ↑ newsreal.id (2019-07-21). "Prajurit Keraton Surakarta Selalu Datang dengan Full Team, Lembaga Dewan Adat, prajurti keraton,". NEWSREAL. Diakses tanggal 2024-05-11.
  18. ↑ Media, Kompas Cyber (2023-06-29). "7 Gunungan Diarak Saat Tradisi Grebeg Besar Keraton Yogyakarta Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2024-05-11.
  19. ↑ Media, Kompas Cyber (2023-09-28). "Berebut Berkah Raja Keraton Yogyakarta pada Grebeg Maulud Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2024-05-11.
  20. ↑ Asiarto 2005, hlm. 45.
  21. ↑ Raharjo, Edzan. "Sultan HB X Lakukan Jejak Beteng, Batu Bata Pun Jadi Rebutan Warga". detiknews. Diakses tanggal 2024-05-13.
  22. ↑ Media, Harian Jogja Digital. "Grebeg Mulud Kraton Ngayogyakarta Kali Ini Istimewa, Ini Rangkaian Upacara yang akan Digelar". Harianjogja.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-05-13.
  23. ↑ Asiarto 2005, hlm. 46.
  24. ↑ Pasar Malam dan Tradisi Sekaten Keraton Yogyakarta
  25. ↑ Hadi, Usman. "Fakta-fakta di Balik Tak Adanya Pasar Malam Sekaten Yogya Tahun Ini". detiknews. Diakses tanggal 2024-05-11.
  26. ↑ Rinepta, Adji G. "Nostalgia Pasar Malam Sekaten Jogja Usai Vakum 5 Tahun". detikjateng. Diakses tanggal 2024-05-11.
  27. ↑ Media, Harian Jogja Digital. "Pasar Rakyat Jogja Gumregah Jadi Pengobat Rindu akan Sekaten". Harianjogja.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-05-11.
  28. ↑ Siddiqi, Armaan (2024-10). "Faith and Governance: A Study of Mawlid in Contemporary Morocco". Journal of African Cultural Studies (dalam bahasa Inggris). 36 (4): 484–500. doi:10.1080/13696815.2024.2391754. ISSN 1369-6815.
  29. ↑ Köksal, Eren (2023-03-13). "Mawlid as a Musical Form in Turkish Religious Music". İslami İlimler Dergisi. 18 (1): 183–200. doi:10.34082/islamiilimler.1264745. ISSN 1306-7044.
  30. ↑ Soares, Benjamin (2005). Islam and the prayer economy: history and authority in a Malian town. Ann Arbor, MI: Univ. of Michigan Press. ISBN 978-0-472-06925-5.
  31. ↑ Deborah Aanuoluwa Soyombo; Eseoghene Kupa; Tochukwu Ignatius Ijomah; Adekunle Stephen Toromade (2024-07-30). "Culinary narratives: Exploring the socio-cultural dynamics of food culture in Africa". Open Access Research Journal of Science and Technology. 11 (2): 088–098. doi:10.53022/oarjst.2024.11.2.0086.

Daftar pustaka

  • Asiarto, L. (2005). Makna Ritus dalam Upacara Ritual di Kraton Yogyakarta. Jakarta: Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Handipaningrat (1970). "Perayaan Sekaten". Relung Pustaka. Juli 1970.
  • Daryanto, Joko (2015). "Gamelan sekaten dan penyebaran Islam di Jawa". Jurnal IKADBUDI. 4 (10). doi:10.21831/ikadbudi.v4i10.12030. ISSN 2685-8282.
  • Puger (2002). Sekaten. Surakarta: Kapustakan Sono Pustoko Karaton Surakarta. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Saddhono, Kundharu (2009). "Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta: Kajian Alternatif Pengembangan Bahan Ajar Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah". Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. 14 (74).
  • l
  • b
  • s
Topik Daerah Istimewa Yogyakarta
Gubernur: Hamengkubawana X  · Wakil Gubernur: Paku Alam X
Arsitektur bersejarah
  • Astana Pajimatan Himagiri
  • Bank BNI 1946 Yogyakarta
  • Hotel Toegoe
  • Kantor Pos Besar Yogyakarta
  • Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
  • Kotagede
  • Makam Ratu Mas Malang
  • Dalem Brontokusuman
  • Dalem Jayadipuran
  • Dalem Pujokusuman
  • Pasarean Mataram
  • Pasarean Giri Gondo
  • Pura Pakualaman
  • Rumah Tradisional Yusuf Sudirman
  • Keraton Kerto
  • Situs Warungboto
  • Taman Sari Yogyakarta
  • Tugu Yogyakarta
  • Watu Ngelak
Candi
  • Dataran Kewu
  • Candi Barong
  • Candi Banyunibo
  • Candi Gebang
  • Candi Ijo
  • Candi Kalasan
  • Candi Kedulan
  • Candi Kimpulan
  • Candi Prambanan
  • Candi Sambisari
  • Candi Sari
  • Situs Ratu Baka
Monumen dan museum
  • Monumen Jogja Kembali
  • Monumen Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia
  • Monumen Perjuangan TNI AU
  • Museum Benteng Vredeburg
  • Museum Biologi
  • Museum Anak Kolong Tangga
  • Museum Gunung Merapi
  • Museum Padepokan Sumber Karahayon
  • Museum Perjuangan
  • Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman
  • Museum Sejarah Purbakala Pleret
  • Museum Sonobudoyo
  • Wahanarata
Transportasi
  • Bandara Adisucipto
  • Bandar Udara Internasional Yogyakarta
  • Pelabuhan Tanjung Adikarta
  • Stasiun Lempuyangan
  • Stasiun Maguwo
  • Stasiun Tugu
  • Stasiun Wates
  • Terminal Condongcatur
  • Terminal Dhaksinarga
  • Terminal Giwangan
  • Terminal Jombor
  • Terminal Pakem
  • Terminal Palbapang
  • Terminal Prambanan
  • Terminal Wates
  • Trans Jogja
Objek wisata alam
  • Air Terjun Sri Gethuk
  • Bukit Bego
  • Curug Pulosari
  • Gardu Pandang Lemah Rubuh
  • Gua Cerme
  • Gua Pindul
  • Gua Selarong
  • Gunung Merapi
    • Kaliurang
    • Kaliadem
  • Gunung Nglanggeran
  • Pantai Baron
  • Pantai Indrayanti
  • Pantai Kesirat
  • Pantai Krakal
  • Pantai Kukup
  • Pantai Glagah
  • Pantai Wohkudu
  • Puncak Suroloyo
  • Puncak Sosok
  • Parangtritis
Tempat ibadah
  • Masjid Gedhe Kauman
  • Masjid Jogokariyan
  • Masjid Syuhada
  • Gereja Santo Antonius Kotabaru
  • GPIB Marga Mulya Yogyakarta (eks Indische Kerk)
  • Kelenteng Fuk Ling Miau
  • Kelenteng Poncowinatan
Wisata belanja, hiburan,
hotel, dan kuliner
  • Hartono Lifestyle Mall Yogyakarta
  • Jalan Malioboro
  • Jogja City Mall
  • Kampung Ketandan
  • Kebun Binatang Gembira Loka
  • Kasongan
  • Malioboro Mall
  • Pasar Beringharjo
  • Pasar Ngasem
  • Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta
  • Plaza Ambarrukmo
  • Purawisata
  • Ramai Mall
  • Kampung Internasional Sosrowijayan Wetan
  • Taman Budaya Embung Giwangan
  • Taman Budaya Gunungkidul
  • Taman Budaya Kulon Progo
  • Taman Budaya Yogyakarta
  • Taman Pelangi
  • Taman Pintar Yogyakarta
  • Wisata Gudeg Wijilan
Pendidikan
  • Daftar sekolah di Yogyakarta
  • Daftar perguruan tinggi di Yogyakarta
    • Universitas Gadjah Mada
    • Universitas Islam Indonesia
    • Universitas Mercu Buana
    • Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
    • Universitas Negeri Yogyakarta
    • Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Olahraga
  • GOR Among Raga
  • Persiba Bantul
  • Persig Gunung Kidul
  • Persikup Kulon Progo
  • PS Protaba Bantul
  • PSIM Yogyakarta
  • PSS Sleman
  • Sleman United
  • Stadion Maguwoharjo
  • Stadion Mandala Krida
  • Stadion Sultan Agung
  • Stadion Tridadi
Militer dan kepolisian
  • Polda DIY
  • Korem 072/Pamungkas
  • Yonif 403
  • Kikavser 2
  • Pangkalan TNI AL Yogyakarta
  • Pangkalan Udara Adisutjipto
Kebudayaan
  • Bahasa Jawa Yogyakarta
  • Bregada
  • Budaya Jawa
  • Gamelan
    • Javanese Court Gamelan
Makanan dan minuman
tradisional khas Yogyakarta
  • Adrem
  • Alen-alen
  • Ampyang
  • Awug-awug
  • Bakmi Jawa
  • Bakpia Pathuk
  • Bir Jawa
  • Brongkos
  • Carang Gesing
  • Cemplon
  • Cenil
  • Cethil
  • Gaplek
  • Gathot
  • Geblek
  • Geplak
  • Gudeg Manggar
  • Gudeg Nangka
  • Grontol
  • Growol
  • Gudangan
  • Jadah
  • Jadah Manten
  • Jenang Gempol
  • Jenang Sungsum
  • Kipo
  • Kopi Jos
  • Lempeng Legendar
  • Lempeng Tela
  • Lotek
  • Mangut Lele
  • Mata Kebo
  • Miedes
  • Mie Lethek
  • Mie Pentil
  • Mendut
  • Nasi Kucing
  • Onde-onde
  • Ongol-ongol
  • Peyek Kacang
  • Peyek Jingking
  • Peyek Tumpuk
  • Sagon Kotagede
  • Sate Klathak
  • Sega Abang
  • Tempe Benguk
  • Tempe Garit
  • Tempe Gembus
  • Tempe Kara
  • Timus
  • Thiwul
  • Tumpeng
  • Ungrung
  • Wajik
  • Walang Goreng
  • Wedang Ronde
  • Wedang Secang
  • Wedang Uwuh
  • Yangko
Festival dan pesta rakyat
  • Biennale Jogja
  • Jogja Java Carnival
  • Merti bumi tunggul arum
  • Saparan bekakak
  • Sekaten
Media
  • Jogja TV
  • Kedaulatan Rakyat
  • Mataram Surya Visi
  • RBTV (afiliasi dengan Kompas TV)
  • Radar Jogja
  • Radio Retjo Buntung
  • Tribun Jogja
  • TVRI Yogyakarta
Topik lainnya
  • Kesultanan Mataram
  • Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
  • Kadipaten Paku Alaman
  • Hamengkubuwana
  • Paku Alam
  • Sejarah DIY
  • Lambang DIY
  • Garis Imajiner Yogyakarta
  • Alas Mentaok
Lihat pula: Kategori
Proyek  · Portal
  • l
  • b
  • s
Topik Surakarta
Geografi
  • Bengawan Solo
  • Kecamatan dan kelurahan
  • Kecamatan Banjarsari
  • Kecamatan Jebres
  • Kecamatan Laweyan
  • Kecamatan Pasar Kliwon
  • Kecamatan Serengan
  • Batas wilayah
  • Kota satelit
Lambang Kota SurakartaPeta Kota Surakarta
Politik
  • Wali Kota : Respati Ardi
  • Wakil Wali Kota : –

Astrid Widayani

  • Ketua DPRD Kota Surakarta: Budi Prasetyo
Sejarah
  • Kota Surakarta
    • Keresidenan Surakarta
    • Daerah Istimewa Surakarta
    • Provinsi Surakarta (wacana)
  • Arti nama
  • Kasunanan Surakarta
  • Kadipaten Praja Mangkunegaran
  • Pakubuwana XIII
  • Mangkunegara IX
  • Serangan Umum Surakarta
  • Banjir Besar tahun 1966
Lokasi terkenal
  • Arsitektur dan peninggalan sejarah
  • Benteng Vastenburg1
  • Galabo
  • Gedung Wayang Orang Sriwedari
  • Lokananta
  • Kraton Surakarta1
  • Istana (Pura) Mangkunagaran1
  • Pasar Gede Harjonagoro1
  • Pasar Klewer
  • Pasar Legi Surakarta
  • Pasar Triwindu (Windujenar/Ngarsapura)
  • Monumen Pers Nasional
  • Museum Batik1
  • Museum Radya Pustaka1
  • Taman Balekambang1
  • Taman Banjarsari1
  • Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa1
  • Taman Satwa Taru Jurug12
  • Taman Sriwedari1
Transportasi
  • Bandar Udara Internasional Adi Sumarmo
  • Stasiun Balapan1
  • Stasiun Jebres1
  • Stasiun Purwosari1
  • Stasiun Sangkrah
  • Terminal Tirtonadi
  • Bus Batik Solo Trans
  • Bus rel Batara Kresna
  • Jalan: Slamet Riyadi
  • Jenderal Sudirman
Demografi & Budaya
  • Bengawan Solo (lagu)
  • Sensus 2010
  • Bahasa
  • Karnaval Batik Solo
  • Solo Batik Fashion
  • Daftar: Pasar tradisional
  • Pusat perbelanjaan
  • Rumah sakit
  • Tokoh
  • PMS
  • Tionghoa Solo
Pendidikan
  • Universitas Sebelas Maret
  • Universitas Muhammadiyah Surakarta
  • UIN Raden Mas Said Surakarta
  • Institut Seni Indonesia
  • Solo Techno Park
  • Daftar: Sekolah
  • Perguruan Tinggi
Tempat ibadah
  • Masjid Agung Kraton Surakarta1
  • Masjid Wustho Mangkunegaran1
  • Masjid Laweyan
  • Masjid Sholihin
  • Gereja Santo Antonius1
  • Gereja Santo Petrus
  • Gereja Santo Paulus
  • Gereja Santa Perawan Maria Regina
  • Gua Maria Mojosongo
  • GBI Keluarga Allah
  • Tien Kok Sie1
  • Vihara Am Po Kian
  • Poo An Kiong1
Olahraga
  • Klub olahraga
  • Persis Solo
  • Pasoepati
  • Stadion Manahan
  • Stadion Sriwedari
Media
  • Solopos
  • Radar Solo
  • Terang Abadi Televisi
  • stasiun radio
Kuliner
  • Nasi liwet
  • Timlo
  • Tengkleng
  • Nasi langgi
  • Gudeg
  • Kompyang
  • Serabi
  • Selat solo
  • Bakso Solo
1 Masuk ke dalam Daftar Benda Cagar Budaya yang Dilindungi Pemerintah Kota Surakarta, 2 Dicoret dari daftar karena usia pembangunan kurang dari 50 tahun
Portal Surakarta · Wikipedia:Buku/Surakarta

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Etimologi
  3. Perayaan
  4. Prosesi
  5. Miyos dan kondur gangsa
  6. Numplak Wajik
  7. Grebeg Maulid
  8. Prosesi pada Tahun Dal
  9. Pasar malam
  10. Kemiripan Tradisi
  11. Maudu Lompoa (Cikoang, Sulawesi Selatan)
  12. Hadroh dan Zikir Kerajaan Melayu (Johor, Riau, Brunei)
  13. Mawlid di Kesultanan Maroko dan Kekhilafahan Utsmani
  14. Latar belakang
  15. Bentuk perayaan
  16. Kesamaan dengan Sekaten
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026