Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Saparan bekakak

Saparan bekakak adalah upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Ambarketawang, Gamping, Sleman setiap pertengahan bulan Safar dalam perhitungan kalender Jawa. Upacara ini diadakan atas perintah Hamengkubuwana I, Sultan pertama Ngayogyakarta Hadiningrat untuk mengenang jasa-jasa Kiai Wirasuta, tokoh masyarakat Ambarketawang sekaligus abdi dalem yang sangat loyal kepada Hamengkubuwana I. Kata bekakak berarti "korban penyembelihan". Namun, objek yang digunakan bukanlah manusia sungguhan, melainkan hanya boneka pengantin dengan posisi duduk bersila yang terbuat dari tepung ketan.

upacara adat di Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta, Indonesia
Diperbarui 2 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Saparan bekakak
Saparan bekakak
ꦱꦥꦂꦫꦤ꧀ꦧꦼꦏꦏꦏ꧀
Pengantin bekakak yang dikirab mengelilingi Cagar Alam Gunung Gamping, 2025
JenisRitual budaya
TanggalPertengahan bulan Safar pada hari Jumat
DimulaiAbad ke-18 M
FrekuensiSetiap tahun
LokasiAmbarketawang, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
NegaraIndonesia
Aktivitas
  • Midodareni
  • Kirab budaya
  • Penyembelihan boneka pengantin
PenyelenggaraMasyarakat Kalurahan Ambarketawang

Saparan bekakak adalah upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Ambarketawang, Gamping, Sleman setiap pertengahan bulan Safar (antara tanggal 10–20) dalam perhitungan kalender Jawa. Upacara ini diadakan atas perintah Hamengkubuwana I, Sultan pertama Ngayogyakarta Hadiningrat untuk mengenang jasa-jasa Kiai Wirasuta, tokoh masyarakat Ambarketawang sekaligus abdi dalem yang sangat loyal kepada Hamengkubuwana I. Kata bekakak berarti "korban penyembelihan". Namun, objek yang digunakan bukanlah manusia sungguhan, melainkan hanya boneka pengantin dengan posisi duduk bersila yang terbuat dari tepung ketan.[1]

Sejarah

Artikel utama: Cagar Alam Gunung Gamping dan Petilasan Keraton Ambarketawang
Litografi Gunung Gamping, karya Franz Wilhelm Junghuhn

Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, Raden Mas Sujana yang kala itu bergelar Pangeran Mangkubumi dan kemudian menyatakan diri sebagai Hamengkubuwana I, meninggalkan Keraton Surakarta Hadiningrat dan menempuh perjalanan panjang hingga akhirnya sampai ke tempat yang akan direncanakan dibangun sebagai lokasi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebelum membangun Keraton, Mangkubumi memilih untuk tinggal sementara di pesanggrahan di kaki Gunung Gamping sebelah barat Keraton yang hendak dibangun, yang kemudian diberi nama Ambarketawang. Dalam perjalanannya itu, Mangkubumi didampingi oleh bangsawan dan abdi dalem, di antaranya adalah Kiai Wirasuta, Kiai Wirajamba, dan Kiai Wiradrana yang merupakan tiga bersaudara.[2]

Kiai Wirasuta adalah abdi dalem yang sangat loyal kepada Hamengkubuwana I. Ia bertugas membawa payung kebesaran Sultan.[3] Saat Keraton Yogyakarta telah selesai dan siap ditempati, Kiai Wirasuta dan keluarganya memilih untuk tidak ikut ke Keraton yang baru saja dibangun itu, dan menetap di gua kaki Gunung Gamping.[2] Kiai Wirasuta dikenal sebagai penyayang hewan; ia memelihara merpati, landak, dan gemak.[3]

Pada suatu ketika, pada Jumat menjelang pertengahan bulan Safar, Gunung Gamping runtuh menimpa keluarga Kiai Wirasuta. Mereka terkubur hidup-hidup dan jasadnya tak kunjung diketemukan oleh masyarakat sekitar. Berita mengenai runtuhnya Gunung Gamping tersebut sampai kepada Hamengkubuwana I. Ia memerintahkan kepada abdi dalam agar antara tanggal 10–20 bulan Safar pada hari Jumat menggelar selamatan dan ziarah ke Gunung Gamping untuk mengenang jasa dan kesetiaan Kiai Wirasuta.[4]

Masyarakat di sekitar Gunung Gamping pada masa itu bekerja sebagai penambang batu gamping. Metode pertambangannya kala itu masih tradisional dan berisiko tinggi, yakni masuk ke dalam gua. Aktivitas pertambangan inilah yang menyebabkan banyak insiden dan kecelakaan kerja yang merenggut nyawa manusia.[4] Setelah kejadian runtuhan Gunung Gamping itu, masyarakat Gunung Gamping pada waktu itu berpandangan bahwa arwah keluarga Kiai Wirasuta masih bersemayam di Gunung Gamping. Setiap orang yang akan menambang di Gunung Gamping harus meminta izin kepada Kiai Wirasuta dan keluarganya.[2]

Pada akhirnya, tradisi yang diselenggarakan setiap bulan Safar (Saparan) tersebut bergeser menjadi upacara mohon keselamatan bagi masyarakat, khususnya penambang. Dalam cerita turun-temurun dari masyarakat Ambarketawang, Sultan meminta agar tradisi selamatan tersebut dibarengi dengan pemberian sesaji berupa penyembelihan boneka pengantin yang terbuat dari bahan makanan sebagai pengganti korban manusia.[5]

Waktu penyelenggaraan

Saparan bekakak dimulai pada Kamis malam (malam Jumat) antara tanggal 10–20 pertengahan bulan Safar dengan penyerahan alat upacara kepada lurah di Balai Kalurahan Ambarketawang dan tirakatan. Kemudian setelah Salat Jumat, diselenggarkan kirab pengantin bekakak dan pertunjukan kesenian tradisional persembahan warga Ambarketawang, yang dimulai pada pukul 14.00 WIB. Pawai tersebut mengelilingi wilayah Kalurahan Ambarketawang dan berakhir di Cagar Alam Gunung Gamping. Kemudian pada pukul 16.00 WIB, diselenggarakan upacara penyembelihan pengantin bekakak yang terbuat dari beras ketan.[5]

Prosesi

Pembuatan sesaji pengantin bekakak dan sesaji sugengan ageng

Bahan baku untuk membuat boneka pengantin bekakak adalah beras ketan, gula jawa, serta pewarna makanan merah untuk membuat "darah" dari pasangan pengantin tersebut.[6] Pembuatannya dimulai dari bagian bawah tubuh (kaki dan pantat) kemudian badan, tangan, dan kepala. Pengantin tersebut dibuat dua pasang; sepasang mengenakan pakaian adat Jawa gaya Surakarta, sepasang sisanya mengenakan pakaian adat Jawa gaya Yogyakarta. Pembuatannya biasanya dilakukan di rumah ketua panitia upacara. Setelah pembuatan pengantin bekakak, dilanjutkan dengan membuat genderuwo; tiruan gemak, landak, dan merpati peliharaan Kiai Wirasuta; serta menghias joli (tandu kecil) untuk mengangkut boneka pengantin bekakak, yang dihiasi dengan kembar mayang (janur kelapa).[7]

Sesaji upacara bekakak dibagi menjadi 3 kelompok. Dua kelompok untuk dua joli yang masing-masing diletakkan bersama-sama dengan pengantin bekakak. Satu kelompok lagi diletakkan di dalam jodhang sebagai rangkaian pelengkap sesaji upacara.[7] Macam-macam sesajen yang diletakkan bersama-sama pengantin bekakak antara lain nasi gurih (wuduk) ditempatkan dalam pengaron kecil: nasi liwet ditempatkan dalam kendhil kecil beserta rangkaiannya daun dhadhap, daun turi, daun kara yang direbus, telur mentah dan sambal gepeng: tumpeng urubing dhamar, kelak kencana, pecel ayam, jangan menir, urip-uripan lele, rindang antep, ayam panggang, ayam lembaran, wedang kopi pahit, wedang kopi manis, jenewer, rokok/cerutu, rujak degan, rujak dheplok, arang-arang kemanis, padi, tebu, pedupaan, candu (impling), nangka sabrang, gecok mentah, ulam mripat, ulam jerohan, dan gereh mentah.[8]

Selain membuat boneka pengantin bekakak, juga dilakukan persiapan pembuatan sesaji sugengan ageng. Pembuatan sesaji dilakukan di kediaman Ki Juru Permana, keturunan Raden Rangga Prawirasentika, yang mewarisi tiga benda pusaka berupa bende Kyai Sirep, tombak Kyai Sanggabuwana, dan luwuk Kyai Singkir. Ketiga pusaka ini juga dikirab dalam upacara bekakak. Sesaji tersebut ditaruh dalam joli Rahmat Allah yang disimpan di Patran, kediaman Ki Juru Permana.[9]

Midodareni

Midodareni bekakak adalah tahap upacara yang berlangsung pada malam Jumat (Kamis malam) dimulai pukul 20.00. dua buah joli berisi pengantin bekakak dan sebuah jodhang berisi sesaji disertai boneka genderuwo dan wewe, diberangkatkan ke Balai Kalurahan Ambarketawang dengan arak-arakan, untuk diserahkan kepada lurah Ambarketawang. Pemberangkatan pasangan pengantin ini awalnya dipimpin oleh Panewu Gamping; saat ini dipimpin oleh panitia acara. Pemberangkatan arak-arakan ini memiliki urutan dimulai dari barisan pembawa umbul-umbul, bregada rakyat, arak-arakan joli pengantin dan jodhang, arak-arakan genderuwo dan wewe, reog, dan penampil lain yang ikut memeriahkan.[10]

Upacara midodareni diselenggarakan di pendopo Balai Kalurahan sebagaimana urut-urutan upacara pernikahan adat Jawa. Bahkan, dalam upacara ini juga diselenggarakan tirakatan, serta dilanjutkan dengan pertunjukan kebudayaan (uyon-uyon, macapat, dan pertunjukan wayang kulit). Upacara tersebut diselenggarakan di tiga tempat: Balai Kalurahan, kediaman keturunan Raden Rangga Prawirasentika, serta Petilasan Keraton Ambarketawang.[11] Pada malam tirakatan, seorang rais (pemimpin agama) bertugas memimpin pembacaan doa, Yasin, tahlilan, dan pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an yang bertujuan memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi masyarakat Ambarketawang.[12]

Kirab pengantin

Pawai atau arak-arakan yang membawa joli pengantin bekakak ke tempat penyembelihan, dimulai pada pukul 14.00 dari Balai Kalurahan dan berakhir di Cagar Alam Gunung Gamping. Bersama dengan ini diarak pula rangkaian sesaji sugengan Ageng yang dibawa dari Patran ke Cagar Alam Gunung Gamping, juga diarak ke Balai Kalurahan terlebih dahulu.[13] Pawai tersebut dimeriahkan oleh bregada prajurit dipimpin Manggalayudha dan Pandega yang mengawal jodhang sesaji dan joli pengantin bekakak, gunungan Pasar Gamping, dan atraksi ogoh-ogoh berbentuk genderuwo dan wewe.[14]

Penyembelihan boneka pengantin

Setelah tiba di lokasi penyembelihan, joli pertama diusung ke arah Gunung Ambarketawang pada panggung setinggi 21,2 meter (70 ft) dan seluas 7,5 meter persegi (81 sq ft). Joli diletakkan menghadap tempat yang dahulunya berupa mulut gua. Selanjutnya, seorang rois membacakan doa secara Islam menghadap kiblat sembari menengadahkan tangan, diikuti oleh para hadirin. Setelah pembacaan doa tersebut, boneka pengantin bekakak disembelih, dimulai dari pengantin laki-laki dahulu kemudian pengantin perempuan. Kepala dan badan boneka pengantin bekakak tersebut ditaruh di mulut gua. Setelahnya, boneka pengantin tersebut dicuil-cuil dan dibagikan kepada hadirin. Sementara sesaji yang ada di dalam joli dibagikan kepada pembawa joli, sedangkan sesaji yang tidak dapat dimakan harus dilebur. Rois mendapat hadiah pisang raja dan sisa sesaji isi joli tadi. Kemudian disembelih pasangan pengantin yang kedua, kali ini di Gunung Kliling. Kedatangan pengantin bekakak tersebut disambut seperti layaknya manten Jawa dengan gamelan (menggunakan gendhing Kebo Giro, laras pelog pathet barang, kendhangan lancaran). Baik prosesi di Gunung Ambarketawang dan Gunung Kliling, keduanya sama, mulai dari pembacaan doa sampai pembagian sesaji bekakak kepada pengunjung.[15]

Sugengan ageng

Acara terakhir yang diselenggarakan untuk menutup gelaran saparan bekakak adalah sugengan ageng, yang digelar di Petilasan Keraton Ambarketawang. Acara ini dipimpin langsung oleh Ki Juru Permana, dan dimulai dari penyambutan tamu, pembacaan ikrar Sugengan Ageng, pelepasan merpati putih (melambangkan hewan kesayangan Kiai Wirasuta), pembagian sesaji dari joli Rahmat Allah, dan pembacaan doa.[16]

Referensi

  1. ↑ Tashadi, Murniatmo & Rumijah 1993, hlm. 35.
  2. 1 2 3 Mulyana 2012, hlm. 1.
  3. 1 2 Tashadi, Murniatmo & Rumijah 1993, hlm. 36.
  4. 1 2 Tashadi, Murniatmo & Rumijah 1993, hlm. 37.
  5. 1 2 Mulyana 2012, hlm. 2.
  6. ↑ Tashadi, Murniatmo & Rumijah 1993, hlm. 42.
  7. 1 2 Tashadi, Murniatmo & Rumijah 1993, hlm. 43.
  8. ↑ Tashadi, Murniatmo & Rumijah 1993, hlm. 44.
  9. ↑ Tashadi, Murniatmo & Rumijah 1993, hlm. 46.
  10. ↑ Tashadi, Murniatmo & Rumijah 1993, hlm. 47.
  11. ↑ Tashadi, Murniatmo & Rumijah 1993, hlm. 49.
  12. ↑ Bahroni, Setiawan & Fitrianti 2025, hlm. 1348.
  13. ↑ Tashadi, Murniatmo & Rumijah 1993, hlm. 50-51.
  14. ↑ Nindya (2025-08-09). "Warga Ambarketawang Lestarikan Tradisi Saparan Bekakak". bernasnews. Diakses tanggal 2025-08-09.
  15. ↑ Tashadi, Murniatmo & Rumijah 1993, hlm. 53-54.
  16. ↑ Tashadi, Murniatmo & Rumijah 1993, hlm. 55.

Daftar pustaka

  • Bahroni, Agung; Setiawan, Risky; Fitrianti, Vionita Vara (2025-03-22). "Integration of Saparan Bekakak Tradition to Strengthen the Character Profile of Pancasila Students in History Learning". AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan. 17 (1). doi:10.35445/alishlah.v17i1.5983. ISSN 2597-940X.
  • Mulyana, Yayan (2012). "Analisis Aspek Pelestarian Budaya dan Dampak Pergeseran Aqidah (Studi Kasus: Tradisi Saparan Bekakak Ambarketawang Gamping Sleman)". Jurnal Khatulistiwa Informatika. 3 (1): 490050. doi:10.31294/khi.v3i1.462. ISSN 2339-1928.
  • Tashadi; Murniatmo, Gatut; Rumijah, Jumeiri Siti (1993). Suratmin (ed.). Upacara Tradisional Saparan Daerah Gamping dan Wonolelo, Yogyakarta (PDF). Jakarta: Proyek Penelitian, Pengkajian, dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • l
  • b
  • s
Topik Daerah Istimewa Yogyakarta
Gubernur: Hamengkubawana X  · Wakil Gubernur: Paku Alam X
Arsitektur bersejarah
  • Astana Pajimatan Himagiri
  • Bank BNI 1946 Yogyakarta
  • Hotel Toegoe
  • Kantor Pos Besar Yogyakarta
  • Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
  • Kotagede
  • Makam Ratu Mas Malang
  • Dalem Brontokusuman
  • Dalem Jayadipuran
  • Dalem Pujokusuman
  • Pasarean Mataram
  • Pasarean Giri Gondo
  • Pura Pakualaman
  • Rumah Tradisional Yusuf Sudirman
  • Keraton Kerto
  • Situs Warungboto
  • Taman Sari Yogyakarta
  • Tugu Yogyakarta
  • Watu Ngelak
Candi
  • Dataran Kewu
  • Candi Barong
  • Candi Banyunibo
  • Candi Gebang
  • Candi Ijo
  • Candi Kalasan
  • Candi Kedulan
  • Candi Kimpulan
  • Candi Prambanan
  • Candi Sambisari
  • Candi Sari
  • Situs Ratu Baka
Monumen dan museum
  • Monumen Jogja Kembali
  • Monumen Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia
  • Monumen Perjuangan TNI AU
  • Museum Benteng Vredeburg
  • Museum Biologi
  • Museum Anak Kolong Tangga
  • Museum Gunung Merapi
  • Museum Padepokan Sumber Karahayon
  • Museum Perjuangan
  • Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman
  • Museum Sejarah Purbakala Pleret
  • Museum Sonobudoyo
  • Wahanarata
Transportasi
  • Bandara Adisucipto
  • Bandar Udara Internasional Yogyakarta
  • Pelabuhan Tanjung Adikarta
  • Stasiun Lempuyangan
  • Stasiun Maguwo
  • Stasiun Tugu
  • Stasiun Wates
  • Terminal Condongcatur
  • Terminal Dhaksinarga
  • Terminal Giwangan
  • Terminal Jombor
  • Terminal Pakem
  • Terminal Palbapang
  • Terminal Prambanan
  • Terminal Wates
  • Trans Jogja
Objek wisata alam
  • Air Terjun Sri Gethuk
  • Bukit Bego
  • Curug Pulosari
  • Gardu Pandang Lemah Rubuh
  • Gua Cerme
  • Gua Pindul
  • Gua Selarong
  • Gunung Merapi
    • Kaliurang
    • Kaliadem
  • Gunung Nglanggeran
  • Pantai Baron
  • Pantai Indrayanti
  • Pantai Kesirat
  • Pantai Krakal
  • Pantai Kukup
  • Pantai Glagah
  • Pantai Wohkudu
  • Puncak Suroloyo
  • Puncak Sosok
  • Parangtritis
Tempat ibadah
  • Masjid Gedhe Kauman
  • Masjid Jogokariyan
  • Masjid Syuhada
  • Gereja Santo Antonius Kotabaru
  • GPIB Marga Mulya Yogyakarta (eks Indische Kerk)
  • Kelenteng Fuk Ling Miau
  • Kelenteng Poncowinatan
Wisata belanja, hiburan,
hotel, dan kuliner
  • Hartono Lifestyle Mall Yogyakarta
  • Jalan Malioboro
  • Jogja City Mall
  • Kampung Ketandan
  • Kebun Binatang Gembira Loka
  • Kasongan
  • Malioboro Mall
  • Pasar Beringharjo
  • Pasar Ngasem
  • Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta
  • Plaza Ambarrukmo
  • Purawisata
  • Ramai Mall
  • Kampung Internasional Sosrowijayan Wetan
  • Taman Budaya Embung Giwangan
  • Taman Budaya Gunungkidul
  • Taman Budaya Kulon Progo
  • Taman Budaya Yogyakarta
  • Taman Pelangi
  • Taman Pintar Yogyakarta
  • Wisata Gudeg Wijilan
Pendidikan
  • Daftar sekolah di Yogyakarta
  • Daftar perguruan tinggi di Yogyakarta
    • Universitas Gadjah Mada
    • Universitas Islam Indonesia
    • Universitas Mercu Buana
    • Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
    • Universitas Negeri Yogyakarta
    • Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Olahraga
  • GOR Among Raga
  • Persiba Bantul
  • Persig Gunung Kidul
  • Persikup Kulon Progo
  • PS Protaba Bantul
  • PSIM Yogyakarta
  • PSS Sleman
  • Sleman United
  • Stadion Maguwoharjo
  • Stadion Mandala Krida
  • Stadion Sultan Agung
  • Stadion Tridadi
Militer dan kepolisian
  • Polda DIY
  • Korem 072/Pamungkas
  • Yonif 403
  • Kikavser 2
  • Pangkalan TNI AL Yogyakarta
  • Pangkalan Udara Adisutjipto
Kebudayaan
  • Bahasa Jawa Yogyakarta
  • Bregada
  • Budaya Jawa
  • Gamelan
    • Javanese Court Gamelan
Makanan dan minuman
tradisional khas Yogyakarta
  • Adrem
  • Alen-alen
  • Ampyang
  • Awug-awug
  • Bakmi Jawa
  • Bakpia Pathuk
  • Bir Jawa
  • Brongkos
  • Carang Gesing
  • Cemplon
  • Cenil
  • Cethil
  • Gaplek
  • Gathot
  • Geblek
  • Geplak
  • Gudeg Manggar
  • Gudeg Nangka
  • Grontol
  • Growol
  • Gudangan
  • Jadah
  • Jadah Manten
  • Jenang Gempol
  • Jenang Sungsum
  • Kipo
  • Kopi Jos
  • Lempeng Legendar
  • Lempeng Tela
  • Lotek
  • Mangut Lele
  • Mata Kebo
  • Miedes
  • Mie Lethek
  • Mie Pentil
  • Mendut
  • Nasi Kucing
  • Onde-onde
  • Ongol-ongol
  • Peyek Kacang
  • Peyek Jingking
  • Peyek Tumpuk
  • Sagon Kotagede
  • Sate Klathak
  • Sega Abang
  • Tempe Benguk
  • Tempe Garit
  • Tempe Gembus
  • Tempe Kara
  • Timus
  • Thiwul
  • Tumpeng
  • Ungrung
  • Wajik
  • Walang Goreng
  • Wedang Ronde
  • Wedang Secang
  • Wedang Uwuh
  • Yangko
Festival dan pesta rakyat
  • Biennale Jogja
  • Jogja Java Carnival
  • Merti bumi tunggul arum
  • Saparan bekakak
  • Sekaten
Media
  • Jogja TV
  • Kedaulatan Rakyat
  • Mataram Surya Visi
  • RBTV (afiliasi dengan Kompas TV)
  • Radar Jogja
  • Radio Retjo Buntung
  • Tribun Jogja
  • TVRI Yogyakarta
Topik lainnya
  • Kesultanan Mataram
  • Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
  • Kadipaten Paku Alaman
  • Hamengkubuwana
  • Paku Alam
  • Sejarah DIY
  • Lambang DIY
  • Garis Imajiner Yogyakarta
  • Alas Mentaok
Lihat pula: Kategori
Proyek  · Portal

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Waktu penyelenggaraan
  3. Prosesi
  4. Pembuatan sesaji pengantin bekakak dan sesaji sugengan ageng
  5. Midodareni
  6. Kirab pengantin
  7. Penyembelihan boneka pengantin
  8. Sugengan ageng
  9. Referensi
  10. Daftar pustaka

Artikel Terkait

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

kerajaan di Asia Tenggara

Kota Yogyakarta

kota di D.I Yogyakarta

Gejog lesung

kesenian tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026