Saparan bekakak adalah upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Ambarketawang, Gamping, Sleman setiap pertengahan bulan Safar dalam perhitungan kalender Jawa. Upacara ini diadakan atas perintah Hamengkubuwana I, Sultan pertama Ngayogyakarta Hadiningrat untuk mengenang jasa-jasa Kiai Wirasuta, tokoh masyarakat Ambarketawang sekaligus abdi dalem yang sangat loyal kepada Hamengkubuwana I. Kata bekakak berarti "korban penyembelihan". Namun, objek yang digunakan bukanlah manusia sungguhan, melainkan hanya boneka pengantin dengan posisi duduk bersila yang terbuat dari tepung ketan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Saparan bekakak ꦱꦥꦂꦫꦤ꧀ꦧꦼꦏꦏꦏ꧀ | |
|---|---|
Pengantin bekakak yang dikirab mengelilingi Cagar Alam Gunung Gamping, 2025 | |
| Jenis | Ritual budaya |
| Tanggal | Pertengahan bulan Safar pada hari Jumat |
| Dimulai | Abad ke-18 M |
| Frekuensi | Setiap tahun |
| Lokasi | Ambarketawang, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta |
| Negara | Indonesia |
| Aktivitas |
|
| Penyelenggara | Masyarakat Kalurahan Ambarketawang |
Saparan bekakak adalah upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Ambarketawang, Gamping, Sleman setiap pertengahan bulan Safar (antara tanggal 10–20) dalam perhitungan kalender Jawa. Upacara ini diadakan atas perintah Hamengkubuwana I, Sultan pertama Ngayogyakarta Hadiningrat untuk mengenang jasa-jasa Kiai Wirasuta, tokoh masyarakat Ambarketawang sekaligus abdi dalem yang sangat loyal kepada Hamengkubuwana I. Kata bekakak berarti "korban penyembelihan". Namun, objek yang digunakan bukanlah manusia sungguhan, melainkan hanya boneka pengantin dengan posisi duduk bersila yang terbuat dari tepung ketan.[1]

Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, Raden Mas Sujana yang kala itu bergelar Pangeran Mangkubumi dan kemudian menyatakan diri sebagai Hamengkubuwana I, meninggalkan Keraton Surakarta Hadiningrat dan menempuh perjalanan panjang hingga akhirnya sampai ke tempat yang akan direncanakan dibangun sebagai lokasi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebelum membangun Keraton, Mangkubumi memilih untuk tinggal sementara di pesanggrahan di kaki Gunung Gamping sebelah barat Keraton yang hendak dibangun, yang kemudian diberi nama Ambarketawang. Dalam perjalanannya itu, Mangkubumi didampingi oleh bangsawan dan abdi dalem, di antaranya adalah Kiai Wirasuta, Kiai Wirajamba, dan Kiai Wiradrana yang merupakan tiga bersaudara.[2]
Kiai Wirasuta adalah abdi dalem yang sangat loyal kepada Hamengkubuwana I. Ia bertugas membawa payung kebesaran Sultan.[3] Saat Keraton Yogyakarta telah selesai dan siap ditempati, Kiai Wirasuta dan keluarganya memilih untuk tidak ikut ke Keraton yang baru saja dibangun itu, dan menetap di gua kaki Gunung Gamping.[2] Kiai Wirasuta dikenal sebagai penyayang hewan; ia memelihara merpati, landak, dan gemak.[3]
Pada suatu ketika, pada Jumat menjelang pertengahan bulan Safar, Gunung Gamping runtuh menimpa keluarga Kiai Wirasuta. Mereka terkubur hidup-hidup dan jasadnya tak kunjung diketemukan oleh masyarakat sekitar. Berita mengenai runtuhnya Gunung Gamping tersebut sampai kepada Hamengkubuwana I. Ia memerintahkan kepada abdi dalam agar antara tanggal 10–20 bulan Safar pada hari Jumat menggelar selamatan dan ziarah ke Gunung Gamping untuk mengenang jasa dan kesetiaan Kiai Wirasuta.[4]
Masyarakat di sekitar Gunung Gamping pada masa itu bekerja sebagai penambang batu gamping. Metode pertambangannya kala itu masih tradisional dan berisiko tinggi, yakni masuk ke dalam gua. Aktivitas pertambangan inilah yang menyebabkan banyak insiden dan kecelakaan kerja yang merenggut nyawa manusia.[4] Setelah kejadian runtuhan Gunung Gamping itu, masyarakat Gunung Gamping pada waktu itu berpandangan bahwa arwah keluarga Kiai Wirasuta masih bersemayam di Gunung Gamping. Setiap orang yang akan menambang di Gunung Gamping harus meminta izin kepada Kiai Wirasuta dan keluarganya.[2]
Pada akhirnya, tradisi yang diselenggarakan setiap bulan Safar (Saparan) tersebut bergeser menjadi upacara mohon keselamatan bagi masyarakat, khususnya penambang. Dalam cerita turun-temurun dari masyarakat Ambarketawang, Sultan meminta agar tradisi selamatan tersebut dibarengi dengan pemberian sesaji berupa penyembelihan boneka pengantin yang terbuat dari bahan makanan sebagai pengganti korban manusia.[5]
Saparan bekakak dimulai pada Kamis malam (malam Jumat) antara tanggal 10–20 pertengahan bulan Safar dengan penyerahan alat upacara kepada lurah di Balai Kalurahan Ambarketawang dan tirakatan. Kemudian setelah Salat Jumat, diselenggarkan kirab pengantin bekakak dan pertunjukan kesenian tradisional persembahan warga Ambarketawang, yang dimulai pada pukul 14.00 WIB. Pawai tersebut mengelilingi wilayah Kalurahan Ambarketawang dan berakhir di Cagar Alam Gunung Gamping. Kemudian pada pukul 16.00 WIB, diselenggarakan upacara penyembelihan pengantin bekakak yang terbuat dari beras ketan.[5]
Bahan baku untuk membuat boneka pengantin bekakak adalah beras ketan, gula jawa, serta pewarna makanan merah untuk membuat "darah" dari pasangan pengantin tersebut.[6] Pembuatannya dimulai dari bagian bawah tubuh (kaki dan pantat) kemudian badan, tangan, dan kepala. Pengantin tersebut dibuat dua pasang; sepasang mengenakan pakaian adat Jawa gaya Surakarta, sepasang sisanya mengenakan pakaian adat Jawa gaya Yogyakarta. Pembuatannya biasanya dilakukan di rumah ketua panitia upacara. Setelah pembuatan pengantin bekakak, dilanjutkan dengan membuat genderuwo; tiruan gemak, landak, dan merpati peliharaan Kiai Wirasuta; serta menghias joli (tandu kecil) untuk mengangkut boneka pengantin bekakak, yang dihiasi dengan kembar mayang (janur kelapa).[7]
Sesaji upacara bekakak dibagi menjadi 3 kelompok. Dua kelompok untuk dua joli yang masing-masing diletakkan bersama-sama dengan pengantin bekakak. Satu kelompok lagi diletakkan di dalam jodhang sebagai rangkaian pelengkap sesaji upacara.[7] Macam-macam sesajen yang diletakkan bersama-sama pengantin bekakak antara lain nasi gurih (wuduk) ditempatkan dalam pengaron kecil: nasi liwet ditempatkan dalam kendhil kecil beserta rangkaiannya daun dhadhap, daun turi, daun kara yang direbus, telur mentah dan sambal gepeng: tumpeng urubing dhamar, kelak kencana, pecel ayam, jangan menir, urip-uripan lele, rindang antep, ayam panggang, ayam lembaran, wedang kopi pahit, wedang kopi manis, jenewer, rokok/cerutu, rujak degan, rujak dheplok, arang-arang kemanis, padi, tebu, pedupaan, candu (impling), nangka sabrang, gecok mentah, ulam mripat, ulam jerohan, dan gereh mentah.[8]
Selain membuat boneka pengantin bekakak, juga dilakukan persiapan pembuatan sesaji sugengan ageng. Pembuatan sesaji dilakukan di kediaman Ki Juru Permana, keturunan Raden Rangga Prawirasentika, yang mewarisi tiga benda pusaka berupa bende Kyai Sirep, tombak Kyai Sanggabuwana, dan luwuk Kyai Singkir. Ketiga pusaka ini juga dikirab dalam upacara bekakak. Sesaji tersebut ditaruh dalam joli Rahmat Allah yang disimpan di Patran, kediaman Ki Juru Permana.[9]
Midodareni bekakak adalah tahap upacara yang berlangsung pada malam Jumat (Kamis malam) dimulai pukul 20.00. dua buah joli berisi pengantin bekakak dan sebuah jodhang berisi sesaji disertai boneka genderuwo dan wewe, diberangkatkan ke Balai Kalurahan Ambarketawang dengan arak-arakan, untuk diserahkan kepada lurah Ambarketawang. Pemberangkatan pasangan pengantin ini awalnya dipimpin oleh Panewu Gamping; saat ini dipimpin oleh panitia acara. Pemberangkatan arak-arakan ini memiliki urutan dimulai dari barisan pembawa umbul-umbul, bregada rakyat, arak-arakan joli pengantin dan jodhang, arak-arakan genderuwo dan wewe, reog, dan penampil lain yang ikut memeriahkan.[10]
Upacara midodareni diselenggarakan di pendopo Balai Kalurahan sebagaimana urut-urutan upacara pernikahan adat Jawa. Bahkan, dalam upacara ini juga diselenggarakan tirakatan, serta dilanjutkan dengan pertunjukan kebudayaan (uyon-uyon, macapat, dan pertunjukan wayang kulit). Upacara tersebut diselenggarakan di tiga tempat: Balai Kalurahan, kediaman keturunan Raden Rangga Prawirasentika, serta Petilasan Keraton Ambarketawang.[11] Pada malam tirakatan, seorang rais (pemimpin agama) bertugas memimpin pembacaan doa, Yasin, tahlilan, dan pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an yang bertujuan memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi masyarakat Ambarketawang.[12]
Pawai atau arak-arakan yang membawa joli pengantin bekakak ke tempat penyembelihan, dimulai pada pukul 14.00 dari Balai Kalurahan dan berakhir di Cagar Alam Gunung Gamping. Bersama dengan ini diarak pula rangkaian sesaji sugengan Ageng yang dibawa dari Patran ke Cagar Alam Gunung Gamping, juga diarak ke Balai Kalurahan terlebih dahulu.[13] Pawai tersebut dimeriahkan oleh bregada prajurit dipimpin Manggalayudha dan Pandega yang mengawal jodhang sesaji dan joli pengantin bekakak, gunungan Pasar Gamping, dan atraksi ogoh-ogoh berbentuk genderuwo dan wewe.[14]
Setelah tiba di lokasi penyembelihan, joli pertama diusung ke arah Gunung Ambarketawang pada panggung setinggi 21,2 meter (70 ft) dan seluas 7,5 meter persegi (81 sq ft). Joli diletakkan menghadap tempat yang dahulunya berupa mulut gua. Selanjutnya, seorang rois membacakan doa secara Islam menghadap kiblat sembari menengadahkan tangan, diikuti oleh para hadirin. Setelah pembacaan doa tersebut, boneka pengantin bekakak disembelih, dimulai dari pengantin laki-laki dahulu kemudian pengantin perempuan. Kepala dan badan boneka pengantin bekakak tersebut ditaruh di mulut gua. Setelahnya, boneka pengantin tersebut dicuil-cuil dan dibagikan kepada hadirin. Sementara sesaji yang ada di dalam joli dibagikan kepada pembawa joli, sedangkan sesaji yang tidak dapat dimakan harus dilebur. Rois mendapat hadiah pisang raja dan sisa sesaji isi joli tadi. Kemudian disembelih pasangan pengantin yang kedua, kali ini di Gunung Kliling. Kedatangan pengantin bekakak tersebut disambut seperti layaknya manten Jawa dengan gamelan (menggunakan gendhing Kebo Giro, laras pelog pathet barang, kendhangan lancaran). Baik prosesi di Gunung Ambarketawang dan Gunung Kliling, keduanya sama, mulai dari pembacaan doa sampai pembagian sesaji bekakak kepada pengunjung.[15]
Acara terakhir yang diselenggarakan untuk menutup gelaran saparan bekakak adalah sugengan ageng, yang digelar di Petilasan Keraton Ambarketawang. Acara ini dipimpin langsung oleh Ki Juru Permana, dan dimulai dari penyambutan tamu, pembacaan ikrar Sugengan Ageng, pelepasan merpati putih (melambangkan hewan kesayangan Kiai Wirasuta), pembagian sesaji dari joli Rahmat Allah, dan pembacaan doa.[16]